Camilan lokal di Indonesia sebenarnya enggak pernah kehabisan peminat. Dari basreng, keripik, sampai makaroni kering, semua punya tempatnya sendiri di rak-rak warung dan di etalase toko online. Tapi justru karena pasarnya ramai, rasanya juga jadi gampang banget mirip satu sama lain. Balado, keju, original, itu-itu aja yang beredar. Dari situlah, tanpa sengaja, muncul ide buat MARKIBOOM, singkatan dari Makaroni Kita Boom.

Awalnya cuma obrolan biasa pas kita lagi ngumpul. Saya, Riska, Nanda, sama Sahrul lagi ngomongin camilan, terus entah gimana muncul ide, “kayanya enak ya kalo ada cemilan khas Nusantara”. Dari satu kalimat random itu, lahir yang sekarang kita kenal sebagai MARKIBOOM. Nama itu sendiri sengaja dipilih karena kita pengen bikin merek yang “meledak” di pasaran, bukan cuma jadi makaroni biasa yang numpang lewat di rak snack.Saya pegang bagian produksi, Riska di keuangan, Nanda ngurus media sosial, dan Sahrul di pemasaran. Pembagian ini kelihatan rapi di atas kertas, tapi prakteknya ya jalan bareng-bareng, saling bantu kalau salah satu lagi kebanyakan kerjaan. Justru di situ saya belajar bahwa bisnis kecil kayak gini enggak bisa jalan kalau semua orang cuma fokus di tugasnya sendiri-sendiri.