Belajar Bisnis dari Sekantong Makaroni: Cerita MARKIBOOM di Program INBISKOM

2–3 minutes

Yang bikin program ini beda dari sekadar tugas kuliah biasa adalah pendampingannya. Ada Prof. Dr. Hj. Dewi Kurniasih, S.IP., M.Si. yang jadi salah satu pembimbing kita, dan satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang adalah waktu beliau bilang kemasan itu penting, karena orang lihat produk pertama kali dari kemasannya, bukan dari rasanya. Kedengarannya simpel, tapi waktu itu benar-benar nampar buat kita, karena sejujurnya kita kurang mikirin soal itu di awal. Kita pikir, yang penting rasanya enak dulu, kemasan belakangan aja. Ternyata salah besar.

Produksi pertama kita itu jujur aja agak berantakan. Makaroninya berminyak banget, sampai dipegang aja tangan langsung licin. Waktu itu kita semua sempat bingung kenapa hasilnya kayak gitu, padahal resepnya udah diikutin sesuai rencana. Setelah dicoba beberapa kali dan didiskusikan bareng, akhirnya kita sadar kalau prosesnya yang perlu diubah, makaroni enggak seharusnya dibuat seberminyak itu, baik dari segi minyak yang dipakai maupun cara penirisan setelah digoreng. Dari kegagalan itu kita benar-benar belajar, bukan cuma dari teori, tapi dari coba-gagal-coba lagi.

Total kita revisi sekitar dua kali, baik dari segi rasa maupun kemasan, berdasarkan masukan dan saran dari calon pembeli yang nyobain produk kita. Masukan ini kita kumpulkan dari teman-teman kampus dan beberapa orang yang kita kasih sample produk, terus kita rangkum jadi catatan kecil buat diskusi tim.

Buat rasa, kita akhirnya mantap di tiga varian: rendang, kari, dan pedas. Tiga ini dipilih karena dianggap paling mewakili cita rasa Nusantara yang jarang ditemukan di camilan kering kayak makaroni, sekaligus jadi pembeda kita dari produk-produk lain yang isinya rata-rata cuma balado atau keju.

Soal kenapa kita pilih jalan ini, sebenernya simpel. Daripada ikut-ikutan jual murah dengan rasa pasaran yang udah penuh sesak di market, kita pilih angkat sesuatu yang beda meskipun harganya enggak paling murah. Ini mirip sama yang Porter (1985) sebut sebagai strategi diferensiasi, di mana kita bersaing lewat keunikan, bukan lewat harga. Konsep yang dipelajari di kelas soal Resource-Based View juga jadi relate banget di sini, karena kombinasi rasa Nusantara yang kita angkat itu enggak mudah ditiru kompetitor dalam waktu singkat. Ini sejalan dengan apa yang Barney (1991) sebut sebagai sumber daya yang valuable, rare, dan sulit ditiru.

Pages: 1 2 3 4