Business Matching dan Melihat Peluang Lebih Luas
Salah satu bagian dari INBISKOM yang juga berkesan adalah sesi business matching, di mana kita dikenalkan pada gambaran besar soal gimana usaha kecil seperti MARKIBOOM bisa terhubung dengan mitra atau peluang pasar yang lebih luas, enggak cuma berhenti di lingkup kampus. Awalnya kita ngerasa ini masih jauh banget dari realita kita yang baru mulai, tapi justru dari sesi ini kita jadi lebih kebayang arah jangka panjang MARKIBOOM, bukan cuma jualan buat tugas kuliah, tapi usaha yang punya potensi buat terus berkembang kalau dikelola dengan serius.
Ke depannya, kita udah punya rencana buat ikut bazar kampus dan mulai coba jualan secara offline, enggak cuma andalin pesanan online atau dari mulut ke mulut. Kita juga udah punya semacam strategi yang masih kita rahasiain dulu buat sekarang, biar pas waktunya kita coba terapkan, hasilnya bisa langsung kelihatan bedanya dibanding sebelum-sebelumnya.
Yang Berubah dari Diri Saya Sendiri
Kalau ditanya apa yang paling berkesan secara pribadi, buat saya itu soal jadi paham gimana cara berbisnis yang baik bersama rekan satu tim, dan gimana proses ini ngasah kreativitas di dalam diri saya sendiri. Dulu saya pikir bisnis itu cuma soal modal sama untung-rugi doang. Sekarang saya ngerti, ada proses panjang di baliknya, mulai dari gagal di produksi awal, belajar dari masukan orang lain, sampai berani nyoba hal baru kayak ikut sesi fotografi yang awalnya enggak kebayang bakal seberpengaruh itu buat penjualan.
Saya juga belajar kalau kerja tim itu enggak selalu soal siapa kerja paling banyak, tapi soal gimana semua orang saling ngisi kekurangan masing-masing. Riska yang detail soal angka, Nanda yang kreatif soal konten, Sahrul yang jago ngobrol sama calon pembeli, dan saya yang lebih fokus di teknis produksi. Kombinasi itu yang akhirnya bikin MARKIBOOM bisa jalan sejauh ini.
Penutup
Buat saya pribadi, ikut program INBISKOM ini pengalamannya seru dan kerasa beneran berguna, enggak cuma jadi nilai di transkrip doang. MARKIBOOM masih usaha kecil yang baru merintis, tapi lewat program ini, kita berempat dapet bekal yang enggak ternilai. Dari kemasan yang awalnya dianggap remeh, sampai rasa yang harus direvisi karena masih berminyak, semua jadi pelajaran yang bikin kita lebih siap melangkah. Idenya kelihatan sederhana, cuma makaroni kering dengan rasa Nusantara, tapi justru itulah ide yang ternyata paling otentik buat kita kembangkan.
Buat teman-teman yang masih ragu mulai usaha karena ngerasa idenya kelihatan sepele, dari pengalaman kita, justru dari obrolan santai pas ngumpul biasa itulah ide yang paling otentik bisa muncul. Tinggal soal mau coba apa enggak, dan mau belajar dari setiap kegagalan kecil di sepanjang jalan.
Referensi
- Barney, J. B. (1991). Firm Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management, 17(1), 99–120.
- Porter, M. E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: Free Press.
- Universitas Komputer Indonesia. (2026). Inkubator Bisnis dan KUMKM Unikom (Inbiskom). Diakses dari https://www.unikom.ac.id/divisi/inbiskom