Belajar Bisnis dari Sekantong Makaroni: Cerita MARKIBOOM di Program INBISKOM

2–3 minutes

Waktu pertama jual, MARKIBOOM kita banderol Rp6.000 per kemasan. Tapi karena harga bahan baku naik, sekarang kita naikin jadi Rp8.000 untuk isi 85 gram. Awalnya kita agak khawatir bakal kena protes dari pelanggan, tapi ternyata responnya malah positif, salah satu kostumer kita bilang harga segitu masih sangat murah dibanding camilan sejenis yang lain.

Untuk kemasan, sekarang kita pakai standing pouch supaya makaroninya lebih awet dan kelihatan lebih rapi di etalase. Di bagian depan kemasan, ada tulisan “cita rasa khas Nusantara” yang sengaja kita cantumin biar orang langsung kebayang konsep produk ini begitu lihat kemasannya, enggak perlu nunggu baca deskripsi panjang dulu.

Selain produk, kita juga diajak mikirin lebih jauh soal siapa target pembeli MARKIBOOM. Bukan asal “semua orang suka camilan”, tapi lebih spesifik, mahasiswa yang suka ngemil, anak muda yang penasaran sama rasa unik, atau orang yang kangen sama cita rasa daerah tertentu. Dari situ kita juga belajar memetakan kekuatan dan kelemahan tim, sekaligus melihat peluang dan ancaman dari luar, semacam SWOT versi kita sendiri. Kekuatan ada di keunikan rasa dan kedekatan kita dengan komunitas kampus. Kelemahannya, ya jelas, kita masih usaha kecil dengan modal terbatas dan belum punya nama besar. Peluangnya, tren camilan lokal yang lagi naik daun di media sosial. Ancamannya, banyak juga usaha serupa yang bisa muncul kapan saja begitu ide ini kelihatan menjanjikan.

Branding juga jadi pelajaran besar buat kita berempat. Nanda yang pegang media sosial harus belajar dari nol soal riset hashtag, jam posting yang paling efektif, sampai baca insight di media sosial buat tau konten apa yang paling disukai orang. Awalnya dia sering ngeluh karena enggak ada yang instan, semua butuh trial and error. Tapi makin lama, dia makin paham pola yang cocok buat MARKIBOOM. Sahrul di pemasaran juga belajar gimana caranya bukan cuma jualan produk, tapi juga cerita di baliknya, kenapa MARKIBOOM ada, apa yang bikin beda, dan siapa orang-orang di balik usahanya. Riska di sisi keuangan harus belajar mencatat pengeluaran produksi dengan rapi, supaya kita tahu pasti untung-rugi dari tiap batch yang dibuat, bukan cuma kira-kira doang.

Sampai sekarang, MARKIBOOM udah laku kurang lebih 100 bungkus. Kedengarannya kecil, tapi buat kita yang baru mulai dari nol, itu udah jadi bukti kalau produk ini punya peminat, bukan cuma laku karena dibeli teman-teman sendiri doang. Sebagian besar pembeli memang masih dari lingkungan kampus, tapi pelan-pelan udah mulai ada juga yang tahu dari mulut ke mulut di luar itu.

Pages: 1 2 3 4