Tag: PKM

  • Modernisasi Pertanian Tradisional: Mengenal Inovasi Alat Penanam Benih Berbasis Sistem Gir

    Di tengah gempuran tren teknologi digital dan otomatisasi yang serba mahal, kebutuhan akan inovasi yang membumi dan tepat guna sering kali terlupakan, terkhusus pada sektor pertanian skala kecil menengah. Bagi para petani tradisional, teknologi modern berskala besar sering kali menjadi pintu masuk yang menarik, namun faktor keterjangkauan finansial dan kecocokan lahan merupakan aspek kunci untuk menetap. Berdasarkan analisis kebutuhan pasar pertanian saat ini, mayoritas pengelola lahan mandiri masih mengandalkan metode konvensional karena keterbatasan modal. Hal ini membuat inovasi agritech harus mempresentasikan solusi yang jujur, ekonomis, sekaligus berdampak nyata secara fisik dan fungsional.

    Berikut adalah strategi mekanis yang diterapkan pada alat ini untuk meningkatkan efisiensi kerja dan memenangkan hati sektor pertanian lokal:

    1. Perbaikan Ergonomi: Mengubah Posisi Kerja “Membungkuk”

    Proses penanaman benih komoditas seperti jagung di Indonesia umumnya masih dilakukan secara manual menggunakan kayu lancip atau jemari tangan. Petani terpaksa melakukan pekerjaan tersebut dengan cara membungkuk sepanjang hari di atas bedengan yang panjang.

    • Faktanya; Aktivitas membungkuk dalam durasi yang sangat lama terbukti memicu kelelahan fisik yang tinggi, khususnya pada area pinggang dan punggung petani, serta menurunkan konsentrasi kerja secara drastis.
    • Formulanya; Alat ini dirancang dalam bentuk tongkat dorong beroda yang mengubah posisi kerja penanaman dari membungkuk menjadi berdiri tegak. Petani hanya perlu berjalan sambil mendorong alat ini, sehingga beban fisik pada area pinggang pekerja lahan bisa dikurangi secara signifikan.

    2. Akurasi Jarak Tanam Melalui Sistem Rasio Gir Mekanis

    Penanaman benih secara manual sering kali tidak konsisten karena sangat bergantung pada fokus manusia yang pasti menurun jika sudah kelelahan. Jumlah benih per lubang dan jarak antar-tanaman kerap meleset dari target ideal akibat faktor kelelahan mata.

    • Faktanya : Jarak tanam yang tidak teratur dan kelebihan jumlah benih dalam satu lubang memicu pemborosan modal pembelian benih, serta membuat pertumbuhan tanaman menjadi tidak merata saat masa panen tiba.
    • Formulanya : Alat ini memanfaatkan prinsip fisika mekanis murni melalui perputaran roda bawah yang menggerakkan sistem rasio gir internal. Sistem gir ini bertugas menjatuhkan benih secara konstan dan otomatis, menghasilkan kerapian jarak tanam yang presisi sekaligus menghemat penggunaan benih.

    3. Modifikasi Tapak Roda Berpaku untuk Segala Kondisi Lahan

    Kondisi tanah di area pertanian sangat dinamis dan bervariasi, mulai dari tanah gembur, kering, hingga tanah yang sedikit basah dan licin. Jika roda alat pertanian mengalami slip, maka ritme pengeluaran benih di dalamnya akan kacau.

    • Faktanya : Alat bantu dorong di pasaran sering kali gagal bekerja optimal karena roda penentu ritmenya mudah tergelincir atau berputar di tempat (slip) saat menghadapi tekstur tanah pertanian yang tidak rata dan berlumpur.
    • Formulanya : Menambahkan paku-paku khusus pada komponen tapak roda. Modifikasi tapak roda berpaku ini berfungsi untuk mencengkeram tanah dengan kuat dan menjaga stabilitas putaran roda di berbagai tekstur lahan, sehingga hitungan mekanis gir tetap berjalan konstan.

    4. Piringan Internal Variabel yang Multiguna (Bongkar-Pasang)

    Setiap petani tidak selalu menanam komoditas yang sama sepanjang tahun, dan setiap varietas benih memiliki ukuran dimensi fisik yang berbeda-beda. Membeli banyak alat yang berbeda untuk setiap jenis benih tentu sangat tidak efisien bagi petani kecil.

    • Formulanya : Alat ini dilengkapi dengan komponen piringan internal yang dapat dibongkar-pasang dengan sangat mudah. Piringan ini dapat disesuaikan secara variabel mengikuti ukuran dimensi benih yang akan ditanam, menjadikannya alat multifungsi yang tidak hanya terbatas untuk satu komoditas saja.
    • Faktanya : Fleksibilitas alat menjadi pertimbangan utama bagi petani sebelum membeli perlengkapan tani. Alat yang hanya bisa digunakan untuk satu jenis benih saja akan dianggap kurang bernilai ekonomis dan kurang diminati di pasar perlengkapan tani lokal.

    5. Lini Usaha Alat Tani Ekonomis Tanpa Mesin

    Alat bantu penanam benih otomatis berskala besar seperti traktor penanam memang sangat canggih, namun kehadirannya tidak cocok untuk kantong masyarakat lokal.

    • Formulanya : Mengemas inovasi ini sebagai lini usaha penyediaan alat penunjang pertanian yang ekonomis. Dengan memanfaatkan sistem mekanis murni tanpa bahan bakar atau listrik, alat ini dipasarkan dengan harga yang sangat terjangkau namun memiliki daya saing tinggi di pasar perlengkapan tani lokal.
    • Faktanya : Pengadaan alat-alat besar bertenaga mesin berada jauh di luar jangkauan finansial kelompok petani lokal kita. Pasar saat ini sangat membutuhkan alat bantu mekanis non-mesin yang minim biaya perawatan namun bekerja dengan akurasi tinggi.

    Inovasi teknologi tepat guna adalah langkah nyata untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus membebani masyarakat. Memenangkan loyalitas pasar di sektor pertanian lokal adalah tentang membangun kepercayaan melalui efisiensi nyata, harga yang ekonomis, serta dampak kesehatan kerja yang langsung terasa. Desain yang sederhana memang akan mengundang mereka untuk melihat, tetapi fungsi mekanis yang presisi, konsistensi jarak tanam, dan nilai ekonomis yang tinggi yang akan membuat para petani bertahan menggunakannya dalam jangka panjang.

    10523022 | Zaqi Muhammad Zidan | Sistem Informasi

  • Belajar Fokus di Tengah Notifikasi: Mengenal AttenSync, Solusi AI-IoT untuk Remaja ADHD

    Coba jujur deh, kapan terakhir kali kamu belajar 30 menit penuh tanpa sekalipun buka HP? Kalau susah jawabnya, kamu nggak sendirian. Di era serba notifikasi kayak sekarang, mempertahankan fokus itu ibarat mencoba menahan air pakai saringan bocor terus dari berbagai arah.

    Masalah ini makin serius kalau bicara soal remaja dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Berdasarkan data APJII 2022, sebanyak 99,16% remaja usia 13–18 tahun di Indonesia sudah terhubung ke internet. Sayangnya, tingginya angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya gangguan konsentrasi. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) bahkan mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 34,9%, mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gangguan perhatian seperti ADHD.

    Bagi remaja dengan ADHD, dunia digital yang penuh distraksi ini terasa dua kali lebih berat. Mereka cenderung mudah teralihkan, sulit memulai tugas, dan susah mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Notifikasi HP, godaan media sosial, sampai kebiasaan berpindah-pindah aplikasi jadi musuh utama. Hasilnya bisa ditebak: tugas menumpuk, hasil belajar menurun, dan stres pun ikut naik.

    Dari keresahan itulah lahir sebuah ide sederhana tapi ambisius: bagaimana kalau ada sistem yang bisa “membaca” kondisi fokus seseorang secara real-time, lalu membantu mereka kembali konsentrasi tanpa harus dipaksa? Ide inilah yang kemudian dikembangkan menjadi AttenSync, sebuah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang menggabungkan kecerdasan buatan dan Internet of Things untuk membantu remaja, khususnya yang memiliki ADHD, menjaga fokus belajar mereka.

    Bukan Sekadar Aplikasi Pengingat Biasa

    Sebenarnya, sudah ada beberapa aplikasi yang mencoba mengatasi masalah fokus. Sebut saja Tiimo dengan perencanaan visualnya, Inflow yang mengusung pendekatan terapi Cognitive Behavioral Therapy, atau Forest yang memanfaatkan gamifikasi supaya orang nggak buka HP saat belajar. Semuanya keren, tapi masih punya keterbatasan yang sama: sistemnya statis. Durasi fokus tetap sama untuk semua orang, tugas besar tidak dipecah otomatis, dan yang paling penting tidak ada satu pun yang benar-benar “sadar” terhadap kondisi lingkungan pengguna secara langsung.

    Di sinilah AttenSync mencoba mengambil pendekatan berbeda, dengan filosofi kerja detect–adapt–intervene: mendeteksi kondisi pengguna, beradaptasi dengan kondisi tersebut, lalu memberikan intervensi yang relevan. Ada tiga fitur utama yang jadi tulang punggung sistem ini.

    • Pertama, Task Breakdown Engine. Fitur ini memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) untuk memecah tugas besar dan rumit menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan. Ini penting banget, karena salah satu tantangan terbesar bagi orang dengan ADHD bukan cuma soal mempertahankan fokus, tapi juga soal memulai tugas itu sendiri. Dengan tugas yang sudah “dipecah”, beban kognitif jadi lebih ringan dan rasa kewalahan berkurang.
    • Kedua, Adaptive Focus Session Manager. Kalau selama ini kita akrab dengan teknik Pomodoro yang durasinya tetap (25 menit fokus, 5 menit istirahat), AttenSync justru menyesuaikan durasi sesi belajar berdasarkan pola perilaku pengguna seberapa sering terdistraksi, berapa lama fokus bertahan sebelumnya, sampai konsistensi menyelesaikan tugas. Jadi sistemnya benar-benar personal, bukan satu ukuran untuk semua orang.
    • Ketiga, Distraction Detection and Adaptive Intervention. Ini bagian yang paling “IoT” dari AttenSync. Perangkat fisik yang kami rancang dilengkapi sensor suara untuk mendeteksi kebisingan lingkungan, serta memanfaatkan koneksi Bluetooth (lewat perubahan kekuatan sinyal atau RSSI) untuk mendeteksi kapan pengguna mulai memegang atau menjauh dari HP. Begitu distraksi terdeteksi, sistem langsung memberi intervensi berupa notifikasi visual atau pesan interaktif yang kontekstual, bukan sekadar alarm generik.

    Belajar dari Proses: Tantangan yang Kami Hadapi

    Menyusun proposal PKM seperti AttenSync ternyata bukan cuma soal menuangkan ide bagus di atas kertas. Salah satu tantangan terbesar justru muncul di tahap awal: memastikan bahwa masalah yang kami angkat benar-benar didukung data, bukan sekadar asumsi. Karena itu, sebelum masuk ke perancangan teknis, kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk menelusuri literatur mulai dari studi tentang fungsi eksekutif pada ADHD, riset soal peran LLM dalam sistem interaktif, sampai penelitian tentang penerapan IoT untuk monitoring lingkungan. Semua ini penting supaya solusi yang kami tawarkan tidak asal jadi, tapi punya landasan ilmiah yang jelas.

    Tantangan berikutnya ada di sisi teknis. Menggabungkan tiga fitur utama Task Breakdown Engine, Adaptive Focus Session Manager, dan Distraction Detection dalam satu sistem yang terintegrasi berarti kami harus memikirkan bagaimana data dari perangkat keras (ESP32, sensor suara, sensor ultrasonik) bisa dikirim secara stabil dan real-time ke perangkat lunak berbasis AI untuk diproses. Belum lagi soal bagaimana LLM bisa memecah tugas secara relevan tanpa membuat pengguna merasa diatur-atur oleh mesin. Di sinilah pendekatan Scrum benar-benar membantu, karena kami bisa menguji satu fitur dulu, mengevaluasi hasilnya lewat sprint review, lalu memperbaikinya sebelum lanjut ke fitur berikutnya bukan membangun semuanya sekaligus dan berharap semuanya berjalan mulus di akhir.

    Yang tidak kalah penting, kami juga sadar bahwa produk ini menyentuh isu yang cukup sensitif, yaitu kesehatan mental dan kondisi neurodivergen seperti ADHD. Karena itu, salah satu prinsip yang kami pegang sejak awal adalah melibatkan calon pengguna langsung lewat user acceptance test, bukan hanya mengandalkan asumsi tim pengembang tentang apa yang “seharusnya” dibutuhkan remaja dengan ADHD. Pendekatan human-centered semacam ini kami rasa krusial, supaya teknologi yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar terlihat canggih di atas kertas.

    Kolaborasi Tim di Balik AttenSync

    Proyek seperti ini juga nggak mungkin berjalan tanpa pembagian peran yang jelas. Dalam tim kami, ada yang fokus menyusun product backlog dan merancang model, ada yang menangani perancangan antarmuka dan dokumentasi, serta ada pula yang bertanggung jawab pada pembangunan perangkat lunak dan pengujian usability. Pembagian tugas ini penting supaya setiap sprint bisa berjalan efisien tanpa tumpang tindih pekerjaan, sekaligus memastikan setiap anggota bisa berkontribusi sesuai keahliannya masing-masing.

    Selain dari sisi teknis, proses menyusun proposal PKM ini juga jadi latihan tersendiri soal bagaimana menerjemahkan ide teknis yang kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami baik untuk keperluan pengajuan proposal, maupun untuk dikomunikasikan ke calon pengguna dan pemangku kepentingan lain. Ternyata, membangun sistem AI dan IoT itu satu tantangan, tapi menjelaskan kenapa sistem itu penting dan bagaimana cara kerjanya dengan bahasa yang sederhana adalah tantangan tersendiri yang sama besarnya.

    Kesimpulan

    Sampai tulisan ini dibuat, AttenSync masih berada di tahap pengembangan prototipe sebagai bagian dari proposal PKM. Luaran yang kami targetkan mencakup laporan kemajuan dan laporan akhir, prototipe perangkat IoT beserta browser extension pendukung, hingga dokumentasi sosialisasi produk lewat media sosial semua sebagai langkah awal menuju versi yang lebih matang, yang kami harap bisa benar-benar diuji dan dirasakan manfaatnya oleh remaja, khususnya yang memiliki ADHD, di lingkungan belajar sehari-hari.

    Pada akhirnya, AttenSync bukan cuma soal alat yang bisa mendeteksi distraksi. Ini soal upaya memahami bahwa setiap orang punya pola fokus yang berbeda, dan solusi yang baik seharusnya bisa menyesuaikan diri dengan itu bukan sebaliknya. Prosesnya sendiri, mulai dari riset masalah, merancang teknologi yang menjawab kebutuhan nyata, sampai belajar bekerja dalam tim dengan metodologi yang terstruktur, sudah jadi pelajaran berharga tersendiri. Semoga cerita ini bisa jadi inspirasi buat teman-teman lain yang juga punya ide untuk menyelesaikan masalah di sekitar kita lewat teknologi karena kadang, solusi terbaik lahir bukan dari ide yang paling rumit, tapi dari kepekaan terhadap masalah yang sering luput diperhatikan orang.

    • Yolanda Belva D
    • Program Studi Teknik Informatika
    • Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
    • Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

    Daftar Pustaka

    APJII. (2022). APJII di Indonesia digital outlook 2022. Tersedia di: https://apjii.or.id/berita/dapjii-di-indonesia-digital-outlook-2022_857

    I-NAMHS. (2022). Hasil survei I-NAMHS: Satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Universitas Gadjah Mada. Tersedia di: https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/

    Kuschner, E.S., O’Connor, M. & Butz, A.M. (2017). Annual research review: on the relations among self-regulation, self-control, executive functioning, effortful control, cognitive control, impulsivity, risk-taking, and inhibition for developmental psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 58(4), 361–383.

    Salari, N., Ghasemi, H., Abdoli, N., Rahmani, A., Shiri, M.H., Hashemian, A.H., Akbari, H. & Mohammadi, M. (2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: a systematic review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49, 1–12.

    Scrum Guides. (2020). Scrum guide. Tersedia di: https://scrumguides.org