Coba jujur deh, kapan terakhir kali kamu belajar 30 menit penuh tanpa sekalipun buka HP? Kalau susah jawabnya, kamu nggak sendirian. Di era serba notifikasi kayak sekarang, mempertahankan fokus itu ibarat mencoba menahan air pakai saringan bocor terus dari berbagai arah.
Masalah ini makin serius kalau bicara soal remaja dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Berdasarkan data APJII 2022, sebanyak 99,16% remaja usia 13–18 tahun di Indonesia sudah terhubung ke internet. Sayangnya, tingginya angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya gangguan konsentrasi. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) bahkan mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 34,9%, mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gangguan perhatian seperti ADHD.
Bagi remaja dengan ADHD, dunia digital yang penuh distraksi ini terasa dua kali lebih berat. Mereka cenderung mudah teralihkan, sulit memulai tugas, dan susah mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Notifikasi HP, godaan media sosial, sampai kebiasaan berpindah-pindah aplikasi jadi musuh utama. Hasilnya bisa ditebak: tugas menumpuk, hasil belajar menurun, dan stres pun ikut naik.
Dari keresahan itulah lahir sebuah ide sederhana tapi ambisius: bagaimana kalau ada sistem yang bisa “membaca” kondisi fokus seseorang secara real-time, lalu membantu mereka kembali konsentrasi tanpa harus dipaksa? Ide inilah yang kemudian dikembangkan menjadi AttenSync, sebuah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang menggabungkan kecerdasan buatan dan Internet of Things untuk membantu remaja, khususnya yang memiliki ADHD, menjaga fokus belajar mereka.
Bukan Sekadar Aplikasi Pengingat Biasa
Sebenarnya, sudah ada beberapa aplikasi yang mencoba mengatasi masalah fokus. Sebut saja Tiimo dengan perencanaan visualnya, Inflow yang mengusung pendekatan terapi Cognitive Behavioral Therapy, atau Forest yang memanfaatkan gamifikasi supaya orang nggak buka HP saat belajar. Semuanya keren, tapi masih punya keterbatasan yang sama: sistemnya statis. Durasi fokus tetap sama untuk semua orang, tugas besar tidak dipecah otomatis, dan yang paling penting tidak ada satu pun yang benar-benar “sadar” terhadap kondisi lingkungan pengguna secara langsung.
Di sinilah AttenSync mencoba mengambil pendekatan berbeda, dengan filosofi kerja detect–adapt–intervene: mendeteksi kondisi pengguna, beradaptasi dengan kondisi tersebut, lalu memberikan intervensi yang relevan. Ada tiga fitur utama yang jadi tulang punggung sistem ini.
- Pertama, Task Breakdown Engine. Fitur ini memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) untuk memecah tugas besar dan rumit menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan. Ini penting banget, karena salah satu tantangan terbesar bagi orang dengan ADHD bukan cuma soal mempertahankan fokus, tapi juga soal memulai tugas itu sendiri. Dengan tugas yang sudah “dipecah”, beban kognitif jadi lebih ringan dan rasa kewalahan berkurang.
- Kedua, Adaptive Focus Session Manager. Kalau selama ini kita akrab dengan teknik Pomodoro yang durasinya tetap (25 menit fokus, 5 menit istirahat), AttenSync justru menyesuaikan durasi sesi belajar berdasarkan pola perilaku pengguna seberapa sering terdistraksi, berapa lama fokus bertahan sebelumnya, sampai konsistensi menyelesaikan tugas. Jadi sistemnya benar-benar personal, bukan satu ukuran untuk semua orang.
- Ketiga, Distraction Detection and Adaptive Intervention. Ini bagian yang paling “IoT” dari AttenSync. Perangkat fisik yang kami rancang dilengkapi sensor suara untuk mendeteksi kebisingan lingkungan, serta memanfaatkan koneksi Bluetooth (lewat perubahan kekuatan sinyal atau RSSI) untuk mendeteksi kapan pengguna mulai memegang atau menjauh dari HP. Begitu distraksi terdeteksi, sistem langsung memberi intervensi berupa notifikasi visual atau pesan interaktif yang kontekstual, bukan sekadar alarm generik.
Belajar dari Proses: Tantangan yang Kami Hadapi
Menyusun proposal PKM seperti AttenSync ternyata bukan cuma soal menuangkan ide bagus di atas kertas. Salah satu tantangan terbesar justru muncul di tahap awal: memastikan bahwa masalah yang kami angkat benar-benar didukung data, bukan sekadar asumsi. Karena itu, sebelum masuk ke perancangan teknis, kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk menelusuri literatur mulai dari studi tentang fungsi eksekutif pada ADHD, riset soal peran LLM dalam sistem interaktif, sampai penelitian tentang penerapan IoT untuk monitoring lingkungan. Semua ini penting supaya solusi yang kami tawarkan tidak asal jadi, tapi punya landasan ilmiah yang jelas.
Tantangan berikutnya ada di sisi teknis. Menggabungkan tiga fitur utama Task Breakdown Engine, Adaptive Focus Session Manager, dan Distraction Detection dalam satu sistem yang terintegrasi berarti kami harus memikirkan bagaimana data dari perangkat keras (ESP32, sensor suara, sensor ultrasonik) bisa dikirim secara stabil dan real-time ke perangkat lunak berbasis AI untuk diproses. Belum lagi soal bagaimana LLM bisa memecah tugas secara relevan tanpa membuat pengguna merasa diatur-atur oleh mesin. Di sinilah pendekatan Scrum benar-benar membantu, karena kami bisa menguji satu fitur dulu, mengevaluasi hasilnya lewat sprint review, lalu memperbaikinya sebelum lanjut ke fitur berikutnya bukan membangun semuanya sekaligus dan berharap semuanya berjalan mulus di akhir.
Yang tidak kalah penting, kami juga sadar bahwa produk ini menyentuh isu yang cukup sensitif, yaitu kesehatan mental dan kondisi neurodivergen seperti ADHD. Karena itu, salah satu prinsip yang kami pegang sejak awal adalah melibatkan calon pengguna langsung lewat user acceptance test, bukan hanya mengandalkan asumsi tim pengembang tentang apa yang “seharusnya” dibutuhkan remaja dengan ADHD. Pendekatan human-centered semacam ini kami rasa krusial, supaya teknologi yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar terlihat canggih di atas kertas.
Kolaborasi Tim di Balik AttenSync
Proyek seperti ini juga nggak mungkin berjalan tanpa pembagian peran yang jelas. Dalam tim kami, ada yang fokus menyusun product backlog dan merancang model, ada yang menangani perancangan antarmuka dan dokumentasi, serta ada pula yang bertanggung jawab pada pembangunan perangkat lunak dan pengujian usability. Pembagian tugas ini penting supaya setiap sprint bisa berjalan efisien tanpa tumpang tindih pekerjaan, sekaligus memastikan setiap anggota bisa berkontribusi sesuai keahliannya masing-masing.
Selain dari sisi teknis, proses menyusun proposal PKM ini juga jadi latihan tersendiri soal bagaimana menerjemahkan ide teknis yang kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami baik untuk keperluan pengajuan proposal, maupun untuk dikomunikasikan ke calon pengguna dan pemangku kepentingan lain. Ternyata, membangun sistem AI dan IoT itu satu tantangan, tapi menjelaskan kenapa sistem itu penting dan bagaimana cara kerjanya dengan bahasa yang sederhana adalah tantangan tersendiri yang sama besarnya.
Kesimpulan
Sampai tulisan ini dibuat, AttenSync masih berada di tahap pengembangan prototipe sebagai bagian dari proposal PKM. Luaran yang kami targetkan mencakup laporan kemajuan dan laporan akhir, prototipe perangkat IoT beserta browser extension pendukung, hingga dokumentasi sosialisasi produk lewat media sosial semua sebagai langkah awal menuju versi yang lebih matang, yang kami harap bisa benar-benar diuji dan dirasakan manfaatnya oleh remaja, khususnya yang memiliki ADHD, di lingkungan belajar sehari-hari.
Pada akhirnya, AttenSync bukan cuma soal alat yang bisa mendeteksi distraksi. Ini soal upaya memahami bahwa setiap orang punya pola fokus yang berbeda, dan solusi yang baik seharusnya bisa menyesuaikan diri dengan itu bukan sebaliknya. Prosesnya sendiri, mulai dari riset masalah, merancang teknologi yang menjawab kebutuhan nyata, sampai belajar bekerja dalam tim dengan metodologi yang terstruktur, sudah jadi pelajaran berharga tersendiri. Semoga cerita ini bisa jadi inspirasi buat teman-teman lain yang juga punya ide untuk menyelesaikan masalah di sekitar kita lewat teknologi karena kadang, solusi terbaik lahir bukan dari ide yang paling rumit, tapi dari kepekaan terhadap masalah yang sering luput diperhatikan orang.
- Yolanda Belva D
- Program Studi Teknik Informatika
- Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
- Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)
Daftar Pustaka
APJII. (2022). APJII di Indonesia digital outlook 2022. Tersedia di: https://apjii.or.id/berita/dapjii-di-indonesia-digital-outlook-2022_857
I-NAMHS. (2022). Hasil survei I-NAMHS: Satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Universitas Gadjah Mada. Tersedia di: https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/
Kuschner, E.S., O’Connor, M. & Butz, A.M. (2017). Annual research review: on the relations among self-regulation, self-control, executive functioning, effortful control, cognitive control, impulsivity, risk-taking, and inhibition for developmental psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 58(4), 361–383.
Salari, N., Ghasemi, H., Abdoli, N., Rahmani, A., Shiri, M.H., Hashemian, A.H., Akbari, H. & Mohammadi, M. (2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: a systematic review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49, 1–12.
Scrum Guides. (2020). Scrum guide. Tersedia di: https://scrumguides.org