Tidak Semua yang Viral Menjadi Laku: Membaca Ulang Strategi Digital Marketing dan Branding Produk dalam Menghadapi Perubahan Perilaku Konsumen Indonesia

9–13 minutes

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia mencari informasi, berinteraksi, hingga mengambil keputusan dalam berbelanja. Kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan, tetapi juga menjadi media pemasaran yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha dari berbagai skala, mulai dari UMKM hingga perusahaan besar. Kondisi ini mendorong persaingan bisnis yang semakin kompetitif, sehingga banyak pelaku usaha berlomba-lomba menciptakan konten yang menarik perhatian publik agar produknya menjadi viral.

Perubahan perilaku konsumen tersebut menuntut pelaku usaha untuk menyusun strategi digital marketing yang lebih terarah dan didukung oleh branding produk yang kuat. Digital marketing tidak lagi sekadar berorientasi pada peningkatan jumlah tayangan atau pengikut, melainkan harus mampu membangun hubungan yang berkelanjutan dengan konsumen melalui penyampaian informasi yang relevan, komunikasi yang konsisten, serta pengalaman pelanggan yang positif.

Berdasarkan kondisi tersebut, artikel ini membahas pentingnya memahami kembali peran digital marketing dan branding produk dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen Indonesia. Pembahasan difokuskan pada bagaimana pelaku usaha, khususnya UMKM dan wirausaha muda, dapat memanfaatkan media digital secara lebih strategis agar tidak hanya mampu menarik perhatian pasar, tetapi juga membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen sebagai fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Ketika Viral Tidak Lagi Cukup

Media sosial telah menjadi salah satu ruang utama bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Berbagai fitur seperti video pendek, siaran langsung (live shopping), hingga kolaborasi dengan content creator memungkinkan sebuah produk dikenal oleh jutaan pengguna hanya dalam hitungan jam. Tidak mengherankan jika banyak pelaku usaha menjadikan viralitas sebagai target utama dalam strategi pemasarannya. Semakin banyak tayangan (views), tanda suka (likes), dan jumlah pengikut (followers), semakin besar pula harapan bahwa penjualan akan meningkat.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa popularitas di media sosial tidak selalu menghasilkan keberhasilan bisnis yang berkelanjutan. Tidak sedikit produk yang sempat ramai diperbincangkan, tetapi mengalami penurunan penjualan setelah tren tersebut berlalu. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian publik bersifat sementara, sedangkan keberlangsungan bisnis bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mempertahankan kepercayaan konsumen.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep brand awareness dan brand loyalty. Viralitas umumnya berkontribusi pada meningkatnya brand awareness, yaitu tingkat pengenalan masyarakat terhadap suatu merek. Meskipun demikian, pengenalan saja belum cukup untuk mendorong keputusan pembelian. Konsumen tetap akan mengevaluasi kualitas produk, harga, pelayanan, serta kredibilitas penjual sebelum memutuskan untuk bertransaksi. Oleh karena itu, keberhasilan pemasaran tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang melihat suatu konten, tetapi juga dari seberapa banyak yang akhirnya melakukan pembelian dan kembali membeli produk yang sama.

Perubahan ini semakin terlihat seiring berkembangnya ekosistem ekonomi digital di Indonesia. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, Indonesia masih menjadi pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi digital yang terus meningkat. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belanja masyarakat melalui platform digital semakin tinggi. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas digital juga membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan produk sehingga persaingan antar pelaku usaha menjadi semakin ketat. Dalam situasi seperti ini, viralitas hanya menjadi langkah awal untuk menarik perhatian, sedangkan faktor pembeda sesungguhnya terletak pada kualitas pengalaman yang diterima konsumen.

Selain itu, perilaku konsumen Indonesia juga dipengaruhi oleh kemudahan dalam memperoleh informasi. Sebelum membeli suatu produk, masyarakat kini terbiasa membaca ulasan pelanggan, membandingkan harga pada beberapa marketplace, melihat penilaian toko, hingga mencari pengalaman pengguna lain melalui media sosial. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan tidak lagi bersifat impulsif, melainkan didasarkan pada informasi yang tersedia secara luas di ruang digital.

Bagi pelaku usaha, kondisi ini menjadi pengingat bahwa strategi pemasaran tidak boleh hanya berorientasi pada penciptaan konten yang viral. Konten yang menarik memang dapat meningkatkan jangkauan audiens, tetapi nilai tersebut akan cepat hilang apabila tidak diikuti oleh kualitas produk, pelayanan yang baik, serta identitas merek yang konsisten. Dengan kata lain, viralitas merupakan peluang untuk memperoleh perhatian, sedangkan kepercayaan konsumen merupakan modal utama untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Dari Perhatian Menjadi Kepercayaan

Perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah produk di era digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menarik perhatian, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan kepercayaan pelanggan. Kondisi ini dapat dilihat dari perkembangan beberapa merek lokal Indonesia yang berhasil membangun posisi kuat di tengah persaingan pasar, salah satunya adalah Kahf.

Kahf merupakan merek perawatan pria yang diluncurkan oleh PT Paragon Technology and Innovation pada tahun 2020. Meskipun tergolong sebagai pendatang baru, Kahf mampu berkembang pesat dan menjadi salah satu merek yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Keberhasilan tersebut tidak semata-mata diperoleh melalui promosi yang bersifat viral, tetapi juga melalui strategi digital marketing yang terintegrasi dengan branding produk yang konsisten.

Salah satu strategi yang diterapkan Kahf adalah membangun identitas merek yang jelas. Melalui slogan “Jalan yang Kupilih” dan berbagai kampanye digital yang mengangkat nilai pengembangan diri, kepedulian terhadap lingkungan, serta gaya hidup pria modern, Kahf berupaya menghadirkan citra merek yang dekat dengan kebutuhan konsumennya. Pendekatan tersebut membuat promosi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga pada penyampaian nilai (brand value) yang relevan dengan target pasar.

Selain membangun identitas merek, Kahf juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dua arah dengan konsumennya. Konten yang dipublikasikan tidak hanya berupa promosi produk, tetapi juga berisi edukasi mengenai perawatan diri, informasi mengenai kandungan produk, hingga tips gaya hidup sehat. Strategi ini membuat media sosial berfungsi sebagai ruang berbagi informasi sekaligus memperkuat hubungan antara merek dan konsumennya. Dengan demikian, audiens memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan hanya menerima iklan penjualan.

Kahf juga memanfaatkan kolaborasi dengan figur publik dan content creator yang memiliki citra positif dan sesuai dengan karakter merek. Pemilihan kolaborator dilakukan secara selektif agar pesan yang disampaikan tetap konsisten dengan identitas produk. Strategi ini menunjukkan bahwa keberhasilan influencer marketing tidak ditentukan oleh jumlah pengikut semata, tetapi oleh kesesuaian antara nilai yang dimiliki oleh figur publik dengan nilai yang ingin dibangun oleh merek.

Keberhasilan strategi tersebut terlihat dari meningkatnya pengenalan masyarakat terhadap merek Kahf dalam waktu yang relatif singkat. Namun, yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan mempertahankan kepercayaan konsumen melalui kualitas produk, inovasi yang berkelanjutan, serta komunikasi yang konsisten di berbagai platform digital. Hal ini memperlihatkan bahwa viralitas hanya menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk, sedangkan loyalitas pelanggan dibangun melalui pengalaman positif yang dirasakan setelah melakukan pembelian.

Pelajaran dari perkembangan Kahf menunjukkan bahwa strategi digital marketing yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan konten yang menarik perhatian. Pelaku usaha perlu memastikan bahwa setiap aktivitas pemasaran mampu mencerminkan identitas merek, memberikan informasi yang bermanfaat, serta menciptakan pengalaman pelanggan yang positif. Dengan cara tersebut, perhatian yang diperoleh melalui media digital dapat berkembang menjadi kepercayaan dan loyalitas yang mendukung keberlanjutan bisnis.

Membangun Kepercayaan Melalui Digital Marketing

Perubahan perilaku konsumen di era digital menuntut pelaku usaha untuk memandang digital marketing sebagai strategi membangun hubungan jangka panjang, bukan sekadar sarana promosi. Keberhasilan pemasaran tidak lagi diukur dari banyaknya konten yang berhasil menarik perhatian, tetapi dari kemampuan suatu merek menghadirkan informasi yang relevan, memberikan pengalaman yang baik kepada pelanggan, serta membangun kepercayaan yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha agar pemasaran digital tidak berhenti pada viralitas semata.

Salah satu strategi yang paling penting adalah menghasilkan konten yang memberikan nilai tambah bagi konsumen. Konten pemasaran tidak harus selalu berisi ajakan membeli produk, tetapi dapat berupa edukasi, informasi, maupun solusi atas permasalahan yang dihadapi target pasar. Misalnya, pelaku usaha di bidang kuliner dapat membagikan informasi mengenai bahan baku yang digunakan atau proses menjaga kualitas produk, sedangkan pelaku usaha di bidang fesyen dapat memberikan tips perawatan pakaian agar lebih awet. Pendekatan semacam ini membuat konsumen merasa memperoleh manfaat, sehingga hubungan yang terjalin tidak hanya didasarkan pada aktivitas jual beli.

Strategi berikutnya adalah membangun komunikasi yang konsisten di berbagai platform digital. Konsumen saat ini dapat berinteraksi dengan suatu merek melalui media sosial, marketplace, aplikasi pesan instan, maupun situs web resmi. Oleh karena itu, informasi yang disampaikan perlu memiliki pesan, identitas visual, dan gaya komunikasi yang selaras. Konsistensi tersebut akan memperkuat citra merek di benak konsumen serta mengurangi potensi munculnya kebingungan akibat informasi yang berbeda-beda pada setiap platform.

Selain itu, pelaku usaha juga perlu memanfaatkan interaksi dua arah sebagai bagian dari strategi pemasaran. Media sosial memungkinkan konsumen memberikan pertanyaan, masukan, maupun kritik secara langsung kepada penjual. Respons yang cepat, sopan, dan solutif tidak hanya membantu menyelesaikan permasalahan pelanggan, tetapi juga menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen terhadap kualitas pelayanan. Dalam banyak kasus, pelayanan yang baik justru menjadi alasan utama konsumen melakukan pembelian ulang, meskipun terdapat produk lain dengan harga yang lebih murah.

Strategi lain yang tidak kalah penting adalah memanfaatkan data untuk memahami kebutuhan konsumen. Berbagai platform digital saat ini menyediakan informasi mengenai karakteristik audiens, waktu interaksi yang paling tinggi, hingga jenis konten yang paling diminati. Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Dengan memahami perilaku konsumennya, pelaku usaha dapat menghasilkan konten yang lebih relevan sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran promosi.

Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence atau AI) juga memberikan peluang baru dalam dunia digital marketing. Berbagai aplikasi berbasis AI kini dapat membantu pelaku usaha menyusun ide konten, membuat desain promosi, menganalisis tren pasar, hingga merespons pertanyaan pelanggan melalui chatbot. Meskipun demikian, penggunaan AI sebaiknya dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti kreativitas manusia. Keputusan strategis, pemahaman terhadap karakter konsumen, serta pembangunan hubungan emosional tetap membutuhkan peran pelaku usaha secara langsung. Oleh karena itu, pemanfaatan AI yang disertai kreativitas dan etika akan memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan penggunaan teknologi secara berlebihan.

Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, digital marketing tidak lagi hanya bertujuan meningkatkan jumlah tayangan atau pengikut di media sosial. Sebaliknya, pemasaran digital menjadi sarana untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara pelaku usaha dan konsumen. Hubungan inilah yang pada akhirnya akan membentuk kepercayaan, memperkuat citra merek, serta mendorong terciptanya loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Membangun Bisnis yang Bertahan, Bukan Sekadar Viral

Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang yang sangat besar bagi pelaku usaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Media sosial, e-commerce, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial memberikan kemudahan dalam memperkenalkan produk kepada masyarakat. Namun, sebagaimana telah dibahas, perhatian yang diperoleh melalui konten viral bukanlah tujuan akhir dari sebuah strategi pemasaran. Viralitas hanya menjadi langkah awal untuk mengenalkan produk, sedangkan keberhasilan bisnis ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dalam membangun kepercayaan dan mempertahankan hubungan dengan konsumennya.

Perubahan perilaku konsumen Indonesia menunjukkan bahwa keputusan pembelian kini semakin dipengaruhi oleh kualitas informasi, pengalaman pelanggan, reputasi merek, serta rekomendasi dari pengguna lain. Kondisi tersebut menuntut pelaku usaha untuk lebih mengutamakan strategi digital marketing yang berorientasi pada penciptaan nilai dibandingkan sekadar mengejar popularitas sesaat. Konten yang informatif, komunikasi yang konsisten, pelayanan yang responsif, dan identitas merek yang jelas merupakan faktor-faktor yang mampu memperkuat kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.

Bagi UMKM maupun wirausaha muda, perubahan ini seharusnya dipandang sebagai peluang untuk bersaing melalui kreativitas, inovasi, dan kedekatan dengan pelanggan. Keterbatasan modal promosi tidak lagi menjadi penghalang utama apabila pelaku usaha mampu menghadirkan produk yang berkualitas serta memanfaatkan media digital secara tepat. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi seperti AI juga perlu dilakukan secara bijaksana sebagai alat pendukung dalam meningkatkan efektivitas pemasaran, bukan sebagai pengganti kreativitas maupun hubungan interpersonal dengan konsumen.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis tidak ditentukan oleh seberapa cepat produk menjadi viral, tetapi oleh seberapa lama produk tersebut mampu dipercaya dan dipilih kembali oleh konsumennya. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memandang digital marketing dan branding produk sebagai investasi jangka panjang yang saling melengkapi dalam membangun bisnis yang adaptif, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah perkembangan ekonomi digital Indonesia.

Kesimpulan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pelaku usaha memasarkan produk sekaligus mengubah perilaku konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Viralitas memang dapat meningkatkan perhatian terhadap suatu produk, tetapi bukan jaminan terciptanya penjualan yang berkelanjutan. Kepercayaan konsumen justru dibangun melalui strategi digital marketing yang tepat, branding produk yang konsisten, kualitas produk, serta pelayanan yang baik.

Oleh karena itu, pelaku usaha, khususnya UMKM dan wirausaha muda, perlu memanfaatkan media digital tidak hanya untuk mengejar popularitas, tetapi juga untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumennya. Dengan mengutamakan nilai, inovasi, dan kepercayaan, bisnis akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dan tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen Indonesia.

Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.

Bank Indonesia. (2024). Survei Konsumen.

Google, Temasek, & Bain & Company. (2024). e-Conomy SEA 2024.

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Transformasi Digital Nasional.

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2022). Modul Pelatihan Ekspor: Branding Produk UMKM.

Marketeers. (2024). Strategi Branding Kahf dalam Membangun Loyalitas Konsumen.

PT Paragon Technology and Innovation. (2024). Kahf.