Thinking Out Loud About Creating Products

7–10 minutes

Aku nggak percaya produk harus selalu punya cerita panjang supaya dianggap valid. Kadang sesuatu cukup ada karena memang perlu ada. No backstory, no drama. Anehnya, justru sekarang banyak produk yang kelihatan terlalu sibuk menjelaskan dirinya sendiri. Terlalu banyak fitur, terlalu banyak alasan, terlalu banyak klaim. Semakin panjang penjelasannya, semakin kelihatan ragu.

Buatku, creating products itu bukan soal membuktikan apa-apa. Lebih ke soal menyadari apa yang memang layak ada. Ada jarak antara ide yang terdengar keren dan ide yang benar-benar kepake. Dan jarak itu biasanya cuma bisa dirasain kalau kita cukup jujur sama diri sendiri.

Ide produk sering datang dari rasa capek yang pelan. Capek lihat hal yang sama diulang terus. Capek lihat tren yang rame sebentar lalu hilang tanpa bekas. Dari situ muncul pikiran sederhana, kenapa nggak dibikin lebih tenang saja. Less reactive, more intentional. Bukan karena sok beda, tapi karena nggak semua hal perlu direspon.

Aku cenderung tertarik sama produk yang kelihatannya santai tapi tahu batas. Tidak sibuk ngejar validasi. Tidak tergoda untuk selalu relevan. Ia ada, fungsinya jalan, selesai. Produk seperti ini jarang teriak minta perhatian, tapi anehnya justru lebih lama nempel di kepala.

Kalau dipikir-pikir, banyak produk yang sebenarnya gagal bukan karena idenya jelek, tapi karena terlalu banyak hal dimasukin sekaligus. Terlalu banyak mau. Terlalu takut ketinggalan. Padahal kadang keputusan paling tepat justru adalah tidak menambah apa-apa.

Produk juga tidak harus selalu kelihatan kreatif. Jasa, sistem, bahkan cara berkomunikasi itu juga produk. Cara membalas pesan, memilih kata, atau memutuskan untuk tidak ikut tren tertentu. Hal-hal kecil ini sering dianggap sepele, padahal justru di situ sikap sebuah produk kelihatan. Details carry attitude.

Aku sering memperhatikan bagaimana sebuah brand menjawab hal sederhana. Cara mereka merespon pertanyaan yang sama berulang-ulang. Cara mereka menutup percakapan. Cara mereka tidak menjanjikan hal yang tidak bisa dipenuhi. Dari situ biasanya kelihatan apakah produk itu dibuat dengan niat atau hanya dengan target.

Di ruang digital, semua orang bisa mempublikasikan apa saja kapan saja. Hasilnya cepat, ramai, dan sering kehilangan arah. Ada semacam tekanan untuk selalu hadir, selalu update, selalu terlihat bergerak. Padahal menahan diri juga bentuk kemampuan.

Tidak semua proses perlu ditunjukkan. Tidak semua ide perlu langsung keluar. Ada fase di mana ide lebih baik disimpan dulu, dipakai sendiri, diuji pelan-pelan. Kalau masih terasa masuk akal setelah itu, mungkin memang layak diteruskan.

Kadang yang paling kuat justru yang tidak banyak bicara. Bukan karena misterius, tapi karena sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Brand yang solid biasanya kelihatan tenang. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah tahu apa yang penting. They don’t rush to explain themselves. Mereka tidak panik saat engagement turun, tidak reaktif saat tren berganti. Ada kepercayaan diri yang datang dari konsistensi.

Trial and error tetap ada. Ada yang jalan, ada yang tidak. Ada ide yang kelihatannya aman tapi ternyata membosankan. Ada juga yang awalnya diragukan tapi justru bertahan. Yang krusial bukan seberapa sering mencoba, tapi seberapa cepat sadar kapan harus berhenti.

Berhenti di sini bukan berarti gagal. Justru sering kali itu keputusan paling rasional. Banyak produk kehilangan bentuknya karena dipaksa berkembang terus, padahal fondasinya belum cukup kuat.

Kolaborasi juga tidak selalu jadi jawaban. Kadang bekerja sendiri terasa lebih jujur daripada terlalu banyak diskusi yang ujungnya kompromi. Bukan berarti anti kolaborasi, tapi tidak semua ide perlu disepakati ramai-ramai.

Creating products, setidaknya dari cara aku melihatnya, lebih dekat ke soal kontrol. Kontrol untuk memilih apa yang mau diambil, apa yang ditolak, dan apa yang dilepas. Kontrol untuk tidak selalu mengikuti arus, tapi juga tidak keras kepala.

Hal yang sering terlewat dibahas adalah keputusan untuk berhenti menambah. Banyak orang fokus ke bagaimana memulai produk, tapi lupa memikirkan kapan harus berhenti mengembangkan. Padahal keputusan untuk tidak menambah fitur, tidak memperluas target, atau tidak ikut tren tertentu sering kali justru membuat produk terasa lebih solid.

Editing matters as much as creating. Memotong yang berlebihan sering lebih sulit daripada menambahkan sesuatu yang baru. Tapi di situlah karakter produk biasanya terbentuk.

Di titik ini, proses menciptakan produk berubah jadi soal disiplin. Bukan disiplin yang kelihatan sibuk, tapi disiplin untuk jujur pada batas. Sampai sejauh mana produk ini perlu berkembang, dan di mana ia mulai kehilangan bentuknya kalau dipaksa.

Aku percaya produk yang bertahan biasanya bukan yang paling ambisius, tapi yang paling sadar diri. Ia tahu apa yang bisa ia lakukan dengan baik, dan tidak merasa perlu menjadi segalanya untuk semua orang.

Mungkin karena itu, menciptakan produk sering terasa lebih seperti menyunting daripada menciptakan dari nol. Mengurangi, merapikan, dan menahan diri. Prosesnya pelan, kadang membosankan, tapi hasilnya lebih stabil.

Ada fase di mana produk tidak terlihat berkembang sama sekali. Tidak ada angka besar, tidak ada respon heboh. Tapi di fase itu biasanya fondasi sedang dibangun. Dan fondasi memang jarang menarik untuk ditonton.

Memotong yang berlebihan, merapikan yang perlu, dan membiarkan sisanya tetap sederhana. Tidak dramatis, tidak ribet, tapi tepat. Pada akhirnya, creating products tidak selalu tentang menambah nilai.

Kadang justru tentang menghilangkan hal-hal yang tidak perlu sampai yang tersisa benar-benar esensial. Ketika itu tercapai, produk tidak perlu banyak bicara.

Tidak semua produk harus disukai. Tidak semua produk harus dipahami semua orang. Cukup tepat di konteksnya, cukup jujur di niatnya.

That’s enough.

Ada hal lain yang sering tidak dibicarakan ketika orang membahas penciptaan produk: kelelahan mental yang datang dari terlalu banyak kemungkinan. Di tahap awal, semuanya terasa mungkin. Semua ide terlihat bisa dijalankan. Justru di situ tantangannya. Terlalu banyak pilihan sering membuat produk kehilangan arah sebelum benar-benar punya bentuk.

Menyaring ide adalah pekerjaan yang sunyi. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada validasi cepat. Hanya keputusan-keputusan kecil yang diambil berulang kali. Apakah ini perlu? Apakah ini relevan? Apakah ini masih sejalan dengan tujuan awal, atau hanya distraksi yang kelihatan menarik?

Dalam proses ini, rasa ragu bukan musuh. Ragu justru membantu menjaga jarak dari keputusan impulsif. Produk yang matang biasanya lahir dari proses bertanya yang panjang, bukan dari keyakinan instan.

Banyak orang ingin produknya terlihat besar sejak awal. Padahal skala bukan hal yang harus dikejar di fase awal. Yang lebih penting adalah kejelasan. Produk yang jelas fungsinya akan menemukan audiensnya sendiri, meskipun pelan.

Di era digital, kecepatan sering disalahartikan sebagai keunggulan. Siapa cepat, dia dapat. Tapi kecepatan tanpa arah hanya akan menghasilkan kebisingan baru. Produk yang dibuat terlalu cepat sering kali perlu diperbaiki berkali-kali, dan itu justru memakan energi lebih besar.

Ada nilai dalam menunda. Menunda rilis, menunda promosi, menunda ekspansi. Bukan karena takut, tapi karena ingin memastikan bahwa yang dilepas ke publik sudah cukup stabil untuk berdiri sendiri.

Produk juga membawa nilai-nilai penciptanya, sadar atau tidak. Cara produk dibuat akan tercermin dalam cara ia digunakan dan diterima. Jika dibuat dengan terburu-buru, ia akan terasa rapuh. Jika dibuat dengan perhatian, ia akan terasa lebih tenang.

Hal-hal kecil seperti pemilihan kata, visual, dan alur penggunaan sering kali lebih berbicara daripada kampanye besar. Subtlety matters.

Dalam konteks jasa, produk sering kali tidak terlihat secara fisik. Yang dirasakan justru pengalaman. Bagaimana pengguna diperlakukan. Bagaimana masalah ditangani. Bagaimana ekspektasi dikelola. Semua itu adalah bagian dari produk, meskipun jarang disebut demikian.

Pengalaman yang konsisten lebih berharga daripada janji yang berlebihan. Lebih baik sedikit, tapi bisa diandalkan, daripada banyak tapi tidak jelas arahnya.

Ada momen ketika produk harus dibiarkan tumbuh sendiri, tanpa terlalu banyak intervensi. Terlalu sering mengubah arah hanya akan membuat pengguna bingung. Konsistensi memberi rasa aman.

Membangun produk pada akhirnya juga membangun kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dipercepat. Ia tumbuh dari interaksi kecil yang berulang, dari janji yang ditepati, dari ekspektasi yang tidak dikhianati.

Di titik ini, menciptakan produk terasa kurang glamor. Tidak ada narasi heroik. Tidak ada lonjakan instan. Yang ada hanya proses yang berulang dan kadang membosankan. Tapi justru di situlah ketahanannya dibentuk.

Produk yang baik tidak selalu mencolok. Ia bekerja di latar belakang, menyatu dengan keseharian, dan tidak menuntut perhatian terus-menerus. Ketika ia dibutuhkan, ia ada.

Mungkin itu inti dari creating products yang berkelanjutan. Bukan tentang membuat sesuatu yang paling terlihat, tapi sesuatu yang cukup kuat untuk bertahan tanpa harus selalu diperhatikan.

Dan pada akhirnya, produk yang paling jujur biasanya tidak merasa perlu membuktikan apa pun. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dengan tenang.

Di situ, proses menciptakan dan menggunakan produk bertemu. Tanpa drama. Tanpa kebisingan. Cukup jelas.

Di titik ini, tekanan untuk terlihat aktif sering disalahartikan sebagai produktivitas. Padahal tidak semua aktivitas menghasilkan kemajuan. Banyak produk digital terus bergerak secara visual, tapi secara substansi tidak ke mana-mana. Update ada, promosi jalan, tapi esensinya tetap sama.

Hal ini menciptakan kebiasaan baru dalam menciptakan produk. Fokus bergeser dari membangun sesuatu yang solid menjadi menjaga agar sesuatu tetap terlihat hidup. Padahal terlihat hidup dan benar-benar hidup adalah dua hal yang berbeda.

Produk yang terlalu sibuk menjaga penampilan sering kehilangan waktu untuk memperbaiki fondasi. Energi habis untuk merespons algoritma, bukan kebutuhan nyata pengguna. Lama-lama, keputusan tidak lagi diambil karena relevansi, tetapi karena urgensi semu.

Ada kelelahan tertentu yang muncul dari pola ini. Kelelahan yang tidak selalu disadari, tapi terasa. Produk terasa berat untuk dijalankan, bukan karena kompleksitasnya, tetapi karena ekspektasi yang terus menumpuk.

Di sini, keputusan untuk melambat menjadi signifikan. Melambat bukan berarti mundur, tetapi memberi ruang untuk menilai ulang. Apakah semua ini masih masuk akal? Apakah arah yang diambil masih sejalan dengan tujuan awal, atau hanya respons terhadap tekanan luar?

Banyak produk menemukan kembali bentuknya justru saat penciptanya berani menarik diri sejenak. Tidak untuk menghilang, tetapi untuk mengamati. Dengan jarak, pola yang sebelumnya kabur mulai terlihat lebih jelas.

Observasi semacam ini jarang menghasilkan keputusan besar secara instan. Lebih sering ia memunculkan penyesuaian kecil yang konsisten. Sedikit diubah, sedikit dikurangi, sedikit dirapikan. Tapi efeknya terasa dalam jangka panjang.

Produk yang diberi ruang untuk bernapas cenderung lebih stabil. Ia tidak bereaksi berlebihan terhadap perubahan kecil, dan tidak panik saat perhatian menurun. Ada ketenangan yang datang dari kejelasan fungsi dan arah.

Dalam konteks ini, menciptakan produk bukan lagi tentang siapa yang paling cepat atau paling terlihat. Lebih ke siapa yang paling tahan. Tahan terhadap perubahan tren, tahan terhadap fluktuasi perhatian, dan tahan terhadap godaan untuk terus menambah hal yang sebenarnya tidak perlu.