“The Art of Thinking in The Margin: Ide besar tidak selalu lahir dari pusat perhatian. Terkadang, ia justru tumbuh di ruang-ruang yang dianggap sepele. Di sanalah peluang ditemukan, persoalan dipahami lebih dalam, dan solusi mulai dibangun.”
-Roberto Carmelito Sidebang
Ketika mendengar kata proposal, sebagian besar mahasiswa mungkin akan membayangkan setumpuk dokumen yang harus disusun demi memenuhi tugas perkuliahan, mengikuti kompetisi, atau memperoleh pendanaan. Setelah proposal disetujui, tidak sedikit yang menganggap perjalanan telah selesai. Padahal, bagi saya, proposal bukanlah garis akhir. Proposal adalah titik awal lahirnya sebuah tanggung jawab. Sebuah gagasan tidak akan memiliki makna apabila hanya berhenti menjadi tulisan di atas kertas tanpa pernah diimplementasikan menjadi solusi nyata.
Pemikiran tersebut lahir dari kesadaran bahwa menjadi mahasiswa merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki oleh semua orang. Kesempatan menempuh pendidikan tinggi adalah anugerah yang membawa tanggung jawab intelektual sekaligus sosial. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Sayangnya, realitas di lingkungan akademik sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Banyak mahasiswa lebih berorientasi pada nilai, indeks prestasi, maupun sertifikat dibandingkan kebermanfaatan ilmu yang dipelajari. Keberhasilan akademik seolah hanya diukur melalui angka, bukan melalui kemampuan menghadirkan perubahan.
Padahal, dunia nyata memiliki cara penilaian yang berbeda. Di luar ruang kelas, masyarakat tidak akan bertanya berapa IPK yang kita miliki, melainkan seberapa besar kontribusi yang mampu kita berikan. Oleh karena itu, saya percaya bahwa kualitas seorang mahasiswa tidak hanya dibentuk oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh integritas, kepedulian sosial, serta cara berpikir dalam menghadapi persoalan.
Dari keyakinan tersebut lahirlah sebuah filosofi yang selalu saya pegang hingga hari ini, yaitu The Art of Thinking in the Margin.
Bagi saya, filosofi ini bukan sekadar rangkaian kata dalam bahasa Inggris. Ia merupakan sebuah cara pandang yang mengajarkan bahwa ide-ide besar sering kali tidak ditemukan di tempat yang paling ramai diperhatikan. Justru pada ruang-ruang yang dianggap biasa, pada persoalan yang tampak sederhana, bahkan pada kebiasaan yang selama ini diterima tanpa dipertanyakan, sering tersembunyi peluang untuk menciptakan perubahan. Berpikir in the margin berarti memiliki keberanian untuk melihat lebih dalam, mempertanyakan asumsi yang sudah dianggap wajar, dan menemukan solusi dari sudut pandang yang belum banyak dieksplorasi.
Filosofi tersebut kemudian menjadi fondasi bagi tim kami ketika mengikuti program pengembangan inovasi berbasis proposal untuk mendampingi salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yaitu Roti Panggang BBI (Bumi Bojong Intan) yang berlokasi di Rancamanyar, Kabupaten Bandung.
Pada awalnya, kami tidak datang dengan membawa sebuah aplikasi ataupun konsep digitalisasi yang sudah jadi. Kami datang untuk belajar. Kami ingin memahami bagaimana sebuah usaha kecil bertahan di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Kami percaya bahwa solusi yang baik tidak lahir dari asumsi, melainkan dari kemampuan mendengarkan kebutuhan pengguna secara langsung.
Ketika pertama kali melakukan observasi, tidak ada sesuatu yang terlihat mencolok. Aktivitas usaha berjalan sebagaimana biasanya. Pelanggan datang silih berganti untuk membeli roti panggang dengan berbagai pilihan rasa. Pemilik usaha melayani pesanan dengan ramah, sementara proses produksi terus berlangsung di belakang area penjualan. Dari luar, semuanya tampak normal.
Namun, filosofi The Art of Thinking in the Margin mengajarkan kami untuk tidak berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.
Kami mulai memperhatikan bagaimana setiap transaksi dicatat. Bagaimana pesanan diterima. Bagaimana laporan penjualan disusun. Bagaimana stok bahan baku dipantau setiap harinya. Semakin lama kami mengamati, semakin terlihat bahwa di balik aktivitas yang tampak sederhana tersebut terdapat berbagai proses yang masih dilakukan secara manual. Setiap transaksi harus ditulis pada buku catatan. Rekapitulasi pendapatan dilakukan dengan menghitung ulang seluruh transaksi. Informasi mengenai produk yang paling diminati pelanggan hanya didasarkan pada ingatan pemilik usaha. Bahkan pengelolaan stok bahan baku belum memiliki sistem pencatatan yang terstruktur sehingga berpotensi menimbulkan kelebihan maupun kekurangan persediaan.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut mungkin dianggap sebagai hal yang lumrah karena banyak UMKM di Indonesia masih menjalankan proses yang serupa. Akan tetapi, justru di situlah kami menemukan persoalan utama. Kebiasaan sering kali membuat sebuah masalah terlihat normal. Sesuatu yang dilakukan berulang kali akhirnya dianggap tidak perlu diperbaiki, padahal perlahan menghambat perkembangan usaha.
Di sinilah filosofi The Art of Thinking in the Margin benar-benar bekerja. Ketika sebagian besar orang melihat sebuah usaha yang berjalan baik, kami mencoba melihat ruang-ruang kecil yang belum mendapatkan perhatian. Kami tidak bertanya, “Bagaimana membuat usaha ini lebih modern?” Kami justru bertanya, “Apa yang sebenarnya menghambat pemilik usaha dalam mengembangkan bisnisnya?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi titik balik cara berpikir kami.
Permasalahan utama ternyata bukan sekadar belum memiliki toko online ataupun belum memanfaatkan media sosial secara maksimal. Permasalahan yang sesungguhnya adalah belum adanya sistem yang mampu mengintegrasikan seluruh proses operasional usaha dalam satu alur kerja yang sederhana, efektif, dan mudah digunakan. Aktivitas pemasaran, pemesanan, pencatatan transaksi, penyusunan laporan, hingga dokumentasi data pelanggan masih berjalan secara terpisah. Akibatnya, banyak waktu yang habis untuk pekerjaan administratif dibandingkan mengembangkan kualitas produk maupun strategi bisnis.
Temuan tersebut mengubah arah proposal yang kami susun. Alih-alih hanya membuat media promosi digital, kami memutuskan untuk merancang sebuah marketplace berbasis web yang tidak hanya berfungsi sebagai etalase produk, tetapi juga sebagai pusat pengelolaan operasional usaha. Bagi kami, digitalisasi bukan sekadar memindahkan proses manual ke layar komputer, melainkan menyederhanakan pekerjaan sehingga pemilik usaha dapat lebih fokus pada hal yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnisnya.
Keputusan tersebut menjadi awal dari sebuah eksperimen yang tidak hanya menguji kemampuan kami dalam mengembangkan teknologi, tetapi juga menguji bagaimana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Proposal yang semula hanya berupa dokumen perlahan berubah menjadi sebuah proses kolaborasi, pembelajaran, dan inovasi yang melibatkan mahasiswa serta pelaku UMKM sebagai mitra.
Keputusan tersebut menjadi awal dari sebuah eksperimen yang tidak hanya menguji kemampuan kami dalam mengembangkan teknologi, tetapi juga menguji bagaimana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Proposal yang semula hanya berupa dokumen perlahan berubah menjadi sebuah proses kolaborasi, pembelajaran, dan inovasi yang melibatkan mahasiswa serta pelaku UMKM sebagai mitra.
Proses pengembangan marketplace berbasis web tidak dimulai dari penulisan baris-baris kode, melainkan dari pemahaman terhadap kebutuhan pengguna. Kami menyadari bahwa kesalahan terbesar dalam mengembangkan sebuah sistem adalah membangun teknologi berdasarkan asumsi pembuatnya, bukan berdasarkan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, sebelum merancang sistem, kami melakukan observasi lapangan, wawancara dengan pemilik usaha, serta mempelajari alur bisnis yang telah berjalan selama ini. Setiap aktivitas, mulai dari penerimaan pesanan, proses produksi, pencatatan transaksi, hingga penyusunan laporan penjualan, kami dokumentasikan sebagai dasar dalam merancang sistem yang benar-benar relevan.
Dari hasil identifikasi tersebut, kami menemukan bahwa sebagian besar waktu pemilik usaha justru habis untuk pekerjaan administratif. Aktivitas yang seharusnya dapat diselesaikan dalam hitungan menit sering kali membutuhkan waktu berjam-jam karena seluruh proses masih dilakukan secara manual. Setiap transaksi harus dicatat satu per satu, pendapatan dihitung ulang di akhir hari, sementara laporan penjualan baru dapat dibuat setelah seluruh data direkap kembali. Kondisi ini tidak hanya mengurangi efisiensi, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan pencatatan yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan.
Berangkat dari temuan tersebut, tim kami mulai merancang marketplace berbasis web yang tidak hanya berfungsi sebagai media penjualan, tetapi juga sebagai sistem informasi yang mampu mengintegrasikan berbagai aktivitas operasional dalam satu platform. Marketplace ini dirancang dengan mempertimbangkan dua kelompok pengguna utama, yaitu pelanggan dan pemilik usaha. Bagi pelanggan, sistem harus sederhana, mudah diakses, dan memberikan pengalaman pemesanan yang nyaman. Sementara bagi pemilik usaha, sistem harus mampu mengurangi beban administratif tanpa mengubah alur kerja yang sudah mereka kuasai.
Pada sisi pelanggan, marketplace menyediakan katalog produk lengkap yang menampilkan berbagai varian roti panggang beserta informasi harga dan deskripsi produk. Pelanggan dapat memilih menu yang diinginkan, menentukan jumlah pesanan, kemudian melakukan pemesanan secara daring tanpa harus datang langsung ke lokasi usaha. Proses ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga memperluas jangkauan pemasaran karena informasi produk dapat diakses kapan saja melalui internet.
Sementara itu, pada sisi administrasi, marketplace dilengkapi dengan dashboard yang memungkinkan pemilik usaha mengelola seluruh aktivitas operasional secara terintegrasi. Setiap transaksi yang dilakukan pelanggan secara otomatis tersimpan ke dalam basis data sehingga tidak diperlukan lagi pencatatan manual. Sistem juga mampu menghasilkan laporan penjualan harian, mingguan, maupun bulanan secara otomatis. Dengan demikian, pemilik usaha tidak lagi menghabiskan waktu untuk menghitung ulang transaksi ataupun menyusun laporan secara manual.
Salah satu fitur yang menurut kami memberikan dampak paling signifikan adalah penyajian data penjualan secara real-time. Sebelumnya, pemilik usaha hanya mengandalkan ingatan untuk memperkirakan produk mana yang paling diminati pelanggan. Setelah sistem diterapkan, informasi tersebut dapat diketahui secara langsung melalui dashboard. Data mengenai jumlah transaksi, produk terlaris, perkembangan pendapatan, hingga riwayat pembelian pelanggan tersaji dalam bentuk yang mudah dipahami. Informasi ini menjadi dasar bagi pemilik usaha untuk menentukan strategi produksi, mengatur persediaan bahan baku, serta merancang promosi yang lebih tepat sasaran.
Namun, kami juga menyadari bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Sebuah sistem yang baik belum tentu berhasil apabila pengguna merasa kesulitan dalam mengoperasikannya. Oleh karena itu, setelah proses pengembangan selesai, kami tidak langsung menyerahkan sistem kepada mitra. Kami melakukan uji coba penggunaan secara bertahap, mendampingi pemilik usaha dalam setiap proses operasional, sekaligus mengevaluasi berbagai kendala yang muncul selama implementasi.
Tahapan ini menjadi bagian yang sangat berharga bagi tim kami. Kami belajar bahwa membangun aplikasi jauh lebih mudah dibandingkan membangun kebiasaan baru. Pada awal penggunaan, pemilik usaha masih terbiasa mencatat transaksi secara manual karena merasa lebih aman dengan cara lama. Akan tetapi, setelah beberapa kali pendampingan dan melihat bahwa sistem mampu menyimpan data secara otomatis tanpa mengurangi akurasi, kepercayaan terhadap teknologi mulai tumbuh. Perlahan, proses administrasi yang sebelumnya dilakukan menggunakan buku catatan mulai beralih ke sistem digital.
Perubahan tersebut membawa dampak yang cukup nyata terhadap operasional usaha. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk merekap transaksi dapat dialihkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Risiko kehilangan data akibat pencatatan manual juga dapat diminimalkan karena seluruh informasi tersimpan dalam basis data. Selain itu, pemilik usaha memperoleh kemudahan dalam memantau perkembangan bisnis tanpa harus menunggu akhir bulan untuk mengetahui kondisi usahanya.
Bagi tim kami, hasil tersebut merupakan bukti bahwa transformasi digital tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi yang rumit. Transformasi digital justru dimulai dari kemampuan memahami persoalan sederhana yang dialami pengguna, kemudian menghadirkan solusi yang tepat guna. Marketplace yang kami kembangkan bukan sekadar sebuah aplikasi, melainkan sebuah alat yang membantu pelaku usaha bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih terstruktur.
Lebih jauh lagi, implementasi sistem ini juga membuka peluang pengembangan pada masa mendatang. Marketplace berbasis web dapat diintegrasikan dengan layanan pembayaran digital, sistem manajemen persediaan, hingga layanan pengiriman sehingga seluruh proses bisnis dapat berlangsung secara lebih terintegrasi. Dengan demikian, produk luaran yang kami hasilkan bukanlah sistem yang berhenti pada satu tahap pengembangan, melainkan fondasi awal bagi transformasi digital UMKM yang lebih berkelanjutan.
Melalui proses ini, kami menyadari bahwa keberhasilan sebuah proposal bukan diukur dari seberapa tebal dokumen yang disusun ataupun seberapa menarik presentasi yang disampaikan di hadapan dewan juri. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana proposal tersebut mampu diwujudkan menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Marketplace berbasis web untuk Roti Panggang BBI menjadi bukti bahwa sebuah gagasan yang lahir dari ruang diskusi mahasiswa dapat berkembang menjadi solusi yang membantu pelaku usaha menjalankan bisnisnya secara lebih efisien.
Pengalaman tersebut juga mengubah cara kami memandang penelitian. Selama ini penelitian sering kali dipersepsikan sebagai aktivitas akademik yang berakhir pada laporan, jurnal, atau seminar hasil. Padahal, penelitian memiliki potensi yang jauh lebih besar ketika hasilnya diimplementasikan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Ilmu pengetahuan akan memiliki nilai yang lebih tinggi apabila mampu menciptakan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di sinilah saya kembali teringat pada filosofi yang sejak awal menjadi pegangan saya, The Art of Thinking in the Margin. Filosofi ini mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari teknologi yang paling mutakhir ataupun investasi yang paling besar. Inovasi sering kali lahir ketika seseorang berani memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa. Ketika banyak orang melihat sebuah usaha yang berjalan normal, kami mencoba melihat proses-proses kecil yang menghambat perkembangannya. Dari ruang yang tampak sederhana itulah lahir sebuah gagasan yang kemudian berkembang menjadi produk luaran tim kami.
Pada akhirnya, pengalaman mengembangkan marketplace berbasis web untuk Roti Panggang BBI mengajarkan bahwa status mahasiswa bukan hanya tentang belajar di ruang kelas atau memperoleh gelar akademik. Menjadi mahasiswa berarti memiliki keberanian untuk menjaga integritas, berpikir kritis, dan menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Proposal bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang untuk mengubah ide menjadi inovasi, inovasi menjadi tindakan, dan tindakan menjadi manfaat yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Karena itu, saya akan selalu memegang satu prinsip yang menjadi fondasi dalam setiap proses belajar dan berkarya:
“The Art of Thinking in the Margin.”
Bagi saya, filosofi tersebut bukan sekadar tentang berpikir berbeda. Ia adalah keberanian untuk menemukan peluang di tempat yang luput dari perhatian, mengubah keterbatasan menjadi inovasi, dan memastikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak berhenti sebagai teori, melainkan hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Marketplace berbasis web yang kami kembangkan untuk Roti Panggang BBI mungkin hanya satu langkah kecil, tetapi langkah kecil itu menjadi bukti bahwa sebuah proposal yang disusun dengan integritas, diproses melalui kolaborasi, dan diwujudkan melalui tindakan nyata dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kewajiban akademik. Itulah makna sesungguhnya dari menjadi mahasiswa, sekaligus esensi dari The Art of Thinking in The Margin.