Tag: Tugas Artikel

  • Kreasi Produk dan Jasa Baju Anak Handmade: Kecil Ukurannya, Besar Nilainya

    Di tengah banjirnya baju anak produksi massal, baju anak handmade datang sebagai game changer. Bukan cuma soal lucu dan estetik, tapi juga soal cerita, kualitas, dan rasa. Setiap potong baju dibuat dengan tangan, perhatian, dan cinta—bukan sekadar lewat mesin pabrik.

    1. Produk Handmade: Anti Pasaran, Anti Asal

    Baju anak handmade biasanya dibuat dalam jumlah terbatas, bahkan satuan. Artinya? Lebih eksklusif dan nggak bakal kembaran. Mulai dari baju harian, dress pesta, sampai outfit tematik, semuanya dirancang dengan detail yang niat.

    Yang bikin beda:

    • Desain unik dan playful
    • Bahan adem dan ramah di kulit anak
    • Jahitan rapi karena dicek satu-satu

    Bajunya boleh kecil, tapi effort-nya nggak main-main.

    2. Desain Bebas, Kreativitas Nggak Kebatas

    Dunia anak itu penuh warna, dan itu yang jadi inspirasi utama desain handmade. Motif lucu, warna cerah, potongan nyaman, sampai ilustrasi custom jadi ciri khasnya. Plus, banyak brand handmade yang mulai pakai bahan eco-friendly atau sisa kain supaya lebih ramah lingkungan. Lucu iya, peduli iya.

    3. Jasa Custom: Baju Rasa “Punya Sendiri”

    Salah satu nilai jual paling kuat dari baju anak handmade adalah jasa custom. Orang tua bisa request ukuran, warna, model, bahkan nambahin nama anak. Hasilnya? Baju yang benar-benar personal dan punya cerita.

    Biasanya paling laku buat:

    • Outfit ulang tahun
    • Kado newborn
    • Acara keluarga atau photoshoot

    Bukan cuma beli baju, tapi ikut ngebentuk prosesnya.

    4. Lebih dari Sekadar Baju

    Baju anak handmade itu punya nilai emosional. Ada cerita di balik prosesnya, ada tangan manusia di setiap jahitan. Konsumen jadi ngerasa lebih dekat sama produknya, apalagi kalau tahu mereka juga mendukung UMKM dan karya lokal.

    Dari sisi bisnis, ini jadi nilai tambah yang nggak bisa ditiru produk massal. Storytelling di media sosial, proses produksi di balik layar, sampai testimoni pelanggan jadi senjata utama branding.

    5. Tantangan? Ada. Peluang? Lebih Besar.

    Produksi handmade memang butuh waktu dan harganya relatif lebih tinggi. Tapi pasar yang cari kualitas, keunikan, dan makna juga makin besar. Selama kualitas dijaga dan kreatif terus jalan, baju anak handmade punya peluang besar buat tumbuh dan bertahan

    Kreasi produk dan jasa baju anak handmade bukan cuma soal jualan baju, tapi soal menciptakan pengalaman. Dari desain, proses, sampai dipakai anak, semuanya punya nilai. Di dunia yang serba cepat, handmade hadir sebagai pengingat bahwa yang dibuat pelan-pelan justru sering jadi yang paling berkesan.

    10420063 | Shafa Deliana Suwandi | Teknik Arsitektur

  • Branding Produk: Strategi Penting dalam Kewirausahaan

    Pendahuluan

    Dalam dunia kewirausahaan, membangun produk berkualitas saja tidak cukup. Produk yang bagus tanpa identitas yang kuat akan sulit bertahan di tengah kompetisi pasar yang sangat dinamis. Di sinilah peran branding menjadi sangat penting. Branding bukan hanya sekadar memberi nama dan logo pada produk, melainkan membentuk persepsi, emosi, dan hubungan jangka panjang antara produk dan konsumennya.

    Branding adalah jantung dari strategi pemasaran yang sukses. Ketika dilakukan dengan benar, branding akan meningkatkan daya saing, mendorong loyalitas pelanggan, serta meningkatkan nilai produk. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai konsep branding produk, manfaatnya dalam kewirausahaan, serta langkah-langkah strategis untuk membangunnya.

    Apa Itu Branding Produk?

    Branding produk adalah proses penciptaan identitas dan citra unik untuk sebuah produk di benak konsumen. Ini mencakup elemen-elemen visual seperti nama, logo, warna, dan kemasan, serta aspek emosional seperti nilai, kepribadian, dan pengalaman pengguna.

    Tujuan utama dari branding adalah membuat produk mudah dikenali, berbeda dari pesaing, dan membangun kepercayaan yang berkelanjutan. Branding yang kuat dapat mengubah produk biasa menjadi simbol gaya hidup atau bahkan aspirasi.

    Contoh nyata bisa dilihat pada Apple. Produk teknologi mereka mungkin memiliki spesifikasi yang setara dengan kompetitor, tetapi branding yang kuat membuat Apple memiliki penggemar loyal dan posisi premium di pasar global.

    Tren Branding Produk di Era Digital

    Seiring perkembangan teknologi dan media sosial, dunia branding juga mengalami transformasi besar. Beberapa tren branding produk di era digital yang penting diketahui oleh wirausaha masa kini antara lain:

    1. Branding Berbasis Nilai (Value-Based Branding)

    Konsumen saat ini tidak hanya mencari produk bagus, tetapi juga ingin mendukung brand yang memiliki misi sosial atau lingkungan. Misalnya, produk yang ramah lingkungan, mendukung UMKM lokal, atau peduli terhadap isu kesejahteraan masyarakat akan lebih disukai generasi muda.

    2. Personal Branding dan Humanisasi Brand

    Brand kini tidak lagi tampil sebagai entitas kaku, melainkan punya “kepribadian.” Konsumen suka ketika brand terasa “manusiawi”—misalnya dengan menggunakan bahasa yang santai, storytelling yang relatable, atau bahkan menampilkan founder dan tim di balik produk.

    3. Interaksi Lewat Media Sosial

    Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi media utama dalam membentuk branding produk. Video pendek, konten behind-the-scenes, dan kolaborasi dengan influencer bisa memperkuat identitas brand dengan cara yang lebih organik.

    4. Penggunaan Teknologi untuk Branding

    Fitur Augmented Reality (AR), QR Code interaktif di kemasan, chatbot pelayanan konsumen, dan pengalaman unboxing yang menarik juga menjadi bagian dari strategi branding modern.

    Tahapan Siklus Branding Produk

    Branding bukanlah aktivitas satu kali selesai. Seiring waktu dan perkembangan pasar, branding harus terus disesuaikan dan disegarkan. Berikut adalah siklus tahapan branding produk yang umum dilalui oleh wirausaha:

    1. Pengenalan (Brand Introduction)

    Pada tahap awal ini, wirausaha memperkenalkan brand ke publik. Fokusnya adalah membangun kesadaran merek (brand awareness) dan memperkenalkan identitas visual serta nilai-nilai yang ingin disampaikan.

    • Aktivitas: launching produk, kampanye pengenalan, distribusi materi promosi awal.

    2. Pertumbuhan (Brand Growth)

    Jika diterima dengan baik, brand akan mulai dikenal lebih luas. Konsumen mulai mencoba produk dan memberikan ulasan. Pada tahap ini, konsistensi sangat penting.

    • Aktivitas: penguatan media sosial, edukasi konsumen, menjaga kualitas produk dan layanan.

    3. Maturitas (Brand Maturity)

    Brand sudah mapan di pasaran dan memiliki konsumen loyal. Namun, risiko stagnasi juga mulai muncul. Dibutuhkan inovasi agar brand tetap relevan.

    • Aktivitas: pembaruan desain, perluasan produk, kampanye loyalitas, kolaborasi strategis.

    4. Rebranding (Jika Diperlukan)

    Ketika brand mulai kehilangan relevansi atau ingin menjangkau target pasar baru, proses rebranding bisa dilakukan. Namun, langkah ini harus hati-hati agar tidak membingungkan pelanggan lama.

    • Aktivitas: perubahan logo, penyesuaian pesan brand, pendekatan baru dalam komunikasi.

    Digital Branding: Wajib untuk Wirausaha Zaman Sekarang

    Bagi mahasiswa kewirausahaan yang ingin memulai usaha, digital branding adalah langkah awal yang wajib dilakukan, bahkan sebelum produk diluncurkan. Berikut elemen-elemen penting dalam digital branding:

    • Website atau Landing Page
      Menjadi tempat resmi yang menampilkan profil brand, produk, testimoni, dan kontak.
    • Media Sosial Aktif dan Profesional
      Pilih platform yang sesuai dengan target pasar. Misalnya: Instagram untuk visual produk, TikTok untuk storytelling, dan LinkedIn untuk membangun kredibilitas bisnis.
    • Desain Konsisten
      Gunakan elemen visual yang seragam di semua platform (logo, warna, gaya posting, dan tone of voice).
    • Konten Edukatif dan Engaging
      Konten bukan hanya promosi, tapi juga edukasi dan hiburan. Misalnya, tips penggunaan produk, fakta unik, atau cerita di balik brand.
    • Testimoni dan Ulasan Konsumen
      Bukti sosial sangat penting. Tampilkan review dan testimoni nyata dari pengguna untuk memperkuat kepercayaan.

    Perbedaan Branding, Marketing, dan Iklan

    Dalam dunia kewirausahaan, banyak orang masih menyamakan antara branding, marketing, dan iklan (advertising). Padahal, ketiganya memiliki peran yang berbeda namun saling berkaitan dalam membangun kesuksesan bisnis.

    1. Branding = Identitas

    Branding adalah siapa Anda di mata konsumen. Ini mencakup logo, warna, pesan, nilai, suara brand, hingga emosi yang Anda bangun dalam benak konsumen. Branding adalah fondasi dari semua aktivitas bisnis dan komunikasi.

    Contoh: Apple dikenal sebagai brand yang premium, simpel, dan inovatif.

    2. Marketing = Strategi

    Marketing adalah cara Anda membawa produk dan pesan brand ke pasar. Ini termasuk riset pasar, penetapan harga, promosi, distribusi, dan kampanye penjualan. Marketing bisa berubah sesuai tren dan target.

    Contoh: Strategi diskon launching, kolaborasi dengan influencer, atau bundling produk.

    3. Iklan = Alat Komunikasi

    Iklan adalah bagian dari strategi marketing, yaitu aktivitas menyampaikan pesan melalui media tertentu—baik online maupun offline. Tujuan utamanya adalah menjangkau konsumen dan memengaruhi keputusan mereka.

    Contoh: Iklan banner di Instagram, video promosi di YouTube, atau spanduk di pinggir jalan.

    Mengapa Branding Penting bagi Wirausaha?

    Bagi pelaku wirausaha, terutama bisnis baru atau UMKM, branding merupakan investasi strategis yang dapat membawa dampak jangka panjang. Berikut beberapa alasan mengapa branding penting:

    1. Meningkatkan Daya Saing
      Branding membantu produk Anda tampil menonjol di pasar yang penuh pilihan. Konsumen cenderung memilih brand yang mereka kenal dan percaya.
    2. Menciptakan Loyalitas Pelanggan
      Konsumen tidak hanya membeli produk, mereka membeli janji dan pengalaman. Ketika branding konsisten dan memuaskan, pelanggan akan kembali dan menjadi promotor sukarela.
    3. Mempermudah Promosi
      Brand yang kuat memudahkan strategi pemasaran. Nama yang sudah dikenal akan lebih mudah dipromosikan, baik secara online maupun offline.
    4. Meningkatkan Nilai Produk
      Branding menciptakan persepsi nilai yang lebih tinggi. Sebuah produk bisa dijual lebih mahal jika brand-nya dianggap premium.
    5. Mendukung Ekspansi Bisnis
      Dengan branding yang kuat, pelaku usaha dapat lebih mudah memperluas lini produk, masuk ke pasar baru, atau bahkan menjalin kerja sama dengan investor.

    Tips Praktis Branding untuk Mahasiswa Kewirausahaan

    Jika Anda adalah mahasiswa yang sedang membangun usaha kecil atau tugas kewirausahaan, berikut tips branding yang bisa diterapkan langsung:

    1. Mulai dari Sederhana Tapi Konsisten
      Tidak perlu langsung sempurna. Yang penting konsisten dengan warna, logo, dan pesan brand.
    2. Manfaatkan Desain Gratis
      Gunakan tools gratis seperti Canva untuk membuat logo, feed Instagram, dan kemasan yang menarik.
    3. Gunakan Nama yang Unik dan Bermakna
      Jangan meniru brand lain. Pilih nama yang punya makna dan mudah dicari di Google.
    4. Berani Tampilkan Diri
      Jadikan perjalanan usaha Anda sebagai bagian dari brand. Tampilkan kisah Anda sebagai pendiri melalui video atau story.
    5. Mintalah Feedback Sejak Awal
      Jangan tunggu produk sempurna. Justru dengan feedback dari awal, Anda bisa menyempurnakan produk dan memperkuat branding berdasarkan pengalaman nyata konsumen.

    Unsur-Unsur Branding Produk

    Branding tidak terjadi secara kebetulan. Ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dalam membangun branding produk:

    • Nama Brand Harus mudah diucapkan, diingat, dan relevan dengan produk serta target pasar.
    • Logo dan Visual Identity Desain visual yang konsisten akan memperkuat daya ingat dan profesionalitas.
    • Slogan atau Tagline Kalimat singkat namun kuat yang merepresentasikan nilai atau janji brand.
    • Nilai Inti (Core Values) Prinsip-prinsip dasar yang dijunjung tinggi oleh brand, seperti kualitas, kejujuran, keberlanjutan, atau inovasi.
    • Persona dan Suara Brand (Brand Voice) Gaya komunikasi yang digunakan dalam promosi: apakah formal, santai, ramah, humoris, dan sebagainya.
    • Pengalaman Konsumen Mulai dari membeli hingga menggunakan produk, semua interaksi harus memberikan kesan positif dan konsisten.

    Langkah-Langkah Membangun Branding Produk

    Berikut adalah tahapan strategis untuk membangun brand produk yang kuat:

    1. Kenali Target Pasar Pahami siapa calon konsumen Anda, apa kebutuhannya, dan bagaimana perilaku mereka. Data ini akan menentukan bagaimana Anda membentuk brand dan menyampaikannya.
    2. Riset Kompetitor Amati bagaimana pesaing mengelola branding mereka. Apa kelebihan dan kekurangannya? Ini membantu Anda menemukan celah untuk tampil beda.
    3. Tentukan Identitas Brand Bangun elemen visual seperti logo, warna utama, tipografi, hingga desain kemasan yang mencerminkan kepribadian produk.
    4. Susun Narasi Brand (Brand Story) Ceritakan latar belakang mengapa produk ini dibuat, apa misi sosialnya, atau cerita perjuangan sang pendiri. Cerita yang otentik bisa membangun koneksi emosional dengan konsumen.
    5. Terapkan Konsistensi di Semua Kanal Pastikan seluruh media komunikasi—mulai dari media sosial, kemasan, iklan, hingga layanan pelanggan—menyampaikan pesan brand yang sama.
    6. Berikan Pengalaman Positif Brand tidak hanya dilihat, tapi juga dirasakan. Pastikan produk Anda berkualitas dan pelayanan konsisten agar pengalaman konsumen selalu positif.

    Contoh Kasus Sederhana: Branding Produk Lokal

    Misalnya, seorang mahasiswa kewirausahaan memproduksi minuman herbal modern dengan merek “HerbaFresh”. Alih-alih hanya menjual minuman, dia menciptakan branding dengan:

    • Warna dan desain kemasan hijau alami untuk menonjolkan kesan sehat dan ramah lingkungan.
    • Slogan: “Segar Alami Setiap Hari.”
    • Instagram aktif dengan konten edukasi herbal dan testimoni pelanggan.
    • Kolaborasi dengan komunitas yoga dan gaya hidup sehat, memperkuat asosiasi brand dengan kesehatan.

    Dengan branding yang konsisten, meski produk serupa banyak di pasaran, HerbaFresh berhasil membentuk pasar loyal dan dikenal sebagai brand sehat kekinian.

    Kesalahan Umum dalam Branding

    Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh pelaku usaha pemula dalam branding antara lain:

    • Mengganti logo atau desain terlalu sering (tidak konsisten).
    • Mengikuti tren tanpa relevansi dengan nilai brand.
    • Kurang memperhatikan kualitas produk dan layanan (branding bagus tapi produk mengecewakan).
    • Tidak memahami siapa target pasar sebenarnya.
    • Mengabaikan feedback konsumen.

    Kesimpulan

    Branding produk merupakan aspek vital dalam dunia kewirausahaan. Dengan branding yang tepat, sebuah produk tidak hanya dikenal tetapi juga dicintai oleh konsumennya. Proses ini membutuhkan kreativitas, pemahaman pasar, serta komitmen untuk memberikan kualitas terbaik secara konsisten. Bagi mahasiswa kewirausahaan, memahami konsep branding bukan hanya teori, melainkan bekal penting untuk sukses membangun bisnis di masa depan.

    Penutup

    Branding bukan sekadar strategi bisnis—branding adalah janji, pengalaman, dan identitas yang hidup di benak konsumen. Di era digital ini, siapa pun bisa membangun brand dengan modal kreativitas, konsistensi, dan keberanian menampilkan cerita otentik di balik produk. Mahasiswa kewirausahaan harus mulai memahami pentingnya branding sejak dini, karena di dunia bisnis modern, produk yang paling diingatlah yang akan bertahan.

    “People don’t buy what you do. They buy why you do it.” — Simon Sinek

  • Netrana: Tongkat Pintar Inklusif untuk Tunanetra, Biar Melangkah Makin Mandiri dan Aman

    Teknologi yang Bukan Cuma Pintar, Tapi Juga Peduli

    Teknologi seharusnya bukan hanya soal kecepatan, efisiensi, atau kecanggihan semata. Di balik semua itu, ada satu hal yang kadang terlupakan: kepedulian. Apakah inovasi yang kita buat sudah benar-benar menjangkau semua orang?

    Di Indonesia, menurut data BPS tahun 2024, sekitar 7,85 juta orang mengalami gangguan penglihatan. Artinya, jutaan orang harus menghadapi ruang publik yang seringkali belum sepenuhnya ramah. Jalur pemandu di trotoar bisa saja tertutup kendaraan, bahkan menjadi tempat jualan. Dan alat bantu seperti tongkat putih, meskipun masih menjadi andalan, belum mampu mendeteksi kendaraan yang melaju atau lubang tak terlihat di depan.

    .Nah, dari realita inilah muncul ide keren dari saya beserta tim untuk merancang alat yang bermanfaat untuk sekitar lingkungan kami, kami merupakan mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) lahirlah alat bantu: sebuah tongkat pintar yang bukan hanya membantu berjalan, tapi juga menjaga keselamatan, memudahkan navigasi, dan dirancang inklusif untuk anak hingga dewasa. Nama alat ini adalah: Netrana.

    • Apa Sih Netrana Itu?

    Netrana adalah tongkat teleskopik yang dirancang khusus untuk tunanetra. Tapi bukan tongkat biasa, karena tongkat ini dibekali teknologi pintar berbasis IoT (Internet of Things). Tongkat ini bisa mengenali rintangan, memberikan panduan arah, dan bahkan punya tombol darurat untuk situasi genting. Yang lebih menarik lagi, semuanya terkoneksi dengan aplikasi mobile yang mudah digunakan.

    Selain mengedepankan teknologi, Netrana juga dibangun dengan pendekatan desain yang human-centered. Artinya, setiap fitur yang dikembangkan benar-benar mempertimbangkan pengalaman pengguna tunanetra secara langsung—bukan hanya berdasarkan asumsi, tapi juga hasil observasi dan uji coba. Mulai dari tinggi tongkat yang fleksibel, navigasi berbasis suara, hingga letak tombol darurat yang mudah dijangkau, semuanya dirancang untuk memudahkan pengguna di situasi nyata

    Dengan desain yang fleksibel dan fitur-fitur modern, Netrana jadi jawaban atas kebutuhan mobilitas yang aman, nyaman, dan inklusif.

    • Fitur-Fitur Canggih dalam Tongkat yang Sederhana

    Meski terlihat simpel, Netrana punya “isi dalam” yang luar biasa. Yuk, kita bahas satu per satu:

    1. Desain Fleksibel untuk Semua Usia.

    Netrana dilengkapi mekanisme teleskopik, yang artinya bisa disesuaikan dengan tinggi pengguna. Cocok untuk dewasa dan juga anak-anak.

    2. Deteksi Objek Real-Time.

    Ditenagai oleh algoritma YOLOv8 dan Vision Transformer (ViT), Netrana bisa mendeteksi berbagai objek seperti tiang, lubang, kendaraan, atau halangan lainnya secara langsung. Informasi ini disampaikan melalui getaran dan suara, jadi tetap bisa digunakan meskipun lingkungan sekitar berisik.

    3. Navigasi Lewat Suara.

    Netrana terhubung ke aplikasi mobile yang menggunakan Google Maps API. Pengguna cukup menyebutkan tujuannya, dan aplikasi akan memberi panduan arah langkah demi langkah. Gak perlu repot pegang HP sambil jalan.

    4. Tombol SOS untuk Situasi Darurat.

    Kalau pengguna mengalami masalah, cukup tekan tombol panic button. Sistem akan langsung mengirim notifikasi ke keluarga atau kerabat lengkap dengan lokasi real-time.

    Semua fitur ini bekerja secara sinkron berkat integrasi teknologi ESP32-S3 CAM sebagai pengolah data utama dan konektivitas yang memungkinkan komunikasi antara tongkat dan aplikasi pendamping. Bahkan ketika pengguna berada di lokasi yang ramai atau bising, umpan balik berupa getaran tetap bisa diandalkan untuk memberi sinyal keberadaan rintangan. Dengan begini, pengguna tak lagi harus membagi fokus antara tongkat dan ponsel saat berjalan.

    • Bukan Sekadar Alat, Tapi Solusi Sosial

    Di balik semua teknologi itu, ada misi sosial yang kuat. Netrana lahir dari keinginan untuk menghadirkan kesetaraan di ruang publik.

    Bayangkan saja:

    seorang tunanetra perempuan berjalan sendiri di malam hari. Di samping tantangan mobilitas, ada juga ancaman keamanan. Data Komnas Perempuan mencatat peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas di tahun 2019. Di sinilah peran Netrana menjadi sangat relevan bukan hanya membantu berjalan, tapi juga melindungi dan memberi rasa aman.

    • Bagaimana Proses Netrana Dibangun?

    Netrana bukan alat jadi dalam semalam. Inovasi ini dikembangkan oleh tim mahasiswa UNIKOM menggunakan metode kerja Agile Scrum, yang umum dipakai di perusahaan teknologi besar.

    • Mereka membagi proses jadi dua bagian utama:

    Pengembangan Perangkat Keras (IoT):
    Menggunakan komponen seperti ESP32-S3 CAM, sensor ultrasonik, dan motor getar, semuanya dirakit untuk bekerja sebagai satu sistem.

    • Pembuatan Aplikasi Mobile:
      Aplikasi pendamping yang menjadi “otak” dari sistem navigasi, pengenalan objek, dan fitur SOS.

    Setelah alat selesai, dilakukan pengujian teknis dan user acceptance test bersama pengguna tunanetra di bawah pengawasan UPT Kementerian Sosial. Hasilnya? Alat ini dinyatakan layak dan sangat membantu.

    Menariknya, dalam proses pengembangan Netrana, tim mahasiswa juga memanfaatkan pendekatan pembelajaran berkelanjutan. Mereka mengambil beberapa kursus online yang mendukung penguasaan teknologi seperti IoT, Vision Transformer, dan integrasi Google Maps API. Ini membuktikan bahwa inovasi bukan hanya hasil dari teori kampus semata, tapi juga semangat eksplorasi dan belajar mandiri.

    Tidak hanya berhenti sampai produk jadi, tim juga menyiapkan rencana promosi melalui media sosial agar dampaknya bisa menjangkau lebih luas. Harapannya, alat ini bisa diadopsi oleh komunitas, sekolah luar biasa, hingga lembaga sosial sebagai bagian dari program inklusivitas.

    Semua keunggulan ini nggak datang begitu saja. Tim pengembang Netrana melakukan banyak sesi diskusi dan uji coba untuk memastikan teknologi yang dipilih benar-benar cocok digunakan oleh tunanetra. Mereka harus mempertimbangkan banyak aspek kecil yang mungkin luput dari perhatian kita, seperti apakah suara panduan cukup jelas di jalan yang ramai, atau apakah getaran terasa cukup kuat di tangan yang berkeringat.

    Bahkan hal-hal kecil seperti berat tongkat, posisi tombol, dan daya tahan baterai jadi perhatian utama. Tujuannya satu: alat ini benar-benar nyaman, aman, dan siap pakai dalam kehidupan sehari-hari.

    Dampak Langsung ke Kehidupan Nyata

    Netrana tidak hanya memperkenalkan teknologi baru. Ia membawa harapan baru. Harapan bahwa:

    • Tunanetra bisa melangkah lebih percaya diri di ruang publik.
    • Keluarga jadi lebih tenang karena bisa memantau lokasi pengguna.
    • Potensi kecelakaan akibat lubang atau kendaraan bisa diminimalkan.

    Lebih dari itu, Netrana ikut menyuarakan gerakan inklusif, mendukung SDG (Sustainable Development Goals) nomor 10 tentang pengurangan kesenjangan.

    Tapi lebih dari itu, Netrana juga menciptakan koneksi emosional antara pengguna, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan fitur pelacakan lokasi dan tombol SOS, keluarga tidak lagi harus menunggu kabar dengan cemas saat orang terkasih yang tunanetra keluar rumah. Sekarang, mereka bisa mengetahui posisi dan keadaan dengan lebih pasti.

    Bagi pengguna sendiri, rasa percaya diri dan independensi meningkat. Bayangkan betapa besarnya dampak psikologis ketika seseorang bisa berkata, “Aku bisa pergi sendiri,” tanpa rasa takut atau khawatir berlebihan.

    Lebih jauh lagi, alat ini juga menginspirasi perubahan cara pandang masyarakat terhadap disabilitas. Kehadiran teknologi seperti Netrana menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukan akhir dari kemampuan. Justru, dengan dukungan inovasi, semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bergerak, berkarya, dan menjalani hidup secara utuh.

    Tidak hanya itu, Netrana juga memberi efek domino terhadap cara masyarakat sekitar memperlakukan penyandang disabilitas. Saat pengguna berjalan dengan percaya diri dan terlihat menggunakan teknologi bantu, orang-orang di sekitar cenderung memberikan ruang, bantuan, atau bahkan mulai peduli. Tongkat ini bukan hanya alat bantu jalan, tapi juga alat bantu perubahan sikap sosial.

    Bahkan, saat alat ini diperkenalkan dalam sesi uji coba bersama lembaga sosial, banyak responden yang mengatakan bahwa mereka merasa lebih dihargai dan dianggap mampu. Ini penting—karena rasa percaya diri bukan hanya dibangun dari dalam, tapi juga dari bagaimana lingkungan memperlakukan kita.

    Akhir Kata: Netrana, Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

    Teknologi terbaik bukanlah yang paling mahal atau rumit, tapi yang paling bisa menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Netrana membuktikan itu.

    Tongkat ini mungkin terlihat sederhana, tapi nilai yang dibawanya luar biasa: keadilan akses, keselamatan, dan kemandirian.

    Dan mungkin… ini juga jadi pengingat buat kita semua, bahwa setiap langkah kecil kalau dilakukan dengan niat baik dan empati bisa mengubah dunia.

    Karena pada akhirnya, inovasi yang paling berarti adalah yang mampu menyentuh hidup orang lain secara nyata, memperbaiki apa yang selama ini diabaikan, dan memberi ruang bagi mereka yang tak selalu terdengar suaranya.

    Lewat Netrana, mahasiswa UNIKOM telah menunjukkan bahwa inovasi bukan soal seberapa canggih teknologi yang kamu kuasai, tapi sejauh mana kamu bisa membuat teknologi itu berpihak pada manusia. Khususnya mereka yang selama ini harus berjalan sendirian, dalam gelap, tanpa banyak yang peduli.

    Semoga Netrana bukan sekadar proyek, tapi jadi gerakan. Gerakan untuk terus menciptakan solusi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Dan siapa tahu, inovasi berikutnya bisa datang dari kamu?

    Jangan tunggu jadi ahli baru berani bikin solusi. Lihat sekitar, temukan masalah nyata, dan mulai dari apa yang kamu bisa. Siapa pun bisa berkontribusi mulai dari mahasiswa, dosen, bahkan komunitas kecil. Karena inovasi bukan milik segelintir orang, tapi milik semua yang mau peduli.

    Ke depan, harapannya Netrana bisa didistribusikan secara luas ke sekolah luar biasa, komunitas disabilitas, dan bahkan menjadi bagian dari program CSR perusahaan atau pemerintah. Tidak menutup kemungkinan juga untuk mengembangkan versi lanjutan, seperti integrasi dengan AI untuk prediksi rute aman atau fitur komunikasi dua arah antara pengguna dan keluarga.

    Mari kita sama-sama dukung karya-karya seperti ini, karena setiap ide yang lahir dari kepedulian akan selalu punya tempat di hati masyarakat. Dan semoga semangat mahasiswa UNIKOM ini bisa jadi pemantik munculnya lebih banyak inovasi lokal yang berpihak pada sesama!

    #UNIKOM #PKM2025 #InovasiMahasiswa #TeknologiUntukSemua #Netrana #DisabilitasBerdaya #IoTInklusif

    ✅ Artikel ini diadaptasi dari Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-KC) UNIKOM berjudul “Netrana”, karya Adisya Ainun Fatihah dan tim Netrana lainnya.

  • Psikologi di Balik Brand Produk : Menciptakan Keterhubungan Emosional dengan Konsumen

      Ketika Steve Jobs memperkenalkan iPhone pertama pada 2007, dia tidak sekadar menjual ponsel. Dia menjual mimpi tentang masa depan yang lebih sederhana, lebih elegan, dan lebih terhubung. Jutaan orang tidak hanya membeli produk teknologi—mereka membeli bagian dari identitas mereka. Inilah kekuatan psikologi dalam branding: kemampuan untuk menciptakan hubungan emosional yang mendalam antara konsumen dan merek.

      Dalam era di mana konsumen dibanjiri ribuan pilihan setiap hari, brands yang menang bukanlah yang paling murah atau bahkan yang paling berkualitas secara objektif. Brands yang menang adalah yang berhasil menyentuh hati dan pikiran konsumen pada level yang lebih dalam—level psikologis.

      Mengapa Emosi Mengalahkan Logika

      Daniel Kahneman, pemenang Nobel Prize dalam bidang ekonomi, merevolusi pemahaman kita tentang pengambilan keputusan manusia melalui teori “System 1 dan System 2”. System 1 adalah pemikiran cepat, intuitif, dan emosional, sementara System 2 adalah pemikiran lambat, deliberatif, dan rasional. Yang mengejutkan dari penelitiannya: 95% keputusan pembelian dibuat oleh System 1—sistem emosional kita.

      Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa memilih kopi Starbucks seharga Rp 50.000 ketimbang kopi warung seharga Rp 5.000, meski secara objektif kandungan kafeinnya mungkin sama. Mereka tidak membeli kopi; mereka membeli pengalaman, status, dan perasaan menjadi bagian dari komunitas global yang sophisticated.

      Penelitian neurosains dari Harvard Business School menunjukkan bahwa ketika area emosional otak rusak, seseorang menjadi hampir tidak mampu membuat keputusan pembelian, meski fungsi logikanya tetap utuh. Hal ini membuktikan bahwa emosi bukan sekadar “pelengkap” dalam pengambilan keputusan, emosi adalah inti dari prosesnya.

      Lima Pilar Psikologis

      1. Trust and Safety (Kepercayaan dan Keamanan)

      Otak manusia berevolusi untuk prioritas utama: bertahan hidup. Dalam konteks modern, ini diterjemahkan sebagai kebutuhan akan kepercayaan dan keamanan. Brand yang berhasil menciptakan hubungan emosional selalu dimulai dari membangun kepercayaan.

      Contoh klasik adalah Johnson & Johnson selama krisis tahun 1982. Ketika tujuh orang meninggal karena kapsul Tylenol yang diracuni, perusahaan segera menarik semua produk dari seluruh Amerika Serikat dengan biaya $100 juta. Keputusan ini, meski merugikan secara finansial jangka pendek, justru memperkuat trust konsumen. Hingga kini, J&J tetap menjadi salah satu brand paling dipercaya di dunia.

      kepercayaan dibangun melalui konsistensi, transparansi, dan kesiapan untuk menanggung konsekuensi ketika terjadi kesalahan. Psikologi menunjukkan bahwa sekali kepercayaan terbentuk, konsumen akan memberikan “benefit of the doubt” pada brand tersebut dalam situasi yang ambigu.

      2. Identity and Self-Expression (Identitas dan Ekspresi Diri)

      Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan fundamental untuk mengekspresikan identitas dan diterima dalam kelompok. Brand yang cerdas memahami ini dan memposisikan diri sebagai extension dari identity konsumen.

      Harley-Davidson adalah master dalam hal ini. Mereka tidak menjual motor; mereka menjual kebebasan, pemberontakan, dan maskulinitas. Pemilik Harley tidak sekadar konsumen—mereka adalah anggota tribe dengan ritual, nilai, dan bahasa sendiri. Psychological ownership yang terbentuk begitu kuat hingga banyak pemilik Harley yang mentato logo brand tersebut di tubuh mereka.

      Nike juga brilian dalam mengasosiasikan brand dengan aspirasi dan identity. “Just Do It” bukan sekadar tagline; itu adalah manifesto hidup yang meresonansi dengan inner desire konsumen untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.

      3. Nostalgia and Memory (Nostalgia dan Memori)

      Otak manusia memiliki bias positivity terhadap masa lalu. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa kita cenderung mengingat pengalaman masa lalu lebih positif dari kenyataannya. Brand yang pintar memanfaatkan nostalgia untuk menciptakan emotional anchor.

      Coca-Cola adalah ahli dalam hal ini. Kampanye mereka secara konsisten mengevokatif memori indah: keluarga berkumpul, persahabatan, kebahagiaan sederhana. Mereka tidak menjual minuman berkarbonasi; mereka menjual akses ke memori emosional yang terasa hangat dan nyaman.

      Di Indonesia, brand seperti Teh Botol Sosro berhasil mengasosiasikan diri dengan memori masa kecil, kehangatan keluarga, dan “rasa Indonesia”. Ketika konsumen minum Teh Botol, mereka tidak hanya merasakan teh manis, tetapi juga re-experiencing moment-moment berharga dalam hidup mereka.

      4. Social Connection and Belonging (Koneksi Sosial dan Rasa Memiliki)

      Salah satu kebutuhan psikologis paling fundamental manusia adalah rasa memiliki. Brand yang berhasil menciptakan komunitas di sekitar produk mereka memiliki tingkat loyalitas yang luar biasa tinggi.

      Apple adalah contoh terbaik. Mereka berhasil menciptakan ekosistem yang tidak hanya teknis tetapi juga sosial. Pengguna Apple tidak sekadar consumer; mereka adalah anggota komunitas yang membagikan nilai tentang kreativitas, inovasi, dan berpikir berbeda. Psychological investment yang terbentuk begitu kuat hingga switching cost bukan hanya finansial, tetapi juga emosional dan sosial.

      Fenomena yang sama terlihat pada brand-brand seperti Tesla (komunitas environmental consciousness), Xiaomi (komunitas tech enthusiast), atau bahkan Indomie (komunitas kuliner Indonesia).

      5. Purpose dan Meaning (Tujuan dan Makna)

      Generasi milenial dan Gen Z memiliki kebutuhan yang kuat untuk hidup yang meaningful. Mereka ingin brand yang mereka dukung memiliki purpose yang sejalan dengan nilai-nilai personal mereka. Ini bukan sekadar trend marketing; ini adalah shifting fundamental dalam consumer psychology.

      Cognitive Biases dalam Branding: Memanfaatkan “Cacat” Psikologi Manusia

      Anchoring Effect

      Otak manusia memiliki kecenderungan untuk terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima. Dalam branding, ini bisa dimanfaatkan untuk positioning dan pricing strategy.

      Contohnya, ketika Starbucks pertama kali masuk Indonesia, mereka sengaja pricing premium untuk create anchor bahwa ini adalah “luxury coffee experience”. Anchor ini kemudian mempengaruhi persepsi terhadap semua coffee shop premium lainnya.

      Social Proof

      Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung mengikuti perilaki mayoritas. Brand yang cerdas memanfaatkan social proof untuk mempengaruhi consumer behavior.

      Testimoni, celebrity endorsement, dan jumlah followers di media sosial adalah manifestasi dari memanfaatkan social proof bias. Ketika konsumen melihat “orang lain seperti mereka” menggunakan suatu brand, resistensi terhadap brand tersebut menurun drastis.

      Loss Aversion

      Penelitian Kahneman menunjukkan bahwa manusia merasakan rasa sakit karena kehilangan sesuatu 2.5 kali lebih kuat dibanding kesenangan memperoleh sesuatu yang setara. Brand bisa memanfaatkan ini untuk create urgency dan exclusivity.

      Limited edition products, flash sales, atau membership exclusive adalah cara memanfaatkan loss aversion. Konsumen takut “kehilangan kesempatan” lebih dari mereka bersemangat tentang mendapatkan produk.

      Mere Exposure Effect

      Semakin sering kita terpapar pada sesuatu, semakin kita menyukainya (dalam batas wajar). Ini menjelaskan mengapa frekuensi dalam iklan sangat penting, dan mengapa brand consistency across touchpoints krusial untuk membangun keakraban.

      Neuroscience of Branding : Apa yang Terjadi di Otak Konsumen

      Teknologi brain imaging modern memungkinkan kita untuk melihat apa yang terjadi di otak konsumen ketika mereka berinteraksi dengan brand. Temuan-temuannya mengejutkan dan mengubah pemahaman kita tentang perilaku konsumen.

      Brand sebagai Neurological Shortcut

      Otak manusia memproses 11 juta bit informasi per detik, tetapi hanya sadar terhadap 40 bit. Untuk mengatasi information overload ini, otak menciptakan shortcut berupa pattern recognition. Brand yang kuat menjadi neurological shortcut yang memungkinkan otak untuk membuat keputusan cepat tanpa harus memproses semua informasi yang tersedia.

      Ketika seseorang melihat logo Nike, misalnya, otak tidak perlu memproses informasi tentang kualitas produk, teknologi yang digunakan, atau perbandingan dengan kompetitor. Logo tersebut langsung men-trigger asosiasi positif yang sudah terekam dalam ingatan.

      Mirror Neurons and Emotional Contagion

      Penemuan mirror neurons dalam neuroscience menjelaskan mengapa storytelling dalam branding begitu powerful. Ketika kita melihat orang lain mengalami emosi tertentu, mirror neurons di otak kita “firing” seolah-olah kita sendiri yang mengalaminya.

      Inilah mengapa iklan yang menampilkan “real people in real situations” sering lebih efektif dibanding yang hanya menampilkan produk. Ketika konsumen melihat seseorang merasa bahagia menggunakan suatu produk, mirror neurons mereka membuat mereka ikut merasakan kebahagiaan tersebut, dan mengasosiasikannya dengan brand.

      Reward System dan Dopamine

      Ketika konsumen berinteraksi dengan brand yang mereka sukai, otak melepaskan dopamine—neurotransmitter yang berhubungan dengan kesenangan dan hadiah. Yang menarik, penelitian menunjukkan bahwa antisipasi terhadap reward sering menghasilkan dopamine release yang lebih besar dibanding reward itu sendiri.

      Ini menjelaskan mengapa brand yang berhasil menciptakan antisipasi (seperti Apple dengan peluncuran produk mereka, atau Supreme dengan barang yang terbatas) mampu menciptakan perilaku seperti kecanduan pada konsumen mereka.

      Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya

      Superficial Emotional Appeals

      Banyak brand yang mencoba menciptakan hubungan emosional dengan cara yang manipulatif. Konsumen modern sangat sensitif terhadap ketidaktulusan. Daya tarik emosional harus autentik dan konsisten dengan brand actions.

      Ignoring Cultural Context

      Triger emosional dan nilai budaya berbeda lintas demografi dan geografi. Brand yang sukses di satu market belum tentu sukses di market lain tanpa adaptasi yang penuh pertimbangan.

      Over-Promising Under-Delivering

      Ketika brand menciptakan ekspetasi melalui pesan emosional tetapi gagal menyampaikan pada realitas, dampaknya tidak hanya netral—tetapi negatif. Kekecewaan menciptakan emosi negatif yang lebih kuat dibanding kepuasan menciptakan emosi positif.

      Short-Term Thinking

      Membangun keterhubungan emosional adalah investasi jangka panjang. Brand yang fokus pada quarterly results sering kali mengorbankan ekuitas emosional jangka panjang demi keuntungan jangka pendek.

      Mengukur Emotional Connection

      Keterhubungan emosional sulit diukur dengan metrik tradisional seperti sales atau market share. Beberapa metrik yang lebih relevan:

      Net Emotional Value

      Survey konsumen tentang respon emosional mereka terhadap brand menggunakan skala dari negatif ke positif.

      Customer Effort Score

      Mengukur seberapa mudah konsumen berinteraksi dengan brand. Upaya yang lebih rendah sering kali berkorelasi dengan hubungan emosional yang lebih tinggi.

      Social Listening Sentiment

      Analisis emosional dalam mentions brand di social media dan platform online.

      Kesimpulan

      Dalam dunia yang semakin terhubung dan kompetitif, keterhubungan emosional bukan lagi kemewahan—ini adalah kebutuhan. Brand yang bertahan dan berkembang adalah yang memahami bahwa mereka bukan hanya menjual produk atau jasa, mereka menjual emosional, pengalaman, dan identitas

      Wawasan psikologis memberikan kita panduan untuk membangun koneksi secara autentik dan berkelanjutan. Namun, penting untuk diingat bahwa di balik semua teori dan strategi, ada manusia nyata dengan emosi yang nyata. Rasa hormat terhadap sisi kemanusiaan inilah yang membedakan antara manipulasi dan koneksi yang tulus.

      Brand yang benar-benar sukses adalah brand yang melihat konsumen bukan sebagai target untuk dieksploitasi, tetapi sebagai mitra dalam menciptakan nilai bersama. Ketika brand dan konsumen selaras dalam nilai dan emosi, maka akan tercipta hubungan yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bermakna.

      Era emotional branding bukan soal menjual lebih keras—melainkan tentang menjalin koneksi yang lebih dalam. Dan di dalam koneksi yang mendalam inilah terletak masa depan dari branding yang sukses.

      Referensi

      Branding, Emotional. “The new paradigm for connecting brands to people.” New York: Allworth (2001).

      Arvai, Joseph. “Thinking, fast and slow, Daniel Kahneman, Farrar, Straus & Giroux.” (2013): 1322-1324.

      Fournier, Susan. “Consumers and their brands: Developing relationship theory in consumer research.” Journal of consumer research 24.4 (1998): 343-373.

      Zajonc, Robert B. “Attitudinal effects of mere exposure.” Journal of personality and social psychology 9.2p2 (1968): 1.

    • Agama dan Budaya dalam Desain Fashion

      بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ

      Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

      Selamat Datang dan Selamat Membaca.

      Desain Fashion bukan hanya tentang estetika dan tren; ia juga berakar pada Agama dan Budaya yang mendalam. Dalam dunia yang semakin global, penting bagi desainer untuk mempertimbangkan dampak dari karya mereka terhadap masyarakat dan lingkungan. Artikel ini akan mengupas hubungan antara Agama dan Budaya praktik dalam desain fashion.

      Sebelum lebih jauh pada pembahasan pokok artikel ini, sayang rasanya kita sebagai insan berakal melewatkan fundamental dan subtansial mengenai Agama dan Budaya, maka dari itu penulis juga akan mengupas tuntas bagian dari Agama dan Budaya itu sendiri melalui Etika dan Moral.

      Dari yang penulis sadari seharusnya kita mencoba memahami arti dari semua kata dari judul di atas Apa itu Agama? Apa itu Budaya? Apa itu Etika? Apa itu Moral? Desain dan Fasion?


      Karena menurut penulis hal-hal pokok yang mendasar dan mengakar itu terdapat dalam intisari definisi itu sendiri. Agar dapat meluruskan yang bengkok, menyambungkan yang terputus, dan mengkukuhkan yang goyah. Maka dengan ini mudah bagi kita menyadari dan memahami sesuatu yang salah dan benar, baik dan buruk, tepat dan tidak, serta adil dan dzolim.

      Arti, Makna, dan Pengertian


      1. Pengertian Agama

      Definisi tentang agama di sini sedapat mungkin sederhana dan menyeluruh. Definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit maupun terlalu longgar, tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Agama merupakan suatu lembaga atau institusi yang mengatur kehidupan jasmani dan rohani manusia.

      Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa di luar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal TuhanDewaGodSyang-tiKami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige, dan lain-lain.

      Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan; dan menaati segenap ketetapan, aturan, hukum, dan lain-lain yang diyakini berasal dari Tuhan.

      Dengan demikian, agama adalah penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam sudut pandang linguistik penghambaan adalah Kata Verba/Kata Kerja yang artinya suatu perbuatan atau tindakan, proses, gerak, keadaan atau terjadinya sesuatu. Dalam pengertian agama terdapat tiga unsur, yaitu manusia, penghambaan, dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

      Lebih luasnya lagi, agama juga bisa diartikan sebagai jalan hidup, yakni bahwa seluruh aktivitas lahir dan batin pemeluknya diatur oleh agama yang dianutnya. Bagaimana kita makan, bagaimana kita bergaul, bagaimana kita beribadah, dan sebagainya ditentukan oleh aturan/tata cara agama.

      1. Pengertian Budaya

      Membudaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Membudaya yakni Budaya yang terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaianbangunan, dan karya seni. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari.

      Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

      Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. “Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang, dan “kepatuhan kolektif” di Tiongkok.

      Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain atau bisa disebut generalisasi/stereo type dalam kehidupan suatu kelompok atau komunitas, baik secara mikro dan makro.

      1. Pengertian Etika

      Secara bahasa kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar.

      Sedangkan pengertian etika secara umum adalah aturan, norma, kaidah, ataupun tata cara yang biasa digunakan sebagai pedoman atau asas suatu individu dalam melakukan perbuatan dan tingkah laku. Penerapan norma ini sangat erat kaitannya dengan sifat baik dan buruknya individu di dalam bermasyarakat.

      Dengan begitu, Etika adalah ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakatnya. Atau bisa dikatakan juga bahwa etika mencakup nilai yang berhubungan dengan akhlak individu terkait benar dan salahnya.

      Adapun banyak jenis etika yang dapat kita jumpai di lingkungan sekitar, misalnya, etika berteman, etika profesi atau kerja, etika dalam rumah tangga, etika dalam melakukan bisnis, dan semacamnya.

      Etika tentunya harus dimiliki oleh setiap individu dan sangat dibutuhkan dalam bersosialisasi yang mana hal itu menjadi jembatan agar terciptanya suatu kondisi yang baik di dalam kehidupan bermasyarakat.

      Sebagai contoh, etika yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan sekitar, yakni mengucap salam saat bertamu ke rumah orang, baik itu saudara, kerabat, maupun teman. Kemudian, meminta maaf setelah kita berbuat kesalahan, dan mengucapkan terima kasih saat seseorang telah menolong atau membantu kita.

      1. Pengertian Moral

      Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.

      Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.

      Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.

      Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.

      Adapun pengertian moral dalam kamus filsafat dapat dijabarkan sebagai berikut:

      • Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau tidak tepat.
      • Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik, adil dan pantas.
      • Memiliki Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsyafan benar atau salah. Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah- kaidah perilaku nilai benar dan salah.
      • Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain

      Secara umum, MORAL dapat diartikan sebagai batasan pikiran, prinsip, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia tentang nilai-nilai baik dan buruk atau benar dan salah. Moral merupakan suatu tata nilai yang mengajak seorang manusia untuk berperilaku positif dan tidak merugikan orang lain. Seseorang dikatakan telah bermoral jika ucapan, prinsip, dan perilaku dirinya dinilai baik dan benar oleh standar-standar nilai yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.

      1. Pengertian Fashion

      Secara khusus dapat dikatakan Fashion adalah gaya berpakaian yang digunakan setiap hari oleh seseorang, baik itu dalam kehidupan sehari-harinya ataupun pada saat acara tertentu dengan tujuan untuk menunjang penampilan.

      Atau definisi Fashion yaitu gaya berbusana yang populer dalam suatu budaya atau sebagai mode. Ada juga yang berpendapat bahwa fashion merupakan gaya berbusana yang menentukan penampilan dari seorang individu. Kata Fashion sendiri berasal dari bahasa Inggris yang dapat diartikan sebagai mode, model, cara, gaya ataupun kebiasaan.

      Saat ini fashion sangat erat hubungannya dengan gaya hidup. Gaya hidup seorang individu dapat di nilai dari cara dia berpakaian. Seiring berjalannya waktu gaya hidup-pun ikut menunjukan dan menentukan status sosial dan pekerjaan dari seorang individu. Fashion tidak haya berkaitan dengan gaya dalam berpakaian saja, akan tetapi berhubungan juga dengan gaya aksesoris, kosmetik, gaya rambut, dan lain-lain yang dapat menunjang penampilan seseorang.

      Fashion itu berkembang seiring berjalannya waktu, seperti contohnya jika fashion di tahun 2000 – an tentunya sangat berbeda dengan era yang sebelumnya. Di era tahun 2000 – an atau disebut juga dengan era Milenium para pencinta fashion dibebaskan untuk berekspresi sesuai dengan keinginan dan ke pribadiannya masing-masing. Seperti mencampurkan beberapa mode dari era yang sebelumnya dengan menggunakan sentuhan masa depan yang modern. Walaupun pada saat ini berbagai merek fashion terkenal mengeluarkan produk-produk yang sesuai dengan musimnya maupun perbedaan tema, tapi pada akhirnya keputusan untuk bergaya tergantung kepada para pemakainya.

      1. Pengertian Desain

      Kalin pasti pernah mendengar istilah desain, misalnya desian baju, desian rumah, desian bangunan, kendaraan dan desian lainnya. Tapi tahukah agan apa itu pengertian desain?

      Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan, baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk benda nyata.

      Desain berasal dari bahasa Inggris (design) yang berarti “Rancangan, rencana atau reka rupa” dari kata design muncullah kata desain yang berarti mencipta, memikir atau merancang. Baca juga: 6 Elemen yang ada pada desain

      Pengertian Desain Secara Umum

      – desain dapat diartikan sebagai rancangan yang merupakan susunan dari garis, bentuk, ukuran, warna serta value dan benda yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip desain (kata benda).

      – desain dapat diartikan sebagai proses perencanaan bentuk dengan tujuan supaya benda yang dirancang, mempunyai fungsi atau berguna serta mempunyai nilai keindahan. (kata kerja).

      Kesimpulan : desain merupakan bentuk rumusan dari proses pemikiran, pertimbangan dan perhitungan dari desainer yang dituangkan dalam wujud gambar.

      1. Sejarah Desain Busana
      • Abad 700-1000 SM

      Secara historis, sejak 700-1000 SM, tekstil dan kain telah didokumentasikan sebagai salah satu produk penting yang dipertukarkan atau diperdagangkan antara bangsa-bangsa dan kerajaan di Asia Tenggara. Sebagai contoh, Kerajaan Sriwijaya (Palembang) memperdagangkan sumber daya alamnya untuk untuk ditukar dengan sutra dan gerabah dari Cina, dan dengan India, mereka menukarkannya untuk kapas.

      Menilik sejarah fashion di Indonesia tak akan jauh dari yang namanya batik dan kebaya, dua pasangan sejoli yang kini sedang ‘mencoba’ populer kembali dengan berbagai modifikasi dari desainer-desainer top tanah air.


      • Abad ke-15 atau ke-16 Masehi

      Dan akhirnya, Jawa menjadi Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara.

      Kata Kebaya dapat diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. Argumen Lombard tentu dapat diterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang memang sampai saat ini kita masih mengenal ‘Abaya’ yang dapat diartikan tunik panjang khas Arab.


      • Abad ke-17

      Sedangkan batik dikenal sejak abad ke-17 yang dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya muncullah corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.

      Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

      • Abad ke-18

      Hingga pada pertengahan abad ke-18, ada dua jenis kebaya yang banyak dipakai masyarakat, yakni kebaya Encim, busana yang dikenakan perempuan Cina keturunan di Indonesia, dan kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif yang cantik.

      • Abad ke-19

      Pada abad ke-19, kebaya dikenakan oleh semua kelas sosial setiap  hari, baik perempuan Jawa maupun wanita peranakan Belanda. Bahkan kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia.

      1. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Desain Busana di Indonesia

      Tahunnya trend fashion selalu berubah-ubah, hal ini disebabkan karena kebanyakan orang tidak ingin memakai baju/pakaian yang modelnya sama setiap tahunnya. Perubahan trend fashion mulai baju yang di pakai sehari-hari sampai busana muslim pun kini telah mengalami perkembangan fashion yang cukup pesat. Berbagai model yang unik dan glamor banyak terlihat di pakai oleh kalangan artis dan publik figur yang selalu ingin menjadi trendsetter.

      1. Desain Fashion dalam Agama

      Di era yang modern ini, manusia menjadi suatu makhluk yang tamak, angkuh, serakah serta merusak. Dampak dari kemajuan suatu ilmu pengetahuan melalui pendekatan duniawi dan jasmani, dalam sudut pandang duniawi dan jasmani manusia hanya berorientasi serta tujuan hidupnya hanya berlandas dan berdasar pada angka, kemewahan, hura-hura, foya-foya, tanpa memerhatikan ruhnya sendiri, hanya memikirkan perut dan dibawah perut. Sehingga banyak sekali masalah-masalah terkait ruhani manusia itu sendiri, banyak sekali diantaranya;

      PARA PEJABAT MENCURI UANG RAKYAT

      PARA KONGLOMERAT MENGENDALIKAN WAKIL RAKYAT

      RAKYAT BUNUH DIRI, MENJUAL DIRI, BUNUH MEMBUNUH, MENCURI DICURI, TIPU MENIPU, PERKOSA MEMPERKOSA, BODOH MEMBODOHI

      dan banyak lagi yang penulis tidak bisa curahkan disini.

      Diatas, Penulis hanya sedikit membawa kesadaran setiap insan berakal kepada dampak dari orientasi atau tujuan yang salah dalam hidup, hilangnya etika dan moral disebabkan memudarnya rohani karena terlalu fokus pada duniawi dan jasmani.

      Terlalu sempit! dan lebih dari itu sejatinya manusia itu tercipta dari 2 unsur yaitu unsur jasmani dan ruhani. Manusia menjadi angkuh merasa sudah memiliki sesuatu dengan ikhtiari, validasi, dan apresiasi, sebagaimana yang kita lihat dalam hidup berkehidupan kemajuan duniawi dan jasmani tidak lagi relevan menjadi solusi, baik hari ini dan nanti.

      Maka dari itu lewat Perintah dan Larangan Tuhan atau bisa disebut dengan praktek ibadah itu sendiri tidak lain dan tidak bukan untuk mengatur manusia agar terciptanya hidup berkehidupan yang aman, tenang, dan nyaman bagi segenap jasmani dan rohani seluruh makhluk di semesta ini, untuk makhluk yang bodoh dan fana ini, Manusia!

      Dalam koridor atau sudut pandang agama, Fashion/busana ialah salah satu hukum/aturan sosial untuk menjaga dan memelihara suatu masyarakat agar terciptanya lingkungan harmonis, tentram, aman, dan nyaman.

      Bayangkan bagaimana jika kita memisahkan kehidupan beragama dari fashion kita sehari hari? pernahkah ada agama yang kita ketahui, menyuruh umat beragamanya untuk tidak berbusana dalam aktivitas bersosial? seperti sedang bekerja? sekolah? atau sekedar berinteraksi dengan teman temannya? ataukah ada suatu agama yang menyuruh umatnya mendorong untuk memikat lawan pasangannya dengan busana yang terbuka dan sexy?

      Bayangkan sekacau apa dunia ini jika kita memisahkan kehidupan dunia tanpa agama? dengan realita sekarang yang jauh dari kata aman, melihat berita, mendengar info dari seseorang hanyalah kasus dan kasus seperti salah satunya pemerkosaan.

      Karena Tuhan adalah Sang Maha Pencipta, Dia tahu apa yang terbaik bagi makhluknya terkhusus manusia dan sekaligus Dialah yang mempunyai Kebenaran Mutlak yang obyektif tanpa bantahan, jelas akan memperintahkan makhluknya untuk beretika dan bermoral agar tidak menimbulkan masalah yang merusak, salah satu perintahnya itu menutup aurat/berbusana dengan layaknya sesuai norma norma dalam berkehidupan seperti halnya wajib hukumnya seorang istri memperlihatkan keindahan lebih dari wajahnya hanya kepada suaminya, begitupun sebaliknya haram hukumnya bagi seorang perempuan untuk memperlihatkan keindahan lebih dari wajahnya kepada yang bukan suaminya.

      Dalam koridor fashion dan agama, tidak sedikit juga kasus pemerkosaan itu terjadi karena kecerobohan korban karena ingin terlihat menarik dihadapan lawan jenisnya dengan menggunakan pakaian terbuka dan seksi, sehingga membuat ketidakontrolan pelaku mengejawantakan nafsu syahwat birahinya seperti binatang bahkan lebih hina lagi, yang jelas murni biadabnya.

      Tapi lebih dari itu ada hal-hal mendasar selain dari murninya kebejatan pelaku, pasti ada sebab dalam hal ini pemerkosaan seperti menganalisa dan mengobservasi;

      Pelaku

      Korban

      1. Desain Fashion dalam Budaya

      Budaya dalam hal ini sesuatu yang sudah melekat dalam suatu suku, ras, negara, baik dalam agama yang terbentuk karena sebuah aturan, kebiasaan, dan mungkin iklim diwilayah itu sendiri seperti di Kanada rata-rata suhu disana mencapai -5,35C membuat kebiasaan berbusana mereka menggunakan bahan yang hangat dan tebal agar terhindar dari dinginnya suhu.

      1. Etika dan Moral Budaya Fashion di Eropa

      Selain dari iklim itu sendiri budaya juga mencakup adat istiadat yang mencakup etika dan moral, kalian bisa melihat di video ini.

      Model pakaian tentu mengalami perubahan dan perkembangan setiap waktunya. Bagaimana reaksi wanita zaman dulu terhadap model pakaian topless.

      Model pakaian adalah rancangan pada pakaian, meliputi pola, bentuk, motif-motif dan segala bentuk hal baru pada pakaian.

      Saat membandingkan model pakaian lama dan baru, biasanya terdapat perbedaan yang dapat kita bedakan.

      Minimal jenis warnanya tidak sama, kalaupun sama setidaknya motifnya berbeda. Topless merupakan salah satu jenis dari model-model pakaian.

      Model pakaian topless adalah model pakaian yang rancangannya pada bagian atasnya tampak terbuka. Kita biasanya melihat pada gaun-gaun.

      Dilansir pada channel Youtube @CordovaMedia, terdapat reaksi dari wanita di inggris. Wanita-wanita tersebut sedang melihat dress jenis toples atau terbuka pada bagian atasnya.

      Lalu setelah melihat model pakaian tersebut, wanita-wanita pun menyampaikan komentarnya. Dokumentasi ini dari tahun 1964.

      Dalam video, orang-orang melihat model pakaian topless tersebut beberapa detik.

      Lalu wanita pertama menyampaikan pendapatnya, dia mengatakan ‘aku tidak mau memakainya’ sambil menggeleng kepalanya.

      Lanjut ke wanita yang disebelahnya, wanita tersebut diberi pertanyaan ‘bagaimana pendapatmu?’. Wanita kedua menjawab ‘menjijikkan’. Diberi pertanyaan lagi ‘mengapa?’.

      Wanita kedua menjawab lagi, ‘perempuan yang tahu sopan santun, tidak akan berkeliaran dengan baju seperti itu’.

      Selanjutnya wanita ketiga, dia langsung mengatakan ‘menjijikkan’. Wanita ketiga kemudian diberi pertanyaan ‘mengapa?’.

      Wanita ketiga menjawab ‘Tidak tahu, jijik saja. Aku tidak akan mau memakainya. Tidak cocok di kota (Wolverhampton)’.

      Sambungan wanita keempat ‘kurasa ini hanya gimik (pemicu perhatian orang). Menurutku perempuan yang waras tidak akan mau memakainya’. Lalu video berakhir.

      Postingan ini mendapat reaksi positif dari netizen. Dengan like lebih dari 1,2k, komentarnya lebih dari 28k. beberapa komentar menarik, seperti:


      @CAMERATECH-m5i

      Fakta Ini bukan Hanya Dilupakan. Fakta & sejarah ini Sengaja diSembunyikan Oleh Dunia Terutama Barat.


      @SimpleLifeisBeautiful

      Video diatas adalah benar, ketika saya jalan2 ditaman dikota Birmingham, saya melihat ada orang tua (pensiunan) ngeliatin istri saya, beliau bercerita jika wanita2 uk dulu memakai scarf dikepala sambil nunjuk jilbab istri saya, tapi sekarang sudah sangat jarang (hampir gak ada) kata beliau dengan wajah yg sedih sambil mengingat masa2 lalu


      @fadlilintangwijaya4209

      (edited)Membedakan wanita baik-baik dan yang buruk itu di jaman dulu ternyata mudah juga ya

      @KOMENTATOR_Handal

      Harga diri dan martabat wanita sangat dijaga, malah justru para Bangsawan pada masanya memakai gaun tebal dan panjang, selain cuaca juga sebagai bentuk kemewahan. Semuanya berubah, saat memasuki era revolusi politik, ketika liberalisme mula muncul di eropa lebih dahulu di Prancis

      @SqueekGame

      I Korintus 11: 6 “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya,”

      Surah Al Ahzab ayat 59

      يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

      Artinya: Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

      Adapun di belahan bumi lain yaitu tanah air kita tercinta yaitu Indonesia.

      1. Etika dan Moral Budaya Fashion di Indonesia

      a. Sejarah Kabaya

      b. Etimologi

      Istilah “kebaya” diyakini berasal dari kata serapan Arab kaba atau qaba yang berarti “pakaian” istilah ini mungkin berhubungan dengan kata Arab abaya (bahasa Arab: عباءة) yang berarti jubah atau garmen longgar. Istilah tersebut kemudian diperkenalkan ke Nusantara melalui kata serapan dari bahasa Portugiscabaya.

      c. Latar belakang

      • Dari Timur-Tengah

      Ada kemungkinan besar bahwa asal-usul kebaya berasal dari Timur Tengah dikarenakan komposisi akar budayanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya keterkaitan kebaya dengan qaba dari Arab yang merupakan sejenis jubah panjang kendur yang dikemukakan oleh orientalis Henry Yule dan Arthur Burnell pada tahun 1886. Pakaian-pakaian dari tanah Arab memang sudah dikenal sejak abad ke-7 masehi, beberapa jejak sejarah bahkan menunjukkan bahwa Nabi Islam Muhammad mendapatkan hadiah berupa aqbiya (yang merupakan bentuk jamak dari qaba) dalam beberapa kejadian. Banyak ahli berpendapat bahwa orang Persia merupakan asal-usul utama dari qaba. Selain itu dengan adanya penyebaran agama Islam melalui proses perdagangan dan sebagainya, tata busana seperti ini tidak lagi hanya ditemukan di tanah Arab, tetapi juga di tanah Persia, Turki, dan Urdu.[19] Dikarenakan bentuk fisiknya, banyak sumber yang menyatakan bahwa kebaya berasal dari busana Muslim yang dinamai sebagai qabahabayaal akibiya al turkiyya dan djubba. Klaim bahwa kebaya kemungkinan berasal dari Dunia Arab sangatlah mungkin, sebagaimana Islam merambah ke Dunia Melayu pada abad ke-15 masehi dan para wanita Melayu mulai mengikuti norma busana Islamik.[5][8] Sebelum adanya Islam, para penduduk wanita memang memakai pakaian dengan helai yang lebih sedikit.

      Sebelum Islam datang di Nusantara pada abad 15, masyarakat indonesia pada umunya bertelanjang dada baik pria maupun wanita.

      Telanjang dada bagi perempuan di Indonesia pada masa lalu merupakan hal yang lumrah. Tidak ada tudingan porno ataupun pamer keseksian. Ini karena tradisi ketika itu belum mengenal etika dan moral

      Perempuan-perempuan tak berpenutup dada tak hanya di Papua saja di masa lalu, tapi di banyak daerah di Indonesia. Di Jawa, kaum perempuan biasanya hanya menutup dadanya dengan kemben yakni sebuah kain yang dililit di bagian dada. Baru setelah periode 1900-an, perempuan di Jawa mulai mengenakan kebaya.

      Di Sulawesi Selatan, para perempuan biasa memakai baju bodo yang mirip kebaya, tetapi tipis dan longgar. Saking tipisnya, baju bodo pada masa itu terlihat transparan sehingga memperlihatkan payudara pemakainya.

      • Zaman Hindia Belanda

      Di zaman Hindia Belanda, perempuan yang berjalan di muka umum tanpa mengenakan penutup dada adalah hal yang biasa. Di masa tersebut, hal itu kadang menjadi salah satu sebab terjadinya pemerkosaan. banyak diantaranya masalah birahi muncul di kalangan laki-laki Belanda yang melihatnya. Pernah ada cerita acara bongkar muat kapal Belanda yang tertunda satu jam, karena pelaut-pelaut Belanda terpesona pada pemandangan di atas perut perempuan itu.

      Dalam film The Legong Dance of the Virgin, yang dibuat rumah produksi Amerika di tahun 1933, perempuan Bali digambarkan tidak memakai kutang. Mereka terbiasa bertelanjang dada. Film ini berkisah soal cinta segitiga yang berakhir tragis bagi seorang gadis penari legong.

      Selain film cerita ini, dalam film dokumenter Moeder Dao (1995), terdapat dokumentasi perempuan-perempuan tak berpenutup dada di sebuah daerah di Indonesia sekitar tahun 1930. Tentu saja daerah itu jauh dari pusat industri, di mana kain bisa jadi dianggap barang mewah. Perempuan-perempuan berbaju lebih sering ditemukan di pabrik, perkebunan atau kota.

      Remy Sylado punya imajinasi sendiri soal bagaimana orang Indonesia mengenal pakaian. Dalam novelnya Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil (2007), Remy menceritakan bangsawan berdarah Spanyol-Perancis, bernama Don Lopez Comte de Paris, melihat perempuan Jawa, yang ikut membangun jalan raya pos Anyer Panarukan. Atas perintah Deandels yang berkuasa dari 1808 hingga 1811, para perempuan itu hanya memakai pakaian yang menutup bagian bawah tubuh mereka saja. Dada mereka terlihat. Don Lopez lalu memberi sebuah kain pada perempuan pribumi yang tercantik diantara mereka dan menyuruhnya agar menutup bagian berharga di atas perut itu.

      “Coutant! Coutant!” perintah Don Lopez. Kebetulan dalam bahasa Perancis, berharga diartikan sebagai coutant.

      Belakangan orang Indonesia mengucapkannya sebagai kutang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara atau baju tanpa lengan.

      Baju tanpa lengan seperti kaos oblong, yang berfungsi sebagai pakaian dalam laki-laki juga, sering sebut sebagai kaos kutang juga. Kata koetang, dalam ejaan lawasnya, sering dipakai setidaknya di zaman kolonial. Seringkali ditemukan dalam bacaan-bacaan dalam bahasa Melayu.

      Kesimpulan

      Agama dan budaya dalam fashion desain bukanlah sekadar tren, melainkan fondasi yang penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbudaya, bernegara, dan beragama yang lebih baik dan adil. Dengan kesadaran yang lebih besar dan komitmen terhadap praktik yang etis, desainer dapat memberikan kontribusi positif tidak hanya kepada dunia fashion, tetapi juga kepada masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan. Fashion yang baik adalah fashion yang tidak hanya indah, tetapi juga bijaksana.

      Diera digital informasi ini yang sifatnya efektif, efisien serta cepat perubahannya perlu disadari hidup ini sedang dalam pengendalian dan pengaturan suatu zat, seperti kita lihat jaman dulu di eropa yang sebelumnya reaksi wanita jijik dan enggan memakai busana terbuka dan seksi, tidak seperti sekarang banyak wanita berlomba lomba untuk lebih terlihat cantik dengan memakai busana seksi, dan sebaliknya di indonesia sangat dulu sekali wanita dinusantara tidak malu untuk mengenakan pakaian yang bertelanjang dada, sekarang masyarakat lebih menutup dirinya dan lebih mempunyai rasa malu dan hormat terhadap dirinya sendiri.

      Mengapa Penulis seperti selalu mencontohkan segala sesuatunya kepada wanita? Penulis ingin mengajak kesadaran pembaca bahwa tulang punggung generasi itu ada pada wanita dan lelaki sebagai pundaknya generasi. Jelas sekali terlihat dan terasa bahwa fitrah atau maksud dari wanita tercipta adalah untuk memelihara dan merawat generasi, dasar alasannya yaitu, siapa yang pertama memelihara dan merawat kita sebelum kita terlahir di dunia? dari anggota tubuh siapa kita terlahir?siapa yang memberi makan dan minum saat kita berada dalam kandungan? siapa yang menyusui atau menyapi saat kita terlahir? yang jelas hal-hal ini tidak bisa lelaki lakukan. begitu dahsyat dan massivenya peran wanita dalam kehidupan.

      Sebelum Manusia itu dapat survive dan mandiri untuk mempertanggungjawabkan dirinya sendiri, ia berada dalam pemeliharaan orangtuanya terkhusus wanita dalam sudut pandang islam wanita adalah madrasah pertama dalam arti lain bahwa pendidikan pertama seorang anak ada pada wanita.

      Maka daripada itu mudah sekali untuk menghancurkan generasi. Hancurkanlah wanitanya, geserkan arah/kiblat hidupnya bukan untuk membangun anak yang cerdas dan sholeh. Dengan demikian hancurlah sebuah generasi.

      Dan karena lelaki sebagai pundaknya generasi haruslah bertanggungjawab dalam perilaku dan tindakan seorang perempuan, entah itu istrinya, anaknya, sekalipun sodara perempuannya agar terjaga dan terlindungi dari orientasi dan tujuan hidup yang salah yang dapat menghancurkan generasi dan dirinya sendiri.

      Apakah hal ini terjadi secara kebetulan dan alami tanpa ada yang merencanakan?mengendalikan?memobilisasi?memanipulasi? jelas tidak! ada pihak pihak yang ingin menghancurkan setiap generasi agar lebih bodoh dan mudah dikendalikan untuk keuntungan dan kepentingan segelintir elit yang ingin memonopoli kekayaan dan kekuasaan segenap mahkluk dimuka bumi ini dari manusianya sampai tanah air yang dipijaknya.

      Hal-hal yang melekat dalam diri adalah kewajiban setiap individual untuk mengendalikannya, mengaturnya, dan mengelolanya. Terutama Desainer haruslah bertanggungjawab penuh baik ditunggangi suatu kepentingan ataupun tidak, karena Desainer sangat berperan penting khususnya membangun generasi untuk menyiapkan segala alat, sarana, dan prasarana masyarakat agar tidak mengandung marabahaya dan terhindarkan dari malapetaka.

      Pertanyaannya,

      Kepada Yth,

      Seluruh Desainer Dan Jajarannya

      di UNIKOM INDONESIA

      Siapakah yang paling layak dan pantas untuk mengendalikan kita?

      Writer: Paisal Nuryakin
      NIM: 51922221
      Desain Komunikasi Visual

      Sumber :

      https://id.wikipedia.org/wiki/Agama

      https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

      Pengertian Etika: Macam-Macam Etika & Manfaat Etika
      Pengertian Moral dan Macam-macamnya
      Apa Itu Fashion

      https://www.istockphoto.com/id

      https://www.merdeka.com/trending/reaksi-tak-terduga-para-wanita-lihat-pakaian-terbuka-bagian-dada-di-tahun-1964.html?page=5

      https://id.wikipedia.org/wiki/Kebaya

      https://tirto.id/sejarah-kutang-nusantara-byuk

    • Peran Teknologi Dalam Evolusi Desain Komunikasi Visual

      Desain Komunikasi Visual (DKV) merupakan bidang yang selalu berkembang, di mana seni dan teknologi bertemu untuk menciptakan sebuah pengalaman visual yang menarik dan informatif. Dalam era digital saat ini, teknologi telah memainkan peran penting dalam evolusi DKV, memberikan alat, metode, dan platform baru yang memungkinkan desainer untuk mengekspresikan ide-ide mereka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. memadukan sebuah karya seni dan teknologi untuk menyampaikan sebuah pesan secara efektif melalui beberapa kandungan maupun elemen berbentuk visual. Seiring dengan kemajuan teknologi, DKV mengalami transformasi yang signifikan yang tidak hanya mempengaruhi cara desainer bekerja tetapi, juga cara pesan yang disampaikan kepada audiens. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi peran penting teknologi dalam evolusi DKV, dari alat desain hingga platform distribusi, serta dampaknya terhadap kreativitas dan strategi komunikasi dan mengeksplorasi secara mendalam berbagai aspek teknologi, mulai dari sejarah, alat desain modern, dampak media sosial, hingga kecerdasan buatan dan tren masa depan.

      1. Sejarah Singkat Desain Komunikasi Visual

      Sebelum membahas peran teknologi, penting untuk memahami akar DKV. Desain komunikasi awal mulanya sudah ada saat manusia untuk pertama kalinya menggunakan sebuah bentuk simbol dan gambar untuk alat berkomunikasi. Di zaman kuno, seni pahat dan lukisan dinding digunakan untuk menyampaikan cerita dan informasi. Dikarenakan adanya sebuah proses kemajuannya zaman, terutama dengan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15, maka cara informasi yang disebarkan sudah mengalami sebuah revolusi.

      Pada saat di abad ke-20, desain muncul ke permukaan disebut sebagai hal disiplin yang terpisah dan ada hal yang dipengaruhi oleh berbagai Gerakan karya seni seperti seni Modernisme dan Bauhaus. Dalam meningkatnya dunia teknologi cetak maupun fotografi dapat memberikan sebuah ide baru desainer untuk menciptakan karya yang lebih kompleks, terstruktur, dan estetis. Namun, dengan kemunculan komputer dan perangkat lunak desain pada akhir abad ke-20, DKV memasuki era baru yang membawa perubahan dramatis dalam cara karya-karya desain diciptakan dan disebarkan.

      2. Alat Desain Digital

      Alat desain digital telah mengubah lanskap DKV secara radikal. Salah satu perubahan paling mendasar dalam DKV, yaitu peralihan dari teknik manual ke alat desain digital. Sebelum adanya berbagai alat perangkat lunak untuk desain komputer, para desainer di masa lalu sangat bergantung pada beberapa teknik manual maupun alat tradisional yang banyak dipakai, yaitu menggunakan alat tradisional seperti pensil, tinta, dan kertas untuk menciptakan karya mereka. Namun untuk saat ini dengan kemunculan berbagai jenis perangkat lunak, seperti Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Adobe InDesign, Adobe Creative Suite, CorelDRAW, dan Sketch sudah menjadi sebuah standar di bidang industri desain sehingga proses desain saat ini sudah menjadi lebih efisien dan kreatif. Beberapa aspek penting dari alat desain digital tersebut memberikan berbagai fitur yang dapat memudahkan serta memungkinkan seorang desainer untuk melakukan berbagai hal, yaitu:

      • Menciptakan, mengembangkan serta mengedit visual secara efektif dan efisien dengan beberapa teknologi digital, seorang desainer dengan mudah dapat menciptakan, mengembangkan maupun mengedit sebuah elemen visual dengan lebih mempercepat proses desain yang dibuat. Mereka dapat mengubah warna, bentuk, dan teks hanya dengan beberapa klik.
      • Eksperimen dengan gaya dan teknik teknologi memungkinkan desainer untuk bereksperimen dengan berbagai gaya dan teknik tanpa harus memulai dari awal. Misalnya, seperti efek lapisan dan transparansi dapat diterapkan dengan mudah dan memberikan sebuah dimensi baru pada desain.
      • Mengakses sumber daya tak terbatas dengan fasilitas internet yang menyediakan akses ke berbagai sumber daya, seperti template, font, dan gambar stok. Sehingga desainer dapat menghemat waktu dan energi dengan memanfaatkan sumber daya ini dalam proyek mereka. Desainer kini dapat dengan mudah mengintegrasikan elemen-elemen ini ke dalam proyek mereka, menghemat waktu dan meningkatkan kualitas desain.
      • Memberikan hal yang terstruktur untuk pengguna yang intuitif pada perangkat lunak desain modern yang dirancang dengan sistem antarmuka yang lebih mudah dipahami, memungkinkan untuk desainer, bahkan yang baru, untuk selalu bisa dalam beradaptasi dengan cara cepat dan mulai bekerja dengan kategori waktu dan pengerjaan secara efisien.
      • Memberikan sebuah fleksibilitas dan kemudahan modifikasi dan alat digital memungkinkan desainer untuk dengan mudah mengedit elemen visual, mengubah warna, dan mengatur layout hanya dengan beberapa klik. Hal ini sangat penting dalam dunia yang bergerak cepat, di mana perubahan sering kali diperlukan dalam waktu singkat.
      • Kemampuan untuk menciptakan efek yang kompleks dengan fitur seperti lapisan, masker, dan efek khusus, desainer dapat menciptakan karya yang lebih rumit dan menarik. Ini membuka kemungkinan baru dalam eksplorasi estetika visual.
      3. Peran Internet dan Media Sosial

      Media sosial telah merevolusi cara desain komunikasi visual dipublikasikan dan didistribusikan dan sangat berguna untuk mendistribusikan berbagai konten visual. Desainer DKV harus memahami cara kerja algoritma dan preferensi pengguna untuk memaksimalkan dampak desain mereka. Platform seperti Instagram, Pinterest, dan Facebook bukan hanya tempat untuk berbagi karya, tetapi juga alat penting untuk pemasaran dan interaksi dengan audiens. Beberapa dampak media sosial dalam dunia DKV antara lain, yaitu:

      • Keterhubungannya tingkat global dengan media sosial dapat memberikan peluang bagi desainer untuk menjangkau sekumpulan audiens yang luas hingga tingkat global. Dengan memanfaatkan tagar dan kampanye media sosial, desainer dapat meningkatkan visibilitas karya mereka dan menarik perhatian klien potensial.
      • Feedback langsung dari audiens melalui platform media sosial memungkinkan desainer untuk menerima umpan balik langsung dari audiens. Interaksi tersebut dapat memberikan berbagai wawasan penting dan berharga yang dapat digunakan desainer untuk memperbaiki karya desain pada masa depan.
      • Tren visual yang cepat berubah dengan media sosial memfasilitasi penyebaran cepat tren visual baru. Desainer perlu tetap mengikuti perkembangan ini agar tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan selera audiens yang terus berubah.
      • Menampilkan konten yang interaktif dan dinamis dalam media sosial memungkinkan desainer untuk menciptakan konten yang lebih interaktif, seperti video, gif, dan cerita. Ini memberikan pengalaman yang lebih menarik dan memperkuat keterlibatan audiens.
      • Menampilkan visual yang menarik dengan adanya beragai konten yang saling bersaing yang ada di media sosial, visual yang memiliki sebuah tampilan menarik, lebih dapat memberikan sebuah perhatian yang lebih kepada pengguna. Desainer perlu menciptakan karya yang dapat dengan cepat menyampaikan pesan dalam waktu singkat.
      • Format yang beragam pada setiap platform memiliki format visual yang berbeda. Desainer harus mampu menyesuaikan karya mereka agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing platform, baik itu gambar, video, atau cerita.
      • Interaksi audiens di media sosial dapat berkontribusi untuk desainer dalam hal sebagai alat interaksi langsung yang tertuju langsung kepada audiens. Sebuah timbal balik yang dapat diterima untuk digunakan sebagai peningkatan sebuah desain di masa yang akan datang.
      4. Keterhubungan Global

      Teknologi telah menghapus batasan geografis dalam dunia desain. Beberapa platform seperti Dribbble, Behance, maupun Instagram dapat memungkinkan desainer dalam hal memamerkan berbagai karya yang telah diciptakan oleh mereka kepada luasnya penikmat karya visual hingga kepada audiens global. Keterhubungan ini memberikan beberapa keuntungan, yaitu:

      • Menimbulkan sebuah inspirasi dari berbagai budaya desainer dapat terinspirasi oleh tren dan gaya dari seluruh dunia, serta memperkaya pendekatan kreatif antar desainer.
      • Kolaborasi antar desainer dengan teknologi dapat memfasilitasi kolaborasi antar desainer dari berbagai belahan dunia. Proyek dapat dikerjakan secara bersamaan dengan menggunakan alat kolaborasi online seperti figma dan adobe xd.
      • Akses ke pasar yang lebih luas sehingga desainer kini dapat menjangkau klien di seluruh dunia, tidak terbatas pada lokasi fisik mereka. Hal ini membuka peluang baru untuk proyek freelance dan kerja jarak jauh.
      5. Penyampaian Pesan Melalui Media Digital

      Dalam perkembangan sebuah teknologi dapat mengubah sebuah cara untuk pesan yang akan disampaikan dalam DKV. Dengan munculnya berbagai media digital yang mumpuni, seorang desainer saat ini dengan mudah untuk menciptakan sebuah pengalaman interaktif yang lebih baik dan menarik bagi audiens. Dalam hal tersebuat, ada berbagai aspek yang penting untuk penyampaian pesan, yaitu:

      • Menampilkan sebuah desain yang responsif dengan berbagai ragamnya perangkat yang marak digunakan oleh audiens, sangat penting bagi seorang desainer dalam membuat sebuah desain yang lebih responsif. Hal tersebut dapat lebih memastikan untuk pesan yang disampaikan dapat lebih unik, jelas dan menarik, terlepas dari berbagai ukuran tampilan layar yang digunakan oleh audiens.
      • Konten interaktif dalam perkembangan teknologi sangat memungkinkan umtuk desainer dalam menciptakan konten yang interaktif, seperti infografis interaktif maupun animasi, serta hal ini ini tidak hanya sebatas untuk menarik perhatian, tetapi juga hal tersebut dapat lebih  membantu berbagai kalangan audiens dalam memahami sebuah informasi dengan lebih jelas dan baik.
      • Penggunaan multimedia dan video merupakan salah satu alat yang paling efektif dalam hal penyampain sebuah pesan. Desainer saat ini dengan mudah untuk menggabungkan berbagai elemen visual maupun audio dalam hal menciptakan sebuah pengalaman yang lebih mendalam, tersudut, dan emosional.
      6. Kecerdasan Buatan Dalam Desain

      Kecerdasan buatan (AI) saat ini dapat menjadi bagian dari sebuah integral dalam dunia desain visual dan dapat mengubah cara pola pikir desainer dalam fungsi dan mengolah ciptaan karya. Alat yang memiliki dasar dengan teknologi AI dapat lebih membantu desainer dengan beberapa cara, yaitu:

      • Otomatisasi proses desain dengan AI dapat digunakan untuk mengotomatiskan tugas-tugas berulang, seperti pemilihan warna atau pengaturan layout. AI dapat mengotomatiskan tugas-tugas repetitif, seperti pemilihan warna atau penyesuaian layout, memungkinkan desainer untuk lebih fokus pada aspek kreatif dari pekerjaan mereka. Hal tersebut dapat memberikan sebuah kebebasan waktu seorang desainer supaya dapat lebih fokus pada aspek ide kreatif dari berbagai proyek yang ada pada prospek seorang desainer.
      • Personalisasi dalam konten dengan berbagai analisis data yang ada, ai dengan mudah membantu desainer untuk menciptakan sebuah konten yang lebih baik, relevan dan menarik bagi audiens. Dengan analisis data, AI dapat membantu desainer memahami preferensi pengguna dan menciptakan konten yang lebih relevan. Ini sangat penting dalam pemasaran dan komunikasi yang bertujuan untuk menjangkau audiens tertentu. Hal tersebut termasuk ke dalam rekomendasi sebuah desain yang dapat disesuaikan dengan preferensi berbagai pengguna.
      • Penggunaan generative design dengan berbagai alat yang berbasis teknologi AI dapat memunculkan beberapa karya sementara yang  dapat menghasilkan suatu desain yang akan muncul berdasarkan atau mengikuti struktur sebuah parameter yang sudah dutentukan ditentukan sebelumnya. Hal tersebut dapat memberikan sebuah ide bagi desainer untuk mengembangkan sebuah gagasan ide yang kemungkinan untuk menciptakan sebuah solusi yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
      • Generasi konten dengan beberapa alat yang berbasis AI dapat dengan mudah menghasilkan sebuah konten visual secara terstruktur dan otomatis berdasarkan parameter yang sudah ditentukan oleh sistem. Ini membuka kemungkinan baru dalam menciptakan variasi desain dengan cepat.
      • Peningkatan proses kolaborasi dengan AI dapat digunakan untuk meningkatkan kolaborasi antara desainer dan klien dengan menganalisis umpan balik dan memberikan rekomendasi berdasarkan preferensi yang sudah ada.
      7. Desain Responsif dan Pengalaman Pengguna

      Dalam perjalanan perkembangan saat ini dengan dibarengi meningkatnya jumlah penggunaan pada perangkat mobile bahwa penting juga bagi desainer untuk selalu menciptakan sebuah karya desain yang responsive dalam desainnya. Desain responsif merupakan sebuah pendekatan desain yang dapat memungkinkan untuk menampilkan tampilan dan pengalaman baru maupun berbeda untuk pengguna dalam beradaptasi dengan berbagai ukuran layar dan resolusi yang ditampilkan. Beberapa aspek penting dari desain responsif, yaitu:

      • Kesesuaian Konten dengan Perangkat: Desain responsif memastikan bahwa konten dapat diakses dan terlihat baik di berbagai perangkat, mulai dari ponsel hingga desktop. Hal tersebut dapat meningkatkan sebuah pengalaman untuk pengguna dan berfungsi untuk memastikan suatu pesan yang dapat disampaikan dengan baik dan jelas.
      • Kesesuaian konten dengan perangkat dapat membuat desain responsif memastikan bahwa konten dapat diakses dan terlihat baik di berbagai perangkat, mulai dari ponsel hingga desktop. Hal tersebut dapat meningkatkan sebuah pengalaman untuk pengguna dan berfungsi untuk memastikan suatu pesan yang dapat disampaikan dengan baik dan jelas.
      • Pengguanaan grid yang fleksibel dalam menata elemen visual sehingga membuat desainer dapat menyesuaikan desain secara dinamis dengan ukuran layar. Ini memungkinkan penataan yang lebih terorganisir dan estetika yang konsisten.
      • Prioritas pada pengalaman pengguna (ux) dalam desain responsif, fokus utama adalah pengalaman pengguna. Desainer harus memahami perilaku pengguna dan menciptakan antarmuka yang intuitif dan mudah digunakan.
      8. Etika Dan Tanggung Jawab Dalam Desain Digital

      Meskipun teknologi membawa banyak manfaat dankeuntungan, ada juga tantangan dan pertimbangan etis yang perlu diperhatikan dalam dunia DKV oleh desainer. Beberapa isu penting tersebut, yaitu:

      • Ketergantungan pada teknologi untuk desainer mungkin menjadi terlalu bergantung pada alat dan teknologi, yang dapat mengurangi kreativitas dan kemampuan problem-solving mereka.
      • Plagiarisme dan hak cipta dengan adanya akses yang mudah ke sumber daya online, desainer harus berhati-hati agar tidak melanggar hak cipta atau plagiarisme. Masalah plagiarisme dan hak cipta semakin kompleks. Desainer perlu memahami etika penggunaan sumber daya yang tersedia. Menggunakan sumber daya dengan cara yang etis dan memberikan kredit yang tepat adalah tanggung jawab penting.
      • Desain yang berkelanjutan dalam era kesadaran lingkungan, desainer perlu mempertimbangkan dampak lingkungan dari pilihan desain mereka. Ini mencakup penggunaan bahan yang berkelanjutan dan meminimalkan limbah dalam proses produksi. Teknologi saat ini dengan mudah dapat membantu menciptakan berbagai desain yang lebih menjurus pada hal berkelanjutan, tetapi hal tersebut juga dapat menuju ke arah yang mendorong sebuah praktik konsumsi desain yang tidak berkelanjutan. Seorang desainer juga dapat memikirkan sebuah pertimbangan pada dampak lingkungan dari hal yang dipilihan oleh mereka.
      • Manipulasi visual dengan alat desain yang kuat dapat menimbulkan risiko yang rentan, yaitu dapat memanipulasi visual yang menimbulkan sebuah penyesatan kepada audiens. Desainer memiliki tanggung jawab yang harus dilakukan dalam menyampaikan sebuah informasi yang dibuat dengan cara professional, yaitu dengan jujur dan akurat.
      9. Masa Depan Desain Komunikasi Visual

      Melihat ke depan, kita dapat mengantisipasi tren baru dan inovasi dalam DKV yang akan dipengaruhi oleh teknologi. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan, yaitu:

      • Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) sebuah teknologi yang dapat memungkinkan seorang desainer dalam hal menciptakan sebuah pengalaman visual lebih yang imersif untuk menampilkan sebuah visual dan akan semakin berguna ketika diterapkan ke dalam dunia DKV, memungkinkan desainer untuk menciptakan sebuah pengalaman yang lebih imersif. Hal ini memungkinkan untuk digunakan dalam berbagai konteks, seperti mulai dari iklan hingga pendidikan. Hal ini juga dapat diimplementasikan dan digunakan untuk berbagai konteks karya visual, seperti untuk pemakaian dalam di bidang periklanan hingga bidang Pendidikan untuk menampilkan sebuah visual yang lebih baik dan jelas.
      • Integrasi dengan Internet of Things (IoT) semakin banyak perangkat yang terhubung, desainer akan menghadapi tantangan baru dalam menciptakan pengalaman visual yang dapat beradaptasi dengan berbagai perangkat dan konteks.
      • Desain berbasis data membuat desainer kedepannya semakin mengandalkan sebuah penggunaan data dalam membimbing dan memandu keputusan desain mereka. Hal tersebut termasuk dari bagian analisis perilaku bagi pengguna dan menjadi sebuah preferensi untuk menciptakan berbagai konten yang lebih efesien dan efektif.
      • Kecerdasan buatan yang lebih canggih dengan perkembangan AI, desainer akan memiliki akses ke alat yang lebih kuat untuk membantu dalam proses kreatif, dari pengembangan ide hingga implementasi.
      KESIMPULAN

      Peran teknologi dalam evolusi Desain Komunikasi Visual sangat signifikan. Dari alat desain digital yang memudahkan proses kreatif hingga dampak media sosial dan kemunculan kecerdasan buatan, teknologi telah mengubah cara desainer berfungsi dan berinteraksi dengan audiens. Meskipun tantangan etis dan praktis tetap ada, teknologi memberikan peluang baru yang luar biasa bagi desainer untuk mengeksplorasi kreativitas dan menyampaikan pesan dengan cara yang lebih efektif. Masa depan DKV akan semakin dipengaruhi oleh inovasi teknologi, dan desainer perlu terus beradaptasi untuk tetap relevan dan efektif dalam lingkungan yang selalu berubah ini.

      Penggunaan sebuah teknologi dalam evolusi dunia Desain Komunikasi Visual tidak mudah ataupun diremehkan begitu saja. Dari alat desain digital hingga media sosial dan kecerdasan buatan, teknologi telah mengubah cara desainer bekerja dan berinteraksi dengan audiens. Meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, manfaat yang ditawarkan teknologi memberikan peluang baru untuk kreativitas dan inovasi dalam DKV. Desainer masa depan akan perlu terus beradaptasi dan belajar untuk memanfaatkan teknologi dengan cara yang etis dan berkelanjutan, memastikan bahwa desain tetap relevan dan efektif dalam menyampaikan pesan kepada audiens global.

      REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA

      https://kumparan.com/berita-update/peran-desain-komunikasi-visual-di-era-kemajuan-teknologi-industri-kreatif-21OcXc9ZFIe/2

      https://www.kompasiana.com/kangruli/63c9396e79342c0d7b51ead2/teknologi-digital-desain-komunikasi-visual-dalam-industri

      https://www.kompasiana.com/mohalisukron8809/656d37c812d50f13cd070fc3/pentingnya-disain-grafis-dalam-era-digital

      https://tirto.id/peran-desain-komunikasi-visual-dalam-teknologi-industri-kreatif-gNNz#google_vignette

      https://www.gamelab.id/news/3770-menjelajahi-teknologi-digital-dalam-dkv-solusi-untuk-media-komunikasi-visual