Tag: Tugas Artikel Kewirausahaan

  • Membangun Brand Fashion Lokal di Era Digital: Peluang Besar bagi Generasi Muda

    Oleh : Chandra Nur Mulyani (31624019)

    Jurusan : Ilmu Hukum

    Mata Kuliah : Kewirausahaan

    Fashion dan Peluang Bisnis di Era Digital

    Perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat berbelanja. Jika dahulu seseorang harus datang langsung ke toko untuk membeli pakaian, kini cukup membuka smartphone dan melakukan transaksi dalam hitungan menit. Perubahan ini membuka peluang besar bagi generasi muda untuk membangun bisnis fashion secara mandiri.

    Bisnis fashion menjadi salah satu sektor yang terus berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap pakaian tidak pernah berhenti. Selain berfungsi sebagai kebutuhan dasar, fashion juga menjadi sarana untuk mengekspresikan diri. Hal inilah yang membuat industri fashion selalu memiliki pasar yang luas.

    Di tengah perkembangan media sosial dan marketplace, siapa pun dapat memulai usaha fashion dengan modal yang relatif terjangkau. Namun, untuk dapat bertahan dan berkembang, diperlukan strategi yang tepat dalam membangun brand dan melakukan pemasaran digital.

    Pentingnya Memiliki Identitas Brand

    Banyak pelaku usaha pemula yang hanya fokus pada penjualan produk tanpa memikirkan identitas brand. Padahal, identitas brand merupakan faktor penting yang dapat membedakan produk kita dengan produk kompetitor.

    Identitas brand mencakup nama usaha, logo, warna khas, gaya komunikasi, hingga nilai yang ingin disampaikan kepada konsumen. Sebagai contoh, sebuah brand fashion wanita dapat mengusung konsep simple, clean, dan feminine untuk menarik konsumen perempuan muda yang menyukai pakaian nyaman namun tetap stylish.

    Brand yang memiliki identitas jelas akan lebih mudah diingat oleh pelanggan. Ketika konsumen merasa cocok dengan karakter sebuah brand, mereka cenderung menjadi pelanggan setia dan merekomendasikannya kepada orang lain.

    Mengenal Target Pasar Sebelum Menjual

    Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah membuat produk tanpa memahami siapa target konsumennya. Padahal, memahami target pasar merupakan langkah awal dalam menentukan strategi bisnis.

    Target pasar dapat dilihat dari usia, jenis kelamin, gaya hidup, hingga kebiasaan berbelanja. Misalnya, perempuan usia 17–30 tahun umumnya aktif menggunakan Instagram dan TikTok. Mereka juga cenderung menyukai produk yang mengikuti tren, memiliki desain menarik, dan harga yang terjangkau.

    Melalui riset pasar sederhana, pelaku usaha dapat mengetahui kebutuhan konsumen sehingga produk yang ditawarkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima.

    Digital Marketing sebagai Senjata Utama

    Saat ini digital marketing menjadi salah satu strategi pemasaran paling efektif. Berbeda dengan promosi konvensional yang membutuhkan biaya besar, pemasaran digital memungkinkan usaha kecil menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang lebih rendah.

    Instagram menjadi media yang efektif untuk menampilkan foto produk dan membangun citra brand. Sementara itu, TikTok mampu meningkatkan popularitas produk melalui video singkat yang kreatif dan menarik.

    Konten yang konsisten dapat membantu meningkatkan kepercayaan konsumen. Pelaku usaha dapat membagikan foto produk, video proses produksi, testimoni pelanggan, maupun tips fashion yang relevan dengan target pasar.

    Selain media sosial, marketplace juga berperan penting dalam meningkatkan penjualan karena memberikan kemudahan bagi konsumen untuk melakukan transaksi secara online.

    Branding Produk yang Meningkatkan Nilai Jual

    Branding bukan sekadar membuat logo yang menarik. Branding merupakan proses membangun persepsi konsumen terhadap suatu produk.

    Produk dengan branding yang baik biasanya memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk tanpa identitas yang jelas. Konsumen tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli pengalaman dan kepercayaan terhadap sebuah brand.

    Contohnya, pelanggan akan lebih tertarik membeli produk dari brand yang memiliki foto profesional, kemasan menarik, pelayanan cepat, dan kualitas yang konsisten. Faktor-faktor tersebut membuat konsumen merasa yakin terhadap produk yang ditawarkan.

    Oleh karena itu, branding harus dilakukan secara konsisten agar citra positif brand dapat terbentuk di benak pelanggan.

    Tantangan dalam Menjalankan Bisnis Fashion

    Meskipun memiliki peluang besar, bisnis fashion juga menghadapi berbagai tantangan. Persaingan yang ketat menjadi salah satu hambatan utama karena banyak brand baru bermunculan setiap tahun.

    Selain itu, tren fashion yang cepat berubah menuntut pelaku usaha untuk selalu mengikuti perkembangan pasar. Produk yang diminati hari ini belum tentu tetap populer beberapa bulan kemudian.

    Tantangan lainnya adalah membangun kepercayaan pelanggan, terutama bagi brand yang baru berdiri. Dibutuhkan kualitas produk yang baik, pelayanan yang memuaskan, dan komunikasi yang aktif agar pelanggan merasa nyaman melakukan pembelian.

    Strategi Mengembangkan Brand Fashion

    Agar bisnis fashion dapat berkembang secara berkelanjutan, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan.

    Pertama, menjaga kualitas produk secara konsisten. Kualitas yang baik akan meningkatkan kepuasan pelanggan dan mendorong pembelian ulang.

    Kedua, aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan komunikasi dengan konsumen.

    Ketiga, membangun hubungan baik dengan pelanggan melalui pelayanan yang ramah dan responsif.

    Keempat, terus melakukan inovasi produk agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar dan perkembangan tren.

    Kelima, memanfaatkan kolaborasi dengan influencer atau content creator untuk memperluas jangkauan promosi.

    Peran Inovasi dalam Mempertahankan Brand Fashion

    Membangun sebuah brand fashion tidak berhenti ketika produk berhasil terjual. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan minat pelanggan agar tetap memilih produk kita di tengah banyaknya pilihan yang tersedia. Oleh karena itu, inovasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan sebuah usaha.

    Inovasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari menciptakan desain baru, memperbaiki kualitas bahan, hingga menghadirkan koleksi sesuai musim atau tren yang sedang berkembang. Pelaku usaha juga dapat meminta masukan dari pelanggan mengenai model atau warna yang diinginkan. Dengan cara tersebut, produk yang dihasilkan akan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

    Selain inovasi produk, inovasi dalam pelayanan juga tidak kalah penting. Misalnya dengan memberikan pelayanan yang cepat, menyediakan pilihan pembayaran yang beragam, atau memberikan kemudahan dalam proses penukaran barang apabila terjadi kesalahan ukuran. Pengalaman berbelanja yang menyenangkan akan meningkatkan kepuasan pelanggan dan mendorong mereka untuk melakukan pembelian kembali.

    Pentingnya Customer Experience dalam Bisnis Fashion

    Dalam dunia bisnis modern, konsumen tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga membeli pengalaman. Customer experience atau pengalaman pelanggan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sebuah brand fashion.

    Pengalaman pelanggan dimulai sejak pertama kali melihat konten di media sosial, mengunjungi marketplace, melakukan pemesanan, menerima produk, hingga memberikan ulasan setelah pembelian. Jika seluruh proses tersebut berjalan dengan baik, pelanggan akan merasa puas dan memiliki kemungkinan besar untuk kembali membeli produk yang sama.

    Pelaku usaha dapat meningkatkan pengalaman pelanggan dengan memberikan respon yang cepat terhadap pertanyaan konsumen, mengemas produk secara rapi dan menarik, serta menyertakan ucapan terima kasih atau kartu kecil di dalam paket. Hal-hal sederhana seperti ini mampu memberikan kesan positif yang membuat pelanggan merasa dihargai.

    Selain itu, ulasan positif dari pelanggan dapat menjadi media promosi yang sangat efektif. Banyak calon pembeli lebih percaya pada pengalaman konsumen lain dibandingkan iklan yang dibuat oleh penjual. Oleh karena itu, menjaga kepuasan pelanggan merupakan investasi jangka panjang bagi sebuah bisnis.

    Peluang Fashion Lokal di Tengah Tren Bangga Buatan Indonesia

    Saat ini masyarakat Indonesia mulai memiliki kesadaran yang lebih tinggi untuk menggunakan produk lokal. Gerakan Bangga Buatan Indonesia turut memberikan peluang besar bagi para pelaku usaha fashion untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

    Brand lokal kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Banyak produk dalam negeri yang mampu bersaing dengan merek luar karena menawarkan kualitas yang baik, desain yang menarik, serta harga yang lebih terjangkau. Bahkan beberapa brand lokal telah berhasil menembus pasar internasional melalui penjualan online.

    Generasi muda memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan kondisi tersebut. Dengan kreativitas, kemampuan memanfaatkan media digital, serta pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, mereka dapat menciptakan brand yang memiliki ciri khas dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global.

    Dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, dan digitalisasi usaha juga menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis secara lebih profesional.

    Membangun Loyalitas Pelanggan

    Mendapatkan pelanggan baru memang penting, tetapi mempertahankan pelanggan lama sering kali memberikan keuntungan yang lebih besar bagi sebuah bisnis. Pelanggan yang puas cenderung melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan produk kepada teman maupun keluarga.

    Salah satu cara membangun loyalitas pelanggan adalah dengan menjaga komunikasi setelah transaksi selesai. Pelaku usaha dapat mengucapkan terima kasih, meminta ulasan mengenai produk, atau memberikan informasi mengenai koleksi terbaru. Selain itu, pemberian promo khusus bagi pelanggan lama juga dapat meningkatkan minat mereka untuk kembali berbelanja.

    Kepercayaan pelanggan juga harus dijaga melalui transparansi informasi produk, seperti ukuran, bahan, warna, dan estimasi pengiriman. Apabila terjadi kendala, pelaku usaha sebaiknya memberikan solusi yang cepat dan bertanggung jawab. Sikap profesional seperti ini akan membangun citra positif bagi brand.

    Dalam jangka panjang, loyalitas pelanggan akan menjadi aset yang sangat berharga karena dapat membantu meningkatkan penjualan secara berkelanjutan tanpa harus selalu mengeluarkan biaya promosi yang besar.

    Kesimpulan

    Era digital memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk membangun bisnis fashion lokal. Dengan identitas brand yang kuat, pemahaman terhadap target pasar, serta strategi digital marketing yang tepat, sebuah usaha dapat berkembang dan bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif.

    Keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan dalam membangun citra positif, menjaga hubungan dengan pelanggan, dan terus berinovasi. Oleh karena itu, kreativitas dan konsistensi menjadi kunci utama dalam menciptakan bisnis fashion yang sukses dan berkelanjutan.

    Referensi

    Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.

    Tjiptono, F. (2019). Strategi Pemasaran. Andi Offset.

    Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. (2024). Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa.

  • Digital Marketing: Kenapa Bisnis Zaman Sekarang Nggak Bisa Lepas dari Dunia Digital

    Estimasi waktu membaca: 13 menit

    Pembuka: Dunia Sudah Pindah ke Layar HP

    Coba deh perhatiin, sehari-hari kita habisin berapa jam scroll Instagram, TikTok, atau buka marketplace buat cari barang? Nah, kebiasaan ini yang bikin dunia bisnis ikut berubah total. Dulu, kalau mau promosi, orang pasang baliho, sebar brosur, atau pasang iklan di koran. Sekarang? Cukup posting konten yang menarik, budget iklan bisa disesuaikan mulai dari yang kecil banget sampai yang besar, dan jangkauannya bisa sampai ke seluruh dunia dalam hitungan detik.

    Itulah inti dari digital marketing atau pemasaran digital: strategi memasarkan produk dan jasa menggunakan platform digital seperti media sosial, mesin pencari, email, hingga aplikasi. Di artikel ini, kita bakal bahas secara lengkap mulai dari apa itu digital marketing, sejarah singkatnya, kenapa penting, jenis-jenisnya, cara kerja funnel-nya, metrik yang perlu dipantau, tools yang bisa dipakai, tantangan, sampai tips praktis buat yang baru mau mulai. Santai aja, kita bahas dengan bahasa yang nggak kaku, tapi tetap informatif dan berbobot.

    Apa Sih Sebenarnya Digital Marketing Itu?

    Secara sederhana, digital marketing adalah segala bentuk upaya pemasaran yang dilakukan melalui media digital atau internet. Beberapa ahli mendefinisikan digital marketing sebagai penggunaan teknologi digital untuk menciptakan komunikasi terintegrasi yang membantu perusahaan memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan (Chaffey & Ellis-Chadwick, 2019).

    Bedanya sama pemasaran konvensional, digital marketing punya karakteristik yang unik:

    1. Terukur (measurable) — kita bisa lihat data secara real-time, mulai dari berapa orang yang lihat iklan, klik, sampai yang akhirnya beli.
    2. Interaktif — ada komunikasi dua arah antara brand dan konsumen, misalnya lewat kolom komentar atau chat.
    3. Fleksibel — bisa disesuaikan sama budget, target audiens, dan waktu tayang.
    4. Jangkauan luas — nggak terbatas geografis, bisa menyasar pasar lokal sampai internasional.
    5. Personalisasi — pesan pemasaran bisa disesuaikan dengan karakteristik masing-masing individu, bukan lagi “satu pesan untuk semua orang”.

    Sejarah Singkat: Bagaimana Digital Marketing Berkembang

    Biar makin paham konteksnya, ada baiknya kita lihat sedikit perjalanan digital marketing dari masa ke masa.

    Era 1990-an, ditandai dengan munculnya website pertama dan banner ads. Perusahaan mulai membuat situs sederhana untuk memperkenalkan produk mereka secara online. Search engine seperti Yahoo dan kemudian Google mulai muncul di penghujung dekade ini, membuka jalan bagi konsep SEO.

    Era 2000-an, mesin pencari makin dominan dan muncul istilah SEO serta SEM secara lebih terstruktur. Email marketing juga mulai populer sebagai cara murah untuk menjangkau pelanggan secara langsung. Di paruh kedua dekade ini, media sosial seperti Friendster, MySpace, hingga Facebook mulai mengubah cara orang berinteraksi secara online.

    Era 2010-an, smartphone menjadi barang wajib banyak orang, dan ini mengubah total lanskap digital marketing. Media sosial seperti Instagram dan Twitter berkembang pesat, video marketing mulai naik daun lewat YouTube, dan mobile marketing menjadi fokus baru karena orang lebih banyak mengakses internet lewat genggaman mereka.

    Era 2020-an hingga sekarang, kita menyaksikan ledakan konten video pendek (short-form video) lewat TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) mulai banyak digunakan untuk personalisasi konten, chatbot layanan pelanggan, hingga analisis data pemasaran secara otomatis. Menurut Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2021), perkembangan ini menandai era pemasaran yang mereka sebut sebagai “Marketing 5.0”, di mana teknologi digunakan untuk meniru kemampuan manusia dalam memahami dan melayani pelanggan secara lebih personal.

    Dari perjalanan ini, kita bisa lihat bahwa digital marketing itu bukan sesuatu yang statis. Ia terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.

    Kenapa Digital Marketing Itu Penting Banget?

    Mungkin ada yang mikir, “Ah, produk gue kan udah laku offline, ngapain repot-repot digital marketing?” Nah, ini beberapa alasan kenapa strategi ini penting buat siapa pun yang punya bisnis, dari UMKM sampai korporasi besar.

    1. Perilaku Konsumen Sudah Berubah

    Konsumen sekarang cenderung riset dulu sebelum membeli. Mereka cek review, bandingkan harga, dan cari testimoni di internet. Kalau bisnis kita nggak punya “jejak digital” yang kuat, calon pembeli bisa aja ragu atau malah beralih ke kompetitor yang lebih mudah ditemukan online.

    2. Biaya Lebih Efisien

    Dibanding iklan konvensional seperti billboard atau TV, digital marketing menawarkan opsi budget yang jauh lebih fleksibel. Bisnis kecil pun bisa beriklan dengan budget terbatas, tapi tetap punya potensi menjangkau audiens yang relevan berkat fitur targeting yang detail (usia, lokasi, minat, dan sebagainya).

    3. Bisa Diukur dan Dievaluasi

    Ini yang jadi keunggulan besar. Kita bisa tahu persis performa campaign kita: berapa banyak yang lihat, klik, sampai transaksi. Data ini bisa dipakai buat evaluasi dan perbaikan strategi ke depannya, sesuatu yang jauh lebih susah dilakukan di pemasaran tradisional.

    4. Membangun Hubungan dengan Pelanggan

    Digital marketing bukan cuma soal jualan, tapi juga soal membangun relasi jangka panjang. Lewat konten edukatif, interaksi di media sosial, atau email newsletter, brand bisa membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan.

    5. Memberikan Kesempatan yang Setara untuk Bisnis Kecil

    Salah satu hal menarik dari digital marketing adalah ia memberi peluang yang relatif lebih adil antara bisnis besar dan bisnis kecil. Dengan strategi konten yang kreatif dan konsisten, sebuah UMKM bisa saja mendapat perhatian yang setara, bahkan lebih besar, dibanding brand besar yang kontennya kurang relevan dengan audiensnya.

    6. Mempermudah Pengambilan Keputusan Berbasis Data

    Karena semua aktivitas bisa dilacak, pelaku bisnis jadi punya dasar yang lebih kuat dalam mengambil keputusan, bukan sekadar mengandalkan intuisi. Ini penting terutama untuk alokasi anggaran pemasaran yang lebih efisien.

    Digital Marketing Funnel: Perjalanan Konsumen dari Kenal Sampai Loyal

    Salah satu konsep penting dalam digital marketing adalah funnel atau corong pemasaran. Konsep ini menggambarkan tahapan yang dilalui konsumen dari pertama kali mengenal brand kita sampai akhirnya jadi pelanggan setia. Secara umum, funnel ini terbagi menjadi beberapa tahap:

    a. Awareness (Kesadaran)

    Tahap ini adalah saat calon konsumen pertama kali mengenal keberadaan brand atau produk kita. Biasanya dilakukan lewat iklan, konten media sosial, atau artikel blog yang muncul di hasil pencarian.

    b. Interest (Ketertarikan)

    Setelah tahu, calon konsumen mulai tertarik dan mencari tahu lebih lanjut. Di tahap ini, konten yang informatif dan menarik jadi kunci supaya mereka nggak langsung “kabur”.

    c. Consideration (Pertimbangan)

    Calon konsumen mulai membandingkan produk kita dengan kompetitor. Testimoni, review, dan studi kasus jadi elemen penting di tahap ini untuk meyakinkan mereka.

    d. Conversion (Konversi)

    Ini adalah momen di mana calon konsumen akhirnya melakukan pembelian atau tindakan yang diinginkan, seperti mengisi formulir, mendaftar newsletter, atau checkout produk.

    e. Retention (Retensi) dan Loyalty (Loyalitas)

    Setelah menjadi pelanggan, tugas kita belum selesai. Tahap ini fokus pada bagaimana menjaga hubungan dengan pelanggan supaya mereka melakukan pembelian ulang, bahkan merekomendasikan brand kita ke orang lain (advocacy).

    Memahami funnel ini penting supaya strategi digital marketing yang kita buat nggak asal-asalan, tapi disesuaikan dengan posisi calon konsumen dalam perjalanan mereka.

    Jenis-Jenis Strategi Digital Marketing

    Nah, biar makin paham, yuk kita bahas beberapa jenis strategi digital marketing yang paling umum dipakai.

    a. Search Engine Optimization (SEO)

    SEO adalah proses mengoptimalkan konten website agar muncul di halaman pertama hasil pencarian Google secara organik (tanpa bayar iklan). Menurut Moz (2023), faktor yang memengaruhi ranking SEO antara lain kualitas konten, kecepatan website, struktur tautan internal, serta backlink dari situs lain yang kredibel. SEO sendiri biasanya terbagi jadi tiga bagian besar: on-page SEO (optimasi konten dan struktur halaman), off-page SEO (membangun reputasi lewat backlink dan promosi eksternal), serta technical SEO (kecepatan situs, keamanan, dan struktur teknis website).

    b. Search Engine Marketing (SEM) / Iklan Berbayar

    Berbeda dari SEO, SEM menggunakan iklan berbayar seperti Google Ads agar website atau produk muncul di posisi teratas hasil pencarian dengan cepat. Kelebihannya, hasil bisa terlihat lebih instan dibanding SEO yang butuh waktu lebih lama, tapi tentunya butuh anggaran yang berkelanjutan.

    c. Social Media Marketing

    Strategi ini memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X (Twitter) untuk membangun brand awareness dan interaksi dengan audiens. Konten yang dibuat bisa berupa foto, video pendek, atau konten interaktif seperti polling dan kuis. Selain organik, banyak juga bisnis yang menggunakan iklan berbayar di platform ini (social media ads) untuk menjangkau audiens yang lebih spesifik.

    d. Content Marketing

    Fokusnya adalah membuat konten yang bernilai dan relevan buat audiens, seperti artikel blog, video edukasi, infografis, atau podcast. Tujuannya bukan cuma jualan langsung, tapi membangun kepercayaan lewat informasi yang bermanfaat. Content marketing yang baik biasanya konsisten dengan identitas brand dan menjawab masalah nyata yang dihadapi audiens.

    e. Email Marketing

    Meski terkesan “jadul”, email marketing masih efektif buat menjaga hubungan dengan pelanggan, misalnya lewat newsletter, promo eksklusif, atau update produk terbaru. Salah satu keunggulannya adalah tingkat personalisasi yang tinggi dan biaya yang relatif terjangkau dibanding kanal lain.

    f. Influencer Marketing

    Bekerja sama dengan influencer atau content creator yang punya audiens sesuai target pasar kita. Strategi ini efektif karena audiens cenderung lebih percaya rekomendasi dari orang yang mereka ikuti, apalagi kalau influencer tersebut punya kedekatan emosional dengan followers-nya.

    g. Affiliate Marketing

    Strategi di mana bisnis bekerja sama dengan pihak ketiga (afiliator) yang mempromosikan produk dan mendapat komisi dari setiap penjualan yang berhasil. Model ini menguntungkan karena biaya pemasaran baru dikeluarkan setelah terjadi hasil (performance-based).

    h. Video Marketing

    Konten video, baik yang panjang maupun pendek, terbukti punya tingkat engagement yang tinggi. Platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram Reels jadi tempat favorit untuk strategi ini, mulai dari video edukasi, behind the scenes, hingga video testimoni pelanggan.

    i. Mobile Marketing

    Mengingat mayoritas orang mengakses internet lewat smartphone, strategi ini fokus pada optimasi pengalaman pengguna di perangkat mobile, termasuk push notification aplikasi, SMS marketing, hingga iklan yang dirancang khusus tampil optimal di layar kecil.

    Metrik dan KPI yang Perlu Dipantau

    Salah satu keunggulan digital marketing adalah semuanya bisa diukur. Tapi, banyak indikator yang bisa dipantau, jadi penting untuk tahu mana yang relevan sesuai tujuan campaign kita. Beberapa metrik umum yang biasa digunakan antara lain:

    • Reach dan Impressions — seberapa banyak orang yang melihat konten atau iklan kita.
    • Engagement Rate — seberapa aktif audiens berinteraksi dengan konten, misalnya lewat like, comment, share.
    • Click-Through Rate (CTR) — persentase orang yang mengklik tautan dari total yang melihat iklan atau konten.
    • Conversion Rate — persentase pengunjung yang melakukan tindakan yang diinginkan, seperti pembelian atau pendaftaran.
    • Cost per Acquisition (CPA) — biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan baru.
    • Return on Investment (ROI) — perbandingan antara keuntungan yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan untuk campaign.
    • Customer Lifetime Value (CLV) — estimasi total nilai yang bisa diberikan seorang pelanggan selama menjadi pelanggan kita.

    Memantau metrik-metrik ini secara rutin membantu kita memahami apakah strategi yang dijalankan sudah efektif atau perlu penyesuaian.

    Tools yang Bisa Membantu Aktivitas Digital Marketing

    Buat menjalankan strategi digital marketing secara lebih efisien, ada beberapa jenis tools yang biasa digunakan oleh para praktisi:

    1. Tools Analitik — untuk memantau traffic website dan perilaku pengunjung, seperti Google Analytics.
    2. Tools SEO — untuk riset kata kunci dan analisis kompetitor.
    3. Tools Manajemen Media Sosial — untuk menjadwalkan dan mengelola konten di berbagai platform sekaligus.
    4. Tools Email Marketing — untuk mengelola daftar kontak dan mengirim kampanye email secara otomatis.
    5. Tools Desain Konten — untuk membuat visual konten yang menarik tanpa perlu skill desain yang rumit.
    6. Tools Manajemen Iklan — seperti dashboard iklan dari platform media sosial dan mesin pencari untuk mengatur dan memantau performa campaign berbayar.

    Penggunaan tools ini tentu perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan skala bisnis masing-masing, nggak perlu semuanya dipakai sekaligus kalau memang belum diperlukan.

    Tantangan dalam Digital Marketing

    Meski terlihat menjanjikan, digital marketing juga punya tantangan tersendiri, di antaranya:

    • Persaingan yang ketat — hampir semua bisnis sekarang sudah online, jadi kita perlu strategi yang benar-benar beda supaya menonjol.
    • Perubahan algoritma — platform seperti mesin pencari atau media sosial sering mengubah algoritmanya, sehingga strategi yang tadinya efektif bisa jadi kurang optimal.
    • Kebutuhan konsistensi — hasil digital marketing biasanya nggak instan, perlu konsistensi dalam jangka waktu tertentu untuk melihat hasil yang signifikan.
    • Pemahaman data — perlu kemampuan menganalisis data supaya strategi yang dijalankan bisa terus dievaluasi dan diperbaiki.
    • Keterbatasan sumber daya — terutama untuk bisnis kecil, keterbatasan tim dan anggaran bisa jadi tantangan dalam menjalankan strategi secara maksimal.
    • Isu privasi data — dengan makin ketatnya regulasi perlindungan data pribadi, pelaku bisnis perlu lebih berhati-hati dalam mengelola data pelanggan secara etis dan sesuai aturan yang berlaku.

    Tren Digital Marketing yang Perlu Diperhatikan

    Dunia digital terus berubah, dan beberapa tren berikut ini penting untuk diperhatikan oleh siapa pun yang ingin tetap relevan:

    1. Konten Video Pendek

    Format video pendek terus mendominasi perhatian audiens karena sifatnya yang cepat dikonsumsi dan mudah dibagikan.

    2. Personalisasi Berbasis AI

    Kecerdasan buatan makin banyak digunakan untuk menyajikan konten dan rekomendasi produk yang lebih relevan dengan preferensi masing-masing individu.

    3. Voice Search

    Makin banyak orang menggunakan asisten suara untuk mencari informasi, sehingga optimasi konten untuk pencarian berbasis suara mulai menjadi perhatian dalam strategi SEO.

    4. Interactive Content

    Konten interaktif seperti kuis, polling, atau augmented reality filter semakin diminati karena mampu meningkatkan keterlibatan audiens secara lebih aktif.

    5. Social Commerce

    Batas antara media sosial dan platform belanja semakin tipis, di mana pengguna bisa langsung melakukan transaksi tanpa perlu berpindah aplikasi.

    6. Fokus pada Privasi dan Transparansi Data

    Konsumen makin sadar akan pentingnya privasi data mereka, sehingga brand yang transparan soal bagaimana data digunakan cenderung lebih dipercaya.

    Studi Kasus Sederhana: Ilustrasi Penerapan Digital Marketing

    Sebagai gambaran, mari kita lihat ilustrasi sederhana (bersifat umum dan tidak merujuk pada bisnis tertentu) tentang bagaimana sebuah usaha kuliner rumahan bisa memanfaatkan digital marketing untuk berkembang.

    Awalnya, usaha ini hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Setelah mulai aktif membuat konten di media sosial berupa foto produk yang menarik dan video proses pembuatan, jumlah calon pelanggan yang mengenal usaha ini meningkat secara bertahap. Selanjutnya, pemilik usaha mulai memanfaatkan iklan berbayar dengan target audiens berdasarkan lokasi dan minat kuliner, sehingga jangkauannya makin luas ke area sekitar.

    Untuk menjaga pelanggan tetap loyal, usaha ini juga membuat program loyalitas sederhana lewat WhatsApp Business, dengan mengirimkan info promo dan menu baru secara berkala. Hasilnya, selain penjualan meningkat, usaha ini juga mendapat banyak testimoni positif yang kemudian dibagikan ulang sebagai konten media sosial, menciptakan siklus promosi yang berkelanjutan.

    Ilustrasi ini menunjukkan bahwa digital marketing bisa diterapkan dengan skala yang disesuaikan kebutuhan, bahkan oleh usaha kecil sekalipun, asal dilakukan secara konsisten dan strategis.

    Tips Praktis Memulai Digital Marketing

    Buat yang baru mau terjun ke dunia digital marketing, berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

    1. Kenali target audiens dengan baik. Pahami siapa yang jadi target pasar kita: usia, minat, kebiasaan online, dan masalah apa yang bisa diselesaikan produk kita.
    2. Bangun kehadiran digital yang konsisten. Mulai dari website sederhana, akun media sosial, sampai profil bisnis di mesin pencari.
    3. Fokus pada kualitas konten, bukan cuma kuantitas. Konten yang relevan dan bermanfaat biasanya lebih efektif dibanding konten yang asal posting.
    4. Manfaatkan data untuk evaluasi. Gunakan tools analitik untuk memantau performa campaign, lalu sesuaikan strategi berdasarkan data tersebut.
    5. Tentukan tujuan yang jelas di awal. Apakah fokusnya membangun awareness, meningkatkan penjualan, atau mempertahankan pelanggan? Tujuan yang jelas akan memudahkan penentuan strategi dan metrik yang relevan.
    6. Jangan takut bereksperimen. Dunia digital terus berubah, jadi penting untuk terus belajar dan mencoba pendekatan baru.
    7. Bangun kepercayaan lewat konsistensi nilai brand. Pastikan pesan dan nilai yang disampaikan lewat berbagai kanal digital tetap konsisten, supaya audiens punya persepsi yang jelas tentang brand kita.

    Penutup

    Digital marketing bukan lagi sekadar pelengkap, tapi udah jadi fondasi penting buat bisnis yang ingin bertahan dan berkembang di era sekarang. Dengan memahami dasar-dasar strategi digital marketing, mulai dari SEO, social media marketing, content marketing, sampai memahami funnel dan metrik yang relevan, kita bisa membangun kehadiran digital yang kuat dan relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini.

    Yang penting diingat, digital marketing itu proses yang berkelanjutan. Nggak ada strategi yang instan langsung berhasil, semua butuh konsistensi, evaluasi, dan kemauan untuk terus belajar mengikuti perkembangan tren digital. Semakin kita memahami audiens dan memanfaatkan data secara tepat, semakin besar pula peluang strategi digital marketing kita membawa hasil yang maksimal.

    Semoga artikel ini bermanfaat, ya. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya!


    Ditulis sebagai bahan referensi pembelajaran seputar Digital Marketing.

    Daftar Referensi

    Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital Marketing: Strategy, Implementation and Practice (7th ed.). Pearson Education.

    Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2021). Marketing 5.0: Technology for Humanity. John Wiley & Sons.

    Moz. (2023). Beginner’s Guide to SEO. Diakses dari https://moz.com/beginners-guide-to-seo

    Ryan, D. (2021). Understanding Digital Marketing: Marketing Strategies for Engaging the Digital Generation (5th ed.). Kogan Page.

  • Screw the Capital, Sell the Lore: How Gen Z Out-Brands Corporate Giants on a Budget

    Introduction

    Here’s something I’ve been thinking about for a while now. Go to any mall, open Instagram, scroll through TikTok for five minutes and you’ll notice that the brands getting the most attention aren’t always the ones with the biggest budgets. Some random skincare brand with a founder who literally films herself in her apartment bathroom is outselling products from companies that spend millions on glossy campaigns. That’s not a coincidence. That’s a shift in how trust actually works.

    Gen Z people born roughly between the late 1990s and early 2010s grew up with the internet. They’ve been marketed to their entire lives, and they’re exhausted by it. They don’t want to be talked at, they want to feel like they’re part of something real. So when a small brand shows up with a genuine story, responds to DMs, and actually stands for something, it hits differently than any polished ad ever could.

    The way I see it, three things are driving this: storytelling, authenticity, and knowing how to use digital platforms smartly. Researchers are calling it “the lore” the whole universe of meaning a brand builds around itself. And the wild part? Small brands are often better at this than the giants. Let me walk you through why.

    The Emotional Shortcut: Why Stories Beat Dollars

    Let’s be real for a second. Most people assume small brands win because they’re cheaper, or because people want to support the underdog. But that’s not quite it. The deeper reason is that good stories bypass the part of your brain that says “okay, I’m being sold something” and go straight to the part that actually feels things.

    Research backs this up in a pretty interesting way. Sujatmiko and colleagues found that narratives connecting with people’s emotions consistently outperform hard-sell tactics even when the hard-sell comes from a globally recognized brand (Sujatmiko, 2026). A separate study by Liu and Lin, cited in that same review, found that emotional appeals had more impact on consumer trust and brand preference than rational product claims about ingredients or effectiveness especially for Gen Z and Millennials (Sujatmiko, 2026). These are people who genuinely don’t care that your moisturizer has “clinically proven hyaluronic acid.” They care that the founder started the brand because she struggled with her skin and felt invisible by the beauty industry.

    There’s actually a brain science angle here too. When you watch emotionally charged content, it activates the amygdala and hippocampus the parts of your brain tied to emotional memory (Sujatmiko, 2026). That’s why you can remember a tearjerker ad from years ago but completely forget a product you saw in a perfectly produced commercial last week. Feelings create memories. And memories are what get someone to open their wallet. A small brand’s three-minute TikTok story can leave a deeper mark than a corporate giant’s flawlessly produced Super Bowl ad simply because the feelings stick where the polish doesn’t.

    Authenticity as the Gen Z Currency

    If storytelling is the engine, authenticity is the fuel. And here’s the thing you can’t fake it. Well, you can try, but Gen Z will clock it within seconds. Think about how Glossier built its brand in the early days. The founder Emily Weiss didn’t launch with a massive marketing campaign. She’d been running a beauty blog called Into The Gloss for years, genuinely talking to her audience, sharing real conversations with women about their routines. By the time she launched Glossier, there was already a community that felt like they’d built it alongside her. That’s not a marketing strategy in the traditional sense that’s trust accumulated over time.

    Mandung’s research on consumer psychology explains exactly why this works. Authenticity in storytelling builds long-term trust because it shows that a brand is genuine, transparent, and willing to be real including about its struggles (Mandung, 2025). Gen Z has grown up drowning in sponsored content, so they’ve developed a sharp filter for anything that feels performative or transactional. If it smells like a strategy, they’re out. But if it feels like a real person talking to them? They’ll stay, share, and buy.

    Sodergren’s 25-year review of brand authenticity research adds another layer to this. He points out that what “authentic” means has evolved it’s no longer just about being the rebellious outsider or the raw underdog. Today, it’s about truthfulness, responsibility, and transparency (Sodergren, 2021). Gen Z doesn’t just want a brand with “vibes.” They want brands whose actions actually line up with what they say.

    One thing worth highlighting here, most of the academic research on brand authenticity has focused on huge companies like Apple, Prada, and Chanel (Sodergren, 2021). There’s actually a real gap in understanding how authenticity works for small and medium businesses and whether it’s even more powerful for them. My take? It absolutely is. Small brands don’t need a PR team to manufacture authenticity. They often just need to show up honestly and consistently.

    The Four C’s: A Small Brand’s Playbook

    Okay, so how does a small brand actually make this happen in practice? Sodergren breaks it down into what he calls the “four C’s” of brand authenticity: communication, commitment, coolness, and connection (Sodergren, 2021). I think these are genuinely useful, so let me translate them out of academic language and into something you can actually apply.

    Communication is about being consistent. Whatever story you’re telling on your website, your Instagram, your packaging it should feel like it’s coming from the same person with the same values. Research on omnichannel brand experience shows that consistency across every touchpoint is one of the strongest signals of authenticity (Massi, 2023). For small brands, this is actually a natural advantage. You don’t have fifty departments pulling the messaging in different directions. You’re one founder with one story, and that story can be the same everywhere.

    Commitment is about actually doing what you say. If your brand is about sustainability, that means genuinely sourcing your materials responsibly not just putting a green leaf on your logo. Gen Z will literally Google your supply chain. They’ll check if your eco-friendly claim holds up. The brands that survive scrutiny are the ones that committed to the substance before they started shouting about it.

    Coolness sounds vague, but Sodergren’s framework defines it as staying relevant without losing your identity (Sodergren, 2021). Think of a small sneaker brand that collaborates with a local artist who genuinely fits their aesthetic not a celebrity with no connection to the brand’s world. Small founders often have an edge here because they’re already embedded in the subcultures their customers care about. They don’t need to study the culture from the outside they’re already living it.

    Connection is where it gets really interesting for Gen Z specifically. Brands that take a real stand on social issues and back it up with actual action engage in what researchers call “authentic brand activism” (Sodergren, 2021). A small sustainable clothing brand that donates to environmental causes and is vocal about it isn’t just doing good, they’re building a tribe. And small brands can move fast on this. When a cultural moment happens, they can respond overnight. A corporation with 50 people in legal review? They’ll be lucky to say something in six weeks.

    Digital Storytelling: The Small Brand’s Equalizer

    Here’s the part that, honestly, changed everything for small brands. The internet and specifically TikTok, Instagram Reels, and YouTube Shorts made it possible to compete without a massive budget. And I’m not just saying that in a motivational poster kind of way. The research actually supports it.

    Mandung’s work highlights something we all feel intuitively: in today’s content-saturated world, people ignore conventional promotional content and gravitate toward what feels real and relatable (Mandung, 2025). These short-form video platforms were basically designed for emotionally-driven, story-first content. And Sujatmiko’s review shows that promotional videos built around storytelling engage visual, auditory, and emotional channels simultaneously which makes the message stick much longer than a static ad ever could (Sujatmiko, 2026).

    I genuinely believe that a small brand with a decent phone camera, a clear story, and the willingness to be real can outperform a corporation spending millions. Not always but more often than you’d think. The platform algorithms actually favor this kind of content because emotional intensity drives engagement, which keeps people on the app longer (Sujatmiko, 2026). So being authentic isn’t just the right thing to do it’s algorithmically rewarded.

    That said, there’s a real caveat here. “Authentic” doesn’t mean sloppy. You still need a narrative arc, an emotional hook, and a satisfying payoff. Posting a shaky, rambling video just because it’s “real” isn’t going to cut it. The brands doing this well are the ones that figured out how to feel genuine and be intentional about structure.

    Culture Is Not Optional

    One thing I see small brands getting wrong all the time is treating cultural relevance like it’s a bonus like they’ll worry about it later once the product is good enough. But if you’re targeting Gen Z, culture isn’t optional. It’s the whole thing.

    Mandung’s research makes this really clear: storytelling that’s adapted to the audience’s cultural context their values, their symbols, their shared experiences dramatically increases engagement (Mandung, 2025). And when you get it right, something even better happens, passive consumers start becoming active participants in your brand’s story. They share it, they add to it, they defend it (Mandung, 2025).

    Think about how Fenty Beauty launched in 2017. Rihanna didn’t just release a new makeup line. She made a cultural statement by launching 40 foundation shades when most brands were offering 12. She spoke directly to people who’d been ignored by the beauty industry forever. The story wasn’t “good makeup.” The story was “you belong here too.” That’s cultural storytelling at its best and the brand blew up overnight.

    For a smaller brand, this doesn’t mean you need to make grand statements. It means knowing your audience well enough that when you speak, they feel seen. That might be using the right language without overdoing it, referencing shared cultural moments, or taking a genuine stand on something your community actually cares about.

    The Omnichannel Reality Check

    I want to be honest about something, storytelling alone won’t save you if your customer experience is a mess. The full picture has to hold up.

    Massi, Piancatelli, and Vocino’s research on omnichannel brand authenticity found that consumers rate a brand as significantly more authentic when the whole experience feels seamless across every channel (Massi, 2023). If your TikTok is warm and founder-led and your checkout page looks like it was built in 2009, people notice. That gap chips away at trust.

    The concept researchers use here is “signal congruency” basically, when your signals don’t match, people struggle to trust you (Massi, 2023). A heartfelt story online combined with cold, robotic customer service is a contradiction. And contradictions kill loyalty.

    For small brands, the smart move isn’t to be everywhere. It’s to pick two or three channels, own them completely, and make sure the experience feels identical on all of them. And honestly? This is where being small is a genuine structural advantage. A big corporation with legacy systems and siloed teams often can’t make their Instagram feel like their call center. A founder running their brand from a laptop? They’re already congruent by default.

    The Influencer Edge

    One more thing worth talking about because I think a lot of small brands either overestimate or underestimate this. Influencer partnerships.

    Sodergren’s review notes that content created by influencers tends to feel more organic to potential consumers than brand-generated ads (Sodergren, 2021). We all know this intuitively. Gen Z can tell within three seconds if something is a paid ad. But they’ll happily watch a 20-minute video from a creator they trust who happens to mention a product they love.

    The key insight for small brands is this, you don’t need a celebrity with 10 million followers. In fact, that’s often the wrong move. Micro and mid-tier influencers people with smaller but highly engaged audiences tend to have tighter, more authentic relationships with their followers. And they’re actually affordable. A skincare brand partnering with a 50,000-follower skincare creator who genuinely uses the product will almost always outperform a big brand paying a celebrity to hold up the same bottle with zero personal connection to it.

    Large corporations struggle to do this well because every influencer deal goes through layers of legal and brand-safety review. By the time it’s approved, the cultural moment has passed. Small brands can move faster, be more selective, and build relationships that actually feel real because they are.

    Conclusion

    So here’s where I land on all of this. Small brands aren’t winning against corporate giants in spite of their limited budgets. In a lot of ways, they’re winning because of those limits. When you can’t afford to run 50 regional campaigns, you’re forced to tell one clear, coherent story and stick with it. When you can’t hide behind a PR team, your authenticity is harder to manufacture and that’s actually a good thing. When you can’t buy a Super Bowl spot, you learn to make content that genuinely connects with people on a human level.

    None of this means being small is always better. Large brands still have real structural advantages: distribution, capital, reach, legacy. But for a generation of consumers who actively reward sincerity over scale, the playing field has shifted more than most corporate boardrooms want to admit.

    The brands winning in the Gen Z economy aren’t necessarily the ones with the most money. They’re the ones with the most consistent, emotionally resonant, culturally relevant story. Sell the lore. Let the story do the work that a bigger budget used to do alone.

    AUTHOR PROFILE

    Salma Nur Fadilah is a Management student (NIM: 21224064 and Class: MN-2) at the Faculty of Economics and Business, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Passionate about consumer psychology and modern branding trends and can be reached at salma.21224064@ mahasiswa.unikom.ac.id. This article was written and submitted as an academic assignment for the Kewirausahaan course under the supervision of Prof. 3 Prof. H.C. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T.

    References

    Mandung, F. (2025). The Influence of Storytelling Techniques in Digital Marketing on Brand Loyalty: A Consumer Psychology Perspective. Golden Ratio of Marketing and Applied Psychology of Business, Vol.5, Issue. 1. https://doi.org/10.52970/grmapb.v5i1.782

    Massi, M., Piancatelli, C., & Vocino, A. (2023). Authentic omnichannel: Providing consumers with a seamless brand experience through authenticity. Psychology & Marketing, 40(7), 1280–1298. https://doi.org/10.1002/mar.21815

    Sodergren, J. (2021). Brand authenticity: 25 years of research. International Journal of Consumer Studies, 45(4), 645–663. https://doi.org/10.1111/ijcs.12651

    Sujatmiko, S., Mattarima, M., Panus, P., Samalam, A. G., & Lawalata, I. L. D. (2026). The Role of Emotional Storytelling in Product Promotional Videos on Purchase Intention: A Systematic Literature Review with Emphasis on Skincare Service Products. Golden Ratio of Mapping Idea and Literature Format, Vol. 6, Issue 1. https://doi.org/10.52970/grmilf.v6i1.1492

  • Content Creator Bukan Sekadar Pembuat Konten: Membangun Aset Digital, Personal Branding, dan Peluang Bisnis di Era Kreator

    Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara seseorang membangun karier, identitas, dan peluang ekonomi. Dahulu, seseorang membutuhkan perusahaan besar, media televisi, atau industri profesional agar dikenal luas. Kini, setiap individu memiliki kesempatan untuk membangun audiens melalui platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, podcast, blog, dan media sosial lainnya.

    Perubahan ini melahirkan profesi content creator. Banyak orang masih menganggap content creator hanya sebagai pembuat video untuk hiburan atau sekadar mengikuti tren. Padahal, dari sudut pandang bisnis, seorang content creator sebenarnya sedang membangun aset digital yang dapat berkembang dalam jangka panjang.

    Aset digital bukan hanya jumlah subscriber, followers, atau views. Nilai utamanya terletak pada komunitas yang terbentuk, tingkat kepercayaan audiens, identitas personal yang melekat, dan hubungan jangka panjang antara creator dengan pengikutnya. Dalam dunia digital, kepercayaan adalah fondasi utama dari pengaruh dan peluang bisnis.

    Karena itu, personal branding menjadi aspek penting. Creator yang memiliki identitas kuat akan lebih mudah membangun kepercayaan, mempertahankan audiens, dan menciptakan peluang bisnis dibandingkan creator yang hanya mengikuti tren tanpa karakter yang jelas.

    Salah satu contoh nyata dari proses ini adalah perjalanan channel YouTube Pressurelicious yang berfokus pada pembahasan musik, mulai dari makna lagu, interpretasi lirik, cerita di balik karya, hingga fakta menarik mengenai artis dan budaya populer. Dari perjalanan ini terlihat bahwa menjadi content creator bukan hanya tentang menghasilkan konten, tetapi juga membangun brand pribadi yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.

    Personal Branding sebagai Fondasi Aset Digital

    Dalam dunia digital yang semakin kompetitif, membuat konten saja tidak cukup. Setiap hari muncul jutaan konten baru, sehingga creator membutuhkan identitas yang jelas agar tidak tenggelam di tengah persaingan.

    Hal inilah yang disebut personal branding.

    Personal branding adalah proses membangun persepsi publik terhadap seseorang melalui karakter, nilai, gaya komunikasi, dan konsistensi yang ditampilkan. Dengan personal branding yang kuat, audiens tidak hanya mengingat kontennya, tetapi juga mengenal siapa pembuatnya dan mengapa mereka layak diikuti.

    Pada channel Pressurelicious, identitas yang dibangun bukan sekadar channel pembahasan lagu. Fokus utamanya adalah membantu audiens memahami cerita, emosi, dan makna di balik sebuah karya musik. Pendekatan ini membuat konten terasa lebih dekat karena penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak memahami konteks dan pesan yang terkandung dalam lagu.

    Storytelling menjadi nilai pembeda. Lagu tidak hanya dibahas dari sisi fakta, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman manusia seperti nostalgia, hubungan, emosi, dan budaya populer. Dengan cara ini, konten menjadi lebih hidup dan lebih mudah diingat.

    Personal branding yang kuat juga membantu creator membangun kredibilitas. Ketika audiens merasa creator memiliki sudut pandang yang konsisten dan bermanfaat, kepercayaan akan tumbuh secara alami. Kepercayaan inilah yang menjadi modal penting untuk mengembangkan bisnis digital.

    Perjalanan Beradaptasi dalam Membangun Konten yang Berkelanjutan

    Membangun aset digital tidak selalu berjalan mulus. Perubahan tren, aturan platform, dan kebutuhan audiens membuat creator harus mampu beradaptasi. Dunia digital bergerak cepat, sehingga strategi yang berhasil hari ini belum tentu efektif besok.

    Pada awalnya, Pressurelicious membuat konten berupa penerjemahan lagu bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Ide ini muncul karena banyak audiens menikmati lagu berbahasa asing tetapi kesulitan memahami makna liriknya. Konten tersebut cukup menarik karena memberikan solusi sederhana terhadap kebutuhan audiens.

    Namun, model konten ini memiliki tantangan. Penggunaan bagian tertentu dari lagu berisiko terkena Content ID dan klaim hak cipta di YouTube, sehingga monetisasi menjadi lebih sulit. Selain itu, ketergantungan pada materi pihak lain membuat creator perlu mencari bentuk konten yang lebih aman dan berkelanjutan.

    Dari pengalaman tersebut, strategi kemudian berubah menjadi konten yang lebih original, seperti:

    • analisis makna dan cerita di balik lagu,
    • pembahasan perjalanan seorang artis,
    • fakta unik dalam industri musik,
    • hubungan musik dengan budaya populer.

    Perubahan ini menunjukkan bahwa membangun bisnis digital membutuhkan kemampuan membaca situasi dan beradaptasi. Aset yang sudah dibangun harus terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perubahan platform dan kebutuhan audiens.

    Audiens Bukan Hanya Pengikut, Tetapi Aset Bisnis

    Salah satu kesalahan umum dalam dunia digital adalah menganggap jumlah subscriber atau followers sebagai tujuan akhir. Padahal, angka tersebut hanya salah satu indikator. Nilai terbesar seorang creator justru berasal dari hubungan yang terbentuk dengan komunitasnya.

    Creator dengan jutaan followers belum tentu memiliki bisnis yang kuat jika audiens tidak memiliki hubungan emosional dengan brand tersebut. Sebaliknya, creator dengan komunitas yang lebih kecil tetapi memiliki tingkat kepercayaan tinggi dapat menciptakan peluang yang lebih besar.

    Audiens yang kuat dapat berkembang menjadi berbagai peluang bisnis, seperti:

    1. Digital Marketing: Creator dapat menjadi media promosi yang efektif karena komunikasi dengan audiens terasa lebih personal dibandingkan iklan biasa. Rekomendasi dari creator yang dipercaya sering kali lebih berpengaruh karena audiens merasa mendapat saran dari seseorang yang mereka kenal.
    2. Affiliate Marketing: Personal branding yang kuat juga dapat dimanfaatkan melalui affiliate marketing. Creator dapat merekomendasikan produk yang sesuai dengan karakter audiens dan memperoleh komisi dari penjualan. Model ini cocok untuk creator dengan niche tertentu karena rekomendasinya terasa lebih relevan.
    3. Produk Berbasis Komunitas: Ketika komunitas sudah terbentuk, creator dapat membuat produk sendiri seperti merchandise, layanan digital, kelas online, e-book, atau produk kreatif lainnya. Pada tahap ini, audiens bukan hanya penonton, tetapi juga calon pelanggan pertama yang memiliki hubungan dengan brand tersebut. Komunitas yang kuat juga dapat menjadi tempat untuk menguji ide baru sebelum produk diluncurkan. Karena itu, audiens bukan hanya aset sosial, tetapi juga aset bisnis yang sangat berharga.

    Tantangan Mengubah Konten Menjadi Bisnis

    Walaupun memiliki peluang besar, perjalanan menjadi content creator juga memiliki tantangan. Banyak creator yang semangat di awal, tetapi kesulitan mempertahankan konsistensi ketika hasil yang diharapkan belum terlihat. Padahal, membangun aset digital membutuhkan waktu, kesabaran, dan strategi yang matang.

    Pertama adalah ketergantungan terhadap algoritma platform. Perubahan sistem rekomendasi dapat memengaruhi jangkauan sebuah konten sehingga creator harus mampu membangun aset yang tidak hanya bergantung pada satu platform. Jika seluruh pertumbuhan hanya bergantung pada algoritma, maka creator akan rentan terhadap perubahan yang tidak bisa dikendalikan.

    Kedua adalah persaingan yang semakin tinggi. Banyak creator membuat konten dengan tema yang sama sehingga kemampuan menciptakan identitas yang berbeda menjadi faktor penting. Di tengah banyaknya konten serupa, audiens akan lebih mudah mengingat creator yang memiliki gaya khas, sudut pandang unik, dan penyampaian yang konsisten.

    Ketiga adalah tantangan terbesar, yaitu bagaimana mengubah perhatian audiens menjadi nilai ekonomi. Memiliki banyak penonton belum tentu menghasilkan pendapatan apabila tidak memiliki strategi bisnis yang jelas. Karena itu, creator perlu memahami bahwa views dan likes hanyalah awal, bukan tujuan akhir.

    Keempat adalah menjaga kualitas dan kepercayaan. Ketika creator mulai dikenal, ekspektasi audiens juga meningkat. Jika kualitas konten menurun atau creator kehilangan arah, maka kepercayaan audiens bisa ikut menurun. Oleh sebab itu, konsistensi kualitas menjadi bagian penting dari keberlanjutan bisnis digital.

    Karena itu, seorang content creator perlu memiliki pola pikir sebagai seorang entrepreneur. Creator tidak hanya bertugas membuat konten, tetapi juga membangun brand, memahami audiens, menciptakan nilai, mengelola reputasi, dan mencari peluang bisnis dari aset yang dimiliki.

    Peran Mahasiswa dalam Memanfaatkan Aset Digital

    Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa bidang teknologi seperti Informatika, perkembangan dunia kreator memberikan peluang yang menarik. Dunia digital tidak hanya membuka ruang untuk bekerja di perusahaan, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun usaha mandiri berbasis kreativitas dan teknologi.

    Kemampuan teknologi dapat dikombinasikan dengan kreativitas untuk membangun sesuatu yang memiliki nilai bisnis. Kemampuan dalam bidang data, teknologi, desain sistem, analisis perilaku pengguna, dan pengembangan platform dapat membantu creator memahami audiens lebih baik, mengoptimalkan strategi konten, hingga menciptakan produk digital yang lebih inovatif.

    Misalnya, mahasiswa dapat memanfaatkan kemampuan analisis data untuk melihat jenis konten apa yang paling disukai audiens, kapan waktu terbaik untuk mengunggah konten, atau bagaimana pola interaksi penonton terhadap sebuah topik. Dengan pendekatan seperti ini, proses kreatif menjadi lebih terarah dan tidak hanya mengandalkan intuisi.

    Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk bekerja di perusahaan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk membangun usaha mandiri. Seorang mahasiswa tidak hanya perlu mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, tetapi juga dapat mulai membangun aset yang suatu saat dapat berkembang menjadi bisnis.

    Di era ekonomi digital, kemampuan untuk menciptakan nilai menjadi sangat penting. Mahasiswa yang mampu menggabungkan pengetahuan akademik, kreativitas, dan pemahaman pasar akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang sebagai creator sekaligus entrepreneur.

    Kesimpulan

    Content creator pada era digital bukan hanya sebuah aktivitas membuat konten, tetapi merupakan proses membangun aset digital yang memiliki nilai ekonomi. Melalui personal branding yang kuat, seorang creator dapat membangun komunitas, menciptakan kepercayaan, dan membuka berbagai peluang bisnis.

    Perjalanan channel Pressurelicious menunjukkan bahwa membangun aset digital membutuhkan konsistensi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Perubahan strategi dari konten penerjemahan lagu menuju konten analisis musik menjadi contoh bahwa seorang creator harus mampu berkembang mengikuti kondisi industri digital.

    Pada akhirnya, nilai terbesar seorang content creator bukan hanya berasal dari jumlah subscriber atau views, tetapi dari kemampuan membangun hubungan dengan audiens dan mengubah hubungan tersebut menjadi aset yang dapat memberikan manfaat jangka panjang. Hubungan yang kuat dengan audiens dapat menjadi dasar untuk membangun bisnis, memperluas pengaruh, dan menciptakan peluang baru di masa depan.

    Di era ekonomi digital saat ini, setiap individu memiliki peluang untuk membangun brand dan menciptakan nilai. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan aset yang dimiliki secara konsisten, kreatif, dan strategis hingga berkembang menjadi peluang bisnis nyata. Dengan pemahaman tersebut, content creator tidak lagi dipandang hanya sebagai pembuat konten, tetapi sebagai pelaku ekonomi digital yang mampu membangun masa depan melalui karya dan identitas yang mereka ciptakan.

    Referensi

    Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management.

    Rampersad, H. K. (2008). Authentic Personal Branding: A New Blueprint for Building and Aligning a Powerful Leadership Brand.

  • Tren Digital Marketing 2025: Bagaimana AI, Short Video, dan Influencer Marketing Mengubah Cara Kita Berbisnis

    10123025 | Muhammad Faiq Nurfathurraji | Teknik Informatika

    Pernah nggak sih, kamu scroll TikTok atau Instagram Reels dan tiba-tiba tertarik beli sesuatu yang bahkan lima menit sebelumnya nggak kamu butuhkan? Kalau pernah, selamat kamu sudah menjadi “korban” dari strategi digital marketing yang luar biasa efektif. Di tahun 2025, dunia digital marketing bergerak dengan kecepatan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar buzzword, konten video pendek sudah menjadi raja, dan para influencer kini punya peran yang jauh lebih strategis daripada sekadar mempromosikan produk. Artikel ini akan membahas tiga tren besar yang sedang dan akan terus mendominasi lanskap digital marketing dan kenapa kamu sebagai calon wirausahawan perlu memahaminya sekarang juga.

    1. AI dalam Digital Marketing: Dari Otomatisasi ke Personalisasi

    Kalau dulu kita mengenal AI sebagai teknologi canggih yang hanya bisa diakses oleh perusahaan besar, sekarang ceritanya sudah sangat berbeda. Di tahun 2025, AI sudah menjadi “asisten” yang bisa digunakan oleh siapa saja, termasuk pelaku UMKM dan mahasiswa yang baru memulai bisnis.

    Chatbot yang Makin Pintar

    Salah satu penerapan AI yang paling terasa adalah chatbot. Dulu, chatbot hanya bisa menjawab pertanyaan sederhana dengan jawaban yang sudah diprogram sebelumnya. Sekarang? Chatbot berbasis AI generatif seperti yang dikembangkan oleh OpenAI dan Google bisa memahami konteks percakapan, memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi, bahkan menangani keluhan pelanggan dengan bahasa yang natural.

    Bayangkan kamu punya toko online di Shopee atau Tokopedia. Dengan chatbot AI, pelanggan yang bertanya tentang ketersediaan ukuran atau warna produk bisa langsung mendapatkan jawaban tanpa kamu harus online 24 jam. Ini bukan cuma soal efisiensi, ini soal memberikan pengalaman belanja yang lebih baik untuk pelanggan.

    Konten yang Dibuat AI

    Tren lain yang nggak kalah menarik adalah penggunaan AI untuk membuat konten marketing. Tools seperti ChatGPT, Jasper AI, dan Canva AI Magic bisa membantu kita membuat copywriting, caption Instagram, bahkan desain visual dalam hitungan menit. Menurut laporan HubSpot, sekitar 64% marketer global sudah menggunakan AI dalam proses pembuatan konten mereka di tahun 2024, dan angka ini terus meningkat di tahun 2025.

    Tapi perlu diingat, AI itu ibarat pisau dapur, alat yang sangat berguna kalau kita tahu cara menggunakannya. Konten yang sepenuhnya dibuat oleh AI tanpa sentuhan personal cenderung terasa generik dan kurang autentik. Maka, strategi yang paling efektif adalah menggunakan AI sebagai titik awal, lalu menambahkan sentuhan personal dan kreativitas kita sendiri.

    Personalisasi dengan Data

    AI juga memungkinkan personalisasi yang jauh lebih mendalam. Platform seperti Google Ads dan Meta Ads kini menggunakan machine learning untuk menganalisis perilaku pengguna dan menampilkan iklan yang paling relevan. Misalnya, kalau seseorang sering mencari resep masakan sehat, mereka kemungkinan besar akan melihat iklan blender, suplemen, atau kelas memasak online itu semuanya disesuaikan oleh AI berdasarkan pola perilaku mereka.

    Bagi pelaku bisnis, ini artinya budget iklan bisa digunakan dengan jauh lebih efisien. Kita tidak lagi “menembak” ke semua arah dan berharap ada yang kena, melainkan bisa menargetkan orang yang memang sudah menunjukkan ketertarikan terhadap produk atau layanan kita.

    AI untuk Analitik dan Prediksi

    Selain untuk pembuatan konten dan personalisasi, AI juga punya peran besar dalam hal analitik dan prediksi tren pasar. Tools seperti Google Analytics 4 yang sudah terintegrasi dengan machine learning bisa memberikan insight tentang perilaku pengunjung website secara real-time, mulai dari halaman mana yang paling sering dikunjungi, produk apa yang paling diminati, hingga jam berapa audiens paling aktif.

    Yang lebih canggih lagi, AI sekarang bisa memprediksi tren pembelian di masa depan berdasarkan data historis. Misalnya, sebuah toko online fashion bisa mengetahui bahwa produk jaket denim akan mengalami lonjakan permintaan di bulan Juni berdasarkan pola pembelian tiga tahun terakhir. Dengan informasi ini, pelaku bisnis bisa menyiapkan stok dan strategi promosi jauh-jauh hari sebelum tren itu terjadi. Kemampuan prediktif seperti ini dulunya hanya dimiliki oleh perusahaan besar dengan tim data scientist, tapi sekarang sudah bisa diakses oleh siapa saja melalui platform yang user-friendly.

    2. Short Video: Konten Pendek, Dampak Besar

    Kalau kamu bertanya kepada digital marketer tentang format konten yang paling efektif di tahun 2025, jawabannya hampir pasti: video pendek. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts telah mengubah cara orang mengonsumsi informasi dan cara brand berkomunikasi dengan audiensnya.

    Mengapa Video Pendek Begitu Powerful?

    Alasannya sederhana: attention span manusia yang semakin pendek. Sebuah studi dari Microsoft menunjukkan bahwa rata-rata attention span manusia saat ini hanya sekitar 8 detik, lebih pendek dari ikan mas! Dalam konteks ini, video berdurasi 15-60 detik menjadi format yang paling efektif untuk menyampaikan pesan, karena langsung to the point dan mudah dicerna.

    Data dari Wyzowl juga menunjukkan bahwa 91% konsumen ingin melihat lebih banyak konten video dari brand yang mereka ikuti. Dan yang lebih menarik lagi, 82% orang mengaku pernah membeli produk setelah menonton video pendek tentang produk tersebut.

    Storytelling dalam 60 Detik

    Salah satu kunci sukses konten video pendek adalah kemampuan bercerita dalam waktu singkat. Brand-brand besar seperti Nike, Netflix, dan bahkan brand lokal Indonesia seperti Kopi Kenangan sudah sangat piawai dalam hal ini. Mereka tidak hanya menjual produk, mereka menjual cerita, emosi, dan gaya hidup.

    Contohnya, sebuah kafe kecil di Bandung bisa membuat video 30 detik yang menunjukkan proses pembuatan kopi dari biji hingga siap disajikan, dengan background musik lo-fi yang cozy. Tanpa perlu kata-kata yang banyak, video tersebut sudah mampu menyampaikan value proposition: “Kopi kami dibuat dengan cinta dan perhatian pada detail.”

    Tips Membuat Short Video yang Efektif

    Buat kamu yang tertarik memanfaatkan tren ini, berikut beberapa tips praktis:

    • Hook di 3 detik pertama, Tiga detik pertama menentukan apakah orang akan terus menonton atau scroll ke konten berikutnya. Mulai dengan pertanyaan provokatif, visual yang menarik, atau pernyataan yang mengejutkan.
    • Gunakan tren yang sedang viral, Ikuti trending audio, challenge, atau format yang sedang populer. Ini meningkatkan peluang kontenmu masuk ke halaman For You atau Explore.
    • Call-to-Action yang jelas, Di akhir video, berikan arahan yang jelas. Mau mereka follow? Komentar? Klik link di bio? Pastikan CTA-nya spesifik.
    • Konsisten, Algoritma platform seperti TikTok dan Instagram lebih menyukai akun yang konsisten memposting konten. Idealnya, posting minimal 3-5 kali seminggu.

    Contoh Platform Short Video

    Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

    Meski terlihat mudah, banyak pelaku bisnis pemula yang melakukan kesalahan fatal dalam short video marketing. Pertama, terlalu fokus pada penjualan langsung. Konten yang isinya “beli sekarang, diskon 50%!” dari awal sampai akhir justru membuat orang langsung skip. Audiens di platform short video mencari hiburan dan edukasi, bukan iklan terang-terangan. Pendekatan yang lebih efektif adalah memberikan value terlebih dahulu misalnya tips, tutorial, atau cerita menarik lalu menyisipkan promosi secara halus.

    Kedua, mengabaikan kualitas audio. Banyak yang fokus pada visual tapi lupa bahwa audio yang jernih dan pemilihan musik yang tepat sama pentingnya. Video dengan audio yang pecah atau terlalu berisik akan langsung di-skip oleh penonton, sekeren apapun visualnya.

    3. Influencer Marketing: Evolusi dari Endorsement ke Kolaborasi Strategis

    Influencer marketing bukanlah hal baru, tetapi di tahun 2025, pendekatannya sudah berevolusi secara signifikan. Jika dulu brand hanya mencari influencer dengan jumlah follower terbanyak, sekarang pandanganya sudah berubah.

    Bangkitnya Micro dan Nano Influencer

    Tren terbesar dalam influencer marketing saat ini adalah pergeseran dari mega influencer ke micro influencer (10.000–100.000 followers) dan nano influencer (1.000–10.000 followers). Mengapa? Karena engagement rate mereka jauh lebih tinggi.

    Data dari Later dan Fohr menunjukkan bahwa nano influencer memiliki rata-rata engagement rate sekitar 4-6%, sementara mega influencer dengan jutaan followers hanya sekitar 1-2%. Ini masuk akal, nano dan micro influencer cenderung memiliki komunitas yang lebih erat dan hubungan yang lebih personal dengan followers-nya. Ketika mereka merekomendasikan sebuah produk, rekomendasinya terasa lebih genuine dan bisa dipercaya.

    User-Generated Content (UGC) Creator

    Di tahun 2025, muncul juga tren baru yang disebut UGC Creator. Ini adalah orang-orang yang membuat konten untuk brand tanpa harus memiliki banyak followers. Mereka dibayar bukan karena jangkauan audiensnya, tetapi karena kualitas konten yang mereka buat.

    Ini membuka peluang besar bagi mahasiswa! Kamu tidak perlu menjadi selebgram dengan jutaan followers untuk bisa menghasilkan uang dari digital marketing. Cukup dengan kemampuan membuat konten yang menarik dan authentic, kamu sudah bisa menjadi UGC Creator dan bekerja sama dengan berbagai brand.

    Kombinasi Affiliate Marketing dan Influencer

    Tren lain yang semakin populer adalah kombinasi antara influencer marketing dan affiliate marketing. Dalam model ini, influencer tidak hanya dibayar untuk mempromosikan produk, tetapi juga mendapatkan komisi dari setiap penjualan yang terjadi melalui link afiliasi mereka.

    Platform seperti Shopee Affiliate, Tokopedia Affiliate, dan TikTok Shop Affiliate sudah menjadi ekosistem yang sangat matang di Indonesia. Banyak mahasiswa yang berhasil mendapatkan penghasilan tambahan hanya dengan merekomendasikan produk yang mereka gunakan sehari-hari.

    Kesimpulan

    Tiga tren besar yang kita bahas AI, short video, dan influencer marketing bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah fondasi dari cara bisnis beroperasi di era digital. Dan kabar baiknya, semua ini bisa diakses dan dipelajari oleh siapa saja, termasuk mahasiswa.

    Sebagai mahasiswa yang sedang belajar kewirausahaan, memahami digital marketing bukan lagi pilihan, ini adalah keharusan. Kamu nggak perlu punya modal besar untuk memulai. Yang kamu butuhkan adalah:

    • Rasa ingin tahu yang tinggi untuk terus belajar
    • Kreativitas dalam membuat konten
    • Konsistensi dalam menjalankan strategi
    • Keberanian untuk mencoba dan gagal

    Kalau kamu bingung harus mulai dari mana, coba langkah sederhana ini: minggu pertama, pelajari satu tools AI seperti ChatGPT atau Canva AI dan coba buat konten untuk media sosial pribadimu. Minggu kedua, buat satu video pendek tentang topik yang kamu kuasai dan posting di TikTok atau Instagram Reels. Minggu ketiga, analisis hasilnya lihat berapa views, likes, dan komentar yang kamu dapat, lalu perbaiki di konten berikutnya. Dari situ, kamu akan mulai memahami apa yang disukai audiens dan bagaimana algoritma bekerja.

    Dunia digital marketing terus berubah, dan yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Jadi, mulailah dari sekarang pelajari tools AI yang tersedia, buat konten video pertamamu, atau jalin kolaborasi dengan brand yang kamu sukai. Siapa tahu, bisnis impianmu dimulai dari satu video TikTok yang viral!

    Referensi

    1. HubSpot. (2024). The State of AI in Marketing Report 2024. HubSpot Research.
    2. Wyzowl. (2025). Video Marketing Statistics 2025. Wyzowl.
    3. Later & Fohr. (2024). The State of Influencer Marketing 2024. Later.
    4. Microsoft. (2023). Attention Spans Research Report. Microsoft Canada.
    5. Statista. (2025). Social Media Marketing Worldwide – Statistics & Facts. Statista.
  • Jastip Sepatu: Analisis Peluang Bisnis Digital dari Kacamata Mahasiswa Sistem Informasi

    Awalnya cuma iseng. Saya sering dititipin teman untuk beliin sepatu limited edition saat rilis, karena kebetulan saya cukup update dengan jadwal drop sepatu-sepatu baru dan langganan di beberapa toko online luar negeri. Lama-lama, dari yang tadinya cuma “titip beliin dong” jadi ada yang menawarkan fee, dan dari situ saya sadar ini bisa dikembangkan jadi bisnis yang serius. Artikel ini merupakan hasil analisis saya sebagai mahasiswa semester 6 Program Studi Sistem Informasi terhadap usaha jasa titip (jastip) sepatu yang sedang saya jalankan, baik dari sisi peluang pasar, model bisnis, maupun bagaimana prinsip-prinsip yang saya pelajari di perkuliahan khususnya soal analisis proses bisnis dan sistem informasi manajemen bisa diterapkan langsung ke usaha berskala kecil ini.

    Menariknya, bisnis kecil seperti jastip justru jadi laboratorium yang pas buat menguji konsep-konsep yang selama ini cuma dipelajari lewat studi kasus perusahaan besar di kelas. Kalau biasanya konsep sistem informasi manajemen dijelaskan lewat contoh perusahaan multinasional dengan ribuan transaksi, di sini saya bisa melihat langsung bagaimana prinsip yang sama berlaku meski skalanya jauh lebih kecil mulai dari pentingnya struktur data yang konsisten, sampai bagaimana informasi yang tercatat rapi bisa jadi dasar pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.

    Kenapa Jastip Sepatu Punya Peluang Besar?

    Industri sneaker dan fashion di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pasar alas kaki Indonesia diperkirakan bernilai sekitar USD 2,86 miliar pada 2025, dengan sneaker menjadi pendorong utama karena sepatu kini dipandang bukan sekadar alas kaki, melainkan simbol identitas personal (Vyansa Intelligence, 2025). Fashion sendiri masih jadi kategori e-commerce terbesar di Indonesia, berkontribusi sekitar 16% dari total transaksi (SellerCraft, 2025), dan secara keseluruhan GMV ekonomi digital Indonesia diproyeksikan terus tumbuh dua digit tiap tahunnya.

    Masalahnya, banyak brand global merilis produk secara terbatas (limited release) dan hanya bisa dibeli lewat web/app resmi luar negeri, di jam-jam tertentu, atau lewat sistem raffle yang rumit. Harga barang yang sama juga sering jauh lebih murah kalau dibeli langsung dari situs resmi luar negeri dibanding lewat reseller lokal. Di sinilah jastip berperan sebagai “jembatan” antara konsumen yang tidak punya akses, waktu, atau kemampuan teknis untuk belanja langsung ke situs luar, dengan sumber barang yang sudah saya kuasai aksesnya.

    Dari sisi model bisnis, jastip juga punya keunggulan struktural: sistemnya pre-order, bukan ready stock, sehingga risiko rugi akibat barang tidak laku jauh lebih kecil dibanding bisnis retail sepatu konvensional. Modal awal yang dibutuhkan pun relatif kecil karena tidak perlu menyetok barang di muka.

    Model Bisnis: Pemetaan Proses dengan Pendekatan Analisis Sistem

    Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, saya mencoba tidak hanya menjalankan bisnis ini secara intuitif, tapi juga memetakan alur prosesnya secara terstruktur mirip pendekatan analisis proses bisnis yang biasa dipakai sebelum merancang sebuah sistem informasi. Berikut alur kerja (business process) jastip sepatu yang saya jalankan:

    NoTahapanAktivitasOutput
    1Riset & MonitoringMemantau jadwal rilis dari website resmi brand, komunitas sneaker, dan marketplace luar negeriDaftar rilisan mendatang
    2Promosi & Open OrderMenyebarkan info rilisan lewat Instagram dan grup komunitas, lengkap dengan estimasi hargaDaftar calon pemesan
    3Konfirmasi & DPCalon customer transfer DP sebagai tanda jadiData pesanan tervalidasi
    4Eksekusi PembelianCheckout barang begitu rilis, sering harus dilakukan dalam hitungan detikBukti transaksi
    5Update & PengirimanInformasi status dikirim ke customer, barang dikemas dan dikirimBarang diterima customer

    Alur ini sebenarnya mencerminkan konsep dasar yang dipelajari dalam mata kuliah terkait analisis dan perancangan sistem: setiap proses bisnis punya input, aktivitas, dan output yang harus dipetakan dengan jelas sebelum bisa “disistemkan”. Tanpa pemetaan seperti ini, bisnis sekecil apapun rawan mengalami bottleneck misalnya pesanan menumpuk di tahap konfirmasi karena tidak ada standar yang jelas kapan sebuah order dianggap valid.

    Yang paling krusial dari sisi manajemen informasi adalah tahap 3 sampai 5. Kalau pencatatan pesanan hanya mengandalkan riwayat chat WhatsApp yang menumpuk, sangat mudah terjadi kesalahan seperti salah kirim ukuran, lupa siapa yang sudah DP, atau telat update status. Karena itu saya menerapkan sistem pencatatan sederhana berbasis spreadsheet dengan struktur data (field) berikut: nama customer, kontak, tipe/model sepatu, ukuran, harga barang, fee jastip, total tagihan, status pembayaran (DP/lunas), tanggal checkout, dan nomor resi pengiriman.

    Dari data yang tercatat rapi ini, saya bisa melakukan hal-hal yang mendekati fungsi dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam skala mikro, yaitu mengubah data transaksi menjadi informasi yang mendukung pengambilan keputusan, misalnya:

    • Mengetahui berapa order yang masih pending checkout
    • Mengidentifikasi siapa saja yang belum lunas menjelang barang dikirim
    • Melihat model sepatu apa yang paling sering dipesan, sebagai dasar menentukan prioritas promosi rilisan berikutnya

    Pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan konsep evaluasi berbasis data (data-driven decision making) yang sering dibahas dalam mata kuliah terkait sistem informasi manajemen. Alih-alih menentukan strategi promosi hanya berdasarkan feeling atau kebiasaan, saya jadi terbiasa mengecek dulu data historis pesanan sebelum memutuskan model sepatu mana yang perlu dipromosikan lebih gencar, atau kapan waktu yang paling ramai untuk membuka sesi open order berikutnya.

    Model Bisnis dalam Kerangka Business Model Canvas

    Untuk melihat gambaran bisnis secara lebih menyeluruh bukan cuma dari sisi operasional saya memetakan jastip sepatu ini menggunakan kerangka Business Model Canvas (BMC) yang sederhana:

    Elemen BMCPenjelasan pada Bisnis Jastip Sepatu
    Value PropositionAkses ke sepatu limited release dengan harga lebih murah dibanding reseller lokal, tanpa perlu ribet belanja langsung ke situs luar negeri
    Customer SegmentsKolektor sneaker, penggemar streetwear, mahasiswa/anak muda dengan minat fashion tinggi
    ChannelsInstagram, grup komunitas sneaker, rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth)
    Customer RelationshipsDibangun lewat transparansi harga, update rutin, dan bukti pengiriman yang terdokumentasi
    Revenue StreamsFee jastip per transaksi (biasanya dihitung per pasang atau persentase dari harga barang)
    Key ActivitiesMonitoring rilisan, promosi, checkout cepat, pencatatan data pesanan
    Key ResourcesAkses ke akun/situs resmi luar negeri, jaringan komunitas, kepercayaan personal
    Cost StructureBiaya kuota/internet, biaya transaksi lintas negara, ongkos kirim internasional

    Kerangka ini membantu saya melihat bahwa Key Resources terbesar dalam bisnis ini bukan barang atau modal uang, melainkan reputasi dan akses informasi — dua hal yang sangat relevan dengan bidang yang saya pelajari, karena pada dasarnya seluruh model bisnis ini berjalan di atas aliran informasi yang harus dikelola dengan baik.

    Digital Marketing: Ujung Tombak Bisnis Ini

    Karena jastip adalah bisnis berbasis kepercayaan dan visibilitas, digital marketing bukan pelengkap, melainkan jantung dari operasionalnya. Beberapa hal yang saya pelajari langsung dari pengalaman:

    1. Konsistensi konten lebih penting daripada estetika. Calon pelanggan lebih percaya jastip yang rutin memposting bukti pengiriman dan testimoni, dibanding akun dengan feed rapi tapi jarang update.
    2. Highlight Instagram sebagai “portofolio kepercayaan”. Saya mengumpulkan semua bukti resi dan testimoni di highlight, karena calon customer baru biasanya mengecek ini dulu sebelum memutuskan DP.
    3. Respons cepat berkorelasi dengan tingkat konversi. Bisnis ini kompetitif; siapa yang paling cepat dan jelas menjawab chat biasanya yang mendapatkan order.
    4. Transparansi harga sejak awal. Rincian harga barang, fee jastip, dan estimasi ongkir selalu dicantumkan dari awal agar tidak ada kejutan saat invoice keluar.

    Tantangan yang Dihadapi

    Beberapa tantangan nyata yang saya alami dalam menjalankan bisnis ini:

    • Kepercayaan di tahap awal. Karena sistemnya DP dulu sebelum barang di tangan, banyak calon customer baru yang ragu, apalagi mengingat cukup banyak kasus penipuan jastip yang beredar. Saya mengatasinya dengan transparansi penuh dan tidak memaksa closing kalau customer masih ragu.
    • Risiko gagal checkout. Barang limited berarti kompetisinya bukan cuma sesama jastip, tapi juga bot dan ribuan orang lain yang mengincar barang yang sama di detik pertama rilis. Kegagalan checkout setelah open order berjalan bisa berdampak pada reputasi jika terjadi berulang.
    • Fluktuasi kurs dan ongkos kirim internasional. Karena barang dibeli dari luar negeri, harga akhir bisa berubah mengikuti kurs harian, yang kadang mengharuskan saya menjelaskan ulang selisih harga ke customer.

    Refleksi: Apa yang Bisa Dipelajari dari Sini?

    Dari pengalaman menjalankan jastip sepatu ini, saya merasakan langsung bagaimana konsep-konsep yang dipelajari di perkuliahan analisis proses bisnis, pengelolaan data, hingga prinsip dasar sistem informasi manajemen bukan sekadar teori di slide presentasi, tapi benar-benar menentukan keberlangsungan bisnis kecil sekalipun. Bisnis sekecil jastip saja, jika alur informasinya berantakan, bisa kehilangan pelanggan. Sebaliknya, jika alur order-pembayaran-pengiriman dipetakan dan didokumentasikan dengan rapi, kepercayaan pelanggan bisa dibangun secara bertahap hingga repeat order menjadi hal yang wajar.

    Ke depannya, saya berencana mengembangkan sistem pencatatan ini menjadi lebih otomatis, misalnya memakai Google Form untuk open order agar data customer langsung tercatat rapi tanpa proses manual dari chat, atau membangun katalog rilisan sederhana lewat linktree/website kecil agar calon pelanggan bisa mengecek informasi tanpa harus bertanya satu per satu lewat DM. Jika skala bisnis semakin besar, saya juga mempertimbangkan integrasi sistem pembayaran otomatis atau notifikasi rilisan berbasis bot, sehingga proses menjadi lebih efisien dan human error dapat diminimalkan.

    Kesimpulan

    Analisis terhadap bisnis jastip sepatu ini menunjukkan beberapa temuan utama. Pertama, peluang bisnisnya nyata dan didukung data pertumbuhan pasar fashion dan sneaker di Indonesia, bukan sekadar tren sesaat. Kedua, keberhasilan operasionalnya sangat bergantung pada bagaimana proses bisnis dan aliran informasi dikelola bukan pada besarnya modal. Ketiga, meskipun saat ini masih dijalankan secara manual, prinsip-prinsip Sistem Informasi seperti pemetaan proses bisnis dan pengelolaan data pelanggan tetap relevan diterapkan, bahkan pada usaha berskala sangat kecil sekalipun.

    Dengan kata lain, bisnis sekecil jastip pun membutuhkan pendekatan sistem informasi yang tepat agar bisa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan (scalable). Ini menjadi bukti bahwa ilmu Sistem Informasi tidak hanya relevan untuk perusahaan besar, tetapi juga untuk usaha rintisan mahasiswa yang bermula dari hal sesederhana “titip beliin sepatu”.

    Referensi

    • Vyansa Intelligence. (2025). Indonesia Footwear Market Size, Share & Forecast 2026–2032. Diakses dari vyansaintelligence.com.
    • SellerCraft. (2025). Indonesia Digital Retail Outlook 2025–2026: E-commerce, Consumer Trends & Market Insights. Diakses dari sellercraft.co.

  • TARA DIGITAL: Menilik Kesenjangan Digital di Balik Ambisi SAKINA untuk Keluarga Prasejahtera di Kota Bandung

    Pendahuluan

    Pernahkah membayangkan bisa mengurus persiapan pernikahan, menjaga keharmonisan keluarga, hingga meningkatkan keterampilan digital semuanya hanya melalui satu platform seluler?

    Nah, hal ini benar-benar ada. Melalui Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah secara aktif mempromosikan sebuah inovasi bernama SAKINA (SuperApps Keluarga Indonesia). Kedengarannya memang sangat keren kan?, tapi dari kecanggihan itu ada pertanyaan yang sangat sulit untuk dilewatkan yaitu bagaimana nasib keluarga-keluarga yang sampai selama ini sulit untuk menggunakannya?, apakah mereka sungguh siap untuk terus melangkah bersama teknologi tersebur?.

    Dari titik ini pendekatan TARA DIGITAL (Tangangan dan Respon Adopsi Digital) datang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Artikel ini akan menjelaskan lebih apa itu SAKINA, tantangan apa yang berpotensi akan muncul saat di lapangan, dan sekaligus mengukur sejauh mana TARA DIGITAL dihadapkan dengan kesiapan masyarakat Kota Bandung terutama bagi keluarga sejahtera.

    Mengenal SAKINA: Aplikasi Edukasi dan “Siap Menikah”

    Sebelum membahas lebih jauh, kita kenalan dulu yuk sama SAKINA. Eits, buat yang belum tahu, SAKINA ini bukan sekadar aplikasi pendataan birokrasi kependudukan yang kaku, lho!

    SAKINA justru dirancang sebagai aplikasi edukasi keluarga dan panduan “Siap Menikah” yang sangat interaktif. Lewat aplikasi ini, berbagai pengetahuan penting dari masa muda, pranikah, sampai berumah tangga bisa diakses dengan mudah dalam satu genggaman.

    Tiga Fitur Andalan Platform Sakinah yang Wajib Tahu:

    Beberapa fitur unggulan yang ditawarkan meliputi:

    SIAP IMPACT; ruang bagi generasi muda untuk siap berkembang dan tumbuh di masa depan. Dari fitur ini, nantinya ngebantu buat lebih cakap digital biar ga ketinggalan sama teknologi baru

    SIAP MANTEN; fitur ini cocok banget buat yang baru mau nikah karena bakal bantu buat nyiapin mental dan urusan-urusan teknis atau logistik dalam pernikahan nanti.

    SIAP LANGGENG; nah kalo fitur ini buat yang udah lama nikah, dan nantinya bakal ngebantu pasangan suami istri jadi lebih harmonis dan tumbuh makin kuat untuk menghadapi tantangan besar ke depan.


    Bukan Cuma Tiga Program Utama, SAKINA Juga Dibekali Fitur-Fitur Pendukung

    Ternyata, SAKINA bukan cuma punya tiga fitur andalan utama. Platform ini juga punya banyak program fitur pendukung yang tentunya edukatif dan bakal seru banget yang bikin pengalaman jadi lebih hidup ga monoton. Jadi, gaakan bosen buat baca-baca doang intinya.

    Coba bayangin di fitur pendukung ini nantinya bakal bisa cobain simulasi lewat game virtual buat nanti gambaran persiapan sebelum nikah. Terus ada juga ruang diskusi buat nanti para pengguna bisa saling curhat cerita satu sama lain. Banyak juga akses pustaka digital buat dibaca-baca dan yang lebih serunya ada podcast juga lohh cocok banget buat yang males baca dan pengennya rebahan. Biar lebih jelas, berikut dibahas satu persatu fiturnya.

    Metaverse Pranikah

    Fitur pendukung ini bakalan seru banget, karena konsepnya kaya simulasi dunia virtual gitu main game dan bakal lamgsung ngerasain nanti pengalaman menuju pernikahan jadi ga bosen baca-baca teori aja tapi bisa langsung dipraktekin lewat Metaverse Pranikah. Bagusnya juga kamu gaakan bingung saat simulasinya karena nanti ada avatar Mentri Kependudukan yang bakal nemenin dan ngarahin buat lewatin tiap tahapan pernikahan. Jadi semuanya serba digital tinggal mainin dan rebahan aja bisa simulasiin persiapan buat nilah tanpa harus ribet kesana kesini.

    Fiture BISIK

    Kalau fitur pendukung yang satu ini konsepnya mirip banget kaya forum-forum komunitas gitu, nanti bisa bebas buat nanya atau cerita apa aja tentang dunia pernikahan dan keluarga. Serunya lagi jawaban yang didapetin itu jawaban dari pengguna lain juga yang pastinya berdasarkan pengalaman pribadi dan rasanya jauh lebih personal, relate, dan ga kaku, berasa curhat bareng temen deket gitu.

    Pustaka Digital & Podcast Keluarga

    Fitur pendukung ini cocok buat yang tipenya pengen belajar tanpa ribet, dan nanti ada banyam pustaka digital yang isinya artikel tematik ataupun infograsis yang visualnya bagus sama menarik banget buat dibaca jadi ga bikin sepet bacanya. Nah ga cuma itu, ada juga siaran podcast keluarga yang pas banget kalo lagi sibuk atau lagi males sama gaada waktu bisa didenger dan ditonton di mana aja. Obrolannya pun dikemas dengan bahasa yang ringan tapi tetep berbobot, karena langsung narasumbernya dengan tokoh para ahli dan publik figur yang inspiratif.

    Intinya, dari semua fitur pendukung ini keliatan banget kalo SAKINA bukan cuma jadi platform yang kaku atau searah, tapi juga pengen buat ruang interaksi jadi seru, hidup, dan pastinya deket banget sama keseharian.

    Tantangan Digitalisasi: Kesenjangan di Depan Mata

    Fitur-fitur tersebut memang kedengerannya sangat berkesan dan banyak inspirasi, tapi ada realita di lapangan yang harus selalu diperhatikan. Transfortasi digital ini juga sangat berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, apalagi programnya sebatas ada di platform saja tanpa  diikuti dengan upaya nyata untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.

    Berikut beberapa hal penting soal kesenjangan digital yang memungkinkan terdapat di lapangan:

    • Keluarga penghasilan rendah lebih rentan merasakan cemas dan canggung ketika harus dihadapkan dengan platform digital baru yang belum familiar bagi mereka.
    • Bahkan di kota-kota besar, tingkat literasi digital rata-rata di kalangan penerima bantuan masih rendah. Akibatnya, mereka sering kali menjadi terlalu bergantung pada orang lain atau pihak perantara untuk menyelesaikan tugas-tugas digital.
    • Jika layanan digital diluncurkan tanpa mempertimbangkan kapasitas pengguna, hal itu dapat membuat desain sistem itu sendiri secara struktural menghalangi kelompok rentan untuk mengakses hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan.

    Memotret 5 Kecamatan Lewat Kacamata TARA DIGITAL

    Rencana penerapan aplikasi SAKINA di Kota Bandung ini targetnya kepada lima kecamatan yang jumlah keluarga prasejahteranya terbanyak menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tahun 20243 yang diantaranya:

    1. Bojongloa Kaler, dengan 23.439 keluarga.
    2. Babakan Ciparay, dengan 22.776 keluarga.
    3. Bandung Kulon, dengan 22.373 keluarga.
    4. Kiaracondong, dengan 20.384 keluarga.
    5. Batununggal, dengan 19.229 keluarga.

    Agar dapat dipahami sama yang dihadapi  masyarakat di lapangan, TARA DIGITAL tidak hanya menyebar kuesioner saja tetapi juga dengan metode simulasi langsung untuk mengetahui ekspresi dan kebingungan masyarakat serta mengetahui bagaimana perjuangan mereka pertama kali beradaptasi dengan platform SAKINA ini.

    Kesimpulan

    Platform edukasi keren seperti SAKINA ini memang sangat potensial untuk menaikan kesejahteraan dan keharmonisan keluarga di Indonesia. Tetapi biar dampaknya terasa untuk ke semua masyarakat , jangan abai dengan  satu hal yaitu, pahami dulu hambatan emosional dam teknis yang dihadapi pengguna saat awal menggunakan platform tersebut.

    Dari kerangka kerja TARA DIGITAL inilah dapat mengetahui langsung kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Jadi, strategi pemerintah di masa mendatang terkait jangkauan layanan dan dukungan teknologi akan menjadi jauh lebih menyeluruh dan tepat sasaran.

    21224151 | Sofie Aprilia Putri | PKM-RSH

    Referensi

    Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung. (2023). Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kota Bandung Berdasarkan Kecamatan.

    Kemendukbangga/BKKBN. (2025). Platform SuperApps Keluarga Indonesia (SAKINA): Fitur SIAP IMPACT, SIAP MANTEN, dan SIAP LANGGENG.

    Kemendukbangga/BKKBN. (2025). Pengenalan SAKINA: Pedoman Layanan Publik Digital Terpadu untuk Keluarga Indonesia.

    Pratiwi, S. R., Fakhruroji, M., & Fajar, M. (2023). Dimensi kecemasan teknologi pada kelompok prasejahtera dalam adopsi layanan digital pemerintah. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik, 27(1), 14–29.

    Syamsu, J. (2025). Analisis kebijakan bantuan sosial terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di era digital Kabupaten Sijunjung. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4(3), 7688–7696.

  • From Idea to Running Business: Learning Entrepreneurship Through P2MW

    Plenty of students have a business idea, but only a few actually turn it into something that runs. It’s rarely because the idea is bad. It’s because the process is long: finding a problem worth solving, building a product people actually need, shaping a brand people remember, and then getting it in front of the right market. This article walks through that journey, and along the way touches on a program that’s fairly well known on Indonesian campuses: the Student Entrepreneurship Development Program, or P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha).

    Why Entrepreneurship Is Worth Learning in College

    Entrepreneurship isn’t just about selling things. It’s a way of thinking: seeing problems as opportunities, taking calculated risks, and staying willing to learn from failure. On campus, this mindset matters because students have something not everyone has, namely time to experiment, access to mentors and lecturers, and a network of peers who can become a team or even the first paying customers.

    What often gets overlooked is that successful entrepreneurs usually aren’t the ones with the most original idea. They’re the ones who keep refining their product based on real market feedback. A great idea without solid execution tends to stay stuck in a proposal document.

    P2MW: A Bridge from Idea to Real Business

    P2MW is a program run by Indonesia’s Ministry of Education, Culture, Research, and Technology that provides funding and mentorship for students looking to start a business. Unlike a typical business plan competition, P2MW requires participants to actually run their business during the coaching period, not just write a plan on paper.

    There are a few things programs like this typically evaluate:

    • Clarity of the problem and solution — whether the product actually addresses a real market need.
    • A viable business model — how the business generates revenue and whether it can sustain itself over time.
    • Real progress during the coaching period — sales, customer numbers, or product development, not just plans on paper.
    • Team readiness — clear division of roles, and the ability to adapt when the original plan doesn’t pan out.

    For students who are serious about starting a business, the value of a program like P2MW isn’t just the funding. It’s the mentorship and the pressure to actually execute instead of just talking about it.

    Product Creation: Start From the Problem, Not the Idea

    One common mistake is starting with “I want to build product X” without checking whether anyone actually needs product X in the first place. A healthier product creation process usually works the other way around: start with a problem a group of people faces, then figure out the solution in the form of a good or service.

    The typical steps look something like this:

    • Research the need. Talk directly to potential users, observe their habits, find out what frustrates them about the solutions already available.
    • Build a simple prototype. It doesn’t need to be perfect, it just needs to be testable so you can get feedback quickly.
    • Test it with real users. Give it to a handful of potential buyers, ask for honest feedback, then improve it.
    • Iterate repeatedly. A good product is rarely born from a single attempt. Usually there are several versions before it fits the market.

    For service-based products, the process is a bit different since the “product” is the service experience itself. What matters most is consistency in quality, clear operating standards, and how the customer feels served from start to finish.

    Product Branding: Building an Identity People Remember

    Once the product exists, the next challenge is making people remember it. That’s where branding comes in. Branding isn’t just about a nice logo or aesthetic colors, it’s about how the product gets remembered and trusted by customers.

    A few branding basics worth paying attention to as a beginning entrepreneur:

    • Consistent name and visuals. Logo, colors, and communication style should stay uniform across every channel, from packaging to social media.
    • A clear story behind the product. People tend to remember and trust products more easily when there’s a clear story, such as why the product was made and what problem it’s meant to solve.
    • A promise that’s consistently kept. The strongest branding usually comes from customers repeatedly getting what they expect, not from advertising alone.
    • Clear differentiation. What makes this product different from competitors, and why that difference matters to the customer.

    Good branding takes time to build. Small businesses are often tempted to look “big” right from the start, but what matters more is staying consistent and honest about what’s actually being offered.

    Digital Marketing: Reaching the Market on a Limited Budget

    For student-run startups, marketing budgets are usually tight. Fortunately, the digital era offers plenty of ways to reach an audience without a big budget, as long as it’s done with a clear strategy rather than just posting at random.

    A few common approaches:

    • Social media as both a storefront and a place to interact. Content that shows the making of the product, customer testimonials, or education about the product’s benefits tends to perform better than plain hard-selling posts.
    • Collaborating with micro-influencers. It doesn’t have to be a big name. Working with smaller, relevant accounts often delivers better results per dollar spent.
    • Search Engine Optimization (SEO) and educational content. For businesses with a website or online store, content that answers potential customers’ questions can help the business get found organically through search.
    • Email and direct messaging. It might sound old-fashioned, but this is still effective for maintaining relationships with people who’ve already bought something.
    • Letting data guide decisions. Tracking simple metrics like visitor numbers, conversion rates, or which products get asked about most can help shape the next marketing move.

    The key thing to remember is that digital marketing isn’t about how loud the content is, it’s about how relevant the message is to people who are actually likely to become customers.

    Business Matching: Connecting Products With Opportunities

    Once the product and marketing strategy start gaining traction, the next step that often determines how far a business can scale is business matching, the process of connecting entrepreneurs with potential partners, whether that’s investors, distributors, retailers, or fellow business owners for a specific collaboration.

    Events like trade fairs, student product expos, or business matching forums organized by campuses or government agencies are usually where this happens. A few things worth preparing before joining a business matching session:

    • A concise, clear pitch. Potential partners usually only have a few minutes, so it’s important to be able to communicate the core of the business quickly.
    • Concrete data and progress. Sales figures, customer numbers, or real testimonials are far more convincing than unverified claims.
    • A clear ask. Whether you’re looking for an investor, a distributor, or a production partner, being clear about this helps potential partners quickly judge whether the collaboration makes sense for them.
    • Openness to feedback. Business matching isn’t just about finding funding, it’s also a chance to get input from people with more experience in the relevant industry.

    For students going through a program like P2MW, business matching sessions are usually part of the coaching journey, and also serve as a reality check on whether the business actually has appeal beyond a small circle of friends.

    Closing Thoughts: Consistency Matters More Than Perfection

    Starting a business as a student is genuinely hard. There are classes to keep up with, limited time, and modest capital. But that’s exactly where the value lies. Programs like P2MW create space to try, fail, improve, and try again, in an environment that’s relatively safer than jumping straight into the business world after graduation.

    If there’s one thing worth remembering from all of this, it’s probably this: no product is ever perfect on the first attempt, but a business that consistently improves based on market feedback has a much better chance of surviving and growing.

    Conclusion

    Starting a business, especially as a student, is fundamentally an iterative process: find a real problem → create a solution (product/service) → build a memorable identity (branding) → reach the market efficiently (digital marketing) → expand opportunities through partnerships (business matching). Programs like P2MW serve as a space where all these elements come together in one coaching cycle, while also applying healthy pressure to actually execute rather than just plan.

    A few key takeaways worth holding onto:

    • A good product comes from a real problem, not from an idea forced onto the market.
    • Strong branding is built through consistency, not a polish that only lasts a moment.
    • Digital marketing works when it’s relevant, not when it’s loud or merely viral.
    • Business matching opens the door to scaling, but only when the data and business progress are actually concrete.
    • Early failure is normal — what separates businesses that survive is the willingness to keep improving based on market feedback.

    In the end, entrepreneurial success isn’t determined by who has the most brilliant idea, but by who is most consistent in learning, trying, and improving throughout the process.

    References

    Kasali, R. (2010). Myelin: Mobilitas Intelektual Membentuk Sang Juara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Boston: Pearson Education.

    Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation: A Handbook for Visionaries, Game Changers, and Challengers. Hoboken: John Wiley & Sons.

    Ries, E. (2011). The Lean Startup: How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses. New York: Crown Business.

    Ministry of Education, Culture, Research, and Technology of the Republic of Indonesia. Pedoman Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Directorate General of Higher Education, Research, and Technology.

  • Gen Z Mastery: Cultivating the Entrepreneurial Mindset and Transforming Creative Ideas into Market Opportunities

    The Strategic Imperative of the Entrepreneurial Mindset

    This generation has undergone a fundamental transformation in a world marked by extreme upheaval and paradigm shifts in the workplace. This is not merely a career path, but also an operating system (OS) for survival. These “interdisciplinary competencies” are essential tools for Generation Z to prepare for the future. Generation Z is preparing for the future. (Molomo, Mochina, & Nosiphiwe, 2025). This is the ability to cope with social friction and uncertainty in the labor market not by seeking social stability, but by mastering the ability to adapt. (Mahmudin, 2023).

    At the core of this competency is a mindset a cognitive framework that, as demonstrated by recent pedagogical research, enables individuals to generate “alpha impact,” that is, to create value by identifying and capitalizing on opportunities while making high-risk decisions amid conditions of extreme uncertainty. We have shifted from a narrow definition of “business creation” to a more strategic framework, viewing entrepreneurship as a path to personal development and the creation of “proactive citizenship.” Toward a more strategic framework, entrepreneurship as a path to personal development and proactive citizenship. The most influential and fundamental competency of this entire system is Opportunity Identification (OI). (Hou, Su, Qi, Chen, & Tang, 2022).

    Deconstructing Opportunity Identification: A Skill, Not a Gift

    The myth of the “natural-born entrepreneur” is an outdated narrative that hampers innovation. Rigorous evidence confirms that identifying market opportunities is a proficiency that can be systematically engineered through structured learning (Farrokhnia, et al., 2025). OI is the professional capability to identify ideas for new products, processes, or practices in response to specific pain, problems, or market needs.

    To master OI, one must cultivate three influential cognitive factors:

    1. Prior Knowledge: The specific information an individual holds regarding customer problems and market gaps.
    2. Entrepreneurial Alertness: A state of cognitive readiness that allows an innovator to “connect the dots” and detect meaningful patterns in chaotic data.
    3. Creativity: The mental flexibility to combine existing knowledge into novel, high-value solutions.

    The Strategist’s Edge: While formal education (General Human Capital) provides a baseline, research confirms that Specific Human Capital intimate knowledge of customer frustrations is the true engine of innovativeness (Farrokhnia, et al., 2025). How you understand a market’s pain is far more critical than what you learned in a traditional classroom.

    The Three-Stage Roadmap for Business Idea Transformation

    Strategic innovation is rarely a “eureka” moment; it is a series of disciplined iteration cycles. Mastery requires moving through a three-stage roadmap that transforms a raw spark into a viable opportunity (Farrokhnia, et al., 2025):

    1. The Triggering Stage: This is the catalyst phase. Triggers occur via Market Pull (unmet needs), Resource Push (technological or social shifts), or Desires (intrinsic passion or extrinsic rewards). At this stage, use the “Migraine Headache” Diagnostic: Is the problem you are solving a critical, urgent “migraine” for your audience, or just a “nice-to-have” vitamin?
    2. The Idea Generation Stage: This stage utilizes Divergent Thinking to combine knowledge into a vast quantity of concepts. To avoid cognitive “fixation,” innovators should utilize tools like SCAMPER (Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Reverse) and the “5Ws plus H” (Who, What, Where, When, Why, and How). Crucially, you must “secure ideas” by maintaining a written opportunity log to capture fleeting insights.
    3. The Idea Evaluation Stage: Here, the focus shifts to Convergent Thinking. Using “Structural Alignment,” you must compare vague concepts against market realities and feasibility rubrics. This is where you refine, pivot, or discard ideas based on their wealth-generating potential and manageable risk.

    The Distinction: A “business idea” is a preliminary, imaginary concept. A “business opportunity” only emerges after an iterative process of continuous shaping, where the idea is refined against real world feedback.

    Evaluating “Entrepreneurial Capital”: Personal and Environmental Factors

    Identifying opportunities is a function of “Entrepreneurial Capital” the synergy between your internal traits and your external ecosystem.

    Individual CharacteristicsEnvironmental Factors
    Specific Human Capital: Deep knowledge of customer pains and market gaps. (Farrokhnia, et al., 2025)Social Networks: Scale and intensity of information conduits.
    Moral Antecedents: Awareness of environmental consequences and social values. (Castro & Zermeño, 2021)Parental Exposure: Statistics show 67% of successful course finishers had entrepreneurial parents vs. 37% of non-finishers. (Castro & Zermeño, 2021)
    Cognitive Style: Preference for innovative behavior and resilience. (Krisnawati, Utami, & Apriani, 2026)Institutional Support: Access to incubators, mentors, and university initiatives. (Mahmudin, 2023)

    The “So What?” Layer: Your social network isn’t just for “networking” it is your information pipeline. If your network is narrow, your “Alertness” is statistically lower because your information conduits are clogged. Furthermore, cross-cultural experiences act as a powerful accelerator, broadening your mental frameworks to recognize international opportunities. (Farrokhnia, et al., 2025)

    From Creative Concepts to Sustainable Solutions (The SDG Layer)

    For Gen Z, the most potent opportunities lie at the intersection of Moral Antecedents and Market Pull. The “geographical imperative” is particularly high in regions like Latin America, where innovation needs more dynamism to solve systemic issues. By utilizing Challenge-Based Learning (CBL), you can align your OI capability with the Sustainable Development Goals (SDGs). (Castro & Zermeño, 2021)

    Your moral compass is a cognitive trigger. Awareness of global challenges such as Zero Hunger (SDG 2), Quality Education (SDG 4), or Sustainable Cities (SDG 11) allows you to identify “Value-Driven Challenges.” This isn’t just “doing good”, it is identifying high-impact market needs that traditional models overlook.

    Sustainable OI occurs when you recognize that a social or environmental problem is, in fact, a massive “migraine headache” waiting for a scalable solution.

    Conclusion: A Call to Action for the New Generation of Innovators

    The transition to an entrepreneurial mindset requires a radical psychological shift: moving from “preventing failure” to viewing failure as low-cost R&D. In an iteration cycle, failure is simply high-value data that informs your next pivot.

    To begin your journey as a strategic innovator today, execute this high-impact checklist:

    1. Launch a “Bugs Report”: Systematically audit your environment. List every unmet problem or “migraine headache” you encounter. If it’s a recurring pain point for many, it’s a potential market entry.
    2. Optimize for Structural Alignment: Use the Elevator Pitch not as a sales tool, but as a diagnostic. Present your concept to peers and mentors to identify where your idea misaligns with market reality. (Farrokhnia, et al., 2025)
    3. Audit Your Information Conduits: Actively seek cross-cultural experiences and diverse social networks. Information diversity is the primary fuel for entrepreneurial alertness.

    Mastering the entrepreneurial mindset is the key to redefining the global marketplace. By identifying real-world pains and applying creative, iterative solutions, Gen Z can lead the way in creating inclusive, sustainable, and resilient economic growth.

    Conclusion:
    Amid a challenging paradigm shift in the world of work, mastering an entrepreneurial mindset is no longer merely a career choice, but rather a fundamental operating system for Generation Z to survive and thrive. The core competency within this system is the ability to identify opportunities a skill that can be systematically learned through sensitivity to market issues, the application of specialized knowledge, and creativity. Turning ideas into tangible business opportunities requires a disciplined, iterative process, beginning with identifying the core problem (“the headache”), generating ideas through divergent thinking, and critically evaluating them. By combining internal entrepreneurial capital, extensive information networks, and a moral sensitivity to the Sustainable Development Goals (SDGs), Generation Z is able to transform failure into valuable data insights to create innovative, inclusive, and globally impactful business solutions.

    Signature:
    This paper is respectfully submitted by Salwa Nur Fadilah, Student ID Number 21224065, a fourth semester undergraduate student majoring in management. This assignment was prepared and submitted to fulfill the academic requirements of the Entrepreneurship course, under the guidance of the course instructor, Prof. HC. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, MT.

    References

    Castro, M., & Zermeño, M. (2021). Identifying Entrepreneurial Interest and Skills among University Students. MDPI, 1-19.

    Farrokhnia, M., Noroozi, O., Baggen, Y., Lans, T., Biemans, H., & Pittaway, L. (2025). Fostering University Students’ Entrepreneurial Opportunity Identification Capability: A Systematic Literature Review. jurnal.sagepub.com, 45–91.

    Hou, F., Su, Y., Qi, M., Chen, J., & Tang, J. (2022). A Multilevel Model of Entrepreneurship Education and Entrepreneurial Intention: Opportunity Recognition as a Mediator and Entrepreneurial Learning as a Moderator. Frontiers in Psychology, 1-18.

    Krisnawati, L., Utami, W., & Apriani, A. (2026). Creativity and Innovation Shape The Entrepreneurial Intention of Gen Z. Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis, 1-11.

    Mahmudin, T. (2023). The Importance of Entrepreneurship Education in Preparing the Young Generation to Face Global Economic Challenges. Journal of Contemporary Administration and Management (ADMAN), 187-192.

    Molomo, P. A., Mochina, M., & Nosiphiwe, M. (2025). Entrepreneurship Education in Instilling an Entrepreneurial Mindset as an Alternative Towards Job Creation: A Systematic Literature Review. Noyam Journals, 2127 – 2142.

  • Kenapa Cimol Kering? Analisis Peluang Pasar Snack Kering di Tengah Tren Makanan Tahan Lama

    Bayangkan sebuah camilan favorit yang bisa disimpan berbulan-bulan di rak dapur tanpa kehilangan kerenyahan dan rasanya. Tidak perlu kulkas, tidak perlu digoreng dadakan, tinggal buka kemasan dan langsung dinikmati kapan saja. Di tengah gaya hidup yang serba cepat, kebutuhan akan camilan seperti ini menjadi kebutuhan nyata banyak orang.

    Pergeseran gaya hidup inilah yang membuat kategori makanan tahan lama, atau shelf-stable food, semakin diminati. Orang butuh sesuatu yang praktis dibawa, tidak mudah basi, tapi tetap punya cita rasa yang memanjakan lidah. Di sinilah cimol kering yang sebelumnya merupakan camilan berbahan dasar aci yang biasanya identik dengan versi basah dan digoreng dadakan, hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.

    Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya peluang pasar yang ditawarkan kategori ini, dan kenapa sekarang menjadi momentum yang tepat untuk masuk ke bisnis cimol kering? Mari kita bedah satu per satu.

    Tren Makanan Tahan Lama: Bukan Sekadar Gaya-Gayaan

    Industri makanan ringan di Indonesia sedang tumbuh pesat. Snack kini telah menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda yang gemar mengeksplorasi rasa baru sekaligus membagikan pengalaman makan mereka di media sosial [1].

    Secara nilai pasar, potensinya juga tidak main-main. Pada 2025, pasar makanan ringan di Indonesia diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar US$ 4,54 miliar, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 8,74% hingga 2030 [2]. Angka ini menunjukkan bahwa snack kering merupakan sektor yang secara konsisten berkembang.

    Selain soal rasa, faktor kepraktisan dan daya simpan menjadi alasan utama konsumen beralih ke snack kering. Produk-produk seperti keripik buah kering, snack rendah gula, dan camilan tinggi serat kini semakin diburu, dengan edukasi soal manfaat kesehatan menjadi kunci penerimaan pasar yang lebih luas [3]. Tren ini juga terhubung dengan kesadaran kesehatan yang meningkat sejak pandemi, di mana konsumen tidak hanya mencari rasa enak tetapi juga manfaat fungsional dari camilan yang mereka konsumsi [4].

    Dengan kata lain, snack kering sedang berada di persimpangan tiga kebutuhan sekaligus: praktis, tahan lama, dan (jika dikemas dengan tepat) terasa lebih “sehat” dibanding gorengan segar.

    Kenapa Cimol, dan Kenapa Harus Kering?

    Cimol sebenarnya bukan pemain baru. Camilan berbahan aci ini sudah punya basis penggemar yang besar di Indonesia, khususnya di kalangan pecinta jajanan gurih dan pedas. Namun cimol dalam bentuk basah punya keterbatasan yang cukup signifikan sebagai produk bisnis.

    Cimol basah harus digoreng saat itu juga agar renyah, cepat melempem jika didiamkan, dan sulit didistribusikan ke luar kota karena masa simpannya pendek. Artinya, skala bisnisnya cenderung terbatas pada penjualan langsung atau area lokal.

    Cimol kering menjawab hampir semua keterbatasan tersebut. Dengan proses pengeringan yang tepat, produk ini bisa disimpan jauh lebih lama, dikemas dalam standing pouch atau kemasan kedap udara, dan dikirim ke luar kota bahkan luar pulau tanpa risiko basi di jalan. Pola ini sejalan dengan karakteristik umum snack kering kiloan yang menjadi andalan banyak UMKM: harga beli lebih terjangkau, mudah dikemas ulang ke berbagai ukuran, cocok dijual online maupun offline, dan memiliki masa simpan yang panjang apabila disimpan dengan benar [5].

    Singkatnya, cimol kering merupakan transformasi model bisnis dari camilan yang harus dijual dan dikonsumsi di tempat, menjadi produk kemasan yang bisa menjangkau pasar jauh lebih luas.

    Membaca Peluang Pasar: Siapa yang Beli dan Kenapa?

    Segmen konsumen cimol kering sebenarnya cukup luas. Anak kos dan pekerja kantoran butuh camilan yang bisa disetok tanpa khawatir basi. Ibu rumah tangga mencari stok camilan anak yang praktis. Reseller online mencari produk dengan margin sehat dan daya tahan kirim yang baik.

    Perilaku belanja konsumen pun makin mendukung. Kategori makanan dan minuman termasuk tiga besar produk paling laris di TikTok Shop Indonesia, dengan camilan seperti keripik dan kerupuk mencatatkan nilai penjualan tertinggi di platform tersebut, mencapai ratusan miliar rupiah dalam setahun terakhir [6]. Sementara itu, produk seperti basreng dan makaroni pedas juga masuk jajaran camilan paling diminati di platform social commerce [7] yang menunjukkan bahwa camilan kering berbasis aci dan tepung punya pasar yang terbukti besar secara online.

    Namun tidak semua produk makanan bisa dijual bebas di platform seperti TikTok Shop. Produk harus punya kemasan yang rapat dan tahan kirim, masa simpan minimal satu hingga dua minggu, sudah memiliki izin edar seperti PIRT, serta tahan disimpan di suhu ruang tanpa perlakuan khusus [8]. Di sinilah cimol kering punya keunggulan alami dibanding kompetitor berbahan basah atau frozen dimana produk secara default memenuhi syarat-syarat tersebut.

    Peluang lain yang sering terlewat adalah pasar oleh-oleh dan hamper. Karena daya simpannya panjang, cimol kering berpotensi masuk ke kategori buah tangan khas daerah atau parsel camilan, sebuah segmen yang biasanya didominasi produk kering tradisional seperti kerupuk dan keripik [9].

    Tantangan yang Perlu Diwaspadai

    Meski peluangnya besar, bisnis cimol kering tidak lepas dari tantangan. Pertama, persaingan di kategori snack kering kiloan sudah cukup ramai, dengan basreng, makaroni crispy, dan keripik tradisional yang terus berinovasi dari sisi rasa dan tekstur setiap tahunnya [10]. Artinya, cimol kering perlu punya diferensiasi yang jelas agar tidak tenggelam di antara kompetitor yang lebih dulu punya nama.

    Kedua, ada tantangan edukasi pasar. Tidak semua konsumen familiar dengan konsep “cimol versi kering”, karena selama ini cimol identik dengan jajanan gorengan yang dijual di pinggir jalan. Membangun persepsi baru ini butuh strategi konten dan storytelling yang konsisten.

    Ketiga, menjaga konsistensi tekstur renyah dalam produksi skala menengah hingga besar bukan perkara mudah. Proses pengeringan yang tidak stabil bisa menghasilkan tekstur yang keras, alot, atau justru cepat melempem kembali setelah kemasan dibuka.

    Terakhir, kemasan menjadi elemen krusial yang sering diremehkan. Kemasan yang tidak benar-benar kedap udara akan membuat klaim “tahan lama” jadi tidak konsisten dengan kenyataan di tangan konsumen yang bisa merusak kepercayaan pembeli lebih cepat daripada rasa yang kurang pas.

    Studi Kasus Singkat: Moring

    Moring adalah salah satu contoh produk yang mencoba menjawab peluang ini sejak awal berdiri. Alih-alih mengikuti pola cimol basah yang konvensional, Moring memilih fokus pada format kering sejak konsep produk dirancang yang merupakan sebuah keputusan yang sejalan dengan arah pasar snack kering yang terus tumbuh dan makin banyak dijual lewat kanal digital.

    Positioning ini membuka jalan bagi Moring untuk masuk ke jalur distribusi yang lebih luas: penjualan online lintas kota, potensi masuk ke kategori oleh-oleh, hingga peluang business matching dengan reseller maupun mitra distribusi. Sebagai produk yang lahir dari program pengembangan wirausaha mahasiswa, perjalanan Moring juga menjadi contoh bagaimana riset pasar sederhana yaitu memahami tren makanan tahan lama dan perilaku belanja digital, bisa menjadi dasar keputusan bisnis yang lebih terarah, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

    Penutup: Peluang yang Masih Terbuka Lebar

    Cimol kering berada di titik temu yang menguntungkan: tren makanan tahan lama yang terus tumbuh, perilaku belanja online yang makin mendukung produk kemasan, dan basis penggemar cimol yang sudah besar sejak lama. Kombinasi ini menjadikan cimol kering sebuah kategori dengan fondasi pasar yang cukup kuat untuk dikembangkan jangka panjang.

    Meski begitu, peluang besar ini tetap menuntut kejelian dari diferensiasi rasa, konsistensi kualitas produksi, hingga strategi kemasan dan storytelling yang tepat. Bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan terjun ke bisnis snack kering, ruang untuk berinovasi masih terbuka lebar, dan cimol kering adalah salah satu pintu masuk yang layak dipertimbangkan.

    Tertarik mencoba sendiri seperti apa rasanya cimol kering yang renyah tahan lama? Ikuti terus perjalanan Moring untuk melihat bagaimana produk ini terus berkembang dari dapur kecil menjadi bisnis yang menjangkau lebih banyak orang.

    Sumber Referensi

    [1] Heryadi, “Dari Pedas Ekstrem hingga Fusion Food, Ini Tren Snack yang Akan Booming di 2026,” Media Indonesia. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://mediaindonesia.com/kuliner/873497/dari-pedas-ekstrem-hingga-fusion-food-ini-tren-snack-yang-akan-booming-di-2026

    [2] A. SEO, “Snack Kering Tren Bisnis Paling Laku di Era Digital,” Wiratech Group. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://wiratech.co.id/snack-kering/

    [3] A. Prasetyo, “Tren Kuliner Paling Diburu Masyarakat Indonesia Sepanjang Tahun 2026,” Balans.id Pekanbaru. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://pekanbaru.balans.id/detail/753486/tren-kuliner-paling-diburu-masyarakat-indonesia-sepanjang-tahun-2026

    [4] NP Foods – Mkt, “Tren Snack Sehat di Indonesia: Klaim, Rasa, dan Peluang Bisnis di 2025,” NP Foods. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.np-idn.com/post/tren-snack-sehat-indonesia-klaim-rasa-peluang-2025

    [5] Snack Malang, “15 Snack Kering Kiloan Terlaris 2026 + Harga dan Tips Bisnis,” Sricandra. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.snackmalang.com/snack-kering-kiloan-terlaris/

    [6] mas, “Setahun diakusisi, nilai penjualan FMCG di TikTok Shop naik,” indotelko.com. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.indotelko.com/read/1739890684/setahun-diakusisi-nilai-penjualan-fmcg-di-tiktok-shop-naik

    [7] I. Andini, “Konten Makanan & Minuman Viral di TikTok, Tapi Market Share Penjualan di Tokopedia Lebih Besar,Kok Bisa?,” Compas.co.id. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://compas.co.id/article/konten-makanan-minuman-viral-di-tiktok/

    [8] Admin, “Cara Memanfaatkan TikTok Shop untuk Jualan Makanan Kemasan,” KulinerBDG. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.kulinerbdg.com/artikel/cara-memanfaatkan-tiktok-shop-untuk-jualan-makanan-kemasan

    [9] Snack Malang, “20 Snack Kiloan Terlaris 2026 (Data-Driven + Tips Stocking),” Sricandra. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.snackmalang.com/snack-kiloan-terlaris/

    [10] Admin, “Tren Snack 2026: Peluang Besar Bisnis dengan Inovasi Rasa dan Kreativitas Produk,” Magfood. Accessed: Jul. 02, 2026. [Online]. Available: https://www.magfood.com/tren-snack-2026-peluang-besar-bisnis-dengan-inovasi-rasa-dan-kreativitas-produk/