Tag: Sejarah

  • On Why We Buy Things: Mengapa Kita Konsumsi


    Motor Harley Davidson, Ikon Konsumerisme
    Foto oleh Otavio Henrique: https://www.pexels.com/photo/motorcycle-close-up-17883704/

    Pernahkah kamu membeli barang yang kamu kira perlukan, tapi ternyata setelah dipikir-pikir kembali ternyata kamu tidak begitu butuh pada barangnya? Kenapa sih kita mau membeli sebuah sepatu mahal seperti Air Jordan atau bisa kagum dengan motor Harley Davidson? Apa alasannya kita membeli sebuah “barang” itu sendiri?

    Pembelian atau pertukaran sederhana uang untuk barang bisa dibilang merupakan salah satu ritual peradaban manusia yang paling mendasar dan tidak bisa dilepaskan dari salah satu unsur kemanusiaan itu sendiri, yaitu manusia sebagai homo economicus. Homo economicus secara bahasa berarti manusia ekonomi. Homo economicus (seperti dikutip Pengertian dan Istilah di Kumparan.com 2023) artinya adalah manusia yang rasional dan berkebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada untuk mencapai tujuan tertentu.

    Dibawah semua pembelian, gemerincing receh rupiah, dan kata-kata promosi, tersembunyi sebuah narasi yang mendalam dari sejarah manusia yang terus berkembang. Bukan hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga masuk ke bidang psikologi, sosiologi, dan sebuah konsep sense of self atau jati diri seseorang. Agar paham soal mengapa kita membeli, kita harus melakukan perjalanan jauh ke masa lalu. Karena konsep pembelian itu muncul dari barter, kita harus melakukan perjalanan ke perapian kuno sampai ke era modern. Kita juga patut menelusuri alasan bagaimana kita bergeser dari sekadar memastikan kelangsungan hidup sampai konsep membeli brand itu menjadi wujud ekspresi diri seseorang. Kita akan mengungkap sedikit mengapa jual-beli berubah dari mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk hidup, menjadi apa yang kita butuhkan untuk membantu hidup, hingga apa yang kita butuhkan untuk menjalani sebuah cerita. Diujung spektrum ini, ada sebuah paradoks yang tertinggi: membeli barang-barang atas alasan yang melampaui barang itu sendiri, contohnya oleh ikon seperti Harley-Davidson, di mana produk hanyalah sebuah bentuk perwujudan jati diri atau ekspresi yang ingin dibangun seseorang.

    Bagian 1: Barter dan Kelangsungan Hidup, dari Survival ke Status

    Cerita ini tidak mulai langsung ke bentuk jual-beli di pasar dengan uang kertas rupiah, namun kembali ke bentuk kelangkaan dan kekurangan barang dan pertukaran yang hadir dari situ. Ekonomi manusia paling awal dibangun untuk memenuhi kelangsungan hidup dan utilitas. Barter muncul sebagai solusi kekurangan sumber daya tersebut.

    Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), barter adalah perdagangan dengan saling bertukar barang. Barter tersebut diperkirakan sudah ada sejak masa 6000 SM, dari bangsa Fenisia. Metode barter atau tukar barang adalah bentuk jual-beli tertua manusia. Sebagai contohnya, barter digunakan sebagai solusi untuk masalah distribusi sumber daya yang tidak merata, dimana jika sebuah suku memiliki batu bara yang berlebih akan ditukarkan dengan gandum yang berlebih di suku lain. Unsur “mengapa” dalam fase ini jelas dan bersifat biologis: untuk mengamankan makanan, perkakas, atau tempat tinggal. Nilai barter itu intrinsik dan fungsional, seperti pisau untuk perkakas, dan kulit binatang yang digunakan sebagai sandang yang menghangatkan.

    Penemuan mata uang diperkirakan hadir di sekitar 600 SM oleh bangsa Lydia (modernnya adalah Turki). Uang tersebut terbuat dari campuran emas dan perak yang disebut “elektrum”, yang berbentuk seperti kacang polong. Penemuan mata uang menjadi sebuah revolusi yang mengabstraksikan nilai, membuat pertukaran menjadi lebih lancar dan efisien. Namun, bahkan dalam masa kuno penggunaan mata uang, bentuk pembelian ini segera meluap dari konsep sekedar memenuhi kebutuhan. Contohnya adalah para Patrician Romawi atau keluarga-keluarga aristokrat yang menguasai, mereka membeli warna ungu Tyrian sebagai simbol status kekuasaan imperial karena warnanya yang mencolok, tahan lama, dan terutama karena proses pembuatannya yang rumit dan mahal. Di Eropa Abad Pertengahan, istri-istri bangsawan dan saudagar menjadikan venetian lace sebagai simbol status kekayaan dan status sosial. Di masa-masa ini, konsep pembelian tersebut mulai bercabang menjadi sebuah “conspicuous consumption” atau konsumsi yang dipertunjukkan. Conspicuous consumption (seperti yang dikutip oleh Scott Zimmer 2021), adalah tindakan membeli barang atau simbol-simbol kekayaan lainnya untuk menunjukkan kepada orang lain seberapa besar kekayaan yang dimiliki.

    Sebuah tujuan pembelian mengalami perpecahan yang krusial: yang fungsional (contohnya baju) dan conspicuos consumption (contohnya baju yang menunjukkan status bangsawan). Pada dunia sebelum industri ini sebenarnya masih mengikat sebagian besar konsumsi pada kebutuhan primer. Di luar dari kebutuhan primer, barang-barang di luar kebutuhan yang dianggap “menarik” adalah barang yang memiliki kerajinan yang terbaik, mempunyai daya tahan, atau mempunyai bahan yang jarang. Nilainya sering terkait langsung dengan craftsmanship dan scarcity/rarity produk tersebut.

    Bagian 2: Revolusi Industri dan Psikologi Konsumen

    Revolusi Industri (1760-1840) menghancurkan paradigma lama dalam produksi, dan akhirnya mengubah juga pola pikir masyarakat. Produksi massal ini menciptakan kelebihan barang, yang mendorong terciptanya hasrat banyak orang. Inilah awal mula pemasaran modern. Alasan utama untuk membeli kini difokuskan pada pemecahan masalah dan peningkatan efisiensi serta kenyamanan pribadi. Contohnya mesin jahit menghemat tenaga kerja, pakaian jadi menawarkan kenyamanan, dan makanan kemasan memperluas selera yang bisa dipilih konsumen.

    Namun, para industrialis dengan cepat menyadari bahwa alasan fungsional saja tidak cukup untuk menghabiskan stok barang yang sudah diproduksi, yang stoknya semakin besar. Para pionir periklanan seperti Edward Bernays (yang dijuluki “father of public relations”) menerapkan teori Sigmund Freud tentang alam bawah sadar dalam proses pemasaran. Anda bukan hanya membeli mobil; Anda membeli kebebasan dan kekuatan maskulin. Anda bukan hanya membeli sabun; Anda membeli penerimaan sosial dan kebersihan. Pergeseran psikologis ini sangat penting. Ia memindahkan fokus “mengapa” dari atribut fisik produk menjadi manfaat emosional yang dijanjikan. Sebuah produk menjadi menarik jika dapat dihubungkan secara naratif dengan hasrat manusia yang lebih dalam: seperti cinta, penghargaan, rasa memiliki, atau perubahan.

    Kebangkitan ekonomi pasca Perang Dunia II semakin memperkuat hal ini. Di era kemakmuran baru, kebiasaan mengonsumsi menjadi pendorong ekonomi dan merupakan aksi warga Amerika yang didukung sebagai bentuk patriotisme. Idealisme suburban Amerika dibangun atas hasrat untuk memiliki mobil, lemari es, dan televisi. Barang-barang ini tidak hanya memberikan manfaat fungsional yang nyata, tetapi juga menjadi simbol kuat kesuksesan, modernitas, dan partisipasi dalam American Dream. Berbelanja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup; tetapi juga dianggap merupakan bentuk kemajuan.

    Bagian 3: Era Identitas

    Dalam akhir abad ke-20, di pasar Barat yang sudah jenuh, fitur fungsional murni menjadi seperti konsep murahan. Pembeda tidak lagi bisa hanya soal kecepatan atau keawetan. Ini adalah awal mula era branding gaya hidup. Nike tidak hanya menjual sepatu dan mulai menjual semangat atlet (“Just Do It”). Apple tidak hanya menjual komputer dan mulai menjual alat-alat untuk berpikir kreatif yang tidak konvensional (“Think Different”). Minat terhadap produk-produk tersebut terletak pada kegunaan simbolisnya. Produk berfungsi sebagai lambang dan representasi dari identitas, membeli menjadi tindakan penciptaan diri dan afiliasi dengan kelompok. Konsumsimu menjadi jawabanmu.

    Bagian 4: Membuat Piramida Konsumsi: dari Primer ke Pemenuhan

    Lalu kita dapat mengerucutkan piramida “alasan” pembelian, mulai dari kebutuhan primer hingga ke puncak yang melampaui kebutuhan. Piramida ini mirip dengan piramida kebutuhan oleh Maslow. Piramida untuk alasan pembelian sekiranya adalah:

    • 1. Dasar: Untuk Kelangsungan Hidup & Fungsional.

    Alasan utama yang tidak dapat dikompromikan. Kebutuhan pokok seperti makanan, hunian, dan pakaian. Minat dalam kategori ini adalah dari produk yang dapat menjalankan fungsi utamanya dengan andal dan efisien dengan biaya yang wajar (misalnya, kaos putih polos, roti, atau palu).

    • 2. Tingkat Kedua: Kenyamanan & Kemudahan.

    Meningkatkan kualitas hidup di luar kebutuhan dasar. Seperti alat-alat yang menghemat tenaga, kursi gaming, makanan siap saji. Minat dalam kategori ini ditimbulkan oleh fitur yang menghemat waktu, meringankan beban, atau meningkatkan kualitas hidup (misalnya oven, kasur memory foam, layanan pengiriman makanan seperti Gojek).

    • 3. Tingkat Ketiga: Tanda Sosial & Status.

    Mengkomunikasikan posisi seseorang. Seperti tas mewah, mobil premium, merek desainer. Minat didorong oleh citra merek, eksklusivitas, dan keterkenalan merek (misalnya, jam tangan Rolex, mobil BMW, tas Gucci).

    • 4. Tingkat Keempat: Identitas & Keberadaan Diri.

    Mengekspresikan diri dan relevansi dengan sebuah komunitas. Seperti kaos band, jaket kulit Garut, atau budaya sepatu tertentu. Minat didorong oleh keaslian, narasi, dan rasa bergabung dalam komunitas (misalnya, Air Jordan untuk pecinta basket, kaos band Nirvana, piringan vinyl dari artis indie).

    • 5. Puncak: Aktualisasi Diri

    Alasan yang memuaskan, di mana objek menjadi perantara pengalaman, nilai penghargaan, atau perasaan untuk mencapai kebahagiaan personal. Ini adalah ranah pembelian simbolis, di mana kegunaan produknya hampir tidak relevan.

    Bagian 5: Harley-Davidson?

    Merek Harley-Davidson adalah contoh terbaik dari puncak piramida ini. Secara mendasar, ini hanyalah sepeda motor—sebuah alat transportasi. Akan tetapi, Jika ada orang yang berpendapat bahwa membeli Harley itu hanyalah untuk alat transportasi tentunya orang tersebut salah kaprah. Fungsionalnya (berat, efisiensi bahan bakar, handling) seringkali secara objektif dikalahkan oleh pesaing. Namun, daya tarik motor tersebut tak terbantahkan bagi sebagian orang.

    Sebuah Harley dibeli untuk alasan yang di luar motornya, seperti:

    • 1. Mitos Kebebasan: Harley seringkali dianggap menjadi simbol kebebasan, sebuah simbol fisik dari American dream. Kebebasan, pemberontakan, dan kebebasan berkendara.
    • 2. Komunitas: Membeli Harley dapat berarti membeli akses ke komunitas legendarisnya yang global. Komunitas tersebut memiliki aturan, ritual, dan estetika tersendiri.
    • 3. Identitas Suara: Gemuruh khas mesinnya dapat menjadi tanda pengenal, pernyataan kehadiran yang terdengar sebelum motor terlihat. Contohnya jika sedang di jalan raya, ketika ada suara khas tersebut akan banyak orang yang menoleh karena banyak orang sudah mengenali suara tersebut adalah motor Harley.
    • 4. Pengalaman Berkendara: Harley menjual bukan sekadar perjalanan A ke B, tetapi pengalaman sensorik seperti suara angin, gemuruh, getar, dan perjalanan yang dihasrati.
    • 5. Budaya dan Sejarah: Menghubungkan pemiliknya dengan ikon budaya, mulai dari tentara Perang Dunia II hingga tokoh pemberontak Hollywood.

    Produk ini menarik karena fungsi primernya adalah bagian yang paling tidak penting. Anda membeli ceritanya, suaranya, komunitasnya, dan versi diri yang muncul saat mengendarainya. Motor ini hanyalah kunci yang membuka dunia tersebut. Ini adalah konsumsi untuk melengkapi identitas, memperoleh pengalaman, dan jati diri sebagai ekspresi seseorang.

    Kesimpulan

    Hari ini, di era digital, semua lapisan ini ada bersamaan dan akan bertumbuh semakin kuat. Kita masih membeli untuk bertahan hidup (pengiriman online). Kita membeli untuk kenyamanan (langganan Netflix). Kita membeli untuk status (brand Uniqlo). Kita membeli untuk identitas (upload Instagram tentang pembelian kita). Dan kita semakin mencari puncak kepuasan, menghabiskan uang untuk pengalaman (jalan-jalan, pergi ke konser) dan membeli produk yang menjanjikan makna, keberlanjutan, atau koneksi.

    Sejarah mengapa kita membeli produk adalah sejarah kemajuan manusia yang dipaparkan dalam piramida kebutuhan oleh Maslow. Kita telah berkembang dari barter untuk bertahan hidup menjadi membeli produk untuk aktualisasi diri. Kita adalah makhluk yang mencari makna, dan pasar telah menjadi arena utama di mana kita mencari, membangun, dan menyebarkan makna tersebut. Objek, dari sepotong roti hingga motor Harley, adalah wadah. Mulainya hanya untuk kalori, akhirnya untuk mimpi dan jati diri. Memahami hal ini berarti memahami bukan hanya ekonomi, tetapi kasus asli budaya manusia: sebuah pencarian kita untuk memenuhi kebutuhan hingga menemukan diri kita dalam hal-hal yang kita peroleh.



    Referensi

    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Pusat Bahasa), 2012-2025. “Barter”. [Online]
    Available at: https://kbbi.web.id/barter
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Britannica, 2025. Industrial Revolution. [Online]
    Available at: https://www.britannica.com/event/Industrial-Revolution
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Ecommerce Masterclass, 2023. Maslow’s hierarchy of needs is reflected in consumer behaviour. [Online]
    Available at: https://swifterm.com/maslows-hierarchy-of-needs-in-consumer-behaviour/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Hanvitra, 2021. Homo Economicus vs Homo Socius. [Online]
    Available at: https://www.kompasiana.com/hanvitra/5d6633050d8230380f257012/homo-economicus-vs-homo-socius
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Held, L., 2009. Psychoanalysis shapes consumer culture. Monitor on Psychology, 40(11), p. 32.

    LimitPrime, 2026. History Of Trading. [Online]
    Available at: https://limitprime.com/en/academy/getting-started/history-of-trading
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Morelli, L., t.thn.. Burano Lace: A Brief History. [Online]
    Available at: https://lauramorelli.com/burano-lace-a-history/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Pengertian dan Istilah, 2023. Arti Homo Economicus, Ciri-ciri, dan Model Pengambilan Keputusan Lainnya. [Online]
    Available at: https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/arti-homo-economicus-ciri-ciri-dan-model-pengambilan-keputusan-lainnya-21JU8oY8fkT/full
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Renascence Customer Experience, 2024. How Harley-Davidson Builds Customer Experience (CX) Through Community Engagement and Brand Loyalty. [Online]
    Available at: https://www.renascence.io/journal/how-harley-davidson-builds-customer-experience-cx-through-community-engagement-and-brand-loyalty
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Schor, J. B., 1999. The New Politics of Consumption. [Online]
    Available at: https://www.bostonreview.net/forum/juliet-b-schor-new-politics-consumption/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    SimulasiKredit, t.thn.. Sejarah Munculnya Uang. [Online]
    Available at: https://www.simulasikredit.com/sejarah-munculnya-uang
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Tupperware!, t.thn.. The Rise of American Consumerism. [Online]
    Available at: https://www.pbs.org/wgbh/americanexperience/features/tupperware-consumer/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Umam, t.thn.. Pengertian Barter dan Sejarahnya. [Online]
    Available at: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-barter-2/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Wilson, D., t.thn.. Born to the Purple. [Online]
    Available at: https://carnegiemnh.org/born-to-the-purple/
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Wünsch, S., 2018. Harley-Davidson: The iconic symbol of the American dream. [Online]
    Available at: https://www.dw.com/en/harley-davidson-the-iconic-symbol-of-the-american-dream/a-44418863
    [Diakses 9 Januari 2026].

    Zimmer, S., 2021. Veblen’s Theory of Conspicuous Consumption. [Online]
    Available at: https://www.ebsco.com/research-starters/political-science/veblens-theory-conspicuous-consumption
    [Diakses 9 Januari 2026].

  • Peran Cover Album Bagi Para Musisi

    Identitas diri adalah hal yang penting bagi siapapun, bahkan sebuah karya sekalipun tentu membutuhkan sebuah identitas, dan identitas yang baik tentu saja mudah diingat oleh siapapun bagi yang melihat, mengenal, serta si pemilik identitas itu sendiri. Tentu saja semua yang ada di dunia ini memiliki identitasnya masing-masing, seperti sebuah brand besar yang cukup diminati di bidang olahraga yaitu NIKE dan Adidas, kedua brand yang sering bersaing ini memiliki identitas yang sangat kuat, seperti jika kita melihat tanda ceklis miring sudah pasti kita langsung sadar jika itu adalah NIKE, begitu pula dengan pesaingnya Adidas yang dimana jika kita melihat bentuk 3 garis yang dimiringkan sudah pasti pikiran kita terarahkan ke brand Adidas, sungguh terbukti betapa pentingnya identitas bagi siapapun dan karya apapun, tentunya itu juga terasakan oleh para musisi yang ada di dunia ini.

    Dalam dunia musik sudah pasti tidak asing dengan kata genre musik atau yang biasa kita sebut dengan aliran musik, dalam membuat sebuah lagu tentu saja para musisi dituntut untuk menentukkan aliran musik yang ingin mereka ambil, mau sebagus atau sehancur apapun musik yang dibuat, sudah pasti musik tersebut memiliki alirannya sendiri, namun tidak jarang pula tercipta sebuah aliran-aliran musik baru yang jarang didengar oleh siapapun bahkan oelh para musisi, dan biasanya aliran baru ini disebut sebagai alternatif music, walaupun ada juga aliran musik yang namanya cukup menarik serta terdengar puitis contohnya dari musisi Senyawa yang beraliran musik folk dan avant-garde, cukup menarik bukan? Dari semua banyak aliran serta musik yang tercipta dari para musisi dari seluruh dunia, tentu saja mereka akan berada pada fase dimana mereka harus membuat sebuah karya berbentuk album yang berisikan karya-karya yang sudah pernah mereka buat. Pada artikel kali ini saya akan membahas beberapa cover dari band-band terkenal baik dalam negara maupun luar negara.

    Cover yang menarik perhatian serta cukup mengubah tren desain cover album pada masanya yaitu dari band asal Liverpool yaitu The Beatles, band legendaris ini berisikan 4 musisi legendaris juga yaitu, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Star. The Beatles memulai karir sebagai band yaitu di tahun 1960-an yang dimana mereka membawakan musik-musik yang cukup asing bagi para pendengar musik pada masanya. Tidak jarang pula ketika di awal merintis band ini sering sekali menggonta ganti identitasnya seperti nama band, personil, hingga aliran, namun pada akhirnya ditetapkanlah nama yang tepat untuk band ini yaitu The Beatles yang diambil dari nama band favorit para personilnya yaitu The Crickets. The Beatles cukup mengalami kesulitan dengan mencari personil drummer dikarenakan membutuhkan sebuah kecocokan yang pada akhirnya mereka merekrut Ringo Star sebagai drummer tetap, dan album pertama yang dihasilkan oleh The Beatles dengan 10 lagu mereka yaitu Please Please Me.

    Source: https://www.thebeatles.com/please-please-me

    Album pertama The Beatles tentu saja memilki cover yang sangat berkesan terutama dalam segi kenangan, dikarenakan bisa dilihat pada cover album tersebut mereka mengusung tema fotografi yang dimana menunjukkan foto dari para personil tetap The Beatles yang dipotret dengan teknik low angle yang membuat kesan bahwa mereka akan menjadi musisi yang besar dan akan selalu dikenang, terbukti hingga saat ini nama The Beatles tentu tidak asing baik di kuping para pendengar musik maupun orang awam. Pemotretan untuk cover album ini diambil di kantor pusat EMI Limited di 20 Manchester Square di West End London pada awal tahun 1963 oleh Fotografer Welsh terkenal pada masa itu yaitu Angus McBean. Tentunya foto ini sempat diambil dengan beberapa pose, serta menggunakan beberapa tema atau yang biasa kita sebut dengan filter, salah satunya yaitu Sephia, namun pada akhirnya terpilihlah foto yang ikonik ini dan menjadi legenda bagi para penggemar serta penikmat musik dunia. Hingga di tahun 1969 The Beatles merilis album LP terbaru mereka dengan judul Get Back yang dimana pada tahun tersebut nama The Beatles sudah sangat terkenal hingga ke penjuru dunia, bahkan para penontonnya terutama kaum wanita yang melihat aksi panggung dari The Beatles berteriak histeris dikarenakan ketampanan dan musik yang mereka buat.

    Source: https://www.the-paulmccartney-project.com/1969/05/photo-shoot-of-the-get-back-lp-album/

    Dapat terlihat dengan jelas foto album tersebut terlihat sangat mirip dengan album pertama mereka yang penuh dengan kenangan. Tentu saja lagi-lagi dengan sentuhan tangan dari fotografer Angus Mcbean pose ikonik pada debut album Please Please Me dapat dipotret kembali tentunya dengan personil yang masih sama, namun dengan kemampuan serta kehidupan yang sudah jauh berbeda ketika mereka di tahun 1963 lalu. Yang sebelumnya di album pertama mereka memberikan kesan agar mereka dapat dikenang dan memberikan kesan pengenalan terhadap personil dari The Beatles, pada cover untuk album LP ini terasa sekali bahwa para penggemar dan penikmat musik The Beatles diajak untuk bernostalgia pada album pertama mereka. Hingga pada akhirnya terciptalah yang menurut saya cover dari album yang sangatlah ikonik dan sering sekali menjadi referensi dari scene film atau bahkan kartun bertemakan musik yaitu album Abbey Road, tidak banyak juga dari para pendengar terbaru band The Beatles mengetahui band ini dari sebuah cover album Abbey Road yang sangat melegenda, dan pada album ini juga termasuk album terakhir dari band The Beatles sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk bubar dan di beberapa tahun kemudian terjadilah insiden penembakan John Lennon dan meninggalnya George Harrison yang menjadikan tersisanya 2 personil The Beatles hingga saat ini yaitu Paul McCartney dan Ringo Star.

    Source: https://www.thebeatles.com/sites/default/files/styles/max_2600x2600/public/2021-06/Abbey%20Road.jpg?itok=_AGlITc8

    Selanjutnya dari band asal luar negeri lagi yang kembali naik daun saat ini dikarenakan banyak sekali remaja dan anak muda yang cukup banyak yang mendengarkan serta banyak sekali referensi-referensi yang merujuk kepada band yang cukup populer dari masa ke masa yaitu Sonic Youth. Yup! Sonic Youth tentu saja band ini kembali populer dan banyak diminati oleh setiap remaja dan anak muda terutama mereka yang menyukai musik-musik beraliran grunge, rock, dan punk, dapat terlihat juga cukup banyak para penggemar kaos band mengenakan desain salah satu album cover yang paling ikonik sedunia yaitu album Goo yang dirilis pada tahun 1990. Sonic Youth sendiri adalah band yang mengusung aliran musik Noise Rock yang tercipta di era 1980-1990, selain Sonic Youth terdapat juga band yang mempopulerkan genre Noise Rock yaitu Dinosaur Jr. Band Sonic Youth sendiri dibentuk pada tahun 1981 oleh personil mereka yaitu Thurston Moore dan Kim Gordon, sebelum membentuk band tersebut tentunya kedua mereka berdua sudah cukup kenal sejak lama, dan sudah sering bermain musik bersama atau yang biasa disebut dengan Jamming sejak tahun 1977.

    Thurston Moore dan Kim Gordon sering sekali ikut tampil bersama beberapa band-band lain sebelum mereka berdua akhirnya menetapkan untuk membentuk sebuah band yang bernama Sonic Youth. Hingga suatu waktu bertambahlah personil dari Sonic Youth yang bernama Lee Ranaldo, Lee sendiri direkrut oleh Thurston Moore yang terpukau melihat penampilannya ketika mereka sedang melihat perform dari Glenn Bianca, hingga akhirnya bergabunglah personil baru dari Sonic Youth yang melengkapi formasi dari band tersebut dan mereka pun memulai untuk perform di atas panggung. Sama halnya dengan permasalahan The Beatles, band Sonic Youth juga cukup kesulitan mencari personil yang bisa memainkan drum, dikarenakan sebelum hadirnya drummer Sonic Youth yaitu Richard Edson, para personil band ini sempat bermain drum secara bergantian dikarenakan belum menemukan drummer yang tepat untuk mengisi ketukkan untuk band Sonic Youth, hingga datanglah waktu dimana mereka menemukkan personil drummer yang cocok untuk mengisi musik Sonic Youth yaitu Richard Edson. Di tahun pertama terbentuknya band Sonic Youth mereka telah merilis album EP mereka yang bernama sama dengan band yang membuatnya yaitu Sonic Youth, setelah pada akhirnya mereka pun merilis full album di tahun 1983 yang berjuduk Confusion Is Sex.

    Setelah perjalanan panjang dari Sonic Youth yang hampir 10 tahun yaitu di tahun 1990, pada akhirnya band ini bergabung dengan major label yang cukup terdengar namanya di kalangan musisi pada saat itu yaitu DGC Records dan terbentuklah album yang ikonik dan menjadi salah satu album yang paling dinikmati oleh para penikmat musik hingga saat ini yaitu Goo. Goo direkam dan dirilis di tahun yang sama pada saat Sonic Youth menandatangani kontrak dengan DGC Records yaitu pada tahun 1990, bisa terlihat desain cover pada album ini terlihat seperti panel dalam sebuah komik, dan terdapat dua orang yang berposisi merangkul dan sedang merokok, desain album seperti ini juga dapat ditemui di beberapa cover album band-band punk seperti Black Flag, Total Jerks, dan Circle Jerks. nama Goo sendiri terinspirasi dari sebuah karakter film pendek pada tahun 1989 bertajuk Sir Drone.

    Source: https://linkstorage.linkfire.com/medialinks/images/314c1ba7-7d8f-4f01-9a00-fd383b7ef431/artwork-440×440.jpg

    Ilustrasi untuk cover album Sonic Youth ini dibuat oleh seniman serta saudara dari musisi yang bandnya cukup fenomenal, serta mengubah kultur musik pada masanya yaitu Raymond Pettibon, Pettibon adalah saudara dari gitaris dan frontman dari band Punk Rock akhir 70-an yaitu Greg Ginn dari Black Flag. Pettibon melukis cover album Goo dengan pose yang terinspirasi dari foto surat kabar Maureen Hindley and David Smith yang dimana mereka terporet sedang merokok dan merangkul, dan isi dari surat kabar tersebut berisikan tentang kasus yang dialami oleh kedua orang tersebut. Raymond Pettibon sendiri adalah seorang seniman yang dikenal dengan karyanya yang khas menggunakan tinta india, dan karyanya sangatlah disukai oleh Kim Gordon yang pada akhirnya ditetapkanlah seniman tersebut untuk membuat desain cover album perdana dari Sonic Youth semenjak bergabung pada major label.

    Album ini juga membawa nama Sonic Youth semakin dikenal oleh banyak orang, dan pada akhirnya setahun kemudian di tahun 1991 band ini mengadakan tour bersama band yang juga menginfluence banyak musisi dan sempat menjadi kontroversi karena personil mereka itu sendiri yaitu Nirvana. Hingga pada hari ini dapat kita lihat baik di tempat penjualan kaset dan vinyl album para musisi-musisi ternama, sampai ke merchandise band-band luar, bisa dipastikan sudah pasti ada selipan dari album Goo yang desain covernya sangat ikonik ini, dan tak jarang pula adanya restock dikarenakan sering terjual habis dan masih laku di pasaran hingga hari ini.

    Source: https://www.turntablelab.com/cdn/shop/products/sonicyouth-goo_22b1b816-9c6b-432d-9ce6-153501bef3a0_1000x1000.jpg

    Dapat terlihat bahwa betapa berpengaruhnya cover album bagi musisi bahkan yang sudah melegenda sekalipun, dan untuk musisi dalam negri tentunya yaitu dari sang legenda hidup yang lagunya sering kali kita dengarkan di jalanan serta di tempat-tempat nongkrong yaitu Iwan Fals, siapa yang tidak tahu Iwan Fals? Cukup banyak single dari Iwan Fals yang tidak mungkin kita tidak ketahui, sejauh ini Iwan Fals sudah mengeluarkan single yang terbilang sangat banyak, serta album-album yang selalu memorable bagi para pendengarnya. Musisi yang memiliki nama fanbase OI atau yang biasa kita kenal dengan Orang Indonesia yang berasal dari referensi yayasan yang milik sang musisi itu sendiri yaitu Yayasan Orang Indonesia dan saat ini fanbase tersebut telah menjadi Organisasi Masyarakat (Ormas) yang cukup sering melakukan kegiatan-kegiatan sosial bagi masyarakat luas. Iwan Fals sendiri sudah menjadi musisi semenjak di bangku pendidikan, bahkan salah satu dosen dari Institut Kesenian Jakarta yaitu Mas Aji berkata bahwa Iwan Fals sudah sering mengamen ketika di masa perkuliahannya. Institut Kesenian Jakarta adalah tempat dimana Iwan Fals menuntut ilmu seninya, walaupun tidak bertahan lama, namun namanya tetap harum bagi universitas tersebut.

    Dari sekian banyak album-album yang tercipta oleh sang musisi legenda, tentu saja ada album yang sangat berpengaruh serta album yang menjadi pengubah hidup bagi banyak musisi lainnya, dapat terlihat dari karya Iwan Fals yang bertajuk album Belum Ada Judul yang dibuat pada tahun 1992, banyak penggemar dan musisi menganggap bahwa album ini adalah album terbaik karena dengan kesederhanaan dan hati terbentuklah album yang melegenda ini. Album ini dibuat secara live dengan Iwan Fals yang menyanyikannya hanya dengan instrumen gitar serta harmonika yang direkam tanpa iringan musik lain dan backing vokal, ditambah dengan cover album yang sangat menggambarkan sebuah kesederhanaan dari sang musisi yaitu potret wajah Iwan Fals yang digadang-gadang pada masa itu sangatlah mirip dengan musisi legendaris luar negri Lionel Richie. Penamaan dari album ini pun diambil dari track pertama yaitu Belum Ada Judul yang semakin menggambarkan tentang kesederhanaan. Cover album ini juga mengusung tema fotografi yang dimana memperlihatkan wajah Iwan Fals dengan rambutnya yang masih gondrong dan kumisnya yang tebal, serta menggunakan teknik pengambilan cahaya Low Key, yang membuat kesan album ini semakin terlihat.

    Source: https://www.iwanfals.co.id/images/album/21.jpg

    Tentu saja masih banyak sekali album-album yang sangat berpengaruh dan berperan penting bagi kehidupan para musisi-musisi lokal dan internasional, contohnya Sore dengan Centralismo, Green Day dengan Dookie, Joy Division dengan album Unknown Pleasure, hingga ke Metallica dengan albumnya yaitu Master Of Puppets. Tidak dapat dipungkiri bahwa betapa berartinya cover album yang menjadikan identitas dari para musisi yang ada, cover album itu jugalah yang membuat musisi tersebut menjadi lebih dikenal dan dikenang, serta ikut merubah kehidupan dari para musisi.

    -Samuel Andreu (2024)

    REFERENSI: