Tag: PKM-KC

  • Ketika Kelas Bisu Bagi Sebagian Anak: Bagaimana Ekspresia Ingin Menjembatani Kesenjangan Itu

    Ketika Kelas Bisu Bagi Sebagian Anak: Bagaimana Ekspresia Ingin Menjembatani Kesenjangan Itu

    Estimasi waktu baca: 8 menit

    Ketika Kelas Bisu Bagi Sebagian Anak: Bagaimana Ekspresia Ingin Menjembatani Kesenjangan Itu

    Coba bayangkan sejenak. Kamu duduk di bangku sekolah, guru menjelaskan konsep fotosintesis dengan penuh semangat di depan kelas, teman-teman sekitar manggut-manggut mengerti, sementara kamu hanya melihat mulut yang bergerak tanpa suara yang bisa kamu tangkap maknanya. Papan tulis penuh teks dan gambar hitam putih yang statis, tidak benar-benar menjelaskan bagaimana cahaya matahari “berubah” menjadi energi. Bagi jutaan siswa tunarungu di Indonesia, situasi seperti ini bukan skenario imajinatif belaka. Ini adalah keseharian.

    Dari sinilah cerita tentang Ekspresia dimulai, sebuah inovasi yang lahir bukan dari ruang laboratorium yang jauh dari kenyataan, melainkan dari kegelisahan yang sangat nyata: mengapa pendidikan inklusif di Indonesia masih terasa begitu jauh dari kata “inklusif”?

    Pertanyaan ini sebenarnya sederhana, tapi jawabannya menyentuh banyak aspek, mulai dari kebijakan, ketersediaan tenaga pendidik, hingga teknologi yang selama ini kita anggap “sudah cukup maju”. Nyatanya, kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan akses. Banyak inovasi hebat yang justru tidak menjangkau kelompok yang paling membutuhkannya, karena dirancang tanpa mempertimbangkan konteks dan keterbatasan nyata di lapangan.

    Data yang Tak Bisa Diabaikan

    Mari kita bicara fakta dulu, karena urgensi ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terdapat sekitar 22,5 juta penduduk Indonesia yang menyandang disabilitas, dan kelompok dengan gangguan pendengaran tingkat tinggi termasuk yang paling sering terpinggirkan dari akses informasi maupun pendidikan yang layak. Yang lebih memprihatinkan, data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi per akhir 2023 mencatat bahwa dari 40.164 satuan pendidikan formal yang memiliki peserta didik disabilitas, hanya sekitar 14,83 persen di antaranya yang memiliki guru pembimbing khusus.

    Bayangkan gap itu. Ribuan sekolah menerima siswa tunarungu, tapi hanya segelintir yang benar-benar siap mendampingi mereka secara komunikatif. Akibatnya, banyak siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun sekolah inklusif masih sangat bergantung pada metode konvensional yang sebetulnya kurang ramah bagi cara mereka memahami dunia, yaitu secara visual dan dinamis, bukan lewat teks statis semata.

    Padahal, berbagai riset terbaru sudah membuktikan bahwa integrasi bahasa isyarat dalam pembelajaran memberi dampak positif signifikan: komunikasi jadi lebih lancar, partisipasi siswa meningkat, dan pemahaman terhadap materi jauh lebih baik dibanding metode konvensional. Masalahnya bukan pada “apakah bahasa isyarat penting”, tapi pada “bagaimana cara mewujudkannya secara masif dan terjangkau”, mengingat tidak semua guru fasih berbahasa isyarat, dan pelatihan intensif membutuhkan waktu serta biaya yang tidak sedikit.

    Di titik inilah teknologi semestinya turun tangan. Tapi sayangnya, sebagian besar solusi berbasis AI yang ada sekarang justru mengandalkan model bahasa raksasa (Large Language Model/LLM) yang haus sumber daya komputasi dan koneksi internet stabil. Ini adalah sesuatu yang jauh dari realitas banyak sekolah inklusif di daerah dengan infrastruktur terbatas.

    Perkenalkan: Ekspresia

    Dari kegelisahan itulah, kami, tim mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), mengusulkan Ekspresia: Rancang Bangun Inovasi AI Penerjemah Wicara ke Animasi Isyarat Berbasis Small Language Model untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusif melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).

    Sederhananya, Ekspresia adalah sistem kecerdasan buatan yang bisa “mendengar” ucapan lisan seorang guru di kelas, lalu secara otomatis menerjemahkannya menjadi gerakan animasi avatar tiga dimensi yang memperagakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), dan semua ini terjadi secara real-time, tanpa perlu koneksi internet sama sekali.

    Bayangkan skenarionya: guru menjelaskan pelajaran seperti biasa, sementara di layar kelas, seorang avatar digital menerjemahkan setiap kalimat menjadi bahasa isyarat yang luwes dan ekspresif. Guru tetap bisa fokus mengajar tanpa harus menguasai bahasa isyarat, dan siswa tunarungu tidak lagi tertinggal informasi. Tidak ada lagi jeda, tidak ada lagi rasa terisolasi di tengah kelas yang ramai.

    Mengintip “Dapur” Teknis Ekspresia: Tiga Lapis yang Bekerja Bersama

    Nah, bagian ini mungkin terdengar teknis, tapi sebenarnya konsepnya cukup mudah dibayangkan kalau kita analogikan seperti tim relay: tiga pelari yang saling mengoper tongkat estafet secepat kilat.

    Lapis pertama: “Telinga” sistem (ASR) Ini adalah modul Automatic Speech Recognition yang bertugas menangkap suara guru dan mengubahnya menjadi teks. Ekspresia menggunakan model Whisper Small, salah satu model transkripsi ucapan yang cukup andal untuk berbagai bahasa. Yang menarik, model ini “dipadatkan” melalui teknik kuantisasi 8-bit sehingga ukurannya menyusut drastis dari 244 MB menjadi hanya 61 MB, tanpa mengorbankan akurasi transkripsi secara signifikan. Ibaratnya, ini seperti mengemas koper besar menjadi tas ransel praktis tanpa membuang barang penting di dalamnya.

    Lapis kedua: “Otak penerjemah” sistem (NLU berbasis SLM) Setelah suara berhasil diubah jadi teks, giliran modul Natural Language Understanding yang bekerja. Di sinilah letak keunikan Ekspresia: alih-alih menggunakan LLM raksasa seperti yang biasa kita dengar (GPT dan sejenisnya), sistem ini mengandalkan Small Language Model (SLM) bernama Phi-3 Mini dari Microsoft. Meski “kecil” dengan 3,8 miliar parameter, model ini terbukti mampu menyamai performa model yang jauh lebih besar pada berbagai tolok ukur akademis, namun dengan kebutuhan sumber daya yang jauh lebih ringan. Modul ini bertugas memetakan kalimat hasil transkripsi ke dalam struktur gloss SIBI, mengacu pada leksikon 3.000 kata isyarat yang telah distandardisasi.

    Lapis ketiga: “Tubuh yang bergerak” sistem (Animasi Avatar 3D) Terakhir, hasil pemetaan gloss tadi diterjemahkan menjadi gerakan nyata oleh avatar digital berbasis Three.js, sebuah pustaka grafis WebGL yang memungkinkan animasi 3D berjalan langsung di peramban tanpa perlu instalasi aplikasi tambahan. Avatar ini dirancang dengan titik-titik gerak yang detail pada tangan, jari, ekspresi wajah, hingga postur tubuh, sehingga gerakan isyaratnya tampak alami, bukan kaku seperti animasi robotik pada umumnya.

    Ketiga lapis ini bekerja berurutan namun secepat kedipan mata. Total waktu dari ucapan guru hingga avatar menampilkan gerakan isyarat di layar berada di bawah setengah detik.

    Kenapa “Luring” Itu Justru Kekuatan Utamanya?

    Di sinilah letak keunggulan paling penting dari Ekspresia, dan mungkin juga bagian yang paling relevan untuk kita renungkan dari sudut pandang kewirausahaan sosial: efisiensi di edge device.

    Banyak inovasi AI hari ini terjebak pada asumsi bahwa “semakin besar model, semakin baik hasilnya”. Padahal, untuk konteks sekolah-sekolah di Indonesia, yang sebagian besar tidak memiliki infrastruktur internet stabil, apalagi server komputasi mumpuni, pendekatan semacam itu justru menjadi penghalang, bukan solusi. Bayangkan sistem berbasis LLM yang butuh koneksi cloud stabil, lalu tiba-tiba sinyal internet di sekolah pinggiran kota terputus di tengah pelajaran. Yang seharusnya membantu malah jadi sumber frustrasi baru.

    Ekspresia dirancang dengan filosofi sebaliknya: seluruh pemrosesan, dari suara hingga animasi, berjalan sepenuhnya di perangkat lokal (on-device) dengan spesifikasi RAM di bawah 4 GB, setara perangkat tablet atau gawai kelas menengah yang jauh lebih realistis dimiliki sekolah-sekolah inklusif di berbagai daerah. Tidak ada ketergantungan pada server jauh, tidak ada biaya langganan cloud yang membengkak, dan yang terpenting, tidak ada risiko sistem “mati” di tengah pelajaran hanya karena sinyal internet hilang.

    Pendekatan edge computing semacam ini juga membawa nilai keberlanjutan yang penting bagi ekosistem pendidikan: teknologi yang murah dioperasikan, tidak boros energi, dan bisa diadopsi lebih luas tanpa memaksa sekolah mengeluarkan anggaran infrastruktur besar-besaran. Dalam jangka panjang, inilah yang membuat sebuah inovasi benar-benar bisa diskalakan (scalable) dan berkelanjutan. Dua kata kunci yang selalu jadi pertimbangan utama dalam dunia kewirausahaan.

    Dampak yang Ingin Diwujudkan

    Inovasi ini dirancang untuk memberi manfaat nyata bagi tiga pihak sekaligus. Bagi siswa tunarungu, mereka bisa memahami materi abstrak secara seketika lewat visualisasi isyarat tiga dimensi yang jauh lebih hidup dibanding teks statis. Bagi para pendidik, mereka bisa tetap fokus mengajar secara lisan tanpa harus menguasai bahasa isyarat maupun khawatir ada siswa yang tertinggal informasi penting. Dan bagi ekosistem pendidikan secara lebih luas, kehadiran Ekspresia diharapkan memacu pengembangan lebih banyak teknologi kecerdasan buatan yang ramah komputasi, khusus dirancang untuk konteks dan keterbatasan sekolah-sekolah inklusif di Indonesia.

    Lebih jauh lagi, pendekatan seperti ini juga berpotensi mengurangi beban psikologis yang selama ini dipikul siswa tunarungu di kelas reguler maupun inklusif. Rasa cemas karena tertinggal informasi, atau rasa canggung karena harus terus-menerus meminta pengulangan penjelasan, perlahan bisa berkurang ketika ada sistem pendamping yang bekerja secara konsisten dan tanpa lelah di setiap sesi pembelajaran. Bagi orang tua, kehadiran teknologi semacam ini juga memberi rasa tenang tersendiri, karena anak mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ketersediaan penerjemah bahasa isyarat yang jumlahnya masih sangat terbatas di banyak daerah.

    Penutup: Inovasi yang Berangkat dari Empati

    Pada akhirnya, Ekspresia bukan sekadar proyek teknis untuk memenuhi tugas akademik semata. Ia lahir dari sebuah keyakinan sederhana: bahwa teknologi paling bermakna adalah teknologi yang hadir untuk menjembatani jarak, bukan menciptakan jarak baru. Ketika seorang siswa tunarungu akhirnya bisa memahami pelajaran secara utuh, tanpa perlu menunggu penerjemah manusia yang belum tentu selalu tersedia, di situlah nilai sejati dari sebuah inovasi teknologi benar-benar terasa.

    Perjalanan Ekspresia masih panjang, dari prototipe menuju implementasi nyata di kelas-kelas inklusif Indonesia. Namun langkah kecil yang berangkat dari empati dan didukung oleh pendekatan teknis yang efisien serta terjangkau ini, semoga bisa menjadi salah satu jawaban atas kesenjangan pendidikan yang selama ini dirasakan begitu banyak anak bangsa.

    Karena pada dasarnya, setiap anak berhak mendengar, dalam bahasa yang bisa mereka pahami sepenuhnya.


    Ditulis oleh, Sierly Putri Anjani Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) NIM. 10123915


    Daftar Pustaka

    Badan Pusat Statistik. (2021). Data penyandang disabilitas Indonesia tahun 2020. Jakarta: BPS.

    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Data satuan pendidikan formal dengan peserta didik disabilitas per Desember 2023. Jakarta: Kemendikbudristek.

    Radford, A., Kim, J. W., Xu, T., Brockman, G., McLeavey, C., & Sutskever, I. (2022). Robust speech recognition via large-scale weak supervision (Whisper). OpenAI.

    Abdin, M., et al. (2024). Phi-3 technical report: A highly capable language model locally on your phone. Microsoft Research.

  • Platform untuk Merevolusi Cara Belajar Bahasa Isyarat Indonesia

    Komunikasi adalah napas kehidupan sosial kita. Ia adalah jembatan tak kasat mata yang menghubungkan pikiran, perasaan, dan ide antarmanusia, memungkinkan kita untuk belajar, tertawa, dan membangun hubungan. Namun, bayangkan jika jembatan itu memiliki jurang yang dalam. Bagi ratusan ribu teman Tuli di Indonesia, jurang ini adalah kenyataan sehari-hari. Tantangan komunikasi yang mereka hadapi setiap hari bukan hanya memengaruhi interaksi sosial, tetapi juga akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja. Di tengah kemajuan digital yang pesat, di mana informasi mengalir bebas di ujung jari, sebuah ironi muncul: kesenjangan komunikasi ini masih menganga lebar.

    Sebuah pertanyaan fundamental pun mengemuka: bagaimana teknologi dapat secara nyata meruntuhkan dinding sunyi yang memisahkan dunia dengar dan dunia Tuli? Sebuah tim mahasiswa dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tidak hanya bertanya, tetapi juga mencoba menjawabnya melalui sebuah proyek ambisius bernama EBI (Edukasi Bahasa Isyarat). Ini bukan sekadar aplikasi, melainkan sebuah visi untuk membangun empati dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif melalui kode dan desain yang berpusat pada manusia.

    Dua Dunia Bahasa Isyarat: Konflik Linguistik dan Pilihan yang Tepat

    Untuk memahami inovasi yang ditawarkan EBI, kita harus terlebih dahulu menyelami kompleksitas bahasa isyarat di Indonesia, sebuah “konflik” linguistik yang tidak banyak diketahui publik. Di Indonesia, ada dua sistem utama yang digunakan: SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia).

    SIBI adalah sistem yang distandarisasi oleh pemerintah, diajarkan di Sekolah Luar Biasa (SLB), dan mengikuti struktur tata bahasa Indonesia lisan. Namun, akarnya bukan dari budaya Tuli lokal. Banyak penelitian, termasuk yang dikutip oleh Saraswati, et al. (2022), menunjukkan bahwa SIBI terasa kaku, formal, dan tidak intuitif bagi teman Tuli. Mereka mengalami kesulitan menggunakannya untuk percakapan sehari-hari yang cair dan dinamis.

    Di sinilah BISINDO hadir sebagai antitesis. BISINDO adalah bahasa yang “hidup”. Ia lahir dan berkembang secara organik dari, oleh, dan untuk komunitas Tuli di Indonesia, menjadikannya bahasa ibu yang otentik. BISINDO bersifat kontekstual, kaya akan ekspresi wajah dan tubuh, serta lebih mudah digunakan dalam pergaulan sosial (Saraswati, Towidjojo, & Hasanuddin, 2022). Keputusan tim PKM-KC untuk memfokuskan platform EBI secara eksklusif pada BISINDO adalah langkah strategis pertama dan yang paling fundamental. Ini adalah sebuah pernyataan bahwa teknologi yang mereka bangun menghargai dan berpusat pada budaya dan kebutuhan nyata dari komunitas yang ingin mereka layani.

    Melihat Celah di Lanskap Digital Saat Ini

    Tim EBI tidak memulai dari ruang hampa. Analisis mendalam terhadap solusi-solusi digital yang ada menunjukkan sebuah lanskap yang terfragmentasi dan menyisakan banyak celah.

    Platform media sosial seperti TikTok memang telah menjadi panggung bagi para kreator konten Tuli untuk mengedukasi masyarakat tentang BISINDO. Fenomena yang dikaji oleh Natalia & Winduwati (2023) ini membuktikan adanya minat yang besar dari generasi muda untuk belajar. Namun, pembelajaran di TikTok bersifat sporadis, tidak terstruktur, dan tidak memiliki kurikulum yang jelas, sehingga sulit bagi pembelajar yang serius untuk mencapai kemahiran.

    Di sisi lain, ada aplikasi yang berfokus pada teknologi canggih. Penelitian oleh Hikmatia & Zul (2021), misalnya, mengembangkan aplikasi penerjemah real-time menggunakan Machine Learning. Namun, tujuannya adalah sebagai alat terjemahan instan, bukan platform edukasi. Selain itu, teknologi ini masih menghadapi tantangan besar, terbukti dari tingkat akurasinya yang dilaporkan masih belum optimal. Aplikasi lain mungkin berbentuk game edukasi, tetapi seringkali menggunakan SIBI dan fokus pada tema yang sangat spesifik seperti pengelolaan sampah (Rachmat & Gazali, 2021), atau terbatas pada kosakata lingkungan keluarga.

    Dari analisis inilah, cetak biru EBI terbentuk: sebuah platform yang mengisi semua celah tersebut dengan menawarkan kurikulum yang terstruktur, fokus pada BISINDO, dan dapat diakses secara luas.

    Memperkenalkan EBI: Sebuah Sekolah Digital BISINDO

    EBI dirancang sebagai sebuah ekosistem pembelajaran yang komprehensif. Visi utamanya adalah menciptakan sebuah “sekolah digital BISINDO” yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Platform ini dibangun di atas tiga pilar teori utama yang menjadi kekuatan pembedanya.

    1. Belajar Kapan Saja: Kekuatan Platform Mobile

    Menyadari bahwa ponsel pintar adalah gerbang utama informasi bagi mayoritas masyarakat, EBI dikembangkan sebagai aplikasi berbasis Android. Pemilihan platform ini didasarkan pada sifat Android yang open source dan merupakan sistem operasi dengan pengguna terbanyak, memastikan jangkauan yang maksimal (Erlinda & Masriadi, 2020). Ini adalah perwujudan dari konsep Mobile Learning (M-learning), yang memberikan otonomi dan fleksibilitas penuh bagi pengguna untuk belajar sesuai dengan ritme dan jadwal mereka, baik saat di perjalanan, di waktu istirahat, atau di rumah.

    2. Bukan Sekadar Hafalan: Membuat Belajar Menjadi Petualangan (Gamifikasi)

    Salah satu tantangan terbesar dalam belajar bahasa baru adalah menjaga motivasi. Untuk mengatasi ini, EBI menerapkan metode gamifikasi secara mendalam. Gamifikasi adalah penggunaan elemen-elemen permainan—seperti poin, lencana, level, dan narasi—untuk mendorong keterlibatan pengguna (Putra & Kesuma, 2021). Bayangkan sebuah “Peta Perjalanan Bahasa” di EBI, di mana setiap level adalah sebuah “kota” yang harus dijelajahi. Pengguna memulai dari ‘Desa Alfabet’, lalu maju ke ‘Lembah Kata Sifat’, menyeberangi ‘Sungai Kalimat Tanya’, hingga mencapai ‘Kota Percakapan’. Untuk maju, mereka harus menyelesaikan misi, seperti “membantu warga virtual menerjemahkan kalimat” atau memenangkan “duel isyarat” melawan waktu. Pendekatan ini mengubah proses belajar dari kewajiban menjadi petualangan yang adiktif dan menyenangkan.

    3. Desain untuk Semua: Jantung dari Aksesibilitas (Desain Inklusif)

    Sebuah platform tentang aksesibilitas haruslah aksesibel itu sendiri. Oleh karena itu, perancangan EBI berlandaskan pada prinsip Desain Inklusif, yaitu pendekatan yang memastikan produk dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang tanpa kesulitan (Izzati, dkk., 2025). Secara praktis, ini berarti antarmuka yang bersih, ikon yang jelas, dan alur navigasi yang intuitif. Mengacu pada model evaluasi usability dari Nielsen yang diterapkan oleh Rachmat & Gazali (2021), EBI akan memprioritaskan:

    • Learnability (Kemudahan Dipelajari): Seberapa mudah pengguna baru dapat memahami dan menggunakan aplikasi? EBI akan dirancang agar pengguna pertama kali tidak merasa kebingungan, dengan tombol yang jelas dan instruksi yang intuitif.
    • Efficiency (Efisiensi): Setelah terbiasa, seberapa cepat pengguna dapat menyelesaikan tugas? Desain EBI akan memastikan tidak ada langkah yang sia-sia atau membingungkan, sehingga proses belajar menjadi cepat dan efisien.
    • Memorability (Kemudahan Diingat): Jika pengguna berhenti menggunakan aplikasi selama seminggu, lalu kembali lagi, seberapa mudah mereka bisa mengingat cara menggunakannya? EBI akan dirancang dengan pola yang konsisten agar mudah diingat tanpa perlu belajar ulang dari awal.
    • Satisfaction (Kepuasan): Ini tentang perasaan ‘senang’ dan ‘puas’ setelah menggunakan aplikasi. Apakah antarmukanya indah? Apakah animasinya halus? Apakah pengguna merasa berhasil dan tidak frustrasi?

    Teknologi di Balik Layar: Potensi Kecerdasan Buatan

    Selain pilar desain dan metode, EBI juga melirik potensi teknologi canggih untuk menciptakan fitur unggulan yang benar-benar interaktif. Salah satu yang paling menjanjikan adalah penerapan Machine Learning untuk fitur “Latihan dengan Umpan Balik”.

    Mari kita bayangkan fitur ini dalam praktik. Seorang pengguna ingin melatih isyarat untuk kata ‘terima kasih’. Mereka akan mengarahkan kamera ponsel ke tangan mereka dan melakukan gerakan isyarat. Di sinilah Machine Learning berperan. Model yang telah ‘dilatih’ dengan ribuan gambar isyarat ‘terima kasih’ akan menganalisis video dari kamera pengguna secara real-time. Model ini membandingkan bentuk tangan, posisi, dan alur gerakan pengguna dengan data yang sudah dipelajarinya. Dalam sepersekian detik, aplikasi akan memberikan umpan balik: “Gerakan pergelangan tanganmu sudah bagus!” atau “Coba buka jari sedikit lebih lebar”. Proses ini, yang didukung oleh teknologi seperti Tensorflow dan arsitektur MobileNetV2 yang efisien untuk perangkat mobile, mengubah latihan pasif menjadi sesi bimbingan pribadi yang interaktif.

    Dampak yang Diharapkan

    Keberhasilan EBI tidak diukur dari jumlah unduhan semata. Dampak sesungguhnya terletak pada “gelombang efek” atau ripple effect yang diciptakannya di masyarakat.

    Bayangkan seorang ibu yang, setelah seminggu belajar dengan EBI, akhirnya bisa bertanya kepada anaknya yang Tuli, “Bagaimana harimu di sekolah?” dan memahami jawabannya. Bayangkan seorang teman Tuli yang bisa dengan percaya diri pergi ke puskesmas dan menjelaskan gejalanya kepada perawat yang telah belajar dasar-dasar BISINDO melalui EBI. Atau bayangkan seorang barista yang bisa menyapa dan menerima pesanan dari pelanggan Tuli dengan senyum dan isyarat yang benar, mengubah transaksi yang biasanya canggung menjadi momen koneksi manusiawi.

    Setiap teman dengar yang menguasai BISINDO adalah sebuah pintu yang terbuka bagi komunitas Tuli menuju dunia yang lebih luas. Ini adalah tentang meruntuhkan dinding isolasi, satu isyarat pada satu waktu. Pada akhirnya, proyek seperti EBI adalah bukti bahwa teknologi, ketika dirancang dengan empati dan tujuan sosial yang jelas, memiliki kekuatan untuk melakukan lebih dari sekadar menghubungkan perangkat. Ia dapat menghubungkan manusia dan membangun sebuah masyarakat di mana setiap suara—baik yang terdengar maupun yang terlihat—memiliki nilai yang setara.

    ##

    Daftar Referensi

    Erlinda, E., & Masriadi, M. (2020). PERANCANGAN APLIKASI MOBILE KAMUS ISTILAH KOMPUTER UNTUK MAHASISWA BARU BIDANG ILMU KOMPUTER BERBASIS ANDROID. JURNAL TEKNOLOGI DAN OPEN SOURCE, 3(1), 30–43.

    Hikmatia A.E, N., & Ihsan Zul, M. (2021). Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia menjadi Suara berbasis Android menggunakan Tensorflow. Jurnal Komputer Terapan, 7(1), 74–83.

    Izzati, Z. T., Banurea, F. N., Putri, C. D., Yemima, R., Manurung, A. M., Arahman, A., Tansliova, L., & Puteri, A. (2025). Peran Teknologi dalam Membantu Anak Tunarungu Berkomunikasi. Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, 3(2), 180–190.

    Kartini, V. G. (2021). PERANCANGAN MEDIA EDUKASI VISUAL TENTANG KOMUNIKASI BAHASA ISYARAT PADA TEMAN TULI UNTUK TEMAN DENGAR. Universitas Katolik Soegijapranata.

    Natalia, D., & Winduwati, S. (2023). Pemanfaatan Media Sosial TikTok Sebagai Sarana Edukasi Bahasa Isyarat Indonesia. Koneksi, 7(1), 42–48.

    Putra, J. L., & Kesuma, C. (2021). Penerapan Game Development Life Cycle Untuk Video Game Dengan Model Role Playing Game. Computer Science (CO-SCIENCE), 1(1), 27–34.

    Rachmat, I. F. M., & Gazali, G. (2021). Pengembangan Game Edukasi Bahasa Isyarat Tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Android. Digital Zone: Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi, 12(1), 160–171.

    Saputra, L. D., & Putra, R. W. (2024). PERANCANGAN APLIKASI PEMAINAN “BISINDOKU” SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI PENGENALAN BAHASA ISYARAT. Kartala Visual Studies, 3(1).

    Saraswati, D. A., Towidjojo, V. D., & Hasanuddin, H. (2022). Bahasa Isyarat Indonesia. Jurnal Medical Profession (MedPro), 4(1), 8–14.

    Widjaya, K. H. (t.t.). PEMBELAJARAN BAHASA ISYARAT INDONESIA MENGGUNAKAN METODE GAMIFIKASI. Universitas Multimedia Nusantara.