Mata kuliah Kewirausahaan di UNIKOM mengarahkan mahasiswa untuk peka membaca peluang, memahami proses bisnis, dan mampu merancang strategi pengembangan usaha yang kreatif serta berdampak. Dalam konteks pembelajaran, usaha SOTHU (Tahu Bulat dan Sotong) menjadi contoh menarik untuk dikaji karena menggambarkan bagaimana produk pangan lokal bisa berkembang stabil lewat kekuatan internal, inovasi, dan manajemen yang adaptif. Sothu tidak berfokus pada digitalisasi penuh dalam produksinya, strategi pengembangannya relevan untuk memperlihatkan bahwa bisnis sederhana bisa tumbuh jika eksekusinya konsisten dan arahnya jelas. Inti gagasan dari pembahasan ini menekankan bahwa kewirausahaan mahasiswa bisa berkembang jika dibangun lewat strategi yang tepat sasaran dan solusi produk yang benar-benar menjawab kebutuhan pasar.
Usaha SOTHU berlokasi di Dusun Buniasih, Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Produk utama yang dihasilkan adalah tahu bulat goreng dan camilan sotong berbumbu yang sama-sama punya cita rasa gurih, khas, dan digemari banyak orang. Dari sisi bahan baku, tahu bulat dibuat dari kedelai lokal yang mudah didapat dan pasokannya relatif stabil. Sotong sebagai produk pendamping memperkuat karakter brand SOTHU sebagai usaha camilan yang memadukan bahan nabati dan hasil laut, sehingga memiliki identitas yang unik dibanding usaha tahu bulat pada umumnya. Ini menunjukkan bahwa dalam membangun usaha, memilih bahan baku yang dekat dengan sumber produksi bisa membantu menstabilkan operasional sekaligus menekan risiko ketergantungan pada bahan impor.
Proses produksi tahu bulat menggunakan mesin pengolahan tahu dengan kapasitas besar yang mampu mendukung pengolahan bahan dalam jumlah banyak setiap hari. Produksi dilakukan secara rutin dengan alur kerja yang sudah terbentuk, dipimpin oleh manajer yang berpengalaman dalam mengatur ritme produksi dan kualitas output produk. Pengelolaan seperti ini memperlihatkan bahwa efisiensi operasional bukan hanya tentang penggunaan teknologi modern, tetapi juga tentang bagaimana alur produksi, pembagian tugas, dan kontrol kualitas dijalankan secara disiplin. Limbah dari proses pembuatan tahu juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, yang menunjukkan bahwa usaha ini menerapkan prinsip efisiensi sumber daya secara sederhana namun nyata. Konsep ini sejalan dengan praktik kewirausahaan yang bertanggung jawab, di mana usaha tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memaksimalkan manfaat dari setiap prosesnya.
Gagasan inovasi menjadi kekuatan besar dalam strategi pengembangan usaha SOTHU. Salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah tahu bulat mini kering krispi. Produk ini dibuat dengan tujuan utama untuk menyelesaikan masalah konsumen dan distributor, yaitu daya tahan produk saat distribusi jarak jauh. Berbeda dengan tahu bulat versi basah yang cepat menurun kualitasnya, varian mini kering ini lebih tahan lama saat dikirim ke luar daerah bahkan luar pulau, tanpa harus memakai pengawet kimia. Inovasi ini bukan sekadar menciptakan varian baru, tetapi menghadirkan solusi langsung dari kendala nyata dalam rantai distribusi usaha pangan. Tekstur mini yang kering dan renyah juga memberi nilai tambah dalam hal kepraktisan kemasan, efisiensi ruang saat pengiriman, dan pengalaman konsumsi yang berbeda bagi pembeli. Ini memperlihatkan bahwa inovasi produk yang baik adalah inovasi yang tidak menghilangkan karakter inti produk, tetapi justru memperkuat fungsinya sesuai kebutuhan pasar.
Dari sisi strategi pemasaran, usaha ini mengandalkan distribusi melalui kemitraan dengan distributor lokal dan mulai merambah ke pasar modern. Kemitraan distributor menjadi jembatan penting dalam memperluas pasar, terutama ketika usaha tidak memiliki toko fisik besar. Saat permintaan pasar meningkat tajam, SOTHU juga menerapkan strategi kolaborasi dengan pabrik lain di wilayah Cipaku untuk memastikan suplai tetap stabil. Strategi ini menunjukkan bahwa kemitraan operasional cadangan bisa jadi langkah penting ketika usaha sedang tumbuh dan kapasitas internal belum mampu memenuhi permintaan besar sekaligus. Dengan kolaborasi tersebut, usaha tetap bisa menjaga ritme pasar tanpa mengorbankan kualitas atau kepercayaan konsumen. Masuknya produk ke pasar modern juga membantu memperkuat relasi bisnis jangka panjang, memperluas akses konsumen, dan menstabilkan alur distribusi, yang menjadi salah satu strategi pertumbuhan yang adaptif dan berkelanjutan.
Dalam pengelolaan keuangan, SOTHU menjaga arus kas tetap stabil dengan efisiensi pembelian bahan baku dan pencatatan produksi harian yang terkontrol. Biaya produksi terbesar berasal dari pembelian kedelai dan upah tenaga kerja, namun usaha tetap mampu mempertahankan laba yang konsisten karena kualitas rasa dan perluasan pasar berjalan seimbang. Ini menegaskan bahwa keberhasilan usaha kecil menengah di sektor pangan bukan hanya soal menaikkan omzet, tetapi juga tentang bagaimana biaya ditekan secara efisien, kualitas dijaga, dan strategi pertumbuhan dilakukan bertahap tanpa mengorbankan nilai inti usaha.
Usaha SOTHU berada pada kuadran SO (Strength–Opportunity), yaitu posisi di mana usaha punya kekuatan internal dan peluang pasar besar untuk dikembangkan. Kekuatan usaha ini meliputi kapasitas mesin produksi yang besar, manajemen yang diarahkan oleh manajer berpengalaman, dan rasa produk yang konsisten serta digemari. Peluangnya datang dari permintaan pasar luar daerah dan luar pulau yang mulai meningkat. Namun, usaha ini juga memiliki kelemahan, seperti teknologi mesin yang belum otomatis dan peningkatan keterampilan karyawan yang belum terjadwal rutin. Ancaman usaha berasal dari fluktuasi harga kedelai dan daya tahan tahu bulat versi basah yang relatif pendek. Dari pemetaan ini, mahasiswa atau pembaca yang sedang belajar kewirausahaan bisa mengambil pelajaran bahwa strategi pengembangan usaha harus menyeimbangkan pertumbuhan pasar dan penguatan internal. Kekuatan harus dimaksimalkan untuk menangkap peluang, sementara kelemahan dan ancaman harus direspons lewat inovasi yang solutif dan kolaborasi mitra yang tepat.
Dalam kuadran SO, strategi yang bisa diterapkan adalah memperkuat kualitas produk, memperluas jangkauan distribusi, dan menjalin kolaborasi operasional untuk menjaga suplai pasar tetap stabil. Dalam kuadran ST, usaha bisa fokus pada penggunaan bahan baku lokal dan inovasi produk mini kering agar daya tahan lebih baik saat distribusi. Dalam kuadran WO, usaha bisa meningkatkan kualitas SDM lewat evaluasi dan pelatihan internal yang bertahap. Sementara dalam kuadran WT, langkah yang relevan adalah menyeleksi distributor dan merespons saran konsumen secara cepat agar relasi usaha tetap sehat dan berkelanjutan.
Strategi pemasaran usaha dilakukan secara langsung ke konsumen dan melalui kemitraan distributor. Usaha ini juga menjalin kerja sama dengan pabrik lain di sekitar Cipaku, terutama ketika permintaan sedang tinggi dan melebihi kapasitas produksi utama. Selain itu, kerja sama juga dibangun dengan pasar modern untuk memperluas jaringan distribusi, menjaga relasi jangka panjang, dan menstabilkan harga jual produk.
Pengelolaan sumber daya usaha terbagi menjadi fisik dan nonfisik. Dari sisi fisik, usaha ini memiliki mesin pengolahan dengan kapasitas cukup besar dan pasokan kedelai lokal yang stabil. Dari sisi nonfisik, usaha ini menjalin jejaring dengan pabrik lain dan memiliki tenaga kerja yang terlatih secara situasional. Evaluasi karyawan dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas produksi, meskipun belum memiliki sistem pelatihan yang terjadwal secara tetap.
Usaha Tahu Bulat dan Sotong Sothu bukan hanya contoh usaha camilan lokal, tetapi juga bukti bahwa strategi pengembangan yang tepat sasaran, manajemen operasional yang stabil, inovasi produk yang solutif, dan kekuatan kolaborasi mitra usaha bisa mendorong bisnis sederhana untuk berkembang luas. Usaha ini mengajarkan bahwa kewirausahaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar atau rumit. Produk yang sederhana pun bisa tumbuh besar di pasar jika dikelola dengan konsistensi, strategi yang jelas, dan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan.
Sothu menunjukkan bahwa kekuatan utama dalam wirausaha pangan adalah kualitas rasa, higienitas produksi, efisiensi operasional, dan manajemen mitra strategis. Pertumbuhan usaha tidak harus dilakukan dengan menyerang atau membawa narasi negatif. Yang paling penting adalah memahami kebutuhan pasar, menjaga kepercayaan konsumen, dan menjalankan pengembangan usaha secara adaptif dan bertahap. Filosofi tahu bulat yang “mengembang” bisa jadi pelajaran sederhana namun bermakna bisnis bisa mengembang besar jika fondasinya kuat, ritmenya stabil, dan inovasinya tepat sasaran.
Dengan strategi pengembangan yang konsisten dan bertanggung jawab, SOTHU berpotensi menjadi contoh bahwa brand pangan lokal dari daerah pun bisa punya pasar luas, dikenal banyak orang, dan memberi dampak ekonomi yang stabil. Jadi, kewirausahaan itu bukan soal mulai besar, tapi mulai tepat, jalan konsisten, dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.