Strategi Branding: Mengubah Persepsi Jasa Pengaspalan Menjadi Solusi Infrastruktur Premium

1–2 minutes

Ilyas Rashid Fadhillah

Dalam dunia Kewirausahaan, produk jasa seringkali dianggap sulit untuk dipasarkan karena sifatnya yang tidak berwujud sebelum pengerjaan selesai. Begitu pula dengan bisnis aspal. Namun, melalui strategi Branding Produk (Jasa) yang tepat, kita dapat mengubah komoditas aspal biasa menjadi sebuah brand yang dipercayai oleh pengembang perumahan hingga instansi pemerintah.​

1. Branding dimulai dengan identitas. Sebuah usaha pengaspalan harus memiliki elemen visual yang profesional:​Logo & Warna: Penggunaan warna kuning (keamanan) atau hitam (aspal) yang konsisten pada seragam pekerja dan armada kendaraan.​Slogan: Memilih tagline yang menjual solusi, contohnya: “Jalan Mulus, Investasi Terurus” atau “Kualitas Aspal Hotmix Tanpa Retak”.​

2. Membangun Nilai Jual Unik (Unique Selling Point)​Dalam Kreasi Produk (Jasa), branding harus didasarkan pada kualitas nyata. Branding bukan sekadar janji, melainkan jaminan bahwa jasa yang diberikan memiliki standar tertentu:​Jaminan Ketebalan: Melakukan branding sebagai satu-satunya vendor yang transparan dalam mengukur ketebalan aspal di depan klien.​Garansi Kerusakan: Memberikan garansi pemeliharaan selama satu tahun sebagai bagian dari janji brand.​

3. Komunikasi Brand Melalui Digital Marketing​Agar branding ini dikenal luas, penggunaan Digital Marketing sangat krusial. Strategi komunikasi brand meliputi:​Portofolio Estetik: Menampilkan dokumentasi proses pengaspalan dari kondisi tanah rusak hingga menjadi jalan mulus di platform media sosial.​Edukasi Pelanggan: Membuat konten tentang cara membedakan jenis aspal (seperti Hotmix vs Coldmix) untuk memposisikan brand Anda sebagai ahli (expert) di bidangnya.​

4. Menjaga Reputasi Melalui Business Matching​Brand yang kuat akan mempermudah proses Business Matching. Saat bertemu dengan mitra strategis atau kontraktor besar, nama brand yang sudah memiliki citra positif di internet akan meningkatkan daya tawar. Hal ini selaras dengan tujuan program P2MW yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memulai bisnis, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang kredibel.