Literasi adalah jalan yang dapat dipilih seseorang untuk memiliki pemikiran yang kritis. Menurut Kemendikdasmen, salah satu manfaat literasi adalah memunculkan cara berpikir kritis seseorang. Orang yang membaca banyak buku mendapatkan lebih banyak informasi dibandingkan orang yang jarang membaca buku. Informasi yang diterima oleh orang yang gemar membaca mendorong mereka untuk memahami dan mengolah informasi yang diterima. Proses pengolahan informasi inilah yang memunculkan pola pikir kritis bagi mereka yang gemar membaca.
Pada tahun 2020, menurut UNESCO Indonesia menempati peringkat ke-2 dari bawah dalam hal literasi. Kategori ini tentu bukanlah suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimanapun juga, membaca adalah salah satu pertanda yang menunjukkan bahwa seseorang berkemungkinan memiliki wawasan yang luas, karena informasi yang diterima dari bacaan.
Pada masa yang apa-apa sudah serba digital ini, masyarakat tidak perlu mengandalkan buku fisik sebagai satu-satunya media literasi karena membaca sekarang sudah dapat dilakukan secara digital. Salah satu media literasi digital yang dapat diakses semua orang adalah video storytelling dengan visual yang dapat dijumpai di platform online seperti Youtube. Selain mudah untuk diakses, media ini juga cocok untuk setiap kalangan umur manusia. Anak-anak dapat menonton dan mendengarkan video storytelling selama memiliki kuota.
Mengingat rendahnya minat literasi orang-orang Indonesia, tidak ada salahnya jika para orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk berliterasi sejak usia dini. Mengenai dampak pembiasaan berliterasi, menurut Prayoga dan tim (2023) “Pembiasaan 15 menit sebelum belajar dan adanya fasilitas perpustakaan mini di setiap kelas berhasil meningkatkan minat baca siswa secara signifikan. Siswa yang membaca buku dengan durasi membaca buku per hari lebih dari 60 menit meningkat 33%. Ketertarikan siswa dalam membaca meningkat sebesar 64%, sementara kesadaran membaca siswa naik sedikit, yaitu 12.5%.” Bisa dilihat dari data tersebut, anak yang dibiasakan membaca mendapatkan peningkatan yang cukup signifikan dalam hal ketertarikan literasi. Namun, mengingat tulisan yang padat dan durasi membaca yang cukup lama, hal ini tentu tidak tepat jika diimplementasikan pada anak usia dini. Salah satu jalan yang dapat diterapkan kepada mereka adalah menggunakan media yang menyenangkan dan memiliki visual seperti video storytelling. Memberikan anak-anak video storytelling yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Asing secara rutin sebagai bentuk percikan agar anak tertarik berliterasi dan meminta media literasi secara langsung tanpa harus disajikan terlebih dahulu. Anak-anak dapat berperan aktif dan tidak hanya menonton secara pasif, namun juga dapat melakukan tiga tahap kegiatan seperti menyimak, reka, dan memperagakan.
A. Tahap Simak
Simak adalah proses di mana seseorang memperhatikan dan mendengarkan mengenai objek yang sedang ditampilkan. Memperhatikan dan mendengarkan di sini tidak hanya dipandang bagian permukaannya saja, tetapi informasi yang diterima langsung dikelola oleh otak sehingga kegiatan ini membutuhkan fokus yang penuh. Tahap simak yang dimaksud dalam proses berliterasi di sini adalah saat anak fokus memperhatikan dan mendengarkan media visual yang disajikan. Orang yang mendampingi sang anak pada tahap ini bisa memberi misi sederhana kepada mereka seperti menyuruh si anak memperhatikan isi video karena saat video itu telah selesai diputar, orang dewasa yang mendampinginya akan menanyakan mengenai inti sari video yang ditonton oleh si anak. Video yang ditonton dapat berupa dongeng seperti “Kancil dan Buaya” dan sebagainya.
B. Tahap Reka
Reka adalah proses di mana seseorang membentuk kembali pemahaman mereka melalui interpretasi mereka sendiri dan menghadirkan ide baru. Tahap ini diadakan supaya anak tidak menonton video secara pasif, tetapi juga melibatkan pola pikir yang kreatif dalam mengolah informasi. Kegiatan seperti membangun cerita berdasarkan pemahaman sendiri ternyata dapat memicu adrenalin. Tahap ini diperlukan agar anak tidak menyerap informasi secara mentah-mentah, namun informasi yang ada dikelola dan dilihat dari pandangan mereka sendiri. Pada tahap ini, orang dewasa yang mendampingi sang anak bisa bertanya kepada mereka mengenai, misal: “Apa yang terjadi di antara kancil dan buaya” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan apa yang sang anak lihat dan pahami dari video. Jadi, pemahaman mereka tidak hanya disimpan di otak, tapi juga disalurkan melewati jawaban dari pertanyaan yang diajukan pada mereka.
C. Tahap Raga / Memperagakan
Tahap ini adalah tahap yang paling penting di antara tahap sebelumnya, adanya tahap ini dapat menunjukkan sejauh mana anak dapat memahami isi sebuah video. Tidak sama seperti tahap sebelumnya yang lebih mengedepankan ketajaman otak seseorang, tahap ini mengikutsertakan gerak kinetis secara langsung. Menambahkan gerakan terhadap pemahaman yang diserap membentuk suatu pengalaman secara langsung, jadi anak tidak hanya menyimpan pemahamannya di pikiran, tetapi juga mencoba menginterpretasikan pemahaman itu ke dalam gerakan yang dilakukan oleh anggota tubuh. Pada tahap ini, orang dewasa yang mendampingi sang anak dapat meminta mereka secara langsung, misal: “Bagaimana gaya kancil yang cerdik?” Hal ini bertujuan agar si anak tidak hanya memahami makna video secara teori, namun juga dapat mengimplementasikan perilaku positif dari video yang mereka tonton ke dalam kehidupan nyata. Bukti nyata dari kegiatan ini bisa dilihat dari anak-anak yang gemar menonton Upin-Ipin, mereka yang dengan rutin menonton film Upin-Ipin pasti mencoba untuk mengikuti gaya bicara atau permainan yang dimainkan oleh sang karakter dalam film.
Kegiatan-kegiatan tersebut, selain membuat anak terbiasa dengan media literasi juga dapat diimplementasikan kepada anak yang waktu kosongnya berkutat dengan gawai. Selain itu, para orang tua yang sibuk dengan urusan pribadi juga dapat menggunakan kegiatan ini sebagai hal yang dapat dilakukan oleh anak mereka. Dibandingkan meninggalkan gawai dengan anak dan menyuruh mereka menonton video pendek, proses simak reka raga justru lebih bermanfaat bagi anak-anak. Pemilihan video berbahasa asing juga dapat dilakukan kepada mereka. Guna melihat kemampuan interpretasi anak terhadap suatu media belajar, maka menampilkan video storytelling berbahasa asing bukanlah hal yang aneh. Memberikan video berbahasa asing dapat digunakan untuk mengukur bagaimana anak memahami suatu media belajar yang bahasanya asing. Menggunakan subtitle dengan bahasa ibu anak menambahkan poin plus ke kegiatan ini, mengutip dari apa yang dijelaskan dalam artikel Halodoc binaan Kemenkes, menyajikan film atau video menggunakan subtitle dapat meningkatkan kemampuan literasi anak.
Rangkaian kegiatan yang menggabungkan unsur elemen menyimak dan menginterpretasikan dengan gerakan kinetis serta bahasa asing tidak akan berjalan sesuai keinginan jika tidak ada panduan yang mendukung secara jelas. Berangkat dari apa yang dibutuhkan tersebut, pengadaan konsep ideal berupa produk PKM-PM yang disebut “SIRAGA: Program Peningkatan Minat Literasi dan Pemahaman Bahasa Inggris Anak Usia Dini melalui Metode Penceritaan Kembali secara Visual” adalah hal yang tepat untuk permasalahan-permasalahan di atas.
SIRAGA (Simak, Reka, Raga) adalah sebuah program yang mengambil kesempatan dari masifnya penggunaan gawai pada anak usia dini dengan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat dan berkaitan dengan minat literasi anak bangsa. Seperti yang kita tahu, beberapa tahun terakhir Indonesia menempati peringkat minat baca yang sangat menyedihkan, karena adanya masalah itu, maka muncullah ide inovatif yang diharapkan mampu untuk meningkatkan minat literasi. Semua usaha ini diterapkan sejak usia dini agar mereka terbiasa dengan kegiatan berliterasi.
Program SIRAGA juga tidak hanya mengatur apa yang perlu dilakukan dan diperagakan oleh anak, program ini juga menyediakan pertanyaan sederhana seputar pemahaman mereka yang dikemas dalam PPT interaktif yang digunakan sebagai media pre-test dan post-test. Menggunakan tema-tema seperti game popular di kalangan anak-anak seperti Minecraft dan Roblox pada PPT interaktif agar anak-anak makin tertarik untuk mengikuti program SIRAGA ini. Selain itu, pemanfaatan fitur-fitur di PPT seperti suara tepuk tangan saat sang anak memilih jawaban yang benar, membuat proses pengukuran kemampuan ini menajadi lebih menyenangkan. SIRAGA secara sempurna dirancang agar dapat diimplementasikan secara efektif. Guna mewujudkan keefektifan ini, SIRAGA juga dibuat agar kegiatannya dapat diikuti oleh anak usia dini yang mana kegiatan ini menghadirkan aspek keseruan dan kegembiraan jadi anak tidak akan merasa tertekan dengan misi yang diberikan kepada mereka.
Saat ini program SIRAGA masih berada dalam tahap pengembangan, namun meskipun program ini belum 100% terbentuk, secara teori program ini memiliki potensi dampak yang besar di lapangan. SIRAGA hadir untuk mewujudkan kegiatan positif dari penggunaan gawai pada anak usia dini, anak yang biasanya menonton video secara pasif tanpa ada tujuan atau manfaat tertentu kecuali hiburan dan alat distraksi, didorong untuk menonton video dan bergerak secara aktif berusaha mewujudkan imajinasinya ke dalam praktek nyata lewat pemeragaan visual.
Kesimpulan
Cara mengatasi krisis literasi di Indonesia, khususnya pada Generasi Alpha tidak bisa lagi menggunakan cara yang klasik. Harus ada cara baru yang dapat menarik minat mereka agar mau ikut serta dalam kegiatan. Melalui metode simak, reka, dan raga yang diwujudkan dari program SIRAGA, peningkatan minat literasi dapat diwujudkan dengan kegiatan yang menyenangkan dan penuh kegembiraan. Bagaimanapun juga, pondasi cara berpikir anak perlu dibangun sejak mereka berada dalam usia emas.
DAFTAR PUSTAKA:
- Kementerian Komunikasi dan Digital. (2020). Teknologi: Masyarakat Indonesia Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. Komdigi. https://www.komdigi.go.id/berita/sorotan-media/detail/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos
- BBPPMPV Bispar Kemendikdasmen. (2024). Manfaat Literasi. BBPPMPV Bispar. https://bbppmpvbispar.kemendikdasmen.go.id/manfaat-literasi/
- Prayoga, R. A., Budiarto, H. A., Afif, M. F., Pradipta, A. S., & Lestari, A. S. (2023). Peningkatan Minat Baca Siswa Melalui Pekan Literasi dan Pembiasaan 15 Menit Membaca: Studi Kasus MI Mulyadarama Girimukti. Warta LPM, 388–400. https://doi.org/10.23917/warta.v26i4.1870
- Halodoc. (2020). Ini Manfaat Mengajak Anak Menonton Film dengan Subtitle. Halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/ini-manfaat-mengajak-anak-menonton-film-dengan-subtitle