Bagi sebagian mahasiswa, situasi ini mungkin terasa familier: sedang mengerjakan tugas kuliah, tiba-tiba muncul notifikasi pesanan dari toko online yang dikelola, sementara desain untuk klien juga belum selesai dikerjakan. Inilah gambaran keseharian mahasiswa yang menjalankan side hustle, yaitu usaha sampingan yang dijalankan bersamaan dengan aktivitas perkuliahan. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat—semakin banyak mahasiswa yang merintis usaha, menjadi freelancer, atau menjalankan bisnis reseller sebagai upaya menambah penghasilan sekaligus mengasah keterampilan.
Namun, menjalankan dua tanggung jawab besar secara bersamaan bukanlah hal yang mudah. Tanpa pengelolaan waktu yang tepat, risikonya adalah nilai akademik menurun sementara usaha pun tidak berkembang secara maksimal. Artikel ini membahas bagaimana mahasiswa dapat tetap produktif menjalankan usaha tanpa mengorbankan capaian akademiknya.
Fenomena Side Hustle Mahasiswa: Data yang Mendukung
Kondisi ini ternyata didukung oleh data. Survei Biaya Hidup Mahasiswa 2024 yang dilakukan oleh UPN Veteran Yogyakarta bekerja sama dengan Bank Indonesia—melibatkan 2.000 mahasiswa dari 43 perguruan tinggi—mencatat bahwa lebih dari 25% responden ternyata kuliah sambil bekerja. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar (43,41%) memilih jalur wirausaha, disusul menjadi asisten praktikum/dosen, freelancer, pekerja kafe, hingga pengajar kursus.
Data ini menunjukkan bahwa menjalankan usaha sambil kuliah bukan lagi fenomena yang jarang ditemui. Bagi banyak mahasiswa, ini menjadi cara membangun pengalaman, relasi, dan penghasilan sejak masa perkuliahan—sekaligus modal awal bagi yang berminat serius menekuni jalur wirausaha atau melanjutkan ke program seperti P2MW ke depannya.
Mengapa Banyak Mahasiswa Memilih Menjalankan Usaha Sampingan?
Alasan mahasiswa menjalankan usaha sambil kuliah cukup beragam, dan biasanya tidak melulu soal penghasilan:
- Kebutuhan finansial. Biaya hidup dan kuliah yang tidak sedikit mendorong banyak mahasiswa mencari penghasilan tambahan.
- Pembelajaran melalui praktik langsung. Teori manajemen yang dipelajari di kelas menjadi lebih mudah dipahami ketika langsung dipraktikkan melalui usaha sendiri.
- Membangun personal branding lebih awal. Memiliki usaha sejak masa kuliah berarti sudah memiliki portofolio nyata saat memasuki dunia kerja.
- Melatih kemandirian. Mengelola arus kas usaha kecil mengajarkan tanggung jawab yang tidak selalu didapatkan dari bangku perkuliahan.
Meski demikian, niat yang baik saja tidak cukup. Tanpa strategi pembagian waktu yang jelas, kedua hal ini berisiko sama-sama terbengkalai.
Strategi Mengatur Waktu agar Kuliah dan Usaha Berjalan Beriringan
1. Susun Prioritas Mingguan, Bukan Hanya Harian
Dibandingkan membuat daftar tugas harian yang mudah berantakan ketika ada hal mendadak, akan lebih efektif jika prioritas disusun secara mingguan. Tentukan di awal minggu kapan waktu untuk kuliah, mengerjakan tugas besar, dan slot khusus untuk usaha. Dengan gambaran mingguan, ada ruang untuk menyesuaikan jadwal tanpa membuat salah satu sisi terbengkalai sepenuhnya.
2. Manfaatkan Waktu-Waktu Kecil di Sela Aktivitas
Waktu menunggu dosen, perjalanan, atau jeda antar kelas sering dianggap tidak berarti, padahal bisa dimanfaatkan untuk hal-hal kecil namun penting: membalas pesan pelanggan, memperbarui stok, atau menyiapkan konten promosi. Tidak semua pekerjaan usaha membutuhkan waktu panjang dan fokus penuh—banyak yang bisa dicicil di sela-sela aktivitas.
3. Hindari Multitasking Berlebihan
Terdengar kontradiktif, tetapi penting untuk dipahami: mengerjakan tugas kuliah dan urusan usaha secara bersamaan justru kurang efektif. Otak manusia tidak dirancang untuk multitasking secara optimal—hasilnya, kedua pekerjaan sama-sama tidak maksimal. Lebih baik fokus pada satu hal dalam satu blok waktu tertentu (dikenal dengan istilah time blocking), baru kemudian berpindah ke aktivitas lain.
4. Delegasikan atau Manfaatkan Otomatisasi
Ketika usaha mulai berkembang, ada baiknya mempertimbangkan bagian pekerjaan mana yang dapat didelegasikan ke anggota tim atau dibantu dengan alat otomatis—misalnya chatbot untuk pertanyaan umum pelanggan, atau template balasan standar. Mendelegasikan tugas bukan tanda kemalasan, melainkan langkah awal berpikir sebagai pengelola usaha, bukan sekadar pelaksana harian.
5. Kenali Kapasitas Diri dan Jangan Memaksakan
Ini poin yang sering terlupakan: tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk menanggung beban ganda. Jika merasa kewalahan, tidak ada salahnya melakukan evaluasi ulang—baik dengan memperlambat sementara laju usaha, atau berkoordinasi dengan dosen wali terkait beban akademik. Yang terpenting adalah bersikap jujur terhadap kondisi diri sendiri, bukan memaksakan diri demi menjaga citra semata.
Kesalahan Umum yang Membuat Usaha Sampingan Mengganggu Kuliah
Sebelum melanjutkan ke tips lain, penting untuk mengenali beberapa kesalahan yang sering membuat mahasiswa akhirnya kewalahan. Ini bukan daftar untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bahan antisipasi sejak awal.
Menerima seluruh pesanan tanpa seleksi. Pada tahap awal usaha, wajar jika muncul keinginan untuk menerima semua peluang yang datang. Namun, ketika kapasitas waktu terbatas, menerima terlalu banyak pesanan justru menurunkan kualitas kedua sisi—baik tugas kuliah maupun pesanan pelanggan. Kemampuan untuk mengatakan “belum bisa menerima saat ini” adalah keterampilan penting, bukan tanda kegagalan.
Tidak memiliki batasan waktu kerja yang jelas. Usaha kecil sering tidak memiliki jam kerja tetap, terlebih jika dijalankan sendiri. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat atau belajar justru terpakai untuk membalas pesan pelanggan hingga larut malam. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan kelelahan menumpuk dan konsentrasi belajar menurun.
Menunda tugas kuliah karena usaha sedang ramai. Ini merupakan kesalahan klasik. Ketika usaha sedang ramai pesanan, tugas kuliah cenderung tergeser menjadi prioritas kedua. Padahal, tenggat waktu akademik umumnya tidak dapat dinegosiasikan seperti halnya tenggat waktu kepada pelanggan.
Tidak melibatkan orang lain ketika merasa kewalahan. Banyak mahasiswa memilih diam ketika merasa sudah tidak sanggup, baik karena rasa segan maupun khawatir dianggap tidak mampu mengelola. Padahal, dosen wali, mentor usaha, atau rekan satu tim seringkali dapat membantu mencari solusi jika diajak berdiskusi sejak awal, bukan setelah situasi menjadi tidak terkendali.
Alat Bantu Sederhana untuk Menjaga Konsistensi
Tidak diperlukan alat bantu yang mahal atau rumit untuk mulai mengelola waktu antara kuliah dan usaha. Beberapa kebiasaan dan alat bantu sederhana berikut ini dapat dicoba:
- Kalender digital dengan kode warna berbeda untuk jadwal kuliah, jadwal produksi/pengiriman usaha, dan waktu istirahat. Visualisasi warna membantu lebih cepat menyadari jika ada jadwal yang bertabrakan.
- Catatan progres tugas dan pesanan dalam satu tempat, agar tidak ada yang terlewat karena informasi tersebar di berbagai aplikasi.
- Template balasan pesan pelanggan, sehingga komunikasi tidak memakan waktu terlalu lama dan tetap bisa direspons cepat meski di sela jam kuliah.
- Evaluasi mingguan singkat, meluangkan waktu 15–20 menit setiap akhir minggu untuk meninjau kembali: apakah perkuliahan berjalan lancar, apakah usaha berjalan sesuai rencana, dan apa yang perlu diperbaiki di minggu berikutnya.
Yang menentukan keberhasilan bukan seberapa canggih alat yang digunakan, melainkan seberapa konsisten alat tersebut dimanfaatkan untuk membantu pengambilan keputusan terkait waktu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah menjalankan usaha sampingan otomatis menurunkan nilai akademik? Tidak selalu. Faktor yang biasanya menurunkan nilai bukanlah keberadaan usahanya, melainkan pola pengelolaan waktu yang belum ditemukan. Tidak sedikit mahasiswa yang justru IPK-nya tetap stabil karena usaha mengajarkan disiplin dan efisiensi.
Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha sampingan di masa kuliah? Tidak ada patokan waktu yang pasti, namun umumnya lebih aman memulai dari skala kecil pada semester dengan beban SKS yang tidak terlalu berat, sambil mempelajari pola kerja diri sendiri sebelum mengembangkan usaha lebih lanjut.
Bagaimana jika usaha dan kuliah sama-sama sedang padat? Ini saatnya kembali pada evaluasi kapasitas diri. Tidak masalah jika salah satu perlu “diperlambat” sementara waktu—usaha dapat berjalan dengan tempo lebih santai, atau berkomunikasi dengan dosen terkait tenggat waktu jika situasi memang mendesak. Yang terpenting adalah komunikasi terbuka, bukan menghadapinya sendirian.
Peran Dukungan Kampus dalam Menjembatani Kuliah dan Usaha
Mahasiswa yang menjalankan usaha sampingan sebenarnya tidak perlu menghadapi tantangan ini sendirian. Kampus umumnya menyediakan berbagai program yang dirancang untuk mendukung mahasiswa yang ingin mengembangkan usaha tanpa mengorbankan sisi akademiknya, salah satunya melalui program seperti INBISKOM yang mewadahi mahasiswa untuk belajar sekaligus mempublikasikan pengalaman berwirausaha.
Selain itu, kegiatan seperti business matching juga bisa dimanfaatkan untuk memperluas relasi usaha tanpa harus mengorbankan banyak waktu di luar jadwal kuliah, karena biasanya kegiatan semacam ini sudah difasilitasi dan dijadwalkan oleh kampus dalam periode tertentu. Bagi mahasiswa yang usahanya sudah cukup matang, program pendanaan seperti P2MW juga bisa menjadi langkah lanjutan untuk mengembangkan usaha secara lebih terstruktur, sekaligus tetap dalam koridor akademik karena prosesnya biasanya melibatkan dosen pembimbing.
Memanfaatkan program-program semacam ini penting agar usaha yang dijalankan tidak berjalan sendiri-sendiri, terpisah dari dunia akademik, melainkan justru terintegrasi dan saling mendukung. Dengan begitu, mahasiswa tidak perlu memilih antara fokus kuliah atau fokus usaha, karena kampus telah menyediakan jalur agar keduanya bisa berjalan selaras.
Kuliah dan Usaha: Bukan Pilihan yang Saling Meniadakan
Banyak yang beranggapan bahwa usaha sampingan akan mengganggu fokus akademik. Padahal, jika dikelola dengan baik, keduanya justru dapat saling menguatkan. Keterampilan manajemen waktu, komunikasi dengan klien, hingga kemampuan menyelesaikan masalah yang diasah melalui usaha, sering kali menjadi nilai tambah yang tidak diajarkan secara langsung di ruang kelas.
Bagi mahasiswa yang sedang mengikuti program seperti INBISKOM atau berencana melanjutkan ke P2MW, pengalaman menjalankan usaha sampingan sejak sekarang dapat menjadi modal berharga. Bukan hanya soal produk atau omzet, melainkan soal kedisiplinan mengelola dua tanggung jawab besar secara bersamaan—kemampuan yang akan terus relevan, baik di dunia kerja maupun dunia usaha di kemudian hari.
Kesimpulan
Usaha sampingan dan kuliah bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan. Dengan perencanaan waktu yang realistis, kemampuan menentukan prioritas, serta kejujuran terhadap kapasitas diri, mahasiswa dapat menjalankan usaha tanpa harus mengorbankan capaian akademik. Yang terpenting adalah memulai dari langkah kecil, melakukan evaluasi secara rutin, dan tidak ragu untuk meminta bantuan—baik kepada dosen, mentor usaha, maupun sesama mahasiswa yang menghadapi situasi serupa.
Penulis Haekal Al Ghifari Mukti Putra 10523104 / Sistem Informasi Program INBISKOM
Referensi
Surabaya Pagi. (2026, 28 Januari). Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja, Ngetrend. Diakses dari https://surabayapagi.com/news-252807-mahasiswa-kuliah-sambil-bekerja-ngetrend
detikEdu. (2024). Mahasiswa Jogja Banyak yang Kuliah Sambil Kerja: 43 Persen Jadi Wirausahawan. Diakses dari https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-7488439/mahasiswa-jogja-banyak-yang-kuliah-sambil-kerja-43-persen-jadi-wirausahawan