Saatnya Data Mentah Peneliti Indonesia Berhenti Tertidur di Penyimpanan

6–9 minutes

Seperti yang kamu tahu untuk menyelesaikan sebuah riset tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar, dimana para peneliti akan melakukan sesuatu seperti survei ratusan responden, mengumpulkan data geospasial dari berbagai wilayah, mengolahnya berbulan-bulan, lalu mempublikasikannya sebagai jurnal ilmiah, semua itu dilakukan bisa saja 6 bulan, 1 tahun atau lebih dari 1 tahun. Setelah jurnal diterbitkan, apa yang dilakukan?  menyimpan semua file data mentah ke sebuah penyimpanan offline seperti flashdisk atau penyimpanan online seperti google drive, dan tentu entah kapan lagi data itu akan digunakan, seperti tidur untuk waktu yang tak ditentukan. Padahal untuk mengumpulkan data tersebut, para peneliti sudah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan tidak jarang biaya pribadi yang tidak sedikit. Ironisnya, setelah semua perjuangan itu, datanya justru tidak pernah disentuh lagi. Ini bukan hanya masalah satu atau dua peneliti, ini adalah pola yang terjadi di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Disaat yang sama, peneliti lain di kota yang berbeda sedang memulai riset dengan topik yang hampir identik. Mereka mengajukan proposal pendanaan ke negara, mendapat dana hibah dari negara, dan mulai mengumpulkan data dari nol, padahal data yang mereka butuhkan mungkin saja tersimpan rapi di penyimpanan offline atau online dari seorang peneliti yang berbeda.

Di atas merupakan situasi yang sedang terjadi di ekosistem riset di Indonesia saat ini. Dari masalah itulah kami coba pecahkan melalui gagasan Pusaka-Riset Nusantara.

Masalah yang Lebih Besar dari yang Kamu Kira

Setiap tahun, pemerintah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk dana hibah penelitian. Dana ini mengalir ke universitas-universitas di seluruh Indonesia, untuk digunakan oleh para dosen atau peneliti yang terpilih topik risetnya oleh negara yang kemungkinan akan menghasilkan sesuatu yang baru sehingga seharusnya setiap rupiah yang diinvestasikan menghasilkan nilai ilmiah yang bisa terus berkembang dan dimanfaatkan. Tetapi kenyataanya berbanding terbalik budaya riset di Indoensia saat ini masih sangat tertutup dan terkotak-kotak, dimana setiap kampus seperti suatu pulau terasing dan tidak memiliki jembatan sebagai penghubung. Misalnya data yang dikumpulkan oleh peneliti dari universitas A tidak bisa diakses dengan mudah oleh peneliti dari universitas B, meskipun keduanyan sedang mengerjakan topik yang saling berkaitan dan akibatnya ialah aktivitas pengambilan data mentah yang sama seperti survei sosial, pemetaan wilayah, uji laboratorium standar akan dilakukan secara berulang-ulang oleh peneliti yang berbeda di tempat yang berbeda juga hanya karena mereka tidak tahu bahwa data itu sudah pernah ada dan pernah digunakan.

Dari kejadian di atas tentu akan terjadi pemborosan waktu, namun pemborosan waktu bukanlah satu-satunya, pemborosan anggaran negara dalam skala yang cukup besar tentu berlangsung setiap tahun, hampir tanpa disadari. Kondisi seperti itulah yang menciptakan value data tidak digunakan secara maksimal padahal bisa saja data tersebut digunakan untuk topik yang hampir mirip tetapi menghasilkan sesuatu yang berbeda. Data mentah yang proses pengumpulanya lama dan mahal akan terbuang begitu saja setelah jurnal selesai dipublikasikan, tidak ada sistem yang memungkinkan data itu digunakan kembali, dikembangkan lebih lanjut, atau dijadikan awalan atau fondasi untuk inovasi berikutnya.

Solusi yang Sudah Ada

Pemerintah sendiri tentu mengupayakan sesuatu untuk mengatasi hal ini dengan menggaet institusi pendidikan untuk membangun sebuah platform seperti repositori institusi, portal Garuda, dan yang paling dikenal adalah Science and Technology Index atau yang sering disebut SINTA. Platform-platform tersebut berhasil dalam tugasnya yaitu mendokumentasikan publikasi ilmiah nasional, tapi satu hal mendasar yang tidak dapat mereka lakukan adalah berbagi data mentah secara aman lintas institusi.

Pada dasarnya SINTA dan sejenisnya adalah “etalase hasil akhir”. Di sana hanya tersimpan dokumen PDF dari jurnal, prosiding, tesis bukan dataset mentah yang menjadi bahan baku dari semua publikasi jurnal yang ada karena memang arsitektur dari sistemnya tidak dirancang untuk itu. Di samping keterbatasan sistem, tentu yang menjadi salah satu hambatan terbesar adalah dari sisi psikologis. Para peneliti biasanya enggan membagikan data mentah mereka karena dua alasan utama, seperti tidak ada jaminan perlindungan hak kekayaan intelektual, dan tidak ada insentif yang sepadan untuk mereka. Sehingga menimbulkan persepsi mengapa harus repot-repot berbagi jika datamu sendiri bisa dicuri orang, dan kamu tidak mendapat apa-apa dari hal berbagi tersebut.

Pusaka-Riset Nusantara

Pusaka-Riset Nusantara merupakan sebuah gagasan tentang platform yang dapat berbagi data mentah berskala nasional sebagai sebuah ekosistem terintegrasi yang dibangung dengan tiga hal penting, yaitu

1. Keamanan Hak Cipta Berbasis Blockchain

Salah satu ketakutan terbesar bagi sebagian besar peneliti dalam berbagi data adalah risiko plagiarsime dan pencurian intelektual, Pusaka-Riset Nusantara dapat menjawab kekhawatiran hal ini dengan teknologi blockchain atau decentralized network. Dimana setiap dataset mentah yang diunggah ke platform akan dienkripsi oleh smart contract atau semacam perjanjian digital otomatis yang mencatat kepemilikian dan setiap transaksi secara transparan dan permanen, seperti siapa yang menggunggah datanya, kapan diunggahnya, siapa yang mengakses datanya itu semua tercata di jaringan yang tidak bisa dimanipulasi oleh siapapun bahkan oleh pengelola plataform sekalipun.

2. Pencarian Cerdas Berbasis Big Data dan AI

Platform ini nantinya dapat membandingkan konten dataset secara mendalam dan mendeteksi kesamaan topik antara proposal riset, dikarenakan platform ini akan dilengkapi dengan algoritma kecerdasan buatan yang mampu memindai jutaan titik data, mendeteksi potensi duplikasi proposal sebelum dana dikucurkan, dan nantinya dapat merekomendasikan dataset yang relevan kepada peneliti yang sedang membutuhkan data tertentu.

3. Sistem Insentif Berbasis Kolaborasi

Melalui integrasi API langsung dengan sistem SINTA, Pusaka-Riset Nusantara dapat menciptakan mekanisme penghargaan otomatis. Misalnya, setiap kali dataset milik seorang dosen diunduh dan digunakan oleh peneliti lain, dosen tersebut akan secara otomatis menerima “Poin Kolaborasi” yang dapat dikonversi menjadi tambahan Angka Kredit (KUM) yang merupakan poin yang dibutuhkan dosen untuk kenaikan pangkat akademik. Mekanisme ini dirancang agar dapat menghacurkan keadaaan saat ini yang menghalangi hadirnya kolaborasi riset nasional, karena semakin banyak orang yang menggunakan datamu, semakin besar apresiasi yang kamu terima. Jadi secara sederhana, platform ini mengubah logika dasarnya: berbagi data bukan lagi tindakan sukarela yang tidak dihargai, melainkan menjadi strategi akademik yang menguntungkan secara langsung. Ini adalah perubahan paradigma yang selama ini belum pernah ada dalam ekosistem riset Indonesia.

Siapa saja yang Terlibat

Gagasan sebesar ini tentu membutuhkan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan bukan hanya satu kelompok saja, seperti

1. Kemendikbudristek

Kemendikbudristek dimana perlu berperan sebagai regulator yang memberikan landasan hukum, termasuk merumuskan dan melegalkan konversi poin berbagi data menjadi syarat kenaikan pangkat dosen agar mekanisme insentif dapat berjalan

2. Badan Riset dan Inovasi Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN dapat berperan untuk menyediakan infrastruktur server nasional yang menjadi tulang punggung platform ini dan memastikan standar keamanan siber terpenuhi untuk platform ini

3. Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi seluruh Indonesia dapat berperan sebagai bagian yang memverifikasi keabsahan atau keaslian atau kesesuaian data yang dikumpulkan peneliti apakah sudah sesuai dengan keadaan di dunia nyata sebelum dataset masuk ke sistem pusat dan memastikan kualitas dataset tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Dan terakhir tentu para dosen, peneliti, dan mahasiswa sebagai pengguna dapat menggunakan platform ini secara aktif untuk berkontribusi ataupun memanfaatkan platform ini untuk kebutuh riset mereka.

Roadmap untuk implementasi gagasan

Gagasan ini diperkirakan waktu pengimplementasiannya ialah empat tahun secara realistis dan terukur, di bawah merupakan fase untuk setiap tahunnya

  1. Tahun pertama atau Fase Inisiasi dimana akan merancang cetak biru arsitektur sistem dan membangun kerjasama bersama Kemendikbudristek, BRIN, serta perwakilan dari Perguruan Tinggi yang bersedia untuk menyusun draf regulasi insentif berbagi data.
  2. Tahun kedua atau Fase Purwarupa dimana akan dilakukan pengembangan aplikasi utama, pengintegrasian protokol blockchain, dan melakukan pelatihan terhadap model AI untuk mesin pencari repositori
  3. Tahun ketiga atau Fase Uji Coba dimana akan dilakukan uji coba bersama lima perguruan tinggi negeri klaster utama untuk evaluasi antarmuka, kelancaran platform dan uji beban server
  4. Tahun keempat atau Fase Ekspansi Nasional dimana akan dilakukan peluncuran secara resmi di seluruh Indoensia dengan integrasi penuh ke SINTA dan PDDikti, serta peneratapan sebagai Standar Operasional yang wajib bagi penerima dana hibah riset dari negera

Mengapa ini relevan untuk saat ini

Gagasan ini atau Gagasan Pusaka-Riset Nusantara selaras langsung dengan SDGs atau Suistainable Development Goals poin ke-9 yaitu tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur khususnya dalam pembangunan infrastrukutr ilmu pengetahuan yang inklusif dan berkelanjutan. Gagasan ini juga selaras dengan salah satu Tema PKM 2026, yaitu Penguatan Pendidikan, Sains, dan Teknologi.

Negara Indonesia saat ini sedang berambisi menjadi negara maju pada 2045 atau Indonesia emas, tetapi visi itu mustahil tercapai jika ekosistem riset kita terus berjalan dengan cara lama dimana data yang sangat mahal dibiarkan berdebu dan berdiam pada penyimpanan offline ataupun online dari seorang  peneliti, dan setiap peneliti harus terus mengulang pekerjaan yang sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain walaupun membahas riset yang memiliki topik yang sama. Sudah saatnya kita memutus siklus pemborosan ini. Bukan dengan menambah anggaran riset, tapi dengan memaksimalkan nilai dari data yang sudah ada. Pusaka-Riset Nusantara hadir bukan untuk menggantikan sistem yang sudah ada seperti SINTA atau repositori institusi, melainkan untuk melengkapi celah yang selama ini tidak pernah terisi yaitu bagaimana membuat data mentah peneliti bisa hidup lebih lama, digunakan lebih luas, dan dihargai lebih layak. Karena riset yang baik bukan hanya soal menghasilkan jurnal, tapi soal memastikan setiap tetes data yang dikumpulkan tidak pernah terbuang sia-sia.

10123195 | Ardi Saputra | IF-5