
Pernah nggak sih, kamu lagi di supermarket, terus pas lewat rak biskuit, tiba-tiba di kepala keinget kata kata “Berapa lapis? Ratusan!” Jujur deh, hampir kita semua pasti otomatis menyambung kalimat itu kalau ada yang bilang “Berapa lapis?”. Padahal, mungkin kita lagi nggak pengen makan wafer, atau bahkan nggak sedang melihat produknya secara langsung. Itulah kekuatan sebuah tagline.
Secara teknis, tagline adalah frasa singkat, padat, dan mudah diingat yang digunakan oleh sebuah brand untuk menyampaikan pesan utama, nilai, atau “janji” mereka kepada konsumen
Buat kita orang awam, mungkin tagline kelihatan kayak kalimat sepele yang dibuat biar iklan kelihatan keren. Tapi sebenarnya, di balik kalimat pendek itu, ada strategi psikologi yang rumit dan perhitungan bisnis yang matang.
Tagline nggak pernah panjang-panjang. Biasanya cuma 2 sampai 7 kata saja. Kenapa? Karena otak kita itu malas mengingat hal yang rumit. Tagline harus bisa diucapkan dalam satu helasan napas, tapi membekasnya bisa bertahun-tahun.
contoh nya “berapa lapis? ratusan” singkat tapi nempel di kepala dan orang langsung teringat wafer tango
Studi Kasus Tango: Dari “Ratusan Lapis” ke “Satu Mana Cukup“
Inget nggak iklan ikonik terus nanya, “Berapa lapis?” dan dijawab dengan semangat, “Ratusan!”?
Pada masa itu, Tango sedang melakukan apa yang disebut Functional Positioning.
Tujuannya, Meyakinkan orang kalau wafer mereka itu beda dari wafer lainnya.
Strateginya, Menggunakan angka “Ratusan”. Secara logika, kita tahu itu hiperbola (lebay), tapi secara psikologis, kata “ratusan lapis” membangun persepsi kalau wafer ini tebal, padat, dan nggak pelit bahan.
Pernah nggak kamu iseng mencoba memisahkan lapisan wafer Tango pas lagi makan? Mungkin nggak sampai ratusan beneran, tapi sensasi “berlapis-lapis” itu sudah jadi standar kualitas yang mereka tanam di kepala kita. Mereka sukses membuat “banyak lapis” identik dengan “Tango”.
Kenapa sukses? Karena mereka memberikan bukti visual yang didukung kata-kata yang kuat. Hasilnya? Tango berhasil jadi top of mind buat kategori wafer premium di masanya.
Nah, setelah semua orang tahu kalau Tango itu berlapis-lapis dan enak, mereka nggak berhenti di situ. Mereka sadar kalau cuma ngomongin “lapis”, kompetitor bisa aja bikin klaim serupa. Akhirnya, mereka pindah ke tagline: “Satu Mana Cukup”.
Ini adalah pergeseran dari Fungsional ke Emotional/Behavioral Positioning. Bukannya bilang “beli ya”, mereka malah nantang kita dengan pertanyaan retoris. Secara nggak sadar, otak kita mikir, “Iya juga ya, makan satu doang mana berasa.”
Di sini, persepsi yang dibangun bukan lagi soal teknis pembuatan wafer, tapi soal rasa nagih (addictiveness). Mereka nggak lagi bicara ke otak logika kita, tapi langsung ke lidah dan rasa lapar kita.
Kenapa Tagline Bisa Begitu Kuat Memengaruhi Kita?
Mungkin kamu bertanya, “Kok bisa sih, cuma kata-kata doang tapi pengaruhnya gede banget ke persepsi produk?”
Konsistensi dan repetisi. Tagline yang bagus akan erus berputar di kepala. Ketika sebuah brand terus mengulang pesan yang sama, otak kita mulai menyederhanakan informasi tersebut menjadi sebuah label.
- tango = wafer yang lapisannya banyak
- tango = wafer yang bikin nagih
Tanpa kita sadari, karena tagline ini saat harus memilih di antara puluhan merk wafer di rak toko. Kita cenderung memilih yang sudah punya “label” jelas di kepala kita.
Di sinilah tagline bekerja sebagai “label cepat”. Begitu lihat Tango, otak kita langsung mengingat “Oh, ini yang ratusan lapis!” atau “Oh, ini yang kalau makan satu nggak cukup!”. Keputusan membeli jadi lebih cepat karena tagline sudah membantu kita “memutuskan” apa yang harus kita rasakan tentang produk tersebut.
Kenapa tagline bisa menempel diingatan
Ada satu hal yang menarik kalau kita bahas Tango durability atau daya tahan pesannya. Bayangkan, anak-anak kelahiran tahun 2000-an awal sampai anak Gen Z zaman sekarang, kalau ditanya ‘Berapa lapis?’, rata-rata jawabannya sama. Ini jarang banget terjadi di dunia marketing yang trennya ganti-ganti terus.
Rahasianya ada di teknik Audio Branding. Tango nggak cuma ngasih kita teks, tapi mereka ngasih kita ‘nada’. Pernah denger istilah earworm? Itu kondisi di mana ada lagu atau suara yang terus-terusan muter di kepala kita. Tagline Tango itu earworm yang sempurna. Tanpa perlu kita setel lagunya, otak kita sudah punya file audio-nya sendiri. Inilah level tertinggi dari sebuah tagline ketika dia bukan lagi sekadar iklan, tapi sudah jadi bagian dari bahasa sehari-hari.
- Efek earworm, Tagline itu bukan cuma soal tulisan, tapi soal suara. Tango sukses karena mereka punya jingle atau nada bicara yang khas banget pas ngucapin tagline-nya.
- Audio Branding, Tagline Tango itu punya ‘sihir’ suara. Coba deh baca tulisan Berapa lapis? pasti di pikiranmu nadanya naik di ujung, kan? Itu namanya audio branding. Mereka nggak cuma nangkep mata kita lewat warna merah di bungkusnya, tapi juga nangkep telinga kita lewat nada yang ikonik.
Perang Tagline: Bagaimana Tango Menghadapi Kompetitor?
Kompetitor lain mungkin bilang mereka “paling cokelat” atau “paling murah”. Tapi Tango tetap menang di banyak lini karena mereka tidak mencoba menjadi segalanya.
Strategi mereka adalah “Defensive Branding”. Dengan memegang tagline “Ratusan Lapis”, mereka seolah-olah sudah “memesan” posisi wafer berlapis di otak konsumen. Kalau ada merk lain yang bilang mereka berlapis juga, konsumen bakal mikir, “Ah, itu mah niru Tango.” Inilah hebatnya kalau kamu sudah jadi yang pertama menanamkan satu konsep di otak orang banyak.
Kenapa tagline bisa bikin loyal?
Tagline Itu “Lem” yang Bikin Kita Loyal pernah nggak kamu beli merk lain yang lagi promo, tapi pas dimakan kamu malah bilang, “Ah, enakan Tango”?
Singkatnya, tagline itu membangun Rasa Percaya (Trust). Pas sebuah brand berani bikin tagline, mereka sebenarnya lagi pamer “janji”. Kalau janji itu terbukti terus-menerus setiap kali kita beli produknya, di situlah muncul loyalitas. Kita jadi nggak mau judi dengan nyobain merk lain yang belum jelas janjinya.
Tagline itu sebenarnya fondasi dari rasa setia. Pas Tango bilang ‘Satu Mana Cukup’, dan pas kamu makan emang beneran nagih sampai bungkusnya habis sendirian, di situ terjadi magic. Kamu merasa brand ini jujur. Dan di dunia yang penuh tipu-tipu ini, kita pasti bakal balik lagi ke hal yang sudah pasti jujur sama kita, kan? Itulah kenapa tagline yang konsisten bisa mengubah pembeli iseng jadi pelanggan setia seumur hidup.
Alasan Kenapa Tagline Itu “Nyawa” Branding
- Menciptakan Sticky Factor (Biar Nempel!) Otak manusia itu lebih gampang ingat rima atau kalimat pendek yang berulang. Tagline bikin brand tersebut punya tempat khusus di memori jangka pendek kita. Begitu kamu butuh sesuatu, kalimat itu yang pertama kali muncul.
- Membedakan diri dari brand lainnya. Walaupun banyak sekali brand wafer yang berada di pasaran disini Tagline ini menjadi identitas tango yang membuat wafer ini berbeda.
- Menyentuh Sisi Emosional Kita sering merasa kalau belanja itu keputusan logika, padahal seringnya karena perasaan. Tagline yang bagus bisa bikin kita merasa lebih keren, lebih peduli lingkungan, atau lebih bahagia cuma dengan baca kalimatnya.
Belajar dari Tango: Cara Simpel Biar Tagline Kamu Nempel di Otak
Belajar dari Tango, ada beberapa “bumbu rahasia” yang bisa kita pakai kalau suatu saat kamu mau bikin brand sendiri
- Gunakan Rima atau Irama: Tagline yang enak didengar (earworm) bakal lebih gampang masuk ke memori jangka panjang. Tango menggunakan rima yang pas dan intonasi yang konsisten di setiap iklannya.
- Gunakan Kekuatan Hiperbola yang TerukurKata “Ratusan” itu lebay? Iya. Tapi apakah efektif? Banget. Dalam komunikasi, terkadang kita butuh sedikit dramatisasi supaya pesan kita bisa menembus bisingnya informasi di dunia luar. Hiperbola yang bagus bukan berarti bohong, tapi melebihkan “sensasi” untuk menciptakan imajinasi. Saat dengar “Ratusan Lapis”, otak kita nggak menghitung angka 1, 2, 3… tapi otak kita langsung membayangkan tekstur yang sangat renyah.
- Fokus pada Satu “Titik Serang” Kesalahan banyak orang saat bikin branding adalah pengen dianggap segalanya. Pengen dibilang paling murah, paling enak, paling sehat, sekaligus paling keren. Akhirnya? Pesannya jadi kabur. Dari awal tango cuma fokus pada satu atribut: Lapisan. Mereka nggak jualan “wafer dengan cokelat dari Afrika” atau “wafer harga merakyat”. Mereka cuma bilang “Ratusan Lapis”.
- Konsistensi, Banyak pemilik brand yang cepat bosan. Baru pakai tagline satu bulan, diganti karena merasa “nggak ada perubahan”. Padahal, konsumen butuh waktu buat merekam itu di ingatan mereka.Tango menjaga tagline “Ratusan Lapis” selama bertahun-tahun. Mereka konsisten dengan nada suara yang sama, visual yang serupa, sampai akhirnya tagline itu bukan lagi milik Tango, tapi jadi milik masyarakat (jadi bahasa gaul).
Kesimpulan: Akhir dari Perjalanan Selembar Wafer
Setelah kita bedah panjang lebar mulai dari trik psikologi “jebakan retoris”, cara membedakan diri dari kompetitor, hingga alasan kenapa tagline dianggap sebagai “nyawa” dari sebuah branding, kita sampai pada satu titik kesimpulan: Tagline adalah jembatan yang mengubah barang dagangan menjadi sebuah kenangan.
Belajar dari kasus Tango, kita diingatkan bahwa branding yang sukses bukan soal siapa yang punya budget iklan paling besar atau siapa yang paling sering muncul di papan reklame. Branding yang berhasil adalah tentang siapa yang paling konsisten dengan janjinya. Ketika Tango bilang “Ratusan Lapis” atau “Satu Mana Cukup”
Peran tagline dalam membangun persepsi produk itu nyata banget. Dia adalah instrumen yang
- Menyederhanakan Dunia bagi Konsumen: Membantu kita membuat keputusan cepat di tengah ribuan pilihan yang membingungkan di supermarket.
- Menciptakan Standar Baru: Membuat kita percaya bahwa wafer yang “benar” adalah wafer yang punya sensasi renyah berlapis-lapis.
- Membangun Koneksi Emosional: Mengubah transaksi jual-beli yang dingin menjadi sebuah rasa akrab, seolah-olah brand tersebut adalah “teman lama” yang sudah kita kenal
Sebuah kalimat yang pas tidak hanya akan membuat produkmu diingat, tapi juga akan memberikan “nyawa” yang membuatnya tetap hidup di hati orang lain, bahkan ketika iklannya sudah lama berhenti ditayangkan.