Pada era digital ini sebagian besar masyarakat cenderung mencari informasi pada media digital karena dianggap lebih cepat. Dalam menawarkan Jasa maupun produk pemilik usaha tentu akan menggunakan platform digital untuk menarik audiens. Seringkali konten promosi akan timbul tanpa dicari, hal itu kadang sedikit mengganggu bagi yang tidak tertarik dengan penawaran pada iklan tersebut. Dengan begitu gaya bahasa visual yang tepat dapat membantu menarik perhatian audiens. M Syahril Iskandar dalam bukunya ‘Rayuan Maut Retorika Visual‘ menjelaskan bahwa gaya bahasa visual juga berfungsi sebagai penambah cita rasa, artinya dapat meningkatkan minat audiens untuk memperhatikan karya visual yang dibuat
Mendapatkan perhatian audiens berarti iklan tersebut berhasil karena tersampaikan dengan baik. Ketika sebuah iklan berhasil mendapatkan perhatian audiens, informasi pada iklan akan diingat oleh audiens walaupun audiens tidak berusaha mengingatnya. Dalam pemasaran digital gaya bahasa visual menjadi alat strategis untuk menarik perhatian di tengah arus informasi yang padat. Visual yang konsisten dan memiliki ciri khas dalam identitasnya membantu audiens mengenali merek hanya dalam hitungan detik, bahkan sebelum mereka membaca pesan tertulis. Oleh karena itu, gaya visual bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kejelasan pesan dan relevansi dengan kehidupan khalayak audiens.
Bahasa Visual tidak memerlukan kata-kata, seperti namanya bahasa visual menggunakan indra penglihatan untuk menyampaikan informasi. Terbentuk dari berbagai elemen visual seperti warna, ilustrasi, fotografi, komposisi, garis, simbol, icon, dan masih banyak lagi. Dengan bahasa visual audiens dengan bahasa yang berbeda akan mengerti karena penggambaran suatu hal dalam visual akan sama dengan bentuk nyatanya dan hal itu tentu dimengerti oleh manusia dari penjuru dunia manapun.
Lebih jauh lagi, bahasa visual juga berperan dalam membangun hubungan emosional antara merek dan audiens. Pilihan visual yang hangat, dinamis, minimalis, atau eksperimental dapat memunculkan persepsi tertentu, seperti profesional, ramah, inovatif, atau eksklusif. Ketika gaya visual selaras dengan nilai dan tujuan brand, konten digital akan terasa lebih autentik dan mampu meningkatkan kepercayaan audiens terhadap merek.
Selain itu penyampaian pesan melalui visual dapat lebih menarik karena terdapat ekspresi di dalamnya yang terbentuk dari elemen visual yang bereskpresi. Ekspresi pada elemen visual akan membuat perbedaab prioritas informasi sehingga menonjolkan bagian infromasi yang lebih penting. Bahasa visual tidak hanya bekerja pada level estetika, tetapi juga pada aspek psikologis dan emosional audiens. Warna tertentu dapat memicu perasaan tertentu, komposisi visual dapat menciptakan kesan stabil atau dinamis, sementara simbol dan ilustrasi dapat memunculkan makna yang lebih dalam dari sekadar tampilan permukaan. Visual yang mampu membangkitkan rasa empati, keinginan, atau rasa percaya akan lebih berpotensi mendorong interaksi, baik berupa like, share, komentar, maupun keputusan pembelian.
Gaya Bahasa Visual
Dalam merancang konten promosi digital menggunakan bahasa visual, kita perlu mengetahui berbagai macam gaya bahasa visual. Dalam buku ‘Rayuan Maut Retorika Visual’ M Syahril Iskandar menjelaskan berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung di dalam sebuah kata, frase atau klausa, gaya penyajian dapat dipilih berdasarkan empat bagian, yaitu: Figure of Contrast, Figure of Resemblance, Figure of Contiguity, dan Figure of Gradation. Yuk kita simak penjelasannya.
Figure of Contrast (Gaya Pertentangan)
Figure of Contrast merupakan gaya bahasa visual yang menekankan perbedaan atau pertentangan antara dua elemen visual. Pertentangan ini bisa muncul melalui warna, ukuran, bentuk, suasana, atau makna yang saling berlawanan. Tujuan utamanya adalah menarik perhatian audiens dan menegaskan pesan yang ingin disampaikan.
Dalam pemasaran digital, gaya ini sering digunakan untuk menunjukkan keunggulan produk, seperti perbandingan sebelum dan sesudah, kontras antara masalah dan solusi, atau perbedaan antara produk lama dan inovasi baru. Kontras visual membantu audiens memahami pesan dengan cepat karena perbedaan yang ditampilkan bersifat mencolok dan mudah diingat.
Figure of Resemblance (Gaya Kesamaan)
Figure of Resemblance memanfaatkan kesamaan atau kemiripan antara satu objek dengan objek lain untuk menyampaikan makna tertentu. Gaya ini bekerja melalui asosiasi visual, di mana audiens diajak menghubungkan karakteristik suatu objek dengan makna yang sudah mereka kenal sebelumnya.
Dalam praktik pemasaran digital, gaya ini sering muncul dalam bentuk metafora visual. Misalnya, produk digambarkan menyerupai benda lain yang memiliki sifat tertentu, seperti kekuatan, kecepatan, atau keandalan. Dengan menampilkan keserupaan visual, pesan pemasaran menjadi lebih mudah dipahami karena audiens tidak perlu penjelasan panjang untuk menangkap maknanya.
Figure of Contiguity (Gaya Hubungan)
Figure of Contiguity adalah gaya bahasa visual yang membangun makna melalui kedekatan atau hubungan antar elemen visual. Makna tidak muncul dari kemiripan, melainkan dari keterkaitan konteks antara objek-objek yang ditampilkan secara bersamaan.
Dalam pemasaran digital, gaya ini sering digunakan dengan cara menempatkan produk berdampingan dengan situasi, gaya hidup, atau simbol tertentu. Kedekatan visual tersebut menciptakan asosiasi di benak audiens, misalnya produk diasosiasikan dengan kenyamanan, prestise, atau kebahagiaan. Dengan demikian, nilai produk tidak hanya ditampilkan secara langsung, tetapi dibangun melalui konteks visual yang menyertainya.
Figure of Gradation (Gaya Gradasi)
Figure of Gradation menampilkan perubahan atau perkembangan secara bertahap dalam visual. Perubahan ini bisa berupa peningkatan ukuran, intensitas warna, jumlah, atau kondisi tertentu. Gaya ini menekankan proses, pertumbuhan, atau transformasi.
Dalam pemasaran digital, Figure of Gradation sering digunakan untuk menggambarkan manfaat jangka panjang, proses penggunaan produk, atau hasil yang dicapai secara berkelanjutan. Dengan visual yang bertahap, audiens diajak memahami bahwa perubahan positif tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang logis dan meyakinkan.
Penerapan Gaya Bahasa Visual dalam Konten Promosi Digital
Memahami berbagai gaya bahasa visual tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa penerapan yang tepat dalam perancangan konten promosi digital. Setiap gaya memiliki kekuatan dan fungsi yang berbeda, sehingga pemilihan gaya bahasa visual harus disesuaikan dengan tujuan komunikasi, karakter audiens, serta identitas merek yang ingin dibangun.
Dalam praktiknya, pemilik usaha dan kreator konten perlu mempertimbangkan platform digital yang digunakan. Konten visual pada media sosial seperti Instagram, TikTok, atau YouTube memiliki karakter yang berbeda dengan konten visual pada website atau iklan banner digital. Melihat keadaan di era yang terus berkembang ini semakin banyak perubahan gaya hidup dan semkain banyak pula tren yang muncul di setiap platform digital. Oleh karena itu, gaya bahasa visual yang digunakan harus mampu beradaptasi dengan durasi atensi audiens yang singkat, sekaligus tetap menyampaikan pesan utama secara jelas dan efektif. Kreator konten promosi digital perlu selalu mengingat fungsi dari gaya bahasa visual yaitu:
Fungsi Gaya Bahasa Visual
- Menarik Perhatian Audiens
Di tengah banyaknya konten digital, gaya bahasa visual membantu sebuah iklan atau konten terlihat lebih menonjol. Perpaduan warna, bentuk, dan komposisi yang tepat dapat membuat audiens berhenti sejenak dan memperhatikan konten yang muncul di layar mereka. - Mempermudah Penyampaian Pesan
Visual mampu menyampaikan pesan dengan cepat tanpa perlu banyak teks. Audiens dapat langsung memahami inti informasi hanya dengan melihat gambar atau ilustrasi yang ditampilkan. - Membantu Pesan Lebih Mudah Diingat
Konten visual yang unik dan memiliki ciri khas cenderung lebih mudah diingat. Tanpa disadari, audiens dapat mengingat pesan atau merek hanya dari gaya visual yang sering mereka lihat. - Membangun Identitas dan Karakter Merek
Gaya bahasa visual yang konsisten membantu membentuk identitas merek. Audiens dapat mengenali sebuah merek melalui warna, gaya ilustrasi, atau tampilan visual tertentu, bahkan sebelum membaca nama mereknya. - Membangun Hubungan Emosional
Visual dapat memunculkan perasaan tertentu, seperti nyaman, senang, percaya, atau tertarik. Ketika emosi audiens tersentuh, hubungan antara merek dan audiens akan terasa lebih dekat. - Menonjolkan Informasi yang Paling Penting
Melalui pengaturan ukuran, warna, dan fokus visual, gaya bahasa visual membantu menentukan informasi mana yang perlu lebih diperhatikan oleh audiens. Hal ini membuat pesan utama tidak tertutup oleh informasi lain. - Menyatukan Pesan dengan Kehidupan Audiens
Visual yang relevan dengan keseharian audiens akan terasa lebih dekat dan mudah diterima. Audiens merasa bahwa pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan atau pengalaman mereka.
Tantangan dan Etika dalam Penggunaan Bahasa Visual
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar dalam penggunaan bahasa visual adalah bagaimana tetap menarik tanpa menyesatkan audiens. Visual yang terlalu provokatif atau manipulatif memang dapat menarik perhatian, tetapi berisiko merusak kepercayaan audiens apabila pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan kenyataan produk atau jasa yang ditawarkan.
Oleh karena itu, etika dalam penggunaan bahasa visual menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Visual harus mampu merepresentasikan produk secara jujur dan bertanggung jawab. Kesesuaian antara visual, pesan, dan pengalaman nyata audiens akan menciptakan hubungan jangka panjang yang sehat antara merek dan konsumennya.
Kesimpulan
Di tengah pesatnya perkembangan media digital, bahasa visual menjadi elemen penting dalam menyampaikan pesan promosi secara efektif. Visual yang dirancang dengan tepat mampu menarik perhatian audiens, menyampaikan informasi dengan cepat, serta meninggalkan kesan yang lebih lama dibandingkan pesan verbal semata. Oleh karena itu, penggunaan gaya bahasa visual bukan hanya soal membuat tampilan yang menarik, tetapi juga tentang bagaimana pesan dapat dipahami dan dirasakan oleh audiens.
Berbagai gaya bahasa visual seperti Figure of Contrast, Figure of Resemblance, Figure of Contiguity, dan Figure of Gradation membantu kreator dan pelaku usaha menyusun pesan visual yang lebih terarah dan bermakna. Setiap gaya memiliki peran masing-masing dalam menonjolkan pesan, membangun asosiasi, hingga menggambarkan proses atau perubahan secara visual.
Dengan penerapan bahasa visual yang konsisten, relevan, dan sesuai dengan karakter audiens, konten promosi digital dapat terasa lebih hidup dan mudah diingat. Pada akhirnya, bahasa visual tidak hanya membantu menarik perhatian di tengah padatnya informasi digital, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat antara merek dan audiens secara alami dan berkelanjutan.
Referensi:
Buku Rayuan Maut Retorika Visual karya M Syahril Iskandar