Penerapan Digital Marketing untuk Memperluas Pasar Kue Tradisional Awug Permai

8–11 minutes

Kue Awug adalah jenis makanan, lebih tepat nya adallah salah satu jenis dari Kue Basah. Awug ini memiliki komposisi dari bahan makanan yang terdiri dari adonan Tepung Beras Ketan, Kelapa Parut, dan Gula Merah dan dibungkus dengan daun pisang. Tetapi banyak orang yang memiliki kreativitas yang bagus, seperti melakukan improvement. Contoh nya seperti penambahan beberapa topping yang menjadi tambahan penyedap dari Awug ini. Meskipun banyak improvisasi yang dilakukan oleh orang orang, Awug Permai ini masih menyediakan penganan khusus ini dengan menjaga ke-arifan lokal khas dari Awug. Bukan berarti tidak ingin melakukan improvisasi, tetapi agar semua orang bisa tetap merasakan Awug khas yang tradisional ini.

Alasan saya memilih Awug Permai sebagai tema dari artikel saya adalah Awug ini memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh makanan tradisional lainnya. Seperti wangi nya yang khas akan Gula Merah yang matang, proses pembuatannya yang dilakukan manual, cara menjaga suhu Awug nya hingga ke cara penyajiannya yang tidak biasa. Potensi bagi makanan Awug untuk di pasar sekarang mungkin akan sedikit memerlukan effort lebih, karena selain makanannya yang tradisional, yang mengenal Awug adalah masyarakat yang dengan rentang umur 25 ke-atas. Bukan berarti Awug ini tidak memiliki chance/kesempatan untuk masuk ke pasar modern sekarang. Meskipun yang menjual Awug ini tidak terlalu banyak terutama di daerah Bandung dan sekitarnya, tapi jika ada 1 saja yang menjual diberbagai mungkin bisa membuat target pemasaran (anak muda – remaja) bisa merasakannya. Mungkin jika di zaman sekarang, untuk kategori makanan dan minuman itu perlu kepercayaan yang bisa tumbuh sehingga seseorang bisa menjadi pelanggan tetap. Dikarena kan Awug ini memiliki rasa yang cukup bisa diterima di semua kalangan (terutama saya), jadi saya yakin jika Awug ini memang pantas memiliki pasar nya tersendiri diantara jejeran pasar makanan tradisional lainnya.

Dikarenakan jika pemasaran seperti hanya pada tawaran dari orang ke orang mungkin akan terasa kurang efektif untuk dizaman sekarang yang keseharian sudah di barengi dengan digital. Dengan adanya digital, setiap orang pasti memiliki informasi yang luas dari internet. Marak nya orang yang menggunakan internet ini bisa menjadi chance bagi saya untuk melakukan pemasaran secara online/digital juga. Pada awal nya saya juga kurang yakin akan proses kerja tersebut, karena setahu dan seingat saya, pemasaran dengan cara digital bisa berlaku manjur hanya ketika barang yang diiklan kan/dipasarkan adalah barang yang sudah terpercaya oleh kebanyakan orang. Tapi dengan melihat banyaknya orang yang melakukan pemasaran secara digital, salah satunya adalah iklan dari Makroni Cikruh, itu bisa membuat saya merasa terbawa percaya diri, dan berfikir, ” Ternyata pemasaran makanan juga bisa dengan iklan yaa”. Mulai dari situ saya juga mulai mencari dan menulusuri bagaimana layaknya produk makanan jika diiklan kan secara digital. Mulai dari iklan langsung, muncul nya di aplikasi order pick-up (seperti Shoppe Food, Go Food, dll), penyewaan Content Creator untuk membeli dan mengajak para penonton untuk merasakan makanan nya.

Awug Permai ini menjadi fondasi utama untuk jenis makanan tradisional lainnya. Selain ada Awug yang menjadi jenis utamanya, dan beberapa jenis kue basah lainnya. Seperti Kelepon, Putu Mayang, Adas, Getuk, dan masih banyak lagi. Awal mula untuk melakukan pemasaran secara digital adalah kami membuat sarana akun untuk tempat bagi kami melakukan promosi, seperti akun Instagram dan Tiktok. Lalu dibarengi dengan mengisi-ngisi nya dengan beberapa postingan terkait produk, meski jumlah followers-nya belum mencapai angka yang banyak, tapi ini bisa menjadi chance untuk bisa memasarkannya ke target yang lebih luas. Konten yang dibuat pun tidak terlalu rumit konsep nya, hanya dengan memperlihatkan produk nya bagaimana, pembuatannya bagaimana, treatment/perlakuan terhadap pelanggannya seperti apa, keunikan dari kue kue basah lainnya apa sajaa, lokasi dan jam pembukaan/penutupannya kapan, dan masih banyak lagi.

Di tengah gempuran kuliner modern dan tren makanan adopsi luar negeri seperti croissant, bento, hingga berbagai varian dessert box, eksistensi makanan tradisional seperti kue awug menghadapi tantangan yang cukup besar. Kue tradisional yang kaya akan filosofi dan cita rasa khas kelapa berpadu gula merah ini sering kali dipersepsikan sebagai “makanan jadul” yang hanya diminati oleh generasi tua. Oleh karena itu, Awug Permai tidak bisa lagi hanya bergantung pada metode pemasaran konvensional atau sekadar menunggu keajaiban dari metode word-of-mouth secara luring. Untuk menjembatani kesenjangan generasi dan memperkenalkan kembali kelezatan autentik ini kepada Generasi Z dan Milenial, penerapan strategi digital marketing bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan sebuah kebutuhan mutlak yang mendesak.

Melalui digital marketing, Awug Permai memiliki kesempatan untuk mendobrak batas geografis dan sosial yang selama ini membatasi pasar kuliner tradisional. Pemasaran digital memungkinkan kita untuk mengemas cerita di balik pembuatan kue awug menjadi sebuah konten visual yang estetik, interaktif, dan memiliki daya tarik universal. Dengan memanfaatkan platform digital, pelaku usaha dapat membangun kedekatan emosional (emotional branding) dengan audiens, menjelaskan higienitas proses pembuatan, hingga menonjolkan kualitas bahan baku premium yang digunakan. Pendekatan inilah yang akan mengubah persepsi masyarakat dari yang tadinya menganggap awug sebagai jajanan pasar murah biasa, menjadi sebuah kuliner tradisional legendaris yang eksklusif dan wajib dicoba.

Implementasi Strategi Content Marketing di Media Sosial

Langkah awal yang paling krusial dalam digital marketing Awug Permai adalah optimalisasi content marketing melalui media sosial visual seperti Instagram dan TikTok. Mengingat industri kuliner sangat bergantung pada daya tarik pandangan pertama (visual appetite), pembuatan konten foto produk yang profesional dengan pencahayaan yang baik (high-quality food photography) adalah kunci utama. Konten tidak boleh hanya menampilkan produk jadi, melainkan harus bervariasi. Kita bisa memproduksi video pendek berkonsep Behind The Scenes (BTS) yang memperlihatkan kepulan asap hangat saat kue awug baru saja diangkat dari kukusan bambu kerucutnya (aseupan). Keindahan visual saat gula merah meleleh di antara butiran tepung beras dan parutan kelapa akan menciptakan efek mouth-watering yang sangat efektif memicu keinginan membeli (impulsive buying) dari netizen.

Selain konten visual produk, strategi storytelling atau penceritaan juga harus disisipkan dalam setiap caption maupun video. Awug Permai dapat mengangkat edukasi budaya yang ringan, seperti sejarah kue awug dalam tradisi masyarakat Sunda, atau tips menyajikan kue awug hangat sebagai teman minum kopi dan teh di sore hari. Guna memperluas jangkauan secara organik, penggunaan tagar (hashtags) yang relevan dan berbasis lokasi—seperti #KulinerBandung, #JajananPasarModern, atau #AwugAnakMuda—harus diterapkan secara konsisten. Tidak lupa, fitur interaktif seperti Instagram Stories (melalui polls, quizzes, dan question box) harus diaktifkan setiap hari untuk membangun komunikasi dua arah dengan konsumen, sehingga mereka merasa dilibatkan dalam perkembangan bisnis Awug Permai.

Pemanfaatan Fitur Penjualan Digital dan Periklanan Berbayar

Membangun kesadaran merek (awareness) lewat konten harian tentu harus diimbangi dengan kemudahan akses pembelian (conversion). Oleh karena itu, Awug Permai mengintegrasikan profil media sosialnya dengan platform order pick-up dan pengiriman instan seperti ShopeeFood, GoFood, dan GrabFood. Di dalam bio Instagram, disematkan satu link terintegrasi (misalnya menggunakan Linktree) yang langsung mengarahkan calon pelanggan ke halaman pemesanan digital tersebut atau ke WhatsApp Admin. Strategi ini memastikan bahwa rasa penasaran yang muncul setelah audiens melihat konten video kita dapat langsung terpuaskan dengan proses pemesanan yang instan tanpa hambatan teknis yang berbelit-belit.

Untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis dalam waktu singkat, Awug Permai juga merencanakan pemanfaatan periklanan digital berbayar melalui Instagram Ads dan TikTok Ads. Melalui fitur targeted advertising ini, iklan dapat diatur secara spesifik agar hanya muncul pada gawai (gadget) pengguna media sosial yang berada dalam radius 5 hingga 10 kilometer dari lokasi usaha, serta menyasar mereka yang memiliki ketertarikan (interest) tinggi pada bidang kuliner dan jajanan lokal. Dengan anggaran yang terukur, strategi periklanan ini memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pemasaran digital akan bekerja secara efektif, tepat sasaran, langsung mengenai calon konsumen potensial, dan pada akhirnya mampu mendongkrak volume penjualan Awug Permai secara signifikan.

Berdasarkan gambar image_bc98c4.png yang kamu berikan, tulisanmu saat ini berada di angka 1.216 kata dengan waktu baca 6 menit. Berarti kurang sekitar 500–600 kata lagi agar aman menyentuh angka minimal 8 menit.

Berikut adalah tambahan dua bagian penutup (Sebelum Penutup & Penutup) yang sengaja dibuat panjang, mendalam, dan sudah memasukkan kutipan dari ketiga jurnal yang tadi. Silakan salin semua paragraf di bawah ini:

Tantangan Pelestarian Nilai Tradisional dalam Kemasan Modern

Menerapkan strategi pemasaran digital pada produk kuliner tradisional seperti Awug Permai tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan nyata di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai autentik kebudayaan lokal sembari mengadopsi tren modernisasi digital yang bergerak sangat dinamis. Menurut Septiani dan Hermawan (2022) dalam penelitiannya mengenai strategi pertahanan kuliner tradisional Sunda di era modernisasi, eksistensi makanan tradisional sangat rentan tergerus jika pelaku usaha tidak mampu melakukan adaptasi tanpa menghilangkan identitas aslinya. Oleh karena itu, Awug Permai berkomitmen untuk tetap mempertahankan resep warisan leluhur dan metode pengukusan tradisional menggunakan aseupan bambu, karena elemen historis inilah yang menjadi nilai jual utama (unique selling point) yang tidak dimiliki oleh kuliner modern.

Selain masalah pelestarian budaya, aspek fisik dari produk itu sendiri juga memerlukan perhatian khusus ketika dipasarkan secara digital. Kue awug yang berbasis parutan kelapa dan tepung beras memiliki karakteristik mudah basi jika tidak ditangani dengan benar. Hal ini membatasi daya jangkau pengiriman yang dilakukan melalui ojek daring. Menjawab permasalahan tersebut, Handayani (2021) dalam penelitiannya menyarankan bahwa inovasi pengemasan dan diversifikasi rasa merupakan kunci penting agar makanan tradisional berbahan dasar tepung beras dan kelapa dapat memiliki nilai jual yang lebih tinggi sekaligus memperpanjang daya simpan produk. Awug Permai mengimplementasikan teori ini dengan mengembangkan kemasan food-grade kedap udara yang estetik serta mengeksplorasi variasi rasa modern tanpa menghilangkan esensi rasa originalnya. Langkah inovasi ini krusial untuk memastikan kepuasan konsumen digital yang menuntut kepraktisan dan kualitas produk yang tetap prima saat tiba di tangan mereka.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan Awug Permai

Secara keseluruhan, perjalanan mengembangkan usaha Awug Permai melalui program INBISKOM ini membuktikan bahwa digitalisasi bukanlah ancaman bagi kuliner tradisional, melainkan sebuah batu loncatan yang luar biasa. Melalui integrasi manajemen yang matang dan pemanfaatan teknologi yang tepat, makanan khas daerah dapat bersaing di panggung industri kuliner modern yang kompetitif. Sejalan dengan temuan Nugraha dan Lestari (2023), pemanfaatan media sosial seperti Instagram terbukti efektif sebagai sarana komunikasi pemasaran digital bagi pelaku UMKM kuliner tradisional, terutama dalam membangun kedekatan visual yang otentik dan interaktif dengan generasi muda yang melek teknologi. Digital marketing telah membantu Awug Permai keluar dari citra “jajanan pasar kuno” menjadi sebuah brand kuliner lokal yang dipandang premium, higienis, dan relevan dengan gaya hidup masa kini.

Sebagai penutup, keberhasilan Awug Permai di masa depan akan sangat bergantung pada konsistensi dalam menjaga kualitas rasa, kreativitas dalam memproduksi konten digital, serta kelincahan dalam membaca pergerakan tren pasar. Diharapkan, artikel ini tidak hanya menjadi refleksi akademis atas pemenuhan tugas mata kuliah Kewirausahaan saja, melainkan dapat menjadi referensi nyata bagi pelaku UMKM kuliner tradisional lainnya di Indonesia untuk berani melangkah ke ranah digital. Dengan semangat melestarikan warisan kuliner Nusantara yang dipadukan dengan strategi pemasaran digital yang progresif, Awug Permai optimis dapat terus berkembang, memperluas lapangan pekerjaan, dan memastikan bahwa kelezatan kue awug hangat akan tetap dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang.

Referensi:

  1. Handayani, T. (2021). Inovasi Pengemasan dan Diversifikasi Rasa pada Makanan Tradisional Berbahan Dasar Tepung Beras dan Kelapa. Jurnal Teknologi Pangan Lokal, 7(3), 201-210.
  2. Nugraha, R., & Lestari, S. (2023). Pemanfatan Media Sosial Instagram sebagai Sarana Komunikasi Pemasaran Digital bagi Pelaku UMKM Kuliner Tradisional. Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 11(1), 45-58.
  3. Septiani, A., & Hermawan, W. (2022). Strategi Pertahanan Kuliner Tradisional Sunda di Era Modernisasi. Jurnal Kajian Budaya dan Sosio-Humaniora, 4(2), 115-125.

10123018 Risyad Damar Zaki