Pemanfaatan Media Sosial TikTok sebagai Strategi Digital Marketing pada Generasi Z

6–10 minutes

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan menjalankan aktivitas ekonomi. Media sosial yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan pertemanan kini berkembang menjadi ruang strategis dalam membangun citra, menyampaikan pesan, dan memengaruhi perilaku masyarakat. Dalam konteks ini, media sosial memegang peranan penting dalam dunia pemasaran modern atau yang dikenal dengan digital marketing.

Salah satu platform media sosial yang mengalami pertumbuhan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah TikTok. Aplikasi berbasis video pendek ini tidak hanya digemari karena sifatnya yang menghibur, tetapi juga karena kemampuannya dalam membentuk tren, opini, dan bahkan keputusan pembelian penggunanya. Di Indonesia, TikTok menjadi platform yang sangat populer di kalangan Generasi Z, yaitu generasi yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi digital.

Popularitas TikTok di kalangan Generasi Z menjadikan platform ini sebagai media yang strategis untuk diterapkan dalam digital marketing. TikTok tidak lagi sekadar menjadi tempat hiburan, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang komunikasi pemasaran yang efektif, interaktif, dan relevan dengan gaya hidup generasi muda. Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana TikTok dimanfaatkan sebagai strategi digital marketing pada Generasi Z, mulai dari karakteristik audiens, strategi komunikasi, hingga dampaknya terhadap perilaku konsumen.


Generasi Z sebagai Audiens Digital Marketing

Generasi Z merupakan kelompok generasi yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012. Mereka dikenal sebagai generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan internet, media sosial, dan perangkat digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengalami transisi dari teknologi analog ke digital, Generasi Z tumbuh langsung dalam lingkungan digital yang serba cepat dan terhubung.

Dalam mengonsumsi informasi, Generasi Z cenderung menyukai konten yang singkat, visual, dan mudah dipahami. Mereka terbiasa melakukan scrolling cepat dan memilih konten yang mampu menarik perhatian dalam hitungan detik. Oleh karena itu, pesan pemasaran yang panjang dan kaku sering kali kurang efektif bagi generasi ini.

Selain itu, Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kritis dan selektif. Mereka tidak mudah percaya pada iklan konvensional yang bersifat satu arah. Keaslian, transparansi, dan relevansi menjadi faktor utama dalam menentukan apakah suatu pesan pemasaran layak dipercaya atau tidak. Generasi Z juga lebih menghargai brand yang mampu berkomunikasi secara setara dan tidak terkesan menggurui.

Karakteristik ini menuntut pelaku digital marketing untuk mengubah pendekatan komunikasi pemasaran. Strategi pemasaran tidak lagi berfokus pada promosi semata, tetapi juga pada pembangunan hubungan dan kepercayaan dengan audiens.


TikTok sebagai Media Sosial Berbasis Budaya Populer

TikTok hadir dengan konsep video pendek yang dikombinasikan dengan musik, efek visual, dan fitur interaktif. Platform ini mendorong penggunanya untuk aktif menciptakan konten, bukan hanya sebagai penonton pasif. Budaya partisipatif ini menjadikan TikTok sebagai ruang ekspresi yang sangat diminati oleh Generasi Z.

Salah satu keunggulan utama TikTok terletak pada algoritmanya. Melalui fitur For You Page (FYP), TikTok mampu menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan perilaku pengguna. Hal ini memungkinkan konten dari akun dengan jumlah pengikut sedikit sekalipun untuk menjangkau audiens yang luas.

Dalam konteks digital marketing, algoritma ini memberikan peluang besar bagi brand untuk meningkatkan visibilitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Selama konten yang disajikan relevan dan menarik, peluang untuk menjangkau audiens tetap terbuka.

TikTok juga berperan dalam membentuk budaya populer digital. Tren tarian, gaya bahasa, hingga format konten sering kali bermula dari TikTok sebelum menyebar ke platform lain. Kondisi ini menjadikan TikTok sebagai ruang strategis dalam membangun kesadaran merek (brand awareness).


Konsep Digital Marketing di Era Media Sosial

Digital marketing merupakan aktivitas pemasaran yang memanfaatkan media digital dan internet untuk menjangkau konsumen. Dalam praktiknya, digital marketing tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga pada proses membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.

Media sosial menjadi salah satu kanal utama dalam digital marketing karena memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah. Konsumen tidak hanya menerima pesan, tetapi juga dapat memberikan respons, kritik, dan bahkan ikut menyebarkan pesan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki peran aktif dalam proses komunikasi pemasaran.

Dalam konteks TikTok, digital marketing tidak lagi disampaikan secara eksplisit. Pesan pemasaran sering kali diselipkan dalam konten yang bersifat menghibur, edukatif, atau inspiratif. Pendekatan ini membuat pesan terasa lebih alami dan tidak mengganggu pengalaman pengguna.


Strategi Digital Marketing melalui TikTok pada Generasi Z

1. Konten Autentik dan Relatable

Konten yang autentik menjadi kunci utama dalam pemasaran di TikTok. Generasi Z cenderung menyukai konten yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konten yang terlalu formal dan penuh pencitraan justru sering kali dihindari.

Brand dapat menampilkan proses di balik layar, cerita sederhana, atau pengalaman nyata yang relevan dengan audiens. Pendekatan ini membuat brand terlihat lebih manusiawi dan mudah didekati.

2. Storytelling dalam Format Video Pendek

Meskipun berdurasi singkat, TikTok tetap memungkinkan brand untuk menyampaikan cerita. Storytelling menjadi strategi yang efektif untuk membangun emosi dan kedekatan dengan audiens. Cerita yang sederhana namun bermakna dapat meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan promosi langsung.

Storytelling juga membantu brand dalam menyampaikan nilai dan identitasnya secara tidak langsung. Hal ini penting bagi Generasi Z yang cenderung tertarik pada brand yang memiliki makna dan tujuan.

3. Pemanfaatan Influencer dan Content Creator

Influencer marketing menjadi salah satu strategi yang efektif di TikTok. Influencer dianggap sebagai figur yang lebih dekat dengan audiens dan memiliki pengalaman nyata dalam menggunakan suatu produk.

Kolaborasi dengan influencer memungkinkan brand menyampaikan pesan pemasaran secara lebih personal. Namun, pemilihan influencer perlu disesuaikan dengan karakter dan nilai brand agar pesan yang disampaikan tetap kredibel.

4. Interaksi dan Keterlibatan Audiens

TikTok menyediakan berbagai fitur interaktif seperti komentar, duet, stitch, dan live streaming. Fitur-fitur ini dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dua arah dengan audiens.

Interaksi yang aktif menunjukkan bahwa brand tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga peduli terhadap audiensnya. Bagi Generasi Z, keterlibatan ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

5. Pemanfaatan Tren secara Selektif

Tren menjadi bagian penting dari ekosistem TikTok. Mengikuti tren dapat meningkatkan jangkauan konten, tetapi perlu dilakukan secara selektif. Brand harus memastikan bahwa tren yang diikuti tetap sesuai dengan identitas dan nilai yang ingin dibangun.


TikTok dan Perilaku Konsumen Generasi Z

TikTok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen Generasi Z. Banyak pengguna yang mengenal produk atau layanan baru melalui konten TikTok sebelum mencari informasi lebih lanjut. Konten berupa ulasan singkat, pengalaman pribadi, dan rekomendasi sering kali menjadi rujukan utama.

TikTok juga berperan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap suatu brand. Konten yang konsisten dan positif dapat meningkatkan kepercayaan, sedangkan konten yang tidak relevan dapat berdampak sebaliknya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan opini dan sikap konsumen.


TikTok sebagai Sarana Pembentukan Brand Awareness dan Brand Image

Brand awareness merupakan tahap awal dalam proses pemasaran. TikTok memungkinkan brand dikenal secara luas melalui konten yang kreatif dan mudah dibagikan. Konten yang viral dapat meningkatkan eksposur brand dalam waktu singkat.

Selain itu, TikTok juga berperan dalam membentuk brand image. Cara brand berkomunikasi, merespons audiens, dan mengikuti tren akan membentuk persepsi publik terhadap brand tersebut. Bagi Generasi Z, brand yang aktif dan komunikatif di TikTok sering kali dianggap lebih relevan dan modern.

Tantangan Pemanfaatan TikTok sebagai Strategi Digital Marketing pada Generasi Z

Meskipun TikTok menawarkan peluang besar sebagai media digital marketing, pemanfaatannya tidak terlepas dari berbagai tantangan. Tantangan ini perlu dipahami agar strategi yang diterapkan tidak hanya bersifat ikut tren, tetapi juga berkelanjutan dan efektif dalam jangka panjang.

1. Perubahan Tren yang Sangat Cepat

Salah satu tantangan utama dalam menggunakan TikTok adalah dinamika tren yang bergerak sangat cepat. Tren konten, musik, gaya penyampaian, hingga format video dapat berubah dalam hitungan hari, bahkan jam. Kondisi ini menuntut brand untuk selalu sigap dan adaptif dalam merespons perubahan.

Bagi pelaku digital marketing, perubahan tren yang cepat dapat menjadi dilema. Di satu sisi, mengikuti tren dapat meningkatkan visibilitas konten. Namun di sisi lain, terlalu sering mengikuti tren tanpa perencanaan yang matang dapat membuat identitas brand menjadi tidak konsisten dan sulit dikenali oleh audiens.

2. Tingginya Persaingan Konten

TikTok merupakan platform dengan jumlah konten yang sangat besar dan terus bertambah setiap hari. Setiap pengguna, termasuk brand, bersaing untuk mendapatkan perhatian audiens dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini menjadikan persaingan konten di TikTok sangat ketat.

Brand dituntut untuk mampu menciptakan konten yang unik, kreatif, dan relevan agar tidak tenggelam di antara konten lainnya. Konten yang monoton atau terlalu mirip dengan konten lain berisiko diabaikan oleh pengguna, khususnya Generasi Z yang cepat merasa bosan.

3. Menjaga Keseimbangan antara Promosi dan Hiburan

Generasi Z cenderung tidak menyukai konten yang terlalu bersifat promosi atau hard selling. Tantangan bagi brand adalah bagaimana menyampaikan pesan pemasaran tanpa menghilangkan unsur hiburan yang menjadi ciri khas TikTok.

Jika konten terlalu fokus pada penjualan, audiens dapat merasa terganggu dan memilih untuk melewati konten tersebut. Sebaliknya, jika konten terlalu menghibur tanpa pesan yang jelas, tujuan pemasaran bisa menjadi kurang tercapai. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan yang tepat antara nilai hiburan dan pesan promosi.

4. Konsistensi Identitas dan Pesan Brand

Dalam upaya mengikuti tren dan menciptakan konten yang menarik, brand sering kali dihadapkan pada tantangan menjaga konsistensi identitas dan pesan. TikTok yang sangat fleksibel dapat menggoda brand untuk mencoba berbagai gaya komunikasi yang berbeda-beda.

Namun, jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat membuat brand kehilangan ciri khasnya. Konsistensi dalam gaya bahasa, nilai, dan pesan menjadi penting agar audiens tetap dapat mengenali brand di tengah derasnya arus konten.

Fitria Nuraini
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

Referensi

Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68.

Nasrullah, R. (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.