Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satu teknologi yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah Artificial Intelligence (AI). AI kini tidak hanya dimanfaatkan dalam industri dan bisnis, tetapi juga mulai berperan aktif dalam dunia pendidikan sebagai media pembelajaran yang inovatif. Dalam konteks pembelajaran bahasa asing, AI menawarkan pendekatan baru yang lebih fleksibel dan personal. Mahasiswa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kelas sebagai satu-satunya tempat belajar, melainkan dapat memanfaatkan teknologi untuk berlatih secara mandiri. Bagi mahasiswa Sastra Jepang, kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Pembelajaran bahasa Jepang menuntut penguasaan berbagai aspek, mulai dari kosakata, tata bahasa, hingga kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Kemampuan lisan (speaking) dan tulisan (writing) sering kali menjadi kendala utama bagi mahasiswa Sastra Jepang. Keterbatasan waktu praktik di kelas dan rasa kurang percaya diri membuat proses pembelajaran tidak selalu berjalan optimal. Oleh karena itu, kehadiran AI sebagai media pembelajaran alternatif menjadi relevan untuk dikaji lebih lanjut. Artikel ini membahas pemanfaatan AI sebagai media pembelajaran bahasa Jepang, khususnya dalam meningkatkan kemampuan lisan dan tulisan mahasiswa Sastra Jepang, serta mengulas tantangan dan peran dosen di era teknologi.
AI sebagai Media Pembelajaran Bahasa Jepang
Artificial Intelligence dalam pendidikan dapat didefinisikan sebagai teknologi yang dirancang untuk membantu proses belajar melalui analisis data, pemberian umpan balik otomatis, serta simulasi interaksi yang menyerupai manusia. Dalam pembelajaran bahasa Jepang, AI sering dimanfaatkan dalam bentuk aplikasi penerjemah, chatbot percakapan, hingga alat koreksi tulisan.
AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses pembelajaran konvensional, melainkan sebagai pendamping belajar. Artikel dari AICI (2025) menjelaskan bahwa AI dapat membantu pelajar bahasa dengan menyediakan latihan yang bersifat personal dan adaptif sesuai kebutuhan masing-masing pengguna. Dengan adanya AI, mahasiswa dapat mengulang materi yang sulit dipahami tanpa merasa tertekan oleh waktu atau penilaian.
Situs KursusBahasaJepang.co.id (2025) juga menekankan bahwa integrasi AI dalam pembelajaran bahasa memberikan fleksibilitas bagi pembelajar untuk berlatih secara mandiri di luar jam kelas. Hal ini sangat membantu mahasiswa Sastra Jepang yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk memahami struktur bahasa dan konteks penggunaannya.
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran Lisan (Speaking)
Kemampuan berbicara merupakan aspek penting dalam penguasaan bahasa Jepang. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang merasa kesulitan untuk mempraktikkan kemampuan lisan secara konsisten. Faktor seperti keterbatasan pasangan bicara dan rasa takut melakukan kesalahan sering menjadi penghambat utama. AI menawarkan solusi melalui fitur simulasi percakapan dan speech recognition. Dengan bantuan AI, mahasiswa dapat berlatih dialog sederhana hingga kompleks tanpa harus merasa canggung. Fitur text-to-speech memungkinkan mahasiswa mendengarkan pelafalan yang lebih mendekati penutur asli, sehingga membantu meningkatkan akurasi pengucapan.
Penelitian Halibanon (2025) menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Jepang mampu meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa. Mahasiswa cenderung lebih berani mencoba berbagai pola kalimat saat berlatih dengan AI sebelum menggunakannya dalam komunikasi nyata. Selain itu, Shinohara (2024) dari Japan Foundation menyatakan bahwa AI dapat menjadi media latihan awal yang efektif dalam pembelajaran lisan, terutama dalam melatih pelafalan dan intonasi. Dengan demikian, AI dapat dipandang sebagai ruang latihan yang aman bagi mahasiswa Sastra Jepang, di mana kesalahan diposisikan sebagai bagian dari proses belajar.
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran Tulisan (Writing)
Selain berbicara, keterampilan menulis atau sakubun merupakan bagian integral dalam pembelajaran bahasa Jepang. Menulis dalam bahasa Jepang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai struktur kalimat, penggunaan partikel, serta konteks budaya.
AI sering dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses menulis, terutama untuk memberikan koreksi awal terhadap kesalahan tata bahasa dan pilihan kosakata. AICI (2025) menyebutkan bahwa AI dapat membantu pelajar mengidentifikasi kesalahan dasar dalam tulisan mereka, sehingga mahasiswa dapat melakukan perbaikan sebelum menyerahkan tugas kepada dosen.
Rustanti (2025) juga mengungkapkan bahwa AI banyak digunakan oleh pembelajar bahasa Jepang untuk mendukung latihan menulis secara mandiri. Namun, penelitian tersebut menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa. Dengan kata lain, AI berfungsi sebagai pendukung dalam tahap awal penulisan, sementara pemahaman konsep tetap menjadi tanggung jawab pembelajar.
AI dan Kemandirian Belajar Mahasiswa
Salah satu dampak paling signifikan dari pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pembelajaran bahasa Jepang adalah meningkatnya kemandirian belajar mahasiswa. Kehadiran AI memungkinkan mahasiswa untuk tidak selalu bergantung pada dosen dalam tahap awal proses belajar, terutama ketika menghadapi kesulitan dalam memahami materi.
Dengan bantuan AI, mahasiswa dapat secara mandiri mencari penjelasan tambahan, mencoba berbagai contoh kalimat, serta mengulang latihan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dalam pembelajaran bahasa Jepang, hal ini sangat membantu karena setiap mahasiswa memiliki kecepatan belajar dan tingkat pemahaman yang berbeda. AI memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara personal tanpa tekanan, sehingga proses belajar menjadi lebih nyaman dan adaptif.
Halibanon (2025) menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Jepang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengelola proses belajar mereka sendiri. Mahasiswa tidak hanya menunggu penjelasan dari dosen, tetapi juga berinisiatif mengeksplorasi materi melalui teknologi. Kemandirian belajar ini tercermin dari kebiasaan mahasiswa yang menggunakan AI untuk berlatih percakapan, memperbaiki tulisan, serta memahami struktur kalimat sebelum sesi pembelajaran di kelas.
Namun, kemandirian belajar yang didukung oleh AI tidak berarti mahasiswa dapat sepenuhnya mengandalkan teknologi. Justru, AI menuntut mahasiswa untuk memiliki kesadaran akademik dan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa perlu mengevaluasi hasil yang diberikan oleh AI, memahami alasan di balik koreksi yang muncul, serta menyesuaikannya dengan konteks pembelajaran bahasa Jepang yang sesungguhnya. Tanpa sikap kritis, penggunaan AI berpotensi mengurangi proses berpikir dan pemahaman mendalam.
Dalam konteks Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-AI), kemandirian belajar yang didukung oleh AI dapat dipandang sebagai bentuk adaptasi mahasiswa terhadap perkembangan teknologi pendidikan. AI menjadi sarana untuk melatih tanggung jawab belajar, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga pengelola proses belajar mereka sendiri. Dengan bimbingan dosen yang tepat, pemanfaatan AI dapat membentuk pola belajar yang mandiri, reflektif, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan bahasa secara berkelanjutan.
Dengan demikian, AI tidak hanya berperan sebagai alat bantu teknis, tetapi juga sebagai pemicu tumbuhnya kemandirian belajar mahasiswa Sastra Jepang, selama digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Tren Penggunaan AI di Kalangan Pembelajar Bahasa Jepang
Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, penggunaan Artificial Intelligence dalam pembelajaran bahasa Jepang menunjukkan tren yang semakin meningkat, khususnya di kalangan pembelajar muda dan mahasiswa. AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi yang kompleks dan sulit diakses, melainkan sebagai alat bantu belajar yang praktis dan mudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Rustanti (2025) mencatat bahwa teknologi AI seperti ChatGPT dan Google Translate merupakan dua platform yang paling sering dimanfaatkan oleh pembelajar bahasa Jepang. AI digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memahami arti kosakata, menyusun kalimat, hingga berlatih percakapan sederhana. Menariknya, penggunaan AI lebih sering dilakukan secara mandiri di luar jam kelas, bukan sebagai bagian utama dari kegiatan pembelajaran formal.
Durasi penggunaan AI umumnya relatif singkat, namun dilakukan secara rutin. Mahasiswa memanfaatkan AI ketika menemui kesulitan tertentu, seperti saat memahami struktur kalimat yang kompleks atau ketika ingin memastikan kebenaran terjemahan. Pola ini menunjukkan bahwa AI berfungsi sebagai pendamping belajar yang membantu mahasiswa mengatasi hambatan kecil dalam proses belajar, tanpa menggantikan peran pembelajaran di kelas.
Selain itu, tren penggunaan AI juga mencerminkan perubahan pola belajar mahasiswa Sastra Jepang yang semakin mandiri dan adaptif terhadap teknologi. Mahasiswa cenderung mengombinasikan pembelajaran konvensional dengan teknologi digital untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal. AI digunakan sebagai sarana eksplorasi awal sebelum materi didiskusikan lebih lanjut bersama dosen atau teman sekelas.
Meskipun demikian, penggunaan AI yang semakin meluas juga menuntut adanya kesadaran akan batasan teknologi. Mahasiswa perlu memahami bahwa AI tidak selalu memberikan jawaban yang sepenuhnya tepat, terutama dalam konteks bahasa dan budaya Jepang yang memiliki banyak nuansa. Oleh karena itu, tren penggunaan AI perlu diimbangi dengan kemampuan evaluasi dan literasi digital agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara efektif dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, tren penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Jepang menunjukkan bahwa teknologi ini telah menjadi bagian dari kebiasaan belajar mahasiswa. AI tidak hanya membantu proses belajar menjadi lebih efisien, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dan mandiri dalam mengembangkan kemampuan bahasa mereka.
Tantangan dan Batasan Penggunaan AI
Meskipun menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Jepang juga memiliki sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah potensi ketergantungan berlebihan terhadap teknologi. Mahasiswa berisiko menerima hasil dari AI tanpa melakukan evaluasi kritis.
Selain itu, AI belum sepenuhnya mampu memahami nuansa budaya dan konteks sosial dalam bahasa Jepang. Kesalahan terjemahan atau penggunaan bahasa yang kurang alami masih dapat terjadi. Oleh karena itu, literasi digital menjadi faktor penting agar mahasiswa dapat memanfaatkan AI secara bijak. AICI (2025) menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir dan latihan langsung.
Peran Dosen dan Mahasiswa di Era AI
Di era digital, peran dosen tetap menjadi elemen penting dalam pembelajaran bahasa. Dosen berfungsi sebagai fasilitator, evaluator, dan pembimbing yang membantu mahasiswa memahami konteks bahasa dan budaya Jepang secara lebih mendalam.
Shinohara (2024) menegaskan bahwa kolaborasi antara teknologi dan manusia merupakan kunci keberhasilan pembelajaran bahasa di era AI. Mahasiswa dituntut untuk menjadi pengguna teknologi yang bijak, sementara dosen berperan dalam mengarahkan pemanfaatan AI agar tetap selaras dengan tujuan akademik.
Jadi kesimpulannya adalah Pemanfaatan Artificial Intelligence sebagai media pembelajaran memberikan peluang besar bagi mahasiswa Sastra Jepang untuk meningkatkan kemampuan lisan dan tulisan. AI menyediakan ruang latihan yang fleksibel, interaktif, dan mendukung kemandirian belajar mahasiswa. Namun, penggunaan AI perlu diimbangi dengan pemahaman, etika, dan bimbingan yang tepat agar tidak menimbulkan ketergantungan.
Dengan kolaborasi antara teknologi, dosen, dan mahasiswa, AI dapat menjadi media pembelajaran yang efektif dan relevan dalam mendukung pembelajaran bahasa Jepang di era digital.
Erina Risma Fauzilah
Mahasiswa Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia
Referensi
Halibanon, D. S. (2025). Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Bahasa Jepang: Dampaknya terhadap Kemandirian Belajar Mahasiswa. Jurnal Sastra.
Rustanti, N. (2025). Pola dan Tren Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Bahasa Jepang. IJoEd (International Journal of Education).
Shinohara, A. (2024). Use of Artificial Intelligence in Japanese Language Education. Japan Foundation Jakarta.
AICI. (2025). Belajar Bahasa dengan AI: Manfaat dan Tantangan.
https://aici-umg.com/article/belajar-bahasa-dengan-ai/
KursusBahasaJepang.co.id. (2025). Integrasi AI dalam Pembelajaran Bahasa.
https://www.kursusbahasajepang.co.id/2025/04/integrasi-ai-dalam-pembelajaran-bahasa.html