Blog

  • Menghubungkan Titik Cermin: Mengapa Komunikasi adalah Bahan Bakar Utama Inovasi Bisnis di Era Digital

    Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana sebuah tren bisnis tiba-tiba meledak di media sosial, lalu dalam hitungan minggu produknya sudah langsung tersedia di rak-rak toko terdekat? Atau bagaimana sebuah *startup* teknologi yang awalnya hanya digawangi oleh beberapa orang di garasi rumah, tiba-tiba bisa mendapatkan pendanaan miliaran rupiah dalam waktu singkat? Di balik semua fenomena kilat tersebut, ada dua pilar utama yang bekerja saling mendukung tanpa henti: Inovasi Bisnis dan Komunikasi. Dua pilar inilah yang menjadi jantung dari program INBISKOM (Inovasi Bisnis dan Komunikasi), sebuah ekosistem yang dirancang untuk melahirkan para penggerak ekonomi baru di era digital.

    Banyak orang mengira bahwa inovasi bisnis melulu soal menciptakan teknologi rumit yang membingungkan atau menemukan formula produk yang belum pernah ada sebelumnya di bumi. Padahal, inovasi terbaik sering kali lahir dari cara kita melihat masalah lama dengan cara baru, lalu mengomunikasikannya dengan tepat kepada orang yang tepat. Tanpa komunikasi yang efektif, inovasi secanggih apa pun akan berakhir usang di dalam laci meja kerja atau sekadar menjadi draf dokumen yang berdebu. Kolaborasi antara inovasi bisnis dan strategi komunikasi inilah yang menciptakan dampak luar biasa, mengubah gagasan abstrak menjadi realitas yang menguntungkan.

    Dunia bisnis hari ini tidak lagi bergerak secara linier, melainkan secara eksponensial. Jika dulu sebuah perusahaan bisa bertahan dengan produk yang sama selama puluhan tahun tanpa takut gulung tikar, hari ini ceritanya sudah jauh berbeda. Inovasi bukan sekadar penemuan baru, melainkan keberhasilan dalam mengomersialkan penemuan tersebut ke pasar agar memiliki nilai guna. Dalam konteks modern, inovasi bisa menyentuh banyak aspek, mulai dari perubahan wujud produk, efisiensi proses internal melalui teknologi, hingga pergeseran model bisnis seperti tren langganan bulanan yang marak belakangan ini. Namun, memikirkan ide-ide inovatif tersebut barulah langkah awal yang sangat kecil. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membuat ekosistem di sekitar kita—mulai dari tim internal, investor, hingga konsumen—paham dan mau menerima ide tersebut secara sukarela.

    Di sinilah peran krusial komunikasi masuk sebagai jembatan penyeberangan di atas “lembah kematian” inovasi. Dalam manajemen bisnis, fase kritis ini sering kali menggagalkan ide-ide brilian bukan karena produknya jelek, melainkan karena kurangnya dukungan atau penolakan dari pasar akibat ketidakpahaman. Ketika seorang inovator gagal menyampaikan proposisi nilai dari idenya dengan bahasa yang membumi dan mudah dipahami, audiens akan cenderung menolak. Manusia secara alami takut pada ketidakpastian dan hal-hal baru yang belum familiar. Tugas seorang komunikator bisnis adalah mengikis skeptisisme tersebut menjadi rasa ingin tahu yang besar, lalu mengubahnya menjadi keyakinan yang kuat untuk mencoba.

    Hari ini kita hidup di era di mana informasi sangat melimpah, bahkan cenderung berlebihan. Konsumen dibombardir oleh ribuan iklan, notifikasi, dan pesan setiap harinya melalui ponsel mereka. Jika strategi komunikasi bisnis kita masih menggunakan pola lama yang kaku, searah, dan terlalu formal, pesan kita pasti akan langsung tenggelam dalam kebisingan digital tersebut. Melalui pendekatan INBISKOM, strategi komunikasi modern wajib memanfaatkan kekuatan cerita atau *storytelling*. Manusia tidak membeli produk hanya karena fitur-fiturnya yang canggih; mereka membeli cerita di balik mengapa produk itu dibuat. Ketika komunikasi menyentuh sisi emosional dan empati—misalnya bagaimana sebuah inovasi dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan atau mempermudah pekerjaan sehari-hari—ikatan yang tercipta dengan konsumen akan jauh lebih kuat dan organik.

    Selain cerita, kemampuan mengemas pesan ke dalam bentuk visual dan multimedia juga menjadi keterampilan yang sangat mahal harganya. Di platform digital, perhatian audiens sangat pendek, sering kali hanya hitungan detik sebelum mereka menggeser layar ke konten berikutnya. Tulisan yang panjang tanpa struktur visual yang baik akan langsung dilewati begitu saja. Oleh karena itu, menyajikan inovasi melalui infografis yang menarik, video pendek yang interaktif, atau dasbor yang mudah dipahami menjadi kunci agar pesan tidak menguap sia-sia. Di tengah maraknya informasi yang simpang siur di internet, nilai tertinggi sebuah bisnis juga terletak pada transparansi. Konsumen masa kini jauh lebih cerdas; mereka sangat menghargai bisnis yang jujur mengenai proses produksi hingga cara menangani keluhan. Komunikasi yang transparan inilah yang menjadi fondasi utama dari loyalitas pelanggan jangka panjang.

    Jika kita melihat contoh nyata di industri global, perusahaan teknologi raksasa selalu berhasil menjual produk barunya dengan harga premium meskipun kompetitor menawarkan spesifikasi teknis yang mirip dengan harga jauh lebih murah. Rahasianya terletak pada bagaimana mereka mengomunikasikan inovasi tersebut. Mereka tidak sekadar membacakan lembar spesifikasi perangkat keras di atas panggung, melainkan menjelaskan bagaimana produk tersebut akan mengubah cara kita bekerja, cara kita mengabadikan momen bersama keluarga, dan cara kita mengekspresikan diri. Mereka menjual pengalaman dan identitas. Di skala lokal, kita bisa melihat bagaimana merek kopi kekinian atau produk fesyen lokal berhasil mencuri perhatian generasi muda dengan memanfaatkan komunikasi non-formal yang karib di media sosial. Mereka mendengarkan masukan konsumen secara langsung lewat kolom komentar, lalu dengan cepat meluncurkan inovasi varian baru berdasarkan percakapan tersebut. Ini adalah siklus berkelanjutan yang sangat sehat.

    Program INBISKOM hadir sebagai jawaban atas kebutuhan industri yang tidak lagi bisa bekerja di dalam kotak disiplin ilmu yang terisolasi. Seorang ahli bisnis tidak boleh buta terhadap ilmu komunikasi, dan seorang komunikator harus memahami bagaimana sebuah bisnis beroperasi serta menghasilkan profit secara berkelanjutan. Ketika kedua ilmu ini dipadukan, seseorang tidak hanya menjadi pekerja yang menjalankan rutinitas, tetapi menjelma menjadi pemecah masalah dan pencipta tren yang mampu melihat peluang pasar yang belum tergarap. Masa depan bisnis bukan milik mereka yang paling kuat, melainkan milik mereka yang paling adaptif terhadap perubahan dan paling piawai dalam membangun kolaborasi melalui komunikasi yang efektif. Inovasi bisnis adalah mesinnya, sedangkan komunikasi adalah bahan bakarnya; keduanya harus berjalan beriringan untuk membangun ekosistem digital Indonesia yang maju, sehat, dan berdampak positif bagi masyarakat luas.

    Referensi

     * Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). *Marketing Management* (15th ed.). Pearson Education.

     * Rogers, E. M. (2003). *Diffusion of Innovations* (5th ed.). Free Press.

     * Schumpeter, J. A. (1934). *The Theory of Economic Development: An Inquiry into Profits, Capital, Credit, Interest, and the Business Cycle*. Harvard University Press.

  • Terjebak Rutinitas Kampus? Ini Alasan Mengapa Kita Butuh “Sobat Bantoe” di Tengah Kesibukan Dipatiukur

    Oleh: Fadhil Ghoufar

    NIM: 21224168

    Universitas Komputer Indonesia

    1. Lanskap Urban Dipatiukur: Dinamika Produktivitas dan Friksi Harian Mahasiswa

    Kawasan Dipatiukur, Bandung, merupakan episentrum pendidikan yang sangat dinamis. Setiap hari, ribuan elemen akademik—mahasiswa, dosen, hingga staf administrasi—beraktivitas dalam ritme yang menuntut produktivitas tinggi. Di tengah padatnya jadwal kuliah, praktikum laboratorium, dan agenda organisasi kemahasiswaan, efisiensi waktu telah bergeser dari sekadar kenyamanan menjadi sebuah kebutuhan harian yang krusial.

    Namun, di balik masifnya tuntutan tersebut, muncul berbagai friksi mikro yang sering kali mengganggu kelancaran aktivitas. Situasi mendesak seperti dokumen tugas yang tertinggal di kamar kos, kebutuhan mendadak akan alat tulis kantor (ATK) spesifik saat kelas akan dimulai, atau antrean panjang penggandaan materi kuliah di koperasi merupakan persoalan nyata yang kerap menyita waktu.

    Bagi mahasiswa perantau, tantangan logistik juga muncul saat harus melakukan pindahan kamar kos di area permukiman padat seperti Sekeloa atau Tubagus Ismail. Keterbatasan waktu, tenaga, dan armada angkut sering kali membuat urusan domestik ini menjadi beban tambahan yang melelahkan. Celah masalah inilah yang melahirkan kebutuhan akan layanan asisten harian terintegrasi yang adaptif terhadap karakteristik ruang dan mobilitas masyarakat kampus.

    2. Paradoks Platform Nasional: Hambatan “Last-Inch” di Area Internal Kampus

    Dalam menghadapi kendala logistik harian, masyarakat urban umumnya mengandalkan platform transportasi daring (ojek online) berskala nasional. Meskipun platform raksasa tersebut telah merevolusi sistem pengantaran perkotaan, mereka menghadapi keterbatasan fundamental saat harus menyelesaikan masalah pada radius beberapa puluh meter terakhir di lingkungan kampus (the last-inch delivery problem).

    Hambatan utama yang sering ditemui adalah protokol keamanan internal gedung. Kampus modern menerapkan aturan ketat demi menjaga ketertiban proses pembelajaran. Kurir dari luar umumnya dilarang melewati area lobi utama atau memasuki ruang perkuliahan. Akibatnya, konsumen harus meluangkan waktu untuk turun dari lantai atas gedung hanya untuk mengambil barang bawaan.

    Selain itu, skema tarif batas bawah pada aplikasi konvensional membuat pengemudi luar cenderung enggan mengambil pesanan jarak dekat (hiperlokal) yang harus menembus gang-gang sempit permukiman kos. Fitur aplikasi nasional juga didesain kaku untuk pengantaran linier dan tidak memfasilitasi penugasan yang membutuhkan kustomisasi tinggi, seperti meminta kurir mengantre fotokopi dan menjilid tugas terlebih dahulu. Celah operasional inilah yang coba diselesaikan secara taktis oleh Sobat Bantoe.

    3. Validasi Empiris: Mengukur Potensi Pasar Berdasarkan Data Lapangan

    Guna menguji validitas dari ide bisnis ini, sebuah survei pendahuluan telah dilakukan terhadap 35 responden di kawasan Dipatiukur. Kelompok responden ini merepresentasikan target pasar potensial, mulai dari mahasiswa aktif dari berbagai tingkat, pelaku usaha mikro, hingga penghuni rumah kos.

    Data kuantitatif yang berhasil dihimpun menunjukkan indikasi kebutuhan pasar yang signifikan:

    • Sebanyak 88,6% responden menyatakan sering membutuhkan jasa titip (jastip) untuk membelikan kebutuhan mikro harian mereka.
    • Sebanyak 80,0% responden mengaku pernah berada dalam situasi darurat yang membutuhkan bantuan pihak lain untuk mengambil dokumen atau perlengkapan kuliah.
    • Sekitar 85,7% responden membenarkan bahwa keterbatasan waktu akibat padatnya jadwal harian menjadi hambatan utama dalam menyelesaikan urusan domestik mereka.
    • Sebanyak 91,4% responden menyatakan ketertarikan kuat untuk menggunakan layanan terpadu Sobat Bantoe jika struktur tarif yang ditawarkan ekonomis dan ramah kantong.
    • Tingkat rekomendasi sosial juga berada pada angka 82,9% responden yang bersedia mengenalkan layanan ini kepada jaringan pertemanan mereka.

    Analisis empiris ini membuktikan bahwa gagasan mengenai asisten harian hiperlokal memiliki basis konsumen yang nyata, konstan, dan responsif di lingkungan kampus.

    4. Anatomi Diferensiasi Sobat Bantoe: Nilai Tambah di Pasar Jasa

    Secara teoritis, industri pelayanan jasa kurir di kawasan lingkar kampus berada dalam struktur Pasar Persaingan Monopolistik. Di tengah banyaknya penyedia jasa serupa, keberlanjutan usaha ditentukan oleh seberapa kuat diferensiasi produk (product differentiation) yang ditawarkan. Sobat Bantoe membangun keunggulan kompetitifnya melalui tiga pilar utama:

    A. Aksesibilitas Ruang Internal (Insider Advantage)

    Seluruh mitra kurir lapangan Sobat Bantoe direkrut dari kalangan mahasiswa aktif internal kampus. Kepemilikan identitas resmi ini memberikan otoritas legal bagi mitra untuk melewati pos keamanan gedung, menggunakan fasilitas lift, hingga mengantarkan dokumen langsung ke depan ruang kelas atau meja dosen. Keunggulan akses ini tidak dapat disediakan oleh platform ojol konvensional.

    B. Kustomisasi Penugasan Mikro

    Sobat Bantoe menerapkan sistem pelayanan yang fleksibel untuk memfasilitasi pesanan yang bersifat personal (hyper-personalized errand). Layanan tidak terbatas pada pengantaran barang statis, melainkan mencakup delegasi tugas yang membutuhkan interaksi langsung, seperti mengurus administrasi perkuliahan ringan atau menyiapkan perlengkapan tugas spesifik sesuai instruksi konsumen.

    C. Integrasi Armada Logistik Menengah

    Diferensiasi usaha ini diperkuat melalui optimalisasi sumber daya internal tim. Dengan mengintegrasikan unit usaha rental mobil yang telah dirintis secara mandiri oleh salah satu anggota kelompok, Sobat Bantoe mampu menyediakan layanan logistik berskala menengah. Layanan ini difokuskan untuk membantu mobilitas barang saat pindahan kos mahasiswa serta pengangkutan perlengkapan kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan paket tarif yang kompetitif.

    5. Tata Kelola Manajerial dan Mitigasi Risiko Terpadu

    Eksekusi program Kewirausahaan (PKM-K) ini ditopang oleh fungsi manajemen modern yang terstruktur. Tim yang beranggotakan 3 orang mahasiswa membagi peran secara proporsional ke dalam divisi operasional, keuangan, dan pemasaran digital. Operasional lapangan mengadopsi model gig economy, di mana jadwal kerja mitra kurir bersifat fleksibel agar tidak mengganggu kewajiban akademik utama mereka.

    Untuk menjaga keberlanjutan operasional, tim juga telah merumuskan draf Analisis Manajemen Risiko Terpadu yang mencakup empat kategori risiko utama:

    1. Risiko Finansial: Mengantisipasi pembatalan sepihak atau kegagalan pembayaran transaksi jastip dengan menerapkan kebijakan batas maksimum talangan serta sistem uang muka (down payment) untuk transaksi di atas nominal tertentu.
    2. Risiko Sumber Daya Manusia: Mengatasi potensi penurunan jumlah mitra aktif saat pekan ujian dengan menyediakan sistem pangkalan data mitra yang gemuk serta merancang skema insentif tambahan (surge pricing) pada jam-jam kritis.
    3. Risiko Operasional: Meminimalkan kesalahan komunikasi atau kerusakan barang di lapangan dengan menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengemasan yang ketat serta mewajibkan konsumen menuliskan instruksi penugasan secara detail melalui format teks pemesanan.
    4. Risiko Pemasaran: Menanggulangi rendahnya kesadaran merek (brand awareness) di awal peluncuran melalui pemberian voucer promosi bagi pengguna pertama serta membangun kemitraan strategis dengan organisasi intra-kampus.

    6. Formulasi Strategi Bauran Pemasaran (Marketing Mix 7P)

    Penetrasi pasar di kawasan lingkar kampus dijalankan secara terukur melalui implementasi kerangka kerja Bauran Pemasaran Jasa 7P:

    • Product (Produk): Jasa kurir hiperlokal dan asisten harian kampus dengan spesifikasi layanan kurir internal, kustomisasi tugas mikro, dan angkutan logistik roda empat menengah.
    • Price (Harga): Menetapkan strategi penetration pricing dengan tarif berbasis zona radius dekat yang berada di bawah batas minimum aplikasi reguler, sehingga sesuai dengan daya beli mahasiswa.
    • Place (Tempat): Pemusatan saluran distribusi logistik secara hiperlokal pada kompleks gedung universitas dan kawasan hunian indekos di sekitarnya.
    • Promotion (Promosi): Mengombinasikan edukasi visual yang interaktif melalui media sosial dengan pendekatan langsung (B2B) ke organisasi kemahasiswaan untuk memposisikan Sobat Bantoe sebagai vendor logistik resmi kegiatan mereka.
    • People (Orang): Menjaga kualitas layanan melalui proses seleksi, pembekalan SOP, dan pelatihan kode etik pelayanan bagi mahasiswa yang bergabung sebagai mitra operasional.
    • Process (Proses): Menyederhanakan alur transaksi dengan memanfaatkan ekosistem pesan instan (WhatsApp) yang dekat dengan keseharian konsumen, sehingga pemesanan dapat dilakukan secara praktis tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
    • Physical Evidence (Bukti Fisik): Diwujudkan melalui penyediaan tanda pengenal resmi bagi mitra lapangan, portofolio digital yang profesional di media sosial, serta penyusunan Buku Dokumentasi Aktivitas Usaha yang akuntabel.

    7. Keberlanjutan Finansial Usaha Jangka Panjang

    Sobat Bantoe didesain sebagai sebuah entitas bisnis yang mandiri dan profitabel setelah melewati fase pendanaan stimulan awal dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-K) Belmawa Kemendikbudristek dan dana pendamping perguruan tinggi. Alokasi modal awal difokuskan secara efisien untuk penyediaan perlengkapan operasional mitra, biaya pemasaran komunitas, dan penunjang administrasi luaran wajib.

    Struktur biaya dirancang secara ramping dengan menekan komponen biaya tetap (fixed cost) melalui pemanfaatan platform digital terbuka. Pengeluaran perusahaan didominasi oleh biaya variabel (variable cost) yang meliputi bagi hasil pendapatan dengan mitra kurir per transaksi (skema 80% untuk mitra dan 20% untuk kas perusahaan) serta biaya operasional bahan bakar armada roda empat. Aliran pendapatan (revenue streams) diperoleh secara konsisten dari margin jasa kurir internal, komisi belanja program jastip yang bermitra dengan UMKM lokal, serta keuntungan bersih dari layanan logistik pindahan kos. Perhitungan awal parameter keuangan menunjukkan indikasi bahwa bisnis ini memiliki tingkat perputaran modal yang sehat karena didukung oleh tingginya volume kebutuhan konstan di kawasan Dipatiukur.

    Kesimpulan: Inovasi Simbiotis di Ekosistem Kampus

    Sobat Bantoe merupakan wujud dari kewirausahaan digital hiperlokal yang jeli dalam memanfaatkan celah pasar di lingkungan sekitar. Melalui keunggulan berupa hak akses internal gedung kampus dan fleksibilitas kustomisasi penugasan mikro, layanan ini hadir sebagai solusi efisiensi waktu yang efektif bagi masyarakat kampus yang sibuk. Di sisi lain, penerapan sistem operasional berbasis gig economy memberikan dampak sosial positif berupa penyediaan lapangan kerja paruh waktu yang adaptif bagi sesama mahasiswa. Dengan tata kelola bauran pemasaran yang tepat serta manajemen risiko yang terukur, Sobat Bantoe memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi model bisnis mandiri yang berkelanjutan.

    Signature:

    Fadhil Ghoufar

    Program Studi Manajemen

    Universitas Komputer Indonesia

    Daftar Pustaka:

    • Bejjani, M., Göcke, L. & Menter, M. 2023, ‘Digital entrepreneurial ecosystems: A systematic literature review’, Technological Forecasting and Social Change, vol. 189, Article 122372.
    • Berman, T., Stuckler, D., Schallmo, D. & Kraus, S. 2024, ‘Drivers and success factors of digital entrepreneurship: A systematic literature review and future research agenda’, Journal of Small Business Management, vol. 62, no. 5, pp. 2453–2481.
    • Calderon-Monge, E. & Ribeiro-Soriano, D. 2024, ‘The role of digitalization in business and management: A systematic literature review’, Review of Managerial Science, vol. 18, pp. 449–491.
    • Felicetti, A.M., Corvello, V. & Ammirato, S. 2024, ‘Digital innovation in entrepreneurial firms: A systematic literature review’, Review of Managerial Science, vol. 18, pp. 315–362.
    • Paul, J., Alhassan, I., Binsaif, N. & Singh, P. 2023, ‘Digital entrepreneurship research: A systematic review’, Journal of Business Research, vol. 156, Article 113507.
  • EcoFuel Nexus: Mengubah Krisis Sampah Plastik Menjadi Solusi Energi Masa Depan Melalui Mesin Pintar

    Pernahkah kita menyadari berapa banyak plastik yang kita gunakan dalam sehari? Mulai dari bungkus kopi di pagi hari, kantong plastik saat jajan di kantin kampus, hingga kemasan paket belanja online yang berlapis-lapis. Semuanya serba praktis, serba instan, tetapi juga serba meninggalkan jejak.

    Sampah plastik saat ini bukan lagi sekadar masalah estetika lingkungan, melainkan sudah menjadi bom waktu bagi ekosistem kita di Indonesia. Tingginya ketergantungan kita pada plastik sekali pakai berbanding lurus dengan gunung sampah yang terus meninggi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lebih menyedihkannya lagi, sistem pengelolaan yang belum optimal membuat jutaan ton plastik ini tumpah ke sungai, menyumbat saluran air yang memicu banjir langganan, hingga akhirnya bermuara dan mencemari lautan kita.

    Di sisi lain, masyarakat kita juga sedang dihadapkan pada realita ekonomi yang tidak kalah pelik: krisis energi. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) rasanya terus merangkak naik dari waktu ke waktu. Kenaikan harga energi ini efek dominonya luar biasa. Biaya transportasi naik, harga bahan pokok ikut melambung, dan pada akhirnya, daya beli masyarakat sehari-hari menjadi sangat tercekik.

    Dua masalah besar ini, krisis lingkungan akibat plastik dan krisis ekonomi akibat harga energi, mungkin terlihat seperti dua hal yang terpisah. Namun, bagaimana jika kita bisa menyelesaikan keduanya dengan satu solusi yang sama? Bagaimana jika sampah yang selama ini menyumbat selokan bisa menjadi bensin yang menggerakkan motor kita?

    Inilah alasan mengapa gagasan EcoFuel Nexus lahir.

    Apa itu EcoFuel Nexus?

    Secara sederhana, EcoFuel Nexus adalah sebuah ekosistem cerdas yang mengawinkan teknologi Reverse Vending Machine (RVM) dengan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif (Plastic-to-Fuel). Tujuannya satu: mewujudkan Circular Economy atau ekonomi sirkular yang digerakkan langsung oleh partisipasi masyarakat.

    Dalam sistem ekonomi tradisional, alurnya adalah: kita memproduksi, memakai, lalu membuang. Selesai. Namun, dalam konsep Circular Economy yang diusung oleh EcoFuel Nexus, rantai tersebut diubah menjadi sebuah lingkaran yang tidak terputus. Sampah yang dibuang tidak berakhir di TPA, melainkan masuk kembali ke dalam sistem untuk diolah menjadi “emas baru” berupa energi alternatif.

    Bagaimana Cara Kerjanya? Membedah Sisi Teknologi

    Untuk membuat masyarakat mau repot-repot memilah sampah, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan imbauan moral. Harus ada sistem reward atau insentif yang nyata dan instan. Di sinilah peran teknologi informasi dan komputasi menjadi sangat krusial.

    Sebagai mahasiswa di bidang Informatika, saya melihat potensi besar untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam mesin pengelolaan sampah. EcoFuel Nexus tidak menggunakan tempat sampah biasa, melainkan Reverse Vending Machine (RVM) alias mesin penjual otomatis terbalik. Jika di mesin vending biasa kita memasukkan uang untuk mendapatkan barang, di RVM ini, kita memasukkan barang (sampah plastik) untuk mendapatkan “uang”.

    Bayangkan Anda membawa sekantong botol plastik bekas ke mesin RVM EcoFuel Nexus yang terpasang di sudut kampus atau fasilitas umum. Mesin ini tidak bodoh, ia dilengkapi dengan teknologi Computer Vision dan sensor AI (Kecerdasan Buatan). Saat botol dimasukkan, kamera di dalam mesin akan memindai dan mengenali jenis plastiknya secara real-time, apakah itu PET (botol air mineral), HDPE (botol sampo), atau jenis lainnya.

    Setelah sistem memvalidasi sampah tersebut, data akan dikirim ke database pusat, dan voila! Saldo digital akan langsung masuk ke aplikasi mobile di smartphone Anda. Melalui integrasi API, saldo poin ini nantinya bisa dikonversi menjadi saldo dompet digital (seperti ShopeePay, GoPay, dll) atau bahkan ditukarkan langsung dengan voucher bahan bakar. Sistem gamifikasi di dalam aplikasi juga akan memperlihatkan leaderboard atau papan peringkat siapa yang paling banyak menyelamatkan bumi hari ini. Sangat menarik, bukan?

    Namun, pengembangan antarmuka (UI/UX) dari aplikasi mobile EcoFuel Nexus ini tidak boleh dirancang sembarangan. Aplikasi harus sangat user-friendly agar bisa digunakan oleh berbagai kalangan usia, mulai dari mahasiswa Gen Z hingga ibu rumah tangga. Di dalam layar utama aplikasi, pengguna tidak hanya melihat nominal saldo, tetapi juga metrik kontribusi lingkungan mereka. Misalnya, indikator visual yang menunjukkan “Anda telah menyelamatkan 15 kg plastik dari lautan bulan ini” atau “Jejak karbon yang berhasil Anda kurangi setara dengan menanam 3 pohon.”

    Visualisasi data semacam ini memberikan kepuasan psikologis tersendiri. Terlebih lagi, sistem gamifikasi bisa diperluas melalui pencapaian (badges). Seseorang yang rutin menukar botol plastik selama sebulan penuh bisa mendapatkan badge “Eco Warrior” yang memberikan multiplier atau penggandaan poin pada bulan berikutnya. Dari sudut pandang rekayasa perangkat lunak (software engineering), pengembangan fitur ini melibatkan pengelolaan database pengguna yang masif secara real-time, menuntut arsitektur backend yang tangguh dan aman. Tidak hanya mengamankan data transaksi penukaran poin, tetapi juga melindungi data pribadi pengguna sesuai standar privasi digital terkini.

    Dari Plastik Menjadi Energi: Keajaiban Pirolisis

    Lalu, ke mana perginya sampah plastik yang sudah terkumpul di RVM tersebut? Di sinilah proses tahap kedua berjalan.

    Plastik-plastik ini akan dikumpulkan dan dikirim ke fasilitas reaktor pengolahan Plastic-to-Fuel. Proses utamanya menggunakan teknologi yang disebut Pirolisis. Jangan bingung dengan istilah ilmiahnya. Secara sederhana, pirolisis adalah proses pemanasan plastik pada suhu yang sangat tinggi (biasanya di atas 400 derajat Celcius) dalam kondisi tanpa oksigen.

    Karena tidak ada oksigen, plastik tersebut tidak akan terbakar menjadi abu, melainkan meleleh dan menguap menjadi gas. Gas inilah yang kemudian didinginkan kembali (dikondensasi) hingga berubah wujud menjadi minyak sintetis cair. Minyak hasil pirolisis ini memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan bahan bakar fosil konvensional seperti bensin atau solar.

    Agar proses ini berjalan efisien, aman, dan futuristik, reaktor EcoFuel Nexus bisa diintegrasikan dengan sensor Internet of Things (IoT). Suhu, tekanan, dan aliran gas di dalam reaktor bisa dipantau dan dikontrol secara presisi melalui dashboard di layar laptop, memastikan minyak yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi dan emisi gas buang yang minimal.

    Pertanyaan strategis selanjutnya adalah: ke mana hasil minyak sintetis dari reaktor pirolisis ini akan didistribusikan? Jika kita berbicara tentang mewujudkan ekonomi sirkular berbasis masyarakat, maka hasil energinya harus dikembalikan untuk memutar roda ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Minyak hasil olahan plastik ini memiliki spesifikasi yang sangat mumpuni untuk menggerakkan mesin-mesin diesel industri skala kecil atau menengah (UMKM).

    Sebagai contoh, komunitas nelayan lokal yang sering mengeluhkan tingginya harga solar, bisa menjadi target pengguna utama bahan bakar ini untuk menggerakkan mesin perahu mereka. Begitu juga dengan para petani yang membutuhkan bahan bakar untuk traktor, atau pelaku UMKM yang menggunakan genset operasional. Dengan memotong biaya rantai pasok logistik bahan bakar fosil, EcoFuel Nexus bisa mendistribusikan minyak sintetis ini dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Rantai distribusi ini pun bisa dikelola langsung melalui fitur marketplace di dalam aplikasi EcoFuel, mempertemukan produsen bahan bakar hasil daur ulang dengan konsumen lokal secara digital tanpa perantara tambahan.

    Dampak Sosial dan Masa Depan yang Berkelanjutan

    Jika gagasan EcoFuel Nexus ini diimplementasikan secara luas, dampaknya akan sangat masif.

    Pertama, dari sisi lingkungan. Kita memotong jalur polusi plastik langsung dari sumbernya, yaitu tangan konsumen. Sungai-sungai akan menjadi lebih bersih, risiko banjir akibat tumpukan sampah plastik akan menurun drastis, dan ekosistem laut bisa bernapas lega.

    Kedua, dari sisi sosial-ekonomi. Masyarakat tidak lagi melihat botol plastik kosong sebagai barang menjijikkan, melainkan sebagai “aset” yang bernilai tukar. Uang hasil menukar sampah bisa digunakan untuk meringankan beban biaya hidup, mulai dari membeli top-up kuota internet hingga menebus token listrik. Dan di ujung prosesnya, ketergantungan kita pada BBM fosil yang harganya fluktuatif bisa perlahan-lahan dikurangi berkat adanya pasokan bahan bakar alternatif dari lingkungan kita sendiri.

    Menghadapi Tantangan Implementasi: Peran Kita Semua

    Tentu saja, gagasan futuristik ini tidak luput dari tantangan operasional. Dari sisi teknologi komputasi, model Machine Learning atau AI pada kamera RVM harus terus dilatih (retraining) dengan ribuan dataset gambar botol plastik yang bentuknya mungkin sudah penyok atau kotor, agar tingkat akurasi klasifikasinya tetap tinggi. Jika mesin salah mengenali jenis sampah, efisiensi reaktor pirolisis di tahap selanjutnya bisa terganggu. Selain itu, ada tantangan dalam pemeliharaan hardware reaktor dan keamanan mesin RVM di ruang publik.

    Di sinilah peran penting kolaborasi lintas disiplin ilmu. Mengembangkan EcoFuel Nexus bukan hanya tugas ahli lingkungan atau ahli kimia. Dibutuhkan mahasiswa dari program studi Informatika untuk merancang algoritma deteksi dan aplikasi mobile, mahasiswa Teknik Mesin untuk membangun reaktor pirolisis yang aman, serta mahasiswa dari ranah sosial-ekonomi untuk merancang skema bisnis dan penyuluhan ke masyarakat.

    Kampus bisa menjadi inkubator pertama yang ideal. Bayangkan jika prototype mesin RVM EcoFuel Nexus ini pertama kali diletakkan di lorong-lorong gedung fakultas atau sekretariat himpunan mahasiswa. Kita bisa menguji keandalan sistemnya dengan menjadikan mahasiswa sebagai basis pengguna pertama. Sosialisasi yang dimulai dari lingkup akademis dan organisasi kemahasiswaan akan menyebar lebih cepat menjadi sebuah tren gaya hidup hijau di tengah kota.

    Kesimpulan

    Pada akhirnya, mengubah kebiasaan masyarakat adalah hal yang paling sulit dalam manajemen lingkungan. Namun, dengan menggabungkan inovasi teknologi (RVM Cerdas), proses kimia terapan (Pirolisis), dan pendekatan ekonomi digital (Insentif Saldo), EcoFuel Nexus hadir sebagai jawaban yang sangat rasional dan berwawasan ke depan.

    Krisis lingkungan dan energi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kanvas kosong bagi kita para inovator muda untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik. Mari bersama-sama mewujudkan Circular Economy, dimulai dari satu botol plastik yang kita selamatkan hari ini.

    Referensi:

    1. Jambeck, J. R., et al. (2015). “Plastic waste inputs from land into the ocean”. Science, 347(6223), 768-771.
      Tautan: https://doi.org/10.1126/science.1260352
    2. Miandad, R., et al. (2016). “Catalytic pyrolysis of plastic waste: A review”. Process Safety and Environmental Protection, 102, 822-838.
      Tautan: https://doi.org/10.1016/j.psep.2016.06.022
    3. Ellen MacArthur Foundation. (2017). The New Plastics Economy: Rethinking the future of plastics & catalysing action.
      Tautan: https://www.ellenmacarthurfoundation.org/the-new-plastics-economy-rethinking-the-future-of-plastics

    Dwi Putra Juniargi
    Program Studi Teknik Informatika
    Universitas Komputer Indonesia

  • Menumbuhkan Semangat Kewirausahaan di Era Digital untuk Generasi Muda

    Di zaman yang serba digital seperti sekarang, perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Hampir semua aktivitas dapat dilakukan secara online, termasuk kegiatan jual beli. Internet dan media sosial bukan lagi sekadar tempat berkomunikasi atau mencari hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun dan mengembangkan usaha. Kondisi ini memberikan peluang yang sangat besar bagi siapa saja, terutama generasi muda, untuk mulai berwirausaha tanpa harus memiliki modal yang besar.

    Kewirausahaan adalah kemampuan seseorang dalam menciptakan dan menjalankan suatu usaha dengan memanfaatkan peluang yang ada. Menjadi seorang wirausahawan bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menghasilkan ide yang kreatif, memberikan manfaat bagi orang lain, serta menciptakan lapangan pekerjaan. Karena itu, kewirausahaan memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Saat ini banyak anak muda yang mulai tertarik untuk berwirausaha. Mereka memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menjual berbagai macam produk, seperti makanan, pakaian, aksesoris, hingga jasa desain dan pembuatan konten digital. Media sosial dan marketplace menjadi tempat yang efektif untuk mempromosikan produk karena dapat menjangkau lebih banyak konsumen dengan biaya yang relatif murah. Hal tersebut membuktikan bahwa memulai usaha tidak selalu membutuhkan toko fisik atau modal yang besar.

    Meskipun terlihat mudah, membangun sebuah usaha tetap memerlukan persiapan yang matang. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jenis usaha yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Seseorang akan lebih mudah mengembangkan bisnis apabila menjalankan usaha yang memang disukai. Selain itu, penting juga untuk mengetahui kebutuhan pasar agar produk atau jasa yang ditawarkan benar-benar diminati oleh konsumen.

    Seorang wirausahawan juga harus memiliki karakter yang baik. Rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, jujur, serta tidak mudah menyerah merupakan sikap yang sangat dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Dunia bisnis tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya penjualan menurun atau muncul berbagai kendala. Namun, seorang pengusaha harus mampu menghadapi kondisi tersebut dengan tetap berpikir positif dan mencari solusi yang terbaik.

    Selain memiliki karakter yang baik, kemampuan untuk berinovasi juga sangat penting. Konsumen biasanya lebih tertarik pada produk yang memiliki keunikan atau memberikan nilai lebih dibandingkan produk lainnya. Oleh karena itu, pelaku usaha harus terus mengembangkan ide-ide baru, baik dari segi kualitas produk, kemasan, pelayanan, maupun strategi pemasaran agar usahanya tetap mampu bersaing.

    Teknologi memberikan banyak kemudahan dalam mengembangkan bisnis. Saat ini promosi dapat dilakukan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, maupun WhatsApp. Selain itu, adanya marketplace membuat proses jual beli menjadi lebih mudah karena transaksi dapat dilakukan secara online. Dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal, pelaku usaha dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan.

    Di sisi lain, kemajuan teknologi juga membuat persaingan usaha menjadi semakin ketat. Banyak orang menawarkan produk yang hampir sama sehingga pelaku usaha harus mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan menjaga kualitas produknya. Kepuasan pelanggan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sebuah usaha. Pelanggan yang puas biasanya akan kembali membeli produk dan merekomendasikannya kepada orang lain.

    Pengelolaan keuangan juga tidak boleh diabaikan. Banyak usaha yang mengalami kesulitan karena pemiliknya tidak mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan baik. Oleh sebab itu, setiap transaksi harus dicatat secara rapi agar kondisi keuangan usaha dapat diketahui. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, pelaku usaha akan lebih mudah mengambil keputusan dalam mengembangkan bisnisnya.

    Seorang wirausahawan juga harus memiliki kemauan untuk terus belajar. Perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat selalu berubah sehingga pelaku usaha perlu mengikuti perubahan tersebut. Mengikuti pelatihan, membaca buku, mencari informasi, dan belajar dari pengalaman merupakan cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam berbisnis.

    Kewirausahaan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Semakin banyak usaha yang berkembang, semakin besar pula kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini dapat membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, berkembangnya usaha juga akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu daerah maupun negara.

    Pada akhirnya, menjadi seorang wirausahawan bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Dengan kemauan belajar, kerja keras, disiplin, dan keberanian menghadapi tantangan, setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun usaha yang berhasil. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang untuk berkarya, menciptakan inovasi, serta menjadi pribadi yang mandiri dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

  • PANCARONA: Sistem Pendukung Keputusan Karier untuk Membantu Fresh Graduate Menghadapi Information Overload

    Perjalanan mahasiswa menuju dunia kerja sering terlihat sederhana dari luar. Setelah lulus, seseorang dianggap hanya perlu mencari lowongan, membuat CV, mengirim lamaran, lalu menunggu panggilan wawancara. Namun, kenyataannya proses tersebut tidak sesederhana itu. Mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate justru sering menghadapi kebingungan besar ketika harus menentukan arah karier. Masalahnya bukan hanya karena kurangnya lowongan pekerjaan, tetapi karena terlalu banyak informasi yang tersebar di berbagai platform tanpa panduan yang jelas.

    Saat ini, pencari kerja dapat membuka LinkedIn, Glints, JobStreet, Kalibrr, Indeed, dan berbagai platform lainnya dalam satu waktu. Setiap platform menawarkan ratusan bahkan ribuan lowongan dengan format, kriteria, dan informasi yang berbeda. Di satu sisi, kondisi ini memberi lebih banyak peluang. Namun, di sisi lain, jumlah informasi yang terlalu besar dapat membuat pencari kerja sulit menentukan pilihan yang benar-benar sesuai dengan minat, kemampuan, dan tujuan kariernya. Fenomena ini dikenal sebagai information overload, yaitu kondisi ketika seseorang menerima terlalu banyak informasi sehingga kemampuan mengambil keputusan menjadi menurun.

    Dalam proposal PKM-KI yang dikembangkan oleh tim kami, permasalahan utama yang diangkat bukan sekadar tingginya angka pengangguran lulusan diploma dan sarjana, tetapi rendahnya kualitas keputusan karier atau job match quality. Berdasarkan data yang digunakan dalam proposal, tingkat pengangguran terbuka lulusan diploma dan sarjana masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Namun, masalah yang lebih dekat dengan pengalaman fresh graduate adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan yang dipilih dengan kompetensi, minat, dan kesiapan individu. Ketidaksesuaian ini dapat menyebabkan panic applying, turnover awal, hingga menurunnya produktivitas kerja.

    Panic applying adalah kondisi ketika pencari kerja melamar banyak pekerjaan secara acak karena merasa cemas, takut tertinggal, atau tidak yakin dengan pilihan kariernya. Alih-alih memilih pekerjaan berdasarkan kecocokan, fresh graduate sering kali hanya mengejar jumlah lamaran yang dikirim. Akibatnya, proses mencari kerja menjadi melelahkan, tidak terarah, dan kurang efektif. Selain itu, ada juga masalah form fatigue, yaitu kelelahan karena harus mengisi data diri, pengalaman, pendidikan, portofolio, dan dokumen pendukung secara berulang di berbagai platform.

    Hasil survei pra-PKM terhadap 120 mahasiswa tingkat akhir di Universitas Komputer Indonesia pada Januari 2026 menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Responden rata-rata mengakses empat sampai enam platform pencarian kerja per minggu, dengan total paparan lebih dari 200 lowongan. Dari kondisi tersebut, 73% responden mengalami decision paralysis, 68% melakukan panic applying, dan 81% mengalami form fatigue. Data ini menunjukkan bahwa masalah pencarian kerja bukan hanya terletak pada kurangnya informasi, tetapi juga pada cara informasi tersebut dikelola, dipahami, dan digunakan untuk mengambil keputusan.

    Bawden dan Robinson (2020) menjelaskan bahwa information overload dapat menurunkan kualitas pengambilan keputusan karena individu kesulitan memfilter informasi yang relevan. Dalam konteks pencarian kerja, hal ini berarti fresh graduate tidak hanya membutuhkan akses terhadap lowongan, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu membantu mereka memahami mana peluang yang paling sesuai. Brown dan Lent (2020) juga menekankan pentingnya career decision self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mengambil keputusan karier. Ketika seseorang tidak yakin dengan dirinya sendiri, banyaknya pilihan justru dapat memperbesar kebingungan.

    Berdasarkan permasalahan tersebut, tim kami mengembangkan PANCARONA sebagai karya inovatif dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif. PANCARONA merupakan aplikasi mobile berbasis Android yang dirancang sebagai career decision support system bagi mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate. Aplikasi ini bertujuan membantu pengguna mengenali potensi diri, memahami kesenjangan keterampilan, menerima rekomendasi pekerjaan yang lebih relevan, serta mengurangi beban kognitif dalam proses pencarian kerja.

    Nama PANCARONA membawa gagasan bahwa perjalanan karier setiap orang memiliki warna dan arah yang berbeda. Tidak semua mahasiswa harus mengejar jalur karier yang sama, bahkan ketika mereka berasal dari program studi yang sama. Ada mahasiswa yang lebih cocok menjadi software engineer, UI/UX designer, data analyst, digital marketer, entrepreneur, product manager, atau bidang lain yang masih berkaitan dengan kemampuan dan minatnya. Karena itu, aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat melihat lowongan, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk membantu pengguna memahami dirinya terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan.

    Konsep utama PANCARONA adalah Reflect-First Model. Artinya, pengguna tidak langsung diberikan daftar lowongan dalam jumlah besar, tetapi diarahkan untuk melakukan refleksi diri terlebih dahulu. Pada tahap awal, pengguna mengisi self-assessment yang mencakup minat, kemampuan, nilai personal, tujuan karier, serta preferensi pekerjaan. Data ini kemudian diproses oleh sistem untuk menghasilkan rekomendasi pekerjaan yang lebih sesuai. Dengan cara ini, proses pencarian kerja tidak lagi dimulai dari pertanyaan “lowongan apa yang tersedia?”, melainkan “pekerjaan seperti apa yang paling sesuai dengan diri saya?”.

    Dari sisi teknologi, PANCARONA mengintegrasikan beberapa pendekatan. Pertama, Hybrid Recommender System digunakan untuk menggabungkan metode content-based filtering dan collaborative filtering. Menurut Burke (2021), sistem rekomendasi hybrid dapat meningkatkan akurasi karena tidak hanya mencocokkan konten berdasarkan profil pengguna, tetapi juga mempertimbangkan pola dari pengguna lain yang memiliki karakteristik serupa. Dalam PANCARONA, pendekatan ini digunakan agar rekomendasi karier tidak bersifat umum, melainkan lebih personal dan adaptif.

    Kedua, PANCARONA menggunakan Analytic Hierarchy Process atau AHP sebagai metode pengambilan keputusan multi-kriteria. Saat memilih pekerjaan, fresh graduate tidak hanya mempertimbangkan satu faktor. Ada banyak kriteria yang perlu dipikirkan, seperti minat, kemampuan, lokasi, gaji, budaya kerja, jenjang karier, dan kebutuhan skill. AHP membantu menyusun prioritas dari berbagai kriteria tersebut secara lebih sistematis. Saaty dan Vargas (2021) menjelaskan bahwa AHP dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan ketika keputusan melibatkan banyak faktor yang perlu dibandingkan.

    Ketiga, PANCARONA menerapkan pendekatan nudge theory. Thaler dan Sunstein (2021) menjelaskan bahwa nudge adalah dorongan halus yang membantu seseorang mengambil keputusan lebih baik tanpa memaksa pilihan tertentu. Dalam aplikasi ini, nudge dapat muncul dalam bentuk peringatan skill gap, rekomendasi pelatihan, penjelasan alasan sebuah pekerjaan direkomendasikan, atau visualisasi kecocokan karier. Dengan cara ini, pengguna tetap bebas memilih pekerjaan, tetapi mendapatkan arahan yang lebih jelas sebelum mengambil keputusan.

    Fitur utama PANCARONA terdiri dari beberapa bagian. Fitur agregasi lowongan membantu mengumpulkan informasi pekerjaan dari berbagai platform ke dalam satu antarmuka. Dengan fitur ini, pengguna tidak perlu berpindah dari satu platform ke platform lain secara terus-menerus. Fitur rekomendasi karier memberikan daftar pekerjaan yang telah diperingkat berdasarkan kecocokan dengan profil pengguna. Fitur skill gap analysis membantu pengguna mengetahui keterampilan apa yang sudah dimiliki dan keterampilan apa yang perlu ditingkatkan. Sementara itu, fitur auto-fill form dirancang untuk mengurangi kelelahan dalam pengisian data lamaran berulang.

    Keunggulan PANCARONA dibandingkan platform pencarian kerja yang sudah ada terletak pada integrasi fiturnya. Platform seperti LinkedIn, Glints, dan Kalibrr memang sudah membantu pencari kerja menemukan lowongan. Namun, sebagian besar masih berfokus pada pencarian berbasis kata kunci. PANCARONA mencoba menawarkan pendekatan yang lebih terarah dengan menggabungkan sistem rekomendasi, pendukung keputusan multi-kriteria, analisis skill gap, dan pendekatan psikologis pengguna. Dengan kata lain, PANCARONA tidak hanya bertanya “pekerjaan apa yang kamu cari?”, tetapi juga membantu menjawab “pekerjaan apa yang paling masuk akal untuk kamu pilih saat ini?”.

    Dalam proses pelaksanaannya, pengembangan PANCARONA dirancang menggunakan pendekatan Scrum yang dikombinasikan dengan Human-Centered Design. Scrum dipilih karena proses pengembangan aplikasi membutuhkan fleksibilitas, terutama ketika terdapat perubahan kebutuhan dari pengguna. Schwaber dan Sutherland (2020) menjelaskan bahwa Scrum memungkinkan tim bekerja secara iteratif melalui siklus pengembangan yang jelas. Sementara itu, Human-Centered Design digunakan agar desain aplikasi tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada kenyamanan dan kebutuhan pengguna.

    Tahapan pengembangan dimulai dari analisis kebutuhan, yaitu mengidentifikasi masalah utama yang dialami mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate dalam proses pencarian kerja. Setelah itu, tim menyusun desain arsitektur sistem, information architecture, basis data, dan antarmuka pengguna. Tahap berikutnya adalah pengembangan aplikasi, integrasi sistem, pengujian, evaluasi, dan deployment. Dalam tim, pembagian tugas dilakukan sesuai peran masing-masing, mulai dari penemuan ide, desain teknis, penyusunan metode, pengembangan produk, pengujian, hingga pemasaran produk.

    Dari sisi teknis, PANCARONA dirancang sebagai aplikasi mobile berbasis Android dengan model client-server. Aplikasi Android berfungsi sebagai client yang menangani interaksi pengguna, sedangkan backend server menangani proses algoritma, pengolahan data, dan manajemen basis data. Teknologi yang dirancang dalam proposal mencakup Flutter untuk pengembangan antarmuka, Firebase untuk autentikasi dan penyimpanan data, Python dan Flask untuk backend, serta scikit-learn untuk mendukung sistem rekomendasi. Kombinasi teknologi ini dipilih karena cukup fleksibel untuk pengembangan aplikasi mobile yang membutuhkan proses data dan rekomendasi.

    Pengujian PANCARONA juga dirancang melalui beberapa parameter. Pertama, pengujian fungsional dilakukan untuk memastikan fitur utama berjalan sesuai kebutuhan. Kedua, pengujian usability menggunakan System Usability Scale atau SUS untuk mengukur kemudahan penggunaan aplikasi. Bangor, Kortum, dan Miller (2020) menjelaskan bahwa SUS dapat digunakan untuk menilai apakah sebuah sistem berada pada tingkat kegunaan yang dapat diterima oleh pengguna. Dalam proposal, target skor SUS PANCARONA ditetapkan minimal 75 agar aplikasi tidak hanya berfungsi, tetapi juga nyaman digunakan.

    Ketiga, efektivitas keputusan diukur menggunakan Career Decision Self-Efficacy Scale atau CDSE. Pengukuran ini penting karena tujuan PANCARONA bukan hanya menampilkan informasi lowongan, tetapi juga meningkatkan keyakinan pengguna dalam mengambil keputusan karier. Keempat, kualitas rekomendasi diuji menggunakan metrik Precision@10, yaitu menghitung proporsi rekomendasi yang relevan dari sepuluh hasil teratas. Dengan pengujian tersebut, PANCARONA diharapkan dapat dinilai bukan hanya dari tampilan, tetapi juga dari dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan.

    Sebagai karya inovatif, PANCARONA memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Pada tahap awal, target pengguna difokuskan pada mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate di Bandung Raya, khususnya mahasiswa UNIKOM. Namun, dalam jangka panjang, sistem ini dapat diperluas untuk mahasiswa dari berbagai kampus, pencari kerja pemula, bahkan pelaku UMKM yang membutuhkan talenta sesuai kebutuhan bisnisnya. Dengan adanya sistem yang membantu mencocokkan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri, proses rekrutmen dapat menjadi lebih efisien.

    PANCARONA juga relevan dengan semangat kewirausahaan digital. Dalam konteks kewirausahaan, produk inovatif tidak selalu berbentuk barang fisik. Aplikasi digital yang menyelesaikan masalah nyata juga termasuk bentuk karya kewirausahaan. PANCARONA berangkat dari masalah yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, lalu mengubahnya menjadi peluang inovasi berbasis teknologi. Nilai bisnisnya muncul dari kemampuan aplikasi untuk membantu pengguna mengambil keputusan karier secara lebih terarah, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan kampus, platform pelatihan, career center, dan pelaku industri.

    Pada akhirnya, PANCARONA dikembangkan dari kesadaran bahwa fresh graduate tidak hanya membutuhkan lebih banyak informasi, tetapi membutuhkan informasi yang lebih terarah. Banyaknya lowongan kerja tidak selalu membuat seseorang lebih mudah memilih. Tanpa sistem pendukung yang tepat, banyak pilihan justru dapat menimbulkan kebingungan. Karena itu, PANCARONA hadir sebagai solusi yang menggabungkan teknologi rekomendasi, pengambilan keputusan multi-kriteria, dan pendekatan psikologis untuk membantu mahasiswa melangkah lebih percaya diri menuju dunia kerja.

    Melalui pengembangan PANCARONA, tim kami berharap karya inovatif ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam membantu mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate menghadapi tantangan karier. Aplikasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan keputusan manusia, tetapi untuk membantu pengguna memahami pilihan dengan lebih jernih. Keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna, tetapi proses menuju keputusan tersebut dapat dibuat lebih terarah, efisien, dan sesuai dengan potensi diri.

    Penulis:
    Nama: Nandyto Rizval Zilbran | NIM: 10123245
    Jurusan: Teknik Informatika
    Kelas: IF6

    Referensi

    Bangor, A., Kortum, P., & Miller, J. (2020). Determining what individual SUS scores mean. Journal of Usability Studies, 15(2), 78–95.

    Bawden, D., & Robinson, L. (2020). Information overload: An overview. In Oxford Encyclopedia of Political Decision Making. Oxford University Press.

    Brown, S. D., & Lent, R. W. (2020). Career Development and Counseling: Putting Theory and Research to Work. Wiley.

    Burke, R. (2021). Hybrid recommender systems. In Recommender Systems Handbook. Springer.

    Saaty, T. L., & Vargas, L. G. (2021). The Analytic Hierarchy Process: Planning, Priority Setting, Resource Allocation. RWS Publications.

    Schwaber, K., & Sutherland, J. (2020). The Scrum Guide. Scrum.org.

    Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2021). Nudge: The Final Edition. Yale University Press.

  • Dari Hobi Menjadi Peluang: Industri Game sebagai Ladang Bisnis Generasi Digital

    Di era digital saat ini, game bukan lagi sekadar hiburan untuk mengisi waktu luang. Bagi sebagian orang, game telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar yang membuka berbagai peluang bisnis baru. Jika dahulu bermain game sering dianggap sebagai aktivitas yang tidak produktif, kini pandangan tersebut mulai berubah. Banyak anak muda yang mampu memperoleh penghasilan dari dunia game, baik sebagai pengembang, kreator konten, atlet esports, streamer, hingga pelaku bisnis digital yang memanfaatkan ekosistem game.
    Sebagai mahasiswa yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan internet, saya melihat industri game sebagai salah satu sektor ekonomi digital yang memiliki masa depan sangat menjanjikan. Tidak hanya di tingkat global, pertumbuhan industri game di Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir.
    Game Bukan Lagi Sekadar Hiburan
    Ketika mendengar kata “game”, sebagian orang mungkin langsung membayangkan aktivitas bermain Mobile Legends, PUBG Mobile, Free Fire, Valorant, atau EA Sports FC. Namun di balik layar permainan tersebut terdapat industri yang melibatkan ribuan pekerja profesional dari berbagai bidang.
    Sebuah game modern tidak hanya dibuat oleh programmer. Di dalamnya terdapat desainer grafis, animator, penulis cerita, komposer musik, penguji kualitas (quality assurance), analis data, digital marketer, hingga manajer bisnis. Artinya, satu produk game dapat menciptakan banyak lapangan pekerjaan sekaligus.
    Secara global, industri game menjadi salah satu sektor hiburan terbesar di dunia. Laporan Newzoo menunjukkan bahwa pasar game global pada tahun 2025 diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar USD 188,8 miliar dengan jumlah pemain mencapai 3,6 miliar orang di seluruh dunia. Angka tersebut bahkan melampaui beberapa sektor hiburan lain seperti industri musik dan perfilman.
    Fenomena ini menunjukkan bahwa game telah berkembang menjadi produk ekonomi digital yang memiliki nilai bisnis sangat tinggi.
    Indonesia: Pasar Game yang Sangat Besar
    Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna game tercepat di kawasan Asia Tenggara. Faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini adalah tingginya penggunaan smartphone, semakin murahnya akses internet, serta dominasi generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.
    Beberapa laporan industri bahkan menyebutkan bahwa Indonesia menjadi pasar game terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain. Pada tahun 2024, Indonesia memiliki lebih dari 52 juta gamer aktif dan terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
    Selain itu, Indonesia menyumbang hampir setengah dari total unduhan game mobile di Asia Tenggara. Pendapatan industri game nasional juga diproyeksikan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan.
    Melihat data tersebut, muncul pertanyaan yang menarik:
    Jika masyarakat Indonesia sangat gemar bermain game, mengapa sebagian besar keuntungan justru dinikmati oleh perusahaan luar negeri?
    Pertanyaan ini menjadi penting karena sebagian besar game populer yang dimainkan masyarakat Indonesia masih berasal dari perusahaan asing. Bahkan lebih dari 90% pendapatan industri game Indonesia masih berasal dari produk luar negeri.
    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki pasar yang besar, tetapi kontribusi pengembang lokal terhadap pendapatan industri masih relatif kecil.
    Peluang Bisnis di Balik Industri Game
    Banyak mahasiswa menganggap bahwa untuk terlibat dalam industri game seseorang harus mampu membuat game dari nol. Padahal kenyataannya tidak demikian.
    Ekosistem game saat ini sangat luas dan membuka berbagai peluang usaha yang dapat dijalankan sesuai kemampuan masing-masing.

      1. Game Development
        Peluang pertama tentu berasal dari pengembangan game itu sendiri.
        Mahasiswa Informatika memiliki keuntungan karena sudah mempelajari dasar-dasar pemrograman yang dapat digunakan untuk membangun game sederhana menggunakan platform seperti Unity, Godot, atau Unreal Engine.
        Saat ini banyak game indie yang berhasil meraih kesuksesan meskipun dibuat oleh tim kecil. Keunggulan game indie biasanya terletak pada kreativitas, cerita yang unik, dan kemampuan menghadirkan pengalaman bermain yang berbeda.
        Bahkan dengan berkembangnya teknologi AI, proses pembuatan prototipe game menjadi lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu. Namun kreativitas manusia tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah game.
      2. Content Creator dan Streaming
        Saat ini banyak pemain game yang menghasilkan pendapatan tanpa membuat game.
        Mereka membangun audiens melalui YouTube, TikTok, Twitch, atau platform live streaming lainnya. Pendapatan dapat diperoleh dari iklan, sponsor, donasi, afiliasi, maupun kerja sama dengan brand.
        Fenomena ini menunjukkan bahwa industri game tidak hanya menghasilkan uang dari produk game, tetapi juga dari komunitas yang terbentuk di sekitarnya.
        Banyak kreator Indonesia yang memulai dari perangkat sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi figur publik dengan jutaan pengikut.
      3. Esports
        Perkembangan esports menjadi salah satu faktor yang membuat industri game semakin menarik.
        Saat ini pertandingan esports mampu menarik jutaan penonton secara online maupun offline. Turnamen-turnamen besar menawarkan hadiah yang sangat besar serta membuka peluang karier sebagai pemain profesional, pelatih, analis, caster, hingga event organizer.
        Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu pasar esports terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan industri esports nasional diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
      4. Jasa Digital dan UMKM Pendukung
        Banyak peluang bisnis lain yang sering tidak disadari.
        Contohnya:
        1. Jasa desain logo tim esports.
        2. Pembuatan overlay streaming.
        3. Jasa editing video gaming.
        4. Penjualan merchandise komunitas.
        5. Manajemen media sosial tim esports.
        6. Event organizer turnamen kampus.
        7. Pembuatan website komunitas game.
        Peluang ini sangat cocok bagi mahasiswa karena dapat dimulai dengan modal yang relatif kecil.

      Pengalaman dan Pandangan Pribadi
      Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, saya melihat industri game bukan hanya dari sisi pemain, tetapi juga dari sisi teknologi dan bisnis.
      Selama beberapa tahun terakhir, saya menyadari bahwa game memiliki kemampuan unik untuk menggabungkan berbagai disiplin ilmu sekaligus. Dalam satu proyek game terdapat unsur pemrograman, desain grafis, kecerdasan buatan, pemasaran digital, hingga manajemen bisnis.
      Hal ini membuat industri game menjadi salah satu bidang yang sangat relevan bagi mahasiswa informatika.
      Banyak teman mahasiswa yang awalnya hanya memiliki hobi bermain game, kemudian mulai belajar membuat game sederhana, membuat konten gaming, hingga mengikuti kompetisi pengembangan game. Dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa hobi dapat menjadi titik awal lahirnya peluang usaha apabila dikelola dengan serius.
      Tantangan yang Harus Dihadapi
      Meskipun potensinya besar, industri game juga memiliki berbagai tantangan.
      Pertama adalah persaingan yang sangat ketat. Setiap tahun ribuan game baru dirilis sehingga tidak mudah untuk menarik perhatian pemain.
      Kedua adalah keterbatasan modal dan sumber daya. Pengembangan game berkualitas membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
      Ketiga adalah dominasi perusahaan besar yang telah memiliki jaringan distribusi dan pemasaran global. Akibatnya, pengembang lokal harus bekerja lebih keras untuk bersaing.
      Namun tantangan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyerah. Justru kondisi ini membuka peluang bagi lahirnya inovasi-inovasi baru yang lebih dekat dengan budaya dan karakter masyarakat Indonesia.
      Mengapa Mahasiswa Perlu Melirik Industri Game?
      Mahasiswa sering kali mencari peluang usaha yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Menurut saya, industri game merupakan salah satu pilihan yang menarik karena:
      Pasarnya sangat besar.
      Dapat dimulai dengan modal relatif kecil.
      Selaras dengan perkembangan ekonomi digital.
      Membuka banyak jenis pekerjaan dan usaha.
      Memanfaatkan keterampilan yang dipelajari di perkuliahan.
      Selain itu, perkembangan teknologi saat ini membuat proses belajar menjadi lebih mudah. Banyak sumber belajar gratis tersedia di internet, mulai dari tutorial pemrograman game hingga strategi pemasaran digital.
      Bagi mahasiswa yang memiliki minat pada teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan, industri game dapat menjadi tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun peluang bisnis.


      Kesimpulan
      Perkembangan industri game menunjukkan bahwa dunia digital terus menciptakan peluang usaha baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Game bukan lagi sekadar sarana hiburan, melainkan bagian dari ekonomi kreatif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sangat besar.
      Indonesia memiliki modal yang kuat berupa jumlah pemain yang besar, pertumbuhan teknologi yang cepat, dan generasi muda yang kreatif. Tantangan memang masih ada, terutama terkait dominasi produk asing dan tingginya persaingan pasar. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan peluang yang sangat besar bagi mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk ikut berkontribusi.
      Sebagai mahasiswa, kita tidak harus langsung membangun studio game besar. Langkah kecil seperti mempelajari pengembangan game, membuat konten gaming, mengikuti kompetisi, atau membangun komunitas dapat menjadi awal perjalanan menuju dunia bisnis digital yang menjanjikan.
      Pada akhirnya, masa depan industri game Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pemain, tetapi juga oleh keberanian generasi muda untuk berinovasi, menciptakan produk sendiri, dan membangun bisnis yang mampu bersaing di tingkat global.Selain itu, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), cloud gaming, virtual reality (VR), dan augmented reality (AR) diperkirakan akan semakin memperluas peluang bisnis di industri game. Teknologi tersebut tidak hanya mengubah cara orang bermain, tetapi juga menciptakan model bisnis baru yang sebelumnya belum pernah ada. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi digital perlu mulai memahami tren ini agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta dan pelaku bisnis di dalamnya.Dari sudut pandang kewirausahaan, industri game memiliki karakteristik yang menarik karena mampu menggabungkan kreativitas, teknologi, dan kebutuhan pasar dalam satu produk. Sebuah game yang berhasil bukan hanya ditentukan oleh kualitas teknisnya, tetapi juga oleh kemampuan pengembang dalam memahami kebutuhan pemain, membangun komunitas, dan melakukan strategi pemasaran yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbisnis memiliki peran yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis dalam menciptakan produk digital yang sukses.Melalui pemanfaatan peluang yang ada, mahasiswa Indonesia diharapkan dapat menjadi bagian dari pertumbuhan industri game nasional yang saat ini masih didominasi oleh produk luar negeri. Dengan semangat inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan lebih banyak studio game, startup digital, dan pelaku usaha kreatif yang mampu bersaing di tingkat internasional. Industri game bukan lagi sekadar masa depan, melainkan peluang nyata yang sudah hadir dan dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan hari ini.


      Referensi
      Newzoo. Global Games Market Report 2025. https://newzoo.com/resources/trend-reports/newzoo-global-games-market-report-2025
      Xsolla. Indonesia’s Gaming Market: A Rising Force in Southeast Asia. 2025.
      Universitas Indonesia Vokasi. The Role of the Gaming Industry in Increasing State Foreign Exchange: Opportunities and Challenges. 2026.
      Ken Research. Indonesia Video Game Market Outlook to 2030.
      Agate. Reflecting on Game Industry Trends: Insights from Q3 2024.
      Reuters. AI Drives a Boom in New Games but Big Developers Dominate. 2026.
      IMARC Group. Indonesia Gaming Market Size and Industry Growth. 2026.
      Allcorrect Games. The Gaming Market in Southeast Asia. 2025.


      Ditulis oleh:
      Andrian Baros – 10122003
      Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)
      andrian.10122003@mahasiswa.unikom.ac.id
      Copyright 2026 – Mata Kuliah Kewirausahaan

    1. Membangun Jiwa Kewirausahaan di Era Digital sebagai Kunci Meningkatkan Daya Saing dan Kemandirian Ekonomi

      Perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di bidang ekonomi dan bisnis. Saat ini, internet dan media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi media untuk menjalankan berbagai jenis usaha. Kemudahan tersebut membuat siapa saja memiliki kesempatan untuk memulai bisnis tanpa harus memiliki modal yang besar atau membuka toko secara langsung. Dengan memanfaatkan platform digital, produk dan jasa dapat dipasarkan kepada konsumen dari berbagai daerah bahkan hingga ke luar negeri.

      Kewirausahaan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan dan mengelola sebuah usaha agar mampu memberikan keuntungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Seorang wirausahawan tidak hanya berusaha memperoleh keuntungan, tetapi juga harus mampu melihat peluang, menghasilkan ide-ide baru, dan menciptakan solusi yang dibutuhkan oleh konsumen. Oleh karena itu, kewirausahaan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

      Di era digital seperti sekarang, peluang untuk memulai usaha semakin terbuka. Berbagai jenis bisnis dapat dijalankan secara online, seperti usaha makanan, pakaian, kerajinan tangan, hingga jasa digital. Kehadiran marketplace dan media sosial memudahkan pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri, terutama bagi pelaku usaha pemula yang memiliki keterbatasan modal.

      Menjadi seorang wirausahawan memberikan banyak manfaat. Selain memperoleh penghasilan, seseorang juga dapat mengembangkan kreativitas, melatih kemampuan dalam mengambil keputusan, dan belajar menjadi pribadi yang mandiri. Di sisi lain, semakin banyak usaha yang berkembang akan membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

      Keberhasilan dalam menjalankan usaha tidak hanya bergantung pada modal, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter yang dimiliki oleh pelaku usaha. Seorang wirausahawan harus memiliki rasa percaya diri, berani mengambil risiko, kreatif, disiplin, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sikap tersebut sangat penting karena dunia bisnis selalu mengalami perubahan dan persaingan yang semakin ketat.

      Rasa percaya diri membantu seorang pengusaha dalam mengambil keputusan dan menghadapi tantangan. Kreativitas diperlukan agar produk atau jasa yang ditawarkan memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk lain. Selain itu, keberanian mengambil risiko harus disertai dengan perhitungan yang matang agar setiap keputusan yang diambil tidak menimbulkan kerugian yang besar.

      Disiplin juga menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha. Pengelolaan waktu, keuangan, dan pelayanan kepada pelanggan harus dilakukan secara konsisten. Selain itu, seorang pelaku usaha harus terus belajar mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar. Dengan begitu, usaha yang dijalankan akan lebih mudah berkembang dan mampu bertahan dalam persaingan.

      Meskipun peluang usaha semakin besar, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi. Persaingan bisnis yang semakin tinggi membuat pelaku usaha harus terus berinovasi agar produknya tetap diminati oleh konsumen. Selain itu, perubahan tren dan kebutuhan masyarakat yang berlangsung dengan cepat juga mengharuskan pengusaha untuk selalu mengikuti perkembangan pasar.

      Kemajuan teknologi juga menuntut pelaku usaha agar mampu memanfaatkannya dengan baik. Penggunaan media sosial, marketplace, dan berbagai aplikasi digital dapat membantu memperluas jangkauan pemasaran serta meningkatkan penjualan. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan sebuah usaha.

      Selain memanfaatkan teknologi, kualitas produk dan pelayanan juga harus selalu diperhatikan. Produk yang berkualitas akan membuat pelanggan merasa puas dan lebih percaya terhadap usaha yang dijalankan. Pelayanan yang baik juga dapat membuat pelanggan kembali membeli produk dan merekomendasikannya kepada orang lain.

      Perencanaan usaha yang baik juga sangat diperlukan sebelum memulai bisnis. Seorang pengusaha harus menentukan target pasar, menghitung kebutuhan modal, memperkirakan biaya operasional, serta menyusun strategi pemasaran yang sesuai. Dengan adanya perencanaan yang matang, risiko kerugian dapat dikurangi dan tujuan usaha menjadi lebih mudah dicapai.

      Pengelolaan keuangan merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat dengan rapi agar kondisi keuangan usaha dapat diketahui dengan jelas. Banyak usaha yang mengalami kegagalan bukan karena produknya kurang baik, tetapi karena pengelolaan keuangan yang tidak teratur.

      Inovasi juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi dapat berupa peningkatan kualitas produk, perubahan desain kemasan, pelayanan yang lebih baik, maupun strategi pemasaran yang lebih menarik. Dengan terus melakukan inovasi, sebuah usaha akan lebih mudah bersaing dan mengikuti perkembangan zaman.

      Kewirausahaan memberikan dampak yang positif bagi perekonomian negara. Semakin banyak masyarakat yang membuka usaha, semakin banyak pula lapangan pekerjaan yang tersedia. Selain itu, perkembangan usaha juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

      Pada akhirnya, kewirausahaan bukan hanya tentang memperoleh keuntungan, tetapi juga tentang menciptakan peluang, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan ikut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. Dengan memanfaatkan teknologi, memiliki sikap yang pantang menyerah, serta terus belajar dan berinovasi, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Oleh karena itu, jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

    2. Sociopreneurship: Menakar Efektivitas Bisnis Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Komunitas Lokal

      I. Pendahuluan
      Paradigma bisnis konvensional yang hanya berorientasi pada pengejaran profit materi kini mulai bergeser. Di era modern, lahir sebuah konsep baru yang disebut sociopreneurship (kewirausahaan sosial). Berbeda dengan bisnis biasa, sociopreneurship menempatkan misi sosial sebagai roda penggerak utama, di mana keuntungan finansial direinvestasikan untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

      Bagi Indonesia, konsep ini sangat relevan. Banyak komunitas lokal di berbagai daerah memiliki potensi produk yang besar (seperti kerajinan tangan, pangan lokal, atau potensi wisata), namun terhambat oleh masalah klasik: keterbatasan akses pasar, manajemen yang buruk, dan rendahnya literasi digital. Artikel ini akan menakar sejauh mana efektivitas model bisnis sociopreneurship dalam memberdayakan masyarakat lokal sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis itu sendiri.

      II. Pembahasan
      A. Strategi Pemberdayaan: Mengubah Charity Menjadi Keberlanjutan
      Banyak program bantuan sosial konvensional terjebak dalam pola charity (kedermawanan) yang sifatnya sementara. Ketika bantuan habis, masyarakat kembali ke kondisi semula. Di sinilah sociopreneurship masuk membawa angin segar melalui pendekatan yang berkelanjutan (sustainable).

      Sebuah bisnis sosial tidak memberikan “ikan”, melainkan “kail dan jala”. Proses pemberdayaan dilakukan melalui beberapa tahapan penting:

      Peningkatan Kapasitas (Capacity Building): Memberikan pelatihan keterampilan, standar kualitas produk, dan manajemen keuangan dasar kepada komunitas lokal (misalnya kelompok ibu rumah tangga atau petani).

      Pemanfaatan Bahan Baku Lokal: Menjamin rantai pasok (supply chain) yang adil dengan membeli hasil bumi atau bahan baku langsung dari masyarakat setempat dengan harga yang layak (fair trade).

      Sentuhan Inovasi dan Rebranding: Mengemas produk tradisional menjadi lebih modern agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

      B. Menakar Efektivitas: Keberhasilan dan Tantangan
      Apakah model ini efektif? Secara sosiologis dan ekonomi, jawabannya adalah ya, sangat efektif jika dikelola dengan tepat.

      Indikator Keberhasilan: Efektivitas sociopreneurship dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan per kapita komunitas yang terlibat, berkurangnya angka pengangguran lokal, serta meningkatnya rasa percaya diri masyarakat dalam mandiri secara ekonomi.

      Tantangan Utama: Namun, menakar efektivitas juga harus melihat sisi hambatan. Tantangan terbesar sociopreneur adalah menjaga keseimbangan (balancing act) antara misi sosial dan profitabilitas. Jika terlalu fokus pada sosial tanpa memikirkan arus kas (cash flow), bisnis akan mati. Sebaliknya, jika terlalu fokus pada profit, misi pemberdayaan masyarakat bisa terpinggirkan. Selain itu, mengubah pola pikir (mindset) masyarakat lokal dari pekerja pasif menjadi mitra bisnis yang produktif membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

      III. Kesimpulan dan Saran
      Kesimpulan
      Sociopreneurship terbukti menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan komunitas lokal. Model bisnis ini berhasil mengubah kerentanan sosial menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri. Efektivitasnya terletak pada integrasi antara empati sosial dan profesionalisme bisnis, sehingga dampak yang dihasilkan bisa bertahan dalam jangka panjang.
    3. Manifestasi Kewirausahaan Masa Depan: Navigasi Ekonomi Regeneratif dan Simbiosis Inteligensia

      Bab I: Pendahuluan
      Lanskap kewirausahaan global saat ini sedang mengalami pergeseran tektonik yang belum pernah tercatat dalam sejarah ekonomi modern. Kita sedang bergerak meninggalkan era di mana keberhasilan bisnis hanya diukur dari angka-angka mati pada laporan laba rugi kuartalan, menuju sebuah garis waktu baru yang menuntut definisi ulang secara total mengenai apa itu nilai sebuah perusahaan. Model bisnis konvensional yang berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan maksimisasi keuntungan pemegang saham secara agresif kini telah mencapai batas ekologis dan sosialnya. Sebagai gantinya, masa depan menuntut lahirnya generasi wirausahawan baru yang tidak lagi memandang dunia sebagai pasar yang harus dikuasai, melainkan sebagai ekosistem rapuh yang harus dirawat dan dipulihkan. Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah keharusan eksistensial bagi peradaban kita.

      Bab II: Tinjauan Pustaka
      Dalam memetakan fondasi teoretis baru ini, kita harus melompat melampaui konsep keberlanjutan atau sustainability yang selama ini menjadi standar industri. Literasi manajemen klasik umumnya mendefinisikan keberlanjutan sebagai upaya meminimalkan dampak negatif operasional bisnis terhadap lingkungan atau mencapai titik impas dampak sosial. Namun, kajian kontemporer mulai memperkenalkan konsep ekonomi regeneratif, sebuah pendekatan teoretis yang menyatakan bahwa bisnis harus berfungsi sebagai agen pemulihan aktif yang memberikan dampak positif bersih bagi alam dan komunitas. Di sisi lain, literatur mengenai transformasi digital juga telah bergeser dari otomatisasi sederhana menuju teori kecerdasan simbiosis. Teori ini memproyeksikan bahwa keunggulan kompetitif masa depan tidak lagi ditentukan oleh kehebatan teknologi secara terisolasi, melainkan oleh kualitas kolaborasi antara kecerdasan buatan sebagai pengolah data makro dan intuisi manusia sebagai jangkar moral organisasi.

      Bab III: Metode Penelitian
      Untuk menguji penerapan konsep-konsep sosiologis dan teknologis tersebut ke dalam realitas dunia usaha, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksplanatori. Objek kajian dipilih secara sengaja terhadap tiga perusahaan rintisan sektor teknologi agraria dan manufaktur sirkular yang telah mengadopsi prinsip regeneratif dalam rantai pasok mereka. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam terstruktur dengan para pendiri bisnis, direktur teknologi, serta perwakilan komunitas lokal yang terdampak langsung oleh operasional perusahaan. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui analisis laporan keberlanjutan, audit ekologis pihak ketiga, dan log performa algoritma prediktif yang digunakan perusahaan. Seluruh data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola hubungan antara integrasi teknologi dan pemulihan ekosistem.

      Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan
      Hasil analisis menunjukkan secara empiris bahwa perusahaan yang mengadopsi model bisnis regeneratif mengalami pertumbuhan resiliensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan bisnis konvensional. Ketika rantai pasok global mengalami guncangan, perusahaan-perusahaan objek penelitian ini berhasil bertahan karena mereka mengandalkan jaringan pasokan lokal yang berbasis kemitraan sirkular, di mana limbah dari satu proses produksi diubah menjadi bahan baku berharga untuk proses lainnya. Dari sisi teknologi, penerapan kecerdasan simbiosis terbukti mampu memotong biaya operasional secara radikal tanpa memicu pemutusan hubungan kerja massal. Peran kecerdasan buatan dalam memprediksi permintaan pasar dan mengotomatisasikan inventaris justru memberikan ruang bagi tenaga kerja manusia untuk fokus pada inovasi produk, layanan pelanggan yang dipersonalisasi, dan pemberdayaan komunitas sekitar. Pembahasan ini menegaskan bahwa etika lingkungan dan pemanfaatan teknologi tinggi bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan variabel yang saling memperkuat jika diintegrasikan dengan benar.

      Bab V: Kesimpulan
      Sebagai penutup dari kajian ilmiah ini, dapat disimpulkan bahwa masa depan kewirausahaan tidak lagi berada di tangan mereka yang sekadar mengejar pertumbuhan linier tanpa batas. Rekonstruksi paradigma ini membuktikan bahwa keberhasilan bisnis masa depan diukur dari seberapa besar kontribusi positif entitas tersebut terhadap pemulihan bumi dan penguatan martabat manusia. Integrasi kecerdasan buatan harus dikawal oleh kompas etika yang kuat agar teknologi tetap berfungsi sebagai akselerator kesejahteraan, bukan alat peminggiran sosial. Ruang kelas kewirausahaan kita harus segera bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran radikal yang berani meruntuhkan cara berpikir usang, demi melahirkan generasi wirausahawan visioner yang mampu membawa peradaban ekonomi global ke arah yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
    4. Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Promosi Produk di Era Digital

      Pendahuluan

      Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pada sektor ekonomi dan pemasaran. Perubahan tersebut memengaruhi cara pelaku usaha mempromosikan produknya kepada masyarakat. Jika sebelumnya promosi lebih banyak dilakukan melalui media cetak, iklan radio, atau televisi, kini media sosial menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha. Metode pemasaran konvensional tersebut bukan hanya memakan biaya operasional yang sangat besar, tetapi juga memiliki jangkauan yang terbatas dan sulit diukur tingkat keberhasilannya secara langsung. Hal ini tentu menjadi kendala yang cukup berat bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta kalangan mahasiswa yang baru mulai merintis bisnis dengan modal yang sangat terbatas.

      Kehadiran internet dan platform digital telah meruntuhkan sekat-sekat geografis yang selama ini membatasi hubungan antara penjual dan pembeli. Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp Business kini bukan lagi sekadar tempat untuk berkomunikasi atau membagikan momen pribadi, melainkan telah beralih fungsi menjadi alat pemasaran digital yang sangat andal. Penggunaan ruang digital ini memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk berkreasi dan memasarkan produknya. Oleh karena itu, memahami cara memanfaatkan media sosial secara tepat untuk kegiatan promosi kini menjadi sebuah keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh wirausahawan muda agar bisnis yang dijalankan dapat terus bertahan, relevan, dan mampu bersaing di tengah dinamika pasar modern.

      Perkembangan Media Sosial di Era Digital

      Dari tahun ke tahun, tren penggunaan media sosial terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada awal kemunculannya, platform digital lebih banyak difungsikan untuk menampilkan teks pendek atau sekadar berbagi foto statis. Namun saat ini, perilaku konsumen telah bergeser secara masif ke arah penikmatan konten yang lebih visual dan interaktif, seperti format video pendek. Kemunculan fitur-fitur baru seperti TikTok dan Instagram Reels membuktikan bahwa masyarakat menyukai informasi yang disajikan secara cepat, dinamis, dan menghibur. Perkembangan ini juga didorong oleh perubahan cara konsumen dalam mencari informasi mengenai suatu produk sebelum mereka memutuskan untuk melakukan pembelian.

      Jika dahulu masyarakat sangat mengandalkan mesin pencari konvensional di internet, kini para pengguna, khususnya dari kalangan generasi muda, cenderung lebih suka mencari ulasan langsung melalui media sosial. Mereka dapat melihat bentuk fisik barang dari berbagai sudut pandang melalui video ulasan (review) dari pengguna lain, sehingga memunculkan rasa percaya yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu sarana yang efektif untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan penelitian Padapi dkk. (2022) yang menjelaskan bahwa media sosial, khususnya platform Instagram, dapat dimanfaatkan sebagai media promosi yang efektif untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.

      Peran Media Sosial sebagai Sarana Promosi Produk

      Dalam dunia pemasaran modern, media sosial memegang peranan yang sangat besar, terutama pada tahap mengenalkan identitas dan keunggulan sebuah produk ke pasar yang lebih luas. Karena sifatnya yang sangat terbuka, media sosial memperpendek proses komunikasi antara pelaku usaha dan konsumen. Jika di masa lalu sebuah produk harus melalui agen periklanan agar bisa masuk ke pasar nasional, saat ini seorang wirausahawan hanya perlu mengunggah materi promosi dari gawainya, dan informasi tersebut dapat langsung diterima oleh masyarakat di berbagai daerah pada detik yang sama.

      Lebih jauh lagi, melalui media sosial, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk, memberikan informasi edukatif, menjawab keluhan atau pertanyaan pelanggan, hingga menerima masukan secara langsung. Keterbukaan komunikasi ini sangat penting untuk membangun reputasi bisnis yang positif. Menurut penelitian Deba dan Pramono (2024), pemanfaatan media sosial sebagai media promosi dapat meningkatkan interaksi dengan konsumen serta mendukung peningkatan penjualan melalui strategi pemasaran digital yang terstruktur. Interaksi dua arah ini menjadi salah satu keunggulan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar media promosi konvensional, sehingga audiens yang awalnya hanya melihat konten dapat berkembang menjadi pelanggan yang loyal.

      Manfaat Pemanfaatan Media Sosial bagi Pelaku Usaha

      Beralihnya fokus pemasaran ke dunia digital memberikan beragam keuntungan praktis bagi para pelaku usaha. Manfaat yang paling utama adalah kemampuan media sosial dalam menargetkan segmentasi pasar secara jauh lebih efisien. Saat memasang iklan di platform digital, pelaku usaha dapat memilih siapa saja yang akan melihat iklan tersebut, mulai dari penentuan kelompok usia, hobi, hingga lokasi tempat tinggal. Ketepatan dalam membidik target pasar ini memastikan bahwa upaya promosi yang dilakukan tidak salah sasaran.

      Saat ini tidak sedikit UMKM yang berhasil memperluas pasar melalui media sosial. Dengan memanfaatkan konten video pendek dan berbagai fitur promosi yang tersedia, produk dapat menjangkau lebih banyak calon konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar. Keuntungan dari pemasaran digital ini juga tidak eksklusif hanya untuk toko daring (online) saja. Sebagai contoh nyata, riset dari Firdaus dkk. (2024) mengenai Swalayan Surya Ponorogo membuktikan bahwa bisnis fisik atau ritel konvensional pun terbukti mampu meningkatkan daya saing serta tingkat penjualan melalui pemanfaatan media sosial secara konsisten.

      Tantangan dalam Promosi Melalui Media Sosial

      Meskipun menawarkan berbagai kemudahan operasional yang menggiurkan, aktivitas promosi di media sosial juga diwarnai oleh sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Salah satu tantangan terbesarnya saat ini adalah tingkat persaingan antar penjual yang semakin ketat. Jutaan pelaku usaha baru kini berkumpul di platform digital yang sama dan saling berebut untuk mendapatkan perhatian dari kelompok konsumen yang juga sama. Padatnya informasi yang beredar setiap harinya ini membuat rentang fokus penonton menjadi sangat singkat. Oleh karena itu, pelaku usaha dituntut untuk mampu menarik perhatian calon konsumen dalam beberapa detik pertama saja sebelum konten promosi tersebut akhirnya digeser dan dilewati (scroll) oleh audiens.

      Selain persaingan visual yang ketat, tantangan lain yang kerap menghambat kemajuan wirausahawan pemula adalah kurangnya literasi digital dan pemahaman dalam mengoptimalkan fitur-fitur media sosial secara menyeluruh. Banyak pelaku usaha yang sekadar membuat akun, namun tidak memahami cara mengevaluasi performa konten mereka. Masalah mengenai kesenjangan adaptasi teknologi ini sejalan dengan temuan dari Siagian dkk. (2020). Hasil studi mereka menegaskan bahwa program edukasi literasi digital serta pelatihan teknis sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha lokal. Tanpa adanya pemahaman yang cukup mengenai cara kerja promosi digital, sebuah bisnis akan kesulitan untuk mempertahankan posisinya dan perlahan-lahan dapat tersingkir di tengah sengitnya kompetisi pasar modern.

      Strategi Optimalisasi Promosi Produk di Media Sosial

      Agar aktivitas promosi dapat berjalan lancar dan memberikan hasil yang optimal, terdapat beberapa strategi taktis yang wajib diterapkan. Langkah pertama dan paling mendasar adalah melengkapi profil bisnis dengan informasi yang jelas dan terpercaya. Sebuah profil media sosial harus mencantumkan foto profil yang profesional, deskripsi singkat mengenai produk yang dijual, jam operasional layanan, serta tautan menuju platform pemesanan. Halaman profil yang dikelola secara rapi ini akan menumbuhkan kesan pertama yang baik bagi calon konsumen yang baru saja menemukan akun bisnis tersebut.

      Langkah kedua adalah mengubah gaya komunikasi. Kurangi konten yang sifatnya langsung berjualan (hard selling) dan perbanyak pendekatan yang lebih halus dan mengedukasi (soft selling). Sebagai contoh yang sangat umum dilakukan saat ini, banyak pelaku UMKM yang memanfaatkan video singkat untuk menampilkan proses di balik layar usahanya. Sebuah bisnis kuliner bisa menampilkan proses pengemasan barang yang rapi atau kebersihan lokasi dapurnya, sedangkan bisnis pakaian bisa memberikan tips memadupadankan warna baju yang serasi. Konten penceritaan semacam ini terbukti jauh lebih disukai pembeli karena terasa jujur dan tidak memaksa.

      Terakhir, media sosial sangat cocok dimanfaatkan sebagai sarana yang minim risiko bagi pelaku usaha untuk menguji minat pasar terhadap suatu inovasi produk baru. Berdasarkan ulasan dari Yohanida dkk. (2024), penerapan strategi pemasaran digital yang terencana dengan baik dapat meminimalkan risiko kerugian finansial yang besar bagi pelaku UMKM. Respons awal yang diberikan oleh pengguna internet, baik melalui jumlah penyebaran konten maupun komentar yang masuk, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi yang nyata bagi pelaku usaha sebelum produk tersebut akhirnya diproduksi secara massal.

      Kesimpulan

      Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi telah menjadi elemen yang sangat penting bagi keberlanjutan bisnis di era digital. Melalui efisiensi biaya promosi, kemampuan untuk berkomunikasi dua arah secara transparan, serta kemudahan dalam memperluas jangkauan pasar, platform digital memberikan kesempatan yang adil bagi siapa saja. Mulai dari UMKM rumahan, bisnis rintisan mahasiswa, hingga perusahaan ritel konvensional, semuanya berkesempatan untuk bertumbuh dan menjangkau lebih banyak konsumen.

      Bahkan usaha yang baru dirintis pun memiliki peluang untuk dikenal masyarakat apabila mampu menyajikan konten yang menarik, konsisten, serta memanfaatkan berbagai fitur media sosial secara optimal. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan dan daya saing usaha di era digital.

      Artikel Oleh:

      Nama: Rizka Nuria Irbah

      NIM: 10523039

      Prodi: Sistem Informasi

      Fakultas: Teknik dan Ilmu Komputer

      Daftar Pustaka

      1. Siagian, A. O., Martiwi, R., & Indra, N. (2020). Kemajuan Pemasaran Produk dalam Memanfaatkan Media Sosial di Era Digital. Jurnal Pemasaran Kompetitif3(3), 44–51. https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/JPK/article/view/4497/3817
      2. Deba, H. K. P., & Pramono, P. (2024). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Promosi Produk Usaha untuk Peningkatan Penjualan dalam Marketing E-Business. JKPIM: Jurnal Kajian dan Penalaran Ilmu Manajemen2(2), 124–133. https://jurnal.aksaraglobal.co.id/index.php/jkpim/article/view/411/387
      3. Firdaus, A., Rofi’i, A., Rohman, A. N., & Tasrif, M. (2024). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Promosi untuk Meningkatkan Daya Saing dan Tingkat Penjualan di Swalayan Surya Ponorogo. Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (JEBMA)4(1). https://www.researchgate.net/publication/379018673_Pemanfaatan_Media_Sosial_sebagai_Sarana_Promosi_untuk_Meningkatkan_Daya_Saing_dan_Tingkat_Penjualan_di_Swalayan_Surya_Ponorogo
      4. Yohanida, Y., Isyanto, P., & Sumarni, N. (2024). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Promosi pada UMKM Unstore Karawang. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan10(10), 1292–1301. https://www.jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/9838/6206
      5. Padapi, A., Haryono, I., & Rukmelia. (2022). Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Media Promosi Produk Olahan Agribisnis. Jurnal Sains dan Teknologi Industri Peternakan2(2), 30–36. https://jurnal.umsrappang.ac.id/jstip/article/view/724/566