On Why We Buy Things: Mengapa Kita Konsumsi

8–12 minutes

Motor Harley Davidson, Ikon Konsumerisme
Foto oleh Otavio Henrique: https://www.pexels.com/photo/motorcycle-close-up-17883704/

Pernahkah kamu membeli barang yang kamu kira perlukan, tapi ternyata setelah dipikir-pikir kembali ternyata kamu tidak begitu butuh pada barangnya? Kenapa sih kita mau membeli sebuah sepatu mahal seperti Air Jordan atau bisa kagum dengan motor Harley Davidson? Apa alasannya kita membeli sebuah “barang” itu sendiri?

Pembelian atau pertukaran sederhana uang untuk barang bisa dibilang merupakan salah satu ritual peradaban manusia yang paling mendasar dan tidak bisa dilepaskan dari salah satu unsur kemanusiaan itu sendiri, yaitu manusia sebagai homo economicus. Homo economicus secara bahasa berarti manusia ekonomi. Homo economicus (seperti dikutip Pengertian dan Istilah di Kumparan.com 2023) artinya adalah manusia yang rasional dan berkebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada untuk mencapai tujuan tertentu.

Dibawah semua pembelian, gemerincing receh rupiah, dan kata-kata promosi, tersembunyi sebuah narasi yang mendalam dari sejarah manusia yang terus berkembang. Bukan hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga masuk ke bidang psikologi, sosiologi, dan sebuah konsep sense of self atau jati diri seseorang. Agar paham soal mengapa kita membeli, kita harus melakukan perjalanan jauh ke masa lalu. Karena konsep pembelian itu muncul dari barter, kita harus melakukan perjalanan ke perapian kuno sampai ke era modern. Kita juga patut menelusuri alasan bagaimana kita bergeser dari sekadar memastikan kelangsungan hidup sampai konsep membeli brand itu menjadi wujud ekspresi diri seseorang. Kita akan mengungkap sedikit mengapa jual-beli berubah dari mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk hidup, menjadi apa yang kita butuhkan untuk membantu hidup, hingga apa yang kita butuhkan untuk menjalani sebuah cerita. Diujung spektrum ini, ada sebuah paradoks yang tertinggi: membeli barang-barang atas alasan yang melampaui barang itu sendiri, contohnya oleh ikon seperti Harley-Davidson, di mana produk hanyalah sebuah bentuk perwujudan jati diri atau ekspresi yang ingin dibangun seseorang.

Bagian 1: Barter dan Kelangsungan Hidup, dari Survival ke Status

Cerita ini tidak mulai langsung ke bentuk jual-beli di pasar dengan uang kertas rupiah, namun kembali ke bentuk kelangkaan dan kekurangan barang dan pertukaran yang hadir dari situ. Ekonomi manusia paling awal dibangun untuk memenuhi kelangsungan hidup dan utilitas. Barter muncul sebagai solusi kekurangan sumber daya tersebut.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), barter adalah perdagangan dengan saling bertukar barang. Barter tersebut diperkirakan sudah ada sejak masa 6000 SM, dari bangsa Fenisia. Metode barter atau tukar barang adalah bentuk jual-beli tertua manusia. Sebagai contohnya, barter digunakan sebagai solusi untuk masalah distribusi sumber daya yang tidak merata, dimana jika sebuah suku memiliki batu bara yang berlebih akan ditukarkan dengan gandum yang berlebih di suku lain. Unsur “mengapa” dalam fase ini jelas dan bersifat biologis: untuk mengamankan makanan, perkakas, atau tempat tinggal. Nilai barter itu intrinsik dan fungsional, seperti pisau untuk perkakas, dan kulit binatang yang digunakan sebagai sandang yang menghangatkan.

Penemuan mata uang diperkirakan hadir di sekitar 600 SM oleh bangsa Lydia (modernnya adalah Turki). Uang tersebut terbuat dari campuran emas dan perak yang disebut “elektrum”, yang berbentuk seperti kacang polong. Penemuan mata uang menjadi sebuah revolusi yang mengabstraksikan nilai, membuat pertukaran menjadi lebih lancar dan efisien. Namun, bahkan dalam masa kuno penggunaan mata uang, bentuk pembelian ini segera meluap dari konsep sekedar memenuhi kebutuhan. Contohnya adalah para Patrician Romawi atau keluarga-keluarga aristokrat yang menguasai, mereka membeli warna ungu Tyrian sebagai simbol status kekuasaan imperial karena warnanya yang mencolok, tahan lama, dan terutama karena proses pembuatannya yang rumit dan mahal. Di Eropa Abad Pertengahan, istri-istri bangsawan dan saudagar menjadikan venetian lace sebagai simbol status kekayaan dan status sosial. Di masa-masa ini, konsep pembelian tersebut mulai bercabang menjadi sebuah “conspicuous consumption” atau konsumsi yang dipertunjukkan. Conspicuous consumption (seperti yang dikutip oleh Scott Zimmer 2021), adalah tindakan membeli barang atau simbol-simbol kekayaan lainnya untuk menunjukkan kepada orang lain seberapa besar kekayaan yang dimiliki.

Sebuah tujuan pembelian mengalami perpecahan yang krusial: yang fungsional (contohnya baju) dan conspicuos consumption (contohnya baju yang menunjukkan status bangsawan). Pada dunia sebelum industri ini sebenarnya masih mengikat sebagian besar konsumsi pada kebutuhan primer. Di luar dari kebutuhan primer, barang-barang di luar kebutuhan yang dianggap “menarik” adalah barang yang memiliki kerajinan yang terbaik, mempunyai daya tahan, atau mempunyai bahan yang jarang. Nilainya sering terkait langsung dengan craftsmanship dan scarcity/rarity produk tersebut.

Bagian 2: Revolusi Industri dan Psikologi Konsumen

Revolusi Industri (1760-1840) menghancurkan paradigma lama dalam produksi, dan akhirnya mengubah juga pola pikir masyarakat. Produksi massal ini menciptakan kelebihan barang, yang mendorong terciptanya hasrat banyak orang. Inilah awal mula pemasaran modern. Alasan utama untuk membeli kini difokuskan pada pemecahan masalah dan peningkatan efisiensi serta kenyamanan pribadi. Contohnya mesin jahit menghemat tenaga kerja, pakaian jadi menawarkan kenyamanan, dan makanan kemasan memperluas selera yang bisa dipilih konsumen.

Namun, para industrialis dengan cepat menyadari bahwa alasan fungsional saja tidak cukup untuk menghabiskan stok barang yang sudah diproduksi, yang stoknya semakin besar. Para pionir periklanan seperti Edward Bernays (yang dijuluki “father of public relations”) menerapkan teori Sigmund Freud tentang alam bawah sadar dalam proses pemasaran. Anda bukan hanya membeli mobil; Anda membeli kebebasan dan kekuatan maskulin. Anda bukan hanya membeli sabun; Anda membeli penerimaan sosial dan kebersihan. Pergeseran psikologis ini sangat penting. Ia memindahkan fokus “mengapa” dari atribut fisik produk menjadi manfaat emosional yang dijanjikan. Sebuah produk menjadi menarik jika dapat dihubungkan secara naratif dengan hasrat manusia yang lebih dalam: seperti cinta, penghargaan, rasa memiliki, atau perubahan.

Kebangkitan ekonomi pasca Perang Dunia II semakin memperkuat hal ini. Di era kemakmuran baru, kebiasaan mengonsumsi menjadi pendorong ekonomi dan merupakan aksi warga Amerika yang didukung sebagai bentuk patriotisme. Idealisme suburban Amerika dibangun atas hasrat untuk memiliki mobil, lemari es, dan televisi. Barang-barang ini tidak hanya memberikan manfaat fungsional yang nyata, tetapi juga menjadi simbol kuat kesuksesan, modernitas, dan partisipasi dalam American Dream. Berbelanja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup; tetapi juga dianggap merupakan bentuk kemajuan.

Bagian 3: Era Identitas

Dalam akhir abad ke-20, di pasar Barat yang sudah jenuh, fitur fungsional murni menjadi seperti konsep murahan. Pembeda tidak lagi bisa hanya soal kecepatan atau keawetan. Ini adalah awal mula era branding gaya hidup. Nike tidak hanya menjual sepatu dan mulai menjual semangat atlet (“Just Do It”). Apple tidak hanya menjual komputer dan mulai menjual alat-alat untuk berpikir kreatif yang tidak konvensional (“Think Different”). Minat terhadap produk-produk tersebut terletak pada kegunaan simbolisnya. Produk berfungsi sebagai lambang dan representasi dari identitas, membeli menjadi tindakan penciptaan diri dan afiliasi dengan kelompok. Konsumsimu menjadi jawabanmu.

Bagian 4: Membuat Piramida Konsumsi: dari Primer ke Pemenuhan

Lalu kita dapat mengerucutkan piramida “alasan” pembelian, mulai dari kebutuhan primer hingga ke puncak yang melampaui kebutuhan. Piramida ini mirip dengan piramida kebutuhan oleh Maslow. Piramida untuk alasan pembelian sekiranya adalah:

  • 1. Dasar: Untuk Kelangsungan Hidup & Fungsional.

Alasan utama yang tidak dapat dikompromikan. Kebutuhan pokok seperti makanan, hunian, dan pakaian. Minat dalam kategori ini adalah dari produk yang dapat menjalankan fungsi utamanya dengan andal dan efisien dengan biaya yang wajar (misalnya, kaos putih polos, roti, atau palu).

  • 2. Tingkat Kedua: Kenyamanan & Kemudahan.

Meningkatkan kualitas hidup di luar kebutuhan dasar. Seperti alat-alat yang menghemat tenaga, kursi gaming, makanan siap saji. Minat dalam kategori ini ditimbulkan oleh fitur yang menghemat waktu, meringankan beban, atau meningkatkan kualitas hidup (misalnya oven, kasur memory foam, layanan pengiriman makanan seperti Gojek).

  • 3. Tingkat Ketiga: Tanda Sosial & Status.

Mengkomunikasikan posisi seseorang. Seperti tas mewah, mobil premium, merek desainer. Minat didorong oleh citra merek, eksklusivitas, dan keterkenalan merek (misalnya, jam tangan Rolex, mobil BMW, tas Gucci).

  • 4. Tingkat Keempat: Identitas & Keberadaan Diri.

Mengekspresikan diri dan relevansi dengan sebuah komunitas. Seperti kaos band, jaket kulit Garut, atau budaya sepatu tertentu. Minat didorong oleh keaslian, narasi, dan rasa bergabung dalam komunitas (misalnya, Air Jordan untuk pecinta basket, kaos band Nirvana, piringan vinyl dari artis indie).

  • 5. Puncak: Aktualisasi Diri

Alasan yang memuaskan, di mana objek menjadi perantara pengalaman, nilai penghargaan, atau perasaan untuk mencapai kebahagiaan personal. Ini adalah ranah pembelian simbolis, di mana kegunaan produknya hampir tidak relevan.

Bagian 5: Harley-Davidson?

Merek Harley-Davidson adalah contoh terbaik dari puncak piramida ini. Secara mendasar, ini hanyalah sepeda motor—sebuah alat transportasi. Akan tetapi, Jika ada orang yang berpendapat bahwa membeli Harley itu hanyalah untuk alat transportasi tentunya orang tersebut salah kaprah. Fungsionalnya (berat, efisiensi bahan bakar, handling) seringkali secara objektif dikalahkan oleh pesaing. Namun, daya tarik motor tersebut tak terbantahkan bagi sebagian orang.

Sebuah Harley dibeli untuk alasan yang di luar motornya, seperti:

  • 1. Mitos Kebebasan: Harley seringkali dianggap menjadi simbol kebebasan, sebuah simbol fisik dari American dream. Kebebasan, pemberontakan, dan kebebasan berkendara.
  • 2. Komunitas: Membeli Harley dapat berarti membeli akses ke komunitas legendarisnya yang global. Komunitas tersebut memiliki aturan, ritual, dan estetika tersendiri.
  • 3. Identitas Suara: Gemuruh khas mesinnya dapat menjadi tanda pengenal, pernyataan kehadiran yang terdengar sebelum motor terlihat. Contohnya jika sedang di jalan raya, ketika ada suara khas tersebut akan banyak orang yang menoleh karena banyak orang sudah mengenali suara tersebut adalah motor Harley.
  • 4. Pengalaman Berkendara: Harley menjual bukan sekadar perjalanan A ke B, tetapi pengalaman sensorik seperti suara angin, gemuruh, getar, dan perjalanan yang dihasrati.
  • 5. Budaya dan Sejarah: Menghubungkan pemiliknya dengan ikon budaya, mulai dari tentara Perang Dunia II hingga tokoh pemberontak Hollywood.

Produk ini menarik karena fungsi primernya adalah bagian yang paling tidak penting. Anda membeli ceritanya, suaranya, komunitasnya, dan versi diri yang muncul saat mengendarainya. Motor ini hanyalah kunci yang membuka dunia tersebut. Ini adalah konsumsi untuk melengkapi identitas, memperoleh pengalaman, dan jati diri sebagai ekspresi seseorang.

Kesimpulan

Hari ini, di era digital, semua lapisan ini ada bersamaan dan akan bertumbuh semakin kuat. Kita masih membeli untuk bertahan hidup (pengiriman online). Kita membeli untuk kenyamanan (langganan Netflix). Kita membeli untuk status (brand Uniqlo). Kita membeli untuk identitas (upload Instagram tentang pembelian kita). Dan kita semakin mencari puncak kepuasan, menghabiskan uang untuk pengalaman (jalan-jalan, pergi ke konser) dan membeli produk yang menjanjikan makna, keberlanjutan, atau koneksi.

Sejarah mengapa kita membeli produk adalah sejarah kemajuan manusia yang dipaparkan dalam piramida kebutuhan oleh Maslow. Kita telah berkembang dari barter untuk bertahan hidup menjadi membeli produk untuk aktualisasi diri. Kita adalah makhluk yang mencari makna, dan pasar telah menjadi arena utama di mana kita mencari, membangun, dan menyebarkan makna tersebut. Objek, dari sepotong roti hingga motor Harley, adalah wadah. Mulainya hanya untuk kalori, akhirnya untuk mimpi dan jati diri. Memahami hal ini berarti memahami bukan hanya ekonomi, tetapi kasus asli budaya manusia: sebuah pencarian kita untuk memenuhi kebutuhan hingga menemukan diri kita dalam hal-hal yang kita peroleh.



Referensi

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Pusat Bahasa), 2012-2025. “Barter”. [Online]
Available at: https://kbbi.web.id/barter
[Diakses 9 Januari 2026].

Britannica, 2025. Industrial Revolution. [Online]
Available at: https://www.britannica.com/event/Industrial-Revolution
[Diakses 9 Januari 2026].

Ecommerce Masterclass, 2023. Maslow’s hierarchy of needs is reflected in consumer behaviour. [Online]
Available at: https://swifterm.com/maslows-hierarchy-of-needs-in-consumer-behaviour/
[Diakses 9 Januari 2026].

Hanvitra, 2021. Homo Economicus vs Homo Socius. [Online]
Available at: https://www.kompasiana.com/hanvitra/5d6633050d8230380f257012/homo-economicus-vs-homo-socius
[Diakses 9 Januari 2026].

Held, L., 2009. Psychoanalysis shapes consumer culture. Monitor on Psychology, 40(11), p. 32.

LimitPrime, 2026. History Of Trading. [Online]
Available at: https://limitprime.com/en/academy/getting-started/history-of-trading
[Diakses 9 Januari 2026].

Morelli, L., t.thn.. Burano Lace: A Brief History. [Online]
Available at: https://lauramorelli.com/burano-lace-a-history/
[Diakses 9 Januari 2026].

Pengertian dan Istilah, 2023. Arti Homo Economicus, Ciri-ciri, dan Model Pengambilan Keputusan Lainnya. [Online]
Available at: https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/arti-homo-economicus-ciri-ciri-dan-model-pengambilan-keputusan-lainnya-21JU8oY8fkT/full
[Diakses 9 Januari 2026].

Renascence Customer Experience, 2024. How Harley-Davidson Builds Customer Experience (CX) Through Community Engagement and Brand Loyalty. [Online]
Available at: https://www.renascence.io/journal/how-harley-davidson-builds-customer-experience-cx-through-community-engagement-and-brand-loyalty
[Diakses 9 Januari 2026].

Schor, J. B., 1999. The New Politics of Consumption. [Online]
Available at: https://www.bostonreview.net/forum/juliet-b-schor-new-politics-consumption/
[Diakses 9 Januari 2026].

SimulasiKredit, t.thn.. Sejarah Munculnya Uang. [Online]
Available at: https://www.simulasikredit.com/sejarah-munculnya-uang
[Diakses 9 Januari 2026].

Tupperware!, t.thn.. The Rise of American Consumerism. [Online]
Available at: https://www.pbs.org/wgbh/americanexperience/features/tupperware-consumer/
[Diakses 9 Januari 2026].

Umam, t.thn.. Pengertian Barter dan Sejarahnya. [Online]
Available at: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-barter-2/
[Diakses 9 Januari 2026].

Wilson, D., t.thn.. Born to the Purple. [Online]
Available at: https://carnegiemnh.org/born-to-the-purple/
[Diakses 9 Januari 2026].

Wünsch, S., 2018. Harley-Davidson: The iconic symbol of the American dream. [Online]
Available at: https://www.dw.com/en/harley-davidson-the-iconic-symbol-of-the-american-dream/a-44418863
[Diakses 9 Januari 2026].

Zimmer, S., 2021. Veblen’s Theory of Conspicuous Consumption. [Online]
Available at: https://www.ebsco.com/research-starters/political-science/veblens-theory-conspicuous-consumption
[Diakses 9 Januari 2026].