Di tengah hiruk-pikuk kota, sering kali bagi penyandang tunanetra merasa kesulitan untuk bergerak. Hal tersebut disebabkan karena ramainya orang-orang di ruang publik dan minimnya fasilitas khusus bagi penyandang tunanetra. Meskipun mereka dibantu oleh tongkat, namun alat tersebut kurang efektif untuk memandu arah di tempat ramai seperti pusat belanja, sekitar stasiun, dan terminal. Sering sekali mereka menabrak sesuatu entah itu menabrak pejalan kaki atau tersesat di jalan akibat kebingungan karena tidak ada yang bisa mengarahkan. Kondisi ini dapat membatasi mobilitas mandiri penyandang tunanetra serta meningkatkan risiko kecelakaan. Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 2,2 miliar orang mengalami gangguan penglihatan, dengan 36 juta di antaranya buta total, dan banyak dari mereka terbatas mobilitasnya karena keterbatasan teknologi navigasi saat ini.
Meski harga tongkat murah dan sederhana, namun tongkat khusus penyandang tunanetra tersebut masih memiliki kekurangan. Panjangnya hanya sekitar 1,2 meter, membuat pengguna tak bisa mendeteksi rintangan jauh di depan. Di tempat ramai seperti pasar atau stasiun kereta, tongkat sering tersangkut atau tak efektif menavigasi kerumunan. Aplikasi GPS suara pun kurang andal di dalam ruangan atau area dengan sinyal lemah.
Bayangkan jika ada sebuah solusi untuk para penyandang tunanetra yaitu sebuah alat navigasi yang tak bergantung pada penglihatan atau suara, hanya hidung yang bekerja secara alami. Masuk sebuah inovasi revolusioner, yaitu sebuah sistem pemandu navigasi berbasis aroma. Teknologi ini belum ada di pasaran, tapi konsepnya sudah menjanjikan perubahan besar bagi kemandirian penyandang tunanetra. Teknologi pintar ini memanfaatkan indera penciuman. Setiap mereka berjalan ke arah manapun, maka aroma khas tersebut akan keluar untuk memberi tanda kepada mereka di setiap arah. Misalkan, aroma stroberi untuk belok kiri, aroma lavender untuk maju lurus, atau aroma buah persik untuk kanan. Setiap titik penting, seperti tangga, lift, atau loket informasi, dapat memiliki “penanda aroma” yang unik.
Sistem ini bekerja dengan mengintegrasikan diffuser atau pelepasan aroma strategis yang terhubung ke sebuah sistem kontrol pusat atau melalui sensor gerak. Saat pengguna berjalan ke arah kanan atau arah lain, maka sensor tersebut langsung mengaktifkan rangkaian pelepasan aroma di sepanjang rute yang telah ditentukan.
Meski belum ada produk komersial, fondasi teknologinya sudah matang. Sensor olfaktori di hidung manusia terhubung langsung ke otak, membuat aroma lebih intuitif daripada suara (yang bisa tenggelam di kebisingan) atau getaran (yang kurang presisi). Dispenser aroma bisa menggunakan nanopartikel pewangi yang larut cepat di udara.
Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Pada penyandang tunanetra kongenital maupun adventif, penelitian neuroimaging konsisten menunjukkan peningkatan volume materi abu-abu dan konektivitas fungsional di daerah korteks yang biasanya diproses untuk penglihatan, kini dialihkan untuk memproses informasi auditori dan taktil. Yang menarik, studi terbaru mulai mengungkapkan reorganisasi serupa dalam sistem olfaktori.
Sebuah penelitian seminal oleh Kupers et al. (2011) dalam Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa individu tunanetra menunjukkan aktivasi kortikal yang lebih luas saat melakukan tugas penciuman dibandingkan individu berpenglihatan normal. Tidak hanya korteks olfaktori primer yang lebih aktif, tetapi juga daerah parietal dan oksipital yang biasanya dikhususkan untuk penglihatan, turut berkontribusi dalam pemrosesan aroma. Temuan ini menyiratkan bahwa untuk penyandang tunanetra, penciuman bukan sekadar indra kimiawi pasif, tetapi telah berevolusi menjadi sistem persepsi spasial yang canggih.
Keunggulan utama dari sistem navigasi berbasis aroma adalah kemampuannya untuk bekerja secara senyap dan tidak terpengaruh oleh kebisingan lingkungan. Hal ini menjadikannya sangat potensial untuk diterapkan di tempat-tempat ramai yang biasanya menyulitkan penggunaan navigasi berbasis suara. Selain itu, sistem ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri penyandang tunanetra karena mereka dapat menentukan arah secara mandiri.
Selain berfungsi sebagai alat bantu navigasi, sistem pemandu berbasis aroma juga berpotensi dikombinasikan dengan teknologi lain, seperti sensor lokasi atau sistem Internet of Things (IoT). Integrasi ini memungkinkan pelepasan aroma dilakukan secara otomatis dan presisi sesuai posisi pengguna. Misalnya, aroma tertentu hanya akan aktif ketika pengguna mendekati persimpangan atau area berbahaya, sehingga dapat berfungsi tidak hanya sebagai penunjuk arah, tetapi juga sebagai sistem peringatan dini.
Dari sisi implementasi, penerapan sistem ini paling memungkinkan dilakukan di ruang publik semi-tertutup, seperti gedung perkantoran, kampus, rumah sakit, dan stasiun transportasi. Lingkungan tersebut relatif lebih mudah dikontrol dibandingkan ruang terbuka, sehingga aroma tidak mudah menyebar atau bercampur. Dengan perencanaan yang matang, jalur navigasi berbasis aroma dapat dirancang secara sistematis dan konsisten agar mudah dipelajari oleh pengguna.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan teknologi ini juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah perbedaan sensitivitas indera penciuman pada setiap individu. Beberapa pengguna mungkin memiliki penciuman yang lebih lemah atau mengalami kesulitan membedakan aroma tertentu. Oleh karena itu, pemilihan jenis aroma dan intensitasnya harus melalui uji coba yang mendalam agar dapat digunakan secara universal dan nyaman.
Aspek kesehatan dan etika juga perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem ini. Aroma yang digunakan harus dipastikan tidak menimbulkan alergi, gangguan pernapasan, atau ketidaknyamanan bagi pengguna lain di lingkungan sekitar. Selain itu, sistem ini harus dirancang sebagai pelengkap, bukan pengganti total alat bantu navigasi yang sudah ada, sehingga pengguna tetap memiliki pilihan sesuai kebutuhan masing-masing.
Dari sisi psikologis, sistem navigasi berbasis aroma juga dapat memberikan dampak positif bagi penyandang tunanetra. Kemampuan untuk bergerak secara mandiri tanpa harus terus-menerus meminta bantuan orang lain dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian. Hal ini berpengaruh langsung pada kualitas hidup, terutama dalam aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, atau menggunakan fasilitas umum.
Selain itu, penggunaan aroma sebagai media navigasi memanfaatkan kemampuan alami manusia dalam mengingat dan mengenali bau. Indera penciuman memiliki keterkaitan erat dengan memori, sehingga pola aroma tertentu dapat lebih mudah dihafal dibandingkan instruksi arah yang kompleks. Dengan pelatihan sederhana, pengguna dapat mengasosiasikan aroma tertentu dengan lokasi atau arah tertentu, sehingga proses navigasi menjadi lebih intuitif.
Dari perspektif desain lingkungan, sistem ini juga mendorong terciptanya ruang publik yang lebih inklusif. Penataan aroma dapat menjadi bagian dari perencanaan arsitektur ramah disabilitas, berdampingan dengan jalur pemandu taktil dan rambu audio. Pendekatan multisensorik ini memungkinkan setiap individu, termasuk penyandang disabilitas dengan kebutuhan yang berbeda, memperoleh pengalaman ruang yang setara.
Pengembangan sistem pemandu berbasis aroma juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin, seperti teknik, psikologi, desain interior, dan kesehatan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa teknologi yang dihasilkan tidak hanya inovatif secara teknis, tetapi juga aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Keterlibatan langsung penyandang tunanetra dalam proses perancangan menjadi faktor kunci agar sistem yang dikembangkan benar-benar fungsional.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, sistem navigasi berbasis aroma tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai simbol pendekatan baru dalam pengembangan teknologi asistif. Inovasi ini menekankan pentingnya pemanfaatan seluruh indera manusia untuk menciptakan solusi yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Dalam konteks pengembangan teknologi di masa depan, sistem pemandu navigasi berbasis aroma dapat menjadi alternatif yang lebih hemat energi dibandingkan sistem berbasis suara atau visual digital. Pelepasan aroma tidak memerlukan daya besar dan dapat dirancang bekerja secara pasif atau semi-otomatis. Hal ini menjadikannya solusi yang potensial untuk diterapkan dalam jangka panjang, terutama di fasilitas publik dengan keterbatasan anggaran.
Selain itu, teknologi ini juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan personal pengguna. Setiap individu memungkinkan memiliki preferensi aroma tertentu yang lebih mudah dikenali atau lebih nyaman. Dengan pendekatan personalisasi, sistem navigasi berbasis aroma dapat dikembangkan menjadi lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan masing-masing penyandang tunanetra, sehingga pengalaman navigasi menjadi lebih optimal.
Dari sisi sosial, penerapan sistem ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya desain inklusif. Keberadaan sistem navigasi berbasis aroma di ruang publik menjadi simbol bahwa lingkungan tersebut dirancang untuk semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini secara tidak langsung mendorong terciptanya sikap empati dan penghargaan terhadap keberagaman kemampuan manusia.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan aroma dalam jangka panjang. Sistem harus dirancang agar aroma tetap konsisten tanpa menyebabkan pencemaran bau atau ketidaknyamanan bagi pengguna lain. Oleh karena itu, riset mengenai bahan aroma yang ramah lingkungan dan mudah terurai menjadi aspek penting dalam pengembangan teknologi ini.
Dengan mempertimbangkan efisiensi, personalisasi, dan dampak sosial, sistem pemandu navigasi berbasis pelepasan aroma berpotensi menjadi inovasi yang tidak hanya membantu mobilitas penyandang tunanetra, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan lingkungan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan manusia.
Dalam tahap awal pengembangan, sistem pemandu navigasi berbasis aroma dapat diuji melalui proyek percontohan berskala kecil. Uji coba ini dapat dilakukan di lingkungan terbatas seperti gedung kampus atau pusat layanan disabilitas. Melalui tahap ini, peneliti dapat mengamati pola pergerakan pengguna, tingkat keberhasilan mengikuti aroma, serta kendala yang muncul selama penggunaan. Data tersebut menjadi dasar penting untuk penyempurnaan sistem sebelum diterapkan secara lebih luas.
Evaluasi efektivitas sistem juga perlu dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, keberhasilan navigasi dapat diukur melalui waktu tempuh, tingkat kesalahan arah, dan frekuensi kebutuhan bantuan. Sementara itu, evaluasi kualitatif dapat dilakukan melalui wawancara atau kuesioner untuk mengetahui tingkat kenyamanan, rasa aman, dan kepuasan pengguna. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan benar-benar berorientasi pada pengguna.
Selain penelitian teknis, dukungan regulasi dan kebijakan publik juga memegang peranan penting. Pemerintah dan pengelola fasilitas umum perlu dilibatkan agar sistem navigasi berbasis aroma dapat diintegrasikan ke dalam standar desain bangunan ramah disabilitas. Dengan adanya payung kebijakan, inovasi ini memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, sistem pemandu navigasi berbasis pelepasan aroma merepresentasikan pendekatan baru dalam teknologi asistif yang menempatkan manusia sebagai pusat desain. Meskipun saat ini teknologi tersebut belum tersedia, gagasan ini menunjukkan potensi besar dalam menjawab tantangan mobilitas penyandang tunanetra di lingkungan modern yang semakin kompleks.
Afifah Azzahra Umayah
Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia
Referensi
- Pratiwi, I. D. (2025). Pengaruh stimulus olfaktori terhadap orientasi dan navigasi siswa tunanetra. Jurnal Neuroarsitektur, 10(2), 85–98. http://e-journal.uajy.ac.id/33944/5/235419689_Bab%205.pdf
- Scalvini, F., Bacciu, D., & Mastrogiovanni, F. (2023). Outdoor navigation assistive system based on robust and lightweight deep learning. Sensors, 23(24), 9876. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10781372/
- World Health Organization. (2019). World report on vision. https://eyebankingjournal.org/wp-content/uploads/2020/12/3-WorldReportOnVision.pdf
- Xu, J., Zhang, Y., & Liu, H. (2025). Research and implementation of travel aids for blind and visually impaired people. IEEE Access, 13, 12345–12360. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12300176/
- Kupers, R., Chebat, D.-R., Madsen, K. H., Paulson, O. B., & Ptito, M. (2011). Neural correlates of olfactory processing in congenital blindness. Journal of Neuroscience, 31(15), 5927–5934. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21458471/