More Than Just Matcha: Kenapa Brand Kayak Tomicha Punya Peluang Besar di Era Digital? 🍵

5–8 minutes

By Reyhana Lirabihha

“People don’t just buy products anymore. They buy stories, experiences, and brands they can relate to.”

Kalau beberapa tahun lalu ada yang bilang bakal banyak orang rela antre cuma buat segelas matcha, mungkin aku bakal ketawa. Tapi sekarang? Matcha literally ada di mana-mana. Dari coffee shop franchise sampai UMKM lokal, hampir semuanya punya menu matcha.

Dan honestly, aku ngerti kenapa.

Matcha punya rasa yang unik, warnanya cantik, dan somehow selalu kelihatan aesthetic kalau muncul di Instagram Story atau TikTok. Nggak heran kalau minuman ini makin digemari, terutama di kalangan Gen Z yang nggak cuma mencari rasa enak, tapi juga pengalaman yang menyenangkan.

Di tengah tren itu, muncul banyak brand lokal yang mencoba menawarkan versinya masing-masing. Salah satunya adalah Tomicha, sebuah UMKM yang fokus menjual berbagai kreasi minuman berbahan dasar matcha. Menurutku, Tomicha punya potensi besar untuk berkembang, apalagi kalau strategi digital marketing-nya dimaksimalkan.

First Thing First… Matcha Emang Seistimewa Itu?

Masih banyak orang yang menganggap matcha sama aja dengan green tea biasa. Padahal sebenarnya cukup berbeda.

Matcha berasal dari daun teh pilihan yang ditanam dengan metode khusus sehingga menghasilkan warna hijau yang lebih pekat dan rasa yang lebih kaya. Setelah dipanen, daun tersebut diolah menjadi bubuk halus, sehingga seluruh bagian daun ikut dikonsumsi. Inilah yang membuat rasa matcha lebih creamy, sedikit earthy, dan punya aroma khas yang sulit ditemukan pada teh hijau biasa.

Selain rasanya yang unik, matcha juga dikenal mengandung antioksidan tinggi dan L-theanine yang membantu tubuh tetap fokus sekaligus rileks. Karena kandungan kafeinnya berasal dari teh, banyak orang merasa efek energinya lebih stabil dibanding kopi. That’s why sekarang matcha bukan cuma sekadar minuman viral, tapi juga mulai jadi bagian dari lifestyle banyak orang.

Meet Tomicha 🍵

Di tengah banyaknya brand matcha yang bermunculan, Tomicha hadir sebagai UMKM lokal yang fokus menghadirkan berbagai olahan matcha dengan karakter rasa yang berbeda-beda. Menurutku, ini jadi nilai plus karena mereka nggak mencoba menjual terlalu banyak jenis minuman, tetapi memilih fokus pada satu bahan utama dan mengembangkannya menjadi beberapa varian yang menarik.

Pilihan menunya pun cukup beragam.

🍵 Mat-cha (Rp18.000)

Ini adalah menu paling basic sekaligus paling cocok buat menikmati rasa asli matcha. Perpaduan matcha dan susu menghasilkan rasa yang creamy tanpa menghilangkan karakter khas matcha yang sedikit earthy.

☕ Kohi-cha (Rp21.000)

Kalau kamu tipe orang yang masih belum bisa move on dari kopi, Kohi-cha bisa jadi pilihan yang menarik. Perpaduan coffee dan matcha menciptakan rasa yang lebih bold dan cocok buat menemani aktivitas seharian.

🍫 Choco-cha (Rp21.000)

Varian ini menggabungkan matcha dengan cokelat sehingga menghasilkan rasa yang lebih manis dan familiar. Cocok banget buat orang yang baru pertama kali mencoba matcha karena rasa earthynya terasa lebih ringan.

🍓 Berry-cha (Rp21.000)

Berry-cha menawarkan kombinasi rasa buah yang segar dengan matcha. Selain rasanya unik, tampilannya juga cantik sehingga sangat Instagramable.

🥤 Big Size 1 Liter (Rp80.000)

Kalau satu botol terasa kurang, Tomicha juga menyediakan ukuran satu liter yang cocok untuk sharing bareng teman atau keluarga. Pilihan ini juga pas buat acara kecil atau sekadar stok minuman di rumah.

Menurutku, variasi menu seperti ini membuat Tomicha punya peluang menjangkau lebih banyak pelanggan. Ada menu untuk first timer, ada juga menu yang cocok buat orang yang memang sudah jatuh cinta sama matcha.

My Personal Pick: Tim Choco-cha & Mat-cha 

Setelah nyobain beberapa menu Tomicha, ada dua varian yang selalu jadi favoritku, yaitu Choco-cha dan Mat-cha.

Kalau lagi pengen minuman yang rasanya comforting, aku hampir selalu pilih Choco-cha. Perpaduan cokelat dan matchanya menurutku balance banget. Rasa matchanya masih terasa, tapi cokelatnya bikin keseluruhan minuman jadi lebih creamy dan nggak terlalu earthy. Buat orang yang baru mulai suka matcha, menurutku ini adalah menu yang paling aman untuk dicoba.

Sementara itu, Mat-cha jadi pilihanku kalau lagi pengen menikmati rasa matcha yang lebih autentik. Dibanding varian lain, menu ini memang lebih simple, tapi justru di situlah daya tariknya. Rasanya creamy, tingkat manisnya pas, dan karakter matchanya tetap terasa. Buatku, Mat-cha adalah tipe minuman yang enak dinikmati sambil ngerjain tugas, baca buku, atau sekadar recharge setelah hari yang cukup hectic.

Of course, selera setiap orang pasti beda. Ada yang mungkin lebih suka perpaduan kopi di Kohi-cha atau kesegaran Berry-cha. Tapi kalau ditanya menu yang paling aku rekomendasikan buat first timer, jawabanku tetap Choco-cha. Setelah mulai suka sama rasa matcha, baru deh lanjut coba Mat-cha buat menikmati rasa matcha yang lebih original.

Produk Enak Aja Nggak Cukup

Let’s be honest.

Kalau ada dua brand yang sama-sama jual matcha dengan harga mirip, kemungkinan besar kita bakal buka Instagram mereka dulu sebelum memutuskan beli.

Feed-nya menarik nggak?

Packaging-nya lucu nggak?

Kontennya bikin penasaran nggak?

Karena sekarang kita nggak cuma beli minuman. Kita juga membeli experience.

Menurutku, inilah alasan kenapa digital marketing menjadi sangat penting, terutama untuk UMKM seperti Tomicha. Di era media sosial, first impression sering kali datang dari layar handphone, bukan dari rasa produknya.

Kalau Aku Jadi Tim Marketing Tomicha…

Menurutku Tomicha sebenarnya sudah punya modal yang bagus. Nama brand-nya mudah diingat, desain botolnya punya ilustrasi kucing yang menggemaskan, dan warna hijau matchanya sendiri sudah sangat eye-catching.

Kalau aku jadi bagian dari tim marketing Tomicha, ada beberapa ide konten yang mungkin akan aku coba.

1. Behind The Bottle

Video singkat proses pembuatan matcha mulai dari menuang susu, mengaduk matcha, sampai close-up tekstur minumannya. Konten seperti ini sederhana, tapi justru satisfying buat ditonton dan sering menarik perhatian di TikTok maupun Instagram Reels.

2. Matcha 101

Masih banyak orang yang belum tahu perbedaan matcha dan green tea. Konten edukasi ringan seperti “Myth vs Fact” bisa membantu orang mengenal matcha tanpa terasa seperti sedang membaca materi pelajaran.

3. Which Tomicha Are You?

Konten interaktif seperti “Kalau kamu lagi butuh semangat kerja, pilih Kohi-cha. Kalau lagi butuh comfort drink, pilih Choco-cha.” Selain seru, konten seperti ini juga bisa membantu pelanggan menentukan menu yang sesuai dengan preferensi mereka.

4. Customer Stories

Menurutku, testimoni pelanggan jauh lebih meyakinkan dibanding iklan. Tomicha bisa me-repost foto atau video pelanggan yang menikmati produknya sebagai bentuk apresiasi sekaligus membangun kepercayaan calon pembeli.

5. Seasonal Campaign

Misalnya membuat campaign bertema “Matcha Mood of The Day” atau challenge sederhana yang mengajak pelanggan mengunggah momen menikmati Tomicha. Cara seperti ini bisa meningkatkan interaksi sekaligus memperluas jangkauan brand.

Branding Is More Than Just A Logo

Banyak orang mengira branding hanya soal logo atau warna. Padahal menurutku branding adalah bagaimana sebuah brand membuat orang mengingat perasaan tertentu.

Saat melihat Tomicha, aku langsung teringat dengan kesan yang clean, simple, dan calming. Mulai dari pilihan warna, desain botol, sampai ilustrasi kucing pada labelnya, semuanya terasa konsisten. Hal-hal kecil seperti ini sering kali justru menjadi alasan seseorang mengingat sebuah brand.

Di era digital, identitas visual yang kuat bisa menjadi pembeda di tengah banyaknya kompetitor. Apalagi target pasar Tomicha didominasi anak muda yang sangat aktif di media sosial dan cenderung tertarik pada brand dengan visual yang menarik.

At The End of The Day…

Menurutku Tomicha sudah punya fondasi yang kuat. Produknya variatif, harganya masih ramah di kantong mahasiswa, dan identitas brand-nya juga sudah mulai terbentuk. Tinggal bagaimana mereka lebih aktif membangun cerita di balik produknya dan lebih konsisten hadir di media sosial.

Karena sekarang, digital marketing bukan cuma soal upload foto produk setiap hari. Digital marketing adalah bagaimana sebuah brand bisa membuat orang berhenti scrolling selama beberapa detik, penasaran, lalu akhirnya berkata,

“Kayaknya besok aku mau coba Tomicha deh.”

Dan buatku pribadi, setelah nyobain beberapa variannya, aku bisa bilang kalau Choco-cha dan Mat-cha adalah dua menu yang paling memorable. Semoga ke depannya Tomicha terus berkembang, semakin dikenal banyak orang, dan membuktikan bahwa UMKM lokal juga bisa bersaing lewat kreativitas, kualitas produk, dan strategi digital marketing yang tepat.

Referensi

Chaffey, D. (2022). Digital Marketing: Strategy, Implementation and Practice. Pearson.

Kotler, P., & Keller, K. L. (2022). Marketing Management (16th ed.). Pearson.

Matcha.com. (n.d.). What Is Matcha? https://matcha.com