Mengubah Resah, Gundah Menjadi Rupiah Seni Melahirkan Produk yang Memang Dicari Pasar

4–6 minutes

Banyak orang bilang kalau mau mulai bisnis itu yang penting jalan aja dulu. Modal nekat, istilahnya. Nasihat ini gak sepenuhnya salah karena keberanian buat melangkah memang sering kali jadi bagian paling berat. Tapi, kalau cuma modal nekat tanpa strategi, yang ada tabungan habis di awal dan produk berakhir menumpuk di gudang karena gak ada yang beli. Kenyataan di lapangan sering kali sesadis itu buat para wirausahawan pemula.

Membuat sebuah kreasi, baik itu barang yang bisa dipegang maupun jasa yang menawarkan solusi sebenarnya ada seninya. Kunci utamanya bukan sekadar tentang seberapa bagus ide itu di kepala kita, melainkan tentang apakah ada orang di luar sana yang benar-benar butuh dan rela mengeluarkan dompet mereka demi ide tersebut.

Langkah paling awal yang sering dilewatkan banyak orang adalah terlalu jatuh cinta pada idenya sendiri. Seringkali kita jatuh terlalu dalam terhadap ide kita sendiri, merasa ide kita yang paling jenius sedunia. Misalnya membuat kripik pisang rasa moka cabai hijau. Memang unik, tapi pertanyaanya: apakah pasar benar-benar memakannya? Atau jangan-jangan itu hanya selera pribadi dan beberapa orang dilingkungan terdekatmu saja?

Wirausaha yang sukses biasanya lahir dari sifat peka dan hobi mengamati sekitar. Bisnis yang bertahan lama umumnya adalah bisnis yang bisa berhasil menjawab keresahan orang lain. Coba perhatikan sekeliling kita, apa saja hal-hal yang sering dikeluhkan orang lain atau di media sosial? ketika kita membuat barang, jangan cuma membuat baju kaos polos biasa karena semua orang juga bisa melakukannya. Cobalah dengan membuat perbedaan dengan yang biasanya, misalnya baju dengan berbahan khusus yang sangat adem untuk orang yang gampang berkeringat di cuaca tropis, atau potongan pakaian yang membuat tubuh lebih terlihat proporsional.

Hal yang sama berlaku kalau kita ingin menawarkan jasa. Jangan hanya sekedar membuat jasa titip atau jastip umum yang saingannya udah jutaan. Coba cari yang lebih spesifik, seperti jastip suku cadang motor tua yang langka, di mana orang lain malas mencarinya sendiri ke pasar loak. Ketika produk atau jasa kita menjadi jawaban langsung dari masalah hidup seseorang, mereka tidak akan pikir dua kali untuk mengeluarkan uang.

Setelah menemukan masalah yang ingin diselesaikan, tantangan berikutnya adalah menahan diri untuk tidak langsung memproduksi dalam jumlah besar. Di sinilah banyak pemula terjebak dalam sikap perfeksionis yang keliru. Mereka merasa kalau mau jualan kue, harus langsung menyewa ruko di pinggir jalan, membeli oven raksasa seharga puluhan juta, dan mencetak kemasan mahal sebanyak ribuan lembar. Padahal, mereka sendiri belum tahu apakah kue tersebut cocok di lidah masyarakat atau tidak. Ini namanya berjudi dengan modal, bukan berbisnis.

Pendekatan yang lebih aman adalah dengan membuat versi paling simpel dan murah dari produk kita, yang penting sudah layak dicoba. Bikin saja satu atau dua loyang kue di dapur rumah dengan alat seadanya, lalu bagikan sebagai tester ke tetangga atau teman-teman terdekat. Mintalah masukan yang sejujur-jujurnya dari mereka. Dengarkan baik-baik kalau ada yang bilang kuenya kurang manis, teksturnya terlalu keras, atau kemasannya membuat tangan belepotan. Menerima kritikan tajam di awal itu jauh lebih murah harganya dibandingkan kita terlanjur memproduksi ribuan boks yang akhirnya tidak laku karena rasanya tidak pas.

Selain urusan rasa atau fungsi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa visual memegang peran yang sangat besar di era sekarang. Orang-orang zaman sekarang cenderung “makan” menggunakan mata mereka terlebih dahulu. Sebelum lidah sempat mencicipi, atau sebelum seseorang merasakan seberapa hebatnya jasa yang kita tawarkan, mata pembeli lah yang memberikan penilaian pertama.

Kemasan yang asal-asalan, seperti menggunakan plastik kiloan bening yang hanya diikat karet, akan membuat produk kita dinilai murah, meskipun rasanya setara dengan makanan restoran bintang lima. Sebaliknya, kemasan yang rapi, bersih, dan punya karakter kuat akan menaikkan nilai jual produk berkali-kali lipat. Kita tidak perlu langsung menyewa desainer mahal. Memanfaatkan aplikasi desain gratisan yang ada saat ini sudah lebih dari cukup, asalkan kita konsisten menggunakan warna dan logo yang mewakili kepribadian bisnis kita. Jika produk kita berbentuk jasa, maka “kemasan” itu berupa cara kita membalas pesan pelanggan dengan ramah, kerapian proposal penawaran, serta keindahan portofolio yang kita pajang di media sosial.

Satu hal lagi yang sering menjadi jebakan batman bagi wirausahawan baru adalah perang harga. Banyak yang berpikir bahwa cara paling cepat untuk laku adalah dengan menjual produk semurah mungkin di bawah harga kompetitor. Strategi ini sangat berbahaya dan melelahkan. Jika kita hanya fokus pada harga murah, besok lusa akan selalu ada kompetitor baru dengan modal lebih besar yang berani menjual jauh lebih murah lagi.

Alih-alih menurunkan harga sampai mencekik diri sendiri, hitunglah semua biaya dengan teliti sejak awal. Jangan hanya menghitung bahan baku utamanya saja, tapi masukkan juga biaya tak terlihat seperti gas, listrik, kuota internet untuk membalas chat, hingga bensin untuk belanja. Dan yang paling penting, hargai tenaga serta waktu kita sendiri dengan memasukkan komponen gaji ke dalamnya. Setelah semua biaya dasar itu ketemu, barulah kita tambahkan keuntungan yang masuk akal. Jika produk kita unik dan dikemas dengan profesional, pasar yang tepat tidak akan keberatan membayar sedikit lebih mahal.

Pada akhirnya, membuat sebuah produk itu mirip sekali dengan proses PDKT. Kita tidak bisa memaksa seseorang langsung suka kepada kita tanpa kita mau tahu apa yang sedang mereka butuhkan. Kita harus menurunkan ego, mendengarkan apa keluhan mereka, baru kemudian hadir membawa solusi yang tepat.

Tidak perlu menunggu sampai semua hal menjadi 100% sempurna baru berani membuka usaha. Tidak pernah ada produk di dunia ini yang langsung sempurna di hari pertamanya diluncurkan. Kesempurnaan itu akan kita temukan di sepanjang jalan, lewat evaluasi, trial and error, serta masukan dari para pelanggan setiap hari. Yang paling penting adalah memulainya dengan strategi yang matang dan kepala dingin, bukan sekadar ikut-ikutan tren yang sifatnya musiman.