Kalian pernah gak sih merasa lelah melihat feed media sosial yang dipenuhi produk yang serupa dengan harga saling “banting”? Di era di mana digital economy tumbuh dan berevolusi dengan sangat cepat sehingga akses terhadap pasar global menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, siapa saja bisa berjualan namun di sisi lain, pasar menjadi sangat crowded.
Fenomena ini sering kali menjebak pelaku usaha, terutama UMKM, ke dalam “perang harga” yang berdarah-darah. Padahal jika sekadar ikut-ikutan tren teknologi tanpa strategi yang jelas hanya akan menyebabkan bisnis jalan di tempat. Penting untuk dicatat bahwa transformasi digital itu bukan sekadar soal membuat akun media sosial atau punya website. Mengutip riset Stonehouse dan Konina (2019), 1tantangan terbesar manajemen saat ini adalah mengubah fundamental bisnis. Digitalisasi seharusnya dieksploitasi untuk memperbaiki proses yang ada, sekaligus dieksplorasi untuk menciptakan model bisnis baru. Artinya, jangan gunakan teknologi canggih hanya untuk memindahkan ‘cara dagang pasar tradisional’ ke internet tanpa penyesuaian strategi. Jika mindset-nya masih ‘asal barang laku’, kamu akan tergilas oleh pemain global yang punya modal lebih besar.
Pertama kita perlu Memahami Branding di Era Algoritma
Di era algoritma, “transmisi nilai” menjadi kunci. Mengapa brand awareness (kesadaran merek) jauh lebih krusial daripada sekadar iklan “Diskon 50%”? Karena konsumen digital tidak hanya membeli komoditas, akan tetapi mereka membeli cerita dan pengalaman.
Secara psikologis, konsumen digital mencari koneksi emosional. Riset yang dilakukan oleh Ahmed et al. (2024) menemukan bahwa keterlibatan konsumen dalam storytelling pemasaran (khususnya di industri hospitality) dibangun melalui emotional engagement dan pengalaman yang imersif.2 Konsumen ingin merasa “tenggelam” dalam dunia brand kamu.
Selain itu, studi mengenai Digital Marketing pada produk Cokelat Monggo di Yogyakarta membuktikan bahwa pemasaran digital berpengaruh signifikan terhadap peningkatan brand image dan brand awareness, yang pada akhirnya menjadi penentu keputusan pembelian. 3Jadi, sebelum mereka menekan tombol “Checkout”, mereka harus sudah jatuh cinta dulu pada image yang kamu bangun.
Yang Kedua adalah Buat Strategi Utama Branding Produk Digital
Bagaimana cara menerjemahkan teori tersebut ke dalam aksi nyata? Berikut adalah strategi yang bisa kamu terapkan:
1. Visual Identity Is More Than Just Color
Identitas visual adalah wajah dari brand kamu. Dalam sebuah penelitian mengenai perancangan visual branding merek “Dolien” (donat bertema alien), ditemukan bahwa proses desain harus melalui tahapan pra desain, desain, dan pasca desain yang matang.
Proses ini tidak bisa instan. Dalam riset Dolien tersebut, tahap Pra-Desain melibatkan riset mendalam tentang siapa target audiensnya, apa yang mereka tonton, apa warna kesukaan mereka. Kemudian masuk ke Tahap Desain, di mana eksekusi visual dilakukan secara konsisten, bukan belang-betong. Terakhir, ada Tahap Pasca-Desain, yaitu evaluasi. Brand harus berani menguji apakah logo atau kemasan baru mereka benar-benar membedakan produk dari kompetitor, atau justru malah membuatnya terlihat makin pasaran.
Visual yang unik dan konsisten di semua platform mulai dari Instagram, TikTok, hingga kemasan akan membantu membedakan produkmu dari kompetitor.
2. Storytelling The Heart of Your Brand
Storytelling adalah senjata paling ampuh. Penelitian menunjukkan bahwa brand storytelling memiliki peran krusial dalam meningkatkan daya tarik dan memperkuat hubungan emosional dengan konsumen.
Mari kita bedah lebih dalam. Riset komprehensif dari Ahmed dan tim (2024) memecah keterlibatan storytelling ini menjadi empat dimensi yang wajib kamu penuhi jika ingin brandmu diingat.
Mari kita bedah lebih dalam. Riset komprehensif dari Ahmed dan tim (2024) memecah keterlibatan storytelling ini menjadi empat dimensi yang wajib kamu penuhi jika ingin brand-mu diingat:
1. Isyarat Kontekstual (Contextual Cues): Konsumen butuh petunjuk visual yang jelas. Apakah warna, font, dan gaya bahasa kontenmu sudah satu frekuensi dengan nilai produkmu?
2. Keterlibatan Emosional (Emotional Engagement): Kontenmu harus bisa memancing rasa entah itu tawa, haru, atau validasi diri.
3. Brand yang kuat membuat konsumen berpikir dan berimajinasi tentang diri mereka saat menggunakan produkmu.
4. Pengalaman Imersif: Ini level tertingginya, di mana konsumen merasa benar-benar tenggelam dalam dunia yang kamu ciptakan, seolah-olah produkmu adalah pelarian dari realitas.”
4Cerita yang baik harus bisa memicu theatre of the mind pelangganmu.
Coba bandingkan dua narasi ini. Narasi A: “Jual Sepatu Kulit. Diskon 20%. Bahan Awet.” Narasi B: “Setiap pasang sepatu ini dijahit tangan oleh Pak Budi, pengrajin generasi ketiga di Garut, yang mendedikasikan 40 tahun hidupnya untuk detail yang sempurna.”
Mana yang terasa lebih mahal? Narasi B memicu imajinasi. Konsumen tidak keberatan membayar lebih untuk sebuah dedikasi dan cerita, dibandingkan sekadar membeli “alas kaki”. Inilah yang dimaksud dengan memicu mental cognition pelanggan.
3. Unique Selling Proposition (USP)
Temukan apa yang membuatmu beda. Apakah proses pembuatannya? Apakah nilai sosial yang kamu bawa? Digital technologies telah mengubah target utama perusahaan menjadi pelanggan dan pasar itu sendiri. Kamu harus bisa menjawab pain point pelanggan dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh pesaing.
Dan Yang Ketiga Manfaatkan Social Proof & Komunitas
Di dunia maya, kepercayaan adalah mata uang. Sebuah studi oleh Majeed et al. (2021) tentang pengaruh media sosial terhadap niat beli mengungkapkan bahwa information sharing (berbagi informasi) dan “pengawasan” (surveillance) di media sosial memiliki efek positif yang signifikan terhadap brand equity (ekuitas merek). 5
Kekuatan User Generated Content (UGC)
Ketika pelanggan memposting produkmu di story mereka, itu adalah validasi yang jauh lebih kuat daripada klaim sepihakmu. Interaksi sosial di platform digital, meskipun terkadang memiliki dinamika yang kompleks, tetap menjadi sarana vital untuk membangun brand equity.
Lantas, bagaimana cara memancing agar pelanggan mau memposting produkmu secara sukarela? Kamu harus menciptakan Shareable Moments. Fokuslah pada kemasan (packaging). Buatlah pengalaman unboxing yang begitu estetis atau unik sehingga pelanggan merasa “berdosa” jika tidak memotretnya sebelum dibuka. Ingat, konten UGC yang mereka buat adalah iklan gratis yang paling dipercaya oleh algoritma maupun manusia.
Interaksi vs Transaksi
Fokuslah pada engagement. Bangun hubungan dua arah. Jangan hanya memposting katalog; ajak pengikutmu berdiskusi, bertanya, dan menjadi bagian dari komunitasmu. Ingat, media sosial memiliki peran relevan dalam menciptakan brand equity dan mempengaruhi keputusan konsumen.
Adapun Studi Kasus Singkat Dari Brand Dolien Sebuah Donat Dari Luar Angkasa
Mari kita lihat contoh nyata dari riset Fajrina et al. tentang merek Dolien.
Dolien adalah merek donat yang mengusung konsep luar angkasa dan tema alien, ini adalah sebuah ide yang sangat niche dan unik .
- Tantangan : Bagaimana membuat donat (produk umum) terlihat menonjol?
- Strategi : Mereka menerapkan brand storytelling pada visual branding mereka. Desain visual dievaluasi berdasarkan preferensi audiens dan konsep cerita “alien” tersebut.
- Hasil : Penerapan cerita ini berhasil memperkuat identitas merek, meningkatkan daya tarik, dan membedakannya secara signifikan dari kompetitor.
Ini membuktikan bahwa dengan narasi yang kuat (bahkan yang imajinatif seperti alien), sebuah produk bisa memiliki “jiwa” dan menghindari perbandingan harga apple-to-apple dengan donat biasa.6
Bayangkan sebuah donat yang biasanya identik dengan warna-warni pastel yang manis dan feminim, tiba-tiba hadir dengan nuansa gelap, neon, dan futuristik ala galaksi. Dolien berani menabrak pakem tersebut. Mereka menggunakan elemen visual seperti tipografi fiksi ilmiah dan palet warna yang tidak lazim untuk makanan. Justru kontradiksi inilah yang membuat mata konsumen berhenti scrolling. Mereka tidak lagi bertanya berapa harganya?, tapi bertanya ini apa, kok keren?
Nah, jadi sebenernya branding itu bukanlah biaya, melainkan investasi jangka panjang. Di tengah gempuran digital disruption, perusahaan besar maupun UMKM, harus mengubah struktur organisasi dan pola pikir mereka menjadi lebih fleksibel dan berbasis jaringan. Dengan menggabungkan visual identity yang kuat, storytelling yang menyentuh emosi, dan memanfaatkan social proof, kamu bisa memenangkan hati konsumen tanpa harus membanting harga.
Jadi jangan menunggu pasar menjadi lebih sepi (karena itu tidak mungkin terjadi). Mulailah merumuskan identitas brand kamu hari ini. Temukan ceritamu, bangun visualmu, dan biarkan dunia digital mengenal siapa kamu sebenarnya. Let’s win the market with value, not just price!
- Stonehouse, G. H., & Konina, N. Y. (2019). Management challenges in the age of digital disruption. Advances in Economics, Business and Management Research, 119. https://doi.org/10.2991/aebmr.k.200201.001 ↩︎
- Ahmed et al. (2024) Ahmed, S., Sharif, T., Ting, D. H., & Sharif, S. J. (2024). Crafting emotional engagement and immersive experiences: Comprehensive scale development for and validation of hospitality marketing storytelling involvement. Psychology & Marketing. https://doi.org/10.1002/mar.21994 ↩︎
- Fitriana & Aurinawati (2020) Fitriana, H., & Aurinawati, D. (2020). Pengaruh digital marketing pada peningkatan brand awareness dan brand image terhadap keputusan pembelian produk Cokelat Monggo di Yogyakarta. INOBIS: Jurnal Inovasi Bisnis dan Manajemen Indonesia, 3(3). https://doi.org/10.31842/jurnalinobis.v3i3.147 ↩︎
- Ahmed et al. (2024) Ahmed, S., Sharif, T., Ting, D. H., & Sharif, S. J. (2024). Crafting emotional engagement and immersive experiences: Comprehensive scale development for and validation of hospitality marketing storytelling involvement. Psychology & Marketing. https://doi.org/10.1002/mar.21994 ↩︎
- Majeed et al. (2021) Majeed, M., Owusu-Ansah, M., & Ashmond, A. A. (2021). The influence of social media on purchase intention: The mediating role of brand equity. Cogent Business & Management, 8(1), 1944008. https://doi.org/10.1080/23311975.2021.1944008 ↩︎
- Fajrina et al. (2024) Fajrina, N., Maulana, M. A., Belinda, N., Rahmawati, S., Amanda, V. T., & Aprilia, V. (2024). Brand storytelling sebagai strategi perancangan visual branding merek Dolien. SNIV: Seminar Nasional Inovasi Vokasi. https://prosiding.pnj.ac.id/index.php/sniv/article/view/2326 ↩︎