Membangun Usaha Lokal Berdaya Saing melalui Kewirausahaan, Branding Produk, Digital Marketing, dan Business Matching: Studi Kasus SOTHU (Tahu Bulat)

7–10 minutes

Pendahuluan

Kewirausahaan merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya terbatas pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah yang mampu memanfaatkan potensi lokal. Dalam kondisi persaingan pasar yang semakin ketat, pelaku usaha dituntut untuk tidak hanya mampu memproduksi barang atau jasa, tetapi juga membangun identitas merek, memanfaatkan teknologi digital, serta menciptakan jaringan kemitraan yang berkelanjutan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan besar dalam cara konsumen mencari, memilih, dan membeli produk. Hal ini menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi melalui strategi digital marketing, branding produk yang kuat, serta pendekatan business matching agar usaha dapat terus berkembang. Bagi mahasiswa, fenomena ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam membangun usaha sejak dini, sejalan dengan semangat kewirausahaan dan program pengembangan seperti P2MW.

Salah satu contoh usaha lokal yang mampu bertahan dan berkembang melalui proses tersebut adalah SOTHU, produsen tahu bulat dan sotong yang berasal dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Usaha ini tumbuh dari kondisi yang sangat sederhana, namun mampu membangun brand yang kuat dan memiliki daya saing melalui konsistensi kualitas, inovasi produk, serta adaptasi terhadap perkembangan pasar. Artikel ini membahas perjalanan kewirausahaan SOTHU secara komprehensif, mulai dari latar belakang usaha, proses produksi, kreasi produk, branding, digital marketing, business matching, hingga relevansinya bagi kewirausahaan mahasiswa.


Latar Belakang Usaha dan Awal Mula Berdirinya SOTHU

SOTHU berdiri pada Januari 2015 dengan nama awal Tahu Putra Mandiri. Usaha ini dirintis oleh Agus Hendar, seorang sarjana pertanian yang memiliki ketertarikan pada bidang pengolahan pangan. Ide usaha ini muncul bukan dari perencanaan bisnis yang matang, melainkan dari keberanian melihat peluang pasar saat produk tahu bulat sedang viral di media sosial. Pada saat itu, banyak konsumen mencari produk tahu bulat berkualitas untuk dijual kembali di berbagai daerah.

Dengan keterbatasan modal dan fasilitas produksi, pendiri usaha memberanikan diri menawarkan produk meskipun belum memiliki pabrik, mesin produksi, maupun jaringan distribusi yang jelas. Langkah awal yang dilakukan adalah mengirimkan sampel tahu bulat kepada calon pembeli di luar daerah. Keputusan sederhana ini ternyata menjadi titik balik penting dalam perjalanan usaha. Respons pasar yang sangat positif mendorong peningkatan permintaan secara signifikan, sehingga usaha mulai berkembang dari skala kecil menuju skala produksi yang lebih serius.

Perjalanan awal ini menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak selalu berawal dari kondisi yang ideal. Keberanian mengambil risiko, kemauan untuk belajar dari proses, serta ketekunan dalam menjalankan usaha menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan. Dari sinilah nilai kemandirian dan ketangguhan menjadi karakter utama usaha SOTHU.


Nilai Kewirausahaan dalam Perjalanan Usaha

Nilai kewirausahaan yang tercermin dalam perjalanan SOTHU meliputi kemandirian, keberanian mengambil keputusan, serta konsistensi dalam menjaga kualitas. Usaha ini dibangun tanpa dukungan modal besar atau investor, melainkan dari hasil kerja keras dan pengelolaan usaha secara bertahap. Setiap keuntungan yang diperoleh digunakan kembali untuk memperbaiki proses produksi, membeli peralatan, dan meningkatkan kapasitas usaha.

Selain itu, SOTHU juga menunjukkan sikap adaptif terhadap perubahan pasar. Ketika permintaan meningkat, usaha ini tidak hanya fokus pada kuantitas produksi, tetapi juga tetap menjaga kualitas produk agar kepercayaan konsumen tidak menurun. Nilai-nilai kewirausahaan ini menjadi fondasi penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.


Proses Produksi sebagai Bentuk Komitmen terhadap Kualitas

Salah satu kekuatan utama SOTHU terletak pada proses produksinya yang dilakukan secara bertahap dan terkontrol. Produk tahu bulat diolah dari bahan baku utama berupa kedelai pilihan tanpa menggunakan bahan pengawet kimia. Proses produksi dimulai dari perendaman kedelai, penggilingan, pemanasan sari kedelai, penyaringan, penggumpalan, pencetakan, hingga pembentukan tahu bulat.

Setiap tahapan produksi dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan standar keamanan pangan. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan produk yang layak jual, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk. Konsistensi dalam proses produksi menjadi kunci agar rasa, tekstur, dan kualitas tahu bulat tetap terjaga meskipun jumlah produksi meningkat.

Selain tahu bulat, SOTHU juga memproduksi sotong sebagai variasi produk. Proses produksi sotong dilakukan dengan bahan baku yang berkualitas dan teknik pengolahan yang sederhana namun higienis. Dengan menjaga standar produksi yang baik, SOTHU mampu menghasilkan produk yang aman dikonsumsi dan memiliki cita rasa yang konsisten.


Kreasi dan Inovasi Produk dalam Menjawab Kebutuhan Pasar

Dalam dunia usaha yang kompetitif, kreasi produk menjadi salah satu faktor penting untuk bertahan. SOTHU tidak hanya memproduksi tahu bulat dalam bentuk standar, tetapi juga menghadirkan variasi produk berupa sotong sebagai alternatif pilihan bagi konsumen. Kreasi produk ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar yang menginginkan variasi camilan dengan rasa gurih dan harga terjangkau.

Inovasi juga dilakukan pada aspek tekstur dan pengemasan. Produk dikemas secara praktis dan siap goreng, sehingga memudahkan konsumen maupun mitra penjualan dalam proses distribusi. Dengan kemasan yang rapi dan higienis, produk SOTHU menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Kreasi produk yang dilakukan SOTHU membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus bersifat kompleks. Inovasi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan konsumen justru lebih efektif dalam meningkatkan daya saing usaha dan memperluas pasar.


Branding Produk sebagai Strategi Diferensiasi

Seiring berkembangnya usaha, muncul tantangan berupa banyaknya produsen tahu bulat dengan nama yang hampir serupa. Hal ini berpotensi menurunkan citra merek dan membingungkan konsumen. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada akhir tahun 2024 dilakukan proses rebranding menjadi SOTHU, singkatan dari Sotong Tahu.

Brand SOTHU dibangun dengan identitas yang lebih modern, sederhana, dan mudah diingat. Nama ini juga memiliki makna filosofis tentang proses menjadi tahu yang sejati melalui perjuangan, pembelajaran, dan konsistensi. Rebranding ini diperkuat dengan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sehingga memberikan rasa aman baik bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Branding yang kuat membantu usaha membangun kepercayaan, menciptakan loyalitas pelanggan, serta membedakan produk dari kompetitor di pasar. Dalam konteks UMKM, branding menjadi alat penting untuk meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat posisi usaha.


Digital Marketing sebagai Strategi Adaptasi Usaha

Perubahan perilaku konsumen menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi dengan teknologi digital. SOTHU awalnya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut, namun mulai memanfaatkan digital marketing sebagai sarana promosi dan komunikasi. Media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan website digunakan untuk menampilkan produk, membagikan proses produksi, serta menceritakan perjalanan usaha.

Melalui konten visual dan cerita yang autentik, SOTHU tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Digital marketing memungkinkan usaha menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar, sehingga sangat relevan bagi UMKM dengan keterbatasan modal.

Selain itu, kehadiran di platform digital membantu meningkatkan brand awareness dan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk agen penjualan dan mitra distribusi.


Business Matching dan Strategi Kemitraan

Untuk memperluas distribusi dan meningkatkan volume penjualan, SOTHU menerapkan strategi business matching melalui kerja sama dengan agen dan mitra penjualan. Sistem kemitraan dilakukan dengan skema bagi hasil yang jelas dan saling menguntungkan. Model ini membuka peluang usaha bagi pihak lain sekaligus memperkuat jaringan distribusi produk.

Melalui kemitraan, produk SOTHU dapat menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas tanpa harus menambah biaya operasional secara signifikan. Strategi ini mencerminkan konsep kewirausahaan kolaboratif yang menekankan pentingnya jaringan dan sinergi dalam pengembangan usaha.


Relevansi dengan Program P2MW

Perjalanan SOTHU sangat relevan dengan semangat Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Usaha ini menunjukkan bahwa bisnis dapat dikembangkan secara bertahap melalui inovasi produk, branding yang tepat, pemanfaatan digital marketing, serta kerja sama yang strategis.

Bagi mahasiswa, kisah SOTHU dapat menjadi pembelajaran nyata tentang bagaimana teori kewirausahaan diterapkan dalam praktik. Proses membangun usaha dari nol, menghadapi tantangan, dan beradaptasi dengan perubahan pasar menjadi pengalaman berharga yang dapat dijadikan inspirasi dalam merintis usaha mandiri.


Dampak Sosial dan Keberlanjutan Usaha

SOTHU memberikan dampak sosial dengan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar serta memanfaatkan bahan baku dari pemasok lokal. Usaha ini juga berupaya mengelola limbah produksi secara bertanggung jawab sebagai bagian dari komitmen terhadap lingkungan.

Keberlanjutan usaha menjadi fokus utama dalam pengembangan bisnis. Dengan menjaga kualitas produk, memperkuat branding, dan membangun kemitraan yang sehat, SOTHU berupaya menciptakan usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam jangka panjang.


Tantangan Usaha dan Strategi Menghadapinya

Dalam perjalanannya, SOTHU menghadapi berbagai tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku, persaingan pasar, dan pengelolaan keuangan mitra. Tantangan ini dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi usaha dan meningkatkan kualitas manajemen.

Dengan memanfaatkan digital marketing secara optimal, memperkuat sistem kemitraan, serta menjaga konsistensi kualitas produk, tantangan tersebut dapat dihadapi secara bertahap. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan merupakan bagian dari proses pembelajaran dalam kewirausahaan.


Refleksi Kewirausahaan dan Pembelajaran bagi Mahasiswa

Kisah SOTHU memberikan banyak pembelajaran berharga bagi mahasiswa yang tertarik pada dunia kewirausahaan. Salah satu pelajaran utama adalah pentingnya keberanian untuk memulai, meskipun dengan keterbatasan. Banyak calon wirausaha yang menunda memulai usaha karena merasa belum siap, padahal kesiapan sering kali dibentuk melalui proses.

Selain itu, konsistensi dalam menjaga kualitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar menjadi kunci keberhasilan usaha. Mahasiswa dapat belajar bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang ide yang kreatif, tetapi juga tentang eksekusi yang konsisten dan berkelanjutan.


Penutup

Perjalanan SOTHU membuktikan bahwa usaha lokal dapat berkembang menjadi brand yang berdaya saing melalui strategi kewirausahaan yang tepat. Kreasi produk, branding yang kuat, digital marketing, dan business matching menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Kisah ini menunjukkan bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang modal besar, tetapi tentang keberanian memulai, konsistensi menjalankan usaha, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Diharapkan, SOTHU dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa serta generasi muda dalam membangun usaha mandiri yang berkelanjutan.


Referensi

Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.
Pradiani, T. (2017). Pengaruh Digital Marketing terhadap Peningkatan Volume Penjualan UMKM. Jurnal JIBEKA, 11(2), 46–53.
Susanti, E., & Widajatun, V. W. (2020). Strategi Branding Produk UMKM untuk Meningkatkan Daya Saing. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 7(1), 55–63.
Suryana. (2019). Kewirausahaan: Pedoman Praktis. Salemba Empat.