Dalam ekosistem industri kreatif satu ini, khususnya bidang desain interior, memiliki kemampuan teknis visualisasi yang mumpuni saja tidak lagi menjamin kesuksesan bisnis. Terdapat label negatif di kalangan desainer muda bahwa “karya yang estetis akan mendatangkan klien dengan sendirinya”. Padahal, di pasar yang semakin jenuh, tantangan terbesarnya bukan hanya pada perancangan ruang, melainkan bagaimana mengemas jasa tersebut menjadi sebuah produk bisnis yang bernilai jual tinggi. Dalam mentransformasi keahlian desain menjadi bisnis yang berkelanjutan terdapat sinergi yang penting antara personal branding dan juga digital marketing.
- Jasa Desain sebagai Produk dan Identitas (Product Branding)
Dalam konteks kewirausahaan, mahasiswa desain interior perlu mengubah pola pikir bahwa produk mereka bukan sekadar gambar kerja ataupun rendering 3d, melainkan sebuah “Solusi dan Kepercayaan”. Agar jasa ini dilirik pasar, diperlukan strategi Unique Selling Proposition (USP). Seorang desainer tidak bisa menjadi segalanya untuk semua orang. Memilih spesialisasi atau niche-misalnya fokus pada sustainable design (ramah lingkungan) atau smart living untuk apartemen kecil-akan membuat branding produk jasa tersebut lebih kuat dan mudah diingat oleh calon klien dibandingkan menjadi desainer generalis.
- Edukasi Pasar melalui Digital Marketing Media Sosial
Melalui Digital Marketing Media sosial seperti Instagram dan TikTok seringkali hanya dimanfaatkan sebagai etalase portofolio hasil akhir. Padahal, strategi pemasaran digital yang efektif harus berbasis edukasi dan cerita (storytelling). Calon klien cenderung lebih percaya kepada desainer yang transparan. Konten yang menampilkan proses dibalik layar (behind the scene), seperti pemilihan material atau sketsa konsep, dapat memvalidasi kompetensi desainer tersebut. Selain itu, konten yang bersifat problem-solving (menjawab masalah ruang) akan memposisikan desainer sebagai ahli yang solutif, bukan sekedar dekorator visual.
- Urgensi Personal Branding bagi Desainer Bisnis
Bagi desainer bisnis jasa desain interior adalah bisnis kepercayaan (Trust-based business). Mengutip wawasan dari Forbes dan ArchDaily, klien masa kini cenderung membeli “orangnya” sebelum membeli “jasanya”. Di sini lah personal branding berperan. Karakter, gaya komunikasi, dan nilai-nilai yang ditampilkan sang desainer di ruang digital akan membangun koneksi emosional dengan audiens. Ketika audiens merasa terhubung secara personal dengan visi sang desainer, mereka akan lebih mudah terkonveksi menjadi klien loyal.
Di tengah persaingan industri jasa desain interior yang semakin ketat, membangun nilai jual tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis dan estetika semata. Integrasi antara personal branding yang kuat dan strategi digital marketing yang tepat menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing dan kepercayaan pasar. Personal branding memungkinkan desainer interior menonjolkan karakter, nilai, dan keunikan layanan yang ditawarkan, sementara digital marketing berperan sebagai sarana efektif untuk memperluas jangkauan audiens, meningkatkan visibilitas, serta membangun interaksi yang berkelanjutan dengan calon klien. Melalui pemanfaaatan platform digital secara konsisten dan strategis, jasa desain interior dapat menciptakan diferensiasi yang jelas, memperkuat citra profesional, serta mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di era kompetitif saat ini.
REFERENSI (DAFTAR PUSTAKA)
Berikut adalah sumber referensi yang digunakan sebagai landasan argumen di atas:
ArchDaily. (2018). Why Branding is Essential for Architects. Diakses dari: https://www.archdaily.com/905607/why-branding-is-essential-for-architects
Foyr. (2023). 15 Best Interior Design Marketing Strategies To Get More Clients. Diakses dari: https://foyr.com/learn/interior-design-marketing-strategies/
Forbes Agency Council. (2021). Why Personal Branding Is More Important Than Ever. Forbes. Diakses dari: https://www.forbes.com/sites/forbesagencycouncil/2021/03/24/why-personal-branding-is-more-important-than-ever/