Pendahuluan: Sindrom “Pernah Lihat Ini Sebelumnya”
Jujur aja, pernah gak sih kalian mengalami momen seperti ini:
Kalian baru saja mendapatkan brief proyek yang seru. Semangat membara, kopi sudah diseduh, dan playlist lo-fi sudah diputar. Langkah pertama yang kalian lakukan? Buka Pinterest atau Behance untuk mencari “inspirasi”.
Satu jam berlalu. Kalian menelusuri ratusan gambar. Semuanya terlihat bagus. Sangat bagus, malah. Tapi kemudian, perasaan aneh itu muncul. Kalian mulai merasa bahwa ide yang tadinya kalian anggap brilian, ternyata sudah dilakukan oleh orang lain. Lebih parahnya lagi, gaya ilustrasi yang kalian banggakan, yang kalian pikir adalah “tanda tangan” unik kalian, ternyata mirip dengan ribuan ilustrator lain dari Ukraina, Brasil, atau Korea Selatan.
Tiba-tiba, semangat itu kempes. Muncul suara kecil di kepala: “Buat apa aku bikin ini? Semuanya sudah pernah dibuat. Aku cuma meniru. Aku nggak orisinal.”
Selamat datang di era “Homogenisasi Visual”.
Di zaman di mana kita semua mengonsumsi asupan visual dari algoritma yang sama, memiliki gaya yang benar-benar unik terasa seperti misi mustahil. Pinterest dan Instagram adalah pedang bermata dua, mereka adalah perpustakaan referensi terbesar dalam sejarah manusia, sekaligus mesin fotokopi raksasa yang membuat karya kita cenderung seragam.
Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, kita akan membedah fenomena ini sampai ke akarnya, lalu menyusun strategi bagaimana kalian sebagai desainer grafis atau ilustrator bisa tetap relevan, “unik”, dan yang paling penting bisa mengubah keahlian kalian menjadi produk jasa yang bernilai jual tinggi, tanpa harus terjebak menjadi peniru.
Apakah orisinalitas benar-benar sudah mati? Mari kita bedah.
Bagian 1: Jebakan Algoritma dan Budaya “Moodboard”
Sebelum kita bicara solusi, kita harus paham dulu masalahnya. Kenapa sekarang rasanya semua ilustrasi flat design terlihat sama? Kenapa semua logo startup teknologi terlihat mirip?
Jawabannya ada pada bagaimana otak kita dan algoritma bekerja sama.
Dalam psikologi kognitif, ada konsep yang disebut Exposure Effect. Kita cenderung menyukai apa yang sering kita lihat. Algoritma media sosial didesain untuk menyuguhkan konten yang memiliki engagement tinggi. Jika gaya ilustrasi “Corporate Memphis” (kalian tahu, ilustrasi orang-orang dengan tangan besar dan kepala kecil yang sering dipakai Big Tech) sedang populer, algoritma akan membanjiri feed kalian dengan gaya itu.
Tanpa sadar, standar “bagus” di otak kalian terkalibrasi ulang oleh algoritma.
Akibatnya, saat klien meminta kalian membuat Moodboard, kalian mengambil referensi dari sumber populer yang sama dengan desainer lain. Hasilnya? Sebuah siklus daur ulang visual. Kita tidak sedang menciptakan hal baru; kita hanya memvariasikan apa yang sedang tren.
Dalam buku Culture Crash: The Killing of the Creative Class, Scott Timberg membahas bagaimana konsolidasi budaya digital sering kali mempersempit spektrum apa yang dianggap “layak” secara komersial. Kita jadi takut bereksperimen karena takut tidak “sesuai tren” atau tidak disukai klien yang juga melihat referensi yang sama di Pinterest.
Bagian 2: Definisi Ulang “Orisinalitas” (Berhenti Berusaha Menjadi Dewa)
Kabar baiknya: Beban untuk menjadi “100% orisinal” itu sebenarnya tidak perlu ada. Kenapa? Karena orisinalitas murni itu mitos.
Austin Kleon, dalam bukunya yang sangat populer Steal Like an Artist (2012), mengatakan sebuah kalimat yang sangat melegakan:
“Nothing is original. All creative work builds on what came before.” (Tidak ada yang orisinal. Semua karya kreatif dibangun di atas apa yang ada sebelumnya).
Jika kalian berpikir orisinalitas artinya menciptakan sesuatu dari kehampaan (sesuatu yang belum pernah ada sama sekali di alam semesta), kalian akan stres dan macet. Manusia bukan Tuhan. Kita tidak menciptakan; kita mensintesis.
Orisinalitas Baru = Sintesis yang Unik.
Apa maksudnya? Bayangkan gaya ilustrasi kalian adalah sebuah resep masakan. Jika kalian hanya meniru satu ilustrator idola kalian, itu namanya plagiat (atau KW super). Tapi, jika kalian mengambil palet warna dari poster film tahun 80-an, menggabungkannya dengan tekstur komik Jepang, lalu menerapkan komposisi fotografi arsitektur brutalism… Boom! Itu orisinal.
Bukan elemen-elemennya yang baru, tapi kombinasinya.
Jadi, tantangan di tengah lautan konten Pinterest bukanlah “bagaimana menggambar sesuatu yang belum pernah dilihat orang,” melainkan “bagaimana menggabungkan referensi-referensi yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang segar.”
Bagian 3: Mengubah “Gaya Unik” Menjadi “Produk Jasa”
Nah, ini adalah bagian dagingnya. Kita bicara bisnis.
Banyak ilustrator terjebak menjual “gambar”.
- “Saya buka komisi gambar wajah, Rp 200.000 per kepala.”
- “Saya terima jasa desain poster.”
Di tengah lautan konten di mana AI (seperti Midjourney) bisa membuat gambar bagus dalam hitungan detik, menjual “gambar cantik” saja tidak lagi cukup. Kalian harus menjual Solusi Terpaket (Productized Service) yang memiliki signature atau ciri khas kalian.
Bagaimana caranya agar jasa ilustrasi kalian menonjol dan tidak dianggap komoditas murah?
1. Jual Proses dan Pemikiran, Bukan Hanya Hasil Akhir
Klien di Pinterest bisa melihat hasil akhir, tapi mereka tidak tahu prosesnya. Jadikan metodologi kalian sebagai nilai jual.
Alih-alih menawarkan “Jasa Ilustrasi Editorial”, cobalah buat paket produk: “Visual Metaphor Service: Paket 5 Ilustrasi Konseptual untuk Brand Teknologi yang Rumit.”
Di sini, kalian tidak menjual gambar tangan/kaki. Kalian menjual kemampuan kalian menerjemahkan konsep abstrak (seperti blockchain atau cloud computing) menjadi metafora visual yang mudah dipahami. Ini adalah skill berpikir, bukan sekadar skill menggambar. AI masih kesulitan memahami nuansa metafora yang cerdas dan kontekstual. Ini adalah celah orisinalitas kalian.
2. Spesialisasi yang Sempit (Niche Down)
Orisinalitas sering kali lahir dari batasan. Cobalah membatasi target pasar atau gaya kalian secara ekstrem.
- Umum: Ilustrator Buku Anak. (Pasar ini sangat jenuh).
- Unik & Terproduk: “Jasa Ilustrasi Buku Anak dengan Gaya Paper-Cut Digital untuk Tema Edukasi Sains.”
Dengan spesialisasi ini, ketika klien mencari “ilustrasi sains yang unik”, nama kalian akan muncul. Kalian tidak bersaing dengan jutaan ilustrator umum, kalian hanya bersaing dengan diri sendiri.
3. Kurasi “Perpustakaan Visual” Sendiri di Luar Algoritma
Ini adalah tips praktis untuk produk jasa kalian. Jangan tawarkan gaya yang sedang tren. Tawarkan gaya yang timeless atau counter-trend.
Untuk melakukan ini, kalian harus melakukan diet digital.
- Tutup Pinterest.
- Buka buku perpustakaan tua.
- Lihat desain kemasan obat tahun 1950-an.
- Perhatikan pola batik atau tenun lokal.
- Amati tekstur tembok jalanan.
Jika sumber inspirasi kalian berbeda dari 99% desainer lain (yang cuma lihat Pinterest), maka output produk jasa kalian otomatis akan terlihat orisinal di mata pasar. Jadikan “Riset Analog” ini sebagai bagian dari fitur premium layanan kalian. Katakan pada klien: “Saya tidak menggunakan template tren. Saya meriset visual historis untuk brand Anda.” Itu nilai tambah yang mahal!
Bagian 4: Menghadapi “Imposter Syndrome” dan AI
Tidak lengkap rasanya bicara soal orisinalitas tanpa menyenggol gajah di pelupuk mata: Artificial Intelligence (AI).
Banyak ilustrator merasa putus asa. “Buat apa saya capek-capek cari gaya unik, kalau AI bisa meniru gaya saya dalam 5 menit?”
Ini kekhawatiran yang valid. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang “Kreasi Produk”.
AI adalah mesin rata-rata. AI dilatih dari miliaran gambar di internet (termasuk Pinterest). Artinya, AI adalah representasi dari “rata-rata” selera visual manusia. AI sangat jago membuat sesuatu yang terlihat “umum dan bagus”.
Di sinilah letak peluang kalian. Jika kalian menjual produk jasa yang sifatnya generik, kalian akan digilas AI. Tapi, orisinalitas manusia punya satu hal yang tidak dimiliki AI: Intensi (Niat) dan Konteks.
Produk jasa kalian harus berbasis pada Empati dan Solusi Masalah, bukan sekadar estetika.
Contoh Transformasi Produk:
- Sebelum (Rawan diganti AI): Jasa bikin logo kopi kekinian.
- Sesudah (Tahan Banting): Paket Branding UMKM Kopi: Mencakup audit visual kompetitor lokal, strategi warna psikologis untuk meningkatkan nafsu makan, dan aset ilustrasi tangan yang “tidak sempurna” (karena ketidaksempurnaan manusiawi (human touch) sekarang menjadi barang mewah).
Dalam buku The Revenge of Analog karya David Sax, dijelaskan bahwa semakin digital dunia ini, semakin manusia merindukan hal-hal yang terasa nyata, taktil, dan berjiwa. Gunakan ini sebagai senjata produk jasa kalian. Tawarkan gaya yang “Kasar”, “Organik”, atau “Bertekstur” yang sulit ditiru oleh kehalusan piksel AI.
Bagian 5: Langkah Konkret Membangun Produk Jasa yang “Unik”
Oke, teorinya sudah cukup. Sekarang apa yang harus kalian lakukan besok pagi? Berikut adalah action plan untuk keluar dari jebakan Pinterest dan membangun produk jasa yang autentik.
Langkah 1: Audit Sumber Masukan (Input Audit) Cek siapa yang kalian follow di Instagram. Jika isinya 100% ilustrator lain, unfollow sebagian. Ganti dengan akun arsitektur, akun sejarah, akun biologi, atau akun fotografi jalanan. Ingat rumus: Input Sampah = Output Sampah. Input Seragam = Output Seragam. Input Beragam = Output Orisinal.
Langkah 2: Tentukan “Aturan Main” (The Constraints) Buat produk jasa dengan batasan ketat. Misalnya, kalian adalah ilustrator yang hanya menggunakan 3 warna spesifik dalam setiap karya. Atau kalian adalah desainer yang selalu menyisipkan elemen tulisan tangan. Konsistensi dalam batasan inilah yang akan membangun personal brand dan orisinalitas. Klien akan datang bukan karena kalian “bisa menggambar apa saja”, tapi karena kalian “ahli dalam gaya X”.
Langkah 3: Namai Gaya Kalian Ini trik marketing produk. Jangan biarkan orang lain melabeli gaya kalian. Beri nama sendiri. Jangan bilang “Gaya saya retro.” Itu membosankan. Bilang “Saya menyediakan layanan ilustrasi Neon-Noir Cyberpunk.” Nama yang spesifik membuat jasa kalian terdengar seperti produk premium yang eksklusif.
Langkah 4: Dokumentasikan dan Bagikan “Behind The Scene” Di era Pinterest, hasil akhir bisa dicuri. Tapi cerita tidak bisa dicuri. Saat memasarkan jasa kalian, tunjukkan sketsa jeleknya, tunjukkan kertas yang kalian remas, tunjukkan buku tua yang jadi referensi. Ini membuktikan kepada klien bahwa karya kalian memiliki kedalaman riset, bukan hasil prompt AI instan. Ini membangun kepercayaan dan memvalidasi harga tinggi.
Kesimpulan: Jadilah Kurator, Bukan Sekadar Kreator
Matinya orisinalitas hanyalah ketakutan yang muncul karena kita terlalu banyak melihat keluar, dan lupa melihat ke dalam.
Di tengah lautan konten Pinterest yang seragam, menjadi unik bukan berarti menjadi aneh. Menjadi unik berarti berani mengurasi (memilih dan memilah) pengaruh-pengaruh yang berbeda dan menyatukannya dengan perspektif pribadi kalian.
Sebagai ilustrator atau desainer yang ingin menjual jasa, tugas kalian bukan lagi sekadar memproduksi gambar cantik. Tugas kalian adalah menjadi Kurator Visual bagi klien kalian. Klien membayar kalian untuk memfilter kebisingan, memilih estetika yang tepat, dan memberikan solusi yang punya “jiwa”.
Jadi, silakan tutup tab Pinterest itu sejenak. Pergilah keluar. Lihatlah pola retakan di aspal, warna langit sore, atau ilustrasi di majalah bekas tahun 90-an. Bawa pulang “sampah” visual itu, aduk di kepala kalian, dan jadikan sebuah produk layanan yang hanya bisa lahir dari tangan kalian.
Dunia tidak butuh satu lagi tiruan yang sempurna. Dunia butuh perspektif kalian yang tidak sempurna, namun jujur.
Semangat berkarya!
Referensi & Bacaan Lanjutan:
- Kleon, A. (2012). Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative. Workman Publishing.
- Timberg, S. (2015). Culture Crash: The Killing of the Creative Class. Yale University Press.
- Sax, D. (2016). The Revenge of Analog: Real Things and Why They Matter. PublicAffairs.
