Pendahuluan
Dunia Kewirausahaan sering kali di representasikan melalui narasi yang berkilau, kebebasan atau pun kehidupan yang tampak tenang. Namun, dibalik itu semua, realitas yang dihadapi para perintis jauh lebih kompleks dan menuntut secara psikologis, Ben Horowitz, seorang pengusaha dan investor ternama, menegaskan bahwa tantangan terberat dalam membangun bisnis bukanlah menetapkan tujuan besar, melainkan menghadapi momen ketika mimpi tersebut berubah menjadi “mimpi buruk” yang membuat seorang pemimpin pun dapat terbangun ditengah malam dengan keringat dingin, fenomena ini muncul karena dalam membangun organisasi manusia untuk bersaing dipasar yang dinamis merupakan proses yang secara fundamental sangat sulit.
Poin krusial yang sering diabaikan adalah bahwa aset terpenting dalam sebuah usaha bukanlah modal fisik atau teknologi, melainkan kondisi mental sang pengusaha. Horowitz menyatakan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola diri sendiri merupakan keterampilan tersulit bagi seoarng pemimpin, karena ketidakmampuan mengelola tekanan mental yang dapat menyeret seseorang ke fase yang ia sebut sebagai “The Struggle“, atau kondisi kehancuran psikologis yang kerap dirahasiakan akibat adanya stigma atau “aturan tidak tertulis” dalam dunia menejemen untuk tidak membicarakan kelemahan mental di ruang publik, dalam perspektif psikologis klinis, tekanan konstan ini dapat memicu stres, burnout, dan enxiety yang serius.
Dr. Julie Smith dalam diskusi, menekankan bahwa tuntutan untuk tampil sempurna serta beban kerja yang berlebihan sering membuat individu terjebak dalam siklus overtinking yang melumpuhkan kemampuan pengambilan keputusan, padahal, keberlanjutan sebuah usaha sangat bergantung pada kejernihan pikiran seorang pemimpin yang harus secara berkala melakukan evaluasi dan penyesuaian arah, oleh karena itu, menjaga kesehatan mental bukan sekadar isu kesejahteraan pribadi, melainkan merupakan investasi strategis yang vital. Memahami hubungan antara risiliensi mental dan performa usaha menjadi fondasi penting agar para wirausahawan tidak hanya membangun bisnis yang menguntungkan saja, tetapi juga bisnis yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.
Mengelai Tantang Mental serta Dampaknya Di Awal Wirausaha
Memulai sebuah usaha bukan sekadar perubahan status pekerjaan, melainkan sebuah tranformasi gaya hidup yang menempatkan kondisi mental individu pada tingkat tekanan yang tinggi. Data menunjukan bahwa tantangan mental dalam dunia kerja modern, termasuk kewirausahaan, telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Dr. Aditi Nerurkar, seorang pakar stes dari Harvard, mengungkapkan bahwa sekitar satu 76% individu saat ini berjuang melawan stes dan 70% di antarnya menunjukan setidaknya satu gejala burnout (kelelahan mental dan fisik yang hebat). bagi seorang wirausahawan, statistik ini bukan sekadar angka, melainkan resiko nyata yang dapat menghambat produktivitas usaha dan juga bisa terjadi kapan saja bahkan sejak hari pertama sekalipun.
Salah satu tantangan mental yang paling sering muncul, namun jarang diakui adalah apa yang disebut sebagai “epidemi kesepian”. Dr. K (Alok Kanoja) menjelaskan bahwa di era modern banyak individu yang merasa terisolasi meskipun memiliki koneksi digital yang luas. Dalam dunia wirausaha, kesepian ini sering kali diperparah oleh fenomena yang sudah disebut sebelumnya yaitu “The Struggle“, yakni kondisi ketika seorang pemimpin merasa tersaingi karena memikul beban tanggung jawab yang tidak dapat dibagikan kepada siapa pun. Rasa kesepian dan kehilangan arah ini jika tidak dikelola dengan baik dapat mendorong individu pada mekanisme koping yang tidak sehat, termasuk kertergantungan atau “kecanduan” terhadap aktivitas tertentu sebagai bentuk pelarian dari tekanan bisnis.
Lebih jauh lagi, sangat penting untuk dipahami bahwa stres mental tidak berhenti pada ranah psikologis, melainkan berdampak langsung langsung pada kesehatan fisik. Dr. Aditi Nerurkar menekankan bahwa sekitar 60% hingga 80% kunjungan pasien ke dokter memiliki komponen yang berkaitan dengan stres. Ketika seorang pengusaha mengalami stres kronis, tubuh akan terus berada dalam mode “waspada”, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan fungsi kognitif serta melemahkan sistem kekebalan tubuh. kondisi ini menjelaskan mengapa gangguan mental sering berjalan beriringan dengan penurunan kinerja fisik dan kesehatan secara umum pada seorang pemimpin usaha.
Adapun masalah mendasar yang kerap terjadi pada pengusaha muda adalah upaya menyelesaikan perseoalan mental dengan “solusi instan” atau apa yang disebutka oleh Dr. K disebut sebagai toxic fuel (bahan bakar beracun).ketikan merasa cemas, tertekan, atau tidak puas terhadap perkembangan usaha, seseoarang juga sering beranggapan bahwa solusi nya adalah bekerja lebih keras atau menghasilkan banyak uang. Namun, pendekatan ini tidak menyentuh akar permasalahan strategis, karena tanpa kondisi mental yang sehat, pertumbuhan usaha justru berpotensi menjadi beban yang akhirnya meruntuhkan kesehatan dan keberlanjutan sang pengusaha itu sendiri.
Strategi Menjaga keseimbangan Mental dengan Memutus Rantai Overtinking
“Kita sering kali tunduk pada standar idealisme terentu, Kita mencoba melakukan segalanya dengan sempurna, padahal itu hal yang mustahil“
—Dr. Julie Smith, Psikologi Klinis.
Dalam kewirausahaan overtinking atau berpikir berlebihan sering jkali disalah artikan sebagai bentuk “Analisis yang mendalam”. Padahal, terdapat perbedaan mendasar antar pemikiran startegi yang produktif dan siklus pikiran yang justru melumpuhkan. Dr. julie Smith menjelaskan bahwa overtinking kerap dipicu oleh tekanan untuk tampil sempurna. Bagi seorang pengusaha, keinginan agar setiap peluncuran produk atau keputusan investasi bebas dari kesalahan sering kali justru menjadi bumerang yang menghambat progres bisnis itu sendiri.
Strategis utama untuk menjaga keseimbangan mental adalah dengan menerapkan pendekatan berbasis keterampilan (skill-based approach), Bukan semata-mata mengandalkan motivasi. Salah satu keterampilan yang krusial adalah kemampuan memahami pola pikir sendiri, atau yang dikenal sebagai metakognisi. Dr. Julie Smith menyarankan agar individu “menjauh” (idetachement) dari pikirannya. Pikiran bukanlah fakta, hanya karena Anda berpikir bahwa usaha Anda akan gagal, bukan berarti hal tersebut adalah kenyataan yang tak terelakkan. Dengan menyadari bahwa pikiran hanyalah “saran” dari otak yang sedang cemas, seorang pengusaha dapat tetap fokus pada tindakan nyata alih-alih terjebak dalam skenario terburuk yang belum tentu terjadi.
Selain itu, penting untuk membedakan antar ilusi instan yang merugikan dan keterampilan jangka panjang yang menbangun. Dr. Julie Smith Menjelaskan Bahwa Dalam kondisi stres, manusia cenderung mencari aktivitas yang memberikan kelegaan sesaat, seperti memeriksa ponsel secara obsesif atau bekerja tanpa henti sebagai bentuk pelarian. Namun, Kunci kesehatan mental yang berkelanjutan justru terletak pada kemampuan untuk “duduk diam” bersama rasa tidak nyaman tersebut. Alih-alih melarikan diri dari kecemasan melalu kerja berlebihan, seseoarang pengusaha yang sehat secara mental akan mengakui keberadaan kecemasan itu, tetapi tetap mengambil keputusan berdasarkan data dan logika bisnis. Ben Horowitz menambahkan dimensi Praktis dengan menyarankan para pemimpin perusahaan untuk “mengatakan apa adanya” (tell it like it is). Overtinking sering muncul ketika masalah dipendam sendirian, dengan mengkomunikasikan tantangan secara jujur kepada tim atau memikirkan solusi pertumbuhan usaha, bukan sekadar berputar pada ketakutan akan kegagalan.
Langkah Taktis dalam Membangun Resiliensi Diri dan Ekosistem Kerja yang Sehat
“Keterampilan paling sulit yang saya pelajari sebagai CEO adalah kemampuan untuk mengelola psikologi diri saya sendiri.”
—Ben Horowitz, dalam The Hard Thing About Hard Things.
Setelah memahami tantangan mental dan mekanisme berpikir, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi praktis untuk menjaga stabilitas emosional. Berdasarkan panduan dari The Little Book of Mental Health, salah satu cara paling efektif untuk mengurangi beban mental adalah dengan menerapkan Metode Pemecahan Masalah Terstruktur. Sering kali, pengusaha merasa tertekan karena melihat masalah sebagai satu gumpalan besar yang mustahil diatasi. Dengan memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil—mulai dari mendefinisikan masalah secara spesifik, melakukan brainstorming solusi tanpa menghakimi, hingga mengevaluasi hasilnya—seorang wirausahawan dapat beralih dari fase cemas (worrying) ke fase bertindak (action).
Selain manajemen internal, kesehatan mental seorang wirausahawan sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan dengan tim atau bawahannya. Simon Sinek dalam bukunya Leaders Eat Last memperkenalkan konsep “Circle of Safety” (Lingkaran Keamanan). Sinek berargumen bahwa ketika seorang pemimpin mampu menciptakan rasa aman di dalam organisasi, anggota tim tidak akan membuang energi untuk saling sikut atau merasa terancam secara internal. Secara psikologis, lingkungan kerja yang penuh kepercayaan akan meningkatkan hormon oksitosin yang menurunkan tingkat stres. Sebaliknya, jika seorang pemimpin gagal mengelola hubungannya dengan bawahan, ia akan terjebak dalam konflik internal yang terus-menerus, yang pada akhirnya menguras energi mentalnya sendiri.
Berikut adalah beberapa tips praktis yang dapat diterapkan oleh usahawan, terlebih untuk usahawan muda dalam menjaga kesehatan mental sekaligus performa usaha:
- Prioritaskan Manusia, Baru Produk : Sejalan dengan filosofi Sinek, jika Anda menjaga tim Anda, tim Anda akan menjaga bisnis Anda. Mengurangi gesekan interpersonal melalui komunikasi yang empatik akan secara drastis mengurangi beban emosional Anda sebagai pemimpin.
- Latihan “Active Coping” : Jangan biarkan masalah mengendap. Gunakan teknik dari The Little Book of Mental Health dengan menjadwalkan waktu khusus untuk memikirkan solusi, alih-alih membiarkan kekhawatiran menghantui sepanjang hari.
- Bangun Ritual Pemulihan : Kesehatan mental membutuhkan pemulihan fisik. Pastikan ada batasan tegas antara waktu kerja dan waktu pribadi untuk memberi kesempatan bagi sistem saraf Anda kembali ke kondisi rileks.
Dengan mengintegrasikan keterampilan manajemen diri dan kepemimpinan yang berempati, seorang pengusaha tidak hanya menyelamatkan kesehatan mentalnya, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang kokoh dan tahan lama.
Kesimpulan
Sebagai penutup, penting untuk menyadari bahwa dalam dunia kewirausahaan, garis antara “diri sendiri” dan “bisnis” sering kali menjadi sangat kabur. Namun, melalui pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah kemewahan atau tanda kelemahan, melainkan sebuah kebutuhan operasional yang mendasar. Tanpa kejernihan pikiran dan stabilitas emosional, seorang pengusaha akan kehilangan aset terpentingnya: kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan.
Kita telah melihat bagaimana stres kronis bukan hanya sekadar perasaan, tetapi memiliki dampak fisiologis nyata yang dapat melumpuhkan kinerja fisik. Kita juga belajar bahwa overthinking bukanlah bentuk analisis, melainkan hambatan kognitif yang harus diatasi dengan keterampilan metakognisi. Lebih dari itu, membangun resiliensi diri dan menciptakan “lingkaran keamanan” (Circle of Safety) dalam tim adalah langkah taktis untuk memastikan bahwa pertumbuhan usaha tidak mengorbankan kesejahteraan manusia di dalamnya.
Bagi para usahawan terlebih ushawan muda ingatlah bahwa membangun bisnis adalah sebuah maraton, bukan lari cepat (sprint). Kesuksesan finansial yang dicapai dengan mengorbankan kesehatan mental adalah kesuksesan yang rapuh. Dengan menerapkan langkah-langkah praktis dan terus mengasah keterampilan manajemen psikologi, Anda tidak hanya sedang membangun bisnis yang menguntungkan, tetapi juga sedang membentuk diri menjadi pemimpin yang tangguh, bijaksana, dan memiliki keberlanjutan masa depan.
Referensi
- Horowitz, B. (2014). The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers. HarperCollins e-books.
- Sinek, S. (2014). Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t. Portfolio/Penguin.
- Somerset County Council. (2015). The Little Book of Mental Health: A Practical Guide for Everyday Emotional Wellbeing (6th ed.). NHS Somerset Public Health.
- Bartlett, S. (Host). (2022). How To Detach From Overthinking & Anxiety: Dr Julie Smith [Podcast Episode]. In The Diary of a CEO. Youtube.
- Bartlett, S. (Host). (2024). The Mental Health Doctor: Your Phone Screen & Sitting Is Destroying Your Brain! Dr. Aditi Nerurkar [Podcast Episode]. In The Diary of a CEO. Youtube.
- Bartlett, S. (Host). (2024). Dr. K: Kita sedang menghasilkan jutaan pria dan wanita yang kesepian, kecanduan, dan tanpa tujuan! [Podcast Episode]. In The Diary of a CEO. Youtube.