Kewirausahaan Digital

8–13 minutes

Pendahuluan

Kewirausahaan digital menjadi isu yang hangat karena perkembangan teknologi dan kemajuan infrastruktur menciptakan beragam peluang bagi pelaku usaha. Perhatian besar masyarakat terhadap model bisnis digital baru berkaitan dengan kesempatan, tantangan, serta faktor keberhasilan kewirausahaan digital. Wirausahawan digital dengan pendekatan baru dalam menjalankan bisnis memiliki pengaruh yang sangat besar di seluruh dunia, khususnya dalam satu dekade terakhir.

Pada tahap ini, aktivitas di dunia digitalisasi, di mana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas keputusan dan persepsi terhadap realitas dalam mengembangkan perangkat secara lebih cepat melalui proses menghitung, menyimpan, dan meneliti informasi, tidak hanya menjadi lebih mudah, tetapi juga lebih fleksibel dan ekonomis karena layanan cloud terus berkembang dan internet bertransformasi menjadi apa yang dikenal sebagai Internet of Things (IoT). Dengan hadirnya blockchain, peralihan menuju Internet of Values baru saja dimulai. Karena fenomena digitalisasi menimbulkan berbagai implikasi melalui perubahan yang cepat dan transformatif, penting bagi wirausahawan untuk memahami hasil serta keterkaitan yang ada dan mengidentifikasi peluang yang muncul dalam bisnis (Nambisan, 2017).

Transformasi digital yang dilakukan memiliki sifat internal dan eksternal. Transformasi internal merupakan perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas kinerja dalam perusahaan, sedangkan transformasi eksternal merupakan perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas layanan kepada pelanggan.

Dampak kemajuan teknologi memengaruhi cara hidup masyarakat secara ekonomi dan sosial. Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat melakukan berbagai aktivitas sehari-hari seperti berkomunikasi, membeli, memesan tiket, serta bertransaksi hanya dengan satu perangkat atau gawai. Kondisi ini dimanfaatkan tidak hanya oleh masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga oleh para pengusaha untuk mentransformasikan proses produksi hingga distribusi menjadi lebih digital guna mencapai efisiensi dan efektivitas.

Data dari We Are Social dan Hootsuite menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pertumbuhan internet tertinggi di dunia, yaitu 51 pada tahun lalu. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan internet global yang hanya sebesar 10%. Indonesia juga termasuk dalam 12 besar negara dengan tingkat penggunaan smartphone tertinggi di dunia. Fakta ini menunjukkan potensi yang besar apabila para pelaku bisnis mulai bergerak ke ranah digital (go digital). Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai sasaran utama bagi perusahaan yang melakukan transformasi digital, karena merupakan peluang untuk memperoleh keuntungan yang besar.

Apa Itu Kewirausahaan Digital?

Kewirausahaan digital merupakan kategori kewirausahaan di mana sebagian atau seluruh aspek fisik dalam organisasi tradisional telah terdigitalisasi dan dengan demikian dapat dipahami sebagai penyelarasan kewirausahaan tradisional dengan cara berkreasi dan berbisnis di era digital. Fenomena digitalisasi menimbulkan berbagai implikasi melalui perubahan yang cepat dan transformatif, sehingga penting bagi pengusaha dan peneliti kewirausahaan untuk memahami hasil serta keterkaitan yang ada dan mengenali peluang yang muncul dalam bisnis. Kewirausahaan sebagai proses merancang, meluncurkan, dan menjalankan bisnis baru memiliki ciri utama berupa penciptaan nilai kekinian, meskipun kewirausahaan tidak hanya sebatas memulai bisnis baru. Banyak peluang bagi aktivitas kewirausahaan tercipta melalui digitalisasi. Wirausahawan perlu menyadari peluang tersebut agar siap melakukan inovasi yang berkelanjutan, seiring dengan meningkatnya kewirausahaan digital (Giones dan Brem, 2017).

Menurut Giones dan Brem (2017), kewirausahaan digital mencakup penjualan produk atau layanan digital melalui jaringan elektronik. Selain adanya perbedaan definisi mengenai fenomena kewirausahaan digital, istilah kewirausahaan digital juga tidak digunakan secara seragam. Model bisnis digital beroperasi dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan dengan model bisnis tradisional. Oleh karena itu, pengusaha digital perlu memahami perbedaan, kesempatan, peluang, tantangan, serta ancaman agar dapat mencapai keberhasilan. Jika hal tersebut tidak diperhatikan, usaha digital berpotensi menghadapi risiko kegagalan yang cukup besar. Bisnis digital merepresentasikan pergeseran dari pendekatan manajemen tradisional menuju jaringan komunitas, karena jaringan dan komunitas memegang peranan penting bagi pengusaha digital.

Ekosistem KKewirausahaan Digital

Kraus, Palmer, Kailer, Kallinger, dan Spitzer (2019) menjelaskan bahwa kewirausahaan digital dibangun berdasarkan keberadaan atau pengembangan ekosistem digital. Kewirausahaan institusional berperan sebagai elemen sentral dalam menciptakan ekosistem digital. Analisis terhadap transformasi perusahaan tradisional menuju digital berupaya memberikan implikasi praktis, namun juga menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengungkap bagaimana perusahaan dapat mencapai transformasi melalui kewirausahaan institusional. Parameter desain, baik dari sisi teknologi maupun arsitektur, menjadi faktor utama yang memengaruhi peluang kewirausahaan, khususnya dalam interaksi dengan ekosistem digital.

Ekosistem digital merupakan sistem yang mampu mengatur diri sendiri, bersifat dapat diskalakan, dan berkelanjutan, yang terdiri dari entitas digital heterogen yang saling terhubung serta berfokus pada interaksi antarentitas untuk meningkatkan utilitas sistem, memperoleh manfaat, mendorong berbagi informasi, serta memperkuat kerja sama dalam dan antar inovasi sistem. Pengguna dalam ekosistem kewirausahaan digital mencakup setiap individu yang memiliki kesempatan untuk mengakses perangkat terhubung, seperti komputer, ponsel, dan tablet. World Wide Web memfasilitasi ruang terbuka untuk menyediakan dan mengakses informasi, pengetahuan, data, bahkan tenaga kerja gratis. Oleh karena itu, ekosistem digital memiliki sifat generatif mandiri yang beroperasi berdasarkan logika berorientasi layanan, di mana pengguna dapat berperan sebagai penyedia dan konsumen secara bersamaan (Liao et al., 2013).

Model Bisnis Kewirausahaan Digital

Pendekatan yang berbeda untuk mengidentifikasi model bisnis dalam ekosistem kewirausahaan digital didasarkan pada analisis usaha online home industry dan adanya ambiguitas antara dimensi fisik dan digital dari pekerjaan. Konsep mobilitas mental digunakan untuk menjelaskan kedekatan dalam bernavigasi melalui keinginan untuk menjadi otonom dan fleksibel serta tetap terhubung secara sosial melalui teknologi. Usaha online home industry tersebut bertujuan mencapai pengendalian diri dan pengelolaan diri, serta menempatkan mobilitas dan kebebasan bergerak sebagai aspek yang penting. Digitalisasi bertanggung jawab atas terjadinya transformasi yang bersifat disruptif di bidang kewirausahaan dan membedakan antara kewirausahaan digital ringan, kewirausahaan digital sedang, dan kewirausahaan digital ekstrem dalam menilai model bisnis digital (Beliaeva, Ferasso, Kraus, dan Damke, 2020).

Troxler dan Wolf (2017) mengemukakan bahwa model bisnis yang berkembang menyoroti praktik berbagi dan kontribusi sukarela dari pengguna di platform daring sebagai pengubah permainan dalam bisnis berbasis biaya transaksi. Model bisnis intensif pengguna pertama adalah model bisnis multisided platform, di mana pengguna menyediakan konten secara gratis pada platform multisisi seperti Facebook dan Instagram. Model bisnis intensif pengguna kedua adalah pembagian aset berwujud yang tidak terpakai. Contoh penerapan model bisnis ini adalah AirBnB dan Uber yang menunjukkan kinerja sangat sukses di seluruh dunia. Model bisnis intensif pengguna ketiga menggabungkan pelanggan berbayar dan tidak berbayar, di mana model bisnis bergantung pada eksternalitas jaringan pelanggan, seperti Spotify dengan model berbayar atau premiumnya serta berbagai platform daring lainnya.

Platform Strategi Kewirausahaan Digital

Srinivasan dan Venkatraman (2018) mengungkapkan bahwa wirausahawan memanfaatkan platform digital untuk mengomersialkan bisnis. Kekuatan jaringan digital menawarkan potensi teknologi yang berkembang pesat dan maju, meskipun potensi tersebut juga dapat dipandang sebagai ancaman besar. Dari sisi negatif, pertumbuhan yang cepat dapat menimbulkan risiko besar, karena pesaing yang meluncurkan inovasi teknologi yang lebih unggul berpotensi menghancurkan keseluruhan model bisnis. Platform muncul dalam berbagai konteks dan bentuk untuk mendukung pengembangan serta komersialisasi produk maupun inovasi.

Secara umum, platform dipahami sebagai ruang digital yang memberikan peluang bagi bisnis untuk saling terhubung satu sama lain serta dengan pelanggan. Klasifikasi strategi platform didasarkan pada kemampuan komersialisasi dan kecenderungan terhadap pengembangan produk atau layanan baru. Dengan demikian, platform dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis sebagai berikut.

  1. Platform inovasi, seperti yang ditawarkan oleh Google atau Apple, di mana para pengusaha dapat mengembangkan produk dan layanan pelengkap dalam ekosistem digital.
  2. Platform transaksi yang mendorong aktivitas komersial, seperti ritel daring atau layanan berbasis permintaan. Untuk berhasil menerapkan strategi platform sebagai wirausahawan digital, diperlukan penempatan produk dan layanan secara unik dalam jaringan daring yang menghubungkan banyak bisnis dan konsumen. Hal ini memungkinkan pertumbuhan bisnis yang sangat cepat.
  3. Platform integrasi, yaitu perpaduan antara platform transaksi dan inovasi. Dalam bentuk ini, pengusaha memiliki peluang untuk berinovasi dan menciptakan teknologi baru, sementara konsumen dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Teknologi digital menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan untuk membangun bisnis digital serta memungkinkan pengguna dan pelaku usaha terhubung secara virtual dan membangun interaksi dalam ekosistem digital.

Tantangan Kewirausahaan Digital

Kemampuan berinovasi didukung oleh pengembangan dan pemanfaatan lanjutan teknologi informasi dan komunikasi. Ketika wirausahawan menggunakan platform atau teknologi digital tertentu, kemajuan teknologi tersebut membentuk peluang untuk inovasi lebih lanjut. Dengan demikian, efek jaringan dan ketidakpastian pengembangan lanjutan menjadi penyebab munculnya ambiguitas dalam model bisnis digital. Tantangan kewirausahaan dalam model bisnis digital bersifat jauh lebih dinamis dibandingkan dengan bisnis lama, terdahulu, atau tradisional. Dalam praktiknya, perkembangan kewirausahaan digital mengikuti proses redefinisi yang berlangsung secara berulang.

Selain itu, wirausahawan dan tim pendirinya merupakan bagian penting dari bisnis pada masa pertumbuhan. Oleh karena itu, pembentukan tim yang tepat dan stabil menjadi faktor krusial untuk mencapai keberhasilan. Kesiapan untuk melakukan perubahan serta tetap gesit melalui fase pengembangan bisnis berbasis trial and error sangat diperlukan. Upaya lain yang dapat mendorong kesuksesan kewirausahaan digital pada tahap awal adalah membangun jaringan dan modal sosial yang bernilai, di mana mitra jaringan yang diperoleh sepanjang perjalanan karier wirausahawan memiliki peranan yang sangat penting.

Oppong, Singh, dan Kujur (2020) menyatakan bahwa dampak digitalisasi yang signifikan dapat diamati pada kerangka waktu proses kewirausahaan. Kewirausahawan digital memiliki kemampuan untuk menciptakan, memodifikasi, dan mengulangi fase pengembangan produk dengan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Proses percobaan dan implementasi dalam kewirausahaan digital saat ini berlangsung lebih singkat dan dapat dimulai kembali dalam waktu yang relatif cepat. Selain itu, batas antara titik awal dan titik akhir setiap fase tidak lagi bersifat tegas pada platform digital.

Kewirausahawan digital masa kini, jika dibandingkan dengan wirausahawan tradisional, tidak lagi mengikuti cetak biru yang telah ditentukan secara ketat dalam perencanaan bisnis. Sebaliknya, perilaku dan keputusan kewirausahaan terbentuk sepanjang keseluruhan proses kewirausahaan. Evolusi teknologi serta interaksi berkelanjutan dengan ekonomi digital akan memulai, membentuk, dan mengubah proses kewirausahaan digital.

Dengan demikian, wirausaha digital menghadapi jalur yang semakin dinamis, ditentukan oleh aktivitas yang beragam dengan kerangka waktu yang tidak pasti. Contoh yang relevan dapat dilihat pada fenomena blog daring. Pada awalnya, blog hanya digunakan sebagai media diskusi, pengelolaan komunitas, atau sarana refleksi digital dalam pendidikan. Saat ini, blogger menjalankan bisnis digital dengan mempromosikan produk dan layanan, membangun komunitas, serta melakukan aktivitas pemasaran produk pihak lain melalui lalu lintas komunitas daring di berbagai platform dengan imbalan tertentu.

Keberhasilan dalam menerapkan strategi platform dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, antara lain posisi platform dalam ekosistem digital, desain platform dari sisi teknologi dan arsitektur, serta kemampuan membangun legitimasi (Richter, 2017). Hair, Wetsch, Hull, Perotti, dan Hung (2012) menyatakan bahwa platform memiliki peluang keberhasilan lebih besar apabila terhubung dengan aktor atau pelaku besar yang memiliki legitimasi dan status tinggi dalam ekosistem digital. Selain itu, keunikan nilai yang ditawarkan oleh platform dibandingkan pesaing juga menjadi kontributor utama keberhasilan.

Cara Menjadi Wirausaha Digital

Untuk menjadi wirausaha yang melek digital, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu:

  1. Memahami seluk-beluk kewirausahaan digital, Dalam buku Technopreneurship Study (Singapore Management University), technopreneur memiliki tiga unsur utama, yaitu inovasi, teknologi, dan kewirausahaan. Bisnis digital merupakan kemampuan untuk mengubah setiap peluang menjadi tantangan ekonomi. Ketika kompetensi kewirausahaan dipadukan dengan kompetensi teknologi, maka terbentuk kompetensi kewirausahaan berbasis teknologi yang dikenal sebagai technopreneurship (D. Siregar, 2020).
  2. Menemukan ide bisnis dan memahami fundamental bisnis, Ide bisnis muncul dari proses analisis terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat dan belum memiliki solusi yang memadai. Selanjutnya, pelaku usaha menawarkan solusi yang berbeda dari yang telah tersedia di pasar atau bersifat anti-mainstream, sehingga menciptakan peluang besar untuk pengembangan usaha. Selain itu, pemahaman terhadap permasalahan internal dan eksternal bisnis juga sangat diperlukan (AP. Sari, 2020). Barringer dan Ireland (2008) menjelaskan bahwa bisnis berawal dari ide yang dapat diwujudkan. Sebuah ide berpotensi menjadi bisnis yang layak apabila mampu memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus tujuan dan harapan penggagasnya.
  3. Melakukan studi kelayakan usaha (SKU), Setelah memperoleh ide dan peluang bisnis, wirausahawan digital perlu melakukan studi kelayakan usaha. Studi ini bertujuan untuk menilai apakah ide bisnis memiliki potensi keberhasilan. Studi kelayakan yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan laporan komprehensif mengenai keberlanjutan usaha serta tingkat risiko yang mungkin timbul. Aspek penilaian kelayakan meliputi pasar dan pemasaran, teknologi dan produksi, manajemen dan keuangan, hukum dan perizinan, serta lingkungan (S. Sulasih, 2021).
  4. Merancang manajemen bisnis, Manajemen bisnis merupakan proses yang mencakup empat kegiatan utama, yaitu (ES. Negara, 2021): a) Planning, yaitu kegiatan awal dalam merintis usaha, termasuk penyusunan proposal bisnis. b) Organizing, yaitu pembentukan struktur organisasi yang menjalankan kegiatan usaha. c) Actuating, yaitu pelaksanaan atau realisasi dari seluruh perencanaan yang telah disusun. d) Controlling, yaitu evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan.

Adapun komponen manajemen meliputi manajemen sumber daya manusia, manajemen biaya, dan manajemen pemasaran.

Daftar Pustaka

Radiansyah, E. (2022). Peran Digitalisasi Terhadap Kewirausahaan Digital: Tinjauan Literatur Dan Arah Penelitian Masa Depan. Lampung. JMBI UNSRAT

Zunan, S., Jauhar, N., Akmarul, D., dkk. (2023). Kewirausahaan Digital. Padang. PT GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI

Fiandra, Y. A., Wagino, Rahim, B., dkk. (2022). Kewirausahaan Digital. Padang. CV MUHARIKA RUMAH ILMIAH