Perkembangan media sosial berbasis algoritma telah mengubah cara Generasi Z memperoleh informasi, berinteraksi, dan membangun persepsi terhadap kehidupan akademik. TikTok, melalui sistem rekomendasi For You Page (FYP), mampu menyajikan konten yang dipersonalisasi berdasarkan preferensi dan perilaku pengguna sehingga meningkatkan intensitas penggunaan aplikasi. Meskipun memberikan kemudahan dalam mengakses informasi edukatif dan hiburan, paparan konten yang berulang, perbandingan sosial, serta budaya produktivitas yang berkembang di platform tersebut berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa, khususnya dalam memunculkan kecemasan akademik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara intensitas algoritma TikTok dengan tingkat kecemasan akademik serta perilaku help-seeking pada Generasi Z di Kota Bandung melalui pendekatan studi literatur yang didukung berbagai penelitian empiris terkini. Pembahasan menunjukkan bahwa algoritma TikTok tidak hanya meningkatkan durasi penggunaan media sosial, tetapi juga memperkuat paparan terhadap konten yang berkaitan dengan tekanan akademik, pencapaian individu, dan ekspektasi sosial. Kondisi tersebut dapat memicu munculnya rasa cemas, takut tertinggal (fear of missing out), serta kecenderungan melakukan perbandingan sosial yang berdampak pada penurunan kepercayaan diri dalam lingkungan akademik. Di sisi lain, TikTok juga berpotensi menjadi media yang mendorong perilaku help-seeking melalui penyebaran informasi mengenai kesehatan mental, dukungan sebaya, dan akses terhadap layanan konseling apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi digital, pengelolaan penggunaan media sosial, serta penguatan layanan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi agar dampak negatif algoritma dapat diminimalkan dan manfaatnya dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Artikel ini diharapkan dapat menjadi landasan konseptual dalam memahami pengaruh algoritma media sosial terhadap kesehatan mental akademik Generasi Z sekaligus memberikan rekomendasi bagi institusi pendidikan dalam menyusun strategi pencegahan dan intervensi yang lebih efektif.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan terhadap pola komunikasi, pencarian informasi, hingga perilaku sosial masyarakat, khususnya pada Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh berdampingan dengan internet dan media sosial, Generasi Z memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap berbagai platform digital. Salah satu media sosial yang mengalami pertumbuhan pengguna paling pesat dalam beberapa tahun terakhir adalah TikTok. Platform ini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran, penyebaran informasi, promosi bisnis, hingga ruang untuk berbagi pengalaman pribadi. Keunggulan utama TikTok terletak pada algoritma For You Page (FYP) yang mampu menyajikan konten secara personal berdasarkan aktivitas, minat, durasi menonton, interaksi, dan preferensi pengguna. Sistem rekomendasi tersebut membuat pengguna cenderung menghabiskan waktu lebih lama di dalam aplikasi karena konten yang ditampilkan dianggap semakin relevan dengan kebutuhan maupun ketertarikan mereka.
Di Indonesia, penggunaan TikTok mengalami peningkatan yang sangat pesat, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Tingginya intensitas penggunaan media sosial menjadikan TikTok bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga bagian dari aktivitas sehari-hari yang memengaruhi cara individu memperoleh informasi, membangun identitas diri, serta menilai kemampuan akademiknya. Berbagai konten mengenai produktivitas, pencapaian akademik, kehidupan kampus, hingga pengalaman memperoleh beasiswa sering kali muncul secara berulang melalui algoritma FYP. Meskipun konten tersebut dapat menjadi sumber motivasi, paparan yang terus-menerus juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis ketika pengguna mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Fenomena social comparison tersebut dapat memunculkan rasa tidak percaya diri, takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO), hingga kecemasan dalam menghadapi tuntutan akademik.
Kecemasan akademik merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan munculnya rasa khawatir, takut gagal, stres, serta tekanan yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran maupun pencapaian akademik. Mahasiswa yang mengalami kecemasan akademik umumnya menunjukkan kesulitan berkonsentrasi, menurunnya motivasi belajar, gangguan tidur, hingga penurunan performa akademik. Pada era digital, sumber kecemasan akademik tidak lagi hanya berasal dari tuntutan perkuliahan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan media sosial yang terus menampilkan standar keberhasilan, produktivitas, dan pencapaian orang lain. Akibatnya, mahasiswa dapat merasa tertinggal atau tidak cukup kompeten meskipun memiliki kemampuan akademik yang baik.
Di sisi lain, penggunaan TikTok tidak selalu memberikan dampak negatif. Berbagai kreator konten telah memanfaatkan platform tersebut untuk membagikan informasi mengenai kesehatan mental, strategi belajar, pengalaman menghadapi tekanan akademik, serta pentingnya mencari bantuan profesional ketika mengalami gangguan psikologis. Kondisi ini menunjukkan bahwa TikTok memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Algoritma yang sama dapat memperkuat paparan terhadap konten yang memicu kecemasan, tetapi juga mampu memperluas akses terhadap informasi yang mendorong perilaku help-seeking. Perilaku help-seeking merupakan upaya individu untuk mencari bantuan, baik kepada teman, keluarga, dosen, konselor, maupun tenaga profesional ketika menghadapi permasalahan psikologis atau akademik. Perilaku ini menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah berkembangnya gangguan kesehatan mental yang lebih serius pada mahasiswa.
Meskipun berbagai penelitian telah membahas hubungan antara penggunaan media sosial dengan kesehatan mental, sebagian besar masih berfokus pada durasi penggunaan media sosial secara umum. Penelitian yang secara khusus mengkaji bagaimana intensitas paparan algoritma TikTok memengaruhi kecemasan akademik dan perilaku help-seeking, terutama pada Generasi Z di Kota Bandung, masih relatif terbatas. Padahal, karakteristik algoritma TikTok berbeda dengan platform media sosial lainnya karena mampu menampilkan konten yang sangat personal dan adaptif terhadap perilaku pengguna. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai bagaimana algoritma tersebut dapat menjadi faktor yang memperkuat maupun mengurangi kecemasan akademik pada mahasiswa.
Kota Bandung dipilih sebagai konteks pembahasan karena merupakan salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia dengan jumlah mahasiswa yang tinggi serta tingkat adopsi teknologi digital yang sangat pesat. Kehadiran berbagai perguruan tinggi menjadikan mahasiswa di Kota Bandung sebagai kelompok yang sangat aktif memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, baik untuk kebutuhan akademik maupun hiburan. Kondisi tersebut menjadikan Kota Bandung sebagai lokasi yang relevan untuk memahami dinamika hubungan antara algoritma media sosial, kesehatan mental, dan perilaku pencarian bantuan pada Generasi Z
Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intensitas algoritma TikTok terhadap kecemasan akademik serta perilaku help-seeking pada Generasi Z di Kota Bandung melalui kajian literatur dari berbagai penelitian terkini. Hasil pembahasan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan literasi digital, peningkatan kesadaran mengenai kesehatan mental mahasiswa, serta menjadi dasar bagi institusi pendidikan dalam merancang program pencegahan dan pendampingan psikologis yang lebih efektif di era media sosial berbasis algoritma.
1.Algoritma Tiktok dan Mekansime For You Page (FYP)
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara media sosial menyajikan informasi kepada penggunanya. Berbeda dengan media sosial generasi sebelumnya yang lebih mengandalkan hubungan pertemanan atau akun yang diikuti, TikTok memanfaatkan sistem rekomendasi berbasis algoritma yang mampu mempelajari perilaku pengguna secara dinamis. Melalui fitur For You Page (FYP), setiap pengguna memperoleh susunan konten yang berbeda sesuai dengan pola interaksi yang dilakukan selama menggunakan aplikasi. Sistem ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan TikTok memiliki tingkat keterlibatan (engagement) yang sangat tinggi dibandingkan berbagai platform media sosial lainnya.
Algoritma TikTok bekerja dengan mengumpulkan berbagai sinyal perilaku pengguna (user signals), seperti video yang disukai (likes), dibagikan (shares), diberikan komentar (comments), durasi menonton (watch time), video yang ditonton hingga selesai, akun yang diikuti, kata kunci pencarian, musik yang sering dipilih, hashtag yang sering diakses, hingga lokasi dan bahasa perangkat. Informasi tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknologi machine learning untuk memprediksi jenis konten yang paling mungkin menarik perhatian pengguna. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan algoritma akan menampilkan konten serupa pada halaman FYP. Dengan demikian, pengalaman setiap pengguna menjadi sangat personal dan terus berkembang mengikuti perubahan perilaku pengguna (Boeker & Urman, 2022).
Keunggulan algoritma TikTok terletak pada kemampuannya dalam mempertahankan perhatian pengguna dalam waktu yang relatif lama. Berbeda dengan platform lain yang mengutamakan jaringan sosial, TikTok lebih berfokus pada ketertarikan pengguna terhadap isi konten. Oleh karena itu, sebuah video yang dibuat oleh akun baru sekalipun memiliki peluang besar untuk memperoleh jutaan tayangan apabila dianggap relevan oleh sistem rekomendasi. Mekanisme tersebut mendorong pengguna untuk terus melakukan scrolling karena setiap video berikutnya memiliki kemungkinan sesuai dengan minat mereka. Fenomena ini dikenal sebagai infinite scrolling, yaitu proses menggulir konten tanpa batas yang dapat meningkatkan durasi penggunaan aplikasi secara signifikan.
Bagi Generasi Z, algoritma TikTok menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Sebagai kelompok yang tumbuh di era digital, Generasi Z memiliki kecenderungan tinggi untuk memperoleh informasi secara cepat, singkat, dan visual. TikTok mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui video berdurasi pendek yang dikombinasikan dengan sistem rekomendasi yang sangat adaptif. Tidak hanya digunakan sebagai media hiburan, TikTok juga dimanfaatkan sebagai sumber informasi mengenai pendidikan, kesehatan mental, pengembangan diri, hingga peluang karier. Berbagai konten edukatif seperti tips belajar, persiapan ujian, pengalaman memperoleh beasiswa, maupun strategi meningkatkan produktivitas dapat ditemukan dengan mudah melalui FYP.
Meskipun demikian, personalisasi algoritma juga memiliki konsekuensi yang perlu diperhatikan. Ketika pengguna sering berinteraksi dengan konten tertentu, algoritma akan terus memperkuat paparan terhadap tema yang sama sehingga menciptakan fenomena yang dikenal sebagai filter bubble atau echo chamber. Dalam kondisi tersebut, pengguna lebih banyak menerima informasi yang sejalan dengan minat atau kondisi psikologisnya dibandingkan informasi yang beragam. Misalnya, mahasiswa yang mulai mencari video mengenai stres kuliah atau kecemasan menghadapi ujian akan lebih sering menerima konten serupa dalam jumlah yang semakin besar. Akibatnya, persepsi bahwa banyak orang mengalami tekanan akademik dapat semakin menguat, bahkan berpotensi memperburuk kondisi psikologis individu.
Selain filter bubble, algoritma TikTok juga dapat memperkuat fenomena social comparison. Menurut Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory) yang dikemukakan oleh Leon Festinger, individu memiliki kecenderungan untuk menilai kemampuan dan keberhasilannya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Dalam konteks TikTok, mahasiswa secara terus-menerus disuguhi video mengenai pencapaian akademik, IPK tinggi, keberhasilan memperoleh beasiswa, pengalaman mengikuti pertukaran pelajar, maupun aktivitas produktif lainnya. Walaupun konten tersebut dapat memberikan inspirasi, paparan yang terlalu sering juga dapat menimbulkan perasaan kurang mampu, tidak percaya diri, atau merasa tertinggal dibandingkan teman sebaya.
Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh budaya produktivitas (productivity culture) yang berkembang di media sosial. Banyak kreator menampilkan rutinitas belajar yang ideal, jadwal kegiatan yang padat, hingga pencapaian akademik yang mengesankan. Namun, tidak semua konten mencerminkan realitas yang sebenarnya karena sebagian besar telah melalui proses seleksi dan penyuntingan sebelum dipublikasikan. Pengguna yang tidak memiliki kemampuan literasi digital yang baik dapat menganggap bahwa standar tersebut merupakan kondisi yang normal sehingga muncul tekanan untuk mencapai hasil yang sama. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan akademik apabila individu merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi yang dibangun melalui media sosial.
Di sisi lain, algoritma TikTok juga memiliki potensi positif apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Sistem rekomendasi yang personal memungkinkan pengguna memperoleh akses terhadap konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan belajar, strategi manajemen waktu, teknik mengurangi stres, hingga informasi mengenai layanan konseling dan kesehatan mental. Berbagai institusi pendidikan, psikolog, serta organisasi kesehatan telah memanfaatkan TikTok sebagai media edukasi yang lebih dekat dengan Generasi Z. Dengan demikian, algoritma tidak selalu menjadi penyebab munculnya dampak negatif, tetapi sangat bergantung pada pola penggunaan, kemampuan literasi digital, dan jenis konten yang dikonsumsi oleh pengguna.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa algoritma TikTok merupakan teknologi yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku digital Generasi Z. Kemampuan sistem dalam mempersonalisasi konten berhasil meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi membentuk persepsi, emosi, dan kondisi psikologis individu. Oleh karena itu, memahami mekanisme kerja algoritma menjadi langkah awal yang penting sebelum mengkaji hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dengan kecemasan akademik serta perilaku help-seeking. Pembahasan selanjutnya akan menjelaskan bagaimana karakteristik Generasi Z sebagai pengguna aktif media sosial menjadikan kelompok ini lebih rentan terhadap pengaruh algoritma digital dalam kehidupan akademiknya.
2.Generazi Z, Intesitas Penggunaan Tiktok, dan Kecenderungan Kecemasan Akademik
Generasi Z merupakan kelompok yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012 dan dikenal sebagai digital natives, yaitu generasi yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan internet, telepon pintar, dan media sosial. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital dalam memenuhi kebutuhan komunikasi, hiburan, pendidikan, maupun pengembangan diri. Kemudahan akses informasi melalui media sosial menjadikan platform digital sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menyebabkan Generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial, termasuk TikTok, sebagai sumber informasi sekaligus sarana untuk membangun identitas diri (Prensky, 2001; Montag et al., 2021).
TikTok menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan oleh Generasi Z karena menawarkan pengalaman penggunaan yang cepat, interaktif, dan dipersonalisasi. Melalui algoritma For You Page (FYP), pengguna dapat memperoleh berbagai jenis konten yang disesuaikan dengan minat dan pola interaksi mereka. Berbagai konten seperti tips belajar, motivasi akademik, pengalaman memperoleh beasiswa, produktivitas, hingga kehidupan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi muncul secara berulang pada halaman utama pengguna. Personalisasi tersebut membuat pengguna cenderung menghabiskan waktu lebih lama di dalam aplikasi karena setiap video yang ditampilkan dianggap relevan dengan kebutuhan dan preferensi mereka (Boeker & Urman, 2022).
Meningkatnya intensitas penggunaan TikTok memberikan berbagai manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam memperoleh informasi yang bersifat edukatif. Banyak dosen, mahasiswa berprestasi, maupun praktisi pendidikan memanfaatkan TikTok sebagai media berbagi materi perkuliahan, strategi belajar efektif, informasi beasiswa, hingga peluang magang. Kehadiran konten edukatif tersebut menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi salah satu sumber pembelajaran alternatif yang mudah diakses oleh mahasiswa. Oleh karena itu, penggunaan TikTok secara bijaksana dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi belajar (Montag et al., 2021).
Di sisi lain, intensitas penggunaan TikTok yang tinggi juga memiliki konsekuensi terhadap kondisi psikologis pengguna. Algoritma yang terus mempelajari perilaku pengguna akan menampilkan konten yang serupa secara berulang sehingga meningkatkan peluang terjadinya social comparison. Mahasiswa yang sering melihat unggahan mengenai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, keberhasilan memperoleh beasiswa, pengalaman mengikuti pertukaran pelajar, maupun rutinitas belajar yang dianggap ideal dapat mulai membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain. Apabila perbandingan tersebut dilakukan secara terus-menerus, pengguna dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa tertinggal dibandingkan teman sebaya, serta muncul kekhawatiran bahwa dirinya belum cukup berhasil dalam bidang akademik (Festinger, 1954; Vogel et al., 2014).
Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh munculnya budaya produktivitas (productivity culture) di media sosial. Banyak kreator konten menampilkan aktivitas belajar selama berjam-jam, jadwal harian yang sangat padat, hingga pencapaian akademik yang luar biasa. Meskipun konten tersebut dapat memberikan inspirasi, tidak sedikit pengguna yang menganggap standar tersebut sebagai tolok ukur keberhasilan yang harus dicapai. Akibatnya, mahasiswa dapat merasakan tekanan untuk selalu produktif dan merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Kondisi ini dikenal sebagai toxic productivity, yaitu dorongan untuk terus bekerja atau belajar secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi fisik maupun psikologis individu (Suler, 2004; Montag et al., 2021).
Selain social comparison, intensitas penggunaan TikTok juga berkaitan dengan munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Mahasiswa yang sering mengakses media sosial cenderung merasa khawatir apabila tertinggal informasi, tren, maupun pencapaian yang sedang dialami oleh teman-temannya. Perasaan tersebut mendorong individu untuk terus memeriksa media sosial dalam waktu yang lama sehingga mengurangi waktu istirahat, mengganggu konsentrasi belajar, serta meningkatkan tingkat stres. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan akademik yang ditandai dengan rasa takut gagal, sulit berkonsentrasi, menurunnya motivasi belajar, dan kekhawatiran berlebihan terhadap hasil akademik (Przybylski et al., 2013; Pekrun, 2006).
Kecemasan akademik yang dipengaruhi oleh media sosial tidak selalu muncul secara langsung, melainkan berkembang melalui proses paparan yang berulang. Ketika algoritma TikTok terus menyajikan konten mengenai keberhasilan akademik, produktivitas, atau pengalaman positif orang lain, mahasiswa dapat membentuk persepsi bahwa keberhasilan tersebut merupakan standar yang harus dicapai oleh setiap individu. Padahal, sebagian besar konten di media sosial hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sebenarnya. Kurangnya kemampuan dalam menyaring informasi digital menyebabkan sebagian mahasiswa lebih mudah mengalami tekanan psikologis akibat ekspektasi yang tidak realistis (Chou & Edge, 2012).
Meskipun demikian, hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dan kecemasan akademik tidak bersifat mutlak. Dampak yang muncul dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemampuan literasi digital, pengendalian diri (self-control), dukungan sosial, serta pola penggunaan media sosial. Mahasiswa yang mampu mengelola waktu penggunaan TikTok, memilih konten yang bermanfaat, serta memiliki lingkungan sosial yang mendukung cenderung lebih mampu memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi dan motivasi dibandingkan sebagai sumber tekanan psikologis. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital dan kesadaran mengenai kesehatan mental menjadi aspek penting dalam membantu Generasi Z menggunakan TikTok secara lebih sehat dan produktif (Naslund et al., 2020).
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat dipahami bahwa intensitas penggunaan TikTok memiliki hubungan yang kompleks dengan kecenderungan kecemasan akademik pada Generasi Z. Algoritma yang mampu mempersonalisasi konten memang memberikan berbagai manfaat dalam penyebaran informasi dan pembelajaran, tetapi juga dapat memperkuat fenomena social comparison, Fear of Missing Out (FOMO), serta budaya produktivitas yang berlebihan apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pola penggunaan TikTok menjadi penting sebagai dasar untuk menganalisis bagaimana mahasiswa merespons tekanan akademik serta bagaimana mereka memutuskan untuk mencari bantuan (help-seeking) ketika menghadapi permasalahan psikologis.
3.Kecemasan Akademikdan Perilaki Help seeking pada Generazi Z
Kecemasan akademik merupakan salah satu bentuk respons psikologis yang muncul ketika individu menghadapi tuntutan akademik yang dianggap melebihi kemampuan atau sumber daya yang dimilikinya. Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa khawatir, takut gagal, gugup, sulit berkonsentrasi, serta meningkatnya tekanan emosional ketika menghadapi tugas, ujian, presentasi, maupun target akademik lainnya. Menurut Pekrun (2006), kecemasan akademik termasuk ke dalam achievement emotions, yaitu emosi yang muncul sebagai respons terhadap aktivitas maupun hasil belajar seseorang. Emosi tersebut dapat memengaruhi motivasi belajar, kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, hingga performa akademik mahasiswa (Pekrun, 2006).
Pada era digital, sumber kecemasan akademik tidak lagi hanya berasal dari lingkungan kampus, tetapi juga dipengaruhi oleh paparan informasi di media sosial. Mahasiswa kini tidak hanya membandingkan dirinya dengan teman satu kelas, melainkan juga dengan ribuan bahkan jutaan pengguna media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian akademik. Konten mengenai keberhasilan memperoleh beasiswa, kelulusan tepat waktu, prestasi kompetisi, hingga aktivitas belajar yang terlihat produktif dapat membentuk persepsi bahwa keberhasilan tersebut merupakan standar yang harus dicapai oleh semua mahasiswa. Apabila individu tidak mampu mencapai standar tersebut, maka akan muncul perasaan tidak kompeten, rendah diri, dan cemas terhadap masa depan akademiknya (Festinger, 1954; Vogel et al., 2014).
Kecemasan akademik yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan dampak yang cukup serius terhadap kehidupan mahasiswa. Individu yang mengalami kecemasan cenderung mengalami penurunan konsentrasi, kesulitan memahami materi perkuliahan, menunda penyelesaian tugas (academic procrastination), gangguan tidur, hingga menurunnya prestasi akademik. Bahkan, pada kondisi tertentu, kecemasan akademik yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih kompleks seperti stres kronis, depresi, maupun burnout akademik (American Psychological Association, 2023; Pekrun, 2006).
Di tengah meningkatnya tekanan akademik tersebut, perilaku help-seeking menjadi salah satu strategi adaptif yang sangat penting. Help-seeking merupakan perilaku individu untuk mencari bantuan ketika menghadapi permasalahan yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Bantuan tersebut dapat berasal dari sumber formal, seperti dosen, konselor, psikolog, dan tenaga kesehatan mental, maupun sumber informal seperti keluarga, teman, pasangan, atau komunitas sebaya. Menurut Rickwood et al. (2005), perilaku mencari bantuan merupakan salah satu bentuk koping positif yang mampu membantu individu mengurangi tekanan psikologis sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Rickwood et al., 2005).
Namun demikian, tidak semua mahasiswa yang mengalami kecemasan akademik bersedia mencari bantuan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang enggan berkonsultasi dengan tenaga profesional karena adanya stigma terhadap kesehatan mental, rasa malu, takut dianggap lemah, kurangnya pengetahuan mengenai layanan konseling, maupun kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan sosial (Gulliver et al., 2010). Kondisi tersebut menyebabkan banyak mahasiswa memilih memendam permasalahan yang dialaminya sehingga tekanan psikologis semakin meningkat.
Namun demikian, tidak semua mahasiswa yang mengalami kecemasan akademik bersedia mencari bantuan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang enggan berkonsultasi dengan tenaga profesional karena adanya stigma terhadap kesehatan mental, rasa malu, takut dianggap lemah, kurangnya pengetahuan mengenai layanan konseling, maupun kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan sosial (Gulliver et al., 2010). Kondisi tersebut menyebabkan banyak mahasiswa memilih memendam permasalahan yang dialaminya sehingga tekanan psikologis semakin meningkat.
Di sisi lain, algoritma TikTok juga dapat memberikan dampak yang berlawanan. Apabila pengguna lebih sering berinteraksi dengan konten yang menampilkan pengalaman negatif, tekanan akademik, atau cerita mengenai kegagalan, algoritma akan terus merekomendasikan konten serupa. Paparan yang berulang terhadap konten tersebut berpotensi memperkuat persepsi negatif mengenai kehidupan akademik sehingga pengguna merasa bahwa kecemasan yang dialaminya merupakan kondisi yang tidak dapat diatasi. Akibatnya, individu justru semakin menarik diri dan enggan mencari bantuan meskipun mengalami tekanan psikologis yang cukup berat (Milton et al., 2023).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa perilaku help-seeking memiliki hubungan yang erat dengan tingkat kecemasan akademik mahasiswa. Semakin tinggi kecemasan yang dialami, semakin besar kebutuhan individu untuk memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, keputusan untuk mencari bantuan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti literasi kesehatan mental, dukungan sosial, stigma, serta jenis informasi yang diterima melalui media sosial. Oleh karena itu, TikTok dapat berperan sebagai faktor risiko maupun faktor protektif tergantung pada bagaimana algoritma menyajikan konten dan bagaimana pengguna memaknainya.
Dalam konteks penelitian ini, perilaku help-seeking diposisikan sebagai salah satu respons yang muncul setelah mahasiswa mengalami kecemasan akademik akibat intensitas paparan algoritma TikTok. Dengan demikian, pemahaman mengenai hubungan antara algoritma media sosial, kecemasan akademik, dan perilaku mencari bantuan menjadi penting untuk merumuskan strategi intervensi yang mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis Generasi Z, khususnya mahasiswa di Kota Bandung.
4.Pengaruh Intesitas Algoritma Tiktok terhadap kecemasan Akademik dan perilaku Help-Seeking Generazi Z di Kota bandung
Perkembangan algoritma media sosial telah mengubah cara individu mengakses, mengonsumsi, dan memaknai informasi dalam kehidupan sehari-hari. TikTok merupakan salah satu platform yang mengandalkan sistem rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) melalui fitur For You Page (FYP). Sistem ini bekerja dengan menganalisis berbagai aktivitas pengguna, seperti durasi menonton, video yang disukai, komentar, pencarian, hingga jenis konten yang sering diakses. Berdasarkan informasi tersebut, algoritma akan menyajikan konten yang dianggap paling relevan sehingga setiap pengguna memiliki pengalaman penggunaan yang berbeda-beda (Boeker & Urman, 2022).
Bagi Generasi Z, personalisasi algoritma tersebut memberikan berbagai manfaat, seperti kemudahan memperoleh informasi akademik, strategi belajar, peluang beasiswa, informasi magang, maupun berbagai materi pengembangan diri. Mahasiswa dapat memanfaatkan TikTok sebagai media pembelajaran alternatif karena informasi disajikan secara singkat, menarik, dan mudah dipahami. Kehadiran konten edukatif menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga mampu mendukung proses pembelajaran apabila dimanfaatkan secara tepat (Montag et al., 2021).
Meskipun demikian, intensitas paparan algoritma TikTok yang tinggi juga berpotensi menimbulkan berbagai konsekuensi psikologis. Algoritma yang terus menampilkan konten berdasarkan preferensi pengguna menyebabkan mahasiswa menerima paparan informasi yang relatif seragam dalam waktu yang lama. Apabila pengguna lebih sering berinteraksi dengan konten mengenai tekanan akademik, pengalaman gagal, atau tuntutan produktivitas, algoritma akan terus memperkuat paparan terhadap konten serupa. Kondisi ini dapat meningkatkan persepsi bahwa tekanan akademik merupakan pengalaman yang selalu dialami sehingga memengaruhi cara individu memandang dirinya maupun lingkungan akademiknya (Milton et al., 2023).
Salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut adalah fenomena social comparison. Ketika mahasiswa terus melihat pencapaian akademik orang lain melalui TikTok, mereka cenderung melakukan evaluasi terhadap kemampuan dirinya sendiri. Perbandingan tersebut sering kali bersifat tidak seimbang karena media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Akibatnya, mahasiswa dapat merasa kurang berprestasi, kehilangan rasa percaya diri, serta mengalami kekhawatiran terhadap kemampuan akademiknya sendiri (Festinger, 1954; Vogel et al., 2014).
Selain social comparison, algoritma TikTok juga dapat memperkuat fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Mahasiswa yang merasa takut tertinggal informasi akademik maupun tren media sosial cenderung lebih sering membuka aplikasi TikTok. Kebiasaan tersebut menyebabkan durasi penggunaan media sosial meningkat sehingga mengurangi waktu belajar, waktu istirahat, maupun interaksi sosial secara langsung. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi belajar, meningkatkan tingkat stres, serta memunculkan kecemasan akademik ketika mahasiswa merasa tidak mampu memenuhi tuntutan akademik yang dihadapi (Przybylski et al., 2013).
Konteks Kota Bandung memberikan dimensi yang menarik dalam pembahasan ini. Sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia, Bandung memiliki populasi mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Lingkungan akademik yang kompetitif, banyaknya aktivitas organisasi, persaingan memperoleh beasiswa, serta tuntutan prestasi akademik menjadikan mahasiswa di Kota Bandung memiliki potensi yang lebih besar untuk mengalami tekanan akademik. Ketika kondisi tersebut dipadukan dengan tingginya intensitas penggunaan TikTok, algoritma berpotensi memperkuat paparan terhadap konten yang memicu perbandingan sosial maupun kecemasan akademik.
Di sisi lain, algoritma TikTok juga memiliki potensi sebagai media yang mendukung perilaku help-seeking. Saat pengguna mulai mencari informasi mengenai kesehatan mental, stres akademik, atau layanan konseling, algoritma akan menampilkan lebih banyak konten edukatif dari psikolog, konselor, institusi pendidikan, maupun organisasi kesehatan mental. Konten tersebut dapat meningkatkan literasi kesehatan mental mahasiswa sekaligus mengurangi stigma terhadap upaya mencari bantuan profesional. Dengan demikian, algoritma TikTok dapat menjadi sarana yang efektif dalam memperluas akses informasi mengenai kesehatan mental apabila didukung oleh konten yang kredibel dan berbasis ilmiah (Naslund et al., 2020).
Hubungan antara intensitas algoritma TikTok, kecemasan akademik, dan perilaku help-seeking menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak yang bersifat negatif maupun positif secara mutlak. Dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengelola penggunaan media sosial, tingkat literasi digital, kondisi psikologis, serta dukungan sosial yang dimiliki. Mahasiswa yang mampu menggunakan TikTok secara proporsional dan selektif cenderung memperoleh manfaat berupa informasi edukatif dan dukungan sosial. Sebaliknya, mahasiswa yang menggunakan TikTok secara berlebihan tanpa kemampuan menyaring informasi berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan akademik akibat paparan konten yang tidak realistis.
Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara perguruan tinggi, keluarga, tenaga pendidik, serta penyedia platform media sosial untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran mengenai kesehatan mental. Perguruan tinggi dapat memperkuat layanan konseling, menyelenggarakan program edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat, serta mendorong mahasiswa agar tidak ragu mencari bantuan ketika mengalami tekanan akademik. Sementara itu, penyedia platform media sosial diharapkan terus mengembangkan algoritma yang mampu memprioritaskan konten edukatif dan informasi kesehatan mental yang berasal dari sumber terpercaya. Dengan demikian, manfaat algoritma TikTok dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan potensi risiko terhadap kesehatan mental mahasiswa, khususnya Generasi Z di Kota Bandung.
5.Implikasi bagi Perguruan Tinggi dan Rekomendasi Strategis
Temuan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan TikTok dan karakteristik algoritma For You Page (FYP) memiliki pengaruh yang kompleks terhadap kondisi psikologis mahasiswa. Di satu sisi, algoritma mampu memberikan akses yang lebih cepat terhadap informasi akademik, peluang pengembangan diri, serta edukasi mengenai kesehatan mental. Namun, di sisi lain, personalisasi konten yang terus-menerus juga berpotensi memperkuat social comparison, Fear of Missing Out (FOMO), dan budaya produktivitas yang berlebihan sehingga meningkatkan risiko kecemasan akademik. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang melibatkan berbagai pihak agar manfaat media sosial dapat dioptimalkan sekaligus meminimalkan dampak negatifnya (Montag et al., 2021; Milton et al., 2023).
Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan literasi digital mahasiswa. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami cara kerja algoritma media sosial, mengevaluasi kredibilitas informasi, serta menyadari dampak psikologis dari penggunaan media digital yang berlebihan. Mahasiswa yang memahami mekanisme algoritma TikTok akan lebih mampu menyadari bahwa konten yang muncul pada halaman FYP merupakan hasil personalisasi sistem, bukan gambaran objektif mengenai realitas kehidupan mahasiswa secara umum. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mengurangi kecenderungan melakukan perbandingan sosial yang tidak sehat (Boeker & Urman, 2022).
Selain meningkatkan literasi digital, perguruan tinggi juga perlu memperkuat layanan kesehatan mental yang mudah diakses oleh mahasiswa. Layanan konseling sebaiknya tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif melalui penyelenggaraan seminar, pelatihan, lokakarya, maupun kampanye kesehatan mental secara berkala. Edukasi mengenai kecemasan akademik, manajemen stres, teknik belajar yang efektif, dan pentingnya mencari bantuan profesional perlu menjadi bagian dari program pengembangan mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat mengenali gejala kecemasan sejak dini dan mengetahui langkah yang tepat untuk memperoleh bantuan (Rickwood et al., 2005; Gulliver et al., 2010).
Dosen sebagai pendidik juga memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan mental mahasiswa. Pendekatan pembelajaran yang terbuka, komunikasi yang baik, serta pemberian umpan balik yang konstruktif dapat membantu mengurangi tekanan akademik. Dosen juga dapat memberikan informasi mengenai layanan konseling kampus serta mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan layanan tersebut apabila mengalami kesulitan akademik maupun psikologis. Dukungan dari dosen terbukti dapat meningkatkan rasa aman mahasiswa sehingga mereka lebih berani mengungkapkan permasalahan yang dihadapi (Ryan & Deci, 2020).
Di tingkat individu, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan self-regulation dalam menggunakan media sosial. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengatur durasi penggunaan TikTok setiap hari, memanfaatkan fitur pengingat waktu (screen time reminder), serta secara berkala mengevaluasi jenis konten yang sering muncul pada halaman FYP. Mahasiswa juga disarankan untuk mengikuti akun-akun yang memberikan informasi edukatif, pengembangan keterampilan, maupun kesehatan mental sehingga algoritma lebih banyak merekomendasikan konten yang bermanfaat dibandingkan konten yang berpotensi memicu tekanan psikologis.
Selain itu, kemampuan berpikir kritis terhadap konten media sosial perlu terus dikembangkan. Tidak semua informasi yang beredar di TikTok memiliki dasar ilmiah yang kuat. Konten mengenai metode belajar, kesehatan mental, maupun produktivitas perlu disaring dengan membandingkannya terhadap sumber yang kredibel seperti artikel ilmiah, lembaga pendidikan, organisasi profesi, atau institusi kesehatan. Sikap kritis tersebut akan membantu mahasiswa terhindar dari informasi yang menyesatkan sekaligus mengurangi ekspektasi yang tidak realistis terhadap kehidupan akademik.
Penyedia platform media sosial juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat. TikTok dapat terus mengembangkan algoritma yang memberikan prioritas terhadap konten edukatif, informasi kesehatan mental dari tenaga profesional, serta menyediakan fitur pelaporan terhadap konten yang berpotensi membahayakan kondisi psikologis pengguna. Selain itu, kerja sama antara platform media sosial dengan perguruan tinggi maupun organisasi kesehatan mental dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas penyebaran informasi yang akurat mengenai kesehatan mental di kalangan mahasiswa (Milton et al., 2023).
Dalam konteks Kota Bandung, berbagai perguruan tinggi dapat mengembangkan program kolaboratif yang berfokus pada peningkatan literasi digital dan kesehatan mental mahasiswa. Misalnya melalui kampanye penggunaan media sosial yang sehat, pelatihan pengelolaan stres akademik, penyediaan layanan konseling berbasis digital, hingga pembentukan komunitas sebaya (peer support group) sebagai ruang berbagi pengalaman. Pendekatan kolaboratif tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian penting dari keberhasilan akademik.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa upaya mengurangi dampak negatif algoritma TikTok terhadap kecemasan akademik tidak dapat dilakukan hanya oleh mahasiswa sebagai pengguna media sosial. Diperlukan sinergi antara perguruan tinggi, dosen, keluarga, penyedia platform digital, serta mahasiswa itu sendiri dalam membangun ekosistem digital yang sehat. Melalui peningkatan literasi digital, penguatan layanan kesehatan mental, dan pemanfaatan media sosial secara bertanggung jawab, TikTok dapat menjadi media yang mendukung proses pembelajaran sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis Generasi Z.
Kesimpulan
Perkembangan algoritma media sosial, khususnya TikTok, telah membawa perubahan yang signifikan terhadap cara Generasi Z memperoleh informasi, berinteraksi, dan membentuk persepsi mengenai kehidupan akademik. Melalui sistem rekomendasi For You Page (FYP), TikTok mampu menyajikan konten yang dipersonalisasi berdasarkan perilaku pengguna sehingga meningkatkan intensitas penggunaan aplikasi. Kemampuan algoritma dalam menyajikan konten yang relevan menjadikan TikTok sebagai media yang efektif untuk memperoleh informasi edukatif, berbagi pengalaman akademik, serta memperluas akses terhadap berbagai sumber pembelajaran. Namun, di balik manfaat tersebut, algoritma juga berpotensi memperkuat paparan terhadap konten yang memicu social comparison, Fear of Missing Out (FOMO), dan budaya produktivitas yang berlebihan, sehingga meningkatkan risiko munculnya kecemasan akademik pada mahasiswa Generasi Z.
Pembahasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa hubungan antara intensitas algoritma TikTok dan kecemasan akademik tidak bersifat sederhana, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat literasi digital, kemampuan mengelola penggunaan media sosial, kondisi psikologis individu, serta dukungan sosial yang dimiliki. Mahasiswa yang memiliki kemampuan literasi digital yang baik cenderung lebih mampu memanfaatkan TikTok sebagai sumber informasi dan pengembangan diri tanpa mengalami tekanan psikologis yang berlebihan. Sebaliknya, mahasiswa yang menggunakan TikTok secara berlebihan dan kurang memiliki kemampuan menyaring informasi berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, meningkatnya tekanan akademik, hingga munculnya kecemasan akibat perbandingan sosial yang tidak realistis.
Artikel ini juga menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berpotensi menjadi faktor risiko, tetapi juga dapat menjadi sarana yang mendukung perilaku help-seeking. Melalui penyebaran konten edukatif mengenai kesehatan mental, pengalaman konseling, dan informasi layanan psikologis, TikTok mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental serta mendorong mereka untuk mencari bantuan ketika menghadapi tekanan akademik. Oleh karena itu, dampak algoritma TikTok sangat bergantung pada jenis konten yang dikonsumsi, cara pengguna memaknai informasi, serta kemampuan individu dalam menggunakan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.
Dalam konteks Generasi Z di Kota Bandung, tingginya intensitas penggunaan TikTok yang disertai dengan lingkungan akademik yang kompetitif menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang rentan mengalami kecemasan akademik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam meningkatkan literasi digital, memperkuat layanan kesehatan mental, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif. Program edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat, pelatihan pengelolaan stres akademik, serta penguatan layanan konseling di lingkungan kampus dapat menjadi strategi preventif untuk mengurangi dampak negatif algoritma media sosial terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa algoritma TikTok merupakan teknologi yang memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman digital Generasi Z. Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi informasi, tetapi juga menyentuh aspek psikologis, khususnya kecemasan akademik dan perilaku help-seeking. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, keluarga, pemerintah, serta penyedia platform media sosial dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, aman, dan mendukung perkembangan akademik maupun kesehatan mental Generasi Z. Dengan adanya sinergi tersebut, pemanfaatan TikTok diharapkan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mampu berkontribusi secara positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan psikologis mahasiswa di Indonesia.
Sebagai rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, kajian mengenai pengaruh algoritma TikTok terhadap kesehatan mental mahasiswa dapat dikembangkan melalui penelitian empiris dengan pendekatan kuantitatif maupun mixed methods. Penelitian juga dapat memasukkan variabel lain, seperti literasi digital, regulasi diri (self-regulation), dukungan sosial, intensitas penggunaan media sosial, dan kualitas tidur sebagai faktor yang diduga memengaruhi hubungan antara algoritma TikTok, kecemasan akademik, dan perilaku help-seeking. Dengan demikian, hasil penelitian di masa mendatang diharapkan mampu memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat dalam penyusunan kebijakan maupun intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis Generasi Z.
Daftar Pusaka
American Psychological Association. (2023). Stress effects on the body. https://www.apa.org/topics/stress/body
Boeker, M., & Urman, A. (2022). An empirical investigation of personalization factors on TikTok. Proceedings of the ACM Web Conference 2022, 2298–2309. https://doi.org/10.1145/3485447.3512102
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Gulliver, A., Griffiths, K. M., & Christensen, H. (2010). Perceived barriers and facilitators to mental health help-seeking in young people: A systematic review. BMC Psychiatry, 10(113). https://doi.org/10.1186/1471-244X-10-113
Milton, A., Ajmani, L., DeVito, M. A., & Chancellor, S. (2023). “I See Me Here”: Mental health content, community, and algorithmic curation on TikTok. Proceedings of the CHI Conference on Human Factors in Computing Systems. https://doi.org/10.1145/3544548.3581489
Montag, C., Yang, H., & Elhai, J. D. (2021). On the psychology of TikTok use: A first glimpse from empirical findings. Frontiers in Public Health, 9, Article 641673. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.641673
Naslund, J. A., Aschbrenner, K. A., Marsch, L. A., & Bartels, S. J. (2016). The future of mental health care: Peer-to-peer support and social media. Epidemiology and Psychiatric Sciences, 25(2), 113–122. https://doi.org/10.1017/S2045796015001067
Pekrun, R. (2006). The control-value theory of achievement emotions: Assumptions, corollaries, and implications for educational research and practice. Educational Psychology Review, 18(4), 315–341. https://doi.org/10.1007/s10648-006-9029-9
Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
Rickwood, D., Deane, F. P., Wilson, C. J., & Ciarrochi, J. (2005). Young people’s help-seeking for mental health problems. Australian e-Journal for the Advancement of Mental Health, 4(3), 218–251.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology.
Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047