Hey Moring: Ketika Cimol Basah Bertransformasi Jadi Cemilan Kekinian yang Tahan Lama

6–9 minutes

Siapa yang tidak kenal cimol? Cemilan berbahan dasar tepung tapioka yang digoreng hingga kenyal-kenyal ini sudah lama jadi primadona jajanan kaki lima di berbagai di berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, cimol basah punya satu kelemahan besar: umur simpanannya pendek. Begitu dingin, teksturnya berubah jadi keras dan alot, dan rasa gurihnya pun cepat pudar. Dari masalah klasik inilah lahir sebuah inovasi produk yang belakangan makin digandrungi anak muda: Moring, singkatan dari “cimol kering”. Salah satu pelaku usaha yang mengangkat konsep ini adalah Hey Moring, sebuah brand cemilan yang menghadirkan Moring dengan ciri khas bentuk bulat tipis bertekstur keripik, lengkap dengan identitas merek yang catchy dan mudah diingat anak muda.

Artikel ini akan membahas bagaimana Hey Moring bisa menjadi contoh peluang usaha yang menjanjikan, mulai dari sisi kreasi produk, strategi branding, hingga taktik digital marketing yang bisa diterapkan mahasiswa yang ingin merintis bisnis serupa.

Apa Itu Moring?

Berbeda dari cimol basah pada umumnya yang berbentuk bulat gemuk dan bertekstur kenyal di bagian dalam, Moring justrung dibuat pipih dan tipis, sehingga saat digoreng kering, seluruh bagian adonan matang merata dan menghasilkan tekstur renyah menyerupai keripik dari luar hingga ke dalam buka lagi kenyal seperti cimol pada umumnya. Bentuk bulat tipis ini bukan tanpa alasan:semakin tipis adonan, semakin merata pula tingkat kematangan dan kerenyahannya, sekaligus mempercepat proses penggorengan dan memperpanjang daya tahan produk karena kadar minyak uap air yang terperangkap di dalam adonan jauh lebih sedikit dibanding cimol berbentuk bulat gemuk.

Produk ini biasanya dijual dalam kemasan pouch berdiri (standing pouch) lengkap dengan bumbu tabur beraneka rasa, mulai dari original, pedas daun jeruk, pedas, balado, keju hingga varian kekinian seperti seaweed.

Karakteristik “keripik tapi tetap gurih khas cimol” inilah yang menjadikan Moring lebih praktis dikonsumsi kapan saja:sebagai teman nonton film, cemilan saat belajar, oleh-oleh khas daerah, atau bahkan dijual kembali secara online karena tahan lama saat proses pengiriman

Peluang Usaha di Balik Cemilan Sederhana

Dari sudut pandang kewirausahaan, Moring adalah contoh nyata bagaimana inovasi kecil pada proses produksi bisa membuka pasar yang jauh lebih luas. Cimol basah pada dasarnya adalah bisnis lokal yang terbatas radius penjualannya karena faktor daya tahan. Namun ketika diubah menjadi produk kering, Moring bisa:

  1. Dijual lintas kota bahkan lintas pulau lewat platfom e-commerce dan jasa ekspedisi, karena tidak mudah basi.
  2. Diproduksi dalam skala besar dan disimpan sebagai stok, sehingga produksi tidak harus selalu “made by order” setiap hari.
  3. Dikemas dengan branding yang lebih premium, membuka peluang masuk ke rak-rak minimarket atau toko oleh-oleh.
  4. Dikembangkan menjadi produk turunan, seperti Moring dengan level kepedasan berjenjang, Moring mini untuk snack anak, atau paket bundling dengan cemilan kering lain.

Inilah yang membuat usaha cemilan kering seperti Moring menarik untuk dijadikan proyek wirausaha mahasiswa, baik dalam konteks program INBISKOM, maupun sekedar usaha sampingan yang dirintis dari kamar kos.

Kreasi Produk: Dari Dapur Rumahan ke Skala Bisnis

Untuk menghasilkan Moring yang berkualitas dan konsisten, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pelaku usaha:

Pemilihan bahan baku. Kualitas tepung tapioka sangat menentukan tekstur akhir. Tapioka yang terlalu halus bisa membuat cimol mudah gosong saat digoreng kering, sementara yang terlalu kasar membuat tekstur kurang kenyal.

Ketebal dan bentuk adonan. Karena Moring dicetak bulat dan tipis menyerupai keripik, konsistensi ketebalan adonan menjadi faktor peting. Adonan yang terlalu tipis beresiko gosong atau pecah saat digoreng. Ketebalan yang ideal seragam akan menghasilkan kerenyahan yang merata di setiap keping.

Teknik penggorengan. Berbeda dari cimol basah yang digoreng sebentar dengan api besar, Moring memerlukan penggorengan dengan api keci-sedang dalam waktu yang lebih lama agar seluruh bagian adonan matang merata hingga ke tengah dan menghasilkan tekstur renyah seperti keripik, bukan sekadar kering di permukaan saja.

Standardisasi bumbu. Karena Moring dijual dalam bentuk kemasan yang bisa disimpan lama, rasa bumbu harus konsisten dari satu batch produksi ke batch berikutnya. Di sinilah pentingnya mencatat resep secara presisi-bukan sekadar “kira-kira” agar pelanggan mendapatkan pengalaman rasa yang sama setiap kali membeli.

Kemasan dan daya tahan. Penggunaan kemasan kedap udara dengan tambahan silica gel food grade dapat memperpanjang umur simpan produk sekaligus menjaga kerenyahannya selama proses distribusi.

Branding: Membuat Cimo Kering Terlihat

Salah satu tantangan terbesar usaha cemilan tradisional adalah persepsi bahwa produk semacam ini adalah jajanan murah yang “biasa saja”. Padahal, dengan branding yang tepat, cemilan sederhana bisa naik kelas dan dijual dengan harga yang lebih premium tanpa kehilangan daya tariknya di kalangan anak muda.

Beberapa strategi branding yang bisa diterapkan pada produk seperti Moring antara lain:

  • Nama yang catchy dan mudah diingat. Nama “Moring” sendiri sudah menjadi contoh baik: singkat, unik, dan langsung menggambarkan produk (cimol kering) tanpa terdengar kaku. Penambahan sapaan di depannya, seperti pada brand Hey Moring, membuat nama produk terasa lebih hangat dan personal, seolah menyapa langsung calon pembeli—sebuah pendekatan yang efektif untuk membangun kedekatan dengan target pasar anak muda.
  • Desain kemasan yang estetik. Warna-warna cerah, ilustrasi karakter lucu, atau desain minimalis modern membuat produk lebih menarik difoto dan dibagikan di media sosial—yang secara tidak langsung menjadi promosi gratis.
  • Storytelling di balik produk. Cerita tentang bagaimana produk ini dibuat, siapa yang membuatnya, atau perjuangan merintis usaha dari nol bisa membangun kedekatan emosional dengan pelanggan, terutama di kalangan Generasi Z yang cenderung mendukung produk UMKM lokal.
  • Konsistensi identitas visual. Logo, palet warna, dan gaya komunikasi yang sama di setiap platform (kemasan, Instagram, TikTok, marketplace) membantu produk lebih mudah dikenali dan dipercaya.

Digital Marketing: Menjangkau Pasar Lebih Luas dengan Modal Minim

Di era digital, usaha rumahan seperti Moring punya kesempatan yang sama besarnya dengan brand besar untuk menjangkau pasar nasional, asalkan strategi digital marketing-nya tepat sasaran. Berikut beberapa pendekatan yang relevan diterapkan:

Konten short video. Platform seperti TikTok dan Instagram Reels sangat cocok untuk menampilkan proses produksi Moring, mulai dari adonan cimol dibentuk, digoreng, hingga dibumbui. Konten “behind the scene” seperti ini biasanya punya engagement tinggi karena memberikan kesan autentik dan transparan kepada calon pembeli.

Kolaborasi dengan micro-influencer lokal. Alih-alih menggandeng selebgram besar dengan biaya tinggi, bekerja sama dengan food vlogger atau mahasiswa dengan follower ribuan namun engagement tinggi seringkali lebih efektif dan efisien dari sisi biaya.

Optimasi marketplace. Foto produk yang jelas, deskripsi lengkap (komposisi, berat bersih, level pedas, tanggal produksi), serta harga yang kompetitif akan meningkatkan kepercayaan pembeli di platform seperti Shopee atau TikTok Shop.

Program business matching. Mengikuti kegiatan business matching yang biasa diadakan dalam program kewirausahaan kampus membuka peluang bagi produk seperti Moring untuk dipertemukan dengan investor, reseller, maupun mitra distribusi yang bisa membantu memperluas jangkauan pasar.

Testimoni dan ulasan pelanggan. Ulasan asli dari pembeli, baik dalam bentuk tulisan maupun video singkat, menjadi salah satu bentuk social proof paling efektif untuk meyakinkan calon pembeli baru yang masih ragu mencoba.

Tantangan yang Perlu Diantisipasi

Seperti usaha kuliner pada umumnya, Moring juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti persaingan dengan produk sejenis yang sudah lebih dulu populer, fluktuasi harga bahan baku seperti minyak goreng dan tepung, hingga menjaga kualitas rasa saat produksi mulai diperbesar skalanya. Pelaku usaha perlu memiliki strategi mitigasi, misalnya dengan menjalin kerja sama jangka panjang dengan supplier bahan baku, melakukan uji coba rasa secara berkala, serta membangun sistem produksi yang terstandardisasi agar kualitas tetap terjaga meski permintaan meningkat.

Penutup

Hey Moring membuktikan bahwa peluang usaha tidak selalu harus lahir dari ide yang benar-benar baru. Terkadang, inovasi sederhana terhadap produk yang sudah ada—seperti mengubah cimol basah menjadi keripik cimol kering bulat tipis, lalu mengemasnya dengan identitas brand yang kuat—sudah cukup untuk membuka pasar baru yang lebih luas. Dengan kombinasi kreasi produk yang matang, branding yang khas dan mudah diingat, serta strategi digital marketing yang tepat sasaran, cemilan tradisional seperti cimol pun bisa bertransformasi menjadi produk UMKM yang mampu bersaing di pasar nasional, bahkan berpotensi merambah pasar ekspor di masa depan.

Bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha, Hey Moring bisa menjadi inspirasi bahwa modal utama sebuah bisnis bukan hanya uang, melainkan juga kejelian melihat peluang dari hal-hal yang tampak sederhana di sekitar kita, serta keberanian membangun identitas merek yang berbeda dari yang lain.


Penulis Nicky Febriyanti (11024009) Komputerisasi Akuntansi

Artikel ini disusun sebagai tugas Publikasi Artikel Mata Kuliah Kewirausahaan, Program INBISKOM, Semester Genap 2025/2026.

Referensi

  1. Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. (2023). Panduan Pengembangan Produk UMKM Kuliner.
  2. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2022). Pedoman Kemasan Pangan Aman untuk Produk UMKM.
  3. Kotler, P., & Armstrong, G. (2021). Principles of Marketing (18th ed.). Pearson Education.