Gula Naik, Ide Jalan: Mochi di Tengah Aktivitas Studio

7–10 minutes

Studio arsitektur bukan hanya ruang akademik, melainkan ruang kehidupan yang membentuk kebiasaan, karakter, dan cara berpikir mahasiswa. Di ruang inilah proses belajar tidak lagi berbentuk teori semata, tetapi berubah menjadi pengalaman fisik dan mental yang intens. Di Kampus UNIKOM, khususnya pada Program Studi Arsitektur, studio menjadi ruang yang nyaris tidak pernah benar-benar sepi. Aktivitas di dalamnya berlangsung sejak pagi hingga malam, bahkan sering kali melewati batas waktu formal perkuliahan.

Meja gambar yang dipenuhi coretan, layar laptop yang menyala berjam-jam, maket yang terus direvisi, serta tumpukan kertas yang tidak pernah benar-benar rapi menjadi pemandangan sehari-hari. Studio tidak hanya menyimpan hasil kerja, tetapi juga menyimpan kelelahan, tekanan, dan perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan proses desain. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan dasar tubuh sering kali tidak menjadi prioritas utama.

Aktivitas studio menuntut konsentrasi tinggi dalam durasi panjang. Mahasiswa arsitektur tidak hanya dituntut untuk menggambar, tetapi juga berpikir konseptual, mempertimbangkan konteks, menganalisis fungsi, serta menerjemahkan ide abstrak menjadi bentuk ruang yang rasional. Proses ini menguras energi mental secara terus-menerus. Banyak mahasiswa bekerja dalam kondisi lapar, mengantuk, dan lelah, namun tetap memaksakan diri untuk bertahan demi memenuhi tuntutan tugas.

Budaya studio yang intens membuat waktu makan sering kali terabaikan. Makan dianggap sebagai aktivitas yang bisa ditunda. Banyak mahasiswa memilih menyelesaikan satu tahap kerja terlebih dahulu sebelum mencari makanan. Namun, penundaan ini sering berujung pada kondisi tubuh yang kekurangan energi. Ketika kadar gula darah menurun, tubuh memberikan sinyal melalui rasa lemas, pusing ringan, dan menurunnya fokus.

Penurunan energi ini berdampak langsung pada proses berpikir. Ide terasa buntu, keputusan desain menjadi tidak pasti, dan pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat justru terasa berlarut-larut. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa membutuhkan solusi yang cepat, praktis, dan mudah diakses. Di sinilah peran camilan manis mulai terasa signifikan.

Di lingkungan Kampus UNIKOM, mochi menjadi salah satu camilan yang paling sering dikonsumsi mahasiswa arsitektur. Mochi dijual dengan harga terjangkau dan mudah ditemukan di sekitar kampus. Ukurannya kecil, teksturnya lembut, dan rasanya manis. Kombinasi ini menjadikannya camilan yang ideal untuk dikonsumsi di tengah aktivitas studio tanpa harus menghentikan pekerjaan terlalu lama.

Mochi mengandung karbohidrat sederhana yang dapat diubah tubuh menjadi energi dalam waktu relatif singkat. Bagi mahasiswa yang sedang berada dalam kondisi kelelahan, efek ini sangat terasa. Setelah mengonsumsi mochi, tubuh mendapatkan dorongan energi yang membantu meningkatkan fokus dan kesiapan mental. Walaupun efeknya bersifat sementara, dorongan kecil ini sering kali cukup untuk membantu mahasiswa melewati fase kritis dalam proses desain.

Bagi mahasiswa arsitektur UNIKOM, mochi bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari rutinitas studio. Ia hadir pada waktu-waktu tertentu, seperti sore hari ketika energi mulai menurun atau malam hari saat pekerjaan belum selesai. Kehadiran mochi sering kali menjadi penanda bahwa tubuh membutuhkan perhatian, meskipun hanya sebentar.

Selain berfungsi sebagai sumber energi, mochi juga memiliki peran sosial di dalam studio. Aktivitas membeli mochi sering menjadi momen kebersamaan. Ketika satu mahasiswa berdiri dan menawarkan untuk membeli mochi, yang lain hampir selalu ikut menitip. Mochi kemudian dibagikan di atas meja studio, dimakan bersama sambil berdiskusi, bercanda, atau sekadar berbagi keluh kesah tentang tugas dan revisi.

Interaksi sederhana ini memiliki dampak yang tidak bisa dianggap remeh. Di tengah tekanan akademik yang tinggi, momen kebersamaan ini membantu mencairkan suasana. Mahasiswa merasa lebih rileks, lebih didukung, dan tidak sendirian dalam menghadapi beban studio. Dalam konteks pendidikan arsitektur yang sering kali kompetitif dan menuntut, kebersamaan semacam ini menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan mental.

Ungkapan “gula naik, ide jalan” muncul sebagai refleksi dari pengalaman tersebut. Banyak mahasiswa merasakan bahwa setelah mengonsumsi mochi, pikiran menjadi lebih jernih. Ide yang sebelumnya terasa mentok mulai menemukan arah baru. Terkadang solusi desain muncul bukan karena perubahan besar, tetapi karena kondisi tubuh yang kembali cukup bertenaga untuk berpikir dengan lebih tenang.

Hubungan antara kondisi fisik dan proses kreatif menjadi sangat jelas dalam konteks ini. Ide tidak lahir semata-mata dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari kondisi tubuh yang mendukung. Ketika tubuh kelelahan, kemampuan berpikir menurun. Sebaliknya, ketika energi terisi, meski hanya sedikit, proses kreatif dapat kembali berjalan.

Mochi juga berfungsi sebagai pemicu jeda singkat dalam ritme kerja studio. Jeda ini penting karena memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak tanpa benar-benar meninggalkan ruang kerja. Dalam dunia desain, jeda semacam ini sering kali justru membantu mahasiswa melihat kembali karyanya dengan sudut pandang yang lebih segar dan objektif.

Namun, kebiasaan mengandalkan camilan manis juga mencerminkan sisi lain dari kehidupan studio arsitektur. Ketergantungan pada solusi instan menunjukkan bahwa mahasiswa sering berada dalam kondisi kerja yang melelahkan dan kurang seimbang. Mochi menjadi solusi darurat yang membantu bertahan, tetapi tidak menyelesaikan akar permasalahan berupa beban kerja dan pola hidup yang tidak teratur.

Meski demikian, peran mochi dalam kehidupan studio tetap tidak bisa dipisahkan. Ia menjadi simbol adaptasi mahasiswa terhadap tekanan akademik. Dalam keterbatasan waktu dan energi, mahasiswa mencari cara paling realistis untuk tetap produktif. Mochi memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara yang sederhana namun efektif.

Di lingkungan Program Studi Arsitektur UNIKOM, mochi akhirnya menjadi bagian dari memori kolektif mahasiswa. Ia hadir dalam cerita tentang begadang, asistensi panjang, revisi tanpa akhir, dan diskusi larut malam. Mochi menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa dalam menuntaskan proses belajar yang tidak ringan.

Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan bahwa ruang studio bukan hanya tempat produksi karya, tetapi juga ruang yang membentuk kebiasaan dan budaya. Cara mahasiswa makan, beristirahat, dan berinteraksi di studio mencerminkan bagaimana mereka beradaptasi dengan tuntutan pendidikan arsitektur. Mochi, dalam konteks ini, menjadi bagian kecil dari budaya tersebut.

Pada akhirnya, mochi merepresentasikan hubungan sederhana antara tubuh dan pikiran. Ia mengingatkan bahwa di balik gambar teknis, maket, dan konsep desain yang kompleks, ada manusia yang membutuhkan energi untuk terus berpikir dan berkarya. Ide besar sering kali lahir bukan dari kondisi ideal, tetapi dari usaha bertahan di tengah keterbatasan.

Gula mungkin hanya naik sementara, tetapi dalam momen singkat itu, ide kembali menemukan jalannya. Studio kembali hidup, tangan kembali bekerja, dan proses kreatif terus berjalan.

Dalam dinamika studio arsitektur, keberadaan camilan seperti mochi juga memengaruhi suasana kerja secara tidak langsung. Ketika energi mahasiswa kembali terisi, ritme kerja menjadi lebih stabil dan suasana studio terasa lebih hidup. Diskusi berjalan lebih aktif, kritik desain disampaikan dengan lebih tenang, dan proses asistensi menjadi lebih produktif. Hal-hal kecil seperti ini sering kali luput dari perhatian, padahal sangat berpengaruh terhadap kualitas proses belajar di studio.

Mochi juga memperlihatkan bagaimana mahasiswa arsitektur membangun strategi bertahan dalam sistem pendidikan yang menuntut produktivitas tinggi. Tanpa disadari, kebiasaan mengonsumsi camilan manis di tengah aktivitas studio menjadi bentuk adaptasi terhadap tekanan akademik. Mahasiswa belajar mengenali batas tubuhnya sendiri dan mencari cara paling praktis untuk menjaga energi agar tetap bisa menyelesaikan tugas. Dalam konteks ini, mochi bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari mekanisme bertahan hidup di studio.

Fenomena mochi di studio arsitektur UNIKOM juga mencerminkan hubungan antara ruang, aktivitas, dan perilaku pengguna. Studio sebagai ruang kerja intensif mendorong munculnya pola konsumsi tertentu yang berbeda dengan ruang kuliah biasa. Kebutuhan akan makanan cepat saji, mudah dikonsumsi, dan tidak mengganggu aktivitas menjadi lebih dominan. Mochi memenuhi kebutuhan tersebut dan secara alami menempati posisinya sendiri dalam keseharian mahasiswa studio.

Pada akhirnya, keberadaan mochi di tengah aktivitas studio menjadi simbol kecil dari perjuangan besar mahasiswa arsitektur. Ia hadir di antara rasa lelah, tekanan deadline, dan tuntutan kreativitas yang terus-menerus. Melalui hal sederhana seperti camilan manis, mahasiswa menjaga energi, kebersamaan, dan semangat untuk terus melanjutkan proses belajar. Gula mungkin hanya naik sesaat, tetapi dari momen singkat itu, ide kembali berjalan dan perjalanan panjang di studio pun dapat terus dilalui.

Jika ditarik lebih jauh, kebiasaan mengonsumsi mochi di studio juga menunjukkan bagaimana mahasiswa arsitektur memaknai waktu. Dalam lingkungan studio, waktu tidak lagi dibagi secara konvensional antara jam kuliah dan jam istirahat. Waktu menjadi fleksibel dan sering kali kabur. Mochi hadir sebagai penanda jeda yang tidak resmi, momen singkat untuk berhenti sejenak sebelum kembali tenggelam dalam pekerjaan yang menuntut perhatian penuh.

Dari sisi psikologis, rasa manis pada mochi juga memberikan efek kenyamanan. Di tengah tekanan akademik dan tuntutan performa, sensasi manis dapat memicu perasaan positif yang sederhana namun penting. Perasaan ini membantu meredam stres dan memberikan ketenangan sesaat. Walaupun singkat, momen tersebut berkontribusi pada kestabilan emosi mahasiswa selama menjalani proses studio yang panjang dan melelahkan.

Kebiasaan ini juga memperlihatkan adanya hubungan antara makanan dan kreativitas. Kreativitas tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan berpikir abstrak, tetapi juga oleh kondisi emosional dan fisik seseorang. Ketika tubuh mendapatkan asupan yang cukup, pikiran menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan baru. Mochi, dalam konteks ini, berperan sebagai pemicu kecil yang membantu membuka ruang bagi ide-ide segar untuk muncul.

Keberadaan mochi di studio juga menunjukkan bagaimana ruang kampus beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya. Penjual mochi yang sering ditemui di sekitar UNIKOM secara tidak langsung merespons pola aktivitas mahasiswa, khususnya mahasiswa arsitektur yang menghabiskan banyak waktu di studio. Hal ini menciptakan hubungan timbal balik antara aktivitas akademik dan kehidupan ekonomi kecil di sekitar kampus.

Dalam jangka panjang, pengalaman-pengalaman sederhana seperti ini akan menjadi bagian dari ingatan mahasiswa tentang masa studi mereka. Ketika kelak mengenang kehidupan kampus, yang diingat bukan hanya tugas besar atau proyek akhir, tetapi juga momen-momen kecil seperti makan mochi bersama di studio. Kenangan ini membentuk ikatan emosional dengan ruang studio dan dengan sesama mahasiswa.

Dengan demikian, mochi di tengah aktivitas studio bukan sekadar camilan pelengkap, tetapi bagian dari narasi kehidupan mahasiswa arsitektur UNIKOM. Ia hadir sebagai pengisi energi, pemicu interaksi, dan penanda ritme kerja. Melalui hal yang tampak sederhana ini, terlihat bagaimana mahasiswa berjuang, beradaptasi, dan terus melangkah dalam proses belajar yang menantang. Gula naik, ide jalan, dan perjalanan kreatif di studio pun terus berlanjut.