Generasi Peka Lingkungan Desa melalui Pemberdayaan Karang Taruna dengan Strategi Komunikasi Pembangunan Sosial untuk Mewujudkan Lingkungan Bersih Desa Bojongkunci berbasis Komposter dan Eco Enzym

8–12 minutes

Isu kebersihan lingkungan desa kini menjadi salah satu perhatian utama dalam pembangunan berkelanjutan. Desa Bojongkunci, yang terletak di kawasan Bandung Selatan, menyimpan potensi besar untuk menjadi contoh desa mandiri yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Namun seperti banyak desa lainnya, Bojongkunci masih menghadapi masalah klasik — penumpukan sampah organik dari rumah tangga dan limbah pasar yang belum tertangani secara efisien.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini, kami berupaya menciptakan solusi sederhana namun berdampak, yaitu melalui pengembangan komposter dan eco enzym. Ide ini muncul dari keinginan untuk menggabungkan pendekatan teknologi sederhana dengan pemberdayaan sosial. Target utama bukan hanya menghasilkan produk ramah lingkungan, tetapi juga membentuk generasi muda desa yang peka terhadap isu lingkungan, terutama melalui wadah Karang Taruna sebagai motor gerakan sosialnya.

Masalah utama yang dihadapi Bojongkunci sebenarnya bukan hanya pada sampah, tetapi pada kebiasaan pengelolaan. Banyak masyarakat yang belum memahami nilai ekonomis dari sampah organik. Limbah dapur, kulit buah, dan sisa sayuran seringkali dibakar atau dibuang begitu saja ke tempat pembuangan umum. Akibatnya, bau tidak sedap dan pencemaran tanah pun tak terhindarkan.

Dari hasil observasi awal dan wawancara singkat dengan warga, kami menemukan bahwa sebagian besar masyarakat bersedia berpartisipasi, namun belum memiliki pemahaman atau fasilitas untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna. Hal inilah yang melahirkan gagasan untuk memperkenalkan teknologi komposter skala rumah tangga dan eco enzym — dua inovasi sederhana berbasis sains rumah tangga yang bisa diterapkan oleh siapa saja.

Menurut penelitian oleh Pratiwi dkk. (2023), penggunaan eco enzym dapat mengurangi kadar polutan dalam air hingga 30% dan mempercepat penguraian limbah organik secara alami. Sementara itu, komposter skala kecil terbukti efektif menekan volume sampah rumah tangga hingga 50% (Rahmadani & Yusuf, 2022). Dua hal inilah yang ingin kami integrasikan dalam PKM ini sebagai model solusi hijau desa.

Tujuan Program

Program ini memiliki tiga tujuan utama:

  1. Menciptakan produk eksperimen ramah lingkungan berupa komposter dan cairan eco enzym hasil olahan limbah rumah tangga.
  2. Memberdayakan Karang Taruna Desa Bojongkunci sebagai agen perubahan yang memimpin gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
  3. Membangun budaya sadar lingkungan dengan komunikasi pembangunan sosial yang ringan dan partisipatif.

Dengan pendekatan ini, kami berharap bukan hanya produk yang terbentuk, tetapi juga munculnya pola pikir baru bahwa pengelolaan sampah bukanlah beban, melainkan peluang.

Konsep Produk: Komposter dan Eco Enzym

  1. Komposter Sederhana

Komposter yang akan dikembangkan berbentuk tabung vertikal berbahan dasar ember plastik bekas dengan kapasitas sekitar 30 liter. Di bagian bawahnya dilengkapi dengan kran kecil untuk mengeluarkan cairan hasil dekomposisi (lindi) yang juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair alami.

Bahan dan alat:

  • Ember bekas ukuran 20–30 liter
  • Pipa PVC kecil atau kran plastik
  • Saringan kawat
  • Lubang udara (menggunakan bor atau solder)
  • Sampah organik rumah tangga
  • Aktivator (EM4 atau cairan eco enzym)

Langkah pembuatan:

  • Lubangi ember di beberapa sisi untuk sirkulasi udara.
  • Pasang kran di bagian bawah sebagai saluran lindi.
  • Masukkan saringan kawat agar bahan organik tidak menghambat saluran.
  • Masukkan sampah organik secara bertahap dengan aktivator.
  • Aduk setiap 3–5 hari agar proses fermentasi merata.

Dalam waktu 3–4 minggu, hasil dekomposisi akan berubah menjadi kompos matang yang siap digunakan sebagai pupuk untuk tanaman pekarangan.

  1. Eco Enzym

Produk kedua yang dikembangkan adalah eco enzym, cairan hasil fermentasi dari limbah organik seperti kulit buah, sayur, gula merah, dan air. Proses ini membutuhkan waktu 3 bulan, namun hasilnya bisa digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga seperti pembersih alami, pupuk cair, dan pengusir serangga.

Formula dasar eco enzym:

  • 3 bagian sisa buah/sayur
  • 1 bagian gula merah
  • 10 bagian air

Langkah pembuatan:

  • Campurkan semua bahan ke dalam wadah tertutup (jerigen plastik).
  • Biarkan selama 90 hari, buka tutup wadah setiap minggu agar gas hasil fermentasi keluar.
  • Setelah matang, saring cairan dan simpan dalam botol bersih.

Menurut Wong (2019), eco enzym terbukti memiliki pH asam alami (sekitar 3,5) yang dapat menguraikan kotoran organik dan mengurangi bakteri patogen di permukaan.

Strategi Komunikasi dan Pemberdayaan Karang Taruna

Program ini tidak hanya tentang teknologi pengelolaan sampah, tapi juga bagaimana ide ini bisa diterima masyarakat. Oleh karena itu, pendekatannya akan menggunakan strategi komunikasi pembangunan sosial, yaitu model komunikasi partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek perubahan, bukan objek.

Melalui Karang Taruna Bojongkunci, kegiatan sosialisasi akan dilakukan dengan cara:

  1. Mengadakan lokakarya mini di balai desa dengan simulasi langsung pembuatan komposter dan eco enzym.
  2. Membuat poster edukatif dan video pendek yang diunggah di media sosial lokal (seperti grup WhatsApp warga dan Instagram desa).
  3. Mengadakan gerakan “Satu Rumah Satu Komposter” yang menjadi simbol kemandirian pengelolaan sampah.

Selain itu, Karang Taruna akan menjadi mitra utama dalam pemantauan dan pelaporan progres. Dengan cara ini, proyek PKM tidak berhenti hanya di ruang eksperimen mahasiswa, tetapi berlanjut sebagai gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Simulasi Dampak dan Keberlanjutan Program

Berdasarkan studi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2023), desa yang menerapkan sistem komposting mandiri mampu menurunkan volume sampah hingga 40% dalam tiga bulan pertama. Dengan asumsi 100 rumah di Bojongkunci menerapkan komposter dan eco enzym, maka akan ada pengurangan sampah organik sekitar 200 kg per minggu.

Selain manfaat lingkungan, ada potensi ekonomi mikro juga — hasil kompos bisa dijual sebagai pupuk organik dengan harga Rp5.000–Rp10.000 per kg. Eco enzym pun bisa dikemas ulang sebagai cairan pembersih alami untuk dijual di pasar lokal.

Dengan demikian, PKM ini dapat membuka peluang kewirausahaan hijau bagi Karang Taruna maupun kelompok ibu rumah tangga.

Rencana Implementasi dan Evaluasi

Walaupun masih berupa simulasi, program ini sudah dirancang dengan tahapan terukur:

  1. Tahap Persiapan (Minggu 1–2): Survei kondisi lingkungan dan potensi mitra desa.
  2. Tahap Pelatihan (Minggu 3–4): Edukasi teknis pembuatan komposter dan eco enzym.
  3. Tahap Eksperimen (Minggu 5–8): Produksi skala kecil di beberapa rumah pilot project.
  4. Tahap Evaluasi (Minggu 9–12): Analisis efektivitas produk dan penerimaan masyarakat.
  5. Tahap Publikasi (Minggu 13): Dokumentasi dan publikasi hasil di platform kampus dan media sosial desa.

Evaluasi keberhasilan akan diukur dari indikator:

  • Jumlah partisipan aktif,
  • Volume sampah organik yang terolah,
  • Jumlah produk kompos/eco enzym yang dihasilkan,
  • Respons masyarakat terhadap program.

Program ini menjadi contoh bagaimana inovasi sederhana dapat menjadi solusi nyata dalam membangun desa yang bersih dan berkelanjutan. Dengan kombinasi antara produk eksperimen ramah lingkungan (komposter & eco enzym) dan pemberdayaan sosial melalui Karang Taruna, diharapkan muncul generasi muda desa yang lebih sadar dan aktif menjaga lingkungan.

Walaupun masih dalam tahap simulasi, PKM ini memberikan gambaran bahwa transformasi sosial bisa dimulai dari hal kecil bahkan dari dapur rumah sendiri. Dengan komunikasi pembangunan yang tepat, ide sederhana bisa menjelma menjadi gerakan besar yang mengubah wajah desa menjadi lebih hijau dan mandiri.

Saran dan Rencana Pengembangan

Meskipun program ini masih berada pada tahap simulasi, terdapat beberapa peluang yang dapat dikembangkan lebih jauh ke depan:

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi:
    Ke depannya, pembuatan komposter dapat dilakukan secara kolaboratif menggunakan bahan daur ulang yang lebih tahan lama, seperti drum bekas atau tong fiber. Proses fermentasi eco enzym juga dapat ditingkatkan dengan menambahkan mikroorganisme lokal (MOL) untuk mempercepat penguraian.
  2. Pendidikan Lingkungan di Sekolah: Program ini dapat diperluas ke tingkat sekolah dasar dan menengah di Bojongkunci, dengan membuat kegiatan “Kelas Hijau” yang mengajarkan siswa untuk membuat eco enzym mini dan memahami siklus sampah organik.
  3. Integrasi dengan Digitalisasi Desa: Dalam jangka panjang, Desa Bojongkunci bisa mengembangkan aplikasi sederhana berbasis Android yang berfungsi untuk mencatat produksi kompos dan eco enzym, serta memantau aktivitas kebersihan lingkungan. Pendekatan digital ini akan membantu pemerintah desa memetakan dampak lingkungan secara terukur.
  4. Kemitraan dengan UMKM dan Pemerintah Desa: Hasil produk kompos dan eco enzym dapat dipasarkan melalui koperasi desa atau UMKM lokal. Dengan demikian, program ini tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis green entrepreneurship.
  5. Riset Lanjutan: Tahap selanjutnya dari PKM ini diharapkan dapat melibatkan penelitian ilmiah yang lebih dalam, seperti pengujian kualitas kompos dan efektivitas eco enzym terhadap tanaman atau pengendalian bau limbah.

Dengan rencana pengembangan tersebut, PKM ini bisa menjadi pilot project bagi desa lain untuk membangun sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas.

Refleksi Mahasiswa

Program PKM ini bukan hanya sekadar tugas kuliah atau eksperimen produk, tapi juga perjalanan pembelajaran nyata tentang bagaimana ide kecil bisa berkembang menjadi solusi sosial. Melalui riset sederhana tentang komposter dan eco enzym, kami belajar bahwa inovasi tidak selalu harus rumit, canggih, atau mahal. Justru sebaliknya — inovasi sejati lahir dari kepekaan terhadap masalah di sekitar dan kemauan untuk mencoba memperbaikinya.

Pada awalnya, kami hanya ingin mencari ide PKM yang menarik dan bermanfaat. Namun seiring proses berjalan, kami menemukan bahwa isu sampah bukan sekadar topik proyek, melainkan masalah nyata yang dihadapi banyak desa, termasuk Bojongkunci. Ketika kami berdiskusi dengan warga, kami sadar bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya peduli lingkungan, hanya saja belum tahu harus mulai dari mana. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil — seperti mengubah sisa dapur menjadi pupuk, atau air bekas buah menjadi pembersih alami.

Bekerja dalam tim PKM ini juga membuka pandangan baru bagi kami tentang arti kolaborasi dan empati sosial. Setiap anggota tim memiliki peran masing-masing: ada yang fokus pada riset bahan, ada yang mengurus desain komposter, dan ada pula yang menyiapkan strategi komunikasi untuk warga desa. Dalam proses itu, kami belajar mendengarkan satu sama lain, menghargai ide kecil, dan menyesuaikan teori yang kami pelajari di kelas dengan kondisi lapangan yang nyata.

Lebih dari sekadar proyek, kegiatan ini menjadi cermin bagi kami untuk memahami peran mahasiswa dalam pembangunan masyarakat. Kami bukan hanya pencari nilai atau pengumpul laporan, tapi calon pemimpin muda yang harus siap turun tangan menghadapi persoalan sosial dan lingkungan. Saat melihat potensi limbah organik di desa bisa diubah menjadi sumber daya bermanfaat, kami merasa optimis bahwa masa depan pembangunan berkelanjutan di Indonesia bisa dimulai dari tingkat lokal — dari tangan-tangan masyarakat itu sendiri.

Melalui program ini kami juga belajar tentang mindset kewirausahaan sosial. Bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menjaga lingkungan, tapi juga tentang menciptakan sistem yang memberi manfaat ekonomi, sosial, dan edukatif bagi masyarakat. Kompos yang dihasilkan bisa dijual, eco enzym bisa digunakan kembali, dan keduanya bisa menjadi peluang usaha mikro bagi warga. Kami menyadari bahwa konsep “bisnis” tidak selalu tentang profit semata, tetapi juga tentang keberlanjutan sosial dan kebermanfaatan bagi sekitar.

Selain itu, pengalaman ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang humanis. Tidak semua orang langsung menerima ide baru tentang pengelolaan sampah. Perlu pendekatan yang sederhana, ramah, dan sesuai konteks budaya lokal. Di sinilah kami belajar bahwa komunikasi pembangunan sosial bukan hanya teori, tapi seni menjembatani ide dan realitas masyarakat.

Sebagai mahasiswa, kami kini jauh lebih sadar bahwa perubahan lingkungan dimulai dari kebiasaan pribadi. Kami mulai menerapkan hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, dan membuat kompos mini di rumah. Rasanya menyenangkan ketika tahu bahwa sesuatu yang kami pelajari di kelas bisa berdampak nyata, sekecil apa pun langkahnya.

Ketika satu rumah mulai memilah dan mengolah sampah organik, desa pun ikut berubah. Dan jika satu desa bisa menjadi contoh, maka perubahan itu bisa menjalar ke banyak tempat lain. Kami ingin menjadikan pengalaman ini sebagai langkah awal untuk terus berinovasi dalam bidang kewirausahaan sosial dan teknologi ramah lingkungan, serta menginspirasi mahasiswa lain untuk berani berbuat hal serupa di daerah mereka masing-masing.

Pada akhirnya, kami menyadari bahwa PKM ini bukan sekadar program akademik, tetapi juga proses pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Ia mengajarkan kami untuk tidak hanya berpikir logis, tetapi juga bertindak nyata. Bahwa perubahan tidak datang dari teori yang dihafal, melainkan dari tangan-tangan yang mau bergerak.

Dan mungkin, di sanalah letak nilai sejati dari sebuah Program Kreativitas Mahasiswa — bukan pada seberapa besar dana yang didapat, tapi seberapa besar dampak yang bisa kita tinggalkan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

Referensi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2023). Laporan Nasional Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas. https://sipsn.menlhk.go.id/

Pratiwi, N., & Setiawan, H. (2023). Pemanfaatan Eco Enzyme dalam Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga. Jurnal Hijau Lestari, 8(2), 45–53.

Rahmadani, A., & Yusuf, I. (2022). Efektivitas Komposter Rumah Tangga terhadap Pengurangan Sampah Organik. Jurnal Pengabdian Lingkungan, 4(1), 12–20.

Wong, L. (2019). The Science of Eco Enzyme. Eco Enzyme Malaysia Foundation. https://www.ecoenzymes.org

Sudarmo, S. (2021). Komunikasi Pembangunan Partisipatif di Era Digital. Yogyakarta: Deepublish.

Hidayat, R., & Mulyana, D. (2020). Peran Karang Taruna dalam Pemberdayaan Sosial Masyarakat Desa. Jurnal Pemberdayaan Sosial, 5(3), 88–96.