Abstrak
Selama ini berkembang anggapan bahwa keberhasilan bisnis baru sangat bergantung pada keaktifan pemiliknya dalam membangun citra diri di media sosial, atau yang lazim disebut personal branding. Akan tetapi, sejumlah sumber daring terkini menunjukkan kecenderungan yang berbeda pada kelompok wirausahawan muda Generasi Z (Gen Z), yaitu munculnya praktik membangun bisnis tanpa menampilkan wajah maupun identitas pribadi pemiliknya (faceless branding). Dengan menggunakan metode studi literatur berbasis penelusuran internet, artikel ini mengkaji bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi. Hasil kajian menunjukkan bahwa berkurangnya peran daya tarik personal pengusaha dapat dikompensasi melalui penguatan tiga aspek, yaitu kreasi produk, product branding secara visual, dan strategi pemasaran digital berbasis algoritma platform. Pada tahap business matching, investor juga cenderung lebih mempertimbangkan kinerja penjualan dibandingkan popularitas pribadi pemilik usaha.
Kata Kunci: Generasi Z, wirausaha tanpa wajah, kreasi produk, pemasaran digital.
PENDAHULUAN
Perkembangan bisnis digital dewasa ini cenderung menuntut pelaku usaha untuk tampil sebagai figur publik atau influencer. Generasi Z sendiri dikenal sebagai kelompok yang tumbuh bersama media sosial dan terbiasa melihat peluang usaha langsung dari layar ponsel, sehingga banyak yang belajar berwirausaha secara otodidak melalui platform digital (UNIKOM, 2025). Francis dan Hoefel (2018) dalam laporan McKinsey & Company turut menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki karakter yang lebih pragmatis dan berorientasi pada nilai dibandingkan generasi sebelumnya dalam berinteraksi dengan sebuah merek.
Pola lama yang mengandalkan kedekatan personal pemilik usaha dengan konsumen mulai mengalami pergeseran. Menurut Akarmula (2025), tidak semua individu memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan kamera, dan keharusan memproduksi konten personal secara terus-menerus berpotensi menimbulkan kelelahan (burnout) bagi pemilik usaha. Atas dasar pertimbangan tersebut, sejumlah pelaku usaha muda mulai mengalihkan fokus dari sosok personal kepada karakter merek itu sendiri, yang oleh Akarmula (2025) disebut sebagai pendekatan faceless branding. Kecenderungan ini turut ditemukan pada sebagian mahasiswa penerima pendanaan P2MW yang berhasil mencapai tingkat penjualan tinggi tanpa pernah menampilkan identitas pribadi pada akun bisnis mereka.
Fenomena tersebut menarik untuk dikaji secara akademik karena memperlihatkan bahwa sebuah merek baru yang belum dikenal luas oleh masyarakat tetap dapat diterima pasar tanpa kehadiran figur pemilik di baliknya. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran faktor penentu kepercayaan konsumen, dari sosok individu menuju karakter dan kualitas objektif yang ditawarkan oleh merek.
Melalui program inkubasi seperti INBISKOM, fenomena tersebut dipelajari sebagai salah satu strategi alternatif dalam membangun bisnis. Program inkubasi ini menekankan bahwa keberlanjutan usaha tidak ditentukan oleh tingkat popularitas pemiliknya, melainkan oleh kualitas solusi yang ditawarkan produk terhadap permasalahan konsumen. Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan mengkaji, melalui penelusuran sumber-sumber di internet, bagaimana kreasi produk, product branding, pemasaran digital, dan strategi business matching dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa bergantung pada popularitas personal pendiri usaha.
METODE PENELITIAN
Artikel ini disusun menggunakan metode studi literatur, yaitu metode yang mengandalkan penelusuran dan analisis terhadap sumber-sumber yang telah dipublikasikan secara daring, tanpa melibatkan pengumpulan data primer di lapangan. Seluruh data dan informasi yang digunakan sebagai dasar pembahasan diperoleh murni melalui pembacaan artikel, jurnal elektronik, dan tulisan di internet, sehingga sifat kajian ini adalah deskriptif-kualitatif berbasis dokumen.
Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui tahapan berikut.
1. Penelusuran sumber daring, yaitu pencarian artikel, jurnal elektronik, dan tulisan populer melalui mesin pencari serta basis data ilmiah seperti Google Scholar, dengan kata kunci “wirausaha Gen Z”, “faceless branding”, “personal branding”, dan “evaluasi P2MW”.
2. Seleksi sumber, yaitu pemilihan artikel maupun laporan tren bisnis digital yang dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir agar informasi yang diperoleh tetap relevan dengan kondisi pasar digital saat ini.
3. Analisis isi, yaitu membandingkan teori pemasaran produk konvensional dengan temuan-temuan dari artikel daring mengenai praktik faceless branding dan konten visual yang berkembang pada platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.
4. Penyimpulan, yaitu merangkum dan menyintesis temuan dari berbagai sumber daring tersebut menggunakan parafrase serta interpretasi penulis, dengan tetap mencantumkan sitasi terhadap sumber asal informasi.
Keterbatasan metode ini perlu diakui secara terbuka, yaitu data yang digunakan sebagian besar berasal dari artikel populer dan blog kewirausahaan, bukan murni jurnal terindeks bereputasi, sehingga kedalaman teoretisnya masih perlu diperkaya melalui penelitian lanjutan yang lebih sistematis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor Pendorong Anonimitas pada Wirausaha Gen Z
Penelusuran sumber daring menunjukkan beberapa faktor yang mendasari kecenderungan sebagian pelaku usaha muda untuk tidak mengandalkan personal branding secara penuh.
Pertama, pertimbangan kesejahteraan pemilik usaha (founder well-being). Akarmula (2025) menjelaskan bahwa tuntutan untuk terus tampil di depan kamera tidak selalu sesuai dengan kepribadian setiap pemilik usaha, dan ketidaknyamanan tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan emosional. Dengan strategi faceless, energi pemilik usaha dapat dialihkan untuk membangun sistem, tim, dan inovasi produk, alih-alih memproduksi konten personal secara terus menerus.
Kedua, keberlanjutan dan fleksibilitas usaha. Akarmula (2025) turut mencatat bahwa merek yang tidak terlalu melekat pada satu individu cenderung lebih mudah dialihkan, diwariskan, atau dijalin kerja sama, karena nilai jual usaha terletak pada sistem dan karakter merek, bukan pada figur pemiliknya semata.
Ketiga, kesetaraan kesempatan bagi pelaku usaha dengan karakter introvert. Sejalan dengan karakteristik Generasi Z yang disebutkan UNIKOM (2025) sebagai generasi yang terbiasa belajar bisnis secara otodidak melalui layar ponsel, pendekatan tanpa wajah memberi ruang yang setara bagi mahasiswa dengan gagasan bisnis potensial namun kurang percaya diri untuk tampil di hadapan kamera, sehingga mereka tetap dapat bersaing di pasar digital.
Pengalihan Fokus pada Kreasi Produk
Ketika pemilik usaha memilih untuk tidak tampil secara personal, perhatian konsumen secara otomatis akan tertuju sepenuhnya pada produk atau jasa yang ditawarkan. UNIKOM (2025) menjelaskan bahwa kreativitas menjadi inti dari kewirausahaan Generasi Z, yang cenderung tidak ingin meniru produk yang sudah ada secara mentah, melainkan memberi sentuhan baru agar produknya terasa berbeda, baik dari cara mengemas produk, gaya komunikasi, maupun konsep branding yang lebih personal dan dekat dengan audiens.
Apabila pada pendekatan konvensional kepercayaan konsumen dibangun melalui personal branding, pada pendekatan yang berkembang di kalangan Gen Z kepercayaan tersebut dialihkan sepenuhnya pada kreasi produk, yang kemudian membentuk kepuasan konsumen secara langsung melalui pengalaman penggunaan. Mahasiswa dalam program pembinaan diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan konsumen (problem-solution fit). Penerapannya dapat dibedakan menjadi dua kategori berikut.
1. Produk berbentuk barang, misalnya produk herbal atau makanan ringan, dengan penekanan pada pemilihan bahan baku berkualitas, jaminan higienitas, dan kemasan yang fungsional. Konten foto dan video yang dipublikasikan difokuskan pada eksplorasi estetika fisik produk secara mendetail.
2. Produk berbentuk jasa, misalnya jasa desain grafis melalui Canva atau pembuatan aset tiga dimensi menggunakan Blender, dengan penekanan pada kerapian portofolio digital dan kecepatan layanan, bukan pada identitas penyedia jasa.
Peran Product Branding dan Pemasaran Digital
Hilangnya figur pemilik dalam strategi pemasaran digantikan dengan pendekatan komunikasi merek yang lebih kreatif. Akarmula (2025) menekankan bahwa brand yang sukses tanpa wajah pendirinya bukan berarti tampil dingin atau impersonal, melainkan tetap dapat membangun koneksi emosional melalui karakter, gaya bahasa, dan nilai-nilai yang dijaga konsisten di setiap titik interaksi dengan konsumen, mulai dari konten hingga cara membalas komentar.
Sejalan dengan hal tersebut, Frendika, Sule, dan Kusman (2018) menjelaskan bahwa kekuatan nilai personal dan kompetensi budaya tetap dapat membentuk branding yang kuat meskipun tidak ditampilkan melalui sosok individu secara eksplisit, melainkan melalui konsistensi karakter yang dibangun pada keseluruhan komunikasi merek.
Pemasaran digital pun bergeser dari format video yang menampilkan pemilik usaha berbicara secara langsung (talking head) ke arah format konten yang lebih berorientasi pada permasalahan audiens, seperti video sudut pandang (point of view) yang menempatkan produk sebagai solusi pada bagian akhir, serta format konten geser (carousel) untuk menyampaikan informasi yang mendorong interaksi organik. Selain itu, Rachmawati (2022) mencatat bahwa jejak digital, termasuk aktivitas dan ulasan di media sosial, kini menjadi salah satu rujukan penting bagi pihak lain dalam menilai kredibilitas suatu pihak, sehingga akumulasi ulasan positif dari konsumen pada platform marketplace turut berperan menggantikan fungsi kepercayaan yang sebelumnya dibangun lewat figur personal pemilik usaha.
Pembuktian Kualitas pada Forum Business Matching
Keberhasilan usaha tanpa figur personal ini turut diperkuat oleh sistem penilaian objektif yang diterapkan dalam Program INBISKOM. Mahasiswa penerima pendanaan P2MW dibina untuk menyusun presentasi bisnis (pitch deck) yang berlandaskan data kuantitatif, bukan narasi emosional atau popularitas pribadi semata.
Secara umum, alur ekosistem kewirausahaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: gagasan kreatif mahasiswa peserta P2MW memasuki tahap inkubasi melalui Program INBISKOM, kemudian berkembang pada dua aspek utama secara paralel, yaitu kreasi produk dan product branding. Kedua aspek tersebut selanjutnya terintegrasi dalam kegiatan pemasaran digital, yang pada akhirnya bermuara pada forum business matching sebagai sarana menjalin kemitraan dan menarik minat investor.
Pada forum business matching, baik yang dilaksanakan secara langsung maupun melalui platform virtual, investor maupun mitra distribusi cenderung tidak menjadikan jumlah pengikut (followers) media sosial pribadi mahasiswa sebagai indikator utama kelayakan usaha. Pertimbangan investor lebih banyak diarahkan pada aspek struktur biaya produksi, tren pertumbuhan penjualan bulanan, serta kelengkapan perizinan usaha. Hal ini sejalan dengan argumen Akarmula (2025) bahwa nilai sebuah usaha pada akhirnya terletak pada sistem dan karakter merek yang dibangun, bukan semata pada popularitas figur di baliknya.
Temuan ini mengindikasikan bahwa selama produk yang dihasilkan memiliki keunikan nyata dan target pasar yang jelas, peluang terjalinnya kesepakatan permodalan tetap terbuka meskipun pemilik usaha tidak dikenal secara luas oleh publik digital.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan kajian literatur daring yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa personal branding bukan lagi merupakan satusatunya faktor penentu keberhasilan wirausaha bagi Generasi Z. Tren faceless branding mengindikasikan adanya pergeseran orientasi konsumen digital, dari penilaian terhadap figur pemilik menuju penilaian terhadap kualitas produk, karakter dan identitas visual merek, serta kepraktisan dalam proses berbelanja. Melalui pembinaan terarah dari Program INBISKOM, mahasiswa peserta P2MW terbukti mampu mengompensasi ketiadaan identitas personal dengan memaksimalkan kreasi produk serta ketepatan strategi pemasaran digital berbasis algoritma platform.
Saran
Berdasarkan hasil kajian, penulis mengajukan dua saran sebagai berikut.
1. Bagi mahasiswa, keterbatasan kepercayaan diri untuk tampil di media sosial sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menunda pengembangan usaha melalui skema P2MW. Mahasiswa disarankan mengalokasikan sumber daya pada penguatan kualitas kemasan, riset tren pasar digital, serta pengelolaan ulasan positif dari konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Akarmula. (2025). Faceless branding—jaman sekarang founder masih harus nongol? Diakses dari https://akarmula.id/blog/faceless-brandingjaman-sekarang-founder-masih-harus-nongol/
Direktorat Belmawa Kemendikbudristek. (2025). Panduan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Francis, T., & Hoefel, F. (2018). True Gen: Generation Z and its implications for companies. McKinsey & Company, 12, 1–10.
Frendika, R., Sule, E. T., & Kusman, M. (2018). The power of personal values and cultural competence towards personal branding of employees. Academy of Strategic Management Journal, 17(1), 1–10.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2018). Principles of Marketing (17th ed.). Harlow: Pearson Education.
Rachmawati, R. (2022). Pandangan Generasi Z mengenai personal branding online fresh graduates dalam mencari pekerjaan. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 21(1).
UNIKOM. (2025). Kewirausahaan kreatif di kalangan Gen Z: Dari ide sederhana ke peluang nyata. Diakses dari https://web.unikom.ac.id/kewirausahaan-kreatif-di-kalangan-gen-zdari-ide-sederhana-ke-peluang-nyata/