Fenomena “Algo-Anxiety”: Dampak Algoritma TikTok terhadap Kecemasan Akademik dan Perilaku Help-Seeking Generasi Z Kota Bandung

6–10 minutes

1. Pendahuluan: Arsitek Tak Kasat Mata di Balik Layar Digital

Di era digital yang bergerak sangat cepat, media sosial telah bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi arsitek utama yang membentuk realitas kehidupan sehari-hari bagi kaum muda. Bagi Generasi Z di Kota Bandung, platform TikTok bukan lagi sekadar aplikasi hiburan, melainkan ruang hidup kedua yang menentukan bagaimana mereka memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar mereka. Fenomena ini memunculkan tantangan baru yang sangat kompleks; teknologi yang dirancang untuk mempermudah akses informasi kini justru secara tidak langsung membentuk pola perilaku yang berisiko bagi kesehatan mental.

Kita hidup di masa di mana algoritma tidak hanya melayani keinginan kita, tetapi juga secara perlahan membentuk dan mengarahkan keinginan tersebut. Penelitian ini berupaya membedah bagaimana intensitas algoritma TikTok berpengaruh terhadap kecemasan psikososial serta mengapa terjadi pergeseran drastis dalam cara Gen Z mencari bantuan saat mereka merasa tertekan secara mental. Memahami fenomena ini menjadi krusial karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berpotensi mengubah struktur persepsi generasi ini terhadap realitas dan kesejahteraan mereka sendiri.

2. Mekanisme Teknis: Algoritma sebagai Pemetaan Psikologis

Generasi Z di Kota Bandung tumbuh di tengah ekosistem digital yang sangat dipengaruhi oleh algoritma rekomendasi yang presisi. Dengan durasi penggunaan layar (screen time) minimal satu jam setiap harinya, TikTok memiliki akses yang cukup luas untuk mengenali, memetakan, dan secara harfiah “mengunci” preferensi psikologis penggunanya melalui jejak digital yang ditinggalkan.

Sistem For You Page (FYP) bekerja menggunakan machine learning yang sangat canggih dan bersifat prediktif. Sistem ini tidak hanya mengandalkan data eksplisit seperti tombol “like” atau “share”, tetapi juga data implisit yang jauh lebih dalam, seperti durasi dwell time (berapa lama Anda menatap sebuah video), kecepatan Anda melakukan scroll, hingga area layar mana yang paling banyak Anda perhatikan. Tanpa disadari, sistem ini membangun pola konsumsi konten yang homogen dan repetitif. Pengguna sering terjebak dalam apa yang disebut sebagai filter bubble atau rabbit hole—sebuah lingkungan informasi di mana pengguna hanya diperlihatkan realitas yang sesuai dengan preferensi algoritma mereka sebelumnya. Hal ini secara tidak langsung membatasi pandangan mereka terhadap dunia luar yang sebenarnya jauh lebih beragam. Kurasi informasi yang sangat personal ini bisa menjadi “penjara” di mana pengguna hanya melihat konten yang memperkuat kondisi emosional mereka saat ini, baik itu kesedihan, kemarahan, atau ketidakamanan. Dampak jangka panjang dari pengurungan informasi ini adalah hilangnya kemampuan berpikir kritis karena otak terus disuapi oleh narasi yang seragam dan repetitif, yang akhirnya mempersempit ruang kreativitas dan empati.

3. “Algo-Anxiety”: Sindrom Baru di Era Hiper-Personal

Belakangan, FYP Generasi Z sering kali didominasi oleh konten bertema gaya hidup estetik, pencapaian karier yang fantastis di usia muda, hingga standar kesuksesan yang terlihat sangat sempurna. Paparan terus-menerus terhadap standar ideal yang tidak realistis ini memicu fenomena social comparison (perbandingan sosial) yang sangat tidak sehat.

Banyak di antara mereka merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau gagal karena terus-menerus membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh tantangan dengan “sorotan” kehidupan orang lain di TikTok yang telah disunting secara profesional. Kondisi inilah yang melahirkan sindrom “ALGO-ANXIETY”. Ini adalah kondisi psikologis di mana intensitas kurasi algoritma meningkatkan rasa cemas secara sistematis. Karena pengguna terus terpapar standar ideal yang semu di layar smartphone, mereka mengalami tekanan mental yang konstan untuk selalu “mengejar” standar tersebut. Algoritma, yang seharusnya mempermudah kita, justru menjadi pemicu kecemasan karena adanya tekanan untuk selalu menyesuaikan diri dengan apa yang muncul di layar. Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah personal, melainkan masalah sistemik yang perlu diakui sebagai tantangan kesehatan mental di era modern, di mana teknologi yang kita ciptakan justru kembali menantang kesejahteraan mental kita.

4. Pergeseran Perilaku Mencari Bantuan (Help-Seeking)

Hal yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah respons Generasi Z saat menghadapi kecemasan tersebut. Ironisnya, alih-alih mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor di layanan kesehatan yang kredibel, mereka cenderung kembali ke TikTok untuk mencari konten kesehatan mental amatir sebagai solusi instan.

Perilaku digital help-seeking ini memiliki risiko yang sangat tinggi bagi stabilitas emosional jangka panjang. Saat pengguna mencari solusi untuk kecemasan mereka di platform tersebut, algoritma justru akan semakin sering menyuapi mereka dengan konten serupa, yang sering kali tidak tervalidasi secara medis dan penuh dengan generalisasi. Paparan konten kesehatan mental yang tidak terverifikasi ini berpotensi memicu self-diagnosing (diagnosis mandiri) yang keliru. Seseorang yang merasa sedih sesaat bisa langsung merasa dirinya memiliki gangguan klinis tertentu hanya karena menonton video berdurasi singkat. Hal ini menciptakan lingkaran setan: pengguna cemas, mencari bantuan di TikTok, mendapatkan informasi yang tidak akurat, dan kecemasan mereka justru semakin meningkat karena interpretasi yang salah terhadap kesehatan mereka sendiri.

5. Analisis Sosiopsikologis: Dampak Terhadap Hubungan Interpersonal

Di luar aspek kesehatan mental individu, Algo-Anxiety juga berdampak pada kualitas hubungan sosial Generasi Z. Kecenderungan untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan “dunia FYP” daripada berinteraksi secara fisik dengan lingkungan sekitar dapat mengurangi kemampuan mereka untuk membangun empati secara langsung. Di Bandung, tempat di mana interaksi sosial dan ruang komunal sangat kental, pergeseran ini menjadi paradoks yang menarik untuk diamati. Pengguna yang terjebak dalam bubble algoritma cenderung memiliki prasangka yang lebih kuat terhadap kelompok yang tidak direkomendasikan oleh algoritma mereka, yang berpotensi memicu polarisasi di kalangan anak muda.

Selain itu, terdapat pergeseran nilai dalam komunikasi antarteman. Seringkali, percakapan tatap muka terdistraksi oleh keinginan untuk berbagi konten TikTok, yang pada akhirnya memecah fokus hubungan dan mengurangi kedalaman komunikasi interpersonal. Keintiman sosial yang seharusnya dibangun melalui berbagi perasaan kini digantikan oleh berbagi link video, yang meski terlihat praktis, sebenarnya mengurangi esensi dari kebersamaan fisik itu sendiri. Rasa keterhubungan emosional yang autentik perlahan memudar, digantikan oleh validasi digital yang dangkal melalui like, comment, dan share.

6. Dilema Etika dan Tanggung Jawab Platform

Selain dampak psikologis, penting juga untuk menyoroti dilema etika dari recommender system yang digunakan TikTok. Algoritma ini dirancang dengan satu tujuan utama: memaksimalkan retention time (waktu retensi) pengguna. Dalam mengejar tujuan ini, algoritma sering kali mengabaikan kesejahteraan mental pengguna, dengan sengaja mempromosikan konten yang memancing emosi kuat—baik itu rasa iri, marah, maupun ketakutan—karena emosi-emosi inilah yang paling efektif membuat pengguna terus scrolling. Pertanggungjawaban platform menjadi pertanyaan besar: sejauh mana mereka harus bertanggung jawab atas konten yang merusak kesehatan mental pengguna, terutama saat konten tersebut justru didorong oleh algoritma mereka sendiri untuk mencapai audiens yang lebih luas?

7. Literasi Digital sebagai Benteng Pertahanan Diri

Kurasi konten yang sangat personal memang memberikan kenyamanan, namun jika kita tidak menyadari bagaimana cara kerja algoritma tersebut, perspektif kita terhadap informasi akan sangat terbatas. Literasi digital, khususnya literasi algoritma, menjadi kunci utama bagi setiap individu untuk bisa membedakan antara informasi kesehatan mental yang edukatif dengan narasi yang berpotensi destruktif.

Kita perlu memahami bahwa algoritma hanyalah mesin pengolah data, bukan penentu standar kebahagiaan hidup. Masyarakat, terutama tenaga profesional kesehatan mental di Kota Bandung, perlu memahami pergeseran tren perilaku ini agar dapat merumuskan strategi pendekatan yang lebih relevan, seperti melalui konten edukasi yang terverifikasi dan mudah diakses di media sosial. Edukasi ini harus bersifat dialogis dan tidak menggurui agar dapat diterima dengan baik oleh Generasi Z. Peran institusi pendidikan di Bandung, seperti UNIKOM, sangatlah krusial untuk menjadi katalisator dalam menyebarkan pemahaman ini kepada mahasiswa.

8. Membangun Ekosistem Digital yang Sehat

Membangun kesehatan mental di era algoritma membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor pendidikan, dan individu. Di tingkat pendidikan, kurikulum literasi digital harus diperbarui untuk mencakup cara kerja recommender system. Masyarakat juga perlu didorong untuk lebih aktif melakukan digital detox atau setidaknya secara sengaja merusak “bubble” algoritma mereka dengan mencari informasi yang kontradiktif atau beragam. Profesional kesehatan mental juga dituntut untuk mulai masuk ke ruang digital dengan konten yang berbasis bukti (evidence-based), sehingga informasi yang beredar di TikTok tidak hanya dikuasai oleh mereka yang sekadar mencari popularitas.

Selain itu, penting bagi setiap individu untuk mulai mempraktikkan “manajemen perhatian” (attention management). Ini mencakup pembatasan screen time secara sadar, mematikan notifikasi yang tidak esensial, dan secara periodik melakukan kurasi ulang terhadap akun-akun yang diikuti agar algoritma tidak lagi menjadi satu-satunya entitas yang mendikte apa yang kita lihat dan kita pikirkan. Dengan mengambil kendali atas apa yang kita konsumsi, kita sebenarnya sedang membangun tembok pertahanan bagi kesehatan mental kita sendiri.

9. Menuju Riset yang Komprehensif

Penelitian PKM-RSH ini bertujuan untuk membedah lebih dalam bagaimana intensitas algoritma mempengaruhi tingkat kecemasan psikososial dan perilaku mencari bantuan Generasi Z di Kota Bandung. Dengan memadukan sisi teknis (bagaimana algoritma bekerja) dan sisi humanis (bagaimana perasaan dan perilaku terbentuk), penelitian ini diharapkan mampu menyusun panduan praktis (framework) agar Generasi Z dapat menjadi pengguna media sosial yang lebih kritis, bijak, dan tetap menjaga kesehatan mental di era algoritma siber yang hiper-personal.

Sebagai generasi yang hidup di tengah arus informasi yang tiada henti, kita harus sadar bahwa kita memiliki hak penuh untuk menentukan apa yang kita konsumsi, bukan membiarkan algoritma yang mengendalikan bagaimana kita merasa tentang diri sendiri. Dengan meningkatkan kesadaran akan dampak algoritma, kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental kita. Kesadaran kolektif ini adalah langkah pertama menuju ekosistem digital yang lebih inklusif, sehat, dan memanusiakan manusia di tengah dominasi mesin yang terus bergerak maju. Semoga riset ini dapat menjadi sumbangsih pemikiran bagi pengembangan kebijakan kesehatan mental di tingkat kampus maupun masyarakat luas di Kota Bandung.

Catatan: Artikel ini disusun sebagai bentuk refleksi dan pemenuhan tugas mata kuliah Kewirausahaan 2025/2026 Genap berdasarkan riset PKM-RSH yang merujuk pada standar aturan publikasi UNIKOM.

Tentang Penulis

Muhammad Irfan

Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi

Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)