Pagi hari sering kali dimulai dengan membuka ponsel, menggulir media sosial, membaca berita singkat, atau mencari informasi melalui mesin pencari. Aktivitas yang tampak sederhana ini telah menjadi rutinitas yang nyaris tidak disadari oleh banyak orang. Tanpa disadari pula, kebiasaan tersebut mencerminkan perubahan besar dalam pola kehidupan manusia modern, di mana ruang digital tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi cara individu berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara organisasi, perusahaan, dan institusi pendidikan membangun hubungan dengan publiknya. Dalam konteks inilah digital marketing hadir sebagai wajah baru komunikasi pemasaran di era transformasi digital.
Digital marketing tidak dapat dipahami hanya sebagai aktivitas promosi yang dilakukan melalui internet. Lebih dari itu, digital marketing merupakan strategi komunikasi yang memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan interaksi yang relevan, personal, dan berkelanjutan. Kehadirannya menandai pergeseran mendasar dari pola komunikasi satu arah yang selama ini mendominasi pemasaran konvensional menuju komunikasi dua arah yang bersifat dialogis. Audiens tidak lagi diposisikan sebagai penerima pesan yang pasif, melainkan sebagai subjek aktif yang dapat merespons, berinteraksi, bahkan ikut membentuk makna dari pesan yang disampaikan. Perubahan peran audiens ini menjadikan digital marketing sebagai fenomena komunikasi yang kompleks dan menarik untuk dikaji, khususnya dalam konteks akademik.
Transformasi digital mendorong perubahan signifikan dalam perilaku masyarakat, terutama dalam cara mereka mengakses, memproses, dan mengevaluasi informasi. Internet kini menjadi sumber utama dalam mencari pengetahuan, membandingkan pilihan, dan membentuk opini. Sebelum membeli suatu produk, menggunakan layanan tertentu, atau memilih institusi pendidikan, masyarakat cenderung melakukan pencarian informasi secara mandiri melalui berbagai platform digital. Ulasan pengguna, komentar di media sosial, serta jejak digital sebuah brand menjadi rujukan penting dalam proses pengambilan keputusan. Dalam situasi ini, kehadiran digital yang konsisten, informatif, dan kredibel menjadi faktor awal dalam membangun kepercayaan publik.
Digital marketing menawarkan pendekatan yang lebih adaptif dan fleksibel dibandingkan pemasaran konvensional. Pesan komunikasi dapat disesuaikan dengan karakteristik audiens berdasarkan usia, minat, latar belakang sosial, hingga kebiasaan penggunaan media digital. Selain itu, efektivitas pesan dapat dipantau secara real time melalui data digital yang tersedia. Data ini memungkinkan organisasi untuk memahami pola perilaku audiens, tingkat keterlibatan, serta respons terhadap konten yang disampaikan. Dengan demikian, digital marketing berkembang sebagai praktik komunikasi yang berbasis data dan analisis, bukan sekadar intuisi atau asumsi semata.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, digital marketing memperlihatkan bagaimana pesan diproduksi, dikemas, dan dikonstruksi dalam ruang digital yang sangat kompetitif. Setiap konten bersaing untuk mendapatkan perhatian audiens yang semakin terbatas akibat banjir informasi yang terjadi setiap hari. Kondisi ini menuntut kreativitas sebagai elemen penting dalam strategi komunikasi digital. Namun, kreativitas saja tidak cukup. Konten juga harus memiliki relevansi, kedalaman makna, dan nilai guna agar mampu membangun keterlibatan audiens secara berkelanjutan. Audiens cenderung merespons konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu merepresentasikan pengalaman, kebutuhan, dan realitas sosial mereka.
Fenomena digital marketing juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan budaya digital. Budaya digital membentuk cara masyarakat berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun identitas di ruang virtual. Media sosial, misalnya, tidak hanya menjadi saluran komunikasi, tetapi juga ruang representasi diri dan pembentukan opini publik. Dalam ruang ini, audiens tidak hanya menerima pesan pemasaran, tetapi turut berkontribusi dalam membangun narasi melalui komentar, unggahan ulang, dan diskusi. Interaksi semacam ini menunjukkan bahwa digital marketing berlangsung dalam ekosistem sosial yang dinamis dan terus berubah.
Bagi dunia akademik, digital marketing tidak dapat dipandang semata-mata sebagai praktik bisnis. Digital marketing merupakan representasi dari dinamika komunikasi modern yang mencerminkan konvergensi antara teknologi, budaya, dan masyarakat. Mahasiswa dan akademisi dapat mempelajari bagaimana teknologi digital memengaruhi cara pesan disampaikan, diterima, dan dimaknai oleh publik. Digital marketing menjadi contoh konkret dari konvergensi media, di mana teks, visual, audio, dan interaksi sosial berpadu dalam satu ruang digital. Fenomena ini membuka peluang kajian lintas disiplin yang melibatkan ilmu komunikasi, pemasaran, sosiologi digital, hingga studi budaya dan media.
Keberadaan konten digital memegang peranan sentral dalam praktik digital marketing. Konten tidak lagi dipahami sebagai alat promosi semata, melainkan sebagai medium pembentukan narasi dan identitas. Melalui konten, organisasi dapat menyampaikan nilai, visi, dan karakter yang ingin ditampilkan kepada publik. Dalam konteks institusi pendidikan, konten digital dapat mencerminkan budaya akademik, semangat intelektual, serta kontribusi institusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Informasi mengenai kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang disampaikan melalui media digital juga berperan dalam meningkatkan literasi publik.
Aktivitas digital marketing secara langsung memengaruhi pembentukan citra dan reputasi organisasi. Setiap unggahan, interaksi, dan respons yang terjadi di ruang digital membentuk persepsi publik secara kumulatif. Cara organisasi menyampaikan informasi, merespons pertanyaan, atau menanggapi kritik mencerminkan nilai dan etika komunikasi yang dianut. Dalam konteks ini, digital marketing tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi juga kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Kesalahan komunikasi di ruang digital dapat menyebar dengan cepat dan berdampak luas terhadap citra organisasi.
Dalam lingkungan kampus, digital marketing memiliki potensi strategis sebagai sarana komunikasi institusional. Media digital dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kampus dengan calon mahasiswa, orang tua, alumni, serta masyarakat luas. Informasi mengenai program studi, prestasi mahasiswa, kegiatan ilmiah, dan inovasi akademik dapat diakses secara terbuka dan mudah. Kehadiran digital yang dikelola secara profesional tidak hanya meningkatkan visibilitas kampus, tetapi juga memperkuat identitas institusi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Meskipun menawarkan berbagai peluang, digital marketing juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan yang ketat di ruang digital menjadikan perhatian audiens sebagai sumber daya yang sangat terbatas. Banyaknya konten yang beredar setiap hari menuntut organisasi untuk terus berinovasi dalam menyampaikan pesan. Selain itu, perubahan algoritma pada platform digital mengharuskan organisasi untuk selalu menyesuaikan strategi komunikasi. Ketidakmampuan beradaptasi dapat menyebabkan pesan kehilangan jangkauan dan relevansi di mata audiens.
Aspek kepercayaan menjadi isu sentral dalam praktik digital marketing. Di tengah arus informasi digital yang begitu deras, audiens menjadi semakin kritis dan selektif terhadap pesan yang diterima. Mereka tidak hanya mencari informasi yang menarik, tetapi juga yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, digital marketing perlu dijalankan dengan prinsip kejujuran, transparansi, dan akurasi informasi. Pendekatan komunikasi yang etis tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga menciptakan hubungan jangka panjang yang berkelanjutan antara organisasi dan publik.
Perkembangan teknologi lanjutan seperti kecerdasan buatan dan analisis data besar turut memengaruhi praktik digital marketing. Teknologi ini memungkinkan organisasi untuk memahami perilaku audiens secara lebih mendalam dan personal. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga menimbulkan tantangan etis terkait privasi dan keamanan data. Dalam konteks akademik, isu ini menjadi bahan kajian penting yang menghubungkan digital marketing dengan etika teknologi dan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, digital marketing merupakan refleksi dari perubahan cara manusia berkomunikasi di era digital. Strategi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai medium dialog sosial antara organisasi dan publik. Dalam konteks akademik, digital marketing menjadi ruang pembelajaran yang kontekstual, dinamis, dan relevan dengan realitas sosial saat ini. Pemahaman yang mendalam terhadap digital marketing diharapkan dapat membekali mahasiswa dan akademisi dengan kemampuan analitis dan kritis dalam menghadapi tantangan komunikasi masa depan, sekaligus memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Signature
Penulis: Salsabila Aprizya Mustofa
Program Studi: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Fakultas: Ilmu Komunikasi
Universitas: Universitas Komputer Indonesia
Referensi
Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital Marketing: Strategy, Implementation and Practice. Pearson Education.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
Ryan, D. (2016). Understanding Digital Marketing. Kogan Page.