Di Balik Layar Perancangan “Pusaka Riset Nusantara”: Ekspektasi vs Realita Memenuhi Luaran PKM-VGK

7–10 minutes

Jujur saja saat pertama kali saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) ini,  gambaran yang ada di kepala saya adalah PKM jenis ini akan berjalan dengan mudah. Di antara berbagai cabang PKM lainnya yang terkenal mengerikan seperti PKM Penelitian yang menuntut pengerjaan laboratorium berbulan-bulan tanpa henti, atau PKM Karsa Cipta yang mewajibkan pembuatan purwarupa sistem yang rumit, PKM-VGK merupakan opsi yang ramah bagi saya dari semua jenis PKM yang ada. Saya sempat berpikir bahwa kegiatan ini hanyalah ajang membuat video esai pendek untuk media sosial, yang proses produksinya bisa diselesaikan dalam waktu semalam hanya dengan bermodalkan kamera handphone, mikrofon bawaan, dan aplikasi edit video standar yang biasa saya gunakan. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang sudah terbiasa berhadapan dengan membuat baris-baris kode pemrograman, memahami logika algoritma hingga basis data yang kompleks, beralih ke dunia pembuatan konten visual rasanya seperti sebuah liburan sejenak dari kegiatan tersebut. Saya berpikir bahwa tim kami hanya berkumpul sejenak, berdiskusi untuk mendapatkan suatu ide yang menarik, menyusun naskah seadanya dalam beberapa lembar kertas, mengambil beberapa potong gambar di sudut kampus, lalu menggabungkannya hingga menjadi sebuah video yang menarik.

Namun realita yang menghantam saya ternyata adalah sebuah kejutan yang sama sekali tidak terduga dan langsung mematahkan ekspektasi awal tersebut. Pada saat saya membaca buku panduan resmi yang diberikan, ternyata PKM-VGK ini tidak hanya sekadar wadah untuk memamerkan hasil video yang telah dibuat. Bidang ini merupakan sebuah simulasi industri profesional berskala penuh yang memaksa saya, seorang mahasiswa yang biasanya bersembunyi di balik layar monitor, untuk bertransformasi menjadi seorang konseptor, sutradara naskah, desainer animasi, hingga manajer pemasaran digital dalam satu waktu yang bersamaan. Saya tidak hanya dituntut untuk memiliki ide yang menarik, tetapi juga dipaksa untuk membuktikan bahwa ide tersebut berpijak pada landasan ilmiah yang kokoh dan dapat dikomunikasikan kepada masyarakat awam dalam durasi yang sangat terbatas. Dari sinilah perjalanan panjang merancang proposal dimulai.

Saat memulai mengerjakan Bab pertama, fokus utama di sini adalah menemukan akar masalah yang benar-benar kuat, bukan sekadar masalah yang biasa dibahas orang. Gagasan yang akhirnya diformulasikan dengan judul “Pusaka Riset Nusantara” lahir dari sebuah keresahan nyata dan paradoks yang cukup masif di dalam ekosistem akademik Indonesia saat ini. Tim kami menemukan fakta yang cukup mencengangkan bahwa setiap tahunnya, negara mengeluarkan dana hibah yang sangat banyak melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendanai berbagai macam penelitian di perguruan tinggi. Namun sebagian besar dari luaran riset tersebut hanya berakhir sebagai publikasi akhir berupa jurnal ilmiah, artikel prosiding, atau buku laporan tersimpan di perpustakaan. Masalah terbesarnya ada pada nasib data mentah hasil penelitian tersebut, seperti hasil survei lapangan, data sekuens DNA, sampel statistik, hingga catatan eksperimen laboratorium yang diperoleh dengan biaya yang mahal. Data-data mentah ini seringkali terabaikan begitu saja dan hanya tersimpan secara eksklusif di dalam penyimpanan lokal atau harddisk pribadi masing-masing individu peneliti, memicu lahirnya budaya tertutup atau fenomena silo data antarkampus di Indonesia. Hal ini sangat berdampak bagi efisiensi anggaran negara, karena terjadi angka redundansi riset yang luar biasa tinggi, di mana peneliti baru terpaksa harus terus mengulang proses pencarian data yang sama dari awal hanya karena mereka tidak memiliki akses terhadap data mentah yang sebenarnya sudah pernah dikumpulkan oleh peneliti terdahulu.

Melalui pengerjaan Bab 1 ini,  tim kami belajar untuk membangun argumen yang kokoh bahwa masalah silo data ini adalah bentuk pemborosan sumber daya dan waktu yang sangat menghambat akselerasi inovasi sains nasional, serta sangat relevan dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Setelah berhasil memetakan latar belakang masalah tersebut secara mendalam, tim kami melanjutkan ke Bab 2 untuk merumuskan konsep gagasannya secara utuh dan terstruktur. Di sinilah latar belakang saya sebagai mahasiswa Teknik Informatika mulai mengambil peran penting, sekaligus menjadi tantangan baru karena kami harus menggabungkan ilmu komputer dengan konsep kebijakan birokrasi. Kami merancang “Pusaka Riset Nusantara” sebagai sebuah konsep infrastruktur satu data riset nasional terdesentralisasi yang memanfaatkan teknologi Blockchain. Pemanfaatan Blockchain ini bukan tanpa alasan, melainkan berfungsi sebagai sistem mutakhir untuk menjamin keamanan enkripsi data mentah, mencatat log aktivitas akses secara permanen, dan memastikan hak cipta kepemilikan data peneliti tidak diklaim secara sepihak oleh orang lain saat dibagikan. Kami juga merancang integrasi API (Application Programming Interface) dengan sistem SINTA dan PDDikti untuk mekanisme pemberian insentif otomatis berupa akumulasi poin Angka Kredit (KUM) bagi dosen yang bersedia membagikan datanya. Tidak hanya itu, pada Bab 2 ini kami juga diharuskan untuk menyusun sebuah roadmap implementasi jangka menengah yang logis dalam kurun waktu empat tahun, mulai dari tahap pengembangan arsitektur inti, fase uji coba lintas sektor, hingga integrasi skala nasional, demi membuktikan kepada bahwa gagasan kami ini realistis dan dapat diwujudkan, bukan sekadar fantasi fiksi ilmiah yang tidak berdasar.

Lanjut pada perancangan Bab 3 yaitu tahap penyusunan skenario konten. Di sini kami benar-benar diuji, karena kami menghadapi tantangan ekstrem untuk menjelaskan konsep arsitektur perangkat lunak berbasis Blockchain yang rumit, alur integrasi sistem API lintas kementerian, pengolahan Big Data, hingga alur birokrasi riset nasional ke dalam sebuah video dengan durasi yang sangat singkat, yaitu hanya berkisar antara 3 hingga 4 menit saja sesuai dengan aturan pada panduan PKM. Saya menyadari bahwa tim kami tidak dapat menggunakan bahasa pemrograman yang biasa kami gunakan sehari-hari. Jika kami nekat menampilkan diagram jaringan, penonton pasti akan langsung menutup video kami karena merasa bosan dan pusing. Proses penulisan naskah cerita menjadi tahap diskusi yang panjang di tim kami. Kami harus belajar bagaimana menggunakan teknik bercerita yang persuasif, membagi naskah ke dalam enam babak cerita yang mengalir mulai dari pengenalan masalah hingga dampak solusi, dan menciptakan metafora visual yang menarik. Proses memvisualisasikan metafora ini sangat terbantu dengan adanya storyboard yang kami susun dengan mengadaptasi format tabel dari laporan tugas besar animasi yang pernah kami buat sebelumnya untuk memastikan bahwa setiap detik durasi video memiliki makna visual yang kuat.

Setelah mematangkan konsep visual pada skenario konten, tim kami mulai merancang Bab 4 untuk menyusun metode pelaksanaan di balik layar. Berdasarkan aturan terbaru panduan PKM, terdapat larangan keras untuk mengalokasikan anggaran untuk menyewa perangkat keras utama seperti kamera profesional maupun ponsel pintar. Aturan ini seketika mematikan rencana cadangan kami yang awalnya ingin menyewa kamera beserta lensa di tempat penyewaan alat eksternal agar kualitas gambar video kami terlihat jernih. Kondisi keterbatasan anggaran ini memaksa tim kami untuk berpikir keras dan memaksimalkan seluruh sumber daya mandiri yang tersedia. Karena kami tidak bisa mengandalkan kemewahan alat, maka kekuatan video kami dipindahkan sepenuhnya pada kualitas konsep, teknik pengambilan gambar yang presisi, dan kekuatan animasi digital dengan menggunakan pendekatan video hybrid, yaitu kombinasi harmonis antara rekaman nyata (live-action) dan grafis gerak (motion graphics) animasi. Untuk bagian live-action, kami menjadwalkan pengambilan gambar presenter (A-Roll) di beberapa titik strategis lingkungan internal kampus, sedangkan untuk visualisasi sistem “Pusaka Riset Nusantara” yang abstrak, kami mempercayakan pengerjaannya pada perangkat lunak berbasis open-source untuk menghindari masalah pelanggaran lisensi hak cipta.

Memasuki Bab 5, tantangan yang dihadapi adalah menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan jadwal kegiatan. Tim kami harus merancang alokasi dana agar terbagi secara proporsional ke dalam empat jenis pengeluaran baku, yaitu Bahan Habis Pakai sebesar 56% untuk properti fisik pendukung, Sewa dan Jasa sebesar 14% untuk biaya langganan perangkat lunak, Transportasi Lokal sebesar 20% untuk mobilitas survei lokasi, dan Lain-lain sebesar 10% yang wajib memuat biaya promosi media sosial. Pengalaman menyusun RAB ini memberikan perspektif baru bagi kami mengenai bagaimana mengelola keuangan proyek secara transparan, akuntabel, dan menaati aturan, dilengkapi dengan penyusunan jadwal kegiatan berbentuk bar chart yang detail selama empat bulan penuh, mencakup lini masa yang jelas mulai dari finalisasi naskah pra-produksi, proses produksi aset animasi, pasca-produksi, hingga tahap evaluasi.

Terlepas dari penyusunan proposal ini, bagian yang paling mengejutkan mengenai program ini adalah ketika tim kami harus menghadapi pemenuhan target luaran wajib akhir yang ternyata di luar ilmu informatika yang saya pelajari sehari-hari. Awalnya dengan pemikiran sederhana seorang mahasiswa Teknik Informatika, saya mengira bahwa setelah file video final selesai, maka seluruh tugas berat kami telah selesai sepenuhnya. Ternyata dugaan itu salah besar, karena mekanisme penilaian PKM-VGK menuntut gagasan konstruktif yang telah kita rancang tidak hanya berakhir menjadi dokumen digital yang pasif di internet, melainkan harus benar-benar disebarluaskan untuk mengedukasi dan memicu kesadaran masyarakat luas melalui kampanye iklan digital. Di sinilah kami dipaksa untuk masuk ke dalam  ilmu manajemen pemasaran digital, di mana saya pribadi yang biasanya menganalisis data untuk mencari sebuah wawasan, dituntut untuk mempelajari metrik-metrik periklanan yang sangat asing. Proses mengelola kampanye iklan digital ini memberikan pelajaran berharga bahwa menciptakan sebuah inovasi teknologi yang mutakhir dan canggih akan menjadi hal yang sia-sia jika kita tidak mampu mengemas dan memasarkan ide tersebut dengan cara yang menarik minat publik.

Melihat kembali seluruh proses panjang yang telah dilalui dari penyusunan proposal pada Bab 1 hingga pemenuhan luaran dalam penyusunan proposal “Pusaka Riset Nusantara” ini, saya menyadari bahwa setiap momen yang dirasakan selama mengerjakan proyek PKM-VGK benar-benar telah memaksa saya untuk melangkah jauh keluar dari zona nyaman saya sebagai mahasiswa Teknik Informatika. Tidak pernah terpikirkan bagi saya bahwa setiap kali melakukan analisis terhadap data untuk mencari sebuah wawasan, saya perlu menyampaikannya kepada masyarakat umum yang dikemas dengan penyampaian sederhana, menarik, namun tetap informatif. Melalui kegiatan PKM-VGK ini, pandangan saya diubah secara total karena kami diajarkan sebuah pelajaran berharga bahwa seorang inovator teknologi tidak boleh hanya sekadar menjadi seorang pelaksana teknis yang bisu di depan layar komputer, melainkan harus memiliki kemampuan interpersonal dan kreativitas multidisiplin untuk mengemas isu-isu akademis dan birokrasi nasional yang kaku menjadi sebuah bentuk kampanye komunikasi digital yang realistis, menarik, kreatif, serta memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas. Perjalanan panjang dari merancang latar belakang masalah redundansi riset, merumuskan solusi, menyusun skenario video, mematuhi batasan anggaran yang berlaku, hingga mengelola strategi iklan digital ini bukan lagi sekadar pemenuhan tugas mata kuliah saja, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah pengalaman pembelajaran yang membentuk mentalitas saya menjadi mahasiswa yang utuh dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan sains di Indonesia.

Signature:

Nama: Topik Nur Rahman
NIM: 10123197
Program Studi: Teknik Informatika
Fakultas: Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
Universitas: Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)
Email Resmi: topik.10123197@mahasiswa.unikom.ac.id