Let’s be real. Building a business doesn’t always mean you have to wear a suit and attend boring meetings.
Jas itu simbol. Tapi semangat, ide, dan gerakan lo, itu yang jadi fondasi. Wirausaha tuh gak melulu soal formalitas, kadang cukup hoodie, kopi sachet, sama koneksi internet.
To be honest, dunia usaha sekarang udah nggak kayak dulu. kita udah hidup di era di mana bisnis gak harus ribet, dan jadi wirausahawan gak perlu tunggu tua, punya modal besar, punya relasi ke mana-mana atau punya gelar MBA. Jadi, kalau lo ngerasa belum “siap banget” buat mulai bisnis cuma karena lo gak punya kantor, gak punya modal gede, atau gak punya background ekonomi — chill. Lo jualan cookies? Jual jasa desain? Jual kopi literan? You’re building a brand, bro. You’re the CEO now. Congrattsss…
Kenapa Gaya Ini Jadi Tren?
Pertama-tama, anak muda zaman sekarang udah kenyang sama narasi “kerja kantoran = sukses”. Banyak dari mereka yang nyari kebebasan — bukan cuma dalam waktu, tapi juga dalam cara mereka mengekspresikan ide dan karya. Usaha jadi wadah buat mandiri, sambil tetap bisa jadi diri sendiri. Misalnya aja ada mahasiswa semester lima yang suka gambar digital, lalu iseng buka jasa desain logo lewat Twitter. Awalnya cuma dapet order dari temen sendiri, lalu mulai naik ke orang-orang luar kota. Tanpa sadar, ia udah jadi pemilik brand kecil yang menjual jasa dengan ciri khas visual tersendiri. Gak ada kantor, gak ada seragam. Tapi ada komitmen dan konsistensi.
Think Big, Act Chill
Mindset-nya tetep on point, tapi gaya jalaninnya gak perlu yang terlalu corporate. Lo bisa mulai usaha sambil kuliah, sambil nugas, bahkan sambil healing. Lo gak harus kelihatan “serius” buat bisa sukses. Justru yang chill, kreatif, dan peka tren itu yang cepet naik. Lo bisa mulai dari hal kecil, asal konsisten dan tahu cara mainnya. Karena sukses itu bukan cuma soal effort, tapi juga soal vibes dan strategy.
Lo bisa promosiin brand lo lewat TikTok vibes, reels aesthetic, atau feed IG yang minimalis clean. Yang penting bukan “aku jualan, beli dong”, tapi lo cerita, lo nunjukin, lo connect. Konsumen tuh gak cuma beli barang, tapi mereka beli cerita dan persona di balik produk lo.
Satu konten bisa reach ribuan orang. Satu caption bisa bikin orang relate.
Jadi, jangan remehin konten, bro. It’s your digital weapon.
Brand Lo, Lo Banget
Branding tuh bukan cuma logo kece atau kemasan yang lucu. Itu semua penting, yes. Tapi yang lebih penting: cerita lo, suara lo, dan perasaan yang lo bangun lewat produk lo. Orang tuh suka banget sama hal-hal yang punya “soul”. Dan lo bisa banget ngebangun itu lewat cara lo cerita, cara lo nulis caption, cara lo bales chat pelanggan.
Bahkan feed IG brand kecil sekarang udah kayak galeri seni. Clean, consistent, dan punya gaya khas. Itu bukan cuma biar keren, tapi biar orang inget. Karena di era scroll cepat kayak sekarang, kalau lo gak memorable, ya lo lewat.
Yang penting bukan produknya perfect, tapi kontennya nyampe. Orang pengen liat proses lo. Mereka pengen ngerasa deket. Lo gak harus keliatan profesional banget. Justru makin jujur, makin raw, makin enak ditonton.
So, pake nama yang catchy, tone voice yang konsisten (mau lucu, chill, atau edgy), packaging yang unboxing-able, dan aesthetic yang Instagrammable. Lo literally bisa bikin orang beli cuma karena “ih lucu banget kemasannya”. Dan dari situ, lo bisa bangun kepercayaan. Karena netizen sekarang tuh jago banget ngebedain mana yang genuine, mana yang jualan doang. Jadi, tampil apa adanya, tapi tetap niat — that’s the sweet spot.
Team Up is The New Solo
Gak ada yang bisa jalan sendiri. Dan honestly, kerja bareng itu jauh lebih seru. Banyak banget yang mikir “gue harus jago semuanya dulu baru mulai”. No, bestie. Itu justru yang bikin lo stuck. Di dunia nyata, bisnis yang jalan tuh biasanya karena ada tim. Atau at least, ada partner kolaborasi. Lo jago bikin produk? Cari temen yang jago desain. Lo jago ngomong? Join sama temen yang ngerti finance. Jangan takut gabung atau bagi peran.
Makanya program kayak P2MW atau INBISKOM itu ngaruh banget. Bukan cuma soal lomba-lombaan, tapi juga tempat buat lo kenalan sama sesama pejuang cuan kampus. Dari situ lo bisa dapet mentor, partner, bahkan customer pertama. Kalau lo masih di kampus, manfaatin itu. Lo punya fasilitas, lingkungan, bahkan dosen yang bisa jadi advisor bisnis. Jangan nunggu lulus baru gerak. Karena trust me, semakin cepet lo mulai, semakin banyak lo belajar.
Because at the end of the day, your network is your net worth.
Mulainya dari Masalah, Bukan Modal
Banyak yang mikir bisnis itu harus dimulai dari uang. Padahal, yang lebih penting tuh: apa yang pengen lo selesain?
Lo sering ngeliat temen-temen lo kehabisan ide kado ulang tahun? Coba bikin jasa hampers personal. Lo sering liat UMKM bingung soal digitalisasi? Jualan jasa desain buat katalog online. Lo hobi bikin lilin aromaterapi? Pasarin buat yang butuh healing di kamar kos-nya. IIntinya: cari masalah kecil di sekitar lo, terus lo jadiin solusi. Jangan pikirin dulu besar kecilnya. Asal lo bisa bantu orang lain dengan cara lo sendiri, itu udah jadi bentuk usaha yang valid banget.
Dan justru karena lo mulai dari hal yang lo kenal, produk lo bakal terasa lebih “ngena”.
Lo Nggak Harus Perfect Buat Start
Yang paling penting buat jadi “CEO tanpa jas” tuh bukan modal gede, bukan koneksi tinggi, tapi berani mulai. Karena perfection is overrated. Mulai aja dulu, sambil lo improve.
Gagal? Yaudah. Reset. Ulang lagi.
Dicuekin market? Ganti pendekatan.
Capek? Istirahat, tapi jangan quit.
Lo bisa mulai dari kamar, garasi, kos-kosan, atau bahkan dari catatan di HP. Yang penting, lo konsisten. Karena market itu suka banget sama brand yang punya arah dan personality.
CEO Itu Mindset, Bukan Jabatan
Yang terakhir dan paling penting: jadi CEO itu bukan nunggu lo punya perusahaan besar. Tapi soal gimana lo mikir, ambil keputusan, dan grow bareng apa yang lo bangun.
Lo jualan boba rumahan, tapi lo mikirin packaging, promosi, pencatatan keuangan, bahkan target pasar? Lo udah mikir kayak CEO.
Jadi, jangan kecilin posisi lo sendiri cuma karena brand lo belum punya followers banyak. Don’t wait until everything’s perfect. Don’t wait sampai lo punya 100 juta buat modal. Karena kadang… modal terbaik lo justru keberanian buat jalan duluan, sambil belajar di tengah jalan.
Let’s Be Real
Di luar sana, banyak CEO yang gak pake jas. Tapi mereka punya komitmen, konsistensi, dan cara mikir yang long-term. Mereka mungkin belum punya kantor, tapi mereka udah punya brand. Mereka mungkin belum viral, tapi tiap hari ada progress.
Dan lo bisa jadi salah satunya. Hari ini lo bikin akun bisnis IG, besok lo upload konten, minggu depan lo dapet order pertama. Kecil? Mungkin. Tapi itu langkah awal yang real.
So yeah… hidup tuh gak selalu soal lo harus jadi paling jago, paling keren, atau paling siap. Kadang lo cuma harus jadi orang yang berani jalan duluan, walau langkahnya masih pelan, walau jalannya belum jelas, walau di kepala masih penuh “gimana kalo gagal”.
life’s not about waiting for the moment where everything feels perfectly lined up.
It’s not about having 100% confidence, a flawless plan, or some fancy title next to your name.
Sometimes, it’s just about deciding — “gue gas sekarang, atau mimpi ini bakal stuck selamanya?”
And tbh, we’ve all been there.
Duduk depan laptop, liat konten orang lain keren banget, bisnis mereka udah rapi, packaging aesthetic, followers banyak, dan lo langsung mikir,
“Damn, gue jauh banget.”
Tapi hey — pause that thought.
Kenyataannya, semua orang keren yang lo liat hari ini — dulu juga pernah jadi newbie, pernah ditolak, pernah upload konten yang gak ada yang like, pernah jualan yang ordernya cuma satu biji dari temen sendiri.
But guess what? Mereka stay. Mereka gak cabut. Mereka keep showing up.
Dan itu yang bikin mereka beda.
Jadi, kalau sekarang lo lagi ngerasa minder, ngerasa belum cukup, ngerasa “gue siapa sih dibanding mereka?” —
Stop it there.
Because the only person you should compete with is yesterday’s version of you. You don’t need 100 tools to start. You just need that one reason why lo gak boleh diem terus.
t’s about lo tau lo belum bisa semuanya, but you’re still choosing to show up.
It’s about posting that product walau lighting-nya belum proper.
It’s about sending that pitch walau jantung deg-degan.
It’s about branding your passion with your own flavor, your own story, your own chaos.
And that chaos?
That’s what makes it real.
Because the world doesn’t need another perfect startup.
The world needs real people solving real problems with heart.
Karena semakin lo nunggu everything feels ready, semakin jauh lo dari mimpi lo sendiri.
Dan mimpi yang paling sayang itu, bukan yang keren di notes, tapi yang lo eksekusi — even kalau belum sempurna. Because most people never even start. They wait. And wait. And overthink. Sampai akhirnya… they let go of their own dreams without even trying.
Nama : Imelda Ashari
NIM : 10522189
Kelas : Sistem Informasi 6