Branding Produk : Pengaruh Kemasan Terhadap Harga Jual Keripik Singkong Kiloan dan Keripik Singkong Kemasan

7–11 minutes

Branding merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk membangun serta memperkuat identitas suatu merek dengan cakupan yang luas. Identitas tersebut mencakup nama dagang, logo, karakter merek, hingga persepsi konsumen terhadap merek itu sendiri. Selain itu, branding juga berperan sebagai strategi perusahaan dalam menarik serta mempertahankan konsumen.

Branding memberikan berbagai manfaat, antara lain menciptakan identitas yang membedakan produk atau jasa dari kompetitor, menyampaikan nilai-nilai yang dimiliki merek, serta menjalin komunikasi yang efektif dengan konsumen. Oleh karena itu, para pelaku usaha berlomba-lomba merancang strategi branding yang menarik agar mampu meningkatkan daya tarik sekaligus loyalitas konsumen.

Banyak orang yang masih keliru dan mengira kalau branding itu cuma sekadar urusan bikin logo bagus atau nama yang keren. Padahal kalau kita ibaratkan manusia produk itu hanyalah tubuh atau raga fisiknya sedangkan branding adalah jiwa dan kepribadiannya. Tanpa sentuhan branding sebuah produk cuma akan jadi benda mati yang kaku dan tidak menarik. Brandinglah yang meniupkan nyawa sehingga produk tersebut jadi punya karakter punya gaya sendiri dan bisa akrab dengan konsumen layaknya teman yang asik diajak bicara.

Pentingnya Branding Produk

Branding adalah kegiatan membangun sebuah brand. Membuat identitas, termasuk logo, merupakan salah satu kegiatan branding. Branding adalah proses mendesain, merencanakan, dan mengkomunikasikan nama serta identitas dengan tujuan membangun atau mengelola reputasi (Anholt, 2003:5).

Sedangkan produk merupakan barang berwujud yang ditawarkan ke pasar untuk dibeli, diperhatikan, atau dikonsumsi, sedangkan jasa adalah hasil dari aktivitas atau keahlian satu orang atau lebih yang bersifat tidak berwujud. Meskipun perbedaan utama antara produk dan jasa sering kali dikaitkan dengan tingkat keberwujudannya, pembeda tersebut tidak selalu mutlak. Pada umumnya jasa bersifat tidak berwujud, namun tidak semua produk selalu memiliki bentuk fisik yang nyata. Produk dapat dipahami sebagai objek yang dihasilkan melalui proses produksi, kemudian disimpan, didistribusikan, dipromosikan, dan akhirnya dipasarkan untuk dijual. Produk dapat bersifat berwujud maupun tidak berwujud, sementara jasa pada umumnya bersifat tidak berwujud. Perbedaan antara produk dan jasa tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa karakteristik lain, seperti tingkat keberwujudan, daya tahan, variabilitas, serta tingkat heterogenitasnya.

Product branding atau branding produk merupakan strategi pemasaran dengan cara memberikan identitas khusus pada suatu produk agar mudah dikenali oleh konsumen. Identitas tersebut dapat berupa logo, desain kemasan, deskripsi produk, maupun elemen pendukung lainnya. Identitas inilah yang kemudian berfungsi sebagai nilai jual utama yang membedakan produk dari kompetitor.

Strategi branding produk tidak terbatas pada jenis produk tertentu. Beragam produk, mulai dari makanan, alat tulis, kendaraan, hingga peralatan rumah tangga, memerlukan identitas yang khas. Oleh karena itu, setiap produk dikemas dan ditampilkan secara unik sesuai dengan karakteristik dan target pasarnya.

Secara konsep, branding produk memiliki kesamaan dengan corporate branding, namun keduanya berbeda dalam objek pemasaran yang ditonjolkan. Meski demikian, kedua strategi tersebut sama-sama bertujuan untuk membangun keterikatan emosional antara perusahaan dan konsumen guna menciptakan loyalitas.

Dengan demikian, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan nama korporasi dalam memasarkan produknya. Perusahaan juga perlu merancang identitas produk secara matang agar produk tersebut lebih mudah dikenali, diterima, dan diingat oleh target konsumen. Manfaat dari branding produk ini tentunya brand awareness dimana konsumen maupun calon konsumen dapat mengingat dan mengetahui brand tersebut, kemudian juga menciptakan ciri khas dari branding agar orang-orang tahu bahwa mereka memiliki keunikan pada barang yang mereka jual, meningkatkan hasil penjualan tentunya menjadi manfaat dari branding produk. 

Implementasi Nyata: Studi Kasus Keripik Singkong

Untuk membuktikan bagaimana branding dan kemasan bisa mengubah harga, mari kita lihat perbandingan nyata pada satu jenis produk yang sama, yaitu keripik singkong. Kita akan membedakan dua perlakuan yang sering kita temui di pasaran.

  1. Keripik Singkong “Curah” (Tanpa Branding) Ini adalah tipe keripik yang biasa kita temukan di pasar tradisional atau warung kelontong.
  • Tampilan: Biasanya hanya dibungkus plastik bening tipis. Penutupnya sederhana, kadang cuma diikat karet gelang atau direkatkan pakai lilin.
  • Identitas: Polos. Tidak ada stiker nama, tidak ada logo, apalagi izin P-IRT. Pembeli tidak tahu siapa yang menggorengnya.
  • Harga: Sangat murah, rata-rata Rp15.000 sampai Rp20.000 sudah dapat satu kilogram penuh.
  1. Keripik Singkong “Kekinian” (Branding Modern) Ini adalah tipe keripik yang biasa dijual di minimarket atau e-commerce (seperti Maicih atau Qtela).
  • Tampilan: Menggunakan kemasan alumunium foil yang tebal, warnanya mencolok (full color), dan desainnya estetik. Seringkali dilengkapi fitur ziplock supaya keripik tidak melempem kalau tidak habis.
  • Identitas: Punya nama merek yang unik, logo yang gampang diingat, dan ada cerita menarik di balik produknya. Izin edar dan logo Halal terpampang jelas.
  • Harga: Sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000. Tapi hati-hati, itu cuma untuk 100 gram! Artinya, kalau dihitung per kilogram, harganya tembus Rp100.000 sampai Rp150.000.

Pembahasan: Mengapa Kemasan Bisa Melambungkan Harga?

Jika kita perhatikan perbandingan di atas, terlihat kesenjangan harga yang sangat mencolok bisa mencapai 5 hingga 7 kali lipat padahal produk di dalamnya sama-sama singkong goreng. Pertanyaannya, mengapa konsumen bersedia merogoh kocek lebih dalam hanya untuk sebuah bungkus? Berikut adalah analisis alasannya:

A. Kesan Pertama Menentukan Nilai (Perceived Value)

Istilah “dari mata turun ke hati” sangat berlaku di sini. Kemasan bukan sekadar wadah, melainkan penentu kesan pertama. Ketika konsumen melihat keripik dengan kemasan foil yang rapi dan desain estetis, otak mereka secara otomatis menyimpulkan: “Produk ini pasti premium, bersih, dan rasanya enak.” Sejalan dengan pemikiran Kotler & Keller (2016), kemasan berfungsi layaknya iklan lima detik pertama yang bertugas membangun persepsi kualitas di benak konsumen. Sebaliknya, keripik yang hanya dibungkus plastik bening sering kali dianggap “murahan”, sehingga konsumen enggan membayar mahal.

B. Pembeda yang Unik di Tengah Persaingan

Tanpa adanya merek, semua keripik singkong akan terlihat serupa dan sulit dibedakan antara satu produsen dengan produsen lainnya. Di sinilah branding berperan memberikan “nama” dan identitas. Wheeler (2017) menekankan bahwa identitas visual sangat membantu konsumen untuk mengenali sebuah produk di tengah banyaknya kompetitor sejenis. Melalui kemasan, produsen bisa berkomunikasi dan menonjolkan keunikannya, misalnya dengan pesan: “Ini keripik dengan level pedas ekstrem”. Keunikan inilah yang dicari pembeli, bukan sekadar singkong goreng biasa.

C. Jaminan Rasa Aman dan Kepercayaan

Konsumen masa kini semakin kritis terhadap kesehatan. Kemasan modern mampu memberikan rasa tenang yang tidak dimiliki produk curah. Informasi seperti tanggal kadaluarsa, komposisi bahan, hingga label Halal membuat konsumen yakin untuk mengonsumsinya. Hal ini didukung oleh teori Klimchuk & Krasovec (2007) yang menyatakan bahwa desain kemasan yang informatif terbukti mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap isi produk. Konsumen rela membayar lebih demi jaminan keamanan dan kebersihan (higienitas) daripada mengambil risiko membeli produk curah yang terbuka.

D. Faktor Gengsi dan Gaya Hidup

Sadar atau tidak, kemasan sebuah produk turut menentukan siapa target pasarnya. Keripik kiloan biasanya ditujukan bagi mereka yang mengutamakan harga murah. Sementara itu, keripik branded menyasar kalangan muda yang membutuhkan pengakuan sosial. Menurut Tjiptono (2019), perilaku konsumen di Indonesia memang cenderung menjadikan produk bermerek sebagai simbol status sosial atau gaya hidup. Membawa camilan dengan kemasan yang bagus saat berkumpul (nongkrong) memberikan nilai tambah berupa gengsi bagi pembelinya.

E. Strategi Visual: Mengapa Warna dan Tulisan Itu Penting?

Selain fungsinya sebagai pelindung, kemasan bisa menaikkan harga jual karena adanya permainan psikologi desain. Coba perhatikan kemasan keripik kekinian seperti Maicih atau Kusuka. Hampir semuanya didominasi warna hangat seperti merah, kuning, atau oranye. Pemilihan warna ini tentu bukan tanpa alasan. Menurut Danger (1992), dalam teori psikologi pemasaran, warna merah dan kuning punya kekuatan untuk memancing rasa lapar, memacu detak jantung, dan menciptakan kesan semangat. Jadi saat konsumen melihat kemasan berwarna merah, mereka cenderung merasa lebih lapar atau penasaran ketimbang melihat warna biru atau abu abu yang sifatnya menenangkan.Tak hanya warna, pilihan jenis huruf atau tipografi juga sangat menentukan. Produk kemasan modern umumnya memakai huruf yang tebal, gaya tulisannya seru, dan mudah terbaca dari jauh. Bandingkan dengan keripik curah yang seringkali polos tanpa tulisan apa pun. Perpaduan antara warna yang menggugah selera dan tulisan yang tegas inilah yang menciptakan fenomena “Silent Salesman”. Artinya kemasan tersebut mampu mempromosikan dirinya sendiri di rak toko tanpa perlu bantuan penjual untuk berteriak menawarkan dagangan.

Kemasan Sebagai Ujung Tombak Branding

Dalam dunia bisnis produk fisik khususnya untuk makanan ringan kemasan atau packaging memegang peranan yang sangat vital dan bersentuhan langsung dengan pembeli. Sayangnya masih banyak pengusaha baru yang salah kaprah dan menganggap kemasan itu fungsinya cuma sekadar pembungkus biar isinya tidak tumpah. Padahal kenyataannya kemasan itu ibarat tenaga sales yang diam diam bekerja keras menarik perhatian di rak toko. Sebelum konsumen bisa merasakan betapa enaknya sebuah produk mereka pasti akan menilai dari tampilannya dulu. Kalau luarnya saja sudah terlihat meyakinkan otak kita otomatis akan percaya kalau isinya pun pasti berkualitas.

Hal ini menjadi pelajaran penting buat teman teman UMKM di Indonesia. Kita sering sekali menemukan produk lokal yang rasanya juara atau istilahnya rasa bintang lima tapi harganya tetap kaki lima cuma gara gara kemasannya asal asalan. Padahal dengan sedikit saja sentuhan perbaikan pada desain kemasan nilai jual produk bisa langsung melesat tinggi. Strategi visual inilah yang menjadi kunci supaya produk biasa bisa naik kelas jadi barang premium. Untuk membuktikan seberapa dahsyat efek kemasan ini mari kita lihat contoh nyata pada camilan sejuta umat yaitu keripik singkong. Ternyata perbedaan cara mengemas produk sederhana ini bisa menciptakan selisih harga yang bikin geleng geleng kepala.

Kesimpulan

Dari semua pembahasan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa branding lewat kemasan punya dampak yang sangat besar pada harga jual dan keuntungan bisnis keripik singkong. Kemasan sekarang bukan lagi sekadar pembungkus agar isi tidak tumpah melainkan sudah menjadi alat komunikasi strategis untuk membangun nilai tambah kepercayaan dan gengsi bagi pembelinya.

Bukti di lapangan memperlihatkan bahwa sekadar mengganti kemasan dari plastik curah ke model modern bisa menaikkan harga jual hingga berkali lipat. Kenaikan harga ini bisa diterima konsumen karena adanya pengaruh psikologi desain serta jaminan keamanan produk yang lebih baik. Bagi teman teman pelaku UMKM studi kasus ini memberikan pelajaran penting agar tidak hanya sibuk memperbaiki rasa keripik saja tapi mulailah menyisihkan modal untuk branding dan kemasan. Seperti simulasi hitungan yang sudah kita bahas biaya ekstra untuk kemasan bukanlah uang yang terbuang percuma melainkan sebuah investasi yang nantinya akan kembali dalam bentuk keuntungan yang jauh lebih besar.

Daftar Pustaka

  1. Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th Edition). Pearson Education.
  2. Tjiptono, F. (2019). Strategi Pemasaran: Prinsip dan Penerapan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  3. Klimchuk, M. R., & Krasovec, S. A. (2007). Packaging Design: Successful Product Branding from Concept to Shelf. John Wiley & Sons.
  4. Anholt, S. (2003). Brand New Justice: The Upside of Global Branding. Butterworth-Heinemann.
  5. Wheeler, A. (2017). Designing Brand Identity: An Essential Guide for the Whole Branding Team. John Wiley & Sons.
  6. Danger, E. P. (1992).Selecting Colour for Packaging. Gower Publishing. (Referensi klasik untuk teori warna kemasan).