Author: NADZWAN ALBANI PUTRA

  • SMARTBIN CARE: SISTEM DETEKSI DAN PEMISAHAN SAMPAHORGANIK DAN SAMPAH ANORGANIK SEBAGAI UPAYAMENAIKAN SUMBER PENDAPATAN EKONOMI MASYARAKAT.

    ABSTRAK

    Permasalahan sampah merupakan isu krusial yang dihadapi oleh hampir seluruh wilayah di Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Pertumbuhan penduduk yang pesat, peningkatan pola konsumsi masyarakat, serta rendahnya kesadaran dalam pengelolaan sampah menyebabkan volume sampah terus meningkat setiap tahunnya. Sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan permasalahan sosial dan ekonomi. Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah adalah rendahnya tingkat pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sehingga menyulitkan proses daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi.

    Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) berjudul SMARTBIN CARE: Sistem Deteksi dan Pemisahan Sampah Organik dan Sampah Anorganik sebagai Upaya Menaikkan Sumber Pendapatan Ekonomi Masyarakat menawarkan sebuah gagasan inovatif berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat. SMARTBIN CARE merupakan konsep tempat sampah pintar yang dilengkapi dengan sistem deteksi otomatis untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Melalui penerapan sistem ini, diharapkan proses pemilahan sampah menjadi lebih efektif, efisien, dan konsisten.

    Lebih lanjut, artikel ini membahas latar belakang permasalahan sampah, urgensi inovasi pengelolaan sampah, konsep dan mekanisme kerja SMARTBIN CARE, potensi implementasi di masyarakat, serta dampak ekonomi dan sosial yang dapat dihasilkan. Gagasan ini tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan sampah bernilai jual, seperti kompos dari sampah organik dan produk daur ulang dari sampah anorganik. Dengan demikian, SMARTBIN CARE diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan yang mengintegrasikan teknologi, lingkungan, dan ekonomi masyarakat.

    Kata kunci: SMARTBIN CARE, pengelolaan sampah, sampah organik, sampah anorganik, ekonomi masyarakat, PKM-VGK

    Latar belakang

    Sampah merupakan konsekuensi logis dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Seiring dengan perkembangan zaman, peningkatan jumlah penduduk, dan perubahan gaya hidup masyarakat, volume sampah yang dihasilkan pun mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan berbagai laporan lingkungan, Indonesia termasuk dalam jajaran negara dengan produksi sampah terbesar di dunia, terutama sampah plastik dan sampah rumah tangga. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius bagi pemerintah dan masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Permasalahan utama dalam pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya volume sampah, tetapi juga pada sistem pengelolaan yang belum optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir
    di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa melalui proses pemilahan dan pengolahan yang memadai. Akibatnya, TPA menjadi cepat penuh, menimbulkan pencemaran lingkungan, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat sekitar.
    Salah satu faktor penyebab rendahnya efektivitas pengelolaan sampah adalah minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah berdasarkan jenisnya. Banyak masyarakat yang masih mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu wadah, sehingga menyulitkan proses daur ulang dan pengolahan lanjutan. Padahal, jika sampah dipilah sejak dari sumbernya, maka potensi pemanfaatan sampah menjadi lebih besar, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun-daunan, dapat diolah menjadi kompos atau pupuk organik yang memiliki nilai jual dan bermanfaat bagi sektor pertanian. Sementara itu, sampah anorganik, seperti plastik, kertas, dan logam, dapat didaur ulang menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang semula dianggap sebagai limbah dapat berubah menjadi sumber
    daya yang mendukung perekonomian masyarakat. Namun demikian, proses pemilahan sampah secara manual sering kali dianggap merepotkan dan memerlukan waktu serta tenaga ekstra. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat enggan melakukan pemilahan sampah secara konsisten. Oleh karena itu, diperlukan sebuah inovasi yang mampu
    mempermudah proses pemilahan sampah, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah. SMARTBIN CARE hadir sebagai sebuah gagasan inovatif yang mengintegrasikan teknologi deteksi otomatis dengan konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi sensor dan sistem pemisahan otomatis, SMARTBIN CARE diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memilah sampah
    dengan lebih mudah dan akurat. Selain itu, sistem ini juga dirancang untuk mendukung pengelolaan sampah yang berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari pengelolaan sampah yang baik.

    Identifikasi Masalah Utama
    Masalah utama dalam pengelolaan sampah berkaitan dengan pemilahan sampah
    yang masih dilakukan secara manual oleh para pemulung. Memisahkan antara
    sampah basah dan kering memerlukan waktu yang lama, tenaga yang besar, dan
    juga berpotensi membahayakan. Situasi ini mengurangi efisiensi kerja pemulung,
    serta memperlambat proses pengelolaan sampah yang seharusnya bisa
    dimaksimalkan sejak awal.

    Fakta Sampah di Indonesia
    Indonesia buang 68.000 ton sampah setiap hari pada 2023. Hanya 60% yang bisa
    dikelola dengan baik, sisanya mencemari sungai dan laut. Jakarta saja hasilkan
    8.000 ton sampah per hari.
    Pemulung ada 3-4 juta orang yang pilah sampah pakai tangan. Kerjanya lama,
    capek, dan bahaya seperti tertusuk jarum. Akibatnya, daur ulang cuma 12-20%,
    padahal target 30% di 2025.
    Masalah besar di pasar seperti Pasar Minggu (50 ton sampah/hari), kampung
    padat, dan dekat tempat sampah sementara. 60% sampah basah di Jawa terbuang,
    padahal bisa jadi pupuk atau gas memasak.
    Pemulung dapat uang Rp20.000-50.000 sehari. Kalau daur ulang lancar, bisa
    untung Rp10 triliun setahun. Pemerintah sudah perintah tingkatkan daur ulang,
    tapi cuma 10% tempat bank sampah aktif.

    Inspirasi Ide Gagasan
    kami mendapat ide terinspirasi dari alat yang ada di luar negeri yang dimana alat
    tersebut mendeteksi sampah plastic yang bisa di tukar menjadi ladang
    penghasilan. walau secara nominal uang yang di dapatkan tidak besar namun
    masyarakat disana sangat di untungkan, atau dapat di tukar menjadi uang,voucher,
    dan juga makanan.

    Solusi 1
    Solusi awal yang dapat diterapkan adalah penggunaan (nama idenya), sebuah alat
    untuk memisahkan sampah secara otomatis dengan menggunakan sensor.
    Teknologi ini dapat mengenali jenis sampah dan langsung membaginya menjadi
    dua kategori, yaitu Sampah Organik (sampah basah) dan Sampah Anorganik
    (sampah kering)
    . Dengan adanya sistem otomatis ini, tenaga kerja pemulung sampah menjadi
    lebih ringan, proses pemisahan dapat dilakukan lebih cepat, dan hasil pemilahan
    menjadi lebih konsisten. serta para pemulung atau masyarakat yang mau menjual
    sampah tidak perlu untuk memilah sampah membuatnya lebih evisien, dan dapat
    di jual ke pengepul sampah untuk medapatkan penghasilan uang menjadi mata
    pencaharian dari tidakan yang sangat membantu lingkuangan dan mendapat
    keuntungan.

    Solusi 2
    Setelah para pemulung atau masyarakat yang mau bertindak untuk membersihkan
    likungan mereka juga dapat menfaatkan untuk menjadikan sampah-sampah yang
    sudah tidak terpakai ini menjadi bahan yang sangat mengutungkan seperti.
    sampah organik dapat Dijadikan kompos atau pupuk organik untuk menyuburkan
    tanah, Diolah jadi biogas sebagai bahan bakar memasak atau listrik. Pelet pakan
    ternak untuk ayam, ikan, atau sapi, Media tanam hidroponik dari kompos. untuk
    sampah anorganik dapat di jadikan bahan untuk ber kreatifitas seperti pot bunga,
    vas, atau tas anyaman, Kaleng bekas dijadikan tempat pensil atau celengan. begitu
    banyak manfaat dari pemilhan sensor ini yang berdampak positif untuk banyak
    orang dan lingkungan.

    Distribusi Tempat
    Penempatan (nama barang) seharusnya ditujukan untuk lokasi dengan banyak
    sampah dan kegiatan ekonomi seperti daerah dengan populasi tinggi, pasar lokal,
    area bisnis kecil, dan lokasi dekat tempat pembuangan sementara. Menempatkan
    alat ini di daerah tersebut akan secara langsung meningkatkan efisiensi dalam
    memilah sampah dan mengurangi beban kerja bagi para masyarakat yang akan
    memulung sampah sampah yang di sebut juga pemulung.

    Penempatan Alat Sampah
    Alat ditempatkan di lokasi yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat
    serta pemulung. Contohnya adalah di taman, di tempat umum, di lingkungan pasar
    tradisional, sekolah, tempat ibadah, dan tempat lainnya. Penempatan alat harus
    memperhatikan tempat dimana orang orang menghasilkan sampah. tempat tempat
    yang di sebutkan sebelum sudah tepat karna di tempat tempat tersebut lah sampah
    dapat tercipta, keamanan saat digunakan, dan kemudahan untuk dirawat. Ini
    bertujuan agar (nama barang) dapat berpotensi beroperasi dengan baik dan
    digunakan secara berkelanjutan.

    Manfaat Keberlanjutan
    Dalam waktu lama, (nama barang) membantu keberlanjutan sosial dan
    lingkungan. Proses pemilahan yang lebih baik meningkatkan tingkat daur ulang,
    meminimalkan pencemaran, dan mendukung ekonomi sirkular. Dari sudut
    pandang sosial, efisiensi kerja para pengepul dapat meningkatkan penghasilan,
    mengurangi risiko kesehatan, dan menjadi langkah awal untuk mengurangi
    kemiskinan dalam pengelolaan sampah.

    Relevansinya dengan 17 tujuan sdgs
    Ide ini sangat cocok dengan masalah besar di Indonesia dan tujuan dunia SDG 8,
    yaitu pekerjaan yang aman dan ekonomi yang tumbuh bagus. Di Indonesia, kita
    buang 68.000 ton sampah setiap hari, tapi cuma 60% yang bisa diurus dengan
    benar. Sisanya bikin sungai dan laut kotor. Ada 3-4 juta pemulung yang pilah
    sampah pakai tangan, capek banget, lama, dan bahaya seperti tertusuk jarum.
    Mereka cuma dapat uang Rp20.000-50.000 sehari, padahal kalau daur ulang
    lancar bisa untung Rp10 triliun setahun! Masalahnya parah di pasar seperti Pasar
    Minggu (50 ton sampah/hari), kampung ramai, dan dekat tempat sampah
    sementara.
    Alat sensor otomatis ini bantu pemulung kerja lebih mudah dan aman, sesuai SDG
    8 yang ingin pekerjaan bagus untuk semua orang sampai 2030. Alat ini pisah
    sampah basah (organik) dan kering (anorganik) dengan cepat, jadi pemulung bisa
    jual lebih banyak dan dapat uang lebih banyak. Sampah basah bisa jadi pupuk
    kompos, biogas untuk masak, atau pakan ternak. Sampah kering bisa dibuat pot
    bunga, celengan, atau tas anyaman. Ini bikin ekonomi sirkular, kurangi
    kemiskinan, dan bantu daur ulang naik dari 12-20% jadi 30% seperti target
    pemerintah tahun 2025.

    Pihak yang Terlibat
    Para pihak yang terkait di dalamnya meliputi masyarakat indonesia yang menjadi
    pengguna utama, masyarakat yang menjadi menghasilkan sumber sampah,
    pengelola lingkungan atau bank sampah, serta pemerintah yang bertindak sebagai
    pendukung kebijakan dan fasilitator. Selain itu, perancang teknologi dan lembaga
    pendidikan dapat berkontribusi dalam pengembangan, penilaian, dan perbaikan
    alat agar memenuhi kebutuhan di lapangan.