Auralis : Panel Reflektif Akustik sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendengaran Penonton

5–8 minutes

Seni pertunjukan merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang sangat bergantung pada kualitas pengalaman mendengar. Setiap nada, harmoni, dan dinamika suara memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan artistik kepada pendengar. Namun, pengalaman tersebut tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pelaku seni, melainkan juga oleh ruang tempat pertunjukan berlangsung. Ruang yang tidak dirancang dengan pertimbangan akustik yang baik kerap mengaburkan detail bunyi dan mengurangi kualitas pertunjukan secara keseluruhan. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang utama munculnya gagasan PKM kami, yaitu menghadirkan solusi akustik yang lebih inklusif dan dapat diakses oleh berbagai kalangan pelaku seni pertunjukan.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu wadah penting bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan, kepekaan sosial, serta kemampuan akademik ke dalam sebuah karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam perjalanan PKM yang sedang kami jalani, tim kami sepakat untuk mengangkat tema yang berangkat dari dunia seni, khususnya seni pertunjukan musik. Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari latar belakang mayoritas anggota tim yang merupakan pelaku seni, terutama di bidang seni pertunjukan seperti paduan suara dan musik tradisional.

Sebagai pelaku seni pertunjukan, kami menyadari bahwa kualitas sebuah penampilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis para pemain atau penyanyi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ruang tempat latihan maupun pertunjukan berlangsung. Dalam konteks musik, ruang bukan sekadar wadah fisik, melainkan bagian dari instrumen itu sendiri. Ruang memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana suara dipantulkan, diserap, dan akhirnya diterima oleh pendengar maupun oleh pelaku seni itu sendiri.

Dalam konteks musik, ruang bukan sekadar tempat berlangsungnya aktivitas, melainkan bagian penting dari keseluruhan sistem bunyi. Ruang memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana suara dipantulkan, diserap, dan akhirnya terdengar oleh pelaku seni maupun penonton. Oleh karena itu, kualitas ruang secara akustik menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

Pentingnya Ruang Akustik Ideal dalam Seni Pertunjukan

Dalam seni pertunjukan musik—baik paduan suara, angklung, ansambel, maupun bentuk pertunjukan musik lainnya—dibutuhkan sebuah ruang yang ideal secara akustik. Secara sederhana, akustik ruang berkaitan dengan bagaimana suara berperilaku di dalam suatu ruang dan bagaimana ruang tersebut memengaruhi kualitas bunyi yang dihasilkan.

Ruang yang baik secara akustik mampu membantu suara terdengar lebih jelas, seimbang, dan nyaman. Beberapa kriteria umum dari ruang akustik yang ideal antara lain:

  1. Waktu dengung (reverberation time) yang sesuai, tidak terlalu panjang sehingga suara menjadi bergema berlebihan, dan tidak terlalu pendek sehingga suara terasa kering.
  2. Kejelasan suara (clarity), sehingga detail bunyi dapat terdengar dengan baik oleh pemain maupun penonton.
  3. Pemerataan sebaran suara, agar suara dapat diterima relatif sama di berbagai titik ruangan.
  4. Minim pantulan liar dan distorsi, yang dapat mengganggu konsentrasi dan kenyamanan mendengar.

Namun, pada kenyataannya, kriteria ruang akustik ideal ini sangat jarang ditemukan di venue-venue pertunjukan maupun ruang latihan, khususnya di kota Bandung. Banyak ruang yang digunakan untuk latihan musik sebenarnya tidak dirancang dengan pertimbangan akustik, melainkan hanya memanfaatkan ruang kosong yang tersedia.

Keterbatasan Venue dan Ruang Latihan Musik

Kondisi tersebut menimbulkan berbagai permasalahan bagi pelaku seni pertunjukan. Ruang dengan kualitas akustik yang kurang baik sering kali membuat suara menjadi terlalu bergema, saling tumpang tindih, atau bahkan terdengar tidak jelas. Akibatnya, pelaku seni kesulitan untuk mendengar suara asli mereka sendiri secara objektif.

Di sisi lain, ruang pertunjukan atau gedung konser yang memang dirancang secara profesional dengan perhitungan akustik yang matang umumnya memiliki biaya pembangunan dan sewa yang relatif mahal. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas desain, penggunaan material khusus, serta proses perencanaan yang membutuhkan riset dan pengujian mendalam.

Kondisi ini menjadi tantangan besar, terutama bagi komunitas seni, kelompok mahasiswa, dan pelaku seni independen. Tidak semua pihak memiliki akses terhadap venue dengan kualitas akustik yang baik. Akibatnya, banyak pelaku seni mengalami keterbatasan dalam:

  1. Menemukan ruang latihan yang mendukung kualitas suara,
  2. Mengevaluasi hasil latihan secara akurat,
  3. Menyiapkan pertunjukan dengan optimal karena keterbatasan ruang yang sesuai.

Secara tidak langsung, keterbatasan ini dapat menghambat perkembangan kualitas seni pertunjukan itu sendiri.

Gagasan PKM: Material Akustik yang Terjangkau

Berangkat dari permasalahan tersebut, kami sebagai mahasiswa, khususnya dari latar belakang TKM, berinisiatif untuk menghadirkan sebuah solusi alternatif. Melalui PKM ini, kami berupaya mengembangkan material akustik yang dapat membantu meningkatkan kualitas akustik ruang, namun tetap terjangkau oleh kalangan menengah.

Material ini dirancang sebagai solusi praktis bagi pelaku seni pertunjukan yang membutuhkan ruang dengan kualitas suara yang lebih baik, tanpa harus bergantung pada gedung khusus atau venue mahal. Dengan adanya material ini, ruang-ruang biasa diharapkan dapat dioptimalkan menjadi ruang latihan atau ruang pertunjukan sementara yang lebih layak secara akustik.

Selain itu, material ini juga berpotensi digunakan di venue-venue seni pertunjukan dengan skala kecil hingga menengah sebagai alternatif peningkatan kualitas akustik dengan biaya yang lebih rendah. Aspek keterjangkauan menjadi fokus utama agar material ini dapat diakses oleh lebih banyak kalangan.

Tahapan Penelitian dan Pengembangan Material

Dalam proses pengembangan PKM ini, langkah awal yang kami lakukan adalah studi literatur mengenai prinsip dasar akustik ruang, khususnya yang berkaitan dengan ruang latihan dan ruang pertunjukan musik. Kami mempelajari karakteristik ruang yang ideal, kebutuhan spesifik berbagai jenis seni pertunjukan, serta contoh penerapan material akustik yang telah ada sebelumnya.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, kami kemudian merumuskan kriteria teknis yang harus dipenuhi oleh material yang akan dikembangkan. Kriteria ini mencakup kemampuan material dalam mengontrol pantulan suara, kemudahan pemasangan, fleksibilitas penggunaan, serta efisiensi biaya produksi.

Tahap selanjutnya adalah proses perancangan dan pengembangan material, dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan serta kebutuhan para pelaku seni. Proses ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kenyamanan pengguna dan kemungkinan penerapan material di berbagai jenis ruang.

Uji Coba Melalui Mini Konser Kolaboratif

Sebagai bentuk pengujian langsung, kami merencanakan penerapan material akustik ini dalam sebuah mini konser kolaboratif antara PSM Unicom dan Angklung ITB. Kolaborasi ini dipilih karena masing-masing memiliki karakter suara yang berbeda, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kinerja material dalam berbagai kondisi bunyi.

Dalam kegiatan mini konser ini, material akan diaplikasikan pada ruang pertunjukan dan digunakan secara langsung selama penampilan berlangsung. Setelah itu, kami akan melakukan pengumpulan data melalui kuesioner, yang ditujukan kepada:

  1. Pelaku seni pertunjukan,
  2. Pelatih atau konduktor,
  3. Penonton yang hadir.

Kuesioner ini berfokus pada persepsi terhadap kualitas suara, kenyamanan mendengar, serta pengalaman tampil dan menonton secara keseluruhan. Selain data subjektif, kami juga akan menggunakan alat ukur akustik untuk memperoleh data objektif terkait performa ruang setelah penerapan material.

Harapan dan Dampak yang Ingin Dicapai

Melalui rangkaian penelitian dan pengujian ini, kami berharap material akustik yang dikembangkan dapat memenuhi kebutuhan dasar ruang latihan dan pertunjukan musik. Lebih dari sekadar memenuhi kriteria teknis, material ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pelaku seni pertunjukan.Dalam jangka panjang, kami membayangkan material ini dapat:

  1. Membantu pelaku seni menciptakan ruang latihan yang lebih ideal,
  2. Menjadi solusi alternatif bagi venue seni dengan keterbatasan anggaran,
  3. Mendukung perkembangan seni pertunjukan secara lebih inklusif dan merata.

Dengan hadirnya material akustik yang mudah didapat, ringan, dan terjangkau, pelaku seni tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang khusus yang mahal. Mereka dapat lebih fokus pada proses kreatif dan artistik, tanpa terhambat oleh keterbatasan ruang. Melalui PKM ini, kami berupaya menghadirkan kontribusi nyata dengan menghubungkan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian terhadap dunia seni pertunjukan.

Melalui proses PKM ini, kami juga belajar bahwa permasalahan seni pertunjukan tidak dapat dipisahkan dari pendekatan lintas disiplin antara seni, sains, dan desain. Pengembangan material akustik ini menjadi bukti bahwa kepekaan terhadap kebutuhan pelaku seni dapat diterjemahkan ke dalam solusi yang berbasis riset dan inovasi. PKM bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran bagi kami untuk memahami peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, kami berharap penelitian ini dapat terus dikembangkan di masa depan, tidak hanya sebagai proyek PKM semata, tetapi sebagai langkah awal menuju kontribusi yang lebih luas bagi ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.