AURALIS: Menembus Batas Akustik Ruang melalui Inovasi Panel Portabel Berbasis Material Lokal

6–10 minutes

Latar Belakang: Dilema “Kota Musik” Tanpa Ruang Standar

Bandung sering kali dijuluki sebagai barometer musik nasional. Dari gang-gang sempit di pusat kota hingga panggung besar, kreativitas seniman kita tidak pernah padam. Sebagai mahasiswa Desain Interior di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), saya sering memperhatikan satu fenomena yang cukup menyedihkan: banyak grup musik berkualitas internasional, seperti paduan suara atau orkestra angklung, terpaksa harus berlatih atau bahkan tampil di ruangan yang secara akustik “cacat”.

Ruangan-ruangan seperti aula sekolah, ruang serbaguna kantor, atau gedung publik di Bandung kebanyakan dirancang untuk fungsi visual dan kapasitas manusia, bukan untuk kualitas audio. Padahal, instrumen seperti Angklung memiliki karakteristik suara yang sangat unik dengan frekuensi yang tersebar luas. Tanpa adanya sistem pemantulan suara yang benar, harmoni yang dihasilkan instrumen tersebut akan terserap oleh dinding semen yang masif atau justru terpantul secara liar hingga menghasilkan gema yang mengganggu penonton. Inilah yang menjadi titik awal kegelisahan saya dan tim. Kami merasa ada jarak yang sangat jauh antara kualitas performa musisi dengan kualitas infrastruktur ruang yang mereka gunakan.

Urgensi Inovasi: Kenapa Harus Portabel?

Masalah akustik sebenarnya bisa diselesaikan dengan merombak interior gedung secara total menggunakan material penyerap dan pemantul suara permanen. Namun, mari kita realistis sebagai mahasiswa yang juga memikirkan aspek ekonomi dan praktis. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk merombak sebuah aula? Milyaran rupiah. Belum lagi masalah fleksibilitas; banyak komunitas seni tidak memiliki gedung sendiri dan harus berpindah-pindah tempat.

Melalui program PKM-KC (Karsa Cipta), kami mencoba menawarkan solusi yang lebih “demokratis”. Kami ingin menciptakan sebuah perangkat yang bisa membawa kualitas gedung konser ke dalam ruang publik mana pun. Perangkat ini tidak boleh permanen, tidak boleh berat, dan yang paling penting, harus bisa dirakit oleh musisinya sendiri tanpa bantuan tukang bangunan. Ide inilah yang kemudian kami beri nama AURALIS. Fokus kami bukan hanya pada estetika interior, tapi pada rekayasa fungsi yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh pelaku seni di Bandung. Kami ingin Auralis menjadi jawaban bagi keresahan komunitas seni skala kecil-menengah yang selama ini terpinggirkan oleh mahalnya biaya infrastruktur audio.

Kenapa Harus MDF dan HPL? Sebuah Pilihan Logis

Setelah kami memantapkan niat untuk membuat Auralis, tantangan berikutnya adalah memilih “tulang punggung” dari panel ini, yaitu material utamanya. Sebagai mahasiswa desain interior, kami tahu kalau material kayu itu banyak banget jenisnya, dari kayu solid sampai kayu olahan. Tapi, untuk urusan akustik, kami nggak bisa asal pilih yang kelihatannya bagus saja.

Setelah melakukan riset literatur dan simulasi kecil-kecilan, pilihan kami jatuh pada MDF (Medium Density Fiberboard). Kenapa? Secara teknis, MDF punya kepadatan yang seragam di seluruh permukaannya, beda sama kayu solid yang punya serat alami yang bisa bikin pantulan suara jadi nggak merata. MDF juga punya koefisien refleksi yang sangat tinggi, mencapai angka 0,94 sampai 0,95. Artinya, hampir seluruh energi suara yang menabrak panel ini bakal dipantulkan kembali ke audiens.

Tapi MDF saja nggak cukup. MDF punya pori-pori yang kalau dibiarkan terbuka, suaranya tetap bakal “tersedot” sedikit. Solusinya, kami melapisinya dengan HPL (High Pressure Laminate). Selain bikin tampilannya jadi estetik dan premium, HPL yang permukaannya licin dan kedap udara ini berfungsi sebagai “cermin” suara. Jadi, gelombang frekuensi tinggi dari Angklung nggak bakal hilang ditelan kayu, tapi justru terpantul dengan tajam dan jernih. Gabungan MDF dan HPL ini adalah formula “ekonomis tapi pro” yang kami temukan lewat eksperimen ini.

Inovasi Interlocking: Menghilangkan Baut dari Kamus Kami

Nah, ini bagian yang paling bikin kami pusing tapi sekaligus paling membanggakan: sistem perakitannya. Dari awal, kami punya visi kalau Auralis harus bisa dipasang tanpa pakai kunci Inggris, obeng, apalagi palu. Kami pengen musisi bisa fokus ke instrumen mereka, bukan malah sibuk jadi tukang bangunan dadakan di panggung.

Kami akhirnya bereksperimen dengan sistem Interlocking Modular atau yang lebih enak disebut sistem puzzle. Kami merancang sambungan slotted joint yang sangat presisi. Jadi, setiap kepingan panel punya coakan atau lubang selipan yang sudah dihitung sampai satuan milimeter. Kepingan-kepingan ini tinggal “diklik” satu sama lain dan mereka bakal mengunci secara mandiri karena beratnya sendiri (self-locking).

Masalahnya muncul pas kami harus memikirkan ketebalan papan. Karena MDF yang kami pakai tebalnya 15mm-18mm, melipatnya nggak segampang melipat kertas origami. Di sinilah kami menerapkan prinsip Thick-Panel Origami. Kami harus menghitung titik putar dan celah sambungan sedemikian rupa supaya saat panel dilipat, papannya nggak saling menabrak, tapi saat dibuka, sambungannya harus sangat rapat (seamless). Kalau sambungannya nggak rapat, udara bakal lewat, dan di dunia akustik, celah udara itu artinya kebocoran suara. Melalui sistem puzzle ini, kami berhasil menciptakan panel yang kokoh berdiri tanpa bantuan kaki besi tambahan yang berat. Semuanya murni rekayasa kayu yang presisi.

Detail Ergonomi: Mengapa Lubang Pegangan Itu Vital?

Setelah urusan material dan sistem kuncian selesai, muncul satu masalah yang kelihatan sepele tapi aslinya “PR” banget: gimana cara memindahkan papan setinggi 150 cm ini dengan nyaman? Sebagai mahasiswa desain, kami nggak boleh cuma memikirkan fungsi utamanya (akustik), tapi juga pengalaman penggunanya (user experience). Bayangkan kalau musisi harus memanggul papan MDF seberat 10 kg sambil membawa instrumen musik mereka. Pasti bakal repot dan melelahkan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menambahkan integrated hand-hole atau lubang pegangan langsung pada badan panel. Kami tidak asal melubangi; posisinya diletakkan di kedua sisi samping secara simetris dengan pusat lubang berada tepat di ketinggian 90 cm dari lantai. Mengapa 90 cm? Angka ini kami ambil dari rata-rata tinggi genggaman tangan orang dewasa Indonesia saat posisi tangan santai di samping tubuh. Dengan posisi ini, saat panel diangkat, bagian bawahnya tetap punya jarak aman dari lantai sehingga nggak bakal menabrak kaki saat dibawa berjalan. Kami cukup memberikan satu lubang per sisi supaya struktur papannya tetap kokoh dan tidak banyak mengurangi area pantulan suara yang berharga itu.

Realita Lapangan: Keliling Bandung Mencari Presisi

Jujur saja, fase yang paling melelahkan bukan saat menggambar di depan laptop, tapi saat harus turun ke lapangan untuk mencari vendor CNC Router di Bandung yang mau diajak bekerja sama. Sebagai mahasiswa dengan budget terbatas, kami harus keliling dari daerah Suci sampai ke Kopo untuk survei workshop. Mencari vendor yang paham soal “presisi milimeter” itu ternyata susah-susah gampang. Sering kali kami menemui tukang kayu yang menganggap remeh desain puzzle kami, “Ah, disisipin aja kan, Mas? Gampang itu,” padahal kalau meleset 1 mm saja, sistem interlocking-nya nggak akan bekerja.

Ada momen yang cukup bikin stres saat hasil potongan pertama kami ternyata oblak atau longgar banget. Ternyata, mata pisau mesin CNC vendor tersebut lebih besar dari yang kami bayangkan, sehingga coakan di kayu jadi lebih lebar dari gambar desain digital kami. Di situ kami belajar satu hal penting: desain di layar komputer itu sering kali “terlalu sempurna” dibanding realita mesin di bengkel yang berdebu. Kami harus bolak-balik merevisi file desain, mengatur ulang celah toleransi sambungan, sampai akhirnya mendapatkan hasil yang benar-benar klik dan kokoh. Pengalaman ini benar-benar membuka mata kami bahwa jadi desainer interior itu harus berani “kotor” dan banyak ngobrol sama praktisi di bengkel, bukan cuma jago bikin rendering bagus saja.

Analisis Peluang: Dari Karsa Cipta Menjadi Peluang Usaha

Meskipun fokus utama kami saat ini adalah menyelesaikan prototipe untuk program PKM-KC, sebagai mahasiswa di UNIKOM yang menyandang gelar “Digital Entrepreneurial University”, kami tidak boleh menutup mata terhadap potensi ekonomi dari inovasi ini. Jika dilihat dari kacamata kewirausahaan, Auralis sebenarnya memiliki ceruk pasar (niche market) yang sangat menjanjikan. Tema Branding Produk dan Business Matching menjadi sangat relevan di sini.

Target pasar utama kami adalah sekolah-sekolah di Bandung yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik namun terkendala fasilitas aula yang buruk. Selain itu, penyedia jasa Event Organizer (EO) yang sering mengadakan pertunjukan di pusat perbelanjaan atau area terbuka juga merupakan calon mitra potensial dalam skema Business Matching. Kami membayangkan Auralis bisa menjadi produk yang tidak hanya dijual putus, tetapi juga bisa disewakan per acara, sehingga memberikan aliran pendapatan (revenue stream) yang berkelanjutan bagi tim kami di masa depan.

Strategi Digital Marketing di Era Digital

Mengikuti pedoman mata kuliah Kewirausahaan, pemasaran Auralis ke depannya akan sangat mengandalkan strategi Digital Marketing dan Digital Entrepreneurship. Kami berencana memanfaatkan platform Instagram Bisnis untuk membangun branding yang kuat. Strategi konten kami adalah menunjukkan perbandingan kualitas audio secara nyata (real audio comparison) antara ruangan tanpa Auralis dan ruangan yang sudah menggunakan panel kami.

Di era media sosial sekarang, visual yang estetik hasil karya mahasiswa Desain Interior UNIKOM harus dipadukan dengan bukti teknis yang valid. Dengan begitu, kepercayaan calon konsumen bisa terbangun. Kami juga akan menargetkan komunitas-komunitas musik melalui strategi Digital Marketing yang lebih spesifik berdasarkan minat, sehingga anggaran promosi bisa jauh lebih efektif. Pengalaman dalam mengelola program digital ini menjadi bekal berharga bagi kami sebagai calon pengusaha muda di bidang kreatif.

Visi Masa Depan: Harapan dan Keberlanjutan

Jujur saja, rencana kami setelah PKM-KC ini selesai memang belum sekaku roadmap perusahaan besar. Fokus kami adalah membuktikan dulu bahwa purwarupa ini benar-benar berfungsi dengan baik. Namun, jika hasil pengujian lapangan menunjukkan performa yang signifikan, kami sangat terbuka untuk membawa proyek ini ke jenjang yang lebih tinggi seperti program P2MW (Program Mahasiswa Wirausaha) atau masuk ke dalam inkubasi bisnis di kampus.

Bagi kami, Auralis bukan sekadar tugas kuliah atau sekadar mengejar status publikasi artikel. Auralis adalah upaya kecil kami untuk berkontribusi bagi dunia seni pertunjukan di Bandung. Kami ingin setiap denting Angklung atau harmonisasi Paduan Suara bisa terdengar dengan jernih, sejernih visi kami untuk terus berinovasi.


Penulis: Ahmad Ihsan Wijaya NIM: 52023018 Program Studi Desain Interior Universitas Komputer Indonesia

Kategori Program: PKM-KC (Karsa Cipta) 2025/2026