Pernah nggak, lagi niat banget mau belajar, buka laptop, buka buku catatan… eh lima menit kemudian udah scroll TikTok? Kalau kamu ngerasa relate, bayangin gimana rasanya kalau itu terjadi bukan sesekali, tapi hampir setiap hari, dan susah banget dikendaliin. Itulah yang dialami banyak remaja dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Nah, di artikel ini kita bakal ngobrolin AttenSync, sebuah inovasi yang lagi dikembangkan oleh mahasiswa UNIKOM untuk bantu remaja — khususnya yang punya ADHD — supaya bisa lebih fokus belajar di tengah dunia yang penuh distraksi ini.
Fokus Itu Mahal Harganya di Era Digital
ADHD sendiri merupakan gangguan neurodevelopmental yang bikin penderitanya susah mempertahankan perhatian, cenderung hiperaktif, dan impulsif — kondisi yang jelas banget berdampak ke cara mereka belajar. Masalahnya, kondisi ini makin “diuji” di era sekarang, karena teknologi digital yang serba masif justru ikut mengubah pola belajar dan level konsentrasi orang-orang.
Coba lihat datanya: menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, sekitar 99,16% remaja usia 13–18 tahun di Indonesia sudah jadi pengguna internet aktif. Sementara itu, hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: sekitar satu dari tiga remaja Indonesia, atau 34,9%, mengalami masalah kesehatan mental — termasuk di dalamnya gangguan perhatian seperti ADHD yang berpengaruh langsung ke kemampuan fokus dan konsentrasi belajar.
Kombinasi paparan gadget yang tinggi plus notifikasi yang nggak berhenti-berhenti jelas jadi tantangan berat, apalagi buat remaja dengan ADHD. Mereka biasanya gampang banget teralihkan, susah mulai mengerjakan tugas, dan sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Ujung-ujungnya? Tugas nggak selesai-selesai, prestasi belajar menurun, sampai muncul rasa lelah karena tugas yang menumpuk. Dan ini bukan cuma masalah remaja dengan ADHD saja — remaja pada umumnya pun mulai merasakan hal serupa di tengah gempuran distraksi digital.
Kenalan Sama AttenSync
Berangkat dari masalah itu, lahirlah AttenSync — sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk bantu remaja meningkatkan fokus belajar mereka. Bedanya dengan aplikasi produktivitas biasa, AttenSync nggak cuma sekadar jadi “pengingat waktu belajar”, tapi benar-benar dirancang untuk beradaptasi sama kondisi penggunanya secara real-time.
Sistem ini punya tiga fitur andalan yang saling terintegrasi lewat mekanisme detect–adapt–intervene: mendeteksi kondisi pengguna, menyesuaikan sistem, lalu memberikan intervensi yang relevan. Yuk kita bedah satu-satu.
1. Task Breakdown Engine: Tugas Berat Jadi Ringan
Salah satu tantangan terbesar bagi orang dengan ADHD adalah memulai suatu tugas, apalagi kalau tugasnya kelihatan besar dan rumit. Nah, AttenSync punya Task Breakdown Engine yang memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) untuk secara otomatis memecah tugas kompleks menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan. Dengan cara ini, beban kognitif jadi berkurang, dan kemungkinan tugas benar-benar selesai pun meningkat karena dikerjakan bertahap, bukan sekaligus.
2. Adaptive Focus Session Manager: Bye-bye Timer Kaku
Selama ini metode manajemen waktu populer kayak teknik Pomodoro menggunakan durasi tetap — misalnya 25 menit fokus, 5 menit istirahat. Masalahnya, pola fokus tiap orang beda-beda, apalagi buat remaja dengan ADHD yang levelnya cenderung fluktuatif dari hari ke hari.
AttenSync mengambil pendekatan berbeda lewat Adaptive Focus Session Manager yang menyesuaikan durasi sesi belajar secara dinamis, berdasarkan pola perilaku pengguna seperti frekuensi distraksi, durasi fokus sebelumnya, sampai konsistensi penyelesaian tugas. Jadi sesi belajarnya benar-benar dipersonalisasi, bukan dipaksain sama untuk semua orang.
3. Distraction Detection: Mata dan Telinga Ekstra
Ini bagian yang paling unik dari AttenSync — perangkat Internet of Things yang bisa mendeteksi distraksi secara langsung dari lingkungan sekitar pengguna. Caranya gimana?
- Sensor suara dipakai untuk mengukur tingkat kebisingan di sekitar pengguna.
- Koneksi Bluetooth memantau penggunaan smartphone lewat perubahan kekuatan sinyal (RSSI) sebagai indikator jarak perangkat dari pengguna.
Begitu sistem mendeteksi ada distraksi, AttenSync langsung memberikan intervensi berupa notifikasi visual atau pesan interaktif yang disesuaikan dengan kondisi saat itu. Jadi sistem ini nggak cuma reaktif, tapi juga kontekstual — dia “ngerti” situasi penggunanya sebelum menegur.
Apa Bedanya dengan Aplikasi Fokus yang Udah Ada?
Sejauh ini sudah ada beberapa aplikasi yang mencoba membantu manajemen fokus dan tugas, misalnya Tiimo yang fokus di perencanaan visual, Inflow dengan pendekatan terapi berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT), atau Forest yang mengandalkan gamifikasi. Semuanya bagus, tapi punya keterbatasan yang mirip: belum bisa memecah tugas secara otomatis, sistemnya masih statis dengan durasi tetap, dan yang paling penting — belum mempertimbangkan kondisi lingkungan belajar secara real-time.
Di sinilah AttenSync coba mengisi celah tersebut, dengan menggabungkan analisis perilaku berbasis AI dan pemantauan lingkungan berbasis IoT dalam satu sistem yang terpadu.
Dari Sisi Hardware: Apa Saja Isi “Otak” AttenSync?
Buat kamu yang penasaran sama sisi teknisnya, perangkat IoT AttenSync dibangun dari beberapa komponen utama:
- ESP32 / Mikrokontroler — jadi pusat kendali yang menghubungkan seluruh sensor dan aktuator, memproses data, dan mengirimkannya ke server secara real-time.
- TFT LCD / OLED Display — menampilkan informasi visual ke pengguna, seperti status fokus atau avatar interaktif, supaya feedback-nya lebih mudah dipahami.
- Sensor Ultrasonik — membantu mendeteksi aktivitas atau pergerakan di sekitar pengguna yang berpotensi mengganggu fokus.
- Sensor Suara — mengukur tingkat kebisingan lingkungan untuk menilai apakah suasana cukup kondusif untuk belajar.
Proses pengembangannya sendiri dilakukan dengan metodologi Agile lewat kerangka kerja Scrum yang iteratif — mulai dari penyusunan product backlog, sprint planning, daily scrum, sampai sprint review dan retrospective di setiap siklusnya. Pendekatan ini dipilih karena cocok untuk pengembangan sistem berbasis AI dan IoT yang butuh banyak evaluasi dan penyesuaian di sepanjang proses.
Sebelum dirilis, sistem ini juga melewati dua tahap pengujian utama: integration testing untuk memastikan semua modul (Task Breakdown Engine, Adaptive Focus Session Manager, dan Distraction Detection) bekerja mulus bareng-bareng, serta User Acceptance Test (UAT) yang melibatkan langsung remaja sebagai pengguna, supaya sistemnya benar-benar sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Mau Dibawa Ke Mana Proyek Ini?
Sampai tulisan ini dibuat, AttenSync masih berada di tahap pengembangan aktif, tapi tim sudah punya gambaran jelas soal apa saja yang bakal dihasilkan dari proyek ini. Beberapa luaran yang ditargetkan antara lain laporan kemajuan dan laporan akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah, prototipe perangkat IoT sekaligus browser extension yang bisa langsung dipakai remaja untuk mendukung fokus belajar mereka, sampai akun media sosial yang berfungsi sebagai media dokumentasi dan sosialisasi produk ke publik.
Dari sisi pendanaan, proyek ini juga sudah punya rencana anggaran yang cukup rinci, mencakup kebutuhan bahan habis pakai seperti komponen elektronik (ESP32, sensor suara, sensor ultrasonik, hingga LCD OLED), biaya sewa layanan cloud untuk pemrosesan data, biaya perjalanan untuk survei dan pengujian langsung ke pengguna, sampai kebutuhan lain-lain seperti publikasi jurnal dan dokumentasi konten. Semua ini menunjukkan bahwa AttenSync bukan sekadar ide di atas kertas, tapi benar-benar dirancang untuk sampai ke tahap prototipe yang bisa diuji dan dirasakan manfaatnya oleh pengguna nyata.
Menariknya lagi, proyek ini dikerjakan oleh tim lintas program studi — mulai dari Teknik Informatika sampai Sistem Informasi — dengan pembagian tugas yang jelas. Ada yang fokus membangun perangkat IoT dan model deteksi, ada yang menangani perancangan antarmuka aplikasi, dan ada juga yang bertanggung jawab atas pembangunan perangkat lunak serta pengujian usability-nya. Kolaborasi lintas keahlian semacam ini penting banget, mengingat AttenSync memang menggabungkan dua bidang yang cukup berbeda: perangkat keras berbasis IoT dan kecerdasan buatan berbasis software.
Kenapa Ini Penting?
Pengembangan AttenSync nggak cuma soal bikin gadget keren-kerenan, tapi punya tujuan yang cukup konkret: membantu remaja dengan ADHD mengatasi kesulitan menjaga fokus, memulai tugas, dan mempertahankan konsentrasi di tengah lingkungan digital yang penuh distraksi. Manfaat yang diharapkan pun mencakup peningkatan kemandirian belajar, kemampuan mempertahankan fokus lewat sesi belajar yang adaptif, sampai pengurangan distraksi lewat deteksi dan intervensi real-time.
Menariknya, meskipun fokus utamanya buat individu dengan ADHD, solusi ini juga berpotensi bermanfaat buat remaja pada umumnya yang sama-sama berjuang menjaga fokus di era digital sekarang — yang jujur aja, kayaknya hampir semua dari kita pernah ngalamin.
Kalau dilihat dari sisi yang lebih besar, inovasi seperti AttenSync juga sejalan dengan Sustainable Development Goals poin ke-4, yaitu pendidikan berkualitas (Quality Education), karena berkontribusi menciptakan proses belajar yang lebih inklusif dan mendukung kebutuhan spesifik penggunanya.
Penutup
AttenSync jadi contoh menarik bagaimana teknologi AI dan IoT bisa dipakai bukan sekadar untuk hal-hal besar dan rumit, tapi juga untuk masalah sehari-hari yang sering dianggap sepele — padahal dampaknya nyata banget buat kualitas hidup dan belajar seseorang. Semoga ke depannya, inovasi semacam ini bisa terus dikembangkan dan benar-benar bisa dirasakan manfaatnya, khususnya bagi remaja dengan ADHD yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian dari sisi teknologi pendidikan.
Daftar Pustaka
APJII. (2022). APJII di Indonesia digital outlook 2022. Tersedia di: https://apjii.or.id/berita/dapjii-di-indonesia-digital-outlook-2022_857 (diakses 29 Maret 2026).
Ida, K.K.G. (2024). The role of AI-based adaptive learning systems in digital education. Journal of Applied Technology in Education Science, 14(1), pp. 1–12.
I-NAMHS. (2022). Hasil survei I-NAMHS: Satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Universitas Gadjah Mada (UGM). Tersedia di: https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/ (diakses 4 Januari 2026).
Katie, B. (2024). Internet of things (IoT) for environmental monitoring. International Journal of Computer Engineering, 6, pp. 29–42. https://doi.org/10.47941/ijce.2139
Kuschner, E.S., O’Connor, M. & Butz, A.M. (2017). Annual research review: on the relations among self-regulation, self-control, executive functioning, effortful control, cognitive control, impulsivity, risk-taking, and inhibition for developmental psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 58(4), pp. 361–383. https://doi.org/10.1111/jcpp.12675
Li, L., Chen, C.P., Wang, L., Liang, K. & Bao, W. (2023). Exploring artificial intelligence in smart education: real-time classroom behavior analysis with embedded devices. Sustainability, 15, pp. 1–24. https://doi.org/10.3390/su15107940
Raaijmakers, S. (2025). Large language models. Cambridge, MA: MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/15517.001.0001
Salari, N., Ghasemi, H., Abdoli, N., Rahmani, A., Shiri, M.H., Hashemian, A.H., Akbari, H. & Mohammadi, M. (2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: a systematic review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49, pp. 1–12. https://doi.org/10.1186/s13052-023-01456-1
Scrum Guides. (2020). Scrum guide. Tersedia di: https://scrumguides.org (diakses 20 Januari 2026).
Wilson, S.A., Byrne, P., Rodgers, S.E. & Maden, M. (2022). A systematic review of smartphone and tablet use by older adults with and without cognitive impairment. Innovation in Aging, 6, pp. 1–19. https://doi.org/10.1093/geroni/igac002