Hingga saat ini, alat bantu atau teknologi bagi penyandang tuna netra lebih banyak mengandalkan indra pendengaran dan indra peraba. Padahal, ada satu indra yang memiliki potensi namun jarang dimanfaatkan, yaitu indra penciuman. Padahal, aroma memiliki kemampuan kuat untuk menandai kondisi tertentu. Bau dari kopi sering identik dengan kafe. Aroma bekerja secara cepat, bahkan tanpa perlu disadari secara penuh.
Karna hal tersebut, tercipta sebuah ide inovatif dari TIM PKM- GFT kami, yaitu : memanfaatkan indra pendengaran dengan menggunakan aroma sebagai sistem petunjuk untuk membantu mobilitas tuna netra. Inovasi ini bernama Aroma Penuntun, yaitu sistem navigasi menggunakan aroma yang berfungsi sebagai petunjuk arah, penanda lokasi, dan sinyal bahaya di ruang publik.
Tantangan Mobilitas Tuna Netra
Bagi orang yang dapat melihat, berjalan ke tempat terdekat adalah aktivitas sederhana. Namun bagi tuna netra, aktivitas ini menyimpan berbagai risiko dan tantangan, antara lain :
1. Ketergantungan Tinggi pada Pendengaran, Lingkungan yang ramai atau berisik sering kali membuat sumber suara menjadi sulit dibedakan.
2. Kelelahan, Konsentrasi tinggi yang harus dijaga saat melakukan aktivitas terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan secara mental.
3. Keterbatasan Kemampuan Deteksi Tongkat, Tongkat hanya bisa mendeteksi objek di permukaan tanah, sehingga bahaya di ketinggian atau area luas kadang-kadang tidak terdeteksi.
4. Minimnya Peringatan dari Awal, Banyak lokasi penting seperti halte, tangga, atau zebra cross baru disadari saat pengguna sudah sangat dekat. Dengan aroma penuntun, bisa terdeteksi dari aromanya dari jarak sedikit demi sedikit.
Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya Aroma Penuntun sebagai inovasi sumber informasi tambahan.
Mekanisme Kerja Aroma Penuntun
1. Perangkat Penebar Aroma di Lingkungan
• Dipasang di titik-titik strategis seperti persimpangan, halte, tangga, zebra cross, dan area berbahaya.
• Perangkat berskala kecil dan terintegrasi dengan sistem.
• Setiap lokasi memiliki aroma khas, misalnya:
Mint : penanda tangga atau perubahan elevasi
Lemon : lokasi halte atau area tunggu
Citrus : tanda mendekati penyeberangan jalan
Cengkeh : peringatan bahaya atau area terlarang
2. Perangkat Personal Pengguna
• Berupa gelang atau kalung yang dikenakan oleh pengguna tuna netra.
• Dilengkapi kartrid aroma yang selaras dengan aroma di lingkungan.
• Saat pengguna mendekati titik tertentu, perangkat akan mengeluarkan aroma lembut sebagai konfirmasi lokasi.
• Dapat terhubung ke aplikasi ponsel untuk pengaturan intensitas dan preferensi aroma.
Keunggulan Sistem Aroma Penuntun
1. Tidak Mengganggu Indra Lain, Berbeda dengan suara, aroma tidak menambah kebisingan lingkungan.
2. Respons Cepat, Otak manusia mampu mengenali bau dalam waktu singkat.
3. Efektif di Berbagai Kondisi, Tetap dapat digunakan di tempat ramai, sepi, siang, maupun malam hari.
4. Mudah Dipelajari, Sistem aroma dapat dihafalkan seperti simbol lalu lintas.
5. Dapat Disesuaikan Secara Personal, Pengguna bebas memilih aroma dan tingkat intensitas sesuai kenyamanan.
Pengembangan Aroma Penuntun direncanakan melalui beberapa tahap :
1. Studi dan Seleksi Aroma, Menentukan aroma yang aman, tidak memicu alergi, dan mudah dibedakan.
2. Pembuatan Prototipe, Mengembangkan alat penebar aroma dan perangkat wearable.
3. Uji Coba Pengguna, Bekerja sama dengan komunitas tuna netra seperti PERTUNI di area terbatas.
4. Evaluasi dan Penyempurnaan, Mengadaptasi desain berdasarkan masukan langsung dari pengguna.
Adapun tantangan utama meliputi biaya implementasi, perawatan perangkat, serta edukasi penggunaan sistem.
Aroma Penuntun tidak hanya berfungsi sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang membantu. Idealnya, ruang publik menyediakan panduan berbasis berbagai indra : visual, suara, sentuhan, dan aroma. Dengan pendekatan ini, penyandang tuna netra dapat bergerak lebih mandiri, aman, dan percaya diri. Inovasi yang berdampak tidak selalu harus kompleks. Dengan memahami cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya, solusi sederhana justru bisa saja menjadi sangat bermakna.
Aroma Penuntun hadir sebagai inovasi yang memanfaatkan indra penciuman untuk membuka akses mobilitas yang lebih luas bagi tuna netra. Kami percaya, dengan kolaborasi berbagai pihak, sistem navigasi berbasis aroma ini dapat menjadi bagian nyata dari masa depan kota yang inklusif.
Ke depannya, sistem Aroma Penuntun ini tidak dirancang untuk berdiri sendiri. Justru kekuatannya akan terasa ketika ia terhubung dengan teknologi yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari, seperti Google Maps tidak hanya memberi tahu belok kanan atau belok kiri, tetapi juga memberi gambaran aroma yang akan ditemui sepanjang perjalanan. Pengguna dapat merencanakan rute terlebih dahulu, lalu aplikasi akan menjelaskan urutan aroma yang akan dilewati, hampir seperti membaca resep sebelum mulai memasak. Dengan begitu, perjalanan tidak lagi terasa asing, melainkan dapat diprediksi dan dipahami sejak awal.
Tahap awal penerapan sistem ini tentu tidak harus langsung dalam skala kota besar. Namun dari narasumber terdekat dulu, pengujian di area terbatas akan menjadi langkah yang paling masuk akal dan efektif. Kampus, taman kota, kawasan wisata, atau pasar tradisional bisa menjadi tahap awal untuk menguji konsep ini. Lingkungan-lingkungan tersebut memiliki arus manusia yang jelas, banyak, rute yang relatif tetap, dan karakter aroma yang sudah kuat. Dari situ, kita bisa melihat bagaimana sistem bekerja dalam kondisi nyata, bukan hanya inovasi di kertas saja.
Kolaborasi akan menjadi kunci utama keberhasilan Project Aroma Penuntun. Pemerintah daerah dapat berperan dalam regulasi dan penyediaan ruang publik, universitas dapat membantu dari sisi riset dan pengembangan teknologi, sementara organisasi penyandang disabilitas memastikan bahwa solusi yang dibangun benar-benar relevan dan bermanfaat. Namun, yang paling penting adalah keterlibatan langsung pengguna tuna netra itu sendiri. Pengalaman mereka, saran dari mereka, dan bahkan kritik mereka adalah fondasi utama untuk menyempurnakan sistem ini agar tidak sekadar inovatif, tetapi juga benar-benar berguna. Karna dari awal, inovasi ini ditujukan untuk orang tuna netra.
Melalui proses uji coba dan kolaborasi ini, Aroma Penuntun diharapkan dapat terus berkembang. Kita bisa mempelajari aroma mana yang paling mudah dikenali, seberapa kuat intensitas yang dibutuhkan, dan bagaimana menghindari kebingungan aroma di area yang padat. Semua ini adalah proses pembelajaran bersama, di mana teknologi belajar dari manusia, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, Aroma Penuntun bukan hanya tentang menciptakan alat bantu navigasi. Namun merupakan cara baru dalam merancang kota. Selama ini, kota dibangun terutama untuk indera penglihatan dan pendengaran. Lampu lalu lintas, papan petunjuk, layar digital, dan pengumuman suara mendominasi ruang publik. Aroma sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan, bukan sebagai sumber informasi. Dan kami ingin merubah itu. Melalui konsep Aroma Penuntun ini, kami berharap agar orang – orang bisa melihat bahwa aroma juga bisa menjadi bahasa. Bahasa yang halus, tidak mencolok, namun ada dan selalu hadir. Dengan menambahkan lapisan informasi berbasis aroma, kota menjadi ruang yang lebih ramah, dan lebih manusiawi. Tidak hanya bagi penyandang disabilitas tuna netra, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin merasakan kota dengan cara yang lebih utuh.
Bayangkan sebuah kota di mana setiap langkah didukung oleh seluruh indera. Di mana berjalan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga pengalaman bermakna. Di mana kemandirian bukanlah privilege, melainkan hak yang dapat diakses oleh semua orang. Itulah tujuan yang ingin ditawarkan oleh Aroma Penuntun.
Lebih dari itu, konsep ini juga mendorong kita untuk memperlakukan ruang publik sebagai ruang bersama. Bukan hanya sekadar memenuhi standar minimum aksesibilitas, tetapi menciptakan pengalaman yang setara. Ketika seorang tuna netra dapat berjalan di kota dengan rasa percaya diri, memahami lingkungannya, dan mengambil keputusan secara mandiri. Dalam jangka panjang, Aroma Penuntun juga berpotensi berkembang menjadi ekosistem yang lebih luas. Aroma tidak hanya digunakan sebagai penanda arah, tetapi juga sebagai petunjuk informasi lain. Misalnya, aroma tertentu dapat menandakan area aman, zona ramai, atau bahkan perubahan kondisi lingkungan. Semua ini tentu memerlukan perancangan yang matang agar tidak membingungkan, namun peluangnya ada dan sangat berpotensi.
Selain manfaat fungsional, diharapkan hal ini juga memiliki nilai edukatif. Masyarakat awam yang menggunakan sistem ini secara tidak langsung akan belajar untuk lebih sadar terhadap aroma di sekitarnya. Mereka akan mulai menyadari bahwa kota memiliki lapisan-lapisan pengalaman yang selama ini terabaikan. Kesadaran ini dapat menumbuhkan empati yang lebih besar terhadap penyandang disabilitas, karena aksesibilitas tidak lagi dipandang sebagai isu kelompok tertentu, melainkan sebagai kebutuhan bersama.
Tidak kalah penting, pengembangan Aroma Penuntun juga dapat menjadi bukti bagaimana inovasi lokal bisa menjawab permasalahan nyata. Dengan memanfaatkan karakter lingkungan setempat, sistem ini tidak harus bersifat seragam di setiap kota. Setiap wilayah dapat memiliki identitas aroma sendiri.
Tentu saja, semua ini tidak lepas dari tantangan. Ada pertanyaan tentang perawatan sistem, konsistensi aroma, hingga dampak lingkungan yang perlu dipertimbangkan. Namun, tantangan-tantangan ini bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju solusi yang lebih baik. Dengan riset yang berlanjut dan banyak pihak yang terlibat tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap. Pada akhirnya, yang paling ingin ditegaskan dari visi Aroma Penuntun adalah perubahan cara pandang. Bahwa teknologi seharusnya tidak hanya mengejar kecanggihan, tetapi juga kebermaknaan. Bahwa kota yang maju bukan hanya kota yang penuh layar dan sensor, tetapi kota yang mampu merangkul semua warganya.
Ketika kita merancang kota dengan melibatkan seluruh indera, kita sedang merancang masa depan yang lebih adil. Masa depan di mana setiap orang, dengan kemampuan apa pun, dapat bergerak dengan aman, mandiri, dan bermartabat. Dan mungkin, di masa depan itu, aroma bukan lagi sekadar latar belakang yang tak disadari, melainkan bagian penting dari cara kita memahami dan menavigasi dunia. Jika tujuan itu dapat terwujud, maka Aroma Penuntun bukan hanya akan menjadi solusi teknis, tetapi hal yang lebih penting dari itu. Sebuah pengingat bahwa kota terbaik adalah kota yang memberi ruang bagi semua orang untuk berjalan bersama, merasakan bersama, dan hidup bersama.