ANALISIS PENGARUH COLOR TONE TERHADAP PENYAMPAIAN EMOSI KARAKTER VIOLET PADA ANIMASI VIOLET EVERGARDEN

8–11 minutes

PENGENALAN

Dari film hingga animasi, media audiovisual termasuk ke dalam bentuk komunikasi massa yang multi dimensi. Ia bukan sekadar media yang menghibur, tetapi sekaligus bisa menjadi alat komunikasi yang menyampaikan pesan, gagasan dan emosi yang dalam. Dalam pembuatan audiovisual, dua elemen penting yang tidak bisa terpisahkan adalah elemen narratif dan elemen sinematografis. Sebagaimana dikutip dari buku Himawan Pratista Memahami Film Edisi 2, (2017), elemen narratif yang berhubungan dengan apa yang akan disampaikan (isi cerita), sedangkan elemen sinematografis berhubungan dengan bagaimana mengemas cerita (proses pembuatan). Kedua elemen ini, dalam konteks pembuatan film, merupakan unsur yang berdiri sendiri, tetapi dalam sebuah film harus saling bekerja sama.
Unsur visual, terutama warna, atau tone warna pada sinematografi adalah elemen sinematik yang memiliki peranan penting dalam membangun satu atmosfer dan psikologi penonton. Warna dalam sinematografi tidak hanya untuk estetika semata, tetapi adalah bahasa visual yang mampu mengatur dan membentuk persepsi penonton terhadap ruang, waktu dan perasaan, dan emosi yang dibawa karakter. Hal ini didasarkan pada penelitian Putra dan Manesah (2024) yang berkaitan dengan sinematografi, analisis tone warna dalam menciptakan psikologi tertentu, dan penelitian yang berkaitan dengan interpretasi nilai psikologi pada adegan, yang berkaitan dengan emosi dan kesedihan pada sinematik, Yi, dengan Agung sinematografi, dengan Agung, yang mengarahkan emosi penonton selaras dengan alur cerita yang sama.

Dalam konteks yang lebih spesifik, animasi Jepang (anime) telah berevolusi menjadi medium seni yang sangat mementingkan detail untuk mengatasi keterbatasan ekspresi manusia secara realistis. Salah satu yang mendapat perhatian luas untuk keunggulan visual dan emosi adalah Violet Evergarden. Diproduksi oleh Kyoto Animation, serial ini diadaptasi dari light novel oleh Kana Akatsuki. Dalam tesisnya, Belinda Wijayanti (2024) mengkaji studi ekranisasi Violet Evergarden dan mencatat adanya hubungan karakter dengan sistem ekologis atau lingkungan sekitarnya. Hal ini berarti, dalam Violet Evergarden, karakter memiliki interaksi yang erat dengan latar visual yang diintegrasikan dengan komposisi warna dan pencahayaan secara detail.

Dalam Violet Evergarden, yang paling menarik untuk diteliti adalah fenomena yang sangat bertentangan, yaitu keindahan visual dunia yang ditampilkan dan emosi yang tidak ada pada Violet, tokoh utama Violet Evergarden. Violet adalah seorang mantan prajurit anak yang diperlakukan sebagai “senjata” di dalam perang. Akibat dari pola didik Violet adalah ketidaktahuan Violet untuk memahami perasaan dalam bentuk manusia. Nur Zamhariroh (2022) mengidentifikasi kondisi psikologis ini sebagai Alexithymia, yaitu ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan merasakan emosi (milik sendiri atau orang lain). Hal ini pula yang menyebabkan Violet disebut “boneka” karena ekspresi wajahnya datar, tidak ada emosi dan bicara dengan nada yang sangat kaku.
Anime tersebut berfokus pada karakter Violet dan mencanangkan perjalanannya untuk mencari makna “Aishiteru” (Aku Mencintaimu) yang disampaikan Gilbert, salah seorang yang berharga, dekat dengannya, dan berdampingan dalam pertempuran militer yang pisah. Anime ini juga mempertunjukkan fenomena artistik yang menarik untuk disaksikan. Violet digambarkan sebagai karakter yang disampaikan dalam animasi, mengalami perubahan-perubahan sikap yang emosi kompleks, menderita kondisi Alexithymia.

Afifah Nazhirah Haifa (2022) menjelaskan bahwa Violet mengalami perubahan karakter dari yang awalnya dingin, disampaikan dengan perubahan karakter yang diolah dengan emosi dan sikap positif. Hanya animasi yang dihadirkan berkualitas dan diolah dengan fenomena yang bernama auto memory doll (pengolah data Emosi milik Violet). Perjalanannya juga mengalami pergeseran dari menggunakan palet gelap yang dingin, terjebak di dalam warna desaturated dan berwarna abu-abu, berkorelasi dengan Violet yang terjebak dalam kenangan perang. Anime ini mengalami pergeseran yang dramatis untuk menggunakan warna yang lebih hangat, cerah, dan penuh vibrancy saat ia mulai memahami emosi kliennya dan dirinya sendiri.

Fachrezy (2024) dalam analisisnya yang bersifat semiotik menyatakan bahwa terdapat beberapa nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam simbol-simbol animasi ini. Dalam hal ini, warna berfungsi sebagai tanda (sign) mewakili kondisi internal Violet yang tidak terucapkan. Dalam banyak hal, penonton dapat merasakan kesedihan atau harapan Violet bukan dari wajahnya yang stoik, melainkan dari pergeseran warna langit, pantulan cahaya yang berubah di air, atau saturasi warna pada bros zamrud yang selalu ia kenakan. Warna bagi Violet berfungsi sebagai media komunikatif yang dapat menjangkau karakter penonton yang ‘bisu rasa’ ke penonton yang ‘penuh rasa’.

Karya animasi yang bermanifestasi dalam tema psikologis yang rumit seperti perang, trauma, dan pencarian jati diri ini harus berani menggunakan seluruh elemen sinematiknya untuk menyampaikan pesan yang dimaksud, terutama karakter utamanya yang tidak memiliki banyak sekali diegesis verbal dan ekspresi emosional yang tidak banyak. Penggunaan color tone seharusnya bersifat dinamis, mengikuti siklus berpikir karakter di dalam arc.
Berdasarkan landasan teori dan fenomena di atas, hipotesa atau asumsi dasar dalam penulisan ini adalah bahwa color tone dalam Violet Evergarden memiliki korelasi langsung dan signifikan terhadap penyampaian emosi karakter Violet. Penulis menduga bahwa sutradara dan tim artistik secara sengaja menggunakan teknik manipulasi warna seperti pergeseran temperatur warna (dingin ke hangat) dan intensitas cahaya sebagai representasi eksternal dari gejolak batin Violet yang mengalami Alexithymia. Ketika Violet mulai memahami sebuah perasaan baru, palet warna adegan tersebut akan berubah menyesuaikan jenis emosi tersebut, sehingga warna berfungsi sebagai substitusi ekspresi wajah yang absen.

Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis bagaimana penerapan teknik color tone (temperatur warna, saturasi, dan pencahayaan) dalam animasi Violet Evergarden berfungsi dalam memvisualisasikan kondisi psikologis tokoh utama yang mengalami Alexithymia, Menjelaskan hubungan antara perubahan skema warna dalam adegan-adegan kunci dengan tahapan pengembangan karakter Violet dalam memahami konsep cinta dan empati, Membuktikan bahwa elemen sinematik visual, khususnya warna, memegang peranan vital dalam penyampaian pesan emosional non-verbal dalam animasi, melengkapi analisis naratif dan semiotik yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

ANALISIS DASAR

Violet merupakan karakter utama pada animasi violet evergarden. Pada backgound nya violet merupakan yatim piatu yang sebagian besar hidup nya berapa di medan perang. Pada awal cerita dimulai violet terlihat tidak bisa beribicara maupun mengekspresikan diri dengan baik. Apa yang dilakukan oleh studio kyoto animation untuk merepersentasikan emosi dari karakter violet adalah dengan penggunaan color tone yang berbeda setiap ada perubahan emosi yang dirasakan oleh karakter utama.

Hal ini sangat unik dikarenakan pada umumnya color tone hanya digunakan untuk setting suasana tempat maupun atmosfer dari cerita. Hal ini bisa bekerja dengan cukup baik dan tidak mengganggu visual dikarenakan animasi violet evergarden memiliki nuansa yang colorfull sehingga saat ada perubahan yang derastik hal ini tidak seperti terjadi tiba tiba.

Perubahan color tone ini juga dapat di rasakan diakhir akhir cerita seperti di episode 8 diamana violet mengetahui gilbert yang merupakan komandan sekaligus orang yang sangat penting bagi violet telah tiada. Memunculkan perubahan tone yang menjadi saturated dan kmebali menjadi colorful di episode 9 ketika violet menerima kenyataan dan memilih untuk move on di karenakan dia sadar bahwa masih banyak orang disekitar nya yang peduli terhadap dirinya.
Permainan emosional menggunakan warna juga bisa bekerja secara ampuh dikarenakan peranan dari music yang berlantu di backround sehingga perasaan dari violet bisa tersampaikan kepada penonton secara efektif.

Perkembangan karakter dari karakter violet sendiri terpengaruh terhadap kata cinta yang di sampaikan oleh gilbert pada awal cerita. Pada saat itu violet masih belum mengerti apa arti dari kata tersebut namun setelah bekeja sebaghai auto memory doll yang mana tugasnya sebagai jasa menulis surat puitis untuk khalayak luas membuat violet tau bahwa cinta memiliki banyak arti.
Perubahan ini yang membangun karater violet dari mesin perang menjadi manusia yang punya hati.

Perubahan color tone sendiri sering digunakan dalam dunia perfilman sebagai setting suasana. Penggunaan palet warna, saturasi, dan kontras yang spesifik dapat menciptakan atmosfer yang diinginkan, seperti warna hangat untuk adegan romantis atau warna dingin untuk adegan menegangkan, serta membantu menyorot elemen penting dalam film.
Tidak seperti dalam novel asli nya di animasi ini kita bisa melihat perubahan emosi secara langsung sehingga dapat membantu penonton menyerap narasi secara lebih mendalam.

REFERENSI

Fachrezy, Hardywan Mahdy. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Anime Violet Evergarden: Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure.” Etheses of Maulana Malik Ibrahim State Islamic University, 27 June 2024. http://etheses.uin-malang.ac.id/66427/2/200101110179.pdf.
Skripsi ini menganalisis anime Violet Evergarden menggunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure (Penanda dan Petanda) untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan karakter. Relevansi: Sumber ini penting bagi penelitian Anda karena memberikan kerangka kerja teoretis untuk membaca elemen visual dalam anime sebagai “tanda” (sign). Dalam konteks analisis color tone, penelitian ini membantu Anda memperlakukan warna bukan hanya sebagai estetika, melainkan sebagai simbol (semiotik) yang mewakili nilai atau emosi tertentu yang ingin disampaikan oleh pembuat animasi.

Haifa, Afifah Nazhirah. “ANALISIS PENGEMBANGAN KARAKTER TOKOH UTAMA DALAM ANIME VIOLET EVERGARDEN.” Repository STBA JIA, 26 Aug. 2022. https://repository.stba-jia.ac.id/799/1/S1-2022-43131520160006%20-%20ABSTRAKSI.pdf.
Penelitian ini berfokus pada transisi dan pengembangan karakter Violet dari awal hingga akhir cerita. Penulis menyoroti perubahan sifat Violet dari seorang prajurit yang kaku menjadi seseorang yang lebih empatik. Relevansi: Sumber ini krusial untuk memetakan “kurva karakter” (character arc) Violet. Anda dapat menggunakan temuan dalam jurnal ini sebagai landasan naratif untuk kemudian disandingkan dengan analisis visual. Anda dapat membuktikan apakah perubahan karakter yang disebutkan oleh Haifa ini didukung oleh perubahan color tone yang spesifik (misalnya: apakah warna menjadi lebih hangat seiring berkembangnya karakter Violet?).

Pratista, Himawan. Buku Memahami Film Edisi 2. Montase Press, 2017.
Buku ini merupakan literatur utama dalam studi film di Indonesia yang membedah struktur film menjadi dua bagian besar: unsur naratif dan unsur sinematik (termasuk sinematografi, mise-en-scène, dan suara). Relevansi: Buku ini akan menjadi landasan teori utama (Grand Theory) dalam penelitian Anda. Anda akan menggunakan definisi Pratista untuk menjelaskan posisi color tone sebagai bagian dari unsur sinematik yang berfungsi mendukung unsur naratif. Buku ini melegitimasi argumen bahwa elemen visual memiliki kekuatan bercerita yang setara dengan dialog.

Putra, Satria, and None Dani Manesah. “Analisis Tone Warna Dalam Sinematografi Dalam Menciptakan Efek Bahagia Pada Film Dokumenter ‘Permata Di Tengah Danau Toba’.” Deleted Journal, vol. 1, no. 2, 2 Feb. 2024, pp. 43–50.
Jurnal ini secara spesifik meneliti dampak teknis dari pemilihan tone warna terhadap psikologi penonton, khususnya dalam menciptakan efek “bahagia”. Relevansi: Meskipun objeknya film dokumenter, prinsip dasar psikologi warna yang dibahas sangat relevan. Sumber ini memberikan bukti empiris bahwa manipulasi warna dapat mengarahkan emosi penonton. Anda dapat mengadaptasi teori ini untuk menganalisis bagaimana Violet Evergarden menggunakan spektrum warna tertentu untuk memicu emosi sedih, haru, atau tenang pada penonton.

Wijayanti, Belinda. THE ECRANISATION STUDY of VIOLET’S RELATIONSHIP with ECOLOGICAL SYSTEMS in the LIGHT NOVEL and ANIMATED SERIES of VIOLET EVERGARDEN. Thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2024.

Tesis ini membahas proses ekranisasi (pengalihwahanaan dari novel ke animasi) dengan fokus pada hubungan Violet dengan sistem ekologis/lingkungan di sekitarnya. Relevansi: Penelitian ini membantu menghubungkan karakter Violet dengan latar belakang (background) visualnya. Dalam animasi, warna lingkungan (langit, air, bunga) seringkali merupakan ekstensi dari emosi karakter. Sumber ini mendukung argumen bahwa color tone pada lingkungan sekitar Violet adalah cerminan dari kondisi internalnya.

Yanaayuri, Shabira Almaas, and I. Putu Suhada Agung. “Color Grading Sebagai Pembangun Mood Pada Setting Waktu Dalam Web Series Rewrite.” Texture: Art and Culture Journal, vol. 5, no. 1, 19 July 2022, pp. 1–14.
Penelitian ini membedah teknis color grading sebagai alat untuk membangun mood (suasana hati) dan membedakan setting waktu. Relevansi: Sumber ini menyediakan terminologi teknis mengenai color grading (seperti temperatur warna, saturasi, contrast) yang diperlukan dalam analisis Anda. Referensi ini akan memperkuat analisis Anda dari sisi teknis sinematografi, menjelaskan bagaimana mood sedih atau hampa pada Violet dibangun melalui proses pewarnaan pasca-produksi.